DEWI WAHYU SEKAR RAHMATIKA
Taman Pendidikan al-Qur'an (TPQ) adalah lembaga pendidikan non-formal yang berfokus pada pembelajaran al-Qur'an dengan tujuan utamanya yakni mengajarkan cara membaca al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar ini biasanya dilakukan di Mushollah, Masjid, atau tempat khusus yang telah disediakan. Salah satu bagian dari program kerja pengabdian masyarakat dalam pengimplementasian moderasi beragama, mahasiswa kelompok 26 KKM UIN Malang berpartisipasi dalam kegiatan mengajar di TPQ yang ada di Dusun Dumpul Desa Sidorejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Terdapat 2 TPQ di Dusun Dumpul, yang pertama TPQ Al-Aziziyah dan yang kedua TPQ At-Tamimi. Mahasiswa memulai kegiatan mengajar di TPQ dimulai pada tanggal 6 Januari sampai 23 Januari 2025. Kegiatan mengajar ini meliputi, menyimak bacaan al-Qur'an, memberikan materi baru mengenai tajwid dan juga kosa kata dalam bahasa Arab (mufrodat). Adapun metode yang digunakan dalam membaca al-Qur'an, tiap TPQ berbeda. TPQ Al-Aziziyah menggunakan metode tilawati yakni metode membaca al-Qur'an yang menggunakan teknik baca simak dan pendekatan klasikal. Sedangkan untuk TPQ At-Tamimi menggunakan metode iqra' adalah metode membaca al-Qur'an yang menekankan pada latihan membaca huruf al-Qur'an dengan fasih. Dengan adanya metode yang telah ditetapkan dan digunakan oleh tiap TPQ, mahasiswa KKM kelompok 26 membantu dalam memberikan pemahaman agar bacaan mereka lebih bagus dan benar. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan motivasi agar semangat dalam membaca al-Qur'an dan mempelajari ilmu-ilmu agama serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Selain itu, dapat menambah rasa cinta terhadap al-Qur'an dan meningkatkan kepercayaan kepada Allah SWT. Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menjalin tali silaturahmi antara mahasiswa KKM dengan masyarakat dusun Dumpul.
BRILIYAN FIGUR AYATULLAH
Taman Pendidikan al-Qur'an (TPQ) adalah lembaga pendidikan non-formal yang berfokus pada pembelajaran al-Qur'an dengan tujuan utamanya yakni mengajarkan cara membaca al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar ini biasanya dilakukan di Mushollah, Masjid, atau tempat khusus yang telah disediakan. Salah satu bagian dari program kerja pengabdian masyarakat dalam pengimplementasian moderasi beragama, mahasiswa kelompok 26 KKM UIN Malang berpartisipasi dalam kegiatan mengajar di TPQ yang ada di Dusun Dumpul Desa Sidorejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Terdapat 2 TPQ di Dusun Dumpul, yang pertama TPQ Al-Aziziyah dan yang kedua TPQ At-Tamimi. Mahasiswa memulai kegiatan mengajar di TPQ dimulai pada tanggal 6 Januari sampai 23 Januari 2025. Kegiatan mengajar ini meliputi, menyimak bacaan al-Qur'an, memberikan materi baru mengenai tajwid dan juga kosa kata dalam bahasa Arab (mufrodat). Adapun metode yang digunakan dalam membaca al-Qur'an, tiap TPQ berbeda. TPQ Al-Aziziyah menggunakan metode tilawati yakni metode membaca al-Qur'an yang menggunakan teknik baca simak dan pendekatan klasikal. Sedangkan untuk TPQ At-Tamimi menggunakan metode iqra' adalah metode membaca al-Qur'an yang menekankan pada latihan membaca huruf al-Qur'an dengan fasih. Dengan adanya metode yang telah ditetapkan dan digunakan oleh tiap TPQ, mahasiswa KKM kelompok 26 membantu dalam memberikan pemahaman agar bacaan mereka lebih bagus dan benar. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan motivasi agar semangat dalam membaca al-Qur'an dan mempelajari ilmu-ilmu agama serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Selain itu, dapat menambah rasa cinta terhadap al-Qur'an dan meningkatkan kepercayaan kepada Allah SWT. Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menjalin tali silaturahmi antara mahasiswa KKM dengan masyarakat dusun Dumpul.
IZZATUS SHOLEHAH
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2025 dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara aktif terlibat dalam menyampaikan materi, mengajak para siswa berdiskusi serta bermain kuis. Materi yang disampaikan antara lain mengenai bagaimana membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Untuk meminimalisir rasa bosan siswa-siswi kelas 5 MI Mamba’ul Hidayah, dalam penyampaian ini kami turut menyertakan sejumlah kuis dan permainan di mana siswa-siswi diajak untuk berkolaborasi dengan teman-teman sekelas mereka dan mahasiswa KKM kelompok 26 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai contoh, setelah pemaparan materi mengenai literasi finansial kami menyisipkan sesi di mana siswa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh PJ mahasiswa KKM. Kemudian, siswa-siswi diminta membedakan keinginan dan kebutuhan serta membiasakan diri untuk berbagi dengan menyiapkan uang untuk beramal. Selain itu, siswa juga kami ajak untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman menabung yang dilakukannya selama ini. Kegiatan ini kami tutup dengan meminta para siswa-siswi membiasakan diri dengan perilaku perilaku keuangan yang baik seperti menabung dan belajar mengelola uang jajannya. Selanjutnya, kami membagi 50 siswa menjadi 10 kelompok untuk membuat celengan dari bahan-bahan bekas. Pada tahap ini, mahasiswa KKM menjadi pengarah bagi anak-anak dalam membuat celengan. Setiap anak membawa botol atau kaleng bekas dilengkapi dengan bahan dekoratifnya seperti karton, origami, pensil warna, spidol, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu 60 menit, siswa-siswi kelas 5 sangat terbenam dalam proses menciptakan suatu kreasi celengan yang terbuat dari bahan-bahan bekas. Meskipun suasana kelas diisi oleh hiruk pikuk anak-anak, kami melihat partisipasi mereka sangat membantu dalam pembuatan celengan. Bahkan, mereka sangat berorientasi pada detail saat membuat hiasan-hiasan pada celengan. Setelah proses pembuatan celengan rampung, selanjutnya adalah sesi pengumuman kelompok dengan kreasi celengan paling menarik menurut penilaian objektif juri. Setelah melalui proses deliberasi yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah 5 kelompok yang berhasil menunjukkan kreativitasnya. Mahasiswa KKM telah mempersiapkan reward berupa celengan kaleng yang baru untuk diberikan kepada anggota-anggota kelompok yang berhasil memenangkan sesi ini. Siswa-siswi kelas 5 sangat antusias dalam mengikuti program ini karena memicu kreativitas dan kognitif mereka dalam membuat suatu celengan dari bahan daur ulang. Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
RIT MARATRI JANNAH JATI DEWI
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2025 dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara aktif terlibat dalam menyampaikan materi, mengajak para siswa berdiskusi serta bermain kuis. Materi yang disampaikan antara lain mengenai bagaimana membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Untuk meminimalisir rasa bosan siswa-siswi kelas 5 MI Mamba’ul Hidayah, dalam penyampaian ini kami turut menyertakan sejumlah kuis dan permainan di mana siswa-siswi diajak untuk berkolaborasi dengan teman-teman sekelas mereka dan mahasiswa KKM kelompok 26 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai contoh, setelah pemaparan materi mengenai literasi finansial kami menyisipkan sesi di mana siswa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh PJ mahasiswa KKM. Kemudian, siswa-siswi diminta membedakan keinginan dan kebutuhan serta membiasakan diri untuk berbagi dengan menyiapkan uang untuk beramal. Selain itu, siswa juga kami ajak untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman menabung yang dilakukannya selama ini. Kegiatan ini kami tutup dengan meminta para siswa-siswi membiasakan diri dengan perilaku perilaku keuangan yang baik seperti menabung dan belajar mengelola uang jajannya. Selanjutnya, kami membagi 50 siswa menjadi 10 kelompok untuk membuat celengan dari bahan-bahan bekas. Pada tahap ini, mahasiswa KKM menjadi pengarah bagi anak-anak dalam membuat celengan. Setiap anak membawa botol atau kaleng bekas dilengkapi dengan bahan dekoratifnya seperti karton, origami, pensil warna, spidol, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu 60 menit, siswa-siswi kelas 5 sangat terbenam dalam proses menciptakan suatu kreasi celengan yang terbuat dari bahan-bahan bekas. Meskipun suasana kelas diisi oleh hiruk pikuk anak-anak, kami melihat partisipasi mereka sangat membantu dalam pembuatan celengan. Bahkan, mereka sangat berorientasi pada detail saat membuat hiasan-hiasan pada celengan. Setelah proses pembuatan celengan rampung, selanjutnya adalah sesi pengumuman kelompok dengan kreasi celengan paling menarik menurut penilaian objektif juri. Setelah melalui proses deliberasi yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah 5 kelompok yang berhasil menunjukkan kreativitasnya. Mahasiswa KKM telah mempersiapkan reward berupa celengan kaleng yang baru untuk diberikan kepada anggota-anggota kelompok yang berhasil memenangkan sesi ini. Siswa-siswi kelas 5 sangat antusias dalam mengikuti program ini karena memicu kreativitas dan kognitif mereka dalam membuat suatu celengan dari bahan daur ulang. Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
NI`MATUL MAHBUBAH
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2025 dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB. Dalam kegiatan ini, mahasiswa secara aktif terlibat dalam menyampaikan materi, mengajak para siswa berdiskusi serta bermain kuis. Materi yang disampaikan antara lain mengenai bagaimana membedakan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Untuk meminimalisir rasa bosan siswa-siswi kelas 5 MI Mamba’ul Hidayah, dalam penyampaian ini kami turut menyertakan sejumlah kuis dan permainan di mana siswa-siswi diajak untuk berkolaborasi dengan teman-teman sekelas mereka dan mahasiswa KKM kelompok 26 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebagai contoh, setelah pemaparan materi mengenai literasi finansial kami menyisipkan sesi di mana siswa menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh PJ mahasiswa KKM. Kemudian, siswa-siswi diminta membedakan keinginan dan kebutuhan serta membiasakan diri untuk berbagi dengan menyiapkan uang untuk beramal. Selain itu, siswa juga kami ajak untuk bercerita di depan kelas mengenai pengalaman menabung yang dilakukannya selama ini. Kegiatan ini kami tutup dengan meminta para siswa-siswi membiasakan diri dengan perilaku perilaku keuangan yang baik seperti menabung dan belajar mengelola uang jajannya. Selanjutnya, kami membagi 50 siswa menjadi 10 kelompok untuk membuat celengan dari bahan-bahan bekas. Pada tahap ini, mahasiswa KKM menjadi pengarah bagi anak-anak dalam membuat celengan. Setiap anak membawa botol atau kaleng bekas dilengkapi dengan bahan dekoratifnya seperti karton, origami, pensil warna, spidol, dan lain sebagainya. Dalam kurun waktu 60 menit, siswa-siswi kelas 5 sangat terbenam dalam proses menciptakan suatu kreasi celengan yang terbuat dari bahan-bahan bekas. Meskipun suasana kelas diisi oleh hiruk pikuk anak-anak, kami melihat partisipasi mereka sangat membantu dalam pembuatan celengan. Bahkan, mereka sangat berorientasi pada detail saat membuat hiasan-hiasan pada celengan. Setelah proses pembuatan celengan rampung, selanjutnya adalah sesi pengumuman kelompok dengan kreasi celengan paling menarik menurut penilaian objektif juri. Setelah melalui proses deliberasi yang cukup panjang, akhirnya terpilihlah 5 kelompok yang berhasil menunjukkan kreativitasnya. Mahasiswa KKM telah mempersiapkan reward berupa celengan kaleng yang baru untuk diberikan kepada anggota-anggota kelompok yang berhasil memenangkan sesi ini. Siswa-siswi kelas 5 sangat antusias dalam mengikuti program ini karena memicu kreativitas dan kognitif mereka dalam membuat suatu celengan dari bahan daur ulang. Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.
LALU EGIQ FAHALIK ANGGARA
Program edukasi literasi finansial ini juga diharapkan dapat memotivasi siswa-siswi dalam menabung dan mengelola uang jajan secara bijak. Jila dikaji lebih lanjut, terdapat beberapa faktor mengapa literasi finansial sangatlah penting diperkenalkan kepada anak-anak. Sederhananya, anak-anak cenderung lebih aktif secara kognitif karena mereka menggunakan 80% kuriositas untuk menjelajahi tentang banyak hal yang terjadi di sekitar mereka (Masruroh & Wiyani, 2023). Program edukasi literasi finansial yang kami realisasikan berbasis habit-building, di mana kunci utamanya terletak pada membangun kebiasaan untuk menggunakan uang dengan bijak. Sedari kecil (rentang usia 6-10 tahun), mereka perlu dibiasakan mengelola uang jajan secara mandiri dengan cara menyisihkannya terlebih dahulu untuk ditabung lalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masa depan. Konsep manajemen finansial ini memicu anak-anak untuk berpikir kritis sebelum menghabiskan uangnya.