Thumbnail
2 years ago
Partisipasi Mahasiswa KKM 26 UIN Malang dalam Kegiatan Mengajar di Taman Pendidikan al-Qur'an

YUSUF ARIF MUCHLISIN

Taman Pendidikan al-Qur'an (TPQ) adalah lembaga pendidikan non-formal yang berfokus pada pembelajaran al-Qur'an dengan tujuan utamanya yakni mengajarkan cara membaca al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar ini biasanya dilakukan di Mushollah, Masjid, atau tempat khusus yang telah disediakan.  Salah satu bagian dari program kerja pengabdian masyarakat dalam pengimplementasian moderasi beragama, mahasiswa kelompok 26 KKM UIN Malang berpartisipasi dalam kegiatan mengajar di TPQ yang ada di Dusun Dumpul Desa Sidorejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Terdapat 2 TPQ di Dusun Dumpul, yang pertama TPQ Al-Aziziyah dan yang kedua TPQ At-Tamimi. Mahasiswa memulai kegiatan mengajar di TPQ dimulai pada tanggal 6 Januari sampai 23 Januari 2025. Kegiatan mengajar ini meliputi, menyimak bacaan al-Qur'an, memberikan materi baru mengenai tajwid dan juga kosa kata dalam bahasa Arab (mufrodat). Adapun metode yang digunakan dalam membaca al-Qur'an, tiap TPQ berbeda. TPQ Al-Aziziyah menggunakan metode tilawati yakni metode membaca al-Qur'an yang menggunakan teknik baca simak dan pendekatan klasikal. Sedangkan untuk TPQ At-Tamimi menggunakan metode iqra' adalah metode membaca al-Qur'an yang menekankan pada latihan membaca huruf al-Qur'an dengan fasih. Dengan adanya metode yang telah ditetapkan dan digunakan oleh tiap TPQ, mahasiswa KKM kelompok 26 membantu dalam memberikan pemahaman agar bacaan mereka lebih bagus dan benar. Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memberikan motivasi agar semangat dalam membaca al-Qur'an dan mempelajari ilmu-ilmu agama serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Selain itu, dapat menambah rasa cinta terhadap al-Qur'an dan meningkatkan kepercayaan kepada Allah SWT. Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menjalin tali silaturahmi antara mahasiswa KKM dengan masyarakat dusun Dumpul. 

Thumbnail
2 years ago
Arunika Dharma KKM 39 UIN Maliki Malang

MOH. MUSA AL KADZIM

https://www.kompasiana.com/musaalkadzim0485

Thumbnail
2 years ago
KKM 171 UIN Malang berkolaborasi dengan BUMDES untuk mengembangkan UMKM di Pujon Kidul

DWI MURTI EKA SARI

Malang, 31 Desember 2024 -- Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) setempat untuk mendukung pengembangan produk-produk lokal yang sangat beragam dan inovatif. Salah satu produk unggulan yang dibantu adalah steak susu, minuman kafier, dan permen susu, yang merupakan hasil karya BUMDES yang memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas. Melalui program KKM yang dilakukan di beberapa desa, mahasiswa UIN Malang berperan aktif dalam mempromosikan produk-produk lokal tersebut. Salah satu kontribusi yang diberikan adalah pembuatan desain X Banner dan logo untuk produk es krim kafier. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan branding dan menciptakan daya tarik produk di pasar lokal maupun luar daerah. Produk-produk seperti steak susu, Minuman kafier, dan permen susu tidak hanya memiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi desa, tetapi juga menjadi alternatif produk lokal yang sehat dan berkualitas. Melalui kegiatan ini, sangat diharapkan bisa untuk membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat serta menginspirasi pengembangan produk berbasis sumber daya lokal. Diharapkan, kolaborasi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi BUMDES, tetapi juga memberi pengalaman berharga bagi mahasiswa KKM UIN Malang dalam pengaplikasian ilmu yang mereka pelajari di dunia nyata. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dapat menciptakan perubahan positif untuk kemajuan ekonomi lokal.

Thumbnail
2 years ago
Masa Depan Ada di Desa: Komoditas Jeruk dan Cabai Desa Kemiri sebagai ATM Hijau Ketahanan Pangan

MASYITOH NUR LAILIN ASFARINA

Jika Anda pernah mengeluhkan harga cabai yang lebih panas dari sambalnya, mungkin saatnya kita belajar dari Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Desa ini punya cerita menarik tentang bagaimana jeruk dan cabai bisa menjadi jawaban atas inflasi bahan pokok yang tak ada habisnya. Bersama kelompok KKM 91 Nurtura dari UIN Malang yang terjun langsung ke perkebunan pribadi Pak Lurah. Dengan penuh semangat mereka belajar tentang praktik inovasi pertanian tumpang sari jeruk dan cabai. ATM Hijau: Jeruk dan Cabai, Investasi Panen Masa Depan Menurut studi yang dilakukan oleh Mardiyanto & Prasetyanto (2023), Cabai merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia yang memiliki pengaruh signifikan terhadap inflasi perekonomian, terutama pada musim panen. Melihat pentingnya cabai sebagai sumber pendapatan, Pak Lurah Desa Kemiri menjadikan kebun pribadinya sebagai contoh nyata inovasi pertanian. Namun, ada yang berbeda dari perkebunan Pak Lurah ini, dimana bukan hanya cabai yang ditanam, tapi juga ada jeruk yang ditanam bersamaan dengan cabai. Pak Lurah menjelaskan bahwa jeruk adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan. Pohon jeruk dapat hidup hingga 30 tahun dan mulai produktif pada usia 4 tahun. “Bayangkan, seratus pohon jeruk bisa menghasilkan hingga 150 ton buah pada usia 7 tahun. Jika dikelola dengan baik melalui pemupukan dan pengendalian hama yang tepat, hasilnya bisa sangat luar biasa,” jelas beliau. Sementara itu, cabai yang ditanam secara tumpang sari di antara pohon-pohon jeruk memberikan panen harian yang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional perkebunan. Dengan kombinasi ini, kebun Pak Lurah seperti memiliki dua "mesin ATM" yang bekerja bergantian, memberikan hasil jangka pendek dari cabai dan hasil jangka panjang dari jeruk. Selain itu, di perkebunan tersebut, Pak Lurah juga menanam bawang merah dan bawang putih dengan siklus panen pendek yang berkisar 35 – 70 hari. Hasil dari bawang ini juga bisa menjadi penghasilan tambahan di sela panen cabai. Inflasi dan Ketahanan Pangan Indonesia : Desa sebagai Jawaban Ketika harga cabai di pasar melambung tinggi, siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja para petani cabai. Namun, manfaat ini dapat lebih optimal jika dikelola dengan strategi yang tepat. Dengan memanfaatkan sistem tumpang sari, warga Desa Kemiri tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan pada pasar yang lebih luas. Desa Kemiri membuktikan bahwa inovasi lokal bisa menjadi solusi dalam menghadapi fluktuasi harga pangan. Studi yang dilakukan oleh Pirngadi et al. (2023) serta Adi Saputri et al. (2022) mengungkapkan bahwa harga cabai cenderung berfluktuasi karena faktor cuaca yang tidak menentu dan distribusi yang kurang efisien. Fluktuasi ini kerap menjadi tantangan besar bagi konsumen, tetapi sekaligus peluang bagi petani yang mampu mengelola produksi dengan baik. “Inilah esensi pertanian sebenarnya : menanam sekali dan memanen berkali-kali,” ujar Pak Lurah, mengingatkan warga tentang potensi besar yang bisa dimanfaatkan dari kombinasi inovasi dan kerja keras. Jika pola ini diterapkan oleh seluruh masyarakat desa, ketahanan pangan yang stabil dan berkelanjutan tidak lagi menjadi sekadar impian. Produksi lokal yang melimpah dapat menjadi senjata utama untuk melawan inflasi bahan pokok sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Belajar dari Pengalaman: Panen Lombok dan Jeruk Bersama KKM Nurtura Kelompok KKN 91 Nurtura, berkesempatan langsung membantu panen cabai dan jeruk di Desa Kemiri. Mereka pun mengakui bahwa ini bukan pekerjaan ringan. Bayangkan harus memetik cabai merah kecil satu per satu di bawah terik matahari. Meskipun keringat sudah bercucuran, tapi mereka tetap penuh semangat karena setiap cabai yang dipetik adalah bagian dari solusi besar untuk ketahanan pangan. Sementara itu, pohon-pohon jeruk dengan buah kuning menyala memberikan keindahan dan rasa puas yang sulit dijelaskan. Memanen jeruk terasa lebih santai dibanding cabai, tetapi tetap saja memerlukan teknik agar tidak merusak pohon. Kami juga belajar bahwa tidak semua jeruk siap dipetik; ada teknik melihat warna dan tekstur kulit untuk memastikan kematangannya. “Pertanian itu kerja keras, tapi hasilnya manis,” kata Pak Lurah, sambil mendampingi kami memanen jeruk. Mari Bicara Data : Potensi dan Strategi Bertahan di Tengah Inflasi Satu hektar lahan dapat ditanami sekitar 100 pohon jeruk. Dengan perawatan optimal, setiap pohon mampu menghasilkan hingga 150 ton jeruk saat mencapai usia 7 tahun. Jika setiap kilogram jeruk dijual dengan harga Rp20.000, potensi pendapatan dari satu hektar lahan bisa mencapai Rp3 miliar per tahun. Pendapatan ini tentu menjadi investasi jangka panjang yang menjanjikan​​. Selain itu, Perkebunan Jeruk juga berpotensi dijadikan sebagai objek wisata. Sebagai tambahan, cabai yang ditanam sebagai tanaman tumpang sari memberikan penghasilan jangka pendek. Menurut Heri Purnomo dalam artikelnya di detikFinance (2025), pada awal tahun 2025 harga cabai rawit merah di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, telah mencapai Rp140.000/kg dari harga sebelumnya Rp100.000/kg. Cabai rawit hijau dan cabai merah keriting masing-masing dibanderol Rp80.000/kg, naik dari harga sebelumnya Rp50.000/kg​. Sementara itu, di Pasar Palmerah, harga cabai rawit merah naik menjadi Rp110.000/kg, dan cabai merah keriting menjadi Rp60.000/kg​. Tak hanya cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan. Di awal tahun 2025, bawang putih mencapai Rp60.000/kg dari harga sebelumnya Rp55.000/kg, sementara bawang merah naik menjadi Rp50.000/kg​. Dengan memanfaatkan strategi diversifikasi pertanian seperti tumpang sari, petani dapat mengatasi tantangan fluktuasi harga ini sekaligus meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan​​. Pak Lurah Desa Kemiri menyebut strategi ini sebagai cara “bertahan di tengah inflasi.” Dengan kombinasi tanaman jeruk dan cabai, serta menambahkan bawang merah atau bawang putih sebagai tanaman selingan, hasil pertanian dapat lebih stabil meskipun inflasi melanda. Beliau bahkan bercanda bahwa jika seluruh desa ikut menerapkan pola ini, harga cabai di pasar mungkin bisa kembali normal. Inovasi Pertanian: Jeruk dan Cabai Sebagai Inspirasi Nasional Keberhasilan Desa Kemiri dalam mengelola tumpang sari jeruk dan cabai adalah cerminan dari bagaimana inovasi sederhana dapat menciptakan dampak besar. Konsep ini seharusnya menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan inflasi bahan pokok dan meningkatkan pendapatan masyarakat (Mardiyanto, I. C., & Prasetyanto, P. K. 2023). Pak Lurah dengan penuh semangat mengingatkan kami bahwa kunci keberhasilan pertanian ini adalah kolaborasi, baik antar warga maupun dengan pihak luar. Keterlibatan kelompok KKN seperti kami adalah salah satu bentuk dukungan untuk menyebarkan pengetahuan dan praktik ini ke masyarakat yang lebih luas. “Kalau sudah ada contoh nyata seperti ini, yang lain tinggal meniru dan memodifikasi sesuai kebutuhan. Inilah ATM yang sebenarnya: Amati, Tiru, Modifikasi,” ujarnya sambil tersenyum. Pak Lurah juga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat melihat potensi ini sebagai model untuk program ketahanan pangan nasional. Dengan memberikan dukungan berupa pelatihan, subsidi pupuk, dan pemasaran, potensi seperti di Desa Kemiri bisa dikembangkan lebih luas. Peran Generasi Muda dalam Pertanian Salah satu hal yang kami pelajari selama di Desa Kemiri adalah pentingnya peran generasi muda dalam mengembangkan pertanian. Pertanian sering kali dianggap sebagai pekerjaan yang “kuno” atau kurang menarik. Padahal, dengan pendekatan yang modern dan kreatif, pertanian bisa menjadi salah satu sektor paling menjanjikan. Sebagai contoh, Desa Kemiri sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan hasil panennya. Dengan bantuan mahasiswa KKN 91 Nurtura, warga desa diajarkan cara membuat konten menarik untuk Instagram dan Facebook. Foto jeruk segar yang menggoda dan video panen cabai yang penuh semangat kini menjadi bagian dari strategi pemasaran digital desa. Desa Kemiri, Jabung : Desa yang Indah di Perbatasan Tidak hanya kaya dengan potensi pertanian, Desa Kemiri juga dianugerahi keindahan alam yang memanjakan mata. Selepas lelah bekerja di ladang, petani-petani di sini bisa menikmati pemandangan yang menenangkan. Dari desa ini, terlihat jelas Bandara Abdulrachman Saleh yang sibuk dengan pesawat-pesawatnya. Di sisi lain, ada hamparan hijau sawah dan ladang yang memanjakan mata, kontras dengan gedung-gedung perkotaan yang tampak padat di kejauhan. Meski begitu, Desa Kemiri kerap kali terlupakan. Padahal, desa ini adalah salah satu titik perbatasan yang sering dilewati banyak orang, terutama wisatawan yang menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bayangkan saja, jarak dari Desa Kemiri ke Bromo hanya sekitar 45 menit! Namun, ironisnya, wisatawan yang tiba di Bandara Abdulrachman Saleh—yang begitu dekat dengan Desa Kemiri—lebih memilih menginap di Kota Batu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo. Padahal, jika Desa Kemiri dikembangkan sebagai destinasi wisata, banyak peluang ekonomi yang bisa terbuka. Coba bayangkan: wisata petik jeruk di ladang, pengalaman memerah sapi seperti di pedesaan Eropa, hingga homestay yang menawarkan ketenangan di tengah alam. Dengan memanfaatkan potensi ini, Desa Kemiri bukan hanya akan dikenal sebagai desa pertanian tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menjanjikan. Potensi ini jelas tidak hanya membantu ekonomi desa, tetapi juga memberikan alternatif pengalaman wisata bagi turis yang ingin merasakan suasana pedesaan asli Indonesia. Desa Kemiri, dengan segala keindahan dan potensinya, adalah berlian yang hanya butuh sedikit polesan untuk bersinar. Masa Depan Ada di desa : Saatnya Kembali ke Desa! Sebagai generasi muda, kita sering kali berpikir bahwa masa depan ada di kota. Tapi setelah melihat sendiri bagaimana Desa Kemiri mengelola potensi pertaniannya, kami jadi yakin bahwa masa depan sebenarnya ada di desa. Dengan inovasi dan kolaborasi, desa bisa menjadi pusat ketahanan pangan, bahkan membantu menstabilkan ekonomi nasional. Melihat potensi besar yang dimiliki Desa Kemiri, kami sadar bahwa desa adalah masa depan. Tumpang sari jeruk dan cabai bukan hanya strategi pertanian, tetapi juga simbol dari bagaimana kreativitas dan kerja keras bisa melampaui tantangan seperti inflasi.Dengan kombinasi antara pertanian kreatif dan potensi wisata, Desa Kemiri siap menjadi salah satu desa percontohan di Indonesia. Masa depan tidak hanya tumbuh dari tanahnya, tetapi juga dari visi besar warganya. Jadi, jika Anda masih berpikir bahwa desa tidak relevan di era modern ini, kunjungi Desa Kemiri. Anda mungkin akan berubah pikiran. Karena di sini, masa depan benar-benar tumbuh dari tanah dan bertemu dengan keindahan alam yang tak tergantikan.   Desa Kemiri mengajarkan kita bahwa ketahanan pangan dimulai dari langkah kecil—menanam jeruk dan cabai, memanfaatkan potensi lokal, dan berkolaborasi untuk masa depan yang lebih baik. Dan siapa tahu, mungkin desa Anda adalah Desa Kemiri berikutnya.   Referensi : Adi Saputri, T. H., Al Malik, M. R., Arliati, R. R., Tomasoa, R., Dwiriyadi, & Adifati, T. A. (2022). Pengaruh harga cabai rawit, harga bawang merah, dan harga daging sapi terhadap inflasi. Jurnal Bisnis Kompetif, 1(2), Juli. https://doi.org/ISSN: 2829-5277  Mardiyanto, I. C., & Prasetyanto, P. K. (2023). Pengaruh Harga Tanaman Pangan terhadap Inflasi di Kabupaten Kendal. Transekonomika: Akuntansi, Bisnis, dan Keuangan​. Pirngadi, R. S. et al. (2023). Respon Pedagang dan Konsumen terhadap Kenaikan Harga Cabai Merah. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara​. Purnomo, H. (2025). Daftar harga bahan pokok di awal tahun 2025. detikFinance. Diakses dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7714240/daftar-harga-bahan-pokok-di-awal-tahun-2025.

Thumbnail
2 years ago
Pembukaan KKM UIN Malang

NAMIRA AZ ZAHRA SIREGAR

Pembukaan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang diselenggarakan oleh mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara ini berlangsung di Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Dalam suasana yang formal namun penuh keakraban, terlihat para mahasiswa mengenakan jas almamater, berdiri bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat di depan backdrop yang bertuliskan "Kuliah Kerja Mahasiswa." Para mahasiswa yang tergabung dalam KKM ini berpose bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen mereka untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat desa. Kehadiran perangkat desa dan tokoh masyarakat menandakan dukungan penuh terhadap program ini, yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi, sosial, dan pengabdian. Senyum para peserta mencerminkan semangat mereka dalam menjalankan tugas KKM dengan penuh dedikasi. Backdrop acara yang mencantumkan logo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan tema kegiatan menunjukkan bahwa program ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat desa, sekaligus mendapatkan pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari di bangku kuliah.

Thumbnail
2 years ago
Cegah Stunting, Wujudkan Parenting untuk Masa Depan Cerah Anak

SHAHRUL ROSSI

     Desa Argosuko, 16 Januari 2025 -- Dalam Upaya meningkatkan kualitas hidup anak-anak dan mencegah terjadinya stunting, Kelompok 1 KKM berkolaborasi dengan Kelompok 71 dan 141 serta Ibu PKK Argosuko mengadakan kegiatan sosialisasi bertajuk "Cegah Stunting, Wujudkan Parenting untuk Masa Depan Cerah Anak." Acara ini berlangsung di Balai Desa Argosuko dan dihadiri oleh perwakilan wali murid dan anak TK di Desa Argosuko. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana, Nabila Nur Azizah, yang menekankan tentang pentingnya parenting yang tepat saat ini dan juga memperhatikan gizi seimbang anak semenjak masa kehamilan.      Sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari Dosen Psikologi Uin Malang, Ibu Puji Astuti. Di dalam sosialisasinya kali ini, Ibu Puji memberikan ilmunya mengenai pentingnya memperhatikan apa yang dikonsumsi anak. Sebagai contoh, untuk susu kemasan, wajib memperhatikan komposisi gula yang terkandung di dalamnya. Ibu Puji menekankan apabila anak baiknya diberi makanan asli, seperti vitamin yang bersumber dari buah dan sebagainya. Selain itu, pemateri menjelaskan perawatan kesehatan fisik dan mental secara optimal serta psikososial yang mendukung tumbuh kembang anak.      Selepas sesi sosialisasi, diadakan juga lomba mewarnai yang nantinya akan menekankan kerja sama antara ibu dan anak. Kegiatan ini dilakukan agar anak-anak tidak bosan dengan acara yang sedang berlangsung, apalagi kegiatan mewarna bukanlah hal yang asing dan sulit untuk mereka kerjakan. "Aku suka kak mewarna, apalagi bentuknya gunung-gunung gini," ujar salah satu siswa TK. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat lebih peduli mengenai parenting yang efektif dan pencegahan stunting untuk lebih ditingkatkan, sehingga dapat mendukung terciptanya generasi masa depan yang lebih sehar dan berkualitas.