Thumbnail
2 years ago
UMKM Susu di Dusun Mendek,Desa Srigading : Potensi Usaha yang Kurang Dilirik oleh Generasi Muda

ANDRE FERNANDO

25 Desember 2024 — UMKM susu di Desa Mendek menunjukkan potensi yang menjanjikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan dukungan dari perusahaan besar seperti Nestlé, para peternak di desa ini dapat mengoptimalkan produksi dan distribusi mereka. Berikut adalah beberapa fokus utama dari kegiatan UMKM susu di Desa Mendek. Produksi Susu: Proses dan Tantangan Setiap pagi pada pukul 04.30 dan sore jam 15.00, susu diperah dari sapi perah. “Kami harus cepat dan tepat waktu agar susu tetap segar. Setelah diperah, maksimal 15 menit susu harus sudah masuk pendingin,” ujar Bapak Arif, salah satu peternak lokal dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Satu ekor sapi biasanya dapat menghasilkan antara 20 hingga 30 liter susu per hari, tergantung apakah anaknya juga meminumnya. “Jika anak sapi minum, bisa jadi kami hanya mendapatkan 25 liter. Namun, saat puncak produksi, kami bisa mendapatkan 30 liter,” tambahnya. Harga susu di pasar berfluktuasi antara 5.000 hingga 7.000 rupiah per liter, tergantung pada kualitas dan permintaan pasar. Namun, para peternak menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah kotoran sapi. “Saat ini, kami belum memanfaatkan limbah sebagai biogas. Kami bersihkan dan buang, meski pernah mencoba membuat pupuk organik dari kotoran,” jelas Bapak Arif. Kini, limbah tersebut digunakan untuk beternak cacing, dengan modal yang didapat dari Nestlé. “Cacing ini nanti bisa dijadikan pupuk kompos, jadi ada manfaat lebih dari limbah yang kami miliki,” tambahnya. Potensi Usaha Susu yang Terabaikan oleh Generasi Muda Meskipun UMKM susu di Desa Mendek memiliki potensi besar, minat generasi muda untuk terlibat dalam usaha ini masih rendah. “Saya khawatir anak muda di sini tidak tertarik, padahal usaha ini sangat menguntungkan,” keluh Bapak Arif. “Kami berharap ada program pelatihan untuk menarik minat mereka,” ujarnya, menunjukkan harapannya untuk meningkatkan partisipasi generasi muda dalam sektor ini. Sektor peternakan susu menawarkan peluang kerja yang stabil dan pendapatan yang menjanjikan. Dengan modal yang relatif terjangkau dan dukungan dari perusahaan seperti Nestlé, generasi muda seharusnya dapat melihat potensi ini sebagai pilihan karir yang menarik. “Kami perlu menunjukkan kepada mereka betapa menjanjikannya usaha ini. Jika mereka melihat potensi keuntungan dan keberlanjutan, saya yakin mereka akan tertarik,” ungkap Bapak Arif. Penting bagi komunitas dan pemerintah setempat untuk melakukan kampanye kesadaran mengenai manfaat dari beternak sapi perah. Dengan menghadirkan tokoh sukses dari kalangan peternak, diharapkan dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi generasi muda untuk terlibat dalam usaha ini. Dukungan dan Kolaborasi dengan Nestlé UMKM susu di Desa Mendek mendapatkan dukungan signifikan dari Nestlé, yang menyediakan peralatan dan bantuan dalam perawatan. “Dengan bantuan Nestlé, kami bisa fokus pada produksi. Semua peralatan yang kami gunakan berasal dari mereka,” ungkap Bapak Arif. Nestlé juga memberikan bantuan berupa kipas untuk menjaga suhu kandang sapi agar tetap nyaman. “Suhu kandang yang baik sangat penting untuk kesehatan sapi. Kami sudah merasakan dampaknya. Sapi kami jadi lebih sehat dan produktif,” kata Bapak Arif. Melalui kolaborasi yang baik antara peternak, petani, dan perusahaan besar seperti Nestlé, masyarakat Desa Mendek memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka. Kegiatan ini bukan hanya tentang produksi, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang, di mana peternakan susu menjadi sektor yang berkelanjutan dan menguntungkan.

Thumbnail
2 years ago
UMKM Jamu Beras Kencur Dua Putri: Minuman Segar Berkualitas yang Menyehatkan

LATIFAH WAHIDATUL HIDAYAH

Dusun Bakir - UMKM Jamu Beras Kencur Dua Putri, yang dirintis oleh Ibu Siti Aminah, terus berkembang pesat selama lima tahun terakhir. Dengan rasa segar dan bahan berkualitas, produk ini menjadi pilihan favorit masyarakat. Harganya yang terjangkau semakin menambah daya tariknya.  Produk jamu ini hadir dalam beberapa pilihan kemasan, yaitu:  - Plastik kecil dengan harga Rp. 500, - Cup dengan harga Rp 2.000, - Botol sedang seharga Rp 6.000, - Botol besar dengan harga Rp 15.000. Usaha ini juga telah mengantongi legalitas usaha yang lengkap, termasuk Nomor Izin Berusaha (NIB) dan izin Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT), meskipun sertifikasi halal masih dalam proses.  Belum lama ini, KKM UIN Malang dari kelompok Abhinaya Aradhana turut berkunjung untuk mempromosikan UMKM Jamu Beras Kencur Dua Putri. Dengan membantu membuatkan logo desain kemasan serta memberikan banner usaha sebagai bentuk memperluas pasar. Kegiatan tersebut memberikan dampak positif terhadap pengenalan produk, sekaligus membantu meningkatkan kepercayaan konsumen.  Jamu Beras Kencur Dua Putri juga melayani sistem pemesanan pre-order dan rutin mengirimkan stok ke beberapa warung di sekitar Dusun Bakir. Produk ini semakin dinikmati, terutama untuk acara tertentu seperti malam idulfitri.  "Kami berharap kontribusi yang kita berikan ini dapat menguatkan branding produk jamu tradisional Dua Putri milik Bu Aminah sehingga meningkatkan daya tarik konsumen," ucap Dhoni salah satu mahasiswa KKM UIN Malang di Kecamatan Bakir, Pujon. Dengan upaya yang terus berkembang, UMKM ini menunjukkan bahwa usaha kecil bisa menjadi bagian penting dalam mendukung perekonomian lokal. Bagi yang ingin mencicipi, jangan ragu untuk menghubungi Ibu Siti Aminah langsung di Dusun Bakir. 

Thumbnail
2 years ago
Masa Depan Ada di Desa: Komoditas Jeruk dan Cabai Desa Kemiri sebagai ATM Hijau Ketahanan Pangan

MOHAMMAD ZAENAL FANANI

Jika Anda pernah mengeluhkan harga cabai yang lebih panas dari sambalnya, mungkin saatnya kita belajar dari Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Desa ini punya cerita menarik tentang bagaimana jeruk dan cabai bisa menjadi jawaban atas inflasi bahan pokok yang tak ada habisnya. Bersama kelompok KKM 91 Nurtura dari UIN Malang yang terjun langsung ke perkebunan pribadi Pak Lurah. Dengan penuh semangat mereka belajar tentang praktik inovasi pertanian tumpang sari jeruk dan cabai. ATM Hijau: Jeruk dan Cabai, Investasi Panen Masa Depan Menurut studi yang dilakukan oleh Mardiyanto & Prasetyanto (2023), Cabai merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia yang memiliki pengaruh signifikan terhadap inflasi perekonomian, terutama pada musim panen. Melihat pentingnya cabai sebagai sumber pendapatan, Pak Lurah Desa Kemiri menjadikan kebun pribadinya sebagai contoh nyata inovasi pertanian. Namun, ada yang berbeda dari perkebunan Pak Lurah ini, dimana bukan hanya cabai yang ditanam, tapi juga ada jeruk yang ditanam bersamaan dengan cabai. Pak Lurah menjelaskan bahwa jeruk adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan. Pohon jeruk dapat hidup hingga 30 tahun dan mulai produktif pada usia 4 tahun. “Bayangkan, seratus pohon jeruk bisa menghasilkan hingga 150 ton buah pada usia 7 tahun. Jika dikelola dengan baik melalui pemupukan dan pengendalian hama yang tepat, hasilnya bisa sangat luar biasa,” jelas beliau. Sementara itu, cabai yang ditanam secara tumpang sari di antara pohon-pohon jeruk memberikan panen harian yang dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional perkebunan. Dengan kombinasi ini, kebun Pak Lurah seperti memiliki dua "mesin ATM" yang bekerja bergantian, memberikan hasil jangka pendek dari cabai dan hasil jangka panjang dari jeruk. Selain itu, di perkebunan tersebut, Pak Lurah juga menanam bawang merah dan bawang putih dengan siklus panen pendek yang berkisar 35 – 70 hari. Hasil dari bawang ini juga bisa menjadi penghasilan tambahan di sela panen cabai. Inflasi dan Ketahanan Pangan Indonesia : Desa sebagai Jawaban Ketika harga cabai di pasar melambung tinggi, siapa yang paling diuntungkan? Tentu saja para petani cabai. Namun, manfaat ini dapat lebih optimal jika dikelola dengan strategi yang tepat. Dengan memanfaatkan sistem tumpang sari, warga Desa Kemiri tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan pada pasar yang lebih luas. Desa Kemiri membuktikan bahwa inovasi lokal bisa menjadi solusi dalam menghadapi fluktuasi harga pangan. Studi yang dilakukan oleh Pirngadi et al. (2023) serta Adi Saputri et al. (2022) mengungkapkan bahwa harga cabai cenderung berfluktuasi karena faktor cuaca yang tidak menentu dan distribusi yang kurang efisien. Fluktuasi ini kerap menjadi tantangan besar bagi konsumen, tetapi sekaligus peluang bagi petani yang mampu mengelola produksi dengan baik. “Inilah esensi pertanian sebenarnya : menanam sekali dan memanen berkali-kali,” ujar Pak Lurah, mengingatkan warga tentang potensi besar yang bisa dimanfaatkan dari kombinasi inovasi dan kerja keras. Jika pola ini diterapkan oleh seluruh masyarakat desa, ketahanan pangan yang stabil dan berkelanjutan tidak lagi menjadi sekadar impian. Produksi lokal yang melimpah dapat menjadi senjata utama untuk melawan inflasi bahan pokok sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Belajar dari Pengalaman: Panen Lombok dan Jeruk Bersama KKM Nurtura Kelompok KKN 91 Nurtura, berkesempatan langsung membantu panen cabai dan jeruk di Desa Kemiri. Mereka pun mengakui bahwa ini bukan pekerjaan ringan. Bayangkan harus memetik cabai merah kecil satu per satu di bawah terik matahari. Meskipun keringat sudah bercucuran, tapi mereka tetap penuh semangat karena setiap cabai yang dipetik adalah bagian dari solusi besar untuk ketahanan pangan. Sementara itu, pohon-pohon jeruk dengan buah kuning menyala memberikan keindahan dan rasa puas yang sulit dijelaskan. Memanen jeruk terasa lebih santai dibanding cabai, tetapi tetap saja memerlukan teknik agar tidak merusak pohon. Kami juga belajar bahwa tidak semua jeruk siap dipetik; ada teknik melihat warna dan tekstur kulit untuk memastikan kematangannya. “Pertanian itu kerja keras, tapi hasilnya manis,” kata Pak Lurah, sambil mendampingi kami memanen jeruk. Mari Bicara Data : Potensi dan Strategi Bertahan di Tengah Inflasi Satu hektar lahan dapat ditanami sekitar 100 pohon jeruk. Dengan perawatan optimal, setiap pohon mampu menghasilkan hingga 150 ton jeruk saat mencapai usia 7 tahun. Jika setiap kilogram jeruk dijual dengan harga Rp20.000, potensi pendapatan dari satu hektar lahan bisa mencapai Rp3 miliar per tahun. Pendapatan ini tentu menjadi investasi jangka panjang yang menjanjikan​​. Selain itu, Perkebunan Jeruk juga berpotensi dijadikan sebagai objek wisata. Sebagai tambahan, cabai yang ditanam sebagai tanaman tumpang sari memberikan penghasilan jangka pendek. Menurut Heri Purnomo dalam artikelnya di detikFinance (2025), pada awal tahun 2025 harga cabai rawit merah di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, telah mencapai Rp140.000/kg dari harga sebelumnya Rp100.000/kg. Cabai rawit hijau dan cabai merah keriting masing-masing dibanderol Rp80.000/kg, naik dari harga sebelumnya Rp50.000/kg​. Sementara itu, di Pasar Palmerah, harga cabai rawit merah naik menjadi Rp110.000/kg, dan cabai merah keriting menjadi Rp60.000/kg​. Tak hanya cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan. Di awal tahun 2025, bawang putih mencapai Rp60.000/kg dari harga sebelumnya Rp55.000/kg, sementara bawang merah naik menjadi Rp50.000/kg​. Dengan memanfaatkan strategi diversifikasi pertanian seperti tumpang sari, petani dapat mengatasi tantangan fluktuasi harga ini sekaligus meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan​​. Pak Lurah Desa Kemiri menyebut strategi ini sebagai cara “bertahan di tengah inflasi.” Dengan kombinasi tanaman jeruk dan cabai, serta menambahkan bawang merah atau bawang putih sebagai tanaman selingan, hasil pertanian dapat lebih stabil meskipun inflasi melanda. Beliau bahkan bercanda bahwa jika seluruh desa ikut menerapkan pola ini, harga cabai di pasar mungkin bisa kembali normal. Inovasi Pertanian: Jeruk dan Cabai Sebagai Inspirasi Nasional Keberhasilan Desa Kemiri dalam mengelola tumpang sari jeruk dan cabai adalah cerminan dari bagaimana inovasi sederhana dapat menciptakan dampak besar. Konsep ini seharusnya menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan inflasi bahan pokok dan meningkatkan pendapatan masyarakat (Mardiyanto, I. C., & Prasetyanto, P. K. 2023). Pak Lurah dengan penuh semangat mengingatkan kami bahwa kunci keberhasilan pertanian ini adalah kolaborasi, baik antar warga maupun dengan pihak luar. Keterlibatan kelompok KKN seperti kami adalah salah satu bentuk dukungan untuk menyebarkan pengetahuan dan praktik ini ke masyarakat yang lebih luas. “Kalau sudah ada contoh nyata seperti ini, yang lain tinggal meniru dan memodifikasi sesuai kebutuhan. Inilah ATM yang sebenarnya: Amati, Tiru, Modifikasi,” ujarnya sambil tersenyum. Pak Lurah juga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat melihat potensi ini sebagai model untuk program ketahanan pangan nasional. Dengan memberikan dukungan berupa pelatihan, subsidi pupuk, dan pemasaran, potensi seperti di Desa Kemiri bisa dikembangkan lebih luas. Peran Generasi Muda dalam Pertanian Salah satu hal yang kami pelajari selama di Desa Kemiri adalah pentingnya peran generasi muda dalam mengembangkan pertanian. Pertanian sering kali dianggap sebagai pekerjaan yang “kuno” atau kurang menarik. Padahal, dengan pendekatan yang modern dan kreatif, pertanian bisa menjadi salah satu sektor paling menjanjikan. Sebagai contoh, Desa Kemiri sudah mulai memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan hasil panennya. Dengan bantuan mahasiswa KKN 91 Nurtura, warga desa diajarkan cara membuat konten menarik untuk Instagram dan Facebook. Foto jeruk segar yang menggoda dan video panen cabai yang penuh semangat kini menjadi bagian dari strategi pemasaran digital desa. Desa Kemiri, Jabung : Desa yang Indah di Perbatasan Tidak hanya kaya dengan potensi pertanian, Desa Kemiri juga dianugerahi keindahan alam yang memanjakan mata. Selepas lelah bekerja di ladang, petani-petani di sini bisa menikmati pemandangan yang menenangkan. Dari desa ini, terlihat jelas Bandara Abdulrachman Saleh yang sibuk dengan pesawat-pesawatnya. Di sisi lain, ada hamparan hijau sawah dan ladang yang memanjakan mata, kontras dengan gedung-gedung perkotaan yang tampak padat di kejauhan. Meski begitu, Desa Kemiri kerap kali terlupakan. Padahal, desa ini adalah salah satu titik perbatasan yang sering dilewati banyak orang, terutama wisatawan yang menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bayangkan saja, jarak dari Desa Kemiri ke Bromo hanya sekitar 45 menit! Namun, ironisnya, wisatawan yang tiba di Bandara Abdulrachman Saleh—yang begitu dekat dengan Desa Kemiri—lebih memilih menginap di Kota Batu sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo. Padahal, jika Desa Kemiri dikembangkan sebagai destinasi wisata, banyak peluang ekonomi yang bisa terbuka. Coba bayangkan: wisata petik jeruk di ladang, pengalaman memerah sapi seperti di pedesaan Eropa, hingga homestay yang menawarkan ketenangan di tengah alam. Dengan memanfaatkan potensi ini, Desa Kemiri bukan hanya akan dikenal sebagai desa pertanian tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menjanjikan. Potensi ini jelas tidak hanya membantu ekonomi desa, tetapi juga memberikan alternatif pengalaman wisata bagi turis yang ingin merasakan suasana pedesaan asli Indonesia. Desa Kemiri, dengan segala keindahan dan potensinya, adalah berlian yang hanya butuh sedikit polesan untuk bersinar. Masa Depan Ada di desa : Saatnya Kembali ke Desa! Sebagai generasi muda, kita sering kali berpikir bahwa masa depan ada di kota. Tapi setelah melihat sendiri bagaimana Desa Kemiri mengelola potensi pertaniannya, kami jadi yakin bahwa masa depan sebenarnya ada di desa. Dengan inovasi dan kolaborasi, desa bisa menjadi pusat ketahanan pangan, bahkan membantu menstabilkan ekonomi nasional. Melihat potensi besar yang dimiliki Desa Kemiri, kami sadar bahwa desa adalah masa depan. Tumpang sari jeruk dan cabai bukan hanya strategi pertanian, tetapi juga simbol dari bagaimana kreativitas dan kerja keras bisa melampaui tantangan seperti inflasi.Dengan kombinasi antara pertanian kreatif dan potensi wisata, Desa Kemiri siap menjadi salah satu desa percontohan di Indonesia. Masa depan tidak hanya tumbuh dari tanahnya, tetapi juga dari visi besar warganya. Jadi, jika Anda masih berpikir bahwa desa tidak relevan di era modern ini, kunjungi Desa Kemiri. Anda mungkin akan berubah pikiran. Karena di sini, masa depan benar-benar tumbuh dari tanah dan bertemu dengan keindahan alam yang tak tergantikan.   Desa Kemiri mengajarkan kita bahwa ketahanan pangan dimulai dari langkah kecil—menanam jeruk dan cabai, memanfaatkan potensi lokal, dan berkolaborasi untuk masa depan yang lebih baik. Dan siapa tahu, mungkin desa Anda adalah Desa Kemiri berikutnya.   Referensi : Adi Saputri, T. H., Al Malik, M. R., Arliati, R. R., Tomasoa, R., Dwiriyadi, & Adifati, T. A. (2022). Pengaruh harga cabai rawit, harga bawang merah, dan harga daging sapi terhadap inflasi. Jurnal Bisnis Kompetif, 1(2), Juli. https://doi.org/ISSN: 2829-5277  Mardiyanto, I. C., & Prasetyanto, P. K. (2023). Pengaruh Harga Tanaman Pangan terhadap Inflasi di Kabupaten Kendal. Transekonomika: Akuntansi, Bisnis, dan Keuangan​. Pirngadi, R. S. et al. (2023). Respon Pedagang dan Konsumen terhadap Kenaikan Harga Cabai Merah. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara​. Purnomo, H. (2025). Daftar harga bahan pokok di awal tahun 2025. detikFinance. Diakses dari https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7714240/daftar-harga-bahan-pokok-di-awal-tahun-2025.

Thumbnail
2 years ago
Gerakan Hijau Kelompok 111 KKM UIN Malang: Menanam Harapan di Dusun Benel

HISYAM KAMIL MUHTADIN

Baturetno, 11 Januari 2025 — Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hijau, Kelompok 111 KKM Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yang dikenal dengan nama grup "Danadyaksa," melaksanakan program kerja penghijauan lingkungan di Dusun Benel, Desa Baturetno, Kecamatan Singosari. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusias, melibatkan mahasiswa KKM dan warga setempat dalam aksi nyata menanam pohon. Bertempat di pekarangan kosong milik salah satu warga bernama Rusdi, peserta KKM dan warga bahu-membahu menanam berbagai jenis pohon produktif, seperti kelengkeng, alpukat, dan mangga. Pemilihan pohon-pohon ini tidak hanya bertujuan untuk menghijaukan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang berupa hasil buah yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Warga Dusun Benel pun menyambut baik inisiatif ini. Rusdi, pemilik pekarangan, mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Saya sangat bersyukur pekarangan kosong ini dapat dimanfaatkan untuk hal yang baik. Semoga pohon-pohon ini tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi kita semua,” tuturnya penuh harap. Program kerja penghijauan ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mengedepankan pengabdian kepada masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, Kelompok 111 berhasil menunjukkan bahwa langkah kecil seperti menanam pohon dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.       Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Gerakan Hijau Kelompok 111 KKM UIN Malang: Menanam Harapan di Dusun Benel", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/ragilsukmawicaksono4851/67828272ed641522bd797d32/gerakan-hijau-kelompok-111-kkm-uin-malang-menanam-harapan-di-dusun-benel

Thumbnail
2 years ago
Pengabdian Mahasiswa Mendidik Anak Negeri Karakter Positif dan Pengembangan Minat Bakat: MI Thoriqul Huda, Ranupani, Suku tengger

LUTHFIYA ZULFATUL AZIZAH

  Masyarakat suku Tengger desa Ranupani masih memiliki citra agraris yang kuat, membuat mereka memiliki kemandirian dan tidak terlalu tergantung kepada kekuatan dari luar komunitasnya, baik itu kekuatan yang berdimensi ekonomi, politik, atau budaya. Mereka dapat mempertahankan identitas dan solidaritas sukunya.  Meskipun begitu, desa di kaki gunung semeru tersebut memiliki taraf Pendidikan yang rendah. Aksesibilitas Pendidikan dan pasokan pengajar yang kurang menjadi faktornya. Alasan lain dibalik rendahnya Pendidikan masyarakatnya juga disebabkan karena anak-anak suku Tengger disana sudah terbiasa untuk ikut serta dalam mata pencaharian orang tua nya.  Banyak dari Masyarakat Tengger disana lebih mengutamakan anak-anak mereka untuk bekerja, misalnya membantu di ladang. Sekolah bagi mereka bukan sebuah hal yang krusial dan tak dijadikan prioritas. Padahal tidak dapat di pungkiri bahwa pendidikan menjadi apek penting dalam kehidupan. Akses yang memadai terhadap pendidikan memastikan masyarakat desa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berkarya dan berkontribusi pada pembangunan desa. Sekolah bukan hanya sebagai formalitas, sekolah dapat mengajarkan fondasi pengetahuan dan keterampilan dasar bagi masyarakat desa, keterampilan dasar seperti berpikir kritis dan logis. Yang tidak kalah penting adalah pendidikan di sekolah adalah menjadi tempat penanaman karakter positif dimulai sejak dini. Madrasah Ibtidaiyah Thoriqul Huda, menjadi sekolah Islam pertama diantara suku tengger desa Ranupani. Sekolah ini cukup baik dalam menanamkan karakter-karakter positif berbasis keislaman lewat berbagai pelajaran agama. Pelajan umum juga diterapkan seperti kelas baca tulis hitung, kelas literasi, dan yang menarik adalah kelas multimedia yang mendorong anak-anak tetap “melek” teknologi.  Namun, sekolah ini dianggap masyarakat sebagai sekolah yang memiliki standar tinggi dan cukup berat untuk kapasitas anak-anak. Apalagi ditambah karakter anak-anak disana juga cukup keras karena mereka terbiasa untuk mendapatkan apa yang mereka dengan mudah. “Anak-anak disini terbiasa untuk dididik dengan uang, uang saku mereka seharinya cukup besar mulai dari 15 libu bahkan 50 ribu” terang Pak Fizi saat diwawancarai. Hal tersebut menjadi tantangan untuk bisa menanamkan karakter positif kepada para siswa dengan metode yang menyenagkan, ringan, dan interaktif, sehingga mereka dapat menerimanya tanpa terpaksa. Mahasiswa Mendidik Anak Negeri dan Matahati Care Centre mengupayakan menciptakan warna baru dalam ruang belajar MI Thoriqul Huda dengan tajuk Karakter Positif dan Minat Bakat. Pada aspek karakter positif kami berfokus untuk bisa menanamkan semangat belajar pada siswa, motivasi untuk bisa memiliki cita-cita tinggi, menghormati orang tua, serta perilaku baik terhadap teman sebaya. Dimulai dari langkah ini kami berharap dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan karakter yang positif pada masyarakat Suku Tengger desa Ranupani.  

Thumbnail
2 years ago
https://www.kompasiana.com/ragilsukmawicaksono4851/67828272ed641522bd797d32/gerakan-hijau-kelompok-111-kkm-uin-malang-menanam-harapan-di-dusun-benel

NUR AISYAH INFITAKH KAMALIYA

Gerakan Hijau Kelompok 111 KKM UIN Malang: Menanam Harapan di Dusun Benel Baturetno, 11 Januari 2025 — Dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hijau, Kelompok 111 KKM Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yang dikenal dengan nama grup "Danadyaksa," melaksanakan program kerja penghijauan lingkungan di Dusun Benel, Desa Baturetno, Kecamatan Singosari. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusias, melibatkan mahasiswa KKM dan warga setempat dalam aksi nyata menanam pohon. Bertempat di pekarangan kosong milik salah satu warga bernama Rusdi, peserta KKM dan warga bahu-membahu menanam berbagai jenis pohon produktif, seperti kelengkeng, alpukat, dan mangga. Pemilihan pohon-pohon ini tidak hanya bertujuan untuk menghijaukan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang berupa hasil buah yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Warga Dusun Benel pun menyambut baik inisiatif ini. Rusdi, pemilik pekarangan, mengungkapkan rasa terima kasihnya. “Saya sangat bersyukur pekarangan kosong ini dapat dimanfaatkan untuk hal yang baik. Semoga pohon-pohon ini tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi kita semua,” tuturnya penuh harap. Program kerja penghijauan ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mengedepankan pengabdian kepada masyarakat. Dengan semangat kebersamaan, Kelompok 111 berhasil menunjukkan bahwa langkah kecil seperti menanam pohon dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.