LUTHFI ROFIFAH
Lawang, 27 Januari 2025 -- Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 119 Adikara Bhakti Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang resmi menutup masa pengabdiannya di Desa Sidodadi, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Acara penutupan berlangsung khidmat dan penuh haru di balai desa, dihadiri oleh perangkat desa, dosen pembimbing lapangan (DPL), masyarakat setempat, serta mahasiswa KKM. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang menambah kesakralan momen perpisahan ini. Lantunan ayat-ayat suci yang merdu mengingatkan bahwa setiap kebersamaan memiliki akhir, namun nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan selama pengabdian akan terus dikenang dan bermanfaat. Kemudian para hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Menyanyikan Lagu Indonesia Raya (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Setelah itu, Ketua Pelaksana Penutupan KKM, Fariz , menyampaikan sambutan yang penuh rasa syukur. Ia mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh warga Desa Sidodadi yang telah menerima para mahasiswa dengan tangan terbuka selama program KKM berlangsung. "Kami merasa sangat diterima di desa ini, dan pengalaman yang kami dapatkan selama sebulan di sini sungguh luar biasa. Semoga program yang telah kami jalankan bisa bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya. Sambutan Ketua Pelaksana Penutupan KKM (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Sekretaris Desa Sidodadi, Bapak Jumari, dalam sambutannya juga mengungkapkan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada mahasiswa KKM 119. Ia menekankan bahwa keberadaan mahasiswa KKM memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. "Kami sangat berterima kasih atas dedikasi dan semangat adik-adik mahasiswa dalam membantu masyarakat. Semoga apa yang telah diberikan selama di desa ini menjadi amal jariyah dan membawa manfaat bagi semuanya," ucapnya. Sambutan Sekretaris Desa Sidodadi (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Sambutan selanjutnya disampaikan oleh salah satu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Bapak Usman Pagalay, yang turut hadir dalam acara tersebut. Dalam pesannya, beliau mengingatkan mahasiswa untuk terus mengamalkan nilai-nilai pengabdian di mana pun berada. "Kuliah Kerja Mahasiswa bukan hanya sekadar program akademik, tetapi juga pembelajaran kehidupan. Teruslah menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya. Sambutan Perwakilan Dosen Pembimbing Lapangan (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Acara dilanjutkan dengan prosesi penyerahan cinderamata dari mahasiswa KKM 119 kepada Kepala Desa Sidodadi sebagai bentuk kenang-kenangan dan simbol terjalinnya hubungan baik antara mahasiswa dan masyarakat desa. Suasana haru semakin terasa saat warga dan mahasiswa saling bersalaman, bertukar cerita, dan mengabadikan momen dengan berfoto bersama. Penyerahan Sertifikat (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Penyerahan Cinderamata (Sumber: Dokumentasi Pribadi) Dengan resmi ditutupnya program KKM 119 Adikara Bhakti, mahasiswa kembali ke kampus dengan membawa pengalaman berharga yang tidak hanya memperkaya ilmu akademik, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Sementara bagi masyarakat Desa Sidodadi, kehadiran mahasiswa KKM 119 meninggalkan jejak inspirasi dan semangat kebersamaan yang akan selalu dikenang. Foto Bersama Penutupan KKM 2024-2025 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Sidodadi
FUAD BASWARUDIN
Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 2 Parivartaka sukses menggelar kegiatan Outbound Edukatif bertema Stunting dan Parenting pada 19 Januari 2025 di Dukuh Buntaran, Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Acara ini berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari peserta, yang sebagian besar merupakan ibu hamil, ibu menyusui, serta masyarakat sekitar yang peduli terhadap tumbuh kembang anak. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Sebagai narasumber utama, Eni Ismiati, Ketua Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Poncokusumo, memberikan pemahaman mendalam mengenai stunting, faktor penyebabnya, serta strategi pencegahannya. Dalam paparannya, Eni menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat berdampak serius pada perkembangan kognitif anak. "Stunting tidak hanya masalah tinggi badan yang terhambat, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak anak. Jika tidak dicegah sejak dini, anak-anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi kesulitan dalam pendidikan dan kehidupan sosial di masa depan," Beliau juga menekankan pentingnya gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita sebagai faktor utama dalam mencegah stunting. Menurutnya, peran keluarga, terutama ibu sebagai garda terdepan dalam pola asuh, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan. Selain sesi edukasi, kegiatan ini juga dikemas secara interaktif melalui berbagai permainan outbound edukatif yang menyenangkan. Beberapa permainan yang digelar antara lain Lomba Bomb Air, untuk meningkatkan kerja sama dan komunikasi antar peserta. Jaga Lilin, yang mengajarkan pentingnya ketekunan dan kehati-hatian dalam mengasuh anak. Kuis Seputar Gizi dan Tumbuh Kembang Anak, sebagai bentuk edukasi ringan namun tetap informatif. Selain itu, peserta juga diajak berdiskusi mengenai tantangan dalam mengasuh anak di era modern, seperti pengaruh gadget, pola asuh yang tepat, serta pentingnya stimulasi dini bagi anak. Fuad Baswarudin, Ketua KKM 2 Parivartaka, mengungkapkan rasa syukurnya atas suksesnya acara ini. Di akhir acara, Bapak Sulhan, Kepala Sekolah SD Negeri 2 Belung, turut memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKM dalam mengadakan kegiatan edukatif ini. Outbound edukatif ini merupakan bagian dari komitmen KKM 2 Parivartaka dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dan pendidikan anak semakin meningkat. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam pembangunan sosial, khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Dengan keberhasilan acara ini, KKM 2 Parivartaka berencana untuk terus berinovasi dalam menghadirkan program-program edukatif lainnya yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi masyarakat.
NICKYA BINTANG ARDIANTO
Pada tanggal 25 Januari 2025, tiga kelompok KKM yang bertugas di Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menyelenggarakan acara penutupan di SDN 01 Taji. Acara penutupan dihadiri oleh perangkat Desa Taji, Guru SDN 01 Taji, serta teman-teman mahasiswa KKM UIN Malang kelompok 29,99, dan 169. Acara ini menjadi momen penutupan serta ungkapan terima kasih mahasiswa KKM dan masyarakat Desa Taji. Suasana penuh haru menyelimuti jalannya acara penutupan sebab tak terasa 40 hari telah berlalu. Acara dimulai pukul 09.00 WIB, dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh saudara Rifhkan Najih kemudian disusul oleh sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh perwakilan ketua dari ketiga kelompok yakni Akhmad Ubadilah selaku ketua kelompok KKM 99. Pada sambutannya ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat Desa Taji yang senantiasa menerima dan mendukung progran kerja yang telah dilaksanakan sehingga berjalan dengan lancar. Tidak lupa juga permohonan maaf disampaikan apabila terjadi kesalahan dalam pelaksanaan program kerja serta harapan apa yang telah diberikan senantiasa bermanfaat bagi warga Desa Taji, sekalligus menjadi pengalaman yang berharga bagi mahasiswa. Sambutan kedua disampaikan oleh Bapak Dindin Siswanto selaku Kepala Desa Taji. Pada sambutannya, beliau menunjukkan rasa apresiasi kepada mahasiswa, serta ucapan terima kasih dan harapan agar tali silaturahmi yang telah terjalin tidak terputus begitu saja. Beliau berpesan untuk tidak melupakan warga Desa Taji walaupun kegiatan pengabdian masyarakat ini telah berakhir. Sambutan yang terakhir disampaikan oleh Bapak Sudarmaji selaku kepala sekolah SDN 01 dan 02 Taji. Beliau menyampaikan terima kasih telah membantu proses pembelajaran di SDN 01 dan 02 Taji sehingga dapat menjadi inspirasi adik-adik SDN 01 dan 02 Taji untuk melanjutkan sekolahnya hingga kejenjang yang lebih tinggi. Acara dilanjutkan dengan penyerahan cindera mata secara simbolis serta berfoto bersama sebagai kenang-kenangan kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat Desa Taji. Senyuman bahagia terukir di wajah masing-masing peserta, membuktikan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini akan selalu terkenang di hati masing-masing. Dengan demikian berakhirlah perjalanan KKM 99 Abhisakya di Desa Taji, Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Perpisahan tak dapat dihindari, namun rasa kebersamaan yang telah terbangun akan selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi kami. Mungkin hari ini kita berpisah, namun kenangan kita akan tetap bersama dalam tiap doa yang terucap. Kami, kelompok KKM 99 Abhisakya pamit undur diri.
SHERIF PRAST ERBEAN
Mahasiswa UIN Malang dampingi Digitalisasi Marketing UMKM Dusun Buntaran Belung Poncokusumo Dalam era serba digital, penguasaan strategi pemasaran berbasis teknologi menjadi kebutuhan mutlak, termasuk bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Menyadari pentingnya hal ini, anggota Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Desa Belung, Poncokusumo, Kabupaten Malang, mengadakan sosialisasi bertema Digitalisasi Marketing untuk UMKM pada Minggu, 12 Januari 2025, di Dusun Buntaran. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Dusun Buntaran agar lebih memahami cara memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk mereka. Sosialisasi ini dipandu oleh Sherif Prast Erbean dan Andika Iqbal Amaruddin, dua anggota KKM yang telah memiliki pengalaman dalam dunia digital marketing. Acara tersebut dihadiri oleh puluhan warga Dusun Buntaran, khususnya para pelaku UMKM, yang antusias mendalami cara memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan daya saing usaha mereka. Dalam sesi pertama, Sherif Prast Erbean menjelaskan pentingnya digitalisasi bagi UMKM di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. Ia memaparkan manfaat penggunaan platform seperti media sosial dan e-commerce dalam menjangkau pelanggan baru. "Teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk mengembangkan usaha," ujarnya dengan penuh semangat. Sesi kedua dilanjutkan oleh Andika Iqbal Amaruddin yang mengajak peserta untuk mengetahui secara langsung bagaimana agar cara akun bisnis di media sosial dapat berkembang dengan berbagai konten yang menarik. Dengan langkah-langkah yang mudah dipahami, para peserta mulai memahami bagaimana cara mengunggah produk dengan tampilan menarik, menulis deskripsi produk yang efektif, hingga memanfaatkan fitur insight untuk melihat perkembangan bisnis mereka. Sherif dan Andika menekankan bahwa inovasi tidak harus dimulai dari hal besar. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana, seperti memotret produk dengan pencahayaan yang baik atau membuat narasi unik, UMKM bisa lebih menarik perhatian konsumen. Kegiatan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, di mana peserta dapat berdiskusi langsung tentang tantangan mereka dalam mengadopsi digitalisasi. Dengan bekal yang diberikan, warga Dusun Buntaran diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh untuk memajukan usaha mereka ke arah yang lebih profesional dan kompetitif. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antara kami dan masyarakat. Dengan harapan bahwa ilmu yang kami berikan dapat menjadi langkah awal bagi warga Dusun Buntaran untuk membawa UMKM mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Sosialisasi ini tidak hanya tentang memberikan ilmu, tetapi juga belajar dari masyarakat. Semangat, kehangatan, dan ketulusan mereka memberikan pelajaran berharga yang akan selalu kami bawa ke mana pun. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mahasiswa UIN Malang dampingi Digitalisasi Marketing UMKM Dusun Buntaran Belung Poncokusumo", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/kkmparivartaka4555/678737b2c925c47035689382/sosialisasi-untuk-mendorong-umkm-dalam-digitalisasi-marketing-di-dusun-buntaran?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Desktop Kreator: KKM PARIVARTAKA
ZAFFA SHOFIYYUL HAWA`
SDN 4 Bedalisodo berhasil membuktikan bahwa moderasi beragama dapat diterapkan sejak usia dini melalui kegiatan yang sarat nilai toleransi dan keberagaman. Setiap Selasa hingga Kamis pagi, sekolah ini mengadakan aktivitas keagamaan yang mempererat harmoni antarsiswa dari berbagai latar belakang agama. Suasana penuh makna terlihat ketika siswa melaksanakan kegiatan spiritual mereka masing-masing. Di lapangan sekolah, siswa Muslim bersama para guru membaca Asmaul Husna dan menghafal surat-surat pendek Al-Qur'an dengan khidmat. Sementara itu, siswa non-Muslim berkumpul di ruang kelas 4 untuk berdoa sesuai keyakinan mereka, didampingi wali kelas yang memastikan kegiatan berjalan lancar dan penuh penghormatan. Menurut Yoza, anggota Kelompok KKN 105 “Sukma Sadhana” dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, kegiatan ini adalah contoh nyata harmoni dalam keberagaman. “Kami menyaksikan bagaimana siswa diajarkan untuk menghargai perbedaan tanpa mengurangi kualitas ibadah masing-masing. Ini adalah bentuk moderasi beragama yang patut diapresiasi,” ungkapnya. Shofi menambahkan, Kelompok KKN 105 tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga turut berkontribusi dalam memfasilitasi kegiatan ini. Mereka mendampingi siswa, memberikan dukungan logistik, serta mengapresiasi komitmen para guru dalam menciptakan suasana inklusif. “Kegiatan ini tidak hanya membangun nilai spiritual, tetapi juga menanamkan rasa saling menghormati yang kuat,” jelasnya. Inisiatif yang dilakukan SDN 4 Bedalisodo membawa dampak positif, baik secara spiritual maupun sosial. Siswa belajar untuk mendukung satu sama lain tanpa memandang perbedaan agama, menciptakan lingkungan yang hangat dan penuh rasa saling menghormati. “Kami berharap para siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga menjadi generasi yang toleran, menghormati keberagaman, dan siap menjadi agen perdamaian di masyarakat,” tambah Nazih. Kolaborasi antara sekolah dan kelompok KKN menunjukkan betapa pentingnya dukungan komunitas luar dalam mewujudkan moderasi beragama. Upaya ini tidak hanya memperkaya nilai-nilai kebangsaan di kalangan siswa, tetapi juga memberikan inspirasi bagi sekolah lain untuk mengintegrasikan moderasi beragama dalam kegiatan sehari-hari. Praktik moderasi beragama di SDN 4 Bedalisodo menjadi bukti bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan pemersatu. Dengan menciptakan ruang bagi setiap siswa untuk menjalankan keyakinan mereka tanpa hambatan, sekolah ini berhasil menanamkan benih toleransi yang akan terus tumbuh di masa depan. Inisiatif seperti ini layak menjadi teladan bagi sekolah lain, sebagai langkah kecil menuju masyarakat yang damai dan harmonis. Melalui pendidikan berbasis moderasi beragama, diharapkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman dapat menyebar lebih luas, menjadikan keberagaman sebagai fondasi bagi persatuan bangsa. Penulis : KKN Kelompok 105 "Sukma Sadhana"
IZZA NAILATUL FITRIYAH
Pada tanggal 19 Januari 2025, KKM Sidomulyo 165 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertajuk “Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah.” Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah yang sering kali dibuang sembarangan. Kegiatan tersebut menyoroti cara mengubah minyak bekas menjadi produk bernilai ekonomi, seperti lilin ramah lingkungan, yang juga membantu mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang sering kali dianggap remeh. Dalam penyuluhan ini, nara menjelaskan sumber bahwa minyak jelantah memiliki banyak risiko jika tidak dikelola dengan baik. Minyak yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan udara, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Selain itu, jika digunakan berulang kali melebihi batas wajar, minyak ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti risiko penyakit jantung, obesitas, gangguan pencernaan, hingga kanker. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng juga dapat dijelaskan, termasuk jenis minyak, suhu pemanasan, dan kondisi penyimpanan. Masyarakat diberi pemahaman bahwa minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal tiga kali pemanasan, dengan sisa makanan yang disaring untuk memperpanjang penggunaannya. Namun, setelah batas penggunaan tersebut tercapai, minyak bekas tidak boleh dibuang begitu saja. Di dalam konsep daur ulang memainkan peran penting. Salah satu poin utama dari kegiatan ini adalah memperkenalkan potensi ekonomi dari minyak jelantah. Minyak bekas dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, sabun, dan lilin. Di antara semua produk tersebut, lilin dari minyak jelantah menjadi topik utama dalam penyuluhan. Narasumber menjelaskan bahwa bahan baku minyak jelantah sangat melimpah, terutama dari rumah tangga, restoran, dan usaha kuliner kecil. Dengan modal kecil, siapa pun bisa memulai usaha pembuatan lilin dari minyak bekas ini. Selain mengurangi limbah, usaha ini juga memiliki pasar yang cukup luas. Lilin dari minyak jelantah banyak diminati karena ramah lingkungan dan memiliki harga jual yang kompetitif. Dengan harga minyak jelantah sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per liter, produk lilin bisa dijual dengan harga mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 per unit, tergantung pada desain dan kualitasnya. Hal ini menjadi peluang menarik bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan sambil berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk langsung mencoba membuat lilin dari minyak jelantah. Pengolahannya cukup sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Berikut adalah langkah-langkahnya: 1. Penyaringan Minyak Jelantah : Minyak bekas penyaringan untuk menghilangkan sisa-sisa makanan atau kotoran. 2. Pencampuran dengan Lilin Parafin atau Bahan Pengikat: Minyak jelantah dicampur dengan lilin parafin atau bahan lain yang dapat mengikat minyak agar menghasilkan tekstur yang padat. 3. Penambahan Pewarna dan Pewangi: Pewarna dan aroma tambahan diberikan untuk membuat lilin lebih menarik. 4. Penuangan ke Cetakan: Pencampuran minyak dituangkan ke dalam cetakan sesuai bentuk yang diinginkan. 5. Pendinginan dan Pemadatan: Lilin dibiarkan dingin hingga berputar, lalu dikeluarkan dari cetakan. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap langkahnya. Banyak dari mereka yang merasa proses ini cukup mudah dan dapat diterapkan di rumah dengan peralatan sederhana. Selain ramah lingkungan, lilin dari minyak jelantah memiliki banyak manfaat. Lilin ini dapat digunakan untuk penerangan alternatif, dekorasi, atau bahkan sebagai aromaterapi jika ditambahkan pewangi. Dengan demikian, produk ini tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Dalam skala usaha, lilin dari minyak jelantah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang limbah Kegiatan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin ini menjadi salah satu langkah kecil yang membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Edukasi yang diberikan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya minyak jelantah jika tidak dikelola, tetapi juga membuka peluang baru untuk menciptakan produk bernilai ekonomi. Dengan modal kecil dan proses yang sederhana, siapa pun dapat memulai usaha ini sambil berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, KKM Sidomulyo 165 mengajak seluruh masyarakat untuk memandang limbah sebagai peluang, bukan masalah. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin adalah salah satu contoh nyata bagaimana kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan langkah ini, diharapkan semakin banyak orang yang terinspirasi untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. https://www.kompasiana.com/arthasamasta0418/67984057ed64152941272ae7/inovasi-ramah-li ngkungan-dengan-memanfaatkan-minyak-jelatah-menjadi-lilin