Thumbnail
1 year ago
Mengabdi dan Berbagi: Cerita Kami di Dukuh Buntaran, Desa Belung Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengabdi dan Berbagi : Cerita Kami di Dukuh Buntaran, Desa Belung

GUMILANG ATMAJA

Mengabdi dan Berbagi: Cerita Kami di Dukuh Buntaran, Desa Belung Dalam rangkaian program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 2 Parivartaka, kami berkesempatan menjalankan pengabdian di Dukuh Buntaran, Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo. Salah satu kegiatan pertama yang kami selenggarakan adalah pembukaan dan perkenalan program mengaji untuk anak-anak di kampung ini.   Rasanya seperti sebuah pertemuan yang hangat dan penuh makna. Anak-anak datang dengan semangat, senyum mereka menghapus rasa lelah setelah persiapan panjang. Antusiasme mereka begitu nyata; mata-mata kecil itu berbinar, telinga mereka menyimak dengan serius setiap kata yang kami sampaikan. Kami memulai dengan perkenalan sederhana, memperkenalkan siapa kami dan apa yang akan kami lakukan selama berada di sini. Setelah itu, sesi mengaji dimulai. Meski awalnya kami khawatir, ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan sangat antusias. Mereka membaca, mendengarkan, dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.   Hal yang paling berkesan adalah semangat mereka untuk belajar. Di tengah suasana kampung yang sederhana, anak-anak ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan Mengabdi dan Berbagi: Cerita Kami di Dukuh Buntaran, Desa Belung Dalam rangkaian program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 2 Parivartaka, kami berkesempatan menjalankan pengabdian di Dukuh Buntaran, Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo. Salah satu kegiatan pertama yang kami selenggarakan adalah pembukaan dan perkenalan program mengaji untuk anak-anak di kampung ini.   Rasanya seperti sebuah pertemuan yang hangat dan penuh makna. Anak-anak datang dengan semangat, senyum mereka menghapus rasa lelah setelah persiapan panjang. Antusiasme mereka begitu nyata; mata-mata kecil itu berbinar, telinga mereka menyimak dengan serius setiap kata yang kami sampaikan.  Kami memulai dengan perkenalan sederhana, memperkenalkan siapa kami dan apa yang akan kami lakukan selama berada di sini. Setelah itu, sesi mengaji dimulai. Meski awalnya kami khawatir, ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Anak-anak mengikuti kegiatan dengan sangat antusias. Mereka membaca, mendengarkan, dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.   Hal yang paling berkesan adalah semangat mereka untuk belajar. Di tengah suasana kampung yang sederhana, anak-anak ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan agama dalam kehidupan mereka. Kami merasa benar-benar diterima, seolah menjadi bagian dari keluarga besar di Dukuh Buntaran.   Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi kami sebagai mahasiswa. Mengabdi tidak hanya soal berbagi ilmu, tetapi juga soal menerima dan belajar dari masyarakat. Keikhlasan anak-anak ini dalam belajar memberikan kami energi baru untuk terus berkontribusi, sebaik mungkin, selama program ini berlangsung.   Kami berharap program mengaji ini tidak hanya menjadi rutinitas sementara, tetapi juga membekas di hati anak-anak dan masyarakat Dukuh Buntaran. Semoga semangat mereka terus tumbuh, dan mereka menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Thumbnail
1 year ago
Menyambut Ciri Khas Batik Gunung Jati! Mahasiswa KKM UIN Malang Berkolaborasi dengan Warga Melalui Pelatihan Membatik di Balai Desa

ZAIDAR PUJIANTO

Desa Gunung Jati, 30 Desember 2024- Dalam rangka melestarikan budaya lokal, Pemerintah Kabupaten Malang Kecamatan Jabung Desa Gunung Jati menyelenggarakan pelatihan membatik sebagai upaya dalam pemberdayaan pemuda dan menciptakan ciri khas tersendiri untuk batik Gunung Jati. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Gunung Jati pada tanggal 30 Desember 2024 dan diikuti oleh lebih dari 20 anggota Karang Taruna untuk mempelajari seni membatik.   Pelatihan ini menghadirkan narasumber berpengalaman, yaitu Ibu Sumiati dan Ibu Rosidah dari Pakis. Beliau merupakan seorang ahli batik yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Selain itu,Ibu Sumiyati dan Ibu Rosidah memiliki sanggar membatik yang berada di Pakis. Pada kegiatan ini, beliau memberikan penjelasan mendalam mengenai proses pembuatan batik yaitu dengan batik tulis atau canting dan batik cap. Selain diberikan materi terkait proses pembuatan batik, peserta pelatihan juga diajak untuk mencoba langsung membuat batik sendiri sehingga pesesta dapat langsung mencoba pengalaman membatik yang menyenangkan. Dalam sambutannya,  Ibu Rosidah mengharapkan kolaborasi antara Jabung dan Pakis dalam membatik akan terus berjalan untuk menciptakan ciri khas batik yang identik dengan Kecamatan Jabung, khususnya untuk Desa Gunung Jati.  Pada acara membatik ini, motif yang digunakan adalah batik bunga teratai dan topeng panji. Hal tersebut dikarenakan Gunung Jati sendiri belum memiliki ciri khas batiknya. Pada kesempatan kali ini Ibu Rosidah dan Ibu Sumiyati mengajak perempuan karang taruna untuk belajar membatik bersama menggunakan teknik canting/tulis. Hal tersebut dimulai dari menggambar lalu mencanting. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menggambar motif terlebih dahulu pada kain putih yang sudah disediakan berukuran 50×120, lalu dilakukan proses pencantingan dengan masing-masing peserta memegang canting. Setelah mencanting, langkah selanjutnya adalah pewarnaan dengan menggunakan medangan. Setelah proses pewarnaan selesai, dilanjutkan dengan proses penjemuran dibawah sinar matahari. Setelah kering, kain kemudian direbus untuk menghilangkan malam pada batik. Proses terakhir yaitu penjemuran kain yang sudah di batik. Dengan diadakan pelatihan membatik ini, pemerintah Kabupaten Malang Kecamatan Jabung berharap  dapat meningkatkan keterampilan anggota Karang Taruna sehingga membatik bisa menjadi salah satu sumber ekonomi  alternatif bagi Masyarakat khususnya pada Desa Gunung jati.  

Thumbnail
1 year ago
KKM 2 Parivartaka Sukses Gelar Outbound Edukatif : Tingkatkan Kesadaran Stunting dan Parenting di Dukuh Buntaran

FAIQOTUL HUSNA

Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 2 Parivartaka sukses menggelar kegiatan Outbound Edukatif bertema Stunting dan Parenting pada 19 Januari 2025 di Dukuh Buntaran, Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Acara ini berlangsung meriah dengan antusiasme tinggi dari peserta, yang sebagian besar merupakan ibu hamil, ibu menyusui, serta masyarakat sekitar yang peduli terhadap tumbuh kembang anak. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Sebagai narasumber utama, Eni Ismiati, Ketua Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Poncokusumo, memberikan pemahaman mendalam mengenai stunting, faktor penyebabnya, serta strategi pencegahannya. Dalam paparannya, Eni menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat berdampak serius pada perkembangan kognitif anak. "Stunting tidak hanya masalah tinggi badan yang terhambat, tetapi juga berdampak pada perkembangan otak anak. Jika tidak dicegah sejak dini, anak-anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi kesulitan dalam pendidikan dan kehidupan sosial di masa depan," Beliau juga menekankan pentingnya gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita sebagai faktor utama dalam mencegah stunting. Menurutnya, peran keluarga, terutama ibu sebagai garda terdepan dalam pola asuh, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan. Selain sesi edukasi, kegiatan ini juga dikemas secara interaktif melalui berbagai permainan outbound edukatif yang menyenangkan. Beberapa permainan yang digelar antara lain Lomba Bomb Air, untuk meningkatkan kerja sama dan komunikasi antar peserta. Jaga Lilin, yang mengajarkan pentingnya ketekunan dan kehati-hatian dalam mengasuh anak. Kuis Seputar Gizi dan Tumbuh Kembang Anak, sebagai bentuk edukasi ringan namun tetap informatif. Selain itu, peserta juga diajak berdiskusi mengenai tantangan dalam mengasuh anak di era modern, seperti pengaruh gadget, pola asuh yang tepat, serta pentingnya stimulasi dini bagi anak. Fuad Baswarudin, Ketua KKM 2 Parivartaka, mengungkapkan rasa syukurnya atas suksesnya acara ini. Di akhir acara, Bapak Sulhan, Kepala Sekolah SD Negeri 2 Belung, turut memberikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKM dalam mengadakan kegiatan edukatif ini. Outbound edukatif ini merupakan bagian dari komitmen KKM 2 Parivartaka dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dan pendidikan anak semakin meningkat. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam pembangunan sosial, khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedesaan. Dengan keberhasilan acara ini, KKM 2 Parivartaka berencana untuk terus berinovasi dalam menghadirkan program-program edukatif lainnya yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Thumbnail
1 year ago
UIN Malang Mengabdi : Membangun Generasi Muda Berkualitas Melalui Pendidikan Dan Pencegahan Pergaulan Bebas

NABILA EKA AMELIA

Pujon, 23 Januari 2025 -- KKM UIN Malang sukses menggelar Seminar Pendidikan di SMPN 2 Pujon yang berjudul "Terus Melangkah Bersama, Raih Cita-Cita Melalui Pendidikan". Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan kepada generasi muda tentang pentingnya pendidikan dan cara mencegah dampak negatif pergaulan bebas. Seminar ini menghadirkan pemateri inspiratif yang kompeten dibidangnya yaitu Norma Hasanatul Maghfiroh, S.Psi., C.PS, dan dipandu oleh moderator Muh. Asrul Yatimi. Acara dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh Salsabila Nuraulia, diikuti dengan menyanyikan lagu "Indonesia Raya". Setelah itu, sambutan disampaikan oleh Ketua KKM kelompok 33, M. Almisky Fachru, dan Ibu Andria Ita Kurniati sebagai perwakilan dari SMPN 2 Pujon. Selanjutnya, doa bersama dipimpin oleh Fajar Ali Hasan sebelum acara memasuki inti seminar. Tema utama yang dibahas adalah pentingnya pendidikan sebagai fondasi untuk mencapai cita-cita, pengembangan diri melalui teknologi, serta cara mencegah dampak buruk pergaulan bebas. Dalam pemaparan materi, pemateri menekankan bahwa pendidikan berkualitas membantu generasi muda meraih cita-cita, melindungi masa depan, dan memberikan kehidupan yang bermakna. Pemateri juga membahas konsep passion x paksaan, di mana pendidikan awal sering kali memerlukan dorongan agar generasi muda dapat menemukan potensi dan minat mereka. Lebih lanjut, pemateri menjelaskan bahwa pergaulan bebas adalah perilaku menyimpang yang sering terjadi akibat kurangnya pengetahuan, dengan dampak serius seperti masalah kesehatan, kerugian pendidikan, gangguan emosional, dan kehilangan dukungan sosial. Untuk mencegahnya, pemateri mengajak peserta meningkatkan pemahaman moral, memilih teman yang positif, dan aktif dalam kegiatan bermanfaat. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif dengan pertanyaan seputar cara menghadapi lingkungan yang tidak mendukung, pengalaman pribadi pemateri saat kuliah, dan dampak pergaulan bebas terhadap kehidupan remaja. Seminar diakhiri dengan pembagian doorprize menarik kepada peserta dan penutupan oleh moderator. Acara ini memberikan dampak positif dan motivasi kuat kepada para siswa untuk memprioritaskan pendidikan dan menjaga moral mereka. Sebagai penutup, pemateri menyampaikan pesan inspiratif: "Pendidikan adalah lentera yang menuntun langkah muda, moral adalah perisai yang menjaga jiwa dari gelap dunia. Pergaulan bebas adalah duri di jalan harapan, namun kasih dan ilmu menyembuhkan segalanya. Mari menjadi generasi berkualitas, pelita terang yang tak pernah bias." Seminar ini menjadi bukti nyata pentingnya sinergi antara pendidikan dan karakter untuk membangun generasi muda yang unggul dan berkualitas.

Thumbnail
1 year ago
Kesenian Bantengan Dalam Upaya Menghidupkan Tradisi Leluhur

ATIK SAYYIDATUL ISLAMIYAH

Pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024, Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menjadi saksi dari pelaksanaan acara kesenian tradisional Bantengan yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Acara ini dimulai pada pukul 21.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 03.00 WIB, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pertunjukan ini. Kesenian Bantengan merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang. Dalam pertunjukan ini, seniman lokal menampilkan atraksi tradisional yang menggambarkan keberanian, spiritualitas, dan harmoni antara manusia dan alam. Setiap atraksi diiringi oleh musik tradisional gamelan yang semakin memperkuat suasana sakral dan estetika pertunjukan.Kesenian Bantengan memiliki akar sejarah yang dalam, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari. Pada masa itu, kesenian ini berfungsi religius dan digunakan dalam upacara-upacara tertentu serta ritual adat. Selama masa kolonial Belanda, kesenian ini mulai berkembang dengan adanya tokoh seperti Mbah Siran yang menciptakan topeng bantengan dari tanduk banteng. Kini, Bantengan telah menyebar luas ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Malang, Batu, Lumajang, Kediri, dan Pasuruan. Pertunjukan Bantengan melibatkan dua orang pemain yang mengenakan kostum banteng besar lengkap dengan hiasan kepala tanduk. Mereka diiringi oleh kelompok musik tradisional yang memainkan alat-alat seperti kendang, gong, dan saron. Setiap pertunjukan biasanya diawali dengan ritual atau doa untuk memohon perlindungan dari roh jahat dan agar para pemain diberkati.   Pementasan Bantengan terdiri dari tiga tahap utama: ritual nyuguh atau sandingan, pementasan (karak'an) hingga kesurupan (ndadi), dan nyuwuk yang merupakan proses memulangkan arwah leluhur ke tempat asalnya. Melalui tahapan-tahapan ini, penonton tidak hanya disuguhkan hiburan tetapi juga diajak untuk merenungkan makna yang terkandung dalam setiap gerakan dan lagu yang dinyanyikan. Kesenian Bantengan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya. Dalam setiap pertunjukannya, Bantengan menyampaikan pesan moral tentang persatuan, keberanian, serta pengorbanan untuk kepentingan bersama.Acara ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Selain sebagai hiburan malam hari, kesenian Bantengan juga menjadi wadah bagi warga untuk berkumpul dan menjalin silaturahmi. Masyarakat merasa bangga dapat menyaksikan pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur budaya mereka sendiri.    Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal dan menghargai budaya lokal mereka serta memahami pentingnya menjaga warisan tersebut agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.Dengan demikian, acara kesenian Bantengan di Desa Ngadirejo bukan hanya sekadar pertunjukan seni tetapi juga merupakan upaya kolektif masyarakat untuk menjaga identitas budaya mereka dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Dokumentasi resmi dari kegiatan ini akan menjadi dasar dalam pelaporan kegiatan serta upaya pelestarian budaya di masa mendatang. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin agar kesenian tradisional seperti Bantengan tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.        

Thumbnail
1 year ago
Eksplorasi unggulan desa Gunungjati : Susu dan yogurt asli GunungJati Kecamatan Jabung

IMAM JAPAR SODIK

Eksplorasi Potensi Unggulan Desa Gunungjati: Susu dan Yogurt Asli Jabung   Gunungjati, Jabung – Kelompok 20 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tengah melaksanakan program KKM di Desa Gunungjati, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Dalam rangka menggali potensi lokal, kelompok ini melakukan kunjungan ke peternakan sapi perah milik warga setempat yang menjadi sumber utama produksi susu segar dan yogurt asli Jabung, produk unggulan yang telah dipasarkan. Kunjungan ini memberikan banyak wawasan mengenai pengelolaan sapi perah. Para mahasiswa mendapatkan informasi langsung dari pemilik sapi mengenai proses pemeliharaan hingga produksi susu. Setiap sapi perah diperah sebanyak dua kali sehari, dengan hasil produksi yang cukup mengesankan satu ekor sapi mampu menghasilkan hingga 15 liter susu per hari.   Namun, terdapat fakta menarik yang ditemukan selama kunjungan tersebut. Saat sapi memasuki masa kehamilan, terutama mendekati waktu melahirkan, produksi susu menurun drastis. Hal ini disebabkan oleh perubahan fisiologis pada sapi yang membuat hasil perahan tidak optimal. Selain itu, beberapa sapi di peternakan tersebut memiliki usia cukup panjang, yaitu mencapai 6 hingga 7 tahun. Susu segar hasil perahan ini tidak hanya dikonsumsi langsung oleh masyarakat, tetapi juga dikirim ke Koperasi Unit Desa (KUD) untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk olahan, termasuk yogurt yang kini menjadi salah satu ikon produk unggulan Desa Jabung. Produk-produk ini telah merambah pasar yang lebih luas dan bisa ditemukan di swalayan seperti "Jab Mart".   Melalui kegiatan ini, kelompok 20 KKM UIN Malang tidak hanya belajar tentang potensi ekonomi lokal tetapi juga menyadari pentingnya peran peternakan sapi perah dalam mendukung perekonomian desa. Harapannya, kunjungan ini tidak hanya memberikan edukasi bagi mahasiswa, tetapi juga mendorong masyarakat desa untuk terus mengembangkan inovasi dalam pengelolaan peternakan sapi perah. Dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam pengelolaan susu, produk unggulan dari Desa Gunungjati berpotensi menjadi salah satu produk susu berkualitas yang dikenal luas di Kabupaten Malang.