Thumbnail
1 year ago
Arunika Dharma KKM 39 UIN Maliki Malang

AHMAD ZAIDAN AVEROUZ

https://www.kompasiana.com/musaalkadzim0485

Thumbnail
1 year ago
Menghidupkan Kembali Semangat Gotong Royong di Era Modern

MUHAMMAD RIZQI DIANA PUTRA

Partisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat menjadi salah satu wujud nyata dari penerapan nilai-nilai pendidikan karakter, terutama bagi mahasiswa yang tergabung dalam Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Kegiatan ini tidak hanya bertujuan membantu masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan sosial antara mahasiswa dan warga. Salah satu contoh implementasi partisipasi ini terlihat dari aksi KKM Kelompok 65 Adhikari Dwidasa di Desa Plandi, Dusun Selobekiti. Mereka turut andil dalam kerja bakti membangun aula pondok. Hal ini merupakan sebuah inisiatif penting yang tidak hanya memiliki fungsi fisik tetapi juga nilai strategis bagi perkembangan masyarakat setempat. Aula pondok di Dusun Selobekiti dirancang sebagai fasilitas serbaguna yang akan menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan. Kehadiran mahasiswa KKM sebagai mitra pembangunan menunjukkan bagaimana akademisi muda mampu menjadi motor penggerak pembangunan dusun yang berkelanjutan. Dalam kerja bakti membangun aula pondok di Dusun Selobekiti, Desa Plandi, mereka tidak hanya menunjukkan semangat kolaborasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ilmu dan sumber daya dari perguruan tinggi dapat memberikan dampak positif bagi komunitas lokal. Hal ini sejalan dengan tren positif keterlibatan mahasiswa terhadap masyarakat setempat. Keterlibatan seperti ini sangat penting, terutama dalam membangun koneksi antara dunia akademik dan komunitas lokal. Tidak hanya membawa dampak langsung berupa pembangunan fisik, tetapi juga memberikan pembelajaran sosial kepada mahasiswa tentang nilai kebersamaan dan pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa KKM juga membawa semangat inovasi, keterampilan, dan energi yang memberikan manfaat nyata bagi dusun. Kegiatan kerja bakti membangun aula pondok di Dusun Selobekiti yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) 65 Adhikari Dwidasa adalah contoh nyata tentang bagaimana kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat lokal yang dapat menciptakan dampak positif yang signifikan. Pembangunan aula ini bukan hanya soal menciptakan infrastruktur fisik, tetapi juga tentang membangun hubungan sosial, berbagi nilai, dan menciptakan solusi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat. Dusun Selobekiti, seperti banyak wilayah pedesaan lainnya, menghadapi keterbatasan dalam hal akses terhadap fasilitas publik. Aula pondok ini akan menjadi tempat berkumpul yang multifungsi, memungkinkan masyarakat untuk mengadakan berbagai kegiatan seperti pertemuan desa, pelatihan keterampilan, hingga acara keagamaan. Keberadaan aula ini diharapkan dapat menjadi pusat peradaban kecil yang memperkuat interaksi sosial di tingkat lokal. Kegiatan kerja bakti yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) 65 Adhikari Dwidasa di Dusun Selobekiti, Desa Plandi, adalah sebuah contoh nyata dari kolaborasi yang memberikan dampak berkelanjutan. Pembangunan aula pondok ini bukan hanya tentang hasil akhir berupa infrastruktur, tetapi juga tentang proses yang melibatkan banyak pihak, dari mahasiswa hingga masyarakat setempat. Gotong royong yang menjadi inti dari kegiatan ini telah membuktikan bahwa semangat kebersamaan tetap relevan dan mampu menjawab berbagai tantangan zaman. Mahasiswa yang terlibat tidak hanya menjalankan tugas akademik, tetapi juga meninggalkan jejak sosial yang signifikan. Mereka belajar untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya berorientasi pada prestasi individu, tetapi juga mampu membangun harmoni dalam komunitas. Bagi masyarakat, kolaborasi ini memberikan harapan baru dan inspirasi untuk terus bekerja sama demi kemajuan bersama.

Thumbnail
1 year ago
Mengangkat Pekerja Kreatif Lokal Selobekiti: Harapan Baru dari Adhikari Dwidasa

MUHAMMAD WAFIUDIN ROSYAD

Selobekiti, sebuah dusun kecil dengan potensi besar pada kerajinan anyaman bambu, kini menjadi sorotan berkat upaya Adhikari Dwidasa yang berkomitmen mengangkat nama para pekerja kreatif lokal. Dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, para pengrajin di desa ini menawarkan berbagai produk unik berbasis kearifan lokal yang khas. Pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 4 dan 5 Januari 2025, Adhikari Dwidasa berkesampatan untuk mengunjungi dua pengrajin lokal yang terkenal dan telah sukses di pasaran, bu Malika dan pak Win. Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak untuk melihat langsung proses produksi kerajinan bambu, berbagi ilmu dan tips, serta berdiskusi dengan para pengrajin mengenai tantangan dan peluang bisnis yang ada. Bu Malika merupakan salah satu pengrajin senior yang telah meneruskan usaha kerajinan ini selama beberapa keturunan. Beliau memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan bambu, seperti tempe, tedok, piring, topi, dan kipas. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan metode tradisional. Bahan baku utama kerajinan Bu Malika adalah bambu jenis pring apus yang dibeli dari Jatisari, Kecamatan Ngajum, dengan kisaran harga Rp15.000 per batang. Dari satu batang bambu, dapat dihasilkan 30-40 produk kerajinan. Pembuatan kerajinan bambu dilakukan dalam berbagai tahapan seperti pemotongan bambu, pemotongan, penghalusan, pengeringan, penganyaman, dan yang terakhir finishing. Untuk pembuatan 1 kerajinan tangan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis kerajinan tangan yang diproduksi. Sementara itu, untuk proses pengeringan sendiri memerlukan waktu selama satu hari saat cuaca cerah, namun jika hujan, pengeringan dilakukan dengan memanggang. Produk Bu Malika sering menjadi favorit pelanggan terutama tempe, tedok, dan capil. Selain itu, ia kerap mengikuti lomba kerajinan dan pernah meraih juara pertama tingkat kabupaten. Untuk saat ini, bu Malika hanya memanfaatkan pemasaran secara offline dan dipromosikan dari mulut ke mulut. “Kami memasarkan produk secara langsung ke berbagai daerah, seperti ke pesarean Gunung Kawi, Malang, Cirebon, hingga Kalimantan.”, ujarnya. “Banyak pelanggan datang langsung ke sini,” ujar Bu Malika. Dengan produk yang dihargai antara tiga ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah, bu Malika bisa mencapai omset hingga empat juta rupiah per bulannya. Sementara itu, pengrajin kedua, Pak Win, merupakan salah satu pengrajin yang cukup sukses dan terkenal di dusun Selobekiti. Beliau memulai usahanya pada tahun 2021 yang mana, beliau hanya memfokuskan usaha kerajinan tangan pada pembuatan besek. Berbeda dengan Bu Malika, Pak Win memanfaatkan platform digital, yaitu Shopee yang telah dirintisnya selama kurang lebih tiga tahun, untuk memasarkan produknya. Dengan akun bernama abidzar083, toko onlinenya telah meraih rating 4.7 dari para pelanggannya. Ia telah mengembangkan sistem penjualan berbasis pre-order karena kerajinan besek cukup rentan jika diamkan dalam waktu yang lama. “Minimal pembelian empat produk dan maksimal dua puluh produk per pesanan. Penjualan kami meningkat terutama dalam dua tahun terakhir,” jelas Pak Win. Besek produksi Pak Win dapat dipesan dengan berbagai ukuran dan warna sesuai permintaan pelanggan. Proses pembuatan kerajinan besek pak Win juga memiliki langkah yang hampir sama dengan kerjinan bu Malika. Hanya saja, sebelum tahap finishing, terdapat tahap pewarnaan pada produk apa pun. Proses pewarnaan ini dilakukan dengan mencelupkan produk secara menyeluruh ke dalam panci yang berisi air panas dan telah dicampur dengan pewarna Wantex. Jenis pewarnaan ini aman digunakan untuk menjamin makanan sudah benar-benar kering. Proses pengeringan pada pewarnaan itu sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 jam di musim panas, namun saat musim hujan memakan waktu hingga dua hari. Untuk memenuhi pesanan yang masuk, pak Win juga bekerja sama dengan pengrajin lain, seperti Ibu Ida dengan pembagian keuntungan dengan perhitungan persen yang telah ditentukan oleh pak Win. Selama usaha ini berjalan, Pak Win telah melayani beberapa klien besar, seperti Ms. Glow dan Djoragan 99, bahkan produknya dikirim hingga ke Luar Kota seperti Jakarta, Lumajang, dan Nganjuk. Beliau juga telah melayani bebrapa konsumen luar negeri dari Selangor, Malaysia. Dengan harga besek yang dipatok mulai lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah, beliau pernah mencapai omset sebesar Rp9 juta per tahun, dengan sistem pembagian keuntungan berdasarkan tahap produksi: 40% untuk produk yang masih perlu pembersihan serabut dan 25% untuk produk yang sudah bersih. Upaya Adhikari Dwidasa untuk mempromosikan kerajinan lokal Selobekiti berhasil membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin. Dengan kombinasi pemasaran tradisional dan digital, produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kami ingin produk Selobekiti dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan semangat inovasi, kami yakin dusun ini dapat menjadi pusat kerajinan yang mendunia,” ujar ketua Adhikari Dwidasa, Rizqi Diana Putra.

Thumbnail
1 year ago
Arunika Dharma KKM 39 UIN Maliki Malang

M. EKYAS RASIKH ZUBAIER

https://www.kompasiana.com/musaalkadzim0485

Thumbnail
1 year ago
Kolaborasi Masyarakat Sumbertempur dan Kelompok KKM 69 UIN Malang Sukseskan Peringatan Hari Ibu

ARDIANI TRI KARUNIAWATI

Sumbertempur, 22 Desember 2024 -- Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 69 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengikuti serangkaian kegiatan dalam Peringatan Hari Ibu di Desa Sumbertempur. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa beserta keluarganya, ibu-ibu PKK dan anggota kelompok KKM. Kegiatan ini diadakan di lapangan voli Desa Sumbertempur dan Balai Desa. Kegiatan memperingati Hari ibu diselenggarakan dengan kegiatan upacara pagi, tukar kado, serta sosialisasi parenting dan stunting.  Upacara pagi dalam rangka memperingati Hari Ibu merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah Desa Sumbertempur dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran perempuan. Sebelum kegiatan dimulai, dilaksanakan gladi bersih terlebih dahulu. Upacara Hari Ibu dimulai tepat pukul 09.00 WIB yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa, Bapak Edi Sucipto. Dalam sambutannya, harapan yang disampaikan oleh bapak Kepala Desa, yaitu "kedepannya untuk pelaksaan perayaan Hari Ibu lebih banyak lagi partisipasi dari masyarakat setempat ".  Selesainya upacara, kegiatan dilanjutkan dengan acara tukar kado bersama ibu-ibu PKK. Selain itu, ada hadiah dari Kepala Desa untuk peserta yang sangat bersemangat dalam sesi pembagian kado. Dalam kegiatan ini mahasiswa KKM turut berpartisipasi dan juga mendapatkan hadiah dari Kepala Desa. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antar masyarakat dengan anggota kelompok KKM. Selanjutnya, kegiatan dialihkan ke Aula pertemuan Balai Desa Sumbertempur untuk melangsungkan sosialisasi "Gizi Baik Pola Asuh Tepat Anak Hebat". Materi pertama bertajuk "stunting" disampaikan oleh Ibu Hudah Aslamah selaku Ketua Ibu PKK. Materi kedua bertajuk "Integrasi Parenting dalam Islam dan Budaya Jawa" disampaikan oleh Bapak Teguh Setyo budi, S.HI., M.H selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKM. Pemateri menyampaikan bahwa "parenting sudah ada sejak dahulu berdasarkan syari'at Islam melalui  ajaran tanggung jawab dan amanah, ajaran tauhid, adab dan akhlak, serta keseimbangan dunia dan akhirat". Selain itu, beliau juga menyampaikan "parenting Islam memiliki kesamaan dengan nilai-nilai budaya yang ada di Jawa".. Peringatan Hari Ibu di Desa Sumbertempur merupakan upaya pemerintah untuk menghargai peran ibu dalam keluarga dan secara umum dalam pembangunan desa. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwasannya peran seorang ibu mempengaruhi bagaimana individu berperilaku dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sosialisasi parenting dan stunting juga diharapkan bisa menjadi modal pengetahuan dan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.