Thumbnail
2 years ago
Parenting Qur’ani: Mencetak Generasi Cerdas Berlandaskan Al-Qur’an

MOHAMMAD KHARIS

 Dalam upaya menciptakan generasi Qur’ani yang cerdas dan berakhlak mulia, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 67 menggelar kegiatan Kajian dan Sosialisasi Parenting Qur’ani. Acara ini dilaksanakan di Musholla Yayasan Nurul Muttaqin, Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, pada Sabtu (11/01). Kegiatan yang bertema “Parenting Qur’ani sebagai Pedoman Mencerdaskan Generasi Qur’ani” ini dihadiri oleh 30 wali santri serta 25 santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Nurul Muttaqin. Acara berlangsung selama 40 menit untuk penyampaian materi dan 20 menit untuk diskusi interaktif.   Dipandu oleh Mohammad Kharis, mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Syariah, kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan kepada wali santri tentang pola asuh berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam pemaparannya, Mohammad Kharis menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak. Ia menyebutkan bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua sangat menentukan masa depan anak. “Bagaimana pola asuh yang diterapkan orang tua akan sangat menentukan masa depan anak. Al-Qur’an menegaskan bahwa anak adalah amanah sekaligus ujian yang perlu diarahkan dengan baik agar tumbuh menjadi pribadi yang baik,” ujarnya. Kharis juga mengutip Tafsir Al-Ibriz sebagai referensi dalam membahas parenting Qur’ani.   Dalam sosialisasi ini, beberapa metode pengasuhan Qur’ani turut diperkenalkan, di antaranya Qashas (Kisah) yang memberikan pelajaran melalui cerita-cerita inspiratif, Amtsal (Perumpamaan) yang menggunakan analogi untuk menanamkan nilai-nilai positif, Uswah (Keteladanan) yang memberikan contoh nyata untuk ditiru, Targhib wa At-Tarhib (Motivasi) yang memberikan dorongan dan peringatan secara seimbang, ’Addah (Pembiasaan) yang membiasakan anak melakukan kebaikan, serta Mauidzoh (Nasihat) yang memberikan arahan bijak berdasarkan agama. Selain itu, materi utama dalam parenting Qur’ani meliputi Aqidah, Ibadah, Akhlak, Aqliyah, dan Jasmani. Kelima aspek ini menjadi landasan penting dalam membentuk anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki jiwa Qur’ani yang kuat.   Kegiatan ini disambut antusias oleh para wali santri yang aktif bertanya dalam sesi diskusi, menunjukkan minat besar untuk menerapkan pola asuh sesuai nilai-nilai Islam. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Mohammad Kharis, sebagai simbol harapan terbentuknya generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi bangsa. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan baru bagi para orang tua, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membentuk generasi Qur’ani yang unggul di masa depan,” tutup Kharis.   Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 67 menunjukkan peran aktif mereka dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Mereka tidak hanya mengedukasi, tetapi juga menjadi penghubung antara nilai-nilai keislaman dan kehidupan sehari-hari. Dengan adanya program ini, diharapkan pola asuh Qur’ani dapat menjadi pedoman yang diterapkan secara berkesinambungan, sehingga generasi mendatang mampu menjadi penerus bangsa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Thumbnail
2 years ago
Dari Bambu Jadi Rezeki: Kisah Sukses Produksi Tusuk Sate Bu Puji

HILDIANA

Pada hari kamis, 9 januari 2025, Mahasiswa KKM Kelompok 7 Desa Karangnongko melakukan kunjungan ke salah satu UMKM yang ada di dusun Paras yaitu produksi tusuk sate. Rumah produksi tersebut merupakan milik sepasang suami istri, bernama Bu Puji. Rumah produksi ini telah berdiri sejak tahun 2014. Menurut penuturan Bu Puji, sebelum mulai meproduksi tusuk sate, awalnya mereka merupakan seorang pengrajin anyaman keranjang bambu. Akan tetapi karena minimnya peminat keranjang bambu, sekaligus mulai berkurangnya pengepul dan penjual keranjang bambu, akhirnya mereka beralih bisnis ke produksi tusuk sate. Rumah produksi tusuk sate milik Bu Puji dan suaminya ini merupakan rumah produksi yang menghasilkan bahan baku untuk tusuk sate bukan produk tusuk sate jadi yang dijual komersial. Hasil produksi tusuk sate mereka kirimkan ke pabrik-pabrik tusuk sate yang kemudian akan di finishing sekaligus di kemas oleh pabrik tersebut. Tusuk sate yang telah dikemas tersebut, kemudian akan di kirim ke berbagai daerah hingga luar jawa. Bu Puji menjelaskan bahwa proses dari pembuatan tusuk sate dimulai dengan membeli bambu yang telah di tebang dari tukang tebang bambu. Untuk bambu yang dipakai bisa dari berbagai jenis bambu, namun yang sering digunakan oleh beliau ialah jenis bambu petung. Sedangkan untuk usia bambu yang bagus ialah yang berusia 2 tahun ke atas karena serat bambunya kuat dan mudah untuk diolah. Ada sedikit tips dari beliau dalam memilih bambu yang bagus. Ciri ciri bambu yang bagus ialah seratnya berwarna merah tua, selain itu hindari menggunakan bambu yang ditanam dari daerah pemukiman, meskipun lebih lebat, tetapi kualitasnya buruk. Selain itu bambu yang tumbuh di dataran rendah atau dekat sungai juga meiliki kualitas yang buruk karena mengandung terlalu banyak air. Bambu yang bagus ialah bambu yang tumbuh di daerah yang jarang dijamah manusia serta berada di dataran tinggi. Ada alasan mengapa beliau lebih memilih untuk membeli bambu yang telah di tebang daripada menebang sendiri, pertimbangannya ialah jika membeli bambu yang telah ditebang stok bambu bisa stabil karena bambu dapat dipesan dan datang sesuai kebutuhan rumah produksi meskipun harganya lebih mahal. Sedangkan jika menebang pohon bambu sendiri memerlukan proses dan memakan waktu lebih lama lagi. Setelah bambu datang, bambu akan dipotong sesuai dari ruas bambu tersebut. Bambu kemudian akan dibelah menjadi 2 dan kemudian lanjut di irat, atau dibelah dengan ukuran lebih kecil. Selanjutnya potongan bambu akan di serut menggunakan mesin khusus, sehingga bambu terpotong tipis dengan ukuran yang sama dan sesuai dengan kebutuhan produksi tusuk sate. Untuk ukuran dari tusuk sate itu sendiri terdapat dua jenis, yaitu ukuran untuk tusuk sate ayam dan ukuran untuk tusuk sate kambing. Untuk ukuran tusuk sate ayam yaitu memiliki diameter sekitar 2-2,5m mili, dan panjangnya sekitar 30-40 cm. Sedangkan untuk ukuran tusuk sate kambing memilki diameter sekitar 3 mili dan panjang sekitar 40 cm keatas. Itulah bahan baku dari produksi tusuk sate. Selesai di serut, potongan bambu yang telah menjadi bahan baku tusuk sate tersebut kemudian akan dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven tergantung cuaca. Jika cuaca bagus maka cukup dijemur seharian, akan tetapi jika hujan proses pengeringan akan menggunakan oven khusus yang terbuat dari besi. Bambu yang telah kering akan disortir untuk memlih potongan bambu yang bagus. Usai di sortir, potongan bambu tipis yang telah menjadi bahan baku tusuk sate tersebut akan diikat dengan berat per ikatnya sekitar 5kg. Bambu kemudian siap untuk dikirim ke pabrik sebagai bahan baku tusuk sate. Di pabrik, bahan mentah tersebut akan di finishing dan di oven ulang serta diruncingkan. Selain itu juga akan di lapisi dengan lapisan khusus sehingga jadilah tusuk sate yang siap dikemas dan didistribusikan. Sekali kirim ke pabrik, rumah produksi tusuk sate milik Bu Puji ini bisa mengirimkan sekitar 1 kwintal tusuk sate. Biasanya pengiriman dilakukan 2-3 kali perminggu tergantung cuaca yang mempengaruhi jumlah hasil produksi. Ada hal menarik di rumah produksi tusuk sate milik Bu Puji ini, yaitu setiap bagian bambu yang digunakan untuk bahan dasarnya ini tidak ada yang terbuang sia-sia. Limbah sisa produksi biasanya diguanakan untuk bahan bakar proses pengovenan. Selain itu, limbah dari bambu tersebut juga di ambil oleh rumah produksi tahu sebagai bahan bakar pembuatan tahu. Hal ini tentu saja menjadikan hubungan timbal balik yang  baik, dimana rumah produksi tusuk sate jadi bersih dari limbah bambu, dan rumah produksi tahu mendapat bahan bakar untuk proses pembuatan tahu. Bu Puji juga menyampaikan tantangan dari produksi bahan tusuk sate ini diantaranya, yaitu yang paling utama ialah cuaca. Apabila musim hujan, produksi tidak bisa sebanyak saat musim kemarau, karena proses pengeringan menjadi lebih lama, juga bambu menjadi lebih rawan berjamur. Selain itu juga terkadang bambu tebangan yang dikirimkan tidak sesuai, seperti terlalu tua atau sudah bertunas. Akan tetapi dengan segala tantangan tersebut, bisa dikatakan produksi dan pendapatan mereka cukup stabil. Alasan kenapa tidak membuat tusuk sate jadi ialah modal yang diperlukan sangatlah besar. Alat alat yang dibutuhkan untuk membuat tusuk sate memiliki harga yang mahal, selain itu juga tenaga kerja yang dibutuhkan juga banyak. Sehingga bu Puji sudah cukup puas dan bersyukur dengan rumah produksi bahan baku tusuk sate yang beliau miliki ini. Bagi beliau, selama mau bekerja keras dan tak lupa bersyukur, setiap rintangan yang ada pasti dapat dilalui dengan baik. Harapan beliau tentu saja agar terus diberikan kelancaran rezeki oleh Allah SWT. sehingga bisa terus melajutkan bisnis produksi tusuk sate ini, sebagai salah satu UMKM di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo.

Thumbnail
2 years ago
"Pembukaan KKM UIN Malang Tahun 2025 di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang"

RUSTAZIM SAPUTRA

Lawang, Malang – Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang Tahun 2025 resmi dibuka pada Senin (23/12) di Aula Balai Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Acara ini merupakan bentuk implementasi keilmuan mahasiswa berupa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melatih dan membekali mahasiswa menerapkan ilmu, belajar memecahkan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, mengembangkan potensi masyarakat, dan mempunyai sikap keberpihakan kepada masyarakat kecil, lemah, atau terpinggirkan. Pembukaan KKM dilakukan secara serentak bersama seluruh kelompok KKM yang ada di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Acara pembukaan ini dihadiri oleh Kepala Desa Srigading, Bapak Hadori, S.E. beserta perangkat desa dan masing-masing dosen pembimbing lapangan dari tiga kelompok. Dalam sambutannya, Bapak Hadori, S.E. menyampaikan selamat datang kepada seluruh, mahasiswa peserta KKM di Desa Srigading serta memberikan apresiasi terhadap program KKM yang dilaksanakan di Desa Srigading, dan berharap dengan adanya kegiatan KKM ini dapat memberikan dampak positif bagi warga Desa Srigading. Acara pembukaan KKM berlangsung dengan meriah dan penuh semangat serta antusiasme dari masyarakat sekitar. Para mahasiswa KM siap untuk memulai pengabdian masyarakat di Desa Srigading selama 6 minggu kedepan.

Thumbnail
2 years ago

DIANAH SHOVIAH

Gunungjati, Jabung – Kelompok 20 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tengah melaksanakan program KKM di Desa Gunungjati, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Dalam rangka menggali potensi lokal, kelompok ini melakukan kunjungan ke peternakan sapi perah milik warga setempat yang menjadi sumber utama produksi susu segar dan yogurt asli Jabung, produk unggulan yang telah dipasarkan. Kunjungan ini memberikan banyak wawasan mengenai pengelolaan sapi perah. Para mahasiswa mendapatkan informasi langsung dari pemilik sapi mengenai proses pemeliharaan hingga produksi susu. Setiap sapi perah diperah sebanyak dua kali sehari, dengan hasil produksi yang cukup mengesankan satu ekor sapi mampu menghasilkan hingga 15 liter susu per hari. Namun, terdapat fakta menarik yang ditemukan selama kunjungan tersebut. Saat sapi memasuki masa kehamilan, terutama mendekati waktu melahirkan, produksi susu menurun drastis. Hal ini disebabkan oleh perubahan fisiologis pada sapi yang membuat hasil perahan tidak optimal. Selain itu, beberapa sapi di peternakan tersebut memiliki usia cukup panjang, yaitu mencapai 6 hingga 7 tahun. Susu segar hasil perahan ini tidak hanya dikonsumsi langsung oleh masyarakat, tetapi juga dikirim ke Koperasi Unit Desa (KUD) untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk olahan, termasuk yogurt yang kini menjadi salah satu ikon produk unggulan Desa Jabung. Produk-produk ini telah merambah pasar yang lebih luas dan bisa ditemukan di swalayan seperti "Jab Mart". Melalui kegiatan ini, kelompok 20 KKM UIN Malang tidak hanya belajar tentang potensi ekonomi lokal tetapi juga menyadari pentingnya peran peternakan sapi perah dalam mendukung perekonomian desa. Harapannya, kunjungan ini tidak hanya memberikan edukasi bagi mahasiswa, tetapi juga mendorong masyarakat desa untuk terus mengembangkan inovasi dalam pengelolaan peternakan sapi perah. Dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam pengelolaan susu, produk unggulan dari Desa Gunungjati berpotensi menjadi salah satu produk susu berkualitas yang dikenal luas di Kabupaten Malang.

Thumbnail
2 years ago
UMKM Jamu Beras Kencur Dua Putri: Minuman Segar Berkualitas yang Menyehatkan

M. RAMADHAN RAHMAT

Dusun Bakir - UMKM Jamu Beras Kencur Dua Putri, yang dirintis oleh Ibu Siti Aminah, terus berkembang pesat selama lima tahun terakhir. Dengan rasa segar dan bahan berkualitas, produk ini menjadi pilihan favorit masyarakat. Harganya yang terjangkau semakin menambah daya tariknya.  Produk jamu ini hadir dalam beberapa pilihan kemasan, yaitu:  - Plastik kecil dengan harga Rp. 500, - Cup dengan harga Rp 2.000, - Botol sedang seharga Rp 6.000, - Botol besar dengan harga Rp 15.000. Usaha ini juga telah mengantongi legalitas usaha yang lengkap, termasuk Nomor Izin Berusaha (NIB) dan izin Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT), meskipun sertifikasi halal masih dalam proses.  Belum lama ini, KKM UIN Malang dari kelompok Abhinaya Aradhana turut berkunjung untuk mempromosikan UMKM Jamu Beras Kencur Dua Putri. Dengan membantu membuatkan logo desain kemasan serta memberikan banner usaha sebagai bentuk memperluas pasar. Kegiatan tersebut memberikan dampak positif terhadap pengenalan produk, sekaligus membantu meningkatkan kepercayaan konsumen.  Jamu Beras Kencur Dua Putri juga melayani sistem pemesanan pre-order dan rutin mengirimkan stok ke beberapa warung di sekitar Dusun Bakir. Produk ini semakin dinikmati, terutama untuk acara tertentu seperti malam idulfitri.  "Kami berharap kontribusi yang kita berikan ini dapat menguatkan branding produk jamu tradisional Dua Putri milik Bu Aminah sehingga meningkatkan daya tarik konsumen," ucap Dhoni salah satu mahasiswa KKM UIN Malang di Kecamatan Bakir, Pujon. Dengan upaya yang terus berkembang, UMKM ini menunjukkan bahwa usaha kecil bisa menjadi bagian penting dalam mendukung perekonomian lokal. Bagi yang ingin mencicipi, jangan ragu untuk menghubungi Ibu Siti Aminah langsung di Dusun Bakir. 

Thumbnail
2 years ago
Peringatan Isra Mi'raj dan Hangatnya Penutupan KKM Anantaka 115 UIN Malang di Dusun Kembang

SYAFIYATUN NAJLA

Suasana hangat dan penuh berkah menyelimuti Dusun Kembang pada Peringatan Isra Mi'raj dan Penutupan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara yang digelar oleh Mahasiswa KKM berkolaborasi dengan Ta'mir Masjid Roudlotus Sholihin ini dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk perangkat desa, jajaran Ta'mir Masjid, mahasiswa KKM serta dosen pendamping lapangan turut hadir. Berlokasi di Masjid Roudlotus Sholihin Dusun Kembang, Desa Purwoasri, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, acara dimulai dengan lantunan maulid diba' oleh Majlis Diba' Kembang. Dilanjut dengan sambutan oleh ketua kelompok KKM Anantaka 115 yang menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Dusun Kembang atas penerimaan hangat serta dukungan selama pelaksanaan program KKM. Kepala desa yang diwakili oleh ketua RW setempat dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi dan kontribusi Mahasiswa KKM UIN Malang selama kurang lebih 40 hari di dusun Kembang. "Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa KKM UIN Malang atas dedikasi dan kontribusinya selama berada di Dusun Kembang. Kehadiran kalian tidak hanya membawa semangat baru dalam pendampingan belajar bagi anak-anak kami, tetapi juga memberikan banyak manfaat melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Partisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat telah meninggalkan kesan mendalam bagi kami. Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat menjadi bekal berharga untuk masa depan, dan silaturahmi ini tetap terjalin meski program KKM telah usai," ujarnya. Momentum utama dalam acara yang digelar Sabtu (25/1) adalah ceramah keagamaan oleh Ustadz M. Abdullah Charis, M.Pd., dosen pendamping lapangan KKM Anantaka 115 UIN Malang. Mengupas hikmah dibalik perjalanan Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW, yang tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi tentang hubungan manusia dengan manusia.  "Peristiwa Isra' Mi'raj mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Ketika Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu, beliau melaksanakannya secara berjamaah bersama para nabi terdahulu, yang berasal dari berbagai kaum dan zaman yang berbeda. Ini menjadi simbol bahwa Islam mengajarkan persatuan di atas keberagaman," katanya. Selain itu, beliau juga menyampaikan apresiasi kepada warga Dusun Kembang yang telah menerima mahasiswa KKM dengan baik. Tak lupa, beliau memohon maaf jika selama pelaksanaan KKM masih terdapat kekurangan, mengingat mahasiswa masih dalam tahap belajar. Sebagai bentuk kenang-kenangan dan penghargaan atas kerja sama yang telah terjalin, sesi pemberian cinderamata pun menjadi penutup acara. Mahasiswa KKN menyerahkan cinderamata kepada pihak dusun sebagai tanda terima kasih, begitu pula pihak dusun memberikan kenang-kenangan kepada mahasiswa KKM sebagai wujud apresiasi dan ikatan kebersamaan yang telah terbentuk.