NAVYSHA ZAHRA AUGUST BINTAN RIADI
Tradisi kenduri desa "Sedekah Bumi" kembali digelar oleh warga Desa Sumbersari, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, pada Jumat, 9 Januari 2026, mulai pukul 06.30 pagi di area DAM yang berada di dekat lahan persawahan warga. Kegiatan ini menghadirkan masyarakat dalam suasana kebersamaan untuk merayakan wujud syukur atas keberkahan desa. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa, Camat Udanawu, Babinsa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa, serta masyarakat Sumbersari yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Pembukaan acara ditandai dengan penampilan kesenian tradisional, berupa karawitan dan suara sinden, sebagai bentuk pelestarian budaya lokal dan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Setelah itu, sambutan diberikan secara berurutan oleh Pak Purnomo selaku Ketua Gabungan Kelompok Tani, kemudian Kepala Desa Sumbersari, disusul Camat Udanawu yang menegaskan bahwa kegiatan seperti ini menjadi wujud nyata rasa syukur dan upaya merawat budaya lokal, dan terakhir dari perwakilan Mantri Kecamatan Udanawu. Agenda berikutnya adalah pembacaan doa oleh Pak Sudin yang dipanjatkan untuk keberkahan desa, kemudian pesan singkat dari sesepuh sedekah desa sebagai bentuk hikmah dan petuah bagi masyarakat. Acara ditutup dengan santap bersama, yang menjadi simbol eratnya hubungan antarwarga serta memperkuat nilai kebersamaan dan gotong royong yang telah lama menjadi karakter masyarakat Sumbersari. Melalui kegiatan ini, tradisi, doa, dan kekeluargaan semakin mengakar dalam kehidupan sosial desa.
ZAHROTUL FIRDAUS
Suasana penuh warna dan keceriaan menghemat ruang kelas saat berlangsungnya kegiatan lomba mewarnai tingkat TK. Puluhan anak tampak antusias duduk rapi di meja kecil masing-masing, sambil memegang krayon dan pensil warna favorit mereka. Sejak awal acara, senyum polos dan semangat belajar sudah terlihat jelas di wajah para peserta. Lomba mewarnai ini diselenggarakan sebagai wadah untuk menumbuhkan kreativitas, melatih motorik halus, serta meningkatkan rasa percaya diri anak sejak usia dini. Dengan tema gambar yang ceria dan ramah anak, para peserta bebas mengekspresikan imajinasi mereka melalui perpaduan warna yang unik dan beragam. Selama kegiatan berlangsung, anak-anak tampak begitu fokus menyelesaikan gambar masing-masing. Ada yang mewarnai dengan cermat, ada pula yang berani memadukan warna cerah sesuai imajinasinya. Meski masih kecil, semangat kompetisi sehat sudah terlihat, namun tetap diiringi tawa dan kebersamaan. Tak hanya anak-anak, para guru dan pendamping juga ikut aktif memberikan motivasi serta dukungan. Mereka dengan sabar membimbing peserta agar tetap semangat dan nyaman selama lomba berlangsung. Kehadiran orang tua yang menyaksikan dari suasana pun menambah hangatnya suasana acara. Selain melatih kreativitas, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran sosial bagi anak-anak. Mereka belajar berbagi alat warna, menunggu giliran, serta menghargai hasil karya teman-temannya. Nilai kebersamaan inilah yang menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Di akhir lomba, panitia memberikan penghargaan kepada seluruh peserta. Tidak hanya pemenang yang mendapat penghargaan, tetapi semua anak memperoleh hadiah kecil sebagai bentuk motivasi. Hal ini bertujuan agar setiap peserta merasa dihargai dan bangga atas usaha mereka. Kegiatan lomba mewarnai TK ini menjadi momen berharga yang tak hanya menghadirkan keseruan, tetapi juga pengalaman belajar yang menyenangkan. Anak-anak pulang membawa karya mereka sendiri, lengkap dengan cerita bahagia hari itu.
REGA HADI KUSUMA
Dalisodo, Wagir- Posyandu masih memegang peran penting sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat dusun, khususnya bagi lansia dan balita. Melalui Posyandu, pemantauan kesehatan dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Berangkat dari kesadaran tersebut, mahasiswa KKM 55 UIN Malang turut serta melakukan pendampingan Posyandu sekaligus sosialisasi pencegahan stunting di Dusun Precet sebagai bentuk kontribusi nyata dalam penguatan kesehatan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan pada [Sabtu, 10/01] bertempat di Dusun Precet, dengan melibatkan kader Posyandu, tenaga kesehatan, serta masyarakat setempat. Sejak pagi hari, mahasiswa KKM 55 hadir mendampingi jalannya kegiatan Posyandu, mulai dari persiapan tempat, pendataan peserta, hingga membantu proses pelayanan kesehatan bagi lansia dan balita. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa turut membantu penimbangan balita, pencatatan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta pendampingan lansia dalam pemeriksaan kesehatan rutin. Selain itu, mahasiswa KKM 55 juga melakukan sosialisasi mengenai stunting kepada orang tua balita dan masyarakat dengan mendatangkan pemateri dari UIN Malang. Sosialisasi ini menekankan pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang tepat, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini. Pendampingan Posyandu dan sosialisasi stunting ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan sejak usia dini hingga lanjut usia. Kegiatan ini juga memperkuat peran Posyandu tidak hanya sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang edukasi bagi masyarakat dalam membangun keluarga yang sehat dan berkualitas. Bagi mahasiswa KKM 55 UIN Malang, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam memahami langsung kondisi kesehatan masyarakat di tingkat dusun. Interaksi dengan kader Posyandu, lansia, dan orang tua balita memberikan pembelajaran sosial yang penting tentang peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Dengan terlaksananya kegiatan ini, mahasiswa KKM 55 UIN Malang bersama kader Posyandu dan masyarakat Dusun Precet telah menunjukkan bahwa penguatan kesehatan lansia dan balita dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dilakukan secara kolaboratif. Dari Posyandu menuju pencegahan stunting, upaya ini diharapkan mampu memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi kualitas kesehatan masyarakat Dusun Precet.
FIQHAN DALLA
Upaya pengenalan konsep pertanian sederhana di lingkungan masyarakat menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan dalam rangka Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Dalam konteks tersebut, mahasiswa KKM 249 Citteswara melaksanakan kegiatan penyemaian umbi bawang merah menggunakan sistem wick sebagai bagian dari pendekatan urban integrated farming. Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah awal pengenalan metode tanam alternatif yang dapat diterapkan secara sederhana dan bertahap. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian program KKM yang berlangsung di Desa Ngenep. Lingkungan sekitar desa didominasi oleh aktivitas pertanian konvensional seperti penanaman padi dan jagung. Oleh karena itu, penyemaian bawang merah dengan sistem wick dipilih sebagai bentuk pengenalan awal terhadap metode budidaya yang berbeda, tanpa bermaksud menggantikan pola pertanian yang sudah ada. Pendekatan ini lebih diarahkan sebagai percobaan awal sekaligus sarana pembelajaran. Sistem wick yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari metode hidroponik sederhana. Metode ini dipilih karena relatif praktis dan mudah diterapkan, khususnya sebagai tahap awal dalam kegiatan pengenalan budidaya tanaman. Sistem wick bekerja dengan memanfaatkan sumbu untuk menyalurkan air dari sumber air menuju media tanam, sehingga tanaman dapat memperoleh kebutuhan air secara bertahap. Wadah yang digunakan dalam penyemaian ini adalah polybag, dengan susunan media tanam yang dibagi ke dalam beberapa lapisan. Lapisan pertama merupakan wick zone dengan ketebalan sekitar 2--3 cm, yang terdiri dari kain flanel dan kerikil. Lapisan ini berfungsi sebagai penarik air dari kolam atau sumber air menuju media tanam di atasnya. Lapisan kedua adalah zona distribusi air dengan ketebalan sekitar 3--4 cm, menggunakan campuran arang sekam dan pasir kasar. Lapisan ini berfungsi untuk menyebarkan air yang ditarik oleh wick agar dapat merata ke bagian atas media. Selanjutnya, lapisan ketiga merupakan zona akar aktif dengan ketebalan sekitar 6--8 cm, menggunakan campuran tanah remah, kompos, dan sekam dengan perbandingan 2:1:1. Lapisan ini menjadi area utama bagi perkembangan akar tanaman. Di atasnya terdapat lapisan transisi dengan ketebalan kurang lebih 1 cm yang menggunakan pasir Malang murni atau kerikil. Penggunaan pasir Malang disesuaikan dengan kondisi lokasi KKM yang berada di wilayah Karangploso, Malang. Lapisan ini berfungsi sebagai pemisah antara zona akar dan zona umbi. Lapisan terakhir adalah zona umbi dengan ketebalan sekitar 7--10 cm, yang terdiri dari campuran 50--60% pasir Malang atau kerikil, 30--40% sekam bakar, dan 0--10% pasir kasar biasa. Penyemaian bawang merah dalam sistem ini masih berada pada tahap awal pembuatan media dan penanaman umbi. Kegiatan ini belum difokuskan pada pengamatan pertumbuhan atau hasil akhir tanaman. Kegiatan difokuskan pada tahap persiapan dan penyemaian awal. Dengan demikian, belum diperlukan penanganan khusus terhadap permasalahan teknis di lapangan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 249 Citteswara memperoleh pengalaman dalam merancang sistem tanam sederhana yang dapat diaplikasikan di lingkungan dengan keterbatasan lahan. Pendekatan urban integrated farming melalui sistem wick ini diharapkan dapat menjadi langkah awal pengenalan metode budidaya alternatif, khususnya sebagai media pembelajaran dan pengembangan ide pertanian sederhana di tingkat masyarakat.
WIDYA DWI LESTARI
(23/01/2026) Dalam rangka menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini, KKM 36 Ardhacitta UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan Tadabur Alam di wilayah Belung Utara pada minggu ketiga Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak peserta bimbingan belajar dan dilaksanakan sebagai bentuk pembelajaran luar ruang yang edukatif dan menyenangkan. Tadabur Alam dirancang sebagai media belajar langsung dari lingkungan sekitar. Anak-anak diajak menyusuri beberapa titik di kampung, seperti area persawahan, aliran sungai, serta salah satu situs bersejarah desa yaitu Bok Pendem. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKM mendampingi anak-anak untuk mengamati kondisi lingkungan sekaligus memberikan penjelasan sederhana mengenai pentingnya menjaga kebersihan serta kelestarian alam. Dalam perjalanan tersebut, anak-anak juga diajak berdiskusi ringan mengenai kebiasaan sehari-hari yang berdampak pada lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan atau menjaga kebersihan saluran air. Diskusi dilakukan secara santai agar mudah dipahami, sekaligus mendorong anak-anak untuk berani menyampaikan pendapat dan pengamatan mereka. Selain mengenalkan aspek lingkungan, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah lokal melalui kunjungan ke Bok Pendem. Mahasiswa memberikan gambaran singkat mengenai nilai historis yang dimiliki desa, sehingga anak-anak tidak hanya mengenal alamnya, tetapi juga warisan budaya yang ada di sekitarnya. Suasana kegiatan berlangsung penuh antusiasme. Anak-anak terlihat aktif bertanya dan menikmati proses belajar di luar ruangan. Melalui pendekatan ini, pembelajaran terasa lebih kontekstual karena mereka dapat melihat langsung objek yang dibahas. Melalui program Tadabur Alam, KKM 36 Ardhacitta UIN Malang berharap anak-anak dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan tempat tinggalnya serta memiliki kesadaran untuk menjaga alam sejak usia dini. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menanamkan tanggung jawab bersama dalam merawat lingkungan dan mengenal potensi desa secara lebih dekat.
MUHAMMAD HAIQAL SYARIF
https://drive.google.com/drive/folders/1HP1trPzJlLbGDxMv7reDL4kGFf_2APyt