REZA KHOIRUL UMAM
Selobekiti, sebuah dusun kecil dengan potensi besar pada kerajinan anyaman bambu, kini menjadi sorotan berkat upaya Adhikari Dwidasa yang berkomitmen mengangkat nama para pekerja kreatif lokal. Dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, para pengrajin di desa ini menawarkan berbagai produk unik berbasis kearifan lokal yang khas. Pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 4 dan 5 Januari 2025, Adhikari Dwidasa berkesampatan untuk mengunjungi dua pengrajin lokal yang terkenal dan telah sukses di pasaran, bu Malika dan pak Win. Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak untuk melihat langsung proses produksi kerajinan bambu, berbagi ilmu dan tips, serta berdiskusi dengan para pengrajin mengenai tantangan dan peluang bisnis yang ada. Bu Malika merupakan salah satu pengrajin senior yang telah meneruskan usaha kerajinan ini selama beberapa keturunan. Beliau memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan bambu, seperti tempe, tedok, piring, topi, dan kipas. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan metode tradisional. Bahan baku utama kerajinan Bu Malika adalah bambu jenis pring apus yang dibeli dari Jatisari, Kecamatan Ngajum, dengan kisaran harga Rp15.000 per batang. Dari satu batang bambu, dapat dihasilkan 30-40 produk kerajinan. Pembuatan kerajinan bambu dilakukan dalam berbagai tahapan seperti pemotongan bambu, pemotongan, penghalusan, pengeringan, penganyaman, dan yang terakhir finishing. Untuk pembuatan 1 kerajinan tangan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis kerajinan tangan yang diproduksi. Sementara itu, untuk proses pengeringan sendiri memerlukan waktu selama satu hari saat cuaca cerah, namun jika hujan, pengeringan dilakukan dengan memanggang. Produk Bu Malika sering menjadi favorit pelanggan terutama tempe, tedok, dan capil. Selain itu, ia kerap mengikuti lomba kerajinan dan pernah meraih juara pertama tingkat kabupaten. Untuk saat ini, bu Malika hanya memanfaatkan pemasaran secara offline dan dipromosikan dari mulut ke mulut. “Kami memasarkan produk secara langsung ke berbagai daerah, seperti ke pesarean Gunung Kawi, Malang, Cirebon, hingga Kalimantan.”, ujarnya. “Banyak pelanggan datang langsung ke sini,” ujar Bu Malika. Dengan produk yang dihargai antara tiga ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah, bu Malika bisa mencapai omset hingga empat juta rupiah per bulannya. Sementara itu, pengrajin kedua, Pak Win, merupakan salah satu pengrajin yang cukup sukses dan terkenal di dusun Selobekiti. Beliau memulai usahanya pada tahun 2021 yang mana, beliau hanya memfokuskan usaha kerajinan tangan pada pembuatan besek. Berbeda dengan Bu Malika, Pak Win memanfaatkan platform digital, yaitu Shopee yang telah dirintisnya selama kurang lebih tiga tahun, untuk memasarkan produknya. Dengan akun bernama abidzar083, toko onlinenya telah meraih rating 4.7 dari para pelanggannya. Ia telah mengembangkan sistem penjualan berbasis pre-order karena kerajinan besek cukup rentan jika diamkan dalam waktu yang lama. “Minimal pembelian empat produk dan maksimal dua puluh produk per pesanan. Penjualan kami meningkat terutama dalam dua tahun terakhir,” jelas Pak Win. Besek produksi Pak Win dapat dipesan dengan berbagai ukuran dan warna sesuai permintaan pelanggan. Proses pembuatan kerajinan besek pak Win juga memiliki langkah yang hampir sama dengan kerjinan bu Malika. Hanya saja, sebelum tahap finishing, terdapat tahap pewarnaan pada produk apa pun. Proses pewarnaan ini dilakukan dengan mencelupkan produk secara menyeluruh ke dalam panci yang berisi air panas dan telah dicampur dengan pewarna Wantex. Jenis pewarnaan ini aman digunakan untuk menjamin makanan sudah benar-benar kering. Proses pengeringan pada pewarnaan itu sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 jam di musim panas, namun saat musim hujan memakan waktu hingga dua hari. Untuk memenuhi pesanan yang masuk, pak Win juga bekerja sama dengan pengrajin lain, seperti Ibu Ida dengan pembagian keuntungan dengan perhitungan persen yang telah ditentukan oleh pak Win. Selama usaha ini berjalan, Pak Win telah melayani beberapa klien besar, seperti Ms. Glow dan Djoragan 99, bahkan produknya dikirim hingga ke Luar Kota seperti Jakarta, Lumajang, dan Nganjuk. Beliau juga telah melayani bebrapa konsumen luar negeri dari Selangor, Malaysia. Dengan harga besek yang dipatok mulai lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah, beliau pernah mencapai omset sebesar Rp9 juta per tahun, dengan sistem pembagian keuntungan berdasarkan tahap produksi: 40% untuk produk yang masih perlu pembersihan serabut dan 25% untuk produk yang sudah bersih. Upaya Adhikari Dwidasa untuk mempromosikan kerajinan lokal Selobekiti berhasil membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin. Dengan kombinasi pemasaran tradisional dan digital, produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kami ingin produk Selobekiti dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan semangat inovasi, kami yakin dusun ini dapat menjadi pusat kerajinan yang mendunia,” ujar ketua Adhikari Dwidasa, Rizqi Diana Putra.
NAFIS `ALAUDDIN AHMAD
Kalipare, 30 Januari 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) "Ambil Peran" 125 resmi mengakhiri masa pengabdian mereka di Desa Kalipare setelah menjalani kegiatan selama 43 hari. Selama periode tersebut, mahasiswa telah berperan aktif dalam berbagai program kerja yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Berbagai bidang telah menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program kerja KKM ini. Dalam bidang pendidikan, mahasiswa melaksanakan kegiatan mengajar di SDN 1 Kalipare, mengadakan bimbingan belajar gratis untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, merevitalisasi perpustakaan desa, serta mengadakan sosialisasi pencegahan judi online. Di bidang keagamaan, mahasiswa turut serta dalam berbagai kegiatan, termasuk kajian moderasi beragama, mengajar di TPQ Bainturrohim, serta aktif mengikuti kegiatan keagamaan masyarakat seperti muslimatan, diba’an, dan tahlilan. Sementara itu, di bidang kesehatan, mahasiswa melaksanakan sosialisasi parenting dan pencegahan stunting serta berpartisipasi dalam kegiatan posyandu guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak.
ZULAIHA
Kalipare, 30 Januari 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) "Ambil Peran" 125 resmi mengakhiri masa pengabdian mereka di Desa Kalipare setelah menjalani kegiatan selama 43 hari. Selama periode tersebut, mahasiswa telah berperan aktif dalam berbagai program kerja yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Berbagai bidang telah menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program kerja KKM ini. Dalam bidang pendidikan, mahasiswa melaksanakan kegiatan mengajar di SDN 1 Kalipare, mengadakan bimbingan belajar gratis untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, merevitalisasi perpustakaan desa, serta mengadakan sosialisasi pencegahan judi online. Di bidang keagamaan, mahasiswa turut serta dalam berbagai kegiatan, termasuk kajian moderasi beragama, mengajar di TPQ Bainturrohim, serta aktif mengikuti kegiatan keagamaan masyarakat seperti muslimatan, diba’an, dan tahlilan. Sementara itu, di bidang kesehatan, mahasiswa melaksanakan sosialisasi parenting dan pencegahan stunting serta berpartisipasi dalam kegiatan posyandu guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak.
NADILA ZAHRO AMELIA
KKM UIN Malang 79, 149, dan 9 Desa Ngadireso sukses menggelar sosialisasi tentang pencegahan pernikahan usia dini dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) yang bertempat di Balai Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (18/1/2025). Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kepala Desa Ngadireso, Bapak Nur Salim, dosen pembimbing lapangan, serta Ketua PKK Desa Ngadireso, Ibu Ngatipah Nur Salim beserta pengurus dan anggotanya dan mendatangkan Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H., dosen Fakultas Syyariah UIN Malang dan Ketua Family Corner Fakultas Syariah sebagai pemaeri. Dukungan penuh dari seluruh elemen desa membuat kegiatan ini berjalan sukses dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Seminar tersebut bertujuan untuk menurunkan angka pernikahan dini dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Desa Ngadireso. Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi pertama oleh Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H., yang membahas mengenai bahaya pernikahan usia dini, yang masih marak di desa Ngadireso. Dr. H. Miftahul Huda, S.HI., M.H. memaparkan bahwa sebagai orang tua, harus memberikan dukungan penuh kepada anak-anak untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, serta menghindarkan mereka dari pernikahan dini yang dapat menghambat perkembangan mereka. Orang tua harus memastikan anak-anak mereka fokus pada pendidikan dan memperdalam ilmu agama agar anak terhindar dari hal yang tidak diinginkan dan tidak terjebak dalam komitmen pernikahan di usia muda yang berisiko. Beliau juga menekankan bahwa pernikahan pada usia muda berisiko bagi kesehatan fisik dan mental, serta menghambat perkembangan remaja, terutama perempuan, dalam mengakses pendidikan dan kesempatan hidup yang lebih baik. Beliau menegaskan bahwa pernikahan usia dini sering kali berdampak pada hilangnya kesempatan bagi para remaja untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan potensi diri, serta mengakses peluang-peluang yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka di masa depan. Tidak adanya pendidikan yang memadai, para remaja, khususnya perempuan, akan mengalami siklus kemiskinan dan ketergantungan ekonomi, serta menghambat perkembangan sosial dan ekonomi mereka. Setelah materi pernikahan dini, sesi kedua tentang PHBS disampaikan oleh dua mahasiswa KKM UIN Malang, Sulistiani dan Akfa Atiatur Rahma. Mereka mengedukasi pentingnya pola hidup sehat, seperti memilih makanan bergizi. Dalam presentasinya, mereka memaparkan perbandingan antara makanan yang bergizi dan makanan yang berisiko menyebabkan berbagai penyakit. Dengan kerjasama antara kelompok KKM dan ibu-ibu PKK, diharapkan acara ini memberi dampak positif, khususnya dalam mengurangi pernikahan dini dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Sosialisasi ini mendapat apresiasi dari ibu-ibu PKK yang hadir dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan.
USLUKI NAJIYA
Kalipare, 30 Januari 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) "Ambil Peran" 125 resmi mengakhiri masa pengabdian mereka di Desa Kalipare setelah menjalani kegiatan selama 43 hari. Selama periode tersebut, mahasiswa telah berperan aktif dalam berbagai program kerja yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Berbagai bidang telah menjadi fokus utama dalam pelaksanaan program kerja KKM ini. Dalam bidang pendidikan, mahasiswa melaksanakan kegiatan mengajar di SDN 1 Kalipare, mengadakan bimbingan belajar gratis untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika, merevitalisasi perpustakaan desa, serta mengadakan sosialisasi pencegahan judi online. Di bidang keagamaan, mahasiswa turut serta dalam berbagai kegiatan, termasuk kajian moderasi beragama, mengajar di TPQ Bainturrohim, serta aktif mengikuti kegiatan keagamaan masyarakat seperti muslimatan, diba’an, dan tahlilan. Sementara itu, di bidang kesehatan, mahasiswa melaksanakan sosialisasi parenting dan pencegahan stunting serta berpartisipasi dalam kegiatan posyandu guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan anak.
ADITYA RAMADHAN
Pada tanggal 19 Januari 2025, KKM Sidomulyo 165 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertajuk "Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah." Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah yang sering kali dibuang sembarangan. Kegiatan tersebut menyoroti cara mengubah minyak bekas menjadi produk bernilai ekonomi, seperti lilin ramah lingkungan, yang juga membantu mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang sering kali dianggap remeh. Dalam penyuluhan ini, narasumber menjelaskan bahwa minyak jelantah memiliki banyak risiko jika tidak dikelola dengan baik. Minyak yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan air, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Selain itu, jika digunakan berulang kali melebihi batas wajar, minyak ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti risiko penyakit jantung, obesitas, gangguan pencernaan, hingga kanker. Faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng juga dijelaskan, termasuk jenis minyak, suhu pemanasan, dan kondisi penyimpanan. Masyarakat diberi pemahaman bahwa minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal tiga kali pemanasan, dengan sisa makanan yang disaring untuk memperpanjang penggunaannya. Namun, setelah batas penggunaan tersebut tercapai, minyak bekas tidak boleh dibuang begitu saja. Di sinilah konsep daur ulang memainkan peran penting. Salah satu poin utama dari kegiatan ini adalah memperkenalkan potensi ekonomi dari minyak jelantah. Minyak bekas dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, sabun, dan lilin. Di antara semua produk tersebut, lilin dari minyak jelantah menjadi topik utama dalam penyuluhan. Narasumber menjelaskan bahwa bahan baku minyak jelantah sangat melimpah, terutama dari rumah tangga, restoran, dan usaha kuliner kecil. Dengan modal kecil, siapa pun bisa memulai usaha pembuatan lilin dari minyak bekas ini. Selain mengurangi limbah, usaha ini juga memiliki pasar yang cukup luas. Lilin dari minyak jelantah banyak diminati karena ramah lingkungan dan memiliki harga jual yang kompetitif. Dengan harga minyak jelantah sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per liter, produk lilin bisa dijual dengan harga mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 per unit, tergantung pada desain dan kualitasnya. Hal ini menjadi peluang menarik bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan sambil berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk langsung mencoba membuat lilin dari minyak jelantah. Prosesnya cukup sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Berikut adalah langkah-langkahnya: 1. Penyaringan Minyak Jelantah: Minyak bekas disaring untuk menghilangkan sisa-sisa makanan atau kotoran. 2. Pencampuran dengan Lilin Parafin atau Bahan Pengikat: Minyak jelantah dicampur dengan lilin parafin atau bahan lain yang dapat mengikat minyak agar menghasilkan tekstur yang solid. 3. Penambahan Pewarna dan Pewangi: Pewarna dan aroma tambahan diberikan untuk membuat lilin lebih menarik. 4. Penuangan ke Cetakan: Campuran minyak dituangkan ke dalam cetakan sesuai bentuk yang diinginkan. 5. Pendinginan dan Pemadatan: Lilin dibiarkan dingin hingga mengeras, lalu dilepaskan dari cetakan. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap langkahnya. Banyak dari mereka yang merasa proses ini cukup mudah dan dapat diterapkan di rumah dengan peralatan sederhana. Selain ramah lingkungan, lilin dari minyak jelantah memiliki banyak manfaat. Lilin ini dapat digunakan untuk penerangan alternatif, dekorasi, atau bahkan sebagai aromaterapi jika ditambahkan pewangi. Dengan demikian, produk ini tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Dalam skala usaha, lilin dari minyak jelantah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang limbah Kegiatan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin ini menjadi salah satu langkah kecil yang membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Edukasi yang diberikan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya minyak jelantah jika tidak dikelola, tetapi juga membuka peluang baru untuk menciptakan produk bernilai ekonomi. Dengan modal kecil dan proses yang sederhana, siapa pun dapat memulai usaha ini sambil berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, KKM Sidomulyo 165 mengajak seluruh masyarakat untuk memandang limbah sebagai peluang, bukan masalah. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin adalah salah satu contoh konkret bagaimana kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan langkah ini, diharapkan semakin banyak orang yang terinspirasi untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. https://www.kompasiana.com/arthasamasta0418/67984057ed64152941272ae7/inovasi-ramah-li ngkungan-dengan-memanfaatkan-minyak-jelatah-menjadi-lilin