MAULIDA NUR FADHLIYAH
Selobekiti, sebuah dusun kecil dengan potensi besar pada kerajinan anyaman bambu, kini menjadi sorotan berkat upaya Adhikari Dwidasa yang berkomitmen mengangkat nama para pekerja kreatif lokal. Dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, para pengrajin di desa ini menawarkan berbagai produk unik berbasis kearifan lokal yang khas. Pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 4 dan 5 Januari 2025, Adhikari Dwidasa berkesampatan untuk mengunjungi dua pengrajin lokal yang terkenal dan telah sukses di pasaran, bu Malika dan pak Win. Dalam kunjungan tersebut, para peserta diajak untuk melihat langsung proses produksi kerajinan bambu, berbagi ilmu dan tips, serta berdiskusi dengan para pengrajin mengenai tantangan dan peluang bisnis yang ada. Bu Malika merupakan salah satu pengrajin senior yang telah meneruskan usaha kerajinan ini selama beberapa keturunan. Beliau memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan bambu, seperti tempe, tedok, piring, topi, dan kipas. Semua proses pengerjaan dilakukan secara manual dengan metode tradisional. Bahan baku utama kerajinan Bu Malika adalah bambu jenis pring apus yang dibeli dari Jatisari, Kecamatan Ngajum, dengan kisaran harga Rp15.000 per batang. Dari satu batang bambu, dapat dihasilkan 30-40 produk kerajinan. Pembuatan kerajinan bambu dilakukan dalam berbagai tahapan seperti pemotongan bambu, pemotongan, penghalusan, pengeringan, penganyaman, dan yang terakhir finishing. Untuk pembuatan 1 kerajinan tangan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, tergantung jenis kerajinan tangan yang diproduksi. Sementara itu, untuk proses pengeringan sendiri memerlukan waktu selama satu hari saat cuaca cerah, namun jika hujan, pengeringan dilakukan dengan memanggang. Produk Bu Malika sering menjadi favorit pelanggan terutama tempe, tedok, dan capil. Selain itu, ia kerap mengikuti lomba kerajinan dan pernah meraih juara pertama tingkat kabupaten. Untuk saat ini, bu Malika hanya memanfaatkan pemasaran secara offline dan dipromosikan dari mulut ke mulut. “Kami memasarkan produk secara langsung ke berbagai daerah, seperti ke pesarean Gunung Kawi, Malang, Cirebon, hingga Kalimantan.”, ujarnya. “Banyak pelanggan datang langsung ke sini,” ujar Bu Malika. Dengan produk yang dihargai antara tiga ribu rupiah hingga dua puluh lima ribu rupiah, bu Malika bisa mencapai omset hingga empat juta rupiah per bulannya. Sementara itu, pengrajin kedua, Pak Win, merupakan salah satu pengrajin yang cukup sukses dan terkenal di dusun Selobekiti. Beliau memulai usahanya pada tahun 2021 yang mana, beliau hanya memfokuskan usaha kerajinan tangan pada pembuatan besek. Berbeda dengan Bu Malika, Pak Win memanfaatkan platform digital, yaitu Shopee yang telah dirintisnya selama kurang lebih tiga tahun, untuk memasarkan produknya. Dengan akun bernama abidzar083, toko onlinenya telah meraih rating 4.7 dari para pelanggannya. Ia telah mengembangkan sistem penjualan berbasis pre-order karena kerajinan besek cukup rentan jika diamkan dalam waktu yang lama. “Minimal pembelian empat produk dan maksimal dua puluh produk per pesanan. Penjualan kami meningkat terutama dalam dua tahun terakhir,” jelas Pak Win. Besek produksi Pak Win dapat dipesan dengan berbagai ukuran dan warna sesuai permintaan pelanggan. Proses pembuatan kerajinan besek pak Win juga memiliki langkah yang hampir sama dengan kerjinan bu Malika. Hanya saja, sebelum tahap finishing, terdapat tahap pewarnaan pada produk apa pun. Proses pewarnaan ini dilakukan dengan mencelupkan produk secara menyeluruh ke dalam panci yang berisi air panas dan telah dicampur dengan pewarna Wantex. Jenis pewarnaan ini aman digunakan untuk menjamin makanan sudah benar-benar kering. Proses pengeringan pada pewarnaan itu sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 1-2 jam di musim panas, namun saat musim hujan memakan waktu hingga dua hari. Untuk memenuhi pesanan yang masuk, pak Win juga bekerja sama dengan pengrajin lain, seperti Ibu Ida dengan pembagian keuntungan dengan perhitungan persen yang telah ditentukan oleh pak Win. Selama usaha ini berjalan, Pak Win telah melayani beberapa klien besar, seperti Ms. Glow dan Djoragan 99, bahkan produknya dikirim hingga ke Luar Kota seperti Jakarta, Lumajang, dan Nganjuk. Beliau juga telah melayani bebrapa konsumen luar negeri dari Selangor, Malaysia. Dengan harga besek yang dipatok mulai lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah, beliau pernah mencapai omset sebesar Rp9 juta per tahun, dengan sistem pembagian keuntungan berdasarkan tahap produksi: 40% untuk produk yang masih perlu pembersihan serabut dan 25% untuk produk yang sudah bersih. Upaya Adhikari Dwidasa untuk mempromosikan kerajinan lokal Selobekiti berhasil membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin. Dengan kombinasi pemasaran tradisional dan digital, produk mereka mampu bersaing di pasar yang lebih luas. “Kami ingin produk Selobekiti dikenal lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan semangat inovasi, kami yakin dusun ini dapat menjadi pusat kerajinan yang mendunia,” ujar ketua Adhikari Dwidasa, Rizqi Diana Putra.
MUHAMMAD ROYHAN `ULUMUDDIN SUYANTO
Rabu, 22 Januari 2025 -- Mahasiswa KKM 133 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan sosialisasi dengan tema "Stop Bullying" di SDN 04 Bangelan, Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Sosialisasi ini merupakan salah satu program kerja mereka yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa-siswi tentang bahaya bullying serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan damai. Kegiatan ini secara khusus ditujukan untuk siswa-siswi kelas 6 sebagai bekal sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, seperti SMP atau MTs. Dengan menghadapi masa transisi tersebut, penting bagi siswa memiliki pemahaman yang baik tentang dampak buruk bullying agar mereka dapat menciptakan hubungan yang positif dengan teman-temannya. Bullying, sebagaimana dipaparkan dalam sosialisasi, mencakup segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja. Hal ini meliputi tindakan mengejek, menjambak, memukul, memberikan julukan yang tidak pantas, hingga menampilkan ekspresi atau tatapan merendahkan yang dapat melukai perasaan korban. Perilaku ini tidak hanya berdampak pada korban secara psikologis, tetapi juga dapat merusak suasana belajar yang kondusif di sekolah. Dalam kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKM 133 menyampaikan materi secara interaktif dan menarik. Materi yang dibahas meliputi: Jenis-jenis bullying, baik verbal, fisik, maupun sosial. Dampak hukum yang bisa dihadapi oleh pelaku bullying. Bahaya bullying terhadap korban, termasuk dampak psikologis dan emosional Pengaruh bullying terhadap lingkungan sosial secara umum. Cara mencegah bullying dan membangun pertemanan yang sehat di sekolah. Para mahasiswa memanfaatkan berbagai media untuk menyampaikan materi agar lebih mudah dipahami oleh siswa. Media yang digunakan antara lain poster, presentasi PowerPoint, serta video pendek yang menarik dan edukatif. Dengan pendekatan ini, siswa terlihat antusias dan aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sosialisasi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini berjalan dengan lancar dan tertib. Siswa-siswi kelas 6 mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab yang diadakan setelah penyampaian materi. Para peserta menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi yang disampaikan, dengan banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan. Sebagai bagian dari sosialisasi, diadakan pula sesi kuis untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipaparkan. Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah menarik sebagai bentuk apresiasi. Selain itu, panitia juga membagikan snack untuk seluruh peserta guna menambah semangat mereka selama kegiatan berlangsung. Pak Huda, wali kelas 6 SDN 04 Bangelan, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada mahasiswa KKM UIN Malang atas inisiatif ini. "Saya sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan ini. Semoga ke depannya tidak ada lagi bullying atau tindakan buruk lainnya di sekolah ini. Dengan adanya sosialisasi seperti ini, siswa-siswi kami mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga sikap terhadap teman-temannya," ungkapnya. Sebagai penutup, kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara mahasiswa KKM, guru, dan seluruh siswa kelas 6. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru bagi siswa, tetapi juga meninggalkan kesan positif yang mendalam bagi mereka. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan siswa-siswi SDN 04 Bangelan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari perilaku bullying. Melalui program kerja ini, mahasiswa KKM 133 UIN Malang membuktikan perannya sebagai agen perubahan yang tidak hanya berkontribusi pada pendidikan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter generasi muda. Semoga kegiatan serupa dapat terus diadakan di sekolah-sekolah lain, sehingga semakin banyak siswa yang teredukasi mengenai pentingnya menghentikan bullying.
IKE DWI RAHMANIA
Rabu, 22 Januari 2025 -- Mahasiswa KKM 133 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan sosialisasi dengan tema "Stop Bullying" di SDN 04 Bangelan, Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Sosialisasi ini merupakan salah satu program kerja mereka yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa-siswi tentang bahaya bullying serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan damai. Kegiatan ini secara khusus ditujukan untuk siswa-siswi kelas 6 sebagai bekal sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, seperti SMP atau MTs. Dengan menghadapi masa transisi tersebut, penting bagi siswa memiliki pemahaman yang baik tentang dampak buruk bullying agar mereka dapat menciptakan hubungan yang positif dengan teman-temannya. Bullying, sebagaimana dipaparkan dalam sosialisasi, mencakup segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja. Hal ini meliputi tindakan mengejek, menjambak, memukul, memberikan julukan yang tidak pantas, hingga menampilkan ekspresi atau tatapan merendahkan yang dapat melukai perasaan korban. Perilaku ini tidak hanya berdampak pada korban secara psikologis, tetapi juga dapat merusak suasana belajar yang kondusif di sekolah. Dalam kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKM 133 menyampaikan materi secara interaktif dan menarik. Materi yang dibahas meliputi: Jenis-jenis bullying, baik verbal, fisik, maupun sosial. Dampak hukum yang bisa dihadapi oleh pelaku bullying. Bahaya bullying terhadap korban, termasuk dampak psikologis dan emosional Pengaruh bullying terhadap lingkungan sosial secara umum. Cara mencegah bullying dan membangun pertemanan yang sehat di sekolah. Para mahasiswa memanfaatkan berbagai media untuk menyampaikan materi agar lebih mudah dipahami oleh siswa. Media yang digunakan antara lain poster, presentasi PowerPoint, serta video pendek yang menarik dan edukatif. Dengan pendekatan ini, siswa terlihat antusias dan aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sosialisasi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini berjalan dengan lancar dan tertib. Siswa-siswi kelas 6 mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab yang diadakan setelah penyampaian materi. Para peserta menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi yang disampaikan, dengan banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan. Sebagai bagian dari sosialisasi, diadakan pula sesi kuis untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipaparkan. Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah menarik sebagai bentuk apresiasi. Selain itu, panitia juga membagikan snack untuk seluruh peserta guna menambah semangat mereka selama kegiatan berlangsung. Pak Huda, wali kelas 6 SDN 04 Bangelan, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada mahasiswa KKM UIN Malang atas inisiatif ini. "Saya sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan ini. Semoga ke depannya tidak ada lagi bullying atau tindakan buruk lainnya di sekolah ini. Dengan adanya sosialisasi seperti ini, siswa-siswi kami mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga sikap terhadap teman-temannya," ungkapnya. Sebagai penutup, kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara mahasiswa KKM, guru, dan seluruh siswa kelas 6. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru bagi siswa, tetapi juga meninggalkan kesan positif yang mendalam bagi mereka. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan siswa-siswi SDN 04 Bangelan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari perilaku bullying. Melalui program kerja ini, mahasiswa KKM 133 UIN Malang membuktikan perannya sebagai agen perubahan yang tidak hanya berkontribusi pada pendidikan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter generasi muda. Semoga kegiatan serupa dapat terus diadakan di sekolah-sekolah lain, sehingga semakin banyak siswa yang teredukasi mengenai pentingnya menghentikan bullying.
A.M. RIFDATUN KAMILIA SAFITRIH
Setelah sehari sebelumnya sudah mengenalkan Abate atau Larvasida lewat sosialisasi, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok Sahityabhavana dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang membagikan Abate yang berbentuk bubuk atau butiran kecil yang digunakan untuk membunuh larva nyamuk, terutama jenis Aedes aegypti. Pembagian yang berlangsung Minggu (5/1/2025) kemarin, ditujukan sebagai langkah pencegahan virus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ada di Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Sebagai informasi, Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Salah satu anggota kelompok Sahityabhavana, Dira, menjelaskan cara penggunaan Abate ini cukup sederhana. Yaitu, abate cukup ditaburkan di bak mandi atau di tempat-tempat yang berisi udara untuk membasmi jentik-jentik yang mana bisa berpotensi menjadi nyamuk atau jentik-jentik. Menurut Dira, jenis nyamuk yang membedakan antara nyamuk DBD dengan nyamuk biasanya adalah pola belang putih ini menyerupai bentuk huruf "lyra" pada bagian punggung, dan biasanya nyamuk DBD berukuran kecil dibandingkan nyamuk biasa. Edukasi yang telah disampaikan sebelumnya untuk mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan pencegahan penyakit demam berdarah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan abate yang disebarkan, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara penggunaan abate yang benar dan aman dalam memberantas jentik nyamuk di lingkungan rumah dan sekitarnya. Seperti informasi yang dihimpun, Abate mempunyai kandungan utama, yaitu bahan kimia bernama Temepos. Andika selaku ketua kelompok menuturkan, Temepos ini zat aktif yang bekerja dengan cara menghambat sistem enzim pada larva nyamuk, sehingga mereka tidak dapat berkembang menjadi nyamuk dewasa, temepos juga dianggap efektif dalam membunuh jentik nyamuk tanpa mencemari lingkungan. Ibu Kepala Dusun Jamuran, menerima ide teman-teman mahasiswa KKM dengan sangat baik serta mendukung program sosialisasi dan penggunaan Abate ini. Menurutnya, memang di Dusun Jamuran ini saat musim hujam marak pertumbuhan nyamuk. “Saya dan para warga sangat berterimakasih dengan menyebarkannya Abate untuk mengurangi serta mencegah penyebaran penyakit demam berdarah di kampung ini,” ujarnya senang. Terakhir, ia berharap kegiatan ini bisa menggugah masyarakat agar sadar pentingnya pencegahan penyakit demam berdarah melalui langkah-langkah pemberantasan sarang nyamuk dan semoga abate yang meninggal dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat untuk mengurangi populasi jentik nyamuk di lingkungan mereka. (sd/sf) Penerjemah: Shandyka Redaksi : Sulthan Fathani Elsyam (Ajay)
MUHAMAD MUFLIH ANDIKA
Setelah sehari sebelumnya sudah mengenalkan Abate atau Larvasida lewat sosialisasi, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok Sahityabhavana dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang membagikan Abate yang berbentuk bubuk atau butiran kecil yang digunakan untuk membunuh larva nyamuk, terutama jenis Aedes aegypti. Pembagian yang berlangsung Minggu (5/1/2025) kemarin, ditujukan sebagai langkah pencegahan virus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ada di Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Sebagai informasi, Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Salah satu anggota kelompok Sahityabhavana, Dira, menjelaskan cara penggunaan Abate ini cukup sederhana. Yaitu, abate cukup ditaburkan di bak mandi atau di tempat-tempat yang berisi udara untuk membasmi jentik-jentik yang mana bisa berpotensi menjadi nyamuk atau jentik-jentik. Menurut Dira, jenis nyamuk yang membedakan antara nyamuk DBD dengan nyamuk biasanya adalah pola belang putih ini menyerupai bentuk huruf "lyra" pada bagian punggung, dan biasanya nyamuk DBD berukuran kecil dibandingkan nyamuk biasa. Edukasi yang telah disampaikan sebelumnya untuk mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan pencegahan penyakit demam berdarah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan abate yang disebarkan, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara penggunaan abate yang benar dan aman dalam memberantas jentik nyamuk di lingkungan rumah dan sekitarnya. Seperti informasi yang dihimpun, Abate mempunyai kandungan utama, yaitu bahan kimia bernama Temepos. Andika selaku ketua kelompok menuturkan, Temepos ini zat aktif yang bekerja dengan cara menghambat sistem enzim pada larva nyamuk, sehingga mereka tidak dapat berkembang menjadi nyamuk dewasa, temepos juga dianggap efektif dalam membunuh jentik nyamuk tanpa mencemari lingkungan. Ibu Kepala Dusun Jamuran, menerima ide teman-teman mahasiswa KKM dengan sangat baik serta mendukung program sosialisasi dan penggunaan Abate ini. Menurutnya, memang di Dusun Jamuran ini saat musim hujam marak pertumbuhan nyamuk. “Saya dan para warga sangat berterimakasih dengan menyebarkannya Abate untuk mengurangi serta mencegah penyebaran penyakit demam berdarah di kampung ini,” ujarnya senang. Terakhir, ia berharap kegiatan ini bisa menggugah masyarakat agar sadar pentingnya pencegahan penyakit demam berdarah melalui langkah-langkah pemberantasan sarang nyamuk dan semoga abate yang meninggal dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat untuk mengurangi populasi jentik nyamuk di lingkungan mereka. (sd/sf) Penerjemah: Shandyka Redaksi : Sulthan Fathani Elsyam (Ajay)
NADIA NOORAFIRA
Posyandu, atau Pos Pelayanan Terpadu, adalah salah satu pilar penting dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia. Sebagai wadah yang dekat dengan masyarakat, posyandu memberikan akses mudah bagi ibu dan anak untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar, seperti pemeriksaan berat badan, tinggi badan, imunisasi, hingga pemberian makanan tambahan. Keberadaan posyandu tidak hanya menjadi bentuk konkret dari perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara tenaga kesehatan, pengurus lokal, dan masyarakat.Muali Selasa, 7 Januari 2025 hingga Sabtu, 11 Januari 2025, kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang berkesempatan untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan di Posyandu, yang terletak di 3 Dusun pada Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Kegiatan posyandu dipenuhi antusiasme warga yang datang mengantarkan anak-anak mereka untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang disediakan. Mahasiswa KKM membantu mencatat data, mengukur tinggi dan berat badan anak-anak, serta mendukung para pengurus posyandu yang dengan sabar melayani setiap warga. Kegiatan ini dapat membuka mata mahasiswa tentang pentingnya keberadaan posyandu sebagai ujung tombak dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Lebih dari sekadar kegiatan rutin, posyandu adalah ruang interaksi sosial yang mempererat hubungan masyarakat. Dukungan dari ibu-ibu pengurus posyandu yang ramah dan berkomitmen semakin menguatkan keyakinan bahwa kolaborasi antara masyarakat, lembaga pendidikan, dan tenaga kesehatan mampu menciptakan lingkungan yang sehat dan sejahtera. Kegiatan selama di Posyandu bukan hanya sekadar menjalankan tugas, tetapi juga menjadi pembelajaran langsung tentang bagaimana pelayanan kesehatan dasar di tingkat komunitas dijalankan. Meski terlihat sederhana, kegiatan ini ternyata memiliki dampak besar dalam memantau pertumbuhan anak-anak dan mengidentifikasi potensi masalah kesehatan sejak dini. Posyandu memainkan peran vital dalam memastikan generasi muda tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang cerah. Antusiasme warga Desa Wringinanom pada pagi itu begitu terasa. Orang tua, terutama para ibu, dengan penuh semangat membawa anak-anak mereka untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan. Bagi mereka, posyandu adalah tempat yang dapat diandalkan untuk memantau kesehatan keluarga. Tingginya partisipasi masyarakat juga menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan semakin meningkat. Hal ini menjadi bukti bahwa program-program berbasis komunitas seperti posyandu berhasil menjangkau dan melibatkan masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Namun, di balik semua itu, ada peran besar para pengurus posyandu yang penuh dedikasi. Ibu-ibu pengurus bukan hanya melaksanakan tugas administratif, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam menjaga keberlanjutan posyandu. Dengan senyum ramah, mereka menerima setiap warga yang datang dan melayani dengan sabar. Komitmen mereka untuk memberikan pelayanan terbaik patut diapresiasi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa posyandu bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal manusia yang menggerakkannya. Kunjungan ke Posyandu di Dusun Besuki, Dusun Kunci, dan Dusun Simpar di Desa Wringinanom memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kolaborasi dalam menciptakan masyarakat yang sehat. Posyandu bukan hanya sekadar tempat layanan kesehatan, tetapi juga ruang sosial yang memperkuat solidaritas komunitas. Dengan antusiasme warga, dedikasi para pengurus, dan keterlibatan pihak eksternal seperti kelompok KKM, kegiatan di posyandu mampu berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif yang nyata.