ZULFA ULINNUHA
Setelah sehari sebelumnya sudah mengenalkan Abate atau Larvasida lewat sosialisasi, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok Sahityabhavana dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang membagikan Abate yang berbentuk bubuk atau butiran kecil yang digunakan untuk membunuh larva nyamuk, terutama jenis Aedes aegypti. Pembagian yang berlangsung Minggu (5/1/2025) kemarin, ditujukan sebagai langkah pencegahan virus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ada di Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Sebagai informasi, Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Salah satu anggota kelompok Sahityabhavana, Dira, menjelaskan cara penggunaan Abate ini cukup sederhana. Yaitu, abate cukup ditaburkan di bak mandi atau di tempat-tempat yang berisi udara untuk membasmi jentik-jentik yang mana bisa berpotensi menjadi nyamuk atau jentik-jentik. Menurut Dira, jenis nyamuk yang membedakan antara nyamuk DBD dengan nyamuk biasanya adalah pola belang putih ini menyerupai bentuk huruf "lyra" pada bagian punggung, dan biasanya nyamuk DBD berukuran kecil dibandingkan nyamuk biasa. Edukasi yang telah disampaikan sebelumnya untuk mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan pencegahan penyakit demam berdarah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan memanfaatkan abate yang disebarkan, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara penggunaan abate yang benar dan aman dalam memberantas jentik nyamuk di lingkungan rumah dan sekitarnya. Seperti informasi yang dihimpun, Abate mempunyai kandungan utama, yaitu bahan kimia bernama Temepos. Andika selaku ketua kelompok menuturkan, Temepos ini zat aktif yang bekerja dengan cara menghambat sistem enzim pada larva nyamuk, sehingga mereka tidak dapat berkembang menjadi nyamuk dewasa, temepos juga dianggap efektif dalam membunuh jentik nyamuk tanpa mencemari lingkungan. Ibu Kepala Dusun Jamuran, menerima ide teman-teman mahasiswa KKM dengan sangat baik serta mendukung program sosialisasi dan penggunaan Abate ini. Menurutnya, memang di Dusun Jamuran ini saat musim hujam marak pertumbuhan nyamuk. “Saya dan para warga sangat berterimakasih dengan menyebarkannya Abate untuk mengurangi serta mencegah penyebaran penyakit demam berdarah di kampung ini,” ujarnya senang. Terakhir, ia berharap kegiatan ini bisa menggugah masyarakat agar sadar pentingnya pencegahan penyakit demam berdarah melalui langkah-langkah pemberantasan sarang nyamuk dan semoga abate yang meninggal dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat untuk mengurangi populasi jentik nyamuk di lingkungan mereka. (sd/sf) Penerjemah: Shandyka Redaksi : Sulthan Fathani Elsyam (Ajay)
HUSNIYAH NADHROTUL ULA
Pembukaan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang diselenggarakan oleh mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara ini berlangsung di Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Dalam suasana yang formal namun penuh keakraban, terlihat para mahasiswa mengenakan jas almamater, berdiri bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat di depan backdrop yang bertuliskan "Kuliah Kerja Mahasiswa." Para mahasiswa yang tergabung dalam KKM ini berpose bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen mereka untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat desa. Kehadiran perangkat desa dan tokoh masyarakat menandakan dukungan penuh terhadap program ini, yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi, sosial, dan pengabdian. Senyum para peserta mencerminkan semangat mereka dalam menjalankan tugas KKM dengan penuh dedikasi. Backdrop acara yang mencantumkan logo UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan tema kegiatan menunjukkan bahwa program ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat desa, sekaligus mendapatkan pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu yang telah mereka pelajari di bangku kuliah.
AL HUMAYROH
HUMAS UIN MALANG - Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025 yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG-PAI) Kabupaten Malang telah berlangsung meriah (25/1). SDN 2 Wonorejo berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan dua siswanya meraih juara. Hamka, siswa SDN 2 Wonorejo, meraih Juara 2 dalam kategori Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), sedangkan Ulil memperoleh Juara Harapan 1 pada kategori Musabaqah Hifzhil Qur'an (MHQ). Prestasi ini tidak lepas dari bimbingan intensif yang diberikan oleh kakak-kakak Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 156 yang menjalankan program kerja di SDN 2 Wonorejo. Keberhasilan siswa SDN 2 Wonorejo ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas mereka dan meningkatkan minat siswa untuk mengeluarkan potensi bakat dan minat mereka. Selain itu, keberhasilan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda di Poncokusumo untuk terus mengembangkan potensi dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Prestasi ini juga menjadi bukti bahwa kerja sama antara sekolah dan masyarakat dapat membawa hasil yang positif. KKM 156 UIN Malang dan SDN 2 Wonorejo telah menunjukkan contoh kerja sama yang efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkan potensi siswa. Kontributor: KKM 156 UIN Malang
ANGGUN MEILANIE
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah dasar, akan pentingnya pola hidup sehat dan bahaya pergaulan bebas, tim Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 120 mengadakan kegiatan sosialisasi “hidup sehat dan pencegahan pergaulan bebas” yang bertujuan memberikan edukasi serta pemahaman yang lebih dalam mengenai dua aspek penting dalam kehidupan mereka. Kegiatan ini berlangsung di SDN 01 Sidoluhur, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, pada 18 Januari 2025. Anak-anak kelas 6 SD merupakan fase transisi menuju remaja, di mana mereka mulai menghadapi berbagai tantangan dalam pergaulan dan kebiasaan hidup sehari-hari. Kurangnya pemahaman mengenai pola hidup sehat dan bahaya pergaulan bebas dapat berdampak pada tumbuh kembang mereka. Oleh karena itu, kami kelompok KKM 120 merasa perlu untuk memberikan edukasi yang sesuai dengan usia mereka agar lebih siap menghadapi tantangan di masa mendatang. Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh seluruh anak kelas 6 SDN 01 Sidoluhur. Kegiatan ini terbagi menjadi 2 sesi. Dalam sesi pertama, kami menjelaskan tentang pentingnya beretika, menjaga etika dalam pergaulan, menghindari pengaruh buruk dari lingkungan sekitar serta pentingnya memilih teman yang baik. Dalam sesi ini kami juga menjelaskan tentang bullying, mulai dari dampak negatif bullying hingga cara mencegah bullying. Dalam sesi kedua kami menjelaskan pentingnya menerapkan pola hidup sehat yang bisa dimulai dari hal kecil contoh mencuci tangan, mengurangi konsumsi gula dan makan makanan bergizi. Agar sosialisasi lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak, kami menggunakan berbagai metode, seperti penjelasan materi menggunakan power point dengan animasi yang menarik hingga pemutaran vidio contoh penerapan hidup sehat. Di akhir kegiatan, kami membagikan susu gratis sebagai upaya contoh penerapan pola hidup sehat. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata dalam kehidupan anak-anak, khususnya dalam membangun kebiasaan hidup sehat dan pergaulan yang positif. Dengan adanya edukasi ini, diharapkan mereka dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan dan memilih lingkungan pergaulan yang baik, sehingga dapat tumbuh menjadi generasi yang berkualitas bagi bangsa dan negara.
RAUDATUL AULIA
[Jabung, 2 Januari 2025] Dusun Busu, Desa Slamparejo, kembali menjadi pusat perhatian dengan diadakannya kegiatan bertema lingkungan dan budaya yang melibatkan masyarakat setempat dan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dalam rangkaian giat bertajuk Bumi Wekasan, mahasiswa KKM bersama warga bekerja sama untuk menjaga dan melestarikan Punden Dusun Busu, sebuah situs budaya yang kaya akan nilai sejarah dan spiritual. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembersihan punden sebagai simbol sakralitas masyarakat lokal, tetapi juga mencakup berbagai aksi peduli lingkungan seperti penanaman bibit pohon dan pembersihan mata air. Tujuan utamanya adalah memastikan kelestarian alam di sekitar punden sekaligus memperkuat keberlanjutan sumber daya air bagi masa depan. Pembersihan Punden: Merawat Warisan Budaya Punden Dusun Busu memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Desa Slamparejo. Sebagai situs sakral yang mengandung nilai historis, punden ini sering dijadikan tempat ritual budaya dan sarana untuk merekatkan hubungan sosial warga. Oleh karena itu, kegiatan Bumi Wekasan dimulai dengan pembersihan area punden. Mahasiswa KKM UIN Malang bersama warga setempat membersihkan dedaunan kering, sampah, dan kotoran yang menumpuk di sekitar punden. Aktivitas ini tidak hanya mengembalikan estetika tempat, tetapi juga mencerminkan rasa hormat terhadap warisan budaya yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat lokal. Penanaman Bibit Pohon: Menjaga Ekosistem dan Mata Air Salah satu kegiatan utama dalam giat ini adalah penanaman bibit pohon di sekitar area punden dan mata air. Penanaman pohon bukan hanya sekadar penghijauan, tetapi memiliki tujuan yang lebih besar. Pohon-pohon yang ditanam berfungsi untuk memperkuat aliran mata air yang ada dan diharapkan dapat memunculkan sumber mata air baru di masa mendatang. Pohon berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Akar pohon membantu menahan tanah dan mencegah erosi, sekaligus menyerap air hujan untuk disimpan dalam lapisan tanah. Dengan menanam pohon, mahasiswa dan masyarakat Dusun Busu menunjukkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan yang berdampak langsung pada kualitas hidup generasi mendatang. Pembersihan Mata Air: Sumber Kehidupan yang Harus Dijaga Selain menanam pohon, kegiatan Bumi Wekasan juga mencakup pembersihan mata air di sekitar Dusun Busu. Mata air adalah sumber kehidupan bagi masyarakat setempat, baik untuk keperluan sehari-hari maupun kegiatan pertanian. Sayangnya, aliran mata air sering terhambat oleh sampah dan material alami seperti dedaunan dan ranting. Mahasiswa KKM bersama warga bekerja bahu-membahu membersihkan area mata air untuk memastikan aliran air tetap lancar. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas air, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya air di wilayah tersebut. Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik Kegiatan Bumi Wekasan ini menjadi contoh nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam melestarikan budaya dan lingkungan. Mahasiswa KKM UIN Malang tidak hanya berkontribusi dengan tenaga dan pengetahuan, tetapi juga membawa semangat baru bagi warga untuk terus menjaga warisan leluhur sekaligus menghadapi tantangan lingkungan di era modern. Keberhasilan giat ini menjadi bukti bahwa upaya menjaga budaya dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Punden Dusun Busu, sebagai simbol sakral dan identitas lokal, kini semakin kuat posisinya sebagai pusat pelestarian budaya dan ekologi. Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat terus menjaga kekayaan budaya dan lingkungan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Melalui inisiatif ini, generasi muda, baik mahasiswa maupun masyarakat setempat, telah menunjukkan bahwa mereka siap menjadi penjaga kelestarian alam dan budaya demi masa depan yang lebih baik. Kegiatan seperti Bumi Wekasan patut menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam melestarikan kekayaan budaya dan lingkungan lokal.
MUHAMMAD FIKRI AGUNG RAMADHAN
Pada hari Senin, 13 Januari 2025, suasana yang penuh semangat dan antusiasme menyelimuti Balai Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Di tempat ini, telah berlangsung kegiatan Sosialisasi Parenting dan Pencegahan Stunting, yang merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat, terutama para orang tua dan ibu hamil, yang menjadi sasaran utama dari sosialisasi ini. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB, dan dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Pelaksana yang menyampaikan tujuan utama acara ini: memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada warga Desa Pandansari Lor mengenai pentingnya pola asuh anak yang baik serta pencegahan stunting sebagai masalah kesehatan yang kian meresahkan. Sebelum memulai sesi materi, Kepala Desa Pandansari Lor juga memberikan sambutan yang penuh harapan agar kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan anak-anak di desa tersebut. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ibu Dr. Hj. Rafiqah, M. Pd., C. Ht., Dosen Fakultas Psikologi UIN Malang, yang menjelaskan secara rinci mengenai pentingnya pola asuh yang positif untuk mendukung tumbuh kembang anak. Beliau juga menekankan betapa vitalnya peran orang tua dalam memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang seimbang sejak dini, guna mencegah terjadinya stunting yang dapat menghambat perkembangan fisik dan kognitif anak. Sesi ini semakin hidup dengan adanya tanya jawab dan diskusi interaktif, di mana para peserta, terutama ibu-ibu yang hadir, dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait pola asuh dan cara-cara efektif dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Beberapa ibu berbagi pengalaman mengenai kendala yang mereka hadapi dalam memberikan gizi yang optimal kepada anak-anak mereka, yang membuka ruang untuk saling berbagi solusi dan ide. Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama pada pukul 12.00 WIB, yang dipimpin oleh salah seorang tokoh agama setempat. Doa ini menjadi momen harapan agar warga Desa Pandansari Lor dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas dari masalah stunting. Dengan berakhirnya acara ini, harapan besar pun disampaikan kepada seluruh masyarakat desa, khususnya para orang tua, agar mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bukan hanya sekadar informasi semata, tetapi juga sebuah langkah konkret untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak, mencegah stunting, dan mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.