Thumbnail
1 week ago
Inspektorat II Perkuat Sistem Pengawasan Melalui Penyusunan PKPT

DWI AYU MALICHATIN

Tahun baru seringkali menjadi momentum evaluasi sekaligus perencanaan bagi sebuah organisasi. Bukan hanya sekadar lembar kalender yang diganti, tetapi juga arah kerja organisasi yang dipetakan secara lebih strategis. Begitu pula yang dilakukan oleh Inspektorat II Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia di awal tahun ini. Dengan fokus pengawasan pada lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) dan Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha, Inspektorat II menggelar pembahasan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) sebagai pijakan awal pelaksanaan fungsi pengawasan yang terstruktur dan berorientasi pada hasil. PKPT menjadi instrumen penting dalam memastikan bahwa seluruh kegiatan pengawasan tidak berjalan secara tiba-tiba, melainkan dirancang melalui perencanaan yang matang sejak awal tahun. Penyusunan perencanaan kegiatan tahunan dan pengawasan ini bertujuan agar setiap tahapan pengawasan memiliki arah yang jelas serta mampu menjawab kebutuhan organisasi. Dalam rapat tersebut, Inspektorat II juga melakukan pembagian kelompok pengawasan secara terstruktur. Pembagian ini meliputi penetapan Pengendali Teknis (Dalnis), ketua tim, anggota tim, serta wilayah audit masing-masing. Langkah ini dinilai krusial untuk memperjelas peran dan tanggung jawab setiap unsur pengawasan, sekaligus memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Adapun wilayah audit yang menjadi fokus pengawasan Inspektorat II mencakup sejumlah daerah strategis, yaitu Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, dan Papua Barat. Penetapan wilayah ini menunjukkan cakupan pengawasan yang luas serta menuntut kesiapan tim pengawasan dalam memahami karakteristik dan tantangan di masing-masing daerah. Dengan pembagian tugas dan wilayah yang jelas, diharapkan pelaksanaan pengawasan dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Tidak hanya berorientasi pada pemenuhan prosedur, tetapi juga menghasilkan outcome berupa hasil pengawasan yang mampu memberikan nilai tambah bagi peningkatan tata kelola, khususnya pada sektor pendidikan Islam dan Bimas Buddha. Penyusunan PKPT oleh Inspektorat II Itjen Kemenag RI ini menjadi cerminan komitmen dalam memperkuat fungsi pengawasan sebagai bagian integral dari upaya mewujudkan organisasi yang akuntabel, transparan, dan berkelanjutan. Pengawasan yang direncanakan dengan baik sejak awal tahun diharapkan tidak hanya menjadi alat kontrol, tetapi juga sarana pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan bagi seluruh satuan kerja terkait.

Thumbnail
1 week ago
Nuraksara: KKM 56 KANYA SEVA Nyalakan Cahaya Ilmu dan Bangun Identitas di Pondok Pesantren Ribathul Qur’an Wal Qiro’at

LAYYINA KHOIRUN NISA FAUZI

KEDIRI – Semangat pengabdian terpancar di Dusun Griging Kidul, Desa Grogol, Kabupaten Kediri. Pada tanggal 6 April 2026, Kelompok KKM 56 KANYA SEVA secara resmi membuka kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Pondok Pesantren Ribathul Qur’an Wal Qiro’at. Mengusung tema besar "Nuraksara", mahasiswa berkomitmen menjadi cahaya ilmu yang menuntun generasi untuk tumbuh, bergerak, dan memberi dampak nyata.   Acara pembukaan ini berlangsung khidmat dengan dihadiri langsung oleh pengasuh pondok dan Ketua Pondok Pesantren beserta seluruh jajaran pengurus. Tak ketinggalan, seluruh santri putra di pondok tersebut turut mengikuti prosesi pembukaan dengan penuh antusias. Membangun Identitas di Pondok yang Baru Bersemi Pondok Pesantren Ribathul Qur’an Wal Qiro’at merupakan institusi tahfidz khusus laki-laki yang baru berjalan selama satu tahun. Sebagai pondok yang masih belia, salah satu tantangan yang dihadapi adalah belum adanya identitas fisik atau penanda yang jelas bagi publik. Melihat hal ini, KKM 56 Kanya Seva berinisiatif membenahi kekurangan tersebut. Melalui program kerja mingguan, para mahasiswa mengajak santri untuk peduli lingkungan sekaligus membangun identitas pondok melalui pembuatan Eco-Brick. Dengan memanfaatkan limbah sampah plastik dari lingkungan sekitar, para santri diajak menyusun identitas visual pondok yang kreatif dan ramah lingkungan. KEDIRI – Semangat pengabdian terpancar di Dusun Griging Kidul, Desa Grogol, Kabupaten Kediri. Pada tanggal 6 April 2026, Kelompok KKM 56 KANYA SEVA secara resmi membuka kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Pondok Pesantren Ribathul Qur’an Wal Qiro’at. Mengusung tema besar "Nuraksara", mahasiswa berkomitmen menjadi cahaya ilmu yang menuntun generasi untuk tumbuh, bergerak, dan memberi dampak nyata.   Acara pembukaan ini berlangsung khidmat dengan dihadiri langsung oleh pengasuh pondok dan Ketua Pondok Pesantren beserta seluruh jajaran pengurus. Tak ketinggalan, seluruh santri putra di pondok tersebut turut mengikuti prosesi pembukaan dengan penuh antusias. Membangun Identitas di Pondok yang Baru Bersemi Pondok Pesantren Ribathul Qur’an Wal Qiro’at merupakan institusi tahfidz khusus laki-laki yang baru berjalan selama satu tahun. Sebagai pondok yang masih belia, salah satu tantangan yang dihadapi adalah belum adanya identitas fisik atau penanda yang jelas bagi publik. Melihat hal ini, KKM 56 Kanya Seva berinisiatif membenahi kekurangan tersebut. Melalui program kerja mingguan, para mahasiswa mengajak santri untuk peduli lingkungan sekaligus membangun identitas pondok melalui pembuatan Eco-Brick. Dengan memanfaatkan limbah sampah plastik dari lingkungan sekitar, para santri diajak menyusun identitas visual pondok yang kreatif dan ramah lingkungan. Penerapan Ilmu Kampus: Belajar Menjadi Lebih Seru Selain program identitas, program harian Nuraksara mencakup pendampingan mengaji Al-Qur'an, pendalaman kitab Fiqih, serta penguatan ilmu Tajwid. Berbekal pengalaman dari program Asistensi Mengajar (AM) dan Magang di kampus, mahasiswa KKM 56 membawa warna baru dalam proses belajar mengajar. Jika selama ini pola belajar di pesantren cenderung monoton dengan sistem sorogan (mendengar dan menulis di kitab), kehadiran mahasiswa mengubah suasana menjadi lebih dinamis. Penerapan metode pembelajaran aktif membuat para santri tidak cepat bosan dan lebih berani bereksplorasi. Antusiasme Tinggi dan Kreativitas Tanpa Batas Meski santri di pondok ini semuanya laki-laki, kehadiran para mahasiswa yang mayoritas perempuan dengan tingkat kreativitas tinggi justru menjadi daya tarik tersendiri. Semangat para santri melonjak drastis saat mengikuti setiap sesi kegiatan. "Kami ingin membuktikan bahwa pembelajaran di pondok tidak harus kaku. Dengan sedikit sentuhan kreatifitas dan pendekatan yang tepat, materi sesulit apapun akan lebih mudah diterima oleh santri," ujar salah satu anggota KKM 56 Kanya Seva. Kegiatan pembukaan ini menjadi langkah awal dari rangkaian pengabdian yang diharapkan tidak hanya memberikan kenangan, tetapi juga meninggalkan jejak fisik dan ilmu yang bermanfaat bagi kemajuan Pondok Pesantren Ribathul Qur’an Wal Qiro’at di masa depan.

Thumbnail
1 week ago
Satu Pagi Penuh Tawa dengan Kegiatan KKM “Play Together, Laugh Together!” Disambut Meriah

NADIA ELLIORA PUTRI

    FITK INSIGHT – Kedah — Dalam rangka pelaksanaan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), sembilan mahasiswa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar kegiatan bertema “Play Together, Laugh Together!” yang berlangsung di Ma’had Tahfiz Sains Taufikiah Khairiah Al-Halimiah, Malaysia. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari libur sekolah, Jumat, 10 April 2026 pukul 08.00 waktu setempat, dan diikuti oleh para santri putri Ma’had dengan penuh antusias dan semangat kebersamaan. Acara diawali dengan kegiatan senam rutin bersama yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani sekaligus menciptakan suasana yang menyenangkan. Para santri tampak bersemangat mengikuti setiap gerakan yang dipandu oleh mahasiswa, sehingga suasana pagi hari terasa lebih segar dan penuh energi. Setelah sesi senam, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai permainan estafet yang dikemas secara menarik dan interaktif. Terdapat empat jenis permainan yang dilaksanakan, yaitu pen to pen, senam muka, estafet sarung, dan estafet botol. Setiap permainan dirancang untuk melatih kerja sama tim, konsentrasi, serta membangun keceriaan di antara para peserta. Keceriaan tampak jelas dari raut wajah para santri yang mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Gelak tawa dan sorak sorai menghiasi jalannya acara, mencerminkan tingginya antusiasme serta keterlibatan aktif para peserta dalam setiap permainan yang dilaksanakan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya berupaya memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi para santri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kerja sama, serta pentingnya menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik. Diharapkan, program “Play Together, Laugh Together!” ini dapat memberikan kesan positif dan menjadi salah satu pengalaman berharga bagi para santri, sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dengan santri Ma’had Tahfiz Sains Taufikiah Khairiah Al-Halimiah.[iz] Email : fitk@uin-malang.ac.id Website: fitk.uin-malang.ac.id Instagram : fitkuinmlg Tiktok : fitk.uinmalang Youtube : fitkuinmlg Layanan : – WA : 0816561337 (15. Layanan FITK) – Link mobile : dumas.uin-malang.ac.id (15. Layanan FITK)

Thumbnail
1 week ago
Seminar Literasi Kelas 3 MI Perwanida Kota Blitar: "Penguatan Literasi Sejak Dini Sebagai Bekal Masa Depan"

ADZKARIL ISTNA ILAAHIYA WAHYUDIANA

 Di tengah derasnya arus hiburan digital, minat baca anak-anak usia sekolah dasar semakin perlu mendapat perhatian serius. Menyadari hal ini, KKM Pradaya Cakrawala menginisiasi seminar literasi sebagai salah satu program kerja selama masa pengabdian di MI Perwanida Kota Blitar. Seminar bertema "Penguatan Literasi Sejak Dini Sebagai Bekal Masa Depan" ini menghadirkan Ustadzah Etik Elfia Endrawati, S.Pd., Gr. sebagai pemateri, sosok guru MI Perwanida yang sudah dikenal dan dipercaya oleh para siswa. Kedekatan antara pemateri dan peserta menciptakan suasana belajar yang hangat, akrab, dan jauh dari kesan kaku. Kegiatan tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga dilengkapi sesi permainan interaktif yang membuat literasi terasa menyenangkan. Tim KKM Pradaya Cakrawala terjun langsung mendampingi anak-anak kelas 3 saat sesi game berlangsung, untuk memastikan setiap siswa aktif terlibat, antusias, dan penuh semangat.

Thumbnail
1 week ago
Menjaga Cahaya Pendidikan: Guru Juga Butuh Jeda untuk Mengolah Lelah Menjadi Lillah

FILIZA ALYEDIA RAMADHANI

  Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri.       Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan. Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.

Thumbnail
1 week ago
Guri juga Butuh Jeda untuk Mengolah Lelah Menjadi Lillah

LAILLIA RAHMA PUSPITA

  Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri.       Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan. Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.