DWI CAHYA AJI WIJAYA
Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri. Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan. Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.
ACHMAD MUHYIDDIN ASSURURI
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Abimatungga UIN Malang melaksanakan seminar kesehatan mental bagi para pendidik di SDI Surya Buana pada Jumat (24/04/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Guru Juga Butuh Jeda: Mengolah Lelah Menjadi Lillah dengan Kesehatan Mental yang Terjaga” ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin kompleks. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para guru agar tetap mampu menjalankan perannya sebagai pendidik tanpa mengabaikan kesehatan mental dan ketenangan batin mereka. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan diikuti oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan di lingkungan sekolah. Seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof. Dr. Esa Nur Wahyuni, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Dalam sambutannya, pihak sekolah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kondisi para pendidik saat ini. Di tengah berbagai tuntutan administrasi, tanggung jawab pembelajaran, dan perkembangan dunia pendidikan yang semakin dinamis, guru dinilai membutuhkan ruang untuk menjaga kesehatan emosional dan mental mereka. Dalam penyampaian materinya, Prof. Esa menjelaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik maupun emosional. Tuntutan pekerjaan yang terus meningkat sering kali membuat guru lupa memberikan waktu jeda bagi dirinya sendiri. Beliau menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna bagi peserta didik. Selain itu, beliau juga menyampaikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu istirahat yang cukup, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Kegiatan seminar berlangsung dengan suasana hangat, reflektif, dan komunikatif. Para peserta tampak aktif mengikuti jalannya kegiatan, terutama saat sesi diskusi dan tanya jawab. Beberapa guru turut berbagi pengalaman serta tantangan yang mereka hadapi selama menjalani profesi sebagai pendidik. Hal tersebut menunjukkan bahwa materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan para guru sehari-hari. Salah satu peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bahwa guru juga membutuhkan perhatian dan dukungan emosional agar tetap mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Selain penyampaian materi, seminar juga diselingi dengan sesi refleksi, diskusi interaktif, dan penguatan motivasi yang membuat suasana semakin hidup dan menyentuh hati para peserta. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa rasa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah apabila dijalani dengan hati yang ikhlas serta tetap menjaga keseimbangan diri. Dengan metode penyampaian yang hangat dan menyentuh, peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai kesehatan mental, tetapi juga diajak untuk lebih peduli terhadap kondisi emosional diri sendiri maupun sesama rekan pendidik. Melalui kegiatan seminar ini, KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas, nyaman, dan penuh empati. Guru yang sehat secara emosional akan lebih mampu menghadirkan lingkungan belajar yang positif serta membangun hubungan yang baik dengan peserta didik. Seminar ini diharapkan menjadi langkah kecil namun bermakna dalam mendukung terciptanya ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan peduli terhadap kesejahteraan mental para pendidik.
ACHMAD ADIB AZIZY FAHMY
CIREBON, Disiplin merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter santri, terutama dalam menjalankan tugas kenegaraan di lingkungan pesantren. Guna mewujudkan hal tersebut, mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) dan KKM El-Mutamayyiz UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar program pelatihan bertajuk SATRIA (Santri Terampil Upacara). Kegiatan ini dilaksanakan secara intensif di SMPIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon pada tanggal 22, 24, dan 26 April 2026. Sebanyak 17 santri terpilih dari kelas 8 putra mengikuti pelatihan ini dengan penuh dedikasi dan konsentrasi tinggi. Fokus utama dari program ini adalah untuk mencetak petugas upacara yang memiliki standar profesionalisme dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Mengusung tema “The Art of Discipline: How to be a Great Ceremonial Officer”, pelatihan ini tidak hanya mengajarkan teknik baris-berbaris semata. Para instruktur menekankan bahwa menjadi petugas upacara adalah sebuah seni mengolah kedisiplinan dan rasa tanggung jawab di hadapan publik. Melalui tema ini, peserta diajak untuk memahami bahwa setiap gerakan dan ucapan dalam upacara memiliki makna penghormatan yang mendalam. Mahasiswa El-Mutamayyiz ingin mengubah persepsi bahwa upacara hanyalah rutinitas mingguan, melainkan sebuah amanah besar yang harus dijalankan dengan khidmat. Oleh karena itu, aspek mentalitas menjadi poin pertama yang dibenahi sebelum memasuki teknis lapangan yang lebih kompleks. Proses pelatihan dirancang dengan jadwal yang cukup menantang guna menguji ketahanan fisik dan mental para santri. Pada hari Rabu (22/4) dan Jumat (24/4), latihan dilaksanakan pada malam hari dengan fokus pada sinkronisasi gerakan dan pembacaan teks. Sementara itu, pada hari Ahad (26/4), simulasi penuh dilakukan mulai pagi hingga siang hari di bawah terik matahari yang cukup menyengat. Menariknya, cuaca panas tidak menyurutkan semangat 17 santri tersebut untuk terus mengulang formasi hingga sempurna. Semangat yang “mencengangkan” ini menjadi bukti bahwa para santri memiliki keinginan kuat untuk memberikan yang terbaik bagi sekolah mereka. Tim instruktur dalam program SATRIA ini diisi oleh mahasiswa yang memiliki kompetensi khusus di bidang protokoler dan petugas upacara. M. Luthfi Luqman Al Mustofa bertindak sebagai instruktur untuk bagian Protokoler, Pembaca Pembukaan UUD 1945, Janji Santri, serta Doa. Sementara itu, Ryan Eka Putra dan Rizal Rafid Ariqoh bertanggung jawab melatih tim Pengibar Bendera serta pembawa teks Pancasila agar tampil sinkron. Di sisi lain, Muhammad Rifqi Annafi’ fokus menggembleng calon Pemimpin Upacara agar memiliki suara yang lantang dan wibawa yang tegas. Kolaborasi antarinstrktur ini memastikan setiap lini petugas upacara mendapatkan bimbingan yang detail dan menyeluruh sesuai fungsinya masing-masing. Dalam setiap sesi latihan, para instruktur selalu menyelipkan motivasi untuk menjaga kekhidmatan acara. M. Luthfi Luqman Al Mustofa sering kali mengingatkan peserta tentang pentingnya keseriusan dalam menjalankan amanah. “Upacara bukan sekadar baris-berbaris di lapangan, ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kita kepada simbol negara dan agama. Jika kalian tidak serius dalam latihan, maka kekhidmatan upacara tidak akan pernah tercapai,” tegas Luthfi di sela-sela arahannya. Pesan ini terus diulang agar para santri benar-benar menghayati setiap detik peran yang mereka mainkan sebagai petugas di lapangan. Keseriusan ini menjadi kunci utama agar tidak terjadi kesalahan teknis saat hari pelaksanaan tiba. Suasana pelatihan semakin semarak dengan hadirnya jargon khusus yang menjadi penyemangat, yaitu “Siap, Disiplin, Bisa”. Setiap kali semangat peserta mulai menurun karena lelah, para instruktur akan meneriakkan jargon tersebut dan disambut dengan suara lantang oleh para santri. Feedback dari para peserta pun sangat positif, salah satunya disampaikan oleh perwakilan santri kelas 8. “Awalnya saya kira latihan upacara itu membosankan, ternyata seru banget karena kita diajarkan cara berwibawa dan kompak. Meskipun panas di hari Minggu kemarin, kami jadi makin semangat pas instruktur membakar motivasi kami di akhir latihan,” ujar salah satu santri dengan antusias. Interaksi yang hangat namun tegas antara mahasiswa UIN Malang dan santri ini menciptakan hubungan emosional yang baik. Puncak dari seluruh rangkaian pelatihan ini terbukti pada pelaksanaan upacara bendera hari Senin, 27 April 2026. Seluruh petugas upacara yang telah dilatih mampu menjalankan tugasnya dengan sangat profesional dan sesuai dengan standar protokol yang berlaku. Suasana upacara di SMPIQu Al-Bahjah Pusat Cirebon berlangsung begitu khidmat, di mana setiap gerakan pengibar bendera tampak sangat presisi. Pemimpin upacara pun mampu mengomando barisan dengan tegas, membuat seluruh peserta upacara mengikuti jalannya acara dengan tertib. Keberhasilan ini menjadi buah manis dari kerja keras dan latihan intensif yang telah dilakukan selama beberapa hari sebelumnya. Kesuksesan program SATRIA diharapkan dapat menjadi standar baru bagi pelaksanaan upacara-upacara berikutnya di lingkungan Al-Bahjah. Mahasiswa El-Mutamayyiz UIN Malang berharap nilai-nilai disiplin yang didapat selama pelatihan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari para santri. Menjadi petugas upacara adalah langkah awal untuk belajar menjadi pemimpin yang disiplin dan siap melayani dengan hati. Dengan berakhirnya program ini, diharapkan muncul bibit-bibit baru yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki integritas tinggi. Pendidikan karakter melalui jalur formal seperti upacara bendera tetap menjadi metode yang sangat efektif untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan kedisiplinan sejak dini.
FIERLY SABILA YASSARO
Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri. Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan. Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.
SALSABILA QURROTA A`YUN
Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri.
ALFINA RUSYDIANA PUTRI
Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri. Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan. Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.