M. LAYYINUL QOLBIL MUKARROM
Mahasiswa KKM Reguler Kelompok 44 “Bhavishya” UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan workshop pembuatan buket dari kain pita satin sebagai bentuk kontribusi dalam mendorong kesejahteraan masyarakat desa, khususnya melalui penguatan sektor UMKM. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 29 Desember 2025 pukul 09.00 WIB di Balai Desa Gunung Jati. Workshop ini diikuti oleh 27 peserta yang merupakan anggota PKK Desa Gunung Jati. Tujuan pelaksanaan kegiatan adalah memberikan keterampilan kreatif yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha mandiri, sehingga dapat mendukung peningkatan perekonomian keluarga sekaligus masyarakat secara berkelanjutan. Pemilihan kain pita satin sebagai bahan utama didasarkan pada berbagai pertimbangan. Jannah, salah satu mahasiswa KKM 44 “Bhavishya”, menjelaskan bahwa bahan tersebut mudah ditemukan di lingkungan sekitar, memiliki harga yang terjangkau, serta dapat dibentuk tanpa membutuhkan alat khusus. Selain itu, pita satin dinilai memiliki nilai estetika yang baik dan fleksibel untuk dikreasikan menjadi berbagai bentuk buket yang menarik dan bernilai jual. Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh pelatihan secara langsung mulai dari pengenalan bahan, teknik dasar perakitan, hingga penataan buket agar terlihat rapi dan menarik. Seluruh materi disampaikan oleh mahasiswa KKM sebagai narasumber dengan metode praktik langsung, sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Ibu-ibu PKK aktif mengikuti setiap tahapan, berdiskusi, serta mempraktikkan teknik yang diajarkan. Pada akhir kegiatan, seluruh peserta berhasil menghasilkan buket dari kain pita satin yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk UMKM kreatif di Desa Gunung Jati. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” berharap keterampilan yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi berbasis kreativitas serta kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan desa secara berkelanjutan.
DEFITRIA RIKA WULANDARI
Kraksaan, Probolinggo --- Maliki Islamic University - KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya. Pengenalan Bullying dan Dampak Psikologis Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, menjadi pemateri pertama yang menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa. Games "Jeruk Juruk" Cairkan Suasana! Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Siswa laki-laki dan perempuan kompak mengikuti permainan dengan antusias, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa Abror & Nina: “Masa Depan Cerah Tanpa Bullying” Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok KKM, membawakan materi kedua mengenai pentingnya menggapai masa depan dan ajakan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. Eksperimen Kacamata Perspektif: Cerah vs Gelap Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata. Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa. Komitmen Tertulis di Sticky Notes Anti-Bullying Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, di mana seluruh 79 siswa menuliskan janji "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa. Mengapa Sosialisasi Ini Mendesak? Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Sekolah Berkomitmen Lanjutan Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad.
M. ABDULLAH SYAHRONI
Permasalahan pengelolaan sampah masih menjadi isu utama di wilayah pedesaan, khususnya pada desa yang belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Kelompok 70 “Nirmalasara” melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai salah satu solusi alternatif dalam pengelolaan sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa insinerator yang dibangun dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga dan mendapat respons positif dari masyarakat desa. Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang hingga saat ini belum sepenuhnya tertangani, terutama di wilayah pedesaan. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, seperti tidak tersedianya Tempat Pembuangan Akhir (TPA), menyebabkan masyarakat cenderung membuang sampah secara sembarangan atau melakukan pembakaran terbuka. Praktik tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat. Guna menghadapi permasalahan di atas, Desa Plandi, tepatnya Dusun Pandan Ploso, merupakan lokasi pelaksanaan KKM Kelompok 70 “Nirmalasara”. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan perangkat desa serta masyarakat setempat, pengelolaan sampah menjadi salah satu permasalahan utama yang membutuhkan penanganan. Oleh karena itu, Kelompok 70 “Nirmalasara” merancang dan melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai upaya pengelolaan sampah yang sederhana, efektif, dan sesuai dengan kondisi desa. Kegiatan pembuatan insinerator ini bertujuan untuk: Menyediakan sarana pengelolaan sampah bagi masyarakat desa. Mengurangi volume sampah yang tidak terkelola akibat ketiadaan TPA. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan kelestarian lingkungan. Mendukung terciptanya lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan pembuatan insinerator dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut. Observasi dan Identifikasi Masalah Kelompok melakukan observasi langsung terhadap kondisi lingkungan desa serta melakukan wawancara singkat dengan perangkat desa dan masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. Perencanaan Program Berdasarkan hasil observasi, kelompok menyusun perencanaan program kerja yang meliputi desain insinerator, pemilihan bahan, serta penentuan lokasi pembangunan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kemudahan penggunaan. Pelaksanaan Pembuatan Insinerator Pembuatan insinerator dilaksanakan secara gotong royong oleh anggota Kelompok 70 “Nirmalasara” dengan melibatkan masyarakat setempat. Proses ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun. Sosialisasi kepada Masyarakat Setelah insinerator selesai dibuat, dilakukan peresmian sekaligus sosialisasi kepada masyarakat mengenai fungsi, cara penggunaan, serta perawatan insinerator agar dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan. Hasil dari kegiatan ini adalah terbangunnya satu unit insinerator yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga di desa. Insinerator tersebut mampu mengurangi volume sampah dan membantu mengatasi permasalahan penumpukan sampah yang sebelumnya terjadi akibat ketiadaan TPA. Partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan menunjukkan antusiasme dan respons yang positif. Masyarakat mulai memahami pentingnya pengelolaan sampah yang baik serta dampaknya terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya menghasilkan sarana fisik, tetapi juga memberikan dampak edukatif bagi masyarakat desa. Program kerja pembuatan insinerator yang dilaksanakan oleh Kelompok 70 KKM “Nirmalasara” merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Keberadaan insinerator dapat menjadi solusi alternatif dalam pengelolaan sampah di desa yang belum memiliki TPA. Selain itu, kegiatan ini turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Diharapkan pemerintah desa dan masyarakat setempat dapat menjaga, merawat, serta memanfaatkan insinerator yang telah dibangun secara optimal. Selain itu, diperlukan program lanjutan berupa edukasi pemilahan sampah agar pengelolaan sampah di desa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
BILQIST ADNA SALSABILA
Darmawidya – Komitmen dalam mendukung penguatan ekosistem halal di Indonesia kembali ditunjukkan oleh Kelompok KKM Unggulan Halal Center Darmawidya. Dalam rangkaian program pengabdian kepada masyarakat, tim KKM berhasil memfasilitasi dan menerbitkan 14 sertifikat halal bagi pelaku UMKM binaan. Program ini merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mendukung implementasi kebijakan sertifikasi halal nasional yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia. Sertifikasi halal menjadi langkah strategis dalam meningkatkan daya saing produk sekaligus memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi konsumen Muslim. Proses Pendampingan Intensif Keberhasilan ini tidak terlepas dari proses pendampingan yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Tim KKM melakukan beberapa tahapan penting, antara lain: 1. Sosialisasi urgensi sertifikasi halal kepada pelaku usaha. 2. Pendampingan pengisian dokumen Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). 3. Verifikasi bahan dan proses produksi. 4. Pengajuan melalui sistem SIHALAL BPJPH. 5. Monitoring hingga terbitnya sertifikat halal. Sebagian besar pelaku usaha yang didampingi merupakan sektor makanan dan minuman rumahan yang sebelumnya belum memiliki legalitas halal resmi. Dampak Positif bagi UMK Dengan terbitnya 14 sertifikat halal ini, para pelaku UMKM kini memiliki: 1. Legalitas usaha yang lebih kuat 2. Peningkatan kepercayaan konsumen 3. Peluang ekspansi pasar yang lebih luas 4. Kesiapan menghadapi kewajiban sertifikasi halal nasional Sebagaimana diketahui, berdasarkan regulasi nasional, produk makanan dan minuman secara bertahap diwajibkan memiliki sertifikat halal. Oleh karena itu, program ini menjadi langkah preventif sekaligus progresif dalam membantu pelaku usaha beradaptasi dengan regulasi. Serta, KKM Halal Center Darmawidya hadir sebagai lembaga pendamping yang menjembatani kebutuhan administratif dan teknis pelaku usaha dalam proses sertifikasi. Melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif, tim KKM tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga menanamkan kesadaran pentingnya budaya halal dalam sistem produksi. Keberhasilan penerbitan 14 sertifikat halal ini menjadi bukti bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat mampu memberikan dampak nyata bagi penguatan ekonomi halal di tingkat lokal. Untuk kedepannya , KKM Unggulan Halal Center Darmawidya berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan pendampingan serta mendorong lebih banyak UMKM agar terfasilitasi sertifikasi halal. Harapannya, semakin banyak produk lokal yang tidak hanya unggul secara kualitas, tetapi juga terjamin kehalalannya.
PINONDA NABILA PUTRI DIANITA
Sejak matahari pagi mulai meninggi, Masjid Jami' Raudlatul Jannah di Kelurahan Tasikmadu tampak lebih ramai dari biasanya. Suara anak-anak yang mengulang hafalan, sebagian lain tampak mempersiapkan alat mewarnai, berpadu dengan pendamping yang setia memberi semangat. Pada Minggu, 1 Februari 2026, masjid ini menjadi saksi semangat puluhan santri TPQ yang mengikuti lomba antar TPQ yang digagas oleh Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 120 Raksaka Dharma Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan lomba antar TPQ ini merupakan bagian dari program pengabdian pelajar kepada masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan keagamaan anak. Sekitar 80 peserta dari lima Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) se-Kelurahan Tasikmadu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, turut ambil bagian dalam kegiatan yang dipusatkan di Masjid Jami' Raudlatul Jannah tersebut. Wadah Edukatif dan Religius bagi anak-anak TPQ Lomba antar TPQ tidak semata-mata dijadikan mata sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Melalui kegiatan ini, anak-anak TPQ diberi ruang untuk mengekspresikan kemampuan, melatih keberanian tampil di depan umum, serta menumbuhkan rasa percaya diri sejak dini. Mahasiswa KKM Kelompok 120 Raksaka Dharma merancang kegiatan ini dengan mempertimbangkan aspek edukatif, religius, dan perkembangan psikologis anak. Lingkungan masjid dipilih sebagai pusat kegiatan agar anak-anak tetap merasa dekat dengan nilai-nilai spiritual yang selama ini mereka pelajari di TPQ. Empat Cabang Lomba dan Mendidik dan Ramah Anak Dalam pelaksanaannya, panitia menyelenggarakan empat cabang lomba yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta, yakni lomba mewarnai, lomba adzan, lomba hafalan surat pendek dari Ad-Dhuha hingga An-Nas, serta lomba hafalan doa sehari-hari. Mewarnai lomba menjadi salah satu cabang yang paling diminati, khususnya oleh peserta usia dini. Melalui lomba ini, anak-anak diajak kreativitas, kerapian, dan ketelitian, sekaligus belajar menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Sementara itu, lomba adzan diikuti oleh peserta laki-laki dengan batasan usia tertentu. Penilaian tidak hanya menitikberatkan pada kekuatan suara dan irama, tetapi juga pada ketepatan makharijul huruf, kelancaran bacaan, serta adab saat melantunkan adzan sesuai tutunan. Pada lomba hafalan surat pendek, peserta diuji kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an dengan memperhatikan tajwid, fashahah, dan kelancaran bacaan. Lomba ini cermin menjadian dari proses pembelajaran Al-Qur'an yang selama ini dijalani anak-anak di TPQ masing-masing. Adapun lomba hafalan doa sehari-hari bertujuan membiasakan anak-anak untuk mengingat dan mengamalkan doa dalam aktivitas keseharian. Peserta diminta melafalkan doa secara hafalan, dengan penilaian yang mencakup ketepatan lafadz, kejelasan pengucapan, serta sikap saat membaca doa. Pelaksanaan Tertip Sesuai Petunjuk Teknis Seluruh rangkaian lomba dilaksanakan berdasarkan petunjuk teknis yang telah ditetapkan oleh panitia. Mulai dari mekanisme pendaftaran, pengundian urutan penampilan, durasi penampilan, hingga sistem penilaian, semuanya dirancang agar kegiatan berlangsung adil, tertib, dan kondusif Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan penyampaian juknis secara langsung agar peserta dan pendamping memahami alur perlombaan. Perlombaan berlangsung dalam dua sesi dengan jeda istirahat, salat, dan makan siang. Dewan juri melakukan penilaian secara objektif sesuai dengan kriteria pada masing-masing cabang lomba. Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana Masjid Jami' Raudlatul Jannah tetap terjaga dengan baik. Anak-anak menunggu giliran tampil dengan penuh antusias, sementara para pendamping memberikan dukungan secara positif tanpa mengganggu jalannya lomba. Antusiasme dan Dampak Positif bagi Peserta Antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan ini. Banyak anak yang tampak bangga dapat tampil dan menunjukkan kemampuan mereka di hadapan juri dan peserta lain. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi antar TPQ di wilayah Tasikmadu. Dari sisi pendidikan, lomba antar TPQ memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anak-anak. Mereka belajar berkompetisi secara sehat, menghargai proses, serta menerima hasil dengan sikap sportif. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting dalam pembentukan karakter anak sejak dini. Bagi mahasiswa KKM, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam mengelola kegiatan sosial kemasyarakatan. Siswa belajar bekerja sama, berkomunikasi dengan berbagai pihak, serta mengimplementasikan peran pengabdian kepada masyarakat secara nyata. Harapan dan Keberlanjutan Kegiatan Melalui kegiatan lomba antar TPQ ini, KKM Kelompok 120 Raksaka Dharma UIN Malang berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Tasikmadu, khususnya dalam penguatan pendidikan keagamaan anak. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi lahirnya program-program edukatif serupa yang berkelanjutan. Sinergi antara mahasiswa, TPQ, pengurus masjid, dan masyarakat menjadi kunci terciptanya generasi Qurani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, berani, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
SITI ANNISA RAHMIASARI
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri UIN Malang mengadakan sosialisasi pola asuh anak. Bertempat di aula Kertosari, Kelurahan Ketawanggede, Lowokwaru Kota Malang yang mendapat respon positif dari warga setempat Suasana Aula Kertosari, Kelurahan Ketawanggede, dipadati oleh antusiasme warga, guru PAUD, wali murid, dan tokoh masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Pola Asuh Anak berjudul “Menemukan Gaya Pengasuhan Terbaik untuk Si Kecil.” Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 28 Januari 2025, dengan tujuan utama meningkatkan pemahaman orang tua dan pendidik tentang pola asuh yang tepat di era digital. Event yang diselenggarakan di Aula Kertosari ini melibatkan PKK Kelurahan Ketawanggede, Guru PAUD setempat, Wali murid PAUD, dan beberapa tokoh masyarakat Kelurahan Ketawanggede. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana sosialisasi bagi masyarakat, guru PAUD, dan wali murid PAUD di sekitar Kelurahan Ketawanggede. Dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang pola asuh yang relevan dengan tantangan masa kini. Juga sebagai upaya untuk memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas dalam mendukung tumbuh kembang anak. Serta tujuan lainnya adalah menyediakan panduan praktis bagi orang tua menghadapi dinamika pengasuhan di era digital. Selain peran PKK, para pendidik dari KKM PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang turut memaparkan materi terkait pola asuh yang responsif dan adaptif terhadap kebutuhan anak-anak PAUD. Diskusi interaktif juga disuguhkan untuk menggali solusi praktik terbaik yang dapat diadopsi keluarga dan sekolah setempat. Kegiatan sosialisasi ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi lintas instansi dapat memperkuat upaya pengasuhan anak yang sehat di tingkat keluarga maupun komunitas. Dengan semangat kebersamaan, diharapkan setiap si kecil di Ketawanggede dapat tumbuh dalam pola asuh yang aman, penuh kasih, dan mendukung perkembangan optimal.