MOHAMMAD DAVA GIRI ALFIKRI
Bulan Ramadhan merupakan momen yang penuh berkah dan sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan berbagai kegiatan ibadah. Suasana kebersamaan, semangat belajar agama, serta kegiatan keagamaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat selama bulan suci ini. Melalui berbagai kegiatan positif, nilai-nilai keagamaan dapat semakin ditanamkan, terutama kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Semangat tersebut juga diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tambak Rejo, Jombang. Selama menjalankan program KKM di bulan Ramadhan, mahasiswa mengadakan beberapa kegiatan keagamaan bersama masyarakat setempat. Kegiatan yang dilakukan antara lain tadarus Al-Qur'an bersama warga serta mengajar anak-anak di TPQ. Kegiatan tadarus bertujuan untuk menghidupkan suasana Ramadhan dan meningkatkan semangat masyarakat dalam membaca Al-Qur'an. Sementara itu, kegiatan mengajar TPQ dilakukan untuk membantu anak-anak dalam belajar membaca Al-Qur'an serta memahami dasar-dasar ajaran Islam dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Sebagai puncak kegiatan, mahasiswa KKM juga mengadakan sosialisasi mengenai tata cara wudhu yang benar sesuai ajaran Islam. Sosialisasi ini dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026, di Desa Tambak Rejo, Jombang. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan langkah-langkah berwudhu secara sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak maupun masyarakat yang hadir.
SALMAN ALFARIS
POJOK KLITIH, Kec. Plandaan 5 Mei 2026 Kuliah Kerja Nyata (KKM) merupakan fase di mana teori akademik berbenturan dengan realitas sosial. Setelah menjalani masa pengabdian selama 30 hari, tim mahasiswa KKM UNIVERSITAS MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG resmi menutup rangkaian program kerja mereka yang bertajuk “Ruang Senandika”. Berbeda dengan program yang dipersembahkan pada umumnya yang hanya fokus pada pembangunan fisik, “Ruang Senandika” yang dicetuskan kini hadir sebagai wadah pertukaran ide dan perasaan antara pelajar dengan lokal, mulai dari anak sekolah dasar masyarakat hingga pemuda bahkan orang tua ikut serta dalam mendukung proses selama menjalankan program-program yang ada. Filosofi di Balik Nama Menurut Ketua Unit KKM, Alfinoza Rolis, pemilihan nama Senandika yang berarti wacana dengan diri sendiri dipilih karena program ini diharapkan menjadi momen refleksi bagi mahasiswa dan Masyarakat yang ada di Desa Pojok Klitih. “Kami tidak hanya sekedar datang dan pergi. Ruang Senandika adalah upaya kami untuk mendengar suara hati, memahami keresahan mereka, dan bersama-sama mencari solusi yang berkelanjutan dan pada akhirnya kami mencetuskan nama yang dimana nama itulah yang dapat digunakan sebagai ruang untuk Masyarakat terkhusus pada pendidikan” makanya dalam Berbagai penutupan. Program Unggulan yang Terlaksana Selama masa pengabdiannya, tim KKM berhasil merealisasikan beberapa strategi program, di antaranya: 1. Pojok Literasi: Pembangunan (ruang senandika) atau taman baca yang inklusif bagi anak-anak desa guna meningkatkan minat baca sejak dini mulai dari pembelajaran keagamaan, akademik maupun non akademik. 2. Serbasana ( sesrawungan bareng senandika ) : Program penghijauan dan edukasi pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga serta melakukan kerja bakti Bersama. Kesan dari Masyarakat Kehadiran siswa memberikan warna tersendiri bagi warga Desa pojok klitih. Ibu Luluk Ismiyatin, selaku salah satu tokoh masyarakat mengungkapkan banyak rasa terima kasihnya. “Mahasiswa bukan lagi tamu, tapi sudah seperti keluarga. Melalui program program yang dibuat oleh pelajar terutama Ruang Senandika, banyak anak di desa kami yang kini lebih berani bermimpi mulai dari akademiknya, non akademiknya maupun dari keagamaannya dan banyak pemuda ikut sekarang ikut aktif dalam kegiatan di desa” tuturnya. Ruang Senandika mungkin telah ditutup secara formal, namun semangat kolaborasi dan refleksi yang ditinggalkan akan terus menggema di setiap sudut Desa Pojok Klitih. Siswa kini pulang membawa bukan hanya nilai di transkrip, tapi pelajaran hidup yang tidak ditemukan di ruang kelas. Kontak Media: Moch. Rizal Efendi, Salman Alfaris / Divisi Humas KKM +62 813xxxxxxxx / senandika00@gmail.com Instagram: @am.senandika_
HALIYA PINKY LAUNIA
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fase krusial dalam masa keemasan (golden age) perkembangan anak. Pada masa ini, stimulasi terbaik tidak hanya didapatkan melalui interaksi di dalam ruang kelas saja, melainkan lewat pengalaman nyata yang menyentuh panca indra mereka. Pembelajaran kontekstual luar kelas atau yang biasa dikenal sebagai outing class hadir sebagai strategi efektif untuk menjembatani teori dan realita kehidupan. Sebagai lembaga pendidikan yang telah mengantongi Akreditasi A, KB TK Muslimat NU 2 Singosari terus berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu tinggi dan inovatif. Sekolah yang beralamat di Jl. Sidorejo No. 8, Pagentan, Singosari, Malang ini menyadari betul pentingnya mengenalkan kearifan lokal (local wisdom) kepada para peserta didik. Di bawah kepemimpinan Ibu Hj. Siti Aisyah, S.Pd., sekolah merancang sebuah agenda edukatif yang memanfaatkan kekayaan sejarah di lingkungan sekitar, yakni kawasan cagar budaya Singosari. Kegiatan pembelajaran berbasis lingkungan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Januari 2026. Program ini dirancang secara inklusif dan masif, melibatkan seluruh siswa-siswi serta dewan guru KB TK Muslimat NU 2 Singosari. Tidak kalah penting, jalannya kegiatan ini juga didampingi penuh oleh para mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) yang bahu-membahu bersama guru kelas di masing-masing kelompok. Kehadiran tim AM ini memberikan kontribusi besar dalam memastikan rasio pendampingan anak berjalan ideal dan aman. Sejak pagi hari, keceriaan tampak jelas dari wajah anak-anak yang tampil rapi menggunakan seragam Hijau Putih. Warna ini tidak hanya merepresentasikan identitas sekolah yang asri dan islami, tetapi juga memudahkan pemantauan visual di ruang publik. Destinasi edukasi kali ini mencakup tiga titik historis utama di wilayah Singosari, yaitu Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan Museum Singosari. Secara akademis, kunjungan ke situs sejarah seperti Candi Singosari, Arca Dwarapala, dan Museum Singosari memberikan stimulasi multiaspek bagi anak usia dini. Destinasi pertama dan kedua, yaitu candi dan arca raksasa Dwarapala, merangsang aspek kognitif dan fisik motorik anak. Mereka belajar mengamati bentuk geometri candi secara langsung, mengagumi ukuran fisik arca yang megah, serta berjalan mengeksplorasi area terbuka. Sementara itu, kunjungan ke Museum Singosari memberikan pemahaman yang lebih terstruktur melalui benda-benda peninggalan purbakala yang tersusun rapi di dalam etalase. Namun, nilai paling esensial dari kegiatan outing class ini terletak pada proses internalisasi karakter, etika, dan sopan santun di ruang publik. Guru dan mahasiswa Asistensi Mengajar secara aktif memberikan pembiasaan positif kepada anak-anak selama di lokasi. Salah satunya adalah penerapan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun). Anak-anak diajak untuk menyapa dan melakukan tradisi salam-salim (mencium tangan) kepada petugas atau penjaga candi. Tindakan sederhana ini merupakan stimulasi kecerdasan interpersonal yang mengajarkan anak untuk menghargai serta menghormati setiap orang, khususnya para penjaga kelestarian sejarah. Selain itu, aspek sosial-emosional anak juga dilatih melalui pembiasaan menjaga ketertiban. Berada di cagar budaya menuntut anak-anak untuk belajar mengendalikan diri: mereka diajarkan berjalan mengantri, tidak berlarian di area yang sakral atau berbahaya, tidak menyentuh objek secara sembarangan, serta mendengarkan instruksi guru dengan baik. Melalui pendekatan yang humanis, anak-anak memahami bahwa menjaga sikap sopan santun merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Melalui kegiatan outing class yang diselenggarakan oleh KB TK Muslimat NU 2 Singosari, dapat disimpulkan bahwa situs warisan budaya lokal sangat efektif ditransformasikan menjadi laboratorium belajar yang ramah anak. Sinergi yang baik antara Kepala Sekolah Ibu Hj. Siti Aisyah, S.Pd., para guru kelas, dan mahasiswa Asistensi Mengajar (AM) menjadi kunci suksesnya kegiatan ini. Program ini berhasil membuktikan bahwa pengenalan sejarah dan penanaman karakter mulia seperti sopan santun, ketertiban, dan kemandirian dapat tumbuh subur ketika anak-anak dilibatkan langsung dalam lingkungan sosial yang nyata.
VANESHALIA EKA RIZQI ANGGRAINI
TAROKAN, KEDIRI – Suasana senja di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kecamatan Tarokan kini tak lagi sama. Sejak kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 3 Februari lalu, lantunan ayat suci Al-Qur’an kini bersahutan dengan tawa ceria dan antusiasme tinggi dari para santri. Melalui program bertajuk "Ngaji Bareng", para mahasiswa membawa warna baru dalam pengabdian masyarakat. Program ini tidak hanya fokus pada kelancaran membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral anak-anak sejak dini. Sentuhan Kreatif Jika biasa nya pembelajaran TPQ cenderung monoton , tim KKM UIN Malang mengubahnya menjadi interaktif. Mereka menyisipkan metode belajar melalui permainan edukatif, mendongeng kisah para Nabi, hingga menyanyi lagu-lagu religi. "Kami ingin anak-anak merasa bahwa mengaji itu menyenangkan, bukan beban. Dengan begitu, nilai-nilai agama akan lebih mudah meresap ke hati mereka," ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKM. Salah seorang santri mengaku sangat menikmati kehadiran para mahasiswa. "Senang sekali ada kakak-kakak KKM, ngajinya jadi lebih seru dan tidak membosankan," ungkapnya dengan wajah sumringah. Kedekatan Emosional Peran mahasiswa di sini melampaui sekadar pengajar. Mereka membangun kedekatan emosional sebagai teman cerita dan motivator bagi para santri. Hal ini mendapat apresiasi besar dari para ustadz setempat dan masyarakat sekitar yang merasakan dampak positif pada kedisiplinan anak-anak mereka dalam beribadah. Penutupan KKM Sebagai puncak pengabdian, pada 13-14 April lalu, mahasiswa menggelar rangkaian perlombaan sebagai ajang apresiasi bagi para santri. Berbagai lomba seperti hafalan doa harian dan lomba mewarnai digelar dengan penuh kemeriahan. Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga Tarokan. Meski masa penugasan telah berakhir, harapan besar telah dititipkan pada pundak generasi kecil ini untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berdaya di masa depan. (Red/ADV)
AHMAD RAYHAN FIKRY AZIZ
TAROKAN, KEDIRI – Suasana senja di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kecamatan Tarokan kini tak lagi sama. Sejak kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 3 Februari lalu, lantunan ayat suci Al-Qur’an kini bersahutan dengan tawa ceria dan antusiasme tinggi dari para santri. Melalui program bertajuk "Ngaji Bareng", para mahasiswa membawa warna baru dalam pengabdian masyarakat. Program ini tidak hanya fokus pada kelancaran membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral anak-anak sejak dini. Sentuhan Kreatif Jika biasa nya pembelajaran TPQ cenderung monoton , tim KKM UIN Malang mengubahnya menjadi interaktif. Mereka menyisipkan metode belajar melalui permainan edukatif, mendongeng kisah para Nabi, hingga menyanyi lagu-lagu religi. "Kami ingin anak-anak merasa bahwa mengaji itu menyenangkan, bukan beban. Dengan begitu, nilai-nilai agama akan lebih mudah meresap ke hati mereka," ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKM. Salah seorang santri mengaku sangat menikmati kehadiran para mahasiswa. "Senang sekali ada kakak-kakak KKM, ngajinya jadi lebih seru dan tidak membosankan," ungkapnya dengan wajah sumringah. Kedekatan Emosional Peran mahasiswa di sini melampaui sekadar pengajar. Mereka membangun kedekatan emosional sebagai teman cerita dan motivator bagi para santri. Hal ini mendapat apresiasi besar dari para ustadz setempat dan masyarakat sekitar yang merasakan dampak positif pada kedisiplinan anak-anak mereka dalam beribadah. Penutupan KKM Sebagai puncak pengabdian, pada 13-14 April lalu, mahasiswa menggelar rangkaian perlombaan sebagai ajang apresiasi bagi para santri. Berbagai lomba seperti hafalan doa harian dan lomba mewarnai digelar dengan penuh kemeriahan. Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga Tarokan. Meski masa penugasan telah berakhir, harapan besar telah dititipkan pada pundak generasi kecil ini untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berdaya di masa depan. (Red/ADV)
FARHAN FEBRIANSYAH
Pernahkah kalian membayangkan betapa repotnya seorang guru pembina ketika harus merapikan puluhan draf proposal kegiatan murid setiap bulannya? Di MTsN 2 Malang, antusiasme murid dalam berorganisasi dan mengadakan kegiatan sangatlah tinggi. Namun, antusiasme ini sering kali berbenturan dengan satu kendala klasik yaitu urusan administrasi. Selama ini, para pengurus organisasi kesiswaan masih sangat bergantung pada guru pembina mereka dalam menyusun proposal kegiatan. Bukan karena muridnya tidak mampu, melainkan belum adanya pembekalan keterampilan teknis penulisan yang memadai. Alhasil, draf yang diajukan sering kali harus direvisi berulang kali, pengajuan persetujuan menjadi lambat, dan guru pembina justru terbebani oleh urusan teknis operasional yang menyita waktu. Melihat fenomena ini, kami dari Kelompok AM–KKM Edunara 46 di bawah koordinasi ketua kelompok, Nasrullah Nur Iqbal Ramadhani Azzuhri (Pendidikan Bahasa Arab), merancang sebuah program intervensi edukatif, Softskill Improvement: Pelatihan Penulisan Proposal, dengan tema “Organizational Excellence: Optimalisasi Keterampilan Administratif Menuju Tata Kelola Profesional” Kolaborasi Pemimpin Muda Madrasah Kegiatan ini secara khusus menyasar para penggerak utama kegiatan murid di MTsN 2 Malang. Kami mengumpulkan pengurus OSIM, perwakilan inti dari REMAS (Remaja Masjid), SSK (Sekolah Siaga Kependudukan), hingga para pengurus 19 ekstrakurikuler di madrasah. Sesi pelatihan dan bedah draf proposal ini dipandu langsung oleh salah satu anggota kelompok kami, Lila Auliani (PAI). Alih-alih memberikan teori menulis proposal dari nol yang membosankan, sesi materi ini dirancang dengan pendekatan yang lebih taktis dan membumi: memanfaatkan templat proposal resmi madrasah yang sudah ada. Dari Teori ke Praktik: Perjalanan Selama Satu Pekan Untuk memastikan keterampilan penulisan ini benar-benar dikuasai dan dapat diaplikasikan, kami tidak hanya menggelar pelatihan satu hari. Program ini dirancang berjalan secara berkelanjutan selama satu pekan penuh, tepatnya pada tanggal 17 hingga 24 April 2026, dengan alur sebagai berikut. Pertemuan Pertama (17 April 2026): Agenda dibuka dengan pemaparan materi awal yang dibawakan melalui metode diskusi terbuka. Para murid diajak berinteraksi langsung membedah komponen-komponen penting dalam sebuah proposal resmi. Satu Pekan Pendampingan Intensif: Setelah berdiskusi, peserta tidak dilepas begitu saja. Selama satu pekan berikutnya, mereka ditugaskan untuk menyusun draf proposal secara berkelompok dengan didampingi langsung oleh mahasiswa AM–KKM sebagai mentor, yaitu Diah Nur & Farhan Febriansyah (PAI), Najwa Elok & Dinda Pandu (PIPS), Indi Ainur & Maria Salma (PBA), Nailah Nadwah (TBI), serta Vika Asana (TM). Pertemuan Puncak (24 April 2026): Sebagai penutup rangkaian, kami menggelar sesi presentasi hasil kerja masing-masing organisasi yang dilanjutkan dengan bedah revisi secara langsung. Output Nyata: Karya Siap Melaju ke Kepala Madrasah Hasil dari rangkaian pendampingan selama satu pekan ini bukanlah sekadar nilai di atas kertas. Sebagai bukti dari peningkatan kapasitas peserta, kegiatan ini melahirkan output nyata berupa dokumen resmi yang telah matang secara redaksional. Pada akhir pertemuan, peserta berhasil merampungkan Proposal Kegiatan Outbond OSIM dan Proposal Mading Informatif Madrasah. Draf-draf tersebut kini sudah tersusun rapi, memenuhi standar tata kelola madrasah, dan siap untuk langsung diajukan ke meja Kepala Madrasah. Dampak yang Diharapkan Melalui program Softskill Improvement ini, Kelompok AM–KKM Edunara 46 menargetkan perubahan budaya kerja di lingkungan organisasi madrasah. Beberapa proyeksi nyata yang menjadi tujuan utama kami antara lain: Pengurus organisasi, baik OSIM, REMAS, SSK, maupun ekstrakurikuler dapat memiliki kemampuan teknis untuk menyusun draf proposal yang logis dan terstruktur secara mandiri. Beban operasional guru pembina berkurang drastis, sehingga mereka bisa kembali fokus pada fungsi pengawasan dan bimbingan karakter, bukan sekadar menjadi "editor dadakan". Draf awal yang diajukan murid sudah rapi, meminimalisir revisi, dan membuat alur persetujuan kegiatan menjadi jauh lebih lancar. Kemampuan menulis proposal mungkin terlihat seperti urusan administratif yang “sepele”. Namun, bagi murid pengurus organisasi di MTsN 2 Malang, ini adalah langkah nyata untuk belajar bertanggung jawab, berpikir sistematis, dan bertransformasi menjadi pemimpin muda yang mandiri!