MUCHAMMAD ARIFURROHMAN HASIBUAN
MTsN Gresik merupakan salah satu sekolah yang telah dikenal sebagai sekolah Adiwiyata, yaitu sekolah yang memiliki komitmen dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyediaan fasilitas kebersihan hingga pembiasaan perilaku hidup bersih di lingkungan sekolah. Namun, terlepas dari predikat tersebut, tantangan dalam membangun kesadaran dan kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan masih tetap ada. Masih ditemukan perilaku seperti membuang sampah tidak pada tempatnya atau kurang menjaga kebersihan fasilitas umum. Hal ini menunjukkan bahwa program dan fasilitas saja belum cukup tanpa adanya kesadaran yang tumbuh dari dalam diri setiap individu. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa AM-KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadirkan sebuah program yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga mendorong aksi nyata melalui seminar, workshop, dan lomba video kreatif di MTsN Gresik. 1. Seminar sebagai Langkah Awal Membangun Kesadaran Kegiatan diawali dengan seminar edukasi yang membahas pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Dalam sesi ini, siswa diajak untuk memahami bahwa kebersihan bukan sekadar kewajiban, tetapi bagian dari karakter dan tanggung jawab bersama. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan yang komunikatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mulai menyadari pentingnya perubahan perilaku dalam kehidupan nyata. 2. Workshop Poster: Dari Pemahaman ke Kreativitas Setelah mendapatkan pemahaman melalui seminar, siswa diajak untuk menuangkan ide dan gagasan mereka melalui workshop pembuatan poster menggunakan media Canva. Workshop ini menjadi jembatan antara pengetahuan dan kreativitas. Siswa tidak hanya belajar desain, tetapi juga belajar menyampaikan pesan moral secara visual. Poster yang dibuat berisi ajakan menjaga kebersihan lingkungan dengan tampilan yang menarik dan mudah dipahami. Kegiatan ini juga memberikan pengalaman bahwa kampanye kebersihan tidak harus selalu formal, tetapi bisa dikemas secara kreatif dan menyenangkan. 3. Lomba Video: Mendorong Aksi Nyata dan Kolaborasi Tidak berhenti pada tahap kreativitas visual, kegiatan ini juga menghadirkan lomba video kreatif bertema kebersihan lingkungan. Setiap kelas didorong untuk membuat konten yang menampilkan aksi nyata dalam menjaga kebersihan. Melalui video tersebut, siswa tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menunjukkan praktik langsung seperti kerja bakti, menjaga kebersihan kelas, hingga mengajak teman-temannya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Lomba ini menjadi sarana yang efektif dalam menumbuhkan semangat kolaborasi, kreativitas, serta kepedulian siswa secara lebih nyata. 4. Dari Karya ke Gerakan Berkelanjutan Poster-poster terbaik yang dihasilkan kemudian dipasang di area strategis sekolah sebagai media pengingat visual yang berkelanjutan. Sementara itu, video-video kreatif menjadi bentuk dokumentasi sekaligus inspirasi bagi siswa lainnya. Melalui langkah ini, pesan kebersihan tidak hanya berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi terus hadir dalam keseharian siswa di lingkungan sekolah. 5. Kolaborasi sebagai Kunci Perubahan Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari mahasiswa KKM, guru, kepala sekolah, hingga pengurus OSIS. Sinergi ini menjadi faktor penting dalam memastikan bahwa gerakan yang dilakukan tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga dapat berkelanjutan. Melalui rangkaian kegiatan seminar, workshop, dan lomba video, mahasiswa AM-KKM UIN Malang berhasil menghadirkan pendekatan yang tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga mendorong aksi nyata. Dari yang awalnya sekadar mengetahui, siswa kini mulai terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Pada akhirnya, membangun budaya bersih tidak cukup hanya dengan aturan atau fasilitas, tetapi harus ditumbuhkan melalui kesadaran dan keterlibatan langsung. Pendekatan dari edukasi menuju aksi seperti ini menjadi salah satu langkah nyata dalam menciptakan perubahan.
KHOIRUN NISA`
TPQ Al-Ikhlas menyelenggarakan kegiatan Lomba Bersih Kampung yang dikemas secara menarik dengan nuansa perlombaan khas 17 Agustusan. Kegiatan ini dilaksanakan pada [isi hari, tanggal] bertempat di lingkungan TPQ Al-Ikhlas, dengan melibatkan seluruh santri serta didukung oleh Mahasiswa Asistensi Mengajar dari UIN Malang sebagai panitia pelaksana. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara lembaga pendidikan keagamaan dengan mahasiswa dalam rangka memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi santri. Selain bertujuan untuk menanamkan nilai kebersihan sebagai bagian dari iman, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, sportivitas, serta rasa tanggung jawab sosial. Sejak awal kegiatan, suasana tampak meriah dan penuh semangat. Para santri terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian acara yang telah disusun oleh panitia. Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan simbolis pemotongan pita sebagai tanda dimulainya lomba, yang disambut dengan sorak gembira dari para peserta. Berbagai jenis perlombaan khas perayaan 17 Agustus turut memeriahkan kegiatan ini, seperti lomba estafet, lomba ketangkasan, lomba kekompakan tim, serta permainan edukatif yang disesuaikan dengan usia santri. Selain itu, kegiatan utama berupa lomba bersih kampung juga menjadi fokus utama, di mana para santri diajak untuk membersihkan lingkungan sekitar TPQ, merapikan area belajar, serta menjaga kebersihan fasilitas yang ada. Mahasiswa Asistensi Mengajar UIN Malang berperan aktif dalam mengoordinasikan jalannya kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Mereka juga memberikan pendampingan langsung kepada santri selama kegiatan berlangsung, sehingga tercipta suasana yang interaktif, edukatif, dan menyenangkan. Kehadiran mahasiswa ini memberikan warna tersendiri serta menjadi inspirasi bagi para santri untuk terus semangat dalam menuntut ilmu.Interaksi yang terjalin selama kegiatan berlangsung menunjukkan nilai-nilai positif seperti kebersamaan, kepedulian, serta rasa tanggung jawab. Santri terlihat saling membantu, berbagi tugas, dan bekerja sama dalam menyelesaikan setiap kegiatan yang diberikan. Kegiatan ini ditutup dengan pengumuman pemenang lomba dan pemberian apresiasi kepada kelompok terbaik. Meskipun demikian, seluruh peserta tetap mendapatkan pengalaman berharga yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendidik. Secara keseluruhan, kegiatan Lomba Bersih Kampung yang dikombinasikan dengan lomba 17 Agustusan ini berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh keceriaan. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam membentuk karakter santri yang peduli lingkungan, disiplin, serta memiliki semangat kebersamaan. Melalui kegiatan ini, TPQ Al-Ikhlas bersama Mahasiswa Asistensi Mengajar UIN Malang berharap dapat terus menghadirkan program-program edukatif yang kreatif dan inovatif, sehingga mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara keagamaan, tetapi juga memiliki karakter sosial yang kuat dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
EVA FANNY FU`ADAH
TPQ Al-Ikhlas menyelenggarakan kegiatan Lomba Bersih Kampung yang dikemas secara menarik dengan nuansa perlombaan khas 17 Agustusan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 8 Februari 2026 bertempat di lingkungan TPQ Al-Ikhlas, dengan melibatkan seluruh santri serta didukung oleh Mahasiswa Asistensi Mengajar dari UIN Malang sebagai panitia pelaksana. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara lembaga pendidikan keagamaan dengan mahasiswa dalam rangka memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi santri. Selain bertujuan untuk menanamkan nilai kebersihan sebagai bagian dari iman, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, sportivitas, serta rasa tanggung jawab sosial Sejak awal kegiatan, suasana tampak meriah dan penuh semangat. Para santri terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian acara yang telah disusun oleh panitia. Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan simbolis pemotongan pita sebagai tanda dimulainya lomba, yang disambut dengan sorak gembira dari para peserta. Berbagai jenis perlombaan khas perayaan 17 Agustus turut memeriahkan kegiatan ini, seperti lomba estafet, lomba ketangkasan, lomba kekompakan tim, serta permainan edukatif yang disesuaikan dengan usia santri. Selain itu, kegiatan utama berupa lomba bersih kampung juga menjadi fokus utama, di mana para santri diajak untuk membersihkan lingkungan sekitar TPQ, merapikan area belajar, serta menjaga kebersihan fasilitas yang ada. Mahasiswa Asistensi Mengajar UIN Malang berperan aktif dalam mengoordinasikan jalannya kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Mereka juga memberikan pendampingan langsung kepada santri selama kegiatan berlangsung, sehingga tercipta suasana yang interaktif, edukatif, dan menyenangkan. Kehadiran mahasiswa ini memberikan warna tersendiri serta menjadi inspirasi bagi para santri untuk terus semangat dalam menuntut ilmu.Interaksi yang terjalin selama kegiatan berlangsung menunjukkan nilai-nilai positif seperti kebersamaan, kepedulian, serta rasa tanggung jawab. Santri terlihat saling membantu, berbagi tugas, dan bekerja sama dalam menyelesaikan setiap kegiatan yang diberikan. Kegiatan ini ditutup dengan pengumuman pemenang lomba dan pemberian apresiasi kepada kelompok terbaik. Meskipun demikian, seluruh peserta tetap mendapatkan pengalaman berharga yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendidik. Secara keseluruhan, kegiatan Lomba Bersih Kampung yang dikombinasikan dengan lomba 17 Agustusan ini berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh keceriaan. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam membentuk karakter santri yang peduli lingkungan, disiplin, serta memiliki semangat kebersamaan. Melalui kegiatan ini, TPQ Al-Ikhlas bersama Mahasiswa Asistensi Mengajar UIN Malang berharap dapat terus menghadirkan program-program edukatif yang kreatif dan inovatif, sehingga mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara keagamaan, tetapi juga memiliki karakter sosial yang kuat dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar
ISTIGHFARA AYUN TOMIA ROMADHONA
Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri. Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan. Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.
WILDA ELZAHIRA
TAROKAN, KEDIRI – Suasana senja di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kecamatan Tarokan kini tak lagi sama. Sejak kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 3 Februari lalu, lantunan ayat suci Al-Qur’an kini bersahutan dengan tawa ceria dan antusiasme tinggi dari para santri. Melalui program bertajuk "Ngaji Bareng", para mahasiswa membawa warna baru dalam pengabdian masyarakat. Program ini tidak hanya fokus pada kelancaran membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral anak-anak sejak dini. Sentuhan Kreatif Jika biasa nya pembelajaran TPQ cenderung monoton , tim KKM UIN Malang mengubahnya menjadi interaktif. Mereka menyisipkan metode belajar melalui permainan edukatif, mendongeng kisah para Nabi, hingga menyanyi lagu-lagu religi. "Kami ingin anak-anak merasa bahwa mengaji itu menyenangkan, bukan beban. Dengan begitu, nilai-nilai agama akan lebih mudah meresap ke hati mereka," ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKM. Salah seorang santri mengaku sangat menikmati kehadiran para mahasiswa. "Senang sekali ada kakak-kakak KKM, ngajinya jadi lebih seru dan tidak membosankan," ungkapnya dengan wajah sumringah. Kedekatan Emosional Peran mahasiswa di sini melampaui sekadar pengajar. Mereka membangun kedekatan emosional sebagai teman cerita dan motivator bagi para santri. Hal ini mendapat apresiasi besar dari para ustadz setempat dan masyarakat sekitar yang merasakan dampak positif pada kedisiplinan anak-anak mereka dalam beribadah. Penutupan KKM Sebagai puncak pengabdian, pada 13-14 April lalu, mahasiswa menggelar rangkaian perlombaan sebagai ajang apresiasi bagi para santri. Berbagai lomba seperti hafalan doa harian dan lomba mewarnai digelar dengan penuh kemeriahan. Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga Tarokan. Meski masa penugasan telah berakhir, harapan besar telah dititipkan pada pundak generasi kecil ini untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berdaya di masa depan. (Red/ADV)
SELY NAFIDATUN NAJMI
Panti Jompo Tresna Werdha di Blitar merupakan lembaga yang fokus memberikan pelayanan dan pendampingan bagi para lansia. Seiring proses penuaan, para penghuni di panti ini umumnya mengalami penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun sosial. Selain kendala kesehatan tubuh, keterbatasan komunikasi dengan keluarga membuat sebagian lansia mengalami masalah emosional, seperti rasa kesepian dan kurang percaya diri. Aktivitas harian yang monoton juga membuat mereka rentan merasa jenuh dan kurang bersemangat. Jika dibiarkan begitu saja, rendahnya aktivitas fisik serta kurangnya dukungan emosional ini tentu dapat menurunkan kualitas hidup dan kesejahteraan mental para lansia. Melihat kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lintas jurusan hadir untuk menggelar aksi nyata. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Dimas Femy Sasongko, M.Pd., mereka merancang program pengabdian masyarakat berbasis pendampingan holistik melalui metode pendekatan partisipatif. Dengan metode ini, para lansia diajak terlibat aktif dalam setiap kegiatan agar terjalin komunikasi yang akrab dan hangat. Guna menyentuh seluruh aspek kesejahteraan secara menyeluruh, pendampingan holistik ini mengintegrasikan tiga aktivitas utama. Pertama, kegiatan senam pagi bersama dengan gerakan sederhana yang aman untuk menjaga kebugaran jasmani sekaligus meningkatkan semangat lansia di pagi hari. Kedua, bakti sosial yang dikombinasikan dengan pendampingan emosional lewat obrolan dari hati ke hati agar mereka merasa lebih diperhatikan dan disayangi. Ketiga, program "Panggung Kenangan" sebagai sarana hiburan interaktif yang memberikan ruang bagi para lansia untuk mengekspresikan diri, bernyanyi bersama, serta bernostalgia menceritakan kisah masa muda mereka. Berdasarkan hasil evaluasi pascapelaksanaan program, pendampingan holistik ini terbukti membawa perubahan yang sangat positif bagi kualitas hidup para lansia. Dari aspek fisik, lansia menjadi lebih aktif bergerak dan bugar berkat rutinitas senam pagi. Dari segi sosial dan emosional, mereka yang awalnya cenderung menutup diri kini berubah menjadi lebih terbuka, komunikatif, serta tampak jauh lebih bahagia karena rasa sepi mereka berkurang. Program pengabdian ini menegaskan sebuah esensi penting bahwa kesejahteraan di usia senja tidak hanya bergantung pada kesehatan fisik saja, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh hadirnya perhatian emosional dan dukungan sosial yang hangat dari lingkungan sekitar.