Thumbnail
2 months ago
Eco Green dimulai dari rumah: Belajar dari lingkungan Dari desa campur darat

DAREN ANANTA

Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.

Thumbnail
2 months ago
Mengabdi Untuk Negeri: KKM Unggulan Pusat Studi Gender dan Anak UIN Malang Hadir dalam Pengabdian Nyata di Sekolah Rakyat Terintegrasi 47 Malang

FATHIMAH ZAHRA MUHAMMAD

Sebagai wujud implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Sekolah Rakyat Terintegrasi 47 Malang. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan nyata dunia akademik terhadap program Sekolah Rakyat yang baru diluncurkan dalam kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.   KKM Unggulan PSGA UIN Malang ini diikuti oleh delapan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Mereka akan menjalankan pengabdian selama 40 hari, terhitung sejak 05 Januari 2026 hingga 14 Februari 2026. Kehadiran mahasiswa disambut dengan baik oleh pihak sekolah dan pengelola asrama, mengingat Sekolah Rakyat Terintegrasi 47 Malang masih berada pada fase awal pengembangan dan membutuhkan dukungan berbagai pihak.   Sebagai sekolah yang baru diluncurkan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 47 Malang menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung dalam penguatan pendidikan berbasis kerakyatan. Pihak sekolah menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM Unggulan PSGA UIN Malang yang dinilai membawa semangat kolaborasi, kepedulian sosial, serta perspektif perlindungan anak dan kesetaraan gender.   Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM Unggulan PSGA UIN Malang menawarkan sejumlah program kerja yang akan dijalankan secara bertahap selama masa pengabdian. Salah satu program utama adalah Ruang Tumbuh Bersama, yang berfokus pada pendampingan akademik dan psikososial siswa. Program ini meliputi peran mahasiswa sebagai fasilitator bimbingan belajar, baik di lingkungan sekolah maupun asrama, serta pendampingan khusus bagi siswi dengan kebutuhan belajar seperti disleksia.   Selain itu, program Ruang Tumbuh Bersama juga mencakup kegiatan pemberdayaan perempuan melalui agenda keputrian, bimbingan belajar, hingga mengaji bersama di asrama sebagai bentuk penguatan nilai-nilai keagamaan. Kegiatan keagamaan lainnya turut dirancang untuk membangun karakter, spiritualitas, dan rasa aman bagi peserta didik, khususnya siswi yang tinggal di lingkungan asrama.   Program kerja berikutnya adalah Micro Edukasi PSGA, yakni kegiatan edukasi berskala kecil yang dikemas dalam bentuk sosialisasi interaktif. Tema-tema yang diangkat selaras dengan fokus PSGA, di antaranya pencegahan bullying, kekerasan seksual, perlindungan tubuh, kesetaraan gender, serta isu-isu perlindungan anak lainnya. Micro edukasi ini dirancang agar mudah dipahami dan relevan dengan usia serta pengalaman siswa Sekolah Rakyat.   Mahasiswa KKM Unggulan PSGA UIN Malang juga terlibat aktif dalam pendampingan kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Pendampingan ini diharapkan mampu membantu siswa mengembangkan minat dan bakat, sekaligus memperkuat iklim sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak. Kehadiran mahasiswa menjadi mitra strategis bagi guru dan pengelola sekolah dalam menghidupkan berbagai aktivitas non-akademik.   Tidak hanya menjalankan program khusus, mahasiswa KKM Unggulan PSGA UIN Malang juga turut membantu dan mengikuti kegiatan rutin asrama. Kegiatan tersebut meliputi salat berjamaah, senam pagi, mengaji sore dan malam, hingga bimbingan belajar pada malam hari. Partisipasi aktif mahasiswa dalam kegiatan keseharian ini menjadi bagian dari proses pembauran dan penguatan relasi sosial dengan para siswa.   Sebagai puncak kegiatan, KKM Unggulan PSGA UIN Malang merencanakan pelaksanaan seminar akbar pada penutupan program. Seminar ini akan mengangkat tema kekerasan seksual dan perlindungan anak, yang akan disampaikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi bersama sekaligus penguatan pemahaman seluruh warga sekolah mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bermartabat.   Melalui rangkaian kegiatan ini, KKM Unggulan PSGA UIN Malang tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra pengabdian yang berupaya memberikan dampak nyata. Kehadiran mahasiswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 47 Malang menjadi bukti bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan program pemerintah dapat berjalan seiring demi penguatan pendidikan dan kesejahteraan anak bangsa.

Thumbnail
2 months ago
Merajut Ruang Literasi, KKM Sarimi Adhiyaksa Hidupkan Perpustakaan SDN Jodipan Adhiyaksa Hidupkan Perpustakaan SDN Jodipan

SALSABILA ALIF SURYANA

Merajut Ruang Literasi, KKM Sarimi Adhiyaksa Hidupkan Perpustakaan SDN Jodipan Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Merajut Ruang Literasi, KKM Sarimi Adhiyaksa Hidupkan Perpustakaan SDN Jodipan" Di antara buku-buku dan rak sederhana, mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memilih bekerja dalam senyap, menghidupkan kembali perpustakaan SDN Jodipan. Pada Selasa, 27 Januari 2026, mereka melaksanakan kegiatan revitalisasi perpustakaan sebagai bentuk pengabdian dan kepedulian terhadap ruang literasi sekolah. Kegiatan ini berlangsung di ruang perpustakaan SDN Jodipan, Kota Malang. Mahasiswa KKM menata ulang koleksi buku, membersihkan rak, serta merapikan sudut baca agar perpustakaan tampak lebih rapi, nyaman, dan fungsional. Aktivitas sederhana tersebut dilakukan dengan penuh ketelatenan, menghadirkan suasana baru yang lebih hangat dan tertata. Tak hanya berfokus pada penataan ruang, mahasiswa KKM juga melibatkan siswa dalam proses kreatif. Anak-anak diajak membuat kupu-kupu kertas dan poster literasi yang kemudian dipajang di dinding perpustakaan. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berperan dalam membangun ruang belajar mereka sendiri. Antusiasme siswa terlihat dari raut wajah dan tangan-tangan kecil yang sibuk berkreasi. Perpustakaan yang semula terasa sunyi perlahan berubah menjadi ruang yang hidup dan penuh warna. Mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa berharap, revitalisasi ini dapat menumbuhkan rasa memiliki serta meningkatkan minat baca siswa sejak dini. Melalui langkah kecil di ruang sederhana, mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa berupaya meninggalkan jejak bermakna: menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang bukan hanya menyimpan buku, tetapi juga menumbuhkan mimpi.

Thumbnail
2 months ago

FATMAWATI

Thumbnail
2 months ago
KKM Unggulan PSGA UIN Malang Gelar Sosialisasi Anti-Bullying, 79 Siswa SMKN 1 Kraksaan Ikrarkan Komitmen

EFTA STEVIO PUTRI WAHYUDI

Kraksaan, Probolinggo --- Maliki Islamic University - KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya. Pengenalan Bullying dan Dampak Psikologis Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, menjadi pemateri pertama yang menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa. Games "Jeruk Juruk" Cairkan Suasana! Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Siswa laki-laki dan perempuan kompak mengikuti permainan dengan antusias, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa Pemaparan materi “Masa Depan Cerah Tanpa Bullying” Mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok KKM, membawakan materi kedua mengenai pentingnya menggapai masa depan dan ajakan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Lalu menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. Eksperimen Kacamata Perspektif: Cerah vs Gelap Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata. Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa. Mengapa Sosialisasi Ini Mendesak? Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Sekolah Berkomitmen Lanjutan Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad. 

Thumbnail
2 months ago
KKM Unggulan PSGA UIN Malang Gelar Sosialisasi Anti-Bullying, 79 Siswa SMKN 1 Kraksaan Ikrarkan Komitmen

NIMAS IFTHINATUN NABILA

Maliki Islamic University-KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya.   "79 siswa siap ikuti sosialisasi anti-bullying" Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo. Beliau menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap dampak psikologis siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa.   "Pak Ahmad Konselor Puspaga jelaskan tentang bullying" Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Seluruh siswa sangat antusias mengikuti permainan ini, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa. Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung kelompok KKM Unggulan PSGA 265, membawakan materi kedua pentingnya menggapai masa depan yang cerah tanpa bullying dan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa.   "Abror & Nina ajarkan regulasi emosi" Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata . Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa.   "Siswa jabarkan role play kacamata" Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, dan seluruh 79 siswa menuliskan "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa.   "79 siswa tempel janji anti-bullying" Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad.   "KKM Unggulan PSGA 265 & 79 siswa SMKN 1 Kraksaan"