RISKY AZIZ ROMADHONI
Balai Desa Gunung Jati terlihat lebih ramai dari biasanya pada Selasa, 14 Januari 2026. Sejak pagi, ibu-ibu PKK mulai berdatangan untuk mengikuti Workshop Hidroponik Sistem Rakit Apung yang digelar oleh mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 peserta dan berlangsung dalam suasana santai namun penuh semangat. Workshop ini menjadi ajang belajar bersama untuk mengenal hidroponik sebagai cara Bertani Modern yang bisa diterapkan di rumah. Melalui sistem rakit apung, peserta diajak memahami cara menanam sayuran tanpa tanah, mulai dari pengenalan alat dan bahan, proses penyemaian, hingga pemindahan bibit ke media tanam. Tujuan kegiatan ini disampaikan langsung oleh Aziz, salah satu mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” yang merupakan pemateri pada kegiatan tersebut. Ia menyampaikan, “Workshop ini kami adakan sebagai upaya mengenalkan hidroponik kepada ibu-ibu PKK agar bisa menjadi kegiatan produktif di rumah masing-masing. Harapannya, ke depan hidroponik ini tidak hanya untuk konsumsi pribadi, tapi juga bisa dikembangkan sebagai peluang usaha pertanian modern.” Ujarnya. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan. Ibu-ibu PKK aktif bertanya dan mencoba setiap tahapan praktik yang dipandu oleh mahasiswa KKM. Suasana pelatihan pun terasa hidup dengan adanya diskusi ringan dan saling berbagi pengalaman antar peserta. Selain praktik, mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” juga mengajak peserta berdiskusi mengenai potensi hidroponik sebagai usaha yang relatif mudah dikembangkan. Sistem rakit apung dinilai cocok diterapkan di lingkungan desa karena tidak membutuhkan lahan luas dan perawatannya cukup sederhana. “Bahan-bahan untuk membuat hidroponik ini cukup mudah didapatkan ya ibu-ibu, nanti njenengan bisa mempraktekan di rumah. Yang paling penting kita punya alat tes PH/TDS meter hidroponik.” Ujarnya. Melalui workshop ini, mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus dikembangkan secara mandiri. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kebersamaan mahasiswa dan masyarakat dalam belajar serta Mendorong Pengembangan Pertanian Modern di Desa Gunung Jati.
NAFISA DEVI NUR RUSYDAH
https://www.kompasiana.com/kkmkalventra93/697f0d8834777c2fb80642e2/aksi-nyata-kkm-93-kalventra-sampah-botol-plastik-disulap-jadi-ecobrick-dusun-duren Sampah plastik yang kerap dipandang sebagai masalah lingkungan kini disulap menjadi karya bermakna oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 93 Kalventra Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Melalui program ecobrick, mahasiswa KKM menghadirkan tulisan "Dusun Duren" sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan sekaligus identitas kebanggaan warga Desa Dawuhan. Ecobrick tersebut dibuat dari botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik non-organik, kemudian dirangkai hingga membentuk tulisan besar. Proses ini menjadi media edukasi bahwa sampah plastik, jika dikelola dengan tepat, tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga dapat dimanfaatkan secara kreatif dan bernilai. Program ecobrick ini dirancang sebagai bentuk edukasi lingkungan yang sederhana namun berdampak. Mahasiswa KKM 93 Kalventra ingin menanamkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah kecil, seperti memilah dan mengolah sampah plastik sejak dari rumah. Selain memiliki nilai estetika, ecobrick "Dusun Duren" juga menjadi simbol kolaborasi dan kepedulian bersama. Kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan dengan cara inovatif serta melibatkan peran aktif mahasiswa dan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa KKM 93 Kalventra berharap ecobrick dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab demi lingkungan yang bersih dan berkelanjutan. Langkah kecil melalui ecobrick ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana dan dilakukan bersama.
IRHAM SULTAN
KKM 41 Aksara Vardhana Merawat Desa, Menumbuhkan Makna Februari 06, 2026 Jejak Pengabdian Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Gubugklakah Rabu, 24 Desember 2025 menjadi awal perjalanan pengabdian Kelompok 41 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Terletak di kaki Gunung Bromo, Gubugklakah tidak hanya dikenal sebagai jalur wisata menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tetapi juga sebagai desa dengan kekayaan alam, budaya, keagamaan, dan kearifan lokal yang hidup berdampingan secara harmonis. Dengan semangat pengabdian, mahasiswa hadir tidak semata menjalankan program kerja, melainkan berupaya menyatu, belajar, dan tumbuh bersama masyarakat. Sejak hari-hari awal, pendekatan sosial menjadi fondasi utama pengabdian. Melalui kegiatan sowan kepada tokoh masyarakat, keterlibatan dalam diba’an, pengajian, serta berbagai aktivitas sosial, mahasiswa membangun hubungan yang erat dan penuh kepercayaan dengan warga. Interaksi ini menegaskan posisi mahasiswa bukan sebagai pihak luar, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Desa Gubugklakah. Pembukaan resmi KKM yang dilaksanakan pada 30 Desember 2025 menandai dimulainya rangkaian program pengabdian secara formal. Kegiatan ini melibatkan perangkat desa, lembaga adat, serta komunitas pemuda Lampahklakah. Mahasiswa mengenakan busana adat Tengger sebagai simbol penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus penegasan penerimaan sosial dan adat. Kolaborasi dengan Lampahklakah menjadi langkah strategis dalam memastikan keberlanjutan program, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya desa. Eksplorasi potensi alam Desa Gubugklakah dilakukan melalui kegiatan tadabur alam ke Ledhok Amprong dan kunjungan ke Coban Pelangi. Mahasiswa menyusuri sungai, hutan, dan jalur tracking untuk mengenal langsung kekayaan alam desa, sekaligus mendokumentasikannya sebagai bagian dari promosi wisata berbasis edukasi dan keberlanjutan. Kegiatan ini menegaskan bahwa potensi wisata Gubugklakah tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga ekologis dan edukatif. Di bidang pendidikan, Kelompok 41 aktif mengajar di MI KH Hasyim Asy’ari dengan pendekatan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) sebagai media pembentukan karakter. Nilai percaya diri, empati, kepedulian lingkungan, dan sikap anti perundungan ditanamkan melalui metode pembelajaran kreatif dan ramah anak. Sebagai penguatan pendidikan karakter anti perundungan, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melanjutkan kegiatan sosialisasi anti bullying di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah melalui lomba mewarnai bertema anti bullying yang dilaksanakan pada 24 Januari 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai media visual yang mudah dipahami dan membekas bagi murid kelas 1 hingga kelas 6, dengan gambar dan pesan moral sederhana tentang etika pertemanan tanpa kekerasan. Melalui kegiatan ini, nilai saling menyayangi, menghargai, dan menolak perundungan ditanamkan secara menyenangkan, sekaligus melatih jiwa kompetitif yang sehat melalui pemberian apresiasi berupa piala dan sertifikat. Lomba mewarnai ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan sikap anti bullying dalam kehidupan sehari-hari murid. Dalam upaya menumbuhkan kembali minat baca anak, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Pagelaran Literasi di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini dikemas melalui membaca bersama, story telling, dan pemberian apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan usaha murid. Sebanyak 84 murid terlibat aktif dengan pendampingan langsung dari mahasiswa, mulai dari membantu membaca, membacakan cerita, hingga mendorong anak menceritakan kembali isi bacaan. Pagelaran literasi ini menjadi ikhtiar sederhana untuk mengajak anak kembali dekat dengan buku di tengah dominasi gawai, sekaligus menanamkan nilai bahwa membaca adalah aktivitas menyenangkan, bermakna, dan penting sebagai bekal pembentukan karakter serta kecintaan terhadap ilmu sejak dini. Sebagai upaya menumbuhkan kembali ruang bermain yang sehat bagi anak, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Aksara Vardhana menyelenggarakan Gebyar Permainan Tradisional pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya interaksi sosial anak usia sekolah dasar akibat dominasi penggunaan gawai. Berbagai permainan tradisional seperti egrang, yoyo, kelereng, catur, lompat tali, engklek, dan gobak sodor dihadirkan dengan suasana gembira dan partisipatif, di mana mahasiswa turut bermain bersama anak-anak. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, serta kecintaan terhadap warisan budaya bangsa, sekaligus memperkenalkan permainan tradisional sebagai alternatif positif yang sesuai dengan dunia dan perkembangan anak. Selain pendidikan formal, mahasiswa juga membuka program bimbingan belajar bagi anak-anak sekolah dasar. Kegiatan ini dilaksanakan selama hampir dua pekan dengan materi Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan PPKN. Metode pembelajaran visual dan interaktif dipadukan dengan kuis berbasis cerdas cermat untuk menumbuhkan semangat belajar, kerja sama, dan sportivitas. Hasilnya, dua kelompok binaan berhasil melaju hingga babak semifinal Lomba Cerdas Cermat Antar Bimbel KKM se-Kecamatan Poncokusumo. Perhatian terhadap aspek kesehatan masyarakat diwujudkan melalui pendampingan kegiatan Posyandu Desa Gubugklakah. Mahasiswa membantu kader posyandu, mendampingi ibu dan balita, serta mendukung kelancaran pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Keterlibatan ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesehatan preventif sebagai tanggung jawab bersama. Di ranah keagamaan, Kelompok 41 KKM UIN Malang berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan religius masyarakat. Mahasiswa terlibat dalam peringatan Isra’ Mi’raj dengan menghadirkan kajian keislaman bertema Isra’ Mi’raj dalam Pandangan Perempuan yang menyajikan perspektif keislaman yang humanis dan kontekstual. Selain itu, lomba-lomba keagamaan bagi santri TPQ turut diselenggarakan sebagai sarana pembentukan karakter, keberanian, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Di tingkat internal kelompok, mahasiswa juga membiasakan pelaksanaan sholat lima waktu secara berjamaah selama masa KKM. Kegiatan ini berangkat dari kesadaran bersama akan pentingnya menjaga nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam. Sholat berjamaah dilaksanakan berdasarkan kesepakatan tanpa paksaan dan secara konsisten menjadi sarana pembinaan kedisiplinan, kepedulian sosial, serta penguatan ikatan persaudaraan antaranggota. Selain bernilai ibadah dengan landasan kuat dalam ajaran Islam, kebiasaan ini turut menciptakan suasana religius yang terjaga dan menjadi bentuk keteladanan sederhana yang dijalankan secara istiqamah. Komitmen spiritual mahasiswa diperkuat melalui program One Day One Juz yang dilaksanakan secara konsisten dan ditutup dengan khotmil Al-Qur’an bersama masyarakat sebagai bentuk syukur dan penguatan kebersamaan. Mahasiswa juga terlibat aktif dalam pembelajaran di TPQ Baiturrohim dengan mendampingi santri dalam belajar Al-Qur’an, doa harian, bacaan sholat, serta pengenalan tajwid.Nilai toleransi dan moderasi beragama tercermin dalam keterlibatan Kelompok 41 pada Diskusi Lintas Agama di Karmel Ngadireso. Melalui dialog terbuka dan inklusif, mahasiswa turut merawat ruang kebersamaan dalam keberagaman, menegaskan bahwa perbedaan adalah anugerah yang memperkaya kehidupan sosial. Pada bidang ekonomi, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memfokuskan program pengabdian pada penguatan UMKM Desa Gubugklakah sebagai desa wisata. Program ini berangkat dari pengamatan lapangan terhadap aktivitas ekonomi warga yang sebenarnya telah berjalan cukup baik, khususnya pada sektor kedai dan homestay yang melayani wisatawan menuju kawasan Bromo. Namun demikian, masih ditemukan kendala pada aspek pendukung usaha, seperti kurangnya identitas visual kedai, penataan daftar menu yang belum optimal, serta homestay yang belum terdaftar di Google Maps sehingga menyulitkan wisatawan dalam menemukan lokasi. Menindaklanjuti kondisi tersebut, sejak 10 Januari 2026 mahasiswa menjalankan program peningkatan ekonomi masyarakat melalui pendampingan UMKM. Fokus kegiatan meliputi pembuatan banner dan daftar menu kedai, serta pendampingan pembuatan dan pengelolaan Google Maps bagi pemilik homestay. Program diawali dengan diskusi langsung bersama pelaku usaha untuk menggali kebutuhan, konsep usaha, serta harapan pengembangan ke depan. Proses perancangan dilakukan secara kolaboratif dengan menyesuaikan karakter produk, suasana desa wisata, dan preferensi pemilik usaha. Hasil dari program ini mulai dirasakan secara nyata. Banner dan daftar menu telah dicetak dan digunakan oleh pemilik kedai, sementara homestay yang didampingi kini telah terdaftar dan mudah diakses melalui Google Maps. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik usaha, memperkuat identitas UMKM lokal, serta mendorong peningkatan kunjungan dan penjualan. Melalui pendampingan sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa berupaya mendukung pengembangan ekonomi Desa Gubugklakah agar potensi wisata yang telah ada dapat tumbuh secara lebih optimal dan berkelanjutan. Pada aspek budaya, mahasiswa turut mendukung pelestarian adat Barikan, tradisi leluhur masyarakat Tengger yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali di punden desa. Selain itu, kolaborasi strategis dilakukan bersama komunitas Lampahklakah dalam penyusunan Kamus Bahasa Tengger. Inisiatif ini menjadi langkah nyata pelestarian bahasa ibu sebagai identitas budaya sekaligus kontribusi literasi yang bernilai akademik dan sosial. Di bidang pelayanan publik dan teknologi, Kelompok 41 KKM UIN Malang mengembangkan sistem pembayaran air bersih desa berbasis web. Digitalisasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan air bersih, sekaligus menjadi langkah awal transformasi digital desa. Mahasiswa juga melaksanakan piket rutin di Balai Desa Gubugklakah untuk membantu administrasi dan pelayanan masyarakat, serta terlibat dalam penyambutan kunjungan Wakil Gubernur Kabupaten Malang dalam rangka pengembangan potensi pertanian desa. Seluruh dinamika kehidupan masyarakat Desa Gubugklakah kemudian dirangkum dalam film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Gubugklakah”. Film ini merekam potret desa dari aspek budaya, religius, pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga sejarah sebagai upaya dokumentasi dan pelestarian kearifan lokal. Rangkaian pengabdian ditutup dengan Pentas Seni Penutupan dan Perpisahan Kelompok 41 KKM UIN Malang Aksara Vardhana. Acara ini menjadi ruang ekspresi budaya, apresiasi masyarakat, serta simbol penutup kebersamaan yang telah terjalin selama masa KKM. Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses merawat hubungan, menumbuhkan kesadaran, dan meninggalkan jejak kebermanfaatan yang berkelanjutan. Desa Gubugklakah tidak hanya menjadi tempat mengabdi, tetapi juga ruang belajar yang mengajarkan makna kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Komentar Postingan populer dari blog ini Aksara Abadi di Pelataran Bromo: Menenun Identitas, Mengukir Sejarah Dunia Januari 21, 2026 Gambar LINK KAMUS: https://heyzine.com/flip-book/e517d69bf0.html Di sebuah sudut agung Kabupaten Malang, berselimut kabut yang senantiasa memeluk lereng-lereng pegunungan, berdirilah Desa Gubugklakah. Bukan sekadar gerbang menuju kemegahan Bromo, Gubugklakah adalah tanah yang diberkati dengan kreativitas dan inovasi yang meluap. Dari rahim desa yang indah inilah, lahir sebuah kekuatan kolektif bernama Lampahklakah, yakni sebuah komunitas visioner yang menjadi jantung penggerak sekaligus rumah bagi seluruh bidang pengabdian desa. Sebagai inisiator utama, Lampahklakah-lah yang menyemai benih kegelisahan akan sunyinya dokumentasi bahasa ibu, menyadari bahwa tanpa aksara yang tertulis, bahasa Tengger yang menjadi sukma masyarakatnya berisiko tergerus zaman. Takdir kemudian merenda pertemuan antara visi besar Lampahklakah dengan Kelompok KKM Akshara Vardhana UIN Malang. Nama Akshara Vardhana hadir sebagai jawaban yang sejalan dengan ruh perjuangan ini. Akshara bermakna simbol atau huruf... Baca selengkapnya Kegiatan Tadabur Alam Kelompok 41 KKM UIN Malang sebagai Upaya Eksplorasi dan Promosi Potensi Wisata Alam Desa Gubugklakah Januari 06, 2026 Gambar Pada Jumat, 2 Januari 2026, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan tadabur alam ke Ledhok Amprong. Kegiatan ini dimulai dari Masjid Baiturrohim Gubugklakah sebagai titik awal perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan tracking menyusuri aliran sungai menuju Ledhok Amprong. Selama perjalanan, kami dipandu oleh Lampahklakah dan Pancasuman yang membantu menunjukkan jalur sekaligus memperkenalkan kondisi alam sekitar. Program kerja tadabur alam ini dipilih karena Desa Gubugklakah memiliki potensi wisata alam yang sangat besar. Sungai yang masih alami, jalur tracking yang menantang, serta destinasi alam seperti Ledhok Amprong menjadi kekayaan desa yang layak untuk dieksplorasi dan diperkenalkan ke masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, Kelompok 41 ingin mengenal potensi desa secara langsung, tidak hanya dari cerita, tetapi dari pengalaman nyata di lapangan. Tracking dilakukan dengan berjalan kaki menyus... Baca selengkapnya Pengabdian Mahasiswa UIN Malang di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah dalam Mendidik Karakter Anak melalui Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya Januari 08, 2026 Gambar Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berkesempatan mengajar di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah. Program ini kami jalankan sebagai bentuk pengabdian sekaligus wujud peran mahasiswa kampus Islam dalam mendukung pendidikan karakter anak sejak dini. Sebagai mahasiswa UIN Malang, kami tidak hanya belajar ilmu akademik, tapi juga nilai keislaman seperti akhlak, adab, kepedulian sosial, dan tanggung jawab. Dari situlah muncul kesadaran bahwa pendidikan karakter tidak cukup disampaikan lewat teori tapi perlu dihadirkan secara nyata dan dekat dengan dunia anak. Maka kami memilih mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) karena seni adalah ruang belajar yang paling ramah bagi anak. Lewat seni, anak bebas berekspresi, belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, dan mengenal dirinya sendiri. Pendidikan karakter pun bisa masuk secara alami, menyenangkan, dan sesuai semangat Merdeka Belajar. Kegiatan mengajar dilaksanakan setiap hari ... Baca selengkapnya Diberdayakan oleh Blogger Gambar tema oleh Michael Elkan Foto saya KKM 41 UIN Malang Kunjungi profil Arsip Label Laporkan Penyalahgunaan
DWI RIZKA WARDATUS SHOLEHAH
Pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Arsana Muda di Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke tengah masyarakat. Salah satu kegiatan yang mendapatkan perhatian khusus adalah keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan Posyandu, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak di tingkat dusun. Posyandu di Desa Sukodadi merupakan kegiatan rutin yang dijalankan oleh para kader kesehatan desa dengan dukungan perangkat desa dan tenaga kesehatan. Kegiatan ini meliputi penimbangan balita, pengukuran tinggi badan, pencatatan perkembangan anak, serta pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan balita. Kehadiran mahasiswa KKM Arsana Muda di tengah kegiatan ini diharapkan dapat membantu kelancaran pelaksanaan sekaligus menambah semangat para kader dan warga yang hadir. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa terlibat secara aktif mulai dari persiapan lokasi, pendataan peserta, pendampingan ibu dan balita, hingga membantu kader dalam mengatur alur pelayanan agar tetap tertib dan efisien. Mahasiswa juga berperan dalam memberikan pendampingan ringan kepada para ibu, terutama dalam mengarahkan proses penimbangan dan pencatatan data pertumbuhan anak. Selain membantu teknis kegiatan, mahasiswa KKM Arsana Muda juga memanfaatkan momen Posyandu sebagai sarana edukasi kesehatan sederhana. Melalui komunikasi yang hangat dan santai, mahasiswa mengajak para ibu untuk lebih memperhatikan pola asuh anak, pentingnya asupan gizi seimbang, serta rutin memantau tumbuh kembang balita. Pendekatan ini dilakukan secara persuasif agar mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat. Kegiatan Posyandu ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi media pembelajaran sosial bagi mahasiswa. Mahasiswa belajar memahami peran Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, sekaligus mengenal lebih dekat realitas yang dihadapi para kader kesehatan di lapangan. Interaksi langsung dengan warga memberikan pengalaman berharga tentang pentingnya kerja sama, empati, dan komunikasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Respon masyarakat terhadap kehadiran mahasiswa KKM Arsana Muda sangat positif. Para kader Posyandu merasa terbantu dengan adanya tambahan tenaga, sementara para ibu menyambut baik pendampingan yang diberikan. Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh kebersamaan, dan mencerminkan semangat gotong royong yang masih kuat di Dusun Jamuran. Melalui kegiatan ini, KKM Arsana Muda berharap dapat menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Partisipasi mahasiswa dalam Posyandu menjadi langkah kecil namun bermakna dalam mendukung program kesehatan desa yang berkelanjutan Ke depan, KKM Arsana Muda berkomitmen untuk terus bersinergi dengan masyarakat Dusun Jamuran melalui berbagai kegiatan sosial dan edukatif lainnya. Posyandu menjadi salah satu bukti nyata bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya sebatas menjalankan program kerja, tetapi juga membangun hubungan sosial yang saling menguatkan demi kesejahteraan masyarakat. Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "KKM Arsana Muda Hadir di Posyandu di Desa Sukodadi : Wujud Kepedulian terhadap Kesehatan Ibu dan Anak", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/kkmarsanamuda3353/695ef586c925c40c575899e2/kkm-arsana-muda-hadir-di-posyandu-dusun-jamuran-wujud-kepedulian-terhadap-kesehatan-ibu-dan-anak Kreator: KKM Arsana Muda Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
AMMALY SIFANI ARBY
Pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tahun 2025 resmi diawali melalui kegiatan pelepasan mahasiswa yang digelar pada Senin, 23 Desember 2025. Kegiatan ini berlangsung di Lapangan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan menjadi titik awal keterlibatan mahasiswa dalam proses pengabdian berbasis masyarakat. Pelepasan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas yang akan menjalankan KKM di sejumlah wilayah, termasuk Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang. Suasana kegiatan berlangsung tertib dan penuh antusiasme, mencerminkan kesiapan mahasiswa untuk beradaptasi dan berkontribusi di lingkungan masyarakat selama masa pengabdian. Sebagai bagian dari kurikulum akademik, KKM dirancang untuk mempertemukan pengetahuan teoritis dengan realitas sosial. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk melaksanakan kegiatan, tetapi juga belajar memahami dinamika masyarakat, membangun komunikasi yang baik, serta menumbuhkan kepedulian sosial secara nyata. Dalam implementasinya, KKM Tahun 2025 menekankan baggaimana pentingnya melihat desa sebagai ruang yang kaya akan potensi. Dalam hal ini mahasiswa juga diarahkan untuk mengidentifikasi, mengelola, dan mengembangkan aset lokal bersama masyarakat, sehingga program yang dijalankan bersifat partisipatif dan berorientasi keberlanjutan. Pelaksanaan KKM tahun ini terbagi ke dalam berbagai skema pengabdian, antara lain KKM Reguler, Mandiri, Unggulan, Fakultatif, Moderasi Beragama, hingga KKM Internasional. Keberagaman skema tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyesuaikan bentuk pengabdian dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat. Dengan dilaksanakannya kegiatan pelepasan ini, mahasiswa KKM Desa Sumberngepoh siap memasuki fase pengabdian sebagai mitra masyarakat. Diharapkan, keberadaan mahasiswa tidak hanya memberikan kontribusi program, tetapi juga membangun relasi yang harmonis serta menghadirkan dampak positif bagi perkembangan desa.
FINA ROHMATUL UMMAH
Hasil dari program ini mulai dirasakan secara nyata. Banner dan daftar menu telah dicetak dan digunakan oleh pemilik kedai, sementara homestay yang didampingi kini telah terdaftar dan mudah diakses melalui Google Maps. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik usaha, memperkuat identitas UMKM lokal, serta mendorong peningkatan kunjungan dan penjualan. Melalui pendampingan sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa berupaya mendukung pengembangan ekonomi Desa Gubugklakah agar potensi wisata yang telah ada dapat tumbuh secara lebih optimal dan berkelanjutan. Pada aspek budaya, mahasiswa turut mendukung pelestarian adat Barikan, tradisi leluhur masyarakat Tengger yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali di punden desa. Selain itu, kolaborasi strategis dilakukan bersama komunitas Lampahklakah dalam penyusunan Kamus Bahasa Tengger. Inisiatif ini menjadi langkah nyata pelestarian bahasa ibu sebagai identitas budaya sekaligus kontribusi literasi yang bernilai akademik dan sosial. Di bidang pelayanan publik dan teknologi, Kelompok 41 KKM UIN Malang mengembangkan sistem pembayaran air bersih desa berbasis web. Digitalisasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan air bersih, sekaligus menjadi langkah awal transformasi digital desa. Mahasiswa juga melaksanakan piket rutin di Balai Desa Gubugklakah untuk membantu administrasi dan pelayanan masyarakat, serta terlibat dalam penyambutan kunjungan Wakil Gubernur Kabupaten Malang dalam rangka pengembangan potensi pertanian desa. Seluruh dinamika kehidupan masyarakat Desa Gubugklakah kemudian dirangkum dalam film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Gubugklakah”. Film ini merekam potret desa dari aspek budaya, religius, pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga sejarah sebagai upaya dokumentasi dan pelestarian kearifan lokal. Rangkaian pengabdian ditutup dengan Pentas Seni Penutupan dan Perpisahan Kelompok 41 KKM UIN Malang Aksara Vardhana. Acara ini menjadi ruang ekspresi budaya, apresiasi masyarakat, serta simbol penutup kebersamaan yang telah terjalin selama masa KKM. Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses merawat hubungan, menumbuhkan kesadaran, dan meninggalkan jejak kebermanfaatan yang berkelanjutan. Desa Gubugklakah tidak hanya menjadi tempat mengabdi, tetapi juga ruang belajar yang mengajarkan makna kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial