NADIA ALMIRA
Sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak, telah dilaksanakan program kerja sosialisasi bullying kepada anak-anak TPQ Masjid Nurul Jihad. Kegiatan ini menjadi langkah preventif yang penting untuk mengenalkan sejak dini apa itu bullying, dampaknya, serta bagaimana bersikap baik dan saling menghargai sesama teman. Sosialisasi ini dikemas secara sederhana dan ramah anak, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan mudah dan menyenangkan. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif dan penuh antusiasme. Anak-anak diajak memahami bahwa bullying bukan hanya tentang kekerasan fisik, tetapi juga mencakup ejekan, hinaan, dan sikap meremehkan teman. Melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak belajar membedakan perilaku yang baik dan tidak baik, serta diajak untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga diselingi dengan diskusi ringan dan tanya jawab. Anak-anak diberi ruang untuk bercerita, menyampaikan pendapat, dan belajar mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang positif. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak hanya memahami konsep anti bullying, tetapi juga berani bersikap dan berkata baik, serta saling menjaga dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan TPQ maupun di luar. Melalui sosialisasi bullying ini, diharapkan anak-anak TPQ Masjid Nurul Jihad dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat secara karakter dan kepekaan sosial. https://kkmsatvasevana125.blogspot.com/2026/01/menanamkan-sikap-saling-menghargai.html
NORUL ROHMAH
Program Terpopuler Terbaru Judul berita Topik Pilihan Komunitas Peristiwa Video K-Rewards LAGI RAME! Mulai Hari Ini, Kategori Kompasiana Akan disesuaikan Saat ini, Saatnya Kamu Mengusulkan Ide Topik Pilihan di Kompasiana Gentengisasi: Ketika Negara Ngurusin Atap Rumah Warga Wajah Lain Savana Taman Nasional Baluran Saat Musim Hujan Prilly, Kiki, dan Kisah "Banting Setir" Karir Selebriti Buku dan Pena Tak Terbeli, Anak SD di NTT Bunuh Diri Davyna RahmatulFazry UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa KKM Abadinanjaya 98 berlokasi Desa Mulyoarjo Lawang MENGIKUTI SOSIOKULTURAL Seminar Stunting sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Anak di Desa Mulyoarjo bersama Mahasiswa KKM 98 UIN Malang 1 Februari 2026 12:29 Diperbarui: 1 Februari 2026 12:29 9 0 0 + Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Lihat foto (Foto Seminar Stunting (Sumber: Dokumantasi KKM 98)) Seminar stunting yang diikuti oleh Kelompok KKM 98 di Desa Mulyoarjo menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian pelajar terhadap isu kesehatan anak. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya para ibu, mengenai bahaya stunting serta langkah-langkah pencegahannya sejak dini demi terwujudnya generasi yang sehat dan berkualitas. Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan persiapan panitia. Seluruh anggota KKM 98 hadir lebih awal untuk menata tempat, menyiapkan perlengkapan seminar, serta memastikan kelancaran acara. Sebelum peserta hadir, panitia juga mengadakan briefing singkat guna menyamakan persepsi dan pembagian tugas agar acara berjalan sesuai dengan susunan yang telah direncanakan. Tepat pukul 09.00 WIB, acara seminar stunting resmi dibuka. Pembukaan berlangsung dengan khidmat dan disambut antusias oleh para peserta yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu Desa Mulyoarjo. Kehadiran mereka mencerminkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan anak dan masa depan keluarga. Acara dilanjutkan dengan Beragam dari Kepala Desa Mulyoarjo. Dalam perayaannya, beliau menyampaikan penghargaan kepada mahasiswa KKM 98 atas inisiatif dan kontribusi nyata dalam membantu program kesehatan desa. Kepala desa juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah stunting melalui pola asuh dan menyediakan nutrisi yang baik. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seminar Stunting sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Anak di Desa Mulyoarjo bersama Mahasiswa KKM 98 UIN Malang", Klik untuk membaca: https://www.kompasiana.com/kkm98abadinanjaya/697ee35ec925c4578b49c8b2/seminar-stunting-sebagai-upaya-peningkatan-kesehatan-anak-di-desa-mulyoarjo-bersama-mahasiswa-kkm-98-uin-malang Pencipta : Davyna RahmatulFazry Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com Setelah itu, Seremonial disampaikan oleh Ketua KKM 98 Muhammad Shohibul Fajar . Ketua KKM menyampaikan tujuan dilaksanakannya seminar stunting ini sebagai bagian dari program kerja KKM yang fokus pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga Desa Mulyoarjo. Memasuki acara inti, sesi pemaparan materi dibuka oleh pemateri utama, Ibu Eka Lestari. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara rinci mengenai pengertian stunting, faktor penyebab, dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, serta cara pencegahannya melalui asupan gizi seimbang dan perawatan kesehatan yang tepat. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seminar Stunting sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Anak di Desa Mulyoarjo bersama Mahasiswa KKM 98 UIN Malang", Klik untuk membaca: https://www.kompasiana.com/kkm98abadinanjaya/697ee35ec925c4578b49c8b2/seminar-stunting-sebagai-upaya-peningkatan-kesehatan-anak-di-desa-mulyoarjo-bersama-mahasiswa-kkm-98-uin-malang Pencipta : Davyna RahmatulFazry Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com Materi yang disampaikan oleh Ibu Eka Lestari disambut dengan penuh perhatian oleh para peserta. Bahasa yang mudah dipahami serta contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat peserta semakin memahami pentingnya pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga usia balita. Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seminar Stunting sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Anak di Desa Mulyoarjo bersama Mahasiswa KKM 98 UIN Malang", Klik untuk membaca: https://www.kompasiana.com/kkm98abadinanjaya/697ee35ec925c4578b49c8b2/seminar-stunting-sebagai-upaya-peningkatan-kesehatan-anak-di-desa-mulyoarjo-bersama-mahasiswa-kkm-98-uin-malang Pencipta : Davyna RahmatulFazry Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com
SITI FATIMAH
Kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik terus didorong melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan sharing session dan praktik pembuatan eco enzim yang dilaksanakan pada hari Jumat, 23 Januari, bertempat di Balai Desa Sukowilagun. Masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik terus didorong melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan sharing session dan praktik pembuatan eco enzyme yang dilaksanakan pada hari Jumat, 23 Januari, bertempat di Balai Desa Sukowilangun Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 hingga 10.00 WIB dan dihadiri oleh perwakilan ibu-ibu PKK dari setiap dusun di Desa Sukowilagun. Setiap dusun mengirimkan tiga perwakilan, sehingga dari empat dusun yang ada, total peserta dari PKK berjumlah dua belas orang. Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan tiga orang perwakilan perangkat desa dan juga perwakilan anggota karang taruna. Acara diawali dengan penyampaian materi singkat mengenai apa itu eco enzim dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Pemaparan dilakukan secara sederhana dan tidak terlalu panjang agar mudah dipahami oleh peserta. Eco enzim dijelaskan sebagai cairan hasil fermentasi sampah organik berupa sisa buah dan sayuran yang dicampur dengan air dan gula merah, yang memiliki berbagai manfaat, mulai dari pembersih alami hingga pengurai limbah organik. Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan eco enzim. Dimulai dari pemotongan bahan-bahannya hingga proses penimbangan. Dalam praktikum tersebut, digunakan galon berukuran lima liter dengan takaran tiga liter udara, 300 gram sampah organik berupa kulit buah dan sisa sayuran, serta 100 gram gula merah sebagai bahan fermentasi. Proses praktik dilakukan secara interaktif dengan melibatkan audiens. Beberapa ibu PKK dan juga perangkat desa tampak antusias untuk mencoba langsung memasukkan sampah organik yang sudah dipotong-potong ke dalam galon. Selama proses praktik berlangsung, suasana kegiatan terasa hidup dan interaktif. Beberapa ibu-ibu PKK yang aktif bertanya, salah satunya mengenai alasan mengapa sampah organik yang digunakan tidak boleh terlalu keras, seperti kulit durian dan lain sebagainya. Pertanyaan tersebut dijawab dengan penjelasan bahwa sampah yang terlalu keras membutuhkan waktu penguraian yang sangat lama dan dapat menghambat proses fermentasi, sehingga hasil eco enzim menjadi kurang optimal. Selain itu, peserta juga diberikan penjelasan mengenai proses perawatan eco enzim setelah pembuatan. Dijelaskan bahwa pada satu minggu pertama, tutup botol galon harus dibuka setiap hari untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Sementara itu, pada minggu-minggu berikutnya, tutup botol cukup dibuka satu kali dalam seminggu hingga proses fermentasi selesai selama kurang lebih 3 bulan. Secara keseluruhan, kegiatan sharing session dan praktik pembuatan eco enzim ini berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme. Interaksi aktif antara pemateri dan peserta, serta pembuktian langsung manfaat eco enzim, membuat kegiatan ini terasa seru dan mudah dipahami. Diharapkan, melalui kegiatan ini, ibu-ibu PKK dapat menerapkan pembuatan eco enzim secara mandiri di rumah sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
KHOIRUN NISA`
Bahasa merupakan suatu hal yang sering kali hadir tanpa kita sadari, yang biasa terdengar dalam sapaan, obrolan ringan, dan tawa canda yang mengalir begitu saja. Di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, bahasa Tengger hidup dan tumbuh bersama keseharian masyarakatnya. Dan dari sinilah Swara Tengger hadir, sebagai upaya sederhana untuk menyimpan dan mengenang kata-kata yang selama ini kami dengar menjadi bagian dari kehidupan warga. Swara Tengger kami buat sebagai kamus bahasa daerah yang lahir dari pengalaman langsung di lapangan. Desa Ngadas merupakan salah satu desa wisata yang dekat dengan pegunungan. Desa ini banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Namun, tidak semua orang yang berkunjung dapat memahami bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat. Kamus ini hadir untuk menjadi jembatan kecil antara warga asing dan warga lokal agar bahasa Tengger Ngadas dapat dikenal, dipelajari, dan digunakan dalam berbagai interaksi yang lebih hangat. Pengumpulan kosakata dilakukan dengan cara mendengarkan. Kami dan teman-teman berbincang hangat dengan warga, mencatat kata demi kata yang sering digunakan, dan belajar dari percakapan yang kami lakukan sehari-hari. Kami juga mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berbincang santai. Dan dari merekalah kami melihat bagaimana bahasa Tengger terus diwariskan, digunakan, dan dijaga secara utuh. Agar kosakata yang kami catat tidak kehilangan makna aslinya, kami melakukan konsultasi dengan Romo Dukun (Ketua Adat). Dari semua proses ini, kami menyadari bahwa satu kata tidak selalu bisa diterjemahkan begitu saja, melainkan butuh beberapa proses yang harus kami lakukan agar tidak ada kesalahan dalam penulisan setiap kata dan terjemahnya. Bahasa Tengger Ngadas memiliki konteks budaya yang kuat, sehingga pemilihan arti harus dilakukan dengan hati-hati agar tetap sesuai dengan nilai dan kebiasaan masyarakat. Dalam penyusunan kamus ini, kami tidak lepas dari berbagai tantangan. Perbedaan pengertian arti antara beberapa warga atau keterbatasan padanan kata dalam bahasa Indonesia, serta upaya menyesuaikan bahasa agar lebih mudah dipahami oleh orang asing menjadi bagian dari proses belajar kita. namun, justru dalam proses inilah kami semakin memahami kekayaan dalam bahasa Tengger. Begitu banyak hal menarik yang kami temukan dalam perjalanan proses ini. Bahasa Tengger Ngadas merupakan salah satu bahasa yang sangat dekat dengan alam dan kebiasaan masyarakatnya. Setiap kata terasa memiliki cerita masing-masing. Antusiasme warga dan anak-anak ketika berbagi bahasa mereka juga sangat menjadi pengingat kami bahwa bahasa akan terus hidup selama digunakan dan dihargai. Swara Tengger bukan hanya sekadar kamus bahasa daerah. Ia menjadi catatan kecil tentang bahasa, budaya, dan pertemuan yang datang ke Desa Ngadas, tidak hanya untuk berkunjung, melainkan juga belajar menyapa, memahami, dan menghargai kehidupan masyarakat Tengger. Selama kata-kata itu masih diucapkan dan dikenalkan, selama itu juga suara Desa Ngadas akan terus terdengar.
MUHAMMAD ZULFA KAMAL
Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 84 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang berlangsung khidmat di Aula Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Rabu (24/12/2025) pukul 09.00 WIB. Kegiatan tersebut diresmikan langsung oleh Camat Dampit, Abai Saleh, serta dihadiri Kapolsek Dampit, Taufik, Kepala Kelurahan Dampit, perangkat kelurahan, dan mahasiswa KKM Kelompok 84 yang berjumlah 15 mahasiswa. Dalam sambutannya, Camat Dampit, Abai Saleh, menekankan pentingnya mahasiswa memanfaatkan momentum KKM sebagai ruang belajar nyata di tengah masyarakat. “Belajar, belajar, dan terus belajar. Tambahi ilmu di lapangan,” ujarnya. Ia menegaskan agar mahasiswa tidak hanya berhenti pada teori yang diperoleh di bangku kuliah, melainkan mampu merealisasikan pengetahuan tersebut melalui pengabdian langsung kepada masyarakat. Sementara itu, Kapolsek Dampit, Taufik, mengingatkan mahasiswa agar tetap memprioritaskan aspek keamanan selama pelaksanaan KKM, khususnya terkait kendaraan pribadi. “Bagi yang membawa sepeda motor, kunci gembok itu penting. Dipasang dan dicakram untuk menghindari tindak pidana curanmor,” katanya. Melalui kegiatan KKM yang akan berlangsung selama 40 hari ini, mahasiswa UIN Malang diharapkan mampu berkontribusi aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan sekaligus menjalin sinergi yang baik dengan pemerintah dan aparat setempat selama masa pengabdian di Kecamatan Dampit.