BAGAS ADITIYA RAMADANI
Desa Ngadas yang dihuni oleh masyarakat Suku Tengger memiliki tradisi bertamu yang unik dan berbeda dari kebiasaan di daerah lain. Tradisi ini dikenal oleh warga setempat sebagai gegèni, yaitu cara menerima tamu dengan penuh kehangatan dan rasa hormat. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun dan masih dijaga hingga sekarang. Jika pada umumnya tamu disambut di ruang tamu, di Desa Ngadas tamu justru diajak duduk di pawon, tepat di sekitar tungku api. Awalnya hal ini terasa asing, namun setelah duduk bersama di sana, suasana hangat dan akrab langsung terasa. Obrolan mengalir dengan santai, tanpa jarak antara tamu dan tuan rumah. Bagi masyarakat Ngadas, tungku api bukan sekadar tempat memasak. Tungku api memiliki makna simbolik sebagai pusat kehidupan keluarga dan dianggap mewakili pemilik rumah atau sesepuh. Karena itu, terdapat aturan adat yang harus dihormati. Saat melewati tungku api, seseorang tidak diperbolehkan melintas di bagian depannya, melainkan harus melalui bagian belakang sebagai bentuk penghormatan terhadap pemilik rumah dan nilai adat yang dijunjung tinggi. Foto Bertamu Di Tungku Api (Doc Pribadi) Hampir setiap rumah di Desa Ngadas memiliki tungku api. Selain digunakan untuk memasak, tungku api juga berfungsi untuk menghangatkan tubuh karena suhu udara di desa ini cukup dingin. Kondisi alam yang dingin inilah yang membuat tungku api menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, baik secara fungsional maupun sosial. Ada satu pesan adat yang selalu kami dengar ketika bertamu di Desa Ngadas, yaitu bahwa setiap makanan atau minuman yang diberikan sebaiknya diterima dan dimakan. Menolak suguhan dianggap kurang sopan dan dapat memengaruhi hubungan sosial di kemudian hari. Hal ini menunjukkan bahwa menerima pemberian bukan sekadar soal makanan, tetapi bentuk penghargaan terhadap niat baik tuan rumah. Teh atau kopi dan kentang hampir selalu menjadi suguhan utama. Makanan ini mencerminkan kehidupan masyarakat Ngadas yang mayoritas bekerja sebagai petani kentang, sehingga hasil pertanian mereka juga menjadi bagian dari tradisi bertamu. Dari pengalaman bertamu di Desa Ngadas, kami belajar bahwa memuliakan tamu bukan hanya tentang suguhan, tetapi tentang sikap, rasa hormat, dan kehangatan dalam kebersamaan. Duduk bersama di sekitar tungku api mengajarkan kami arti kesederhanaan, keterbukaan, dan kedekatan antar manusia. Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa adat istiadat bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi nilai hidup yang masih dijalankan dan dijaga hingga sekarang. Sebagai generasi muda, kami memiliki tanggung jawab untuk menghormati, menjaga, dan melestarikan budaya lokal agar tidak hilang oleh perkembangan zaman. Kami merasa bersyukur dan bangga dapat merasakan langsung nilai kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Desa Ngadas. Gegeni di Posko (Doc Pribadi)
FAJAR MUHAMMAD YUSUF
Masjid Roisiyah tampak lebih hidup pada Jumat, 2 Januari. Sejak pagi hari, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Sarimi Adhiyaksa terlihat aktif di dalam masjid untuk melaksanakan roan akbar sebagai wujud kepedulian terhadap rumah ibadah dan lingkungan sekitar. Kegiatan ini tidak dilakukan sendiri. Para mahasiswa bahu-membahu bersama tim marbot dan cleaning service masjid. Kolaborasi tersebut membuat suasana kerja terasa lebih ringan sekaligus memperkuat nilai kebersamaan. Tanpa sekat, semua terlibat dalam satu tujuan: menciptakan masjid yang bersih, rapi, dan nyaman bagi jamaah. Para mahasiswa membagi peran dengan sigap. Sebagian fokus membersihkan kipas angin dan area dalam masjid, sementara yang lain merapikan sajadah, mukena, serta perlengkapan ibadah agar kembali tertata rapi. Mukena dilipat satu per satu, sajadah disusun dengan rapi, dan lemari masjid dibenahi agar lebih tertib dan mudah digunakan. Suasana roan berlangsung hangat dan penuh semangat. Canda ringan dan tawa sesekali terdengar di sela-sela aktivitas, namun tidak mengurangi keseriusan mereka dalam bekerja. Justru dari kebersamaan antara mahasiswa, marbot, dan cleaning service itulah semangat gotong royong benar-benar terasa. Bagi mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa, roan akbar ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan tentu membutuhkan perhatian bersama, dan keterlibatan berbagai pihak menjadi bukti bahwa kepedulian bisa tumbuh melalui kerja kolaboratif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap Masjid Roisiyah dapat memberikan kenyamanan lebih bagi jamaah dalam beribadah. Lebih dari itu, roan akbar ini menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan masjid adalah tanggung jawab bersama dan bagian dari nilai ibadah itu sendiri. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi yang terjalin, roan akbar di Masjid Roisiyah menjadi salah satu momen bermakna dalam rangkaian kegiatan KKM Sarimi Adhiyaksa. Kegiatan sederhana, namun menghadirkan dampak positif dan kesan mendalam bagi semua yang terlibat.
SAYYIDATINA RASYIIDA AULIA
Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) sering kali menjadi momen berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat dan lingkungan sekitar. Hal inilah yang dirasakan oleh KKM Arsana Muda, yang tidak hanya berfokus pada program kerja sosial dan edukatif, tetapi juga turut mengenal serta membantu mempromosikan potensi wisata alam di daerah setempat, salah satunya melalui kunjungan ke Coban Gluthak. Coban Gluthak merupakan air terjun alami yang berada di kawasan pedesaan dengan kondisi alam yang masih terjaga. Wisata ini belum terlalu ramai pengunjung, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam. Melalui kegiatan ini, KKM Arsana Muda ingin melihat secara langsung kondisi wisata, akses menuju lokasi, serta daya tarik yang bisa diperkenalkan kepada masyarakat luas. Perjalanan menuju Coban Gluthak tidak bisa ditempuh sepenuhnya dengan kendaraan. Dari titik pemberhentian terakhir, perjalanan harus dilanjutkan dengan trek jalan kaki menyusuri jalur alam. Waktu tempuh menuju air terjun berkisar 30 hingga 45 menit, tergantung kondisi fisik dan cuaca saat itu. Jalur yang dilalui cukup beragam, mulai dari jalan tanah, bebatuan, hingga jalur sempit yang diapit oleh pepohonan dan semak hijau. Medan perjalanan bisa dibilang cukup menantang. Beberapa bagian trek licin dan menurun, terutama karena tanah lembap dan batu-batu yang tertutup lumut. Di beberapa titik, kami harus lebih berhati-hati agar tidak terpeleset. Meski demikian, tantangan ini justru menambah kesan petualangan tersendiri. Perjalanan terasa melelahkan, namun terbayar dengan suasana alam yang sejuk, udara segar, serta suara alam yang menenangkan. Kebersamaan menjadi hal paling terasa selama perjalanan. Anggota KKM Arsana Muda saling membantu, menunggu satu sama lain, dan berbagi semangat ketika melewati jalur yang cukup sulit. Canda tawa di tengah perjalanan membuat rasa lelah terasa lebih ringan. Momen ini menjadi pengalaman berharga yang mempererat kebersamaan dan kekompakan tim. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tibalah kami di lokasi Coban Gluthak. Pemandangan yang tersaji seketika membuat rasa lelah terbayar lunas. Air terjun yang tinggi dengan aliran air yang deras jatuh di antara tebing hijau yang dipenuhi lumut dan tanaman liar. Airnya terlihat jernih dan segar, sementara suasana di sekitar terasa sangat sejuk dan alami. Keindahan Coban Gluthak tidak hanya terletak pada air terjunnya, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya yang masih asri dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Suara gemuruh air berpadu dengan kicauan burung menciptakan suasana yang menenangkan. Tempat ini sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati alam, melepas penat, dan mencari ketenangan. Melalui kegiatan kunjungan ini, KKM Arsana Muda berharap dapat ikut berkontribusi dalam mengenalkan dan mendukung pengembangan wisata lokal. Dengan promosi yang tepat dan pengelolaan yang baik, Coban Gluthak berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, tentu dengan tetap menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa KKM bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga tentang belajar, berbagi pengalaman, serta menumbuhkan kepedulian terhadap potensi daerah. Perjalanan ke Coban Gluthak menjadi salah satu pengalaman berharga yang akan selalu dikenang oleh KKM Arsana Muda.
NUR HUMAIROH
Program kerja RTH (Rumah Taman Hijau) jadi salah satu aksi seru yang digarap oleh KKM Ganiswara Kelompok 64 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di lingkungan sekolah. Lewat program ini, mahasiswa KKM ingin bikin sekolah nggak cuma jadi tempat belajar, tapi juga ruang yang hijau, adem, dan enak dipandang. RTH hadir sebagai bukti kalau peduli lingkungan itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Proses pengerjaan RTH dikerjakan langsung oleh seluruh anggota KKM Ganiswara 64. Dari nyusun konsep taman, milih spot yang pas di sekolah, sampai eksekusi di lapangan, semuanya dilakukan bareng-bareng. Kerja tim dan semangat gotong royong jadi kunci utama biar RTH ini bisa terwujud dengan maksimal. Yang bikin RTH ini beda dari yang lain adalah pemanfaatan botol bekas sebagai media tanam. Botol plastik yang biasanya cuma jadi sampah, di tangan mahasiswa KKM disulap jadi pot tanaman yang estetik. Selain ramah lingkungan, cara ini juga jadi pesan kuat tentang pentingnya daur ulang. Botol-botol bekas tersebut dibersihkan, dipotong, lalu dihias biar tampilannya makin kece. Setelah itu, botol diisi tanah dan ditanami berbagai tanaman hias serta tanaman hijau. Hasilnya, sudut sekolah jadi lebih hidup dan punya nilai seni yang unik. Keberadaan RTH bikin suasana sekolah jadi lebih fresh dan nyaman. Area yang sebelumnya biasa saja kini berubah jadi ruang hijau yang bisa dinikmati warga sekolah. Nggak cuma buat dipandang, RTH juga bisa jadi spot belajar santai atau media pembelajaran luar kelas. Lewat RTH ini, siswa diajak buat lebih peduli sama lingkungan sekitar. Mereka bisa belajar langsung cara merawat tanaman dan memahami bahwa barang bekas masih punya nilai guna. Edukasi lingkungan jadi terasa lebih dekat dan nggak membosankan. Dengan hadirnya RTH di sekolah, KKM Ganiswara Kelompok 64 berharap bisa ninggalin jejak positif yang berkelanjutan. Program ini jadi bukti kalau kreativitas, kepedulian, dan kerja bareng bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Dari botol bekas, lahir taman hijau yang penuh makna.
NAJMA FAHIRA
Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 85 MITSEVA resmi ditutup pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Desa Pojok. Acara penutupan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sekaligus momentum istimewa dengan diluncurkannya sebuah inovasi digital bertajuk "Sigap Pojok". Peluncuran aplikasi Sigap Pojok menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut. Acara ini turut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Kapolsek setempat, Bapak Camat, Ibu PJ Kepala Desa Pojok, serta jajaran perangkat desa lainnya. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut menunjukkan dukungan nyata terhadap inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat desa. Sigap Pojok hadir sebagai aplikasi kentongan digital yang dirancang untuk memperkuat sistem keamanan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial warga Desa Pojok. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk saling terhubung secara cepat dalam situasi darurat, sehingga respons terhadap potensi gangguan keamanan dapat dilakukan lebih sigap dan terkoordinasi. Inovasi yang digagas oleh mahasiswa KKM 85 MITSEVA ini mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan para tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, para petinggi desa menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kontribusi mahasiswa, serta menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan aplikasi Sigap Pojok ke depannya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. Selain menjadi ajang peresmian aplikasi, kegiatan penutupan KKM juga diisi dengan penyampaian kesan dan pesan, refleksi perjalanan pengabdian, serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program KKM. Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai akhir kegiatan, menandai terjalinnya hubungan yang erat antara mahasiswa dan warga Desa Pojok. Melalui penutupan ini, KKM 85 MITSEVA berharap seluruh program yang telah dijalankan, termasuk hadirnya aplikasi Sigap Pojok, dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Pengabdian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan desa mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal, sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.
MUHAMMAD YAQI AULAN NI`AM
Kelompok 166 KKM Mandiri Baranova melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Licin dengan fokus pada pembinaan sosial remaja, pemberdayaan ekonomi digital, dan penguatan nilai keagamaan. Melalui sosialisasi anti bullying dan kenakalan remaja, mahasiswa KKM berupaya membangun kesadaran sosial sejak usia dini. Di bidang ekonomi, pendampingan QRIS diberikan sebagai upaya meningkatkan efisiensi transaksi dan literasi keuangan masyarakat. Seluruh kegiatan tersebut dipadukan dengan amaliah keagamaan yang dilaksanakan secara konsisten bersama masyarakat, sehingga pengabdian tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga membangun karakter dan spiritualitas masyarakat Desa Licin.