Thumbnail
8 months ago
Aksi Nyata di Ladang : Mahasiswa KKM UIN Malang Bantu Petani Panen Daun Bawang.

ZAFIRAH TALITHA

Pada hari Selasa, 30 Desember 2025, mahasiswa KKM UIN Malang melaksanakan kegiatan bantuan tenaga kerja tani di lahan perkebunan milik warga setempat. Kegiatan ini difokuskan pada proses panen komoditas daun bawang sebagai bagian dari program kerja pengabdian masyarakat di bidang ekonomi dan pertanian.  Dalam pelaksanaannya, mahasiswa terjun langsung ke ladang untuk membantu petani mencabut dan menyortir daun bawang yang telah siap panen. Berdasarkan dokumentasi kegiatan, proses ini dilakukan bersama petani lokal di area lahan yang dikelola menggunakan sistem mulsa plastik untuk menjaga kualitas tanaman. Interaksi yang terjalin di sela-sela aktivitas panen menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk memahami teknik budidaya tanaman di dataran tinggi. Selain memberikan bantuan tenaga, kehadiran mahasiswa bertujuan untuk mempererat silaturahmi dengan warga sebelum pelaksanaan agenda perayaan malam tahun baru di balai desa. Hasil panen yang telah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam keranjang-keranjang plastik siap angkut untuk didistribusikan. Keterlibatan aktif ini diharapkan dapat meringankan beban kerja petani sekaligus memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa mengenai rantai pasok hasil pertanian desa secara langsung. Kegiatan di ladang berakhir pada sore hari dengan suasana yang penuh keakraban antara mahasiswa dan masyarakat tani. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan menjadi bekal cerita positif bagi mahasiswa dalam menjalankan masa KKM di desa tersebut. Sebagai penutup, kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan hasil panen secara simbolis kepada pengepul dan pembersihan area ladang. Partisipasi ini menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya berfokus pada program administratif, namun juga aktif berkontribusi dalam kegiatan ekonomi harian warga desa.    

Thumbnail
8 months ago
Penutupan KKM 85 MITSEVA Desa Pojok Dirangkaikan dengan Peluncuran Aplikasi Sigap Pojok

SITI KHOIRUN NISA

Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 85 MITSEVA resmi ditutup pada Selasa, 3 Februari 2026, bertempat di Gedung Serbaguna Desa Pojok. Acara penutupan ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sekaligus momentum istimewa dengan diluncurkannya sebuah inovasi digital bertajuk "Sigap Pojok". Peluncuran aplikasi Sigap Pojok menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut. Acara ini turut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Kapolsek setempat, Bapak Camat, Ibu PJ Kepala Desa Pojok, serta jajaran perangkat desa lainnya. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut menunjukkan dukungan nyata terhadap inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat desa.   Sigap Pojok hadir sebagai aplikasi kentongan digital yang dirancang untuk memperkuat sistem keamanan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial warga Desa Pojok. Aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk saling terhubung secara cepat dalam situasi darurat, sehingga respons terhadap potensi gangguan keamanan dapat dilakukan lebih sigap dan terkoordinasi.   Inovasi yang digagas oleh mahasiswa KKM 85 MITSEVA ini mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan para tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, para petinggi desa menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kontribusi mahasiswa, serta menyatakan komitmen untuk mendukung pengembangan aplikasi Sigap Pojok ke depannya agar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.   Selain menjadi ajang peresmian aplikasi, kegiatan penutupan KKM juga diisi dengan penyampaian kesan dan pesan, refleksi perjalanan pengabdian, serta ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya program KKM. Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai akhir kegiatan, menandai terjalinnya hubungan yang erat antara mahasiswa dan warga Desa Pojok.   Melalui penutupan ini, KKM 85 MITSEVA berharap seluruh program yang telah dijalankan, termasuk hadirnya aplikasi Sigap Pojok, dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. Pengabdian ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan desa mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal, sekaligus memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat.  

Thumbnail
8 months ago
Sepak Terjang BKKM Desa Pojok

ADINDA ISNA MAULIDAH

https://kkm-85-mitseva.blogspot.com/2026/01/sepak-terjang-bkmm-di-masjid-baitul.html  Masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial umat. Gambaran inilah yang kini terasa kuat di Baitul Muqaddam. Sejak BKMM diaktifkan pada tahun 2022, masjid ini perlahan mengalami perubahan signifikan yang tidak hanya dari segi aktivitas keagamaan, tetapi juga dalam peran sosialnya di tengah masyarakat.   BKMM hadir sebagai pegiat masjid yang tidak sekadar mengisi agenda seremonial, melainkan membangun ekosistem masjid yang ramah, aktif, dan fungsional. Sejumlah kegiatan rutin diselenggarakan, mulai dari Jumat Berkah hingga peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Hari Santri. Kehadiran program-program tersebut menjadikan masjid semakin hidup dan terbuka bagi berbagai kalangan.   Salah satu program yang paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat adalah Jumat Berkah. Program ini tidak hanya menghadirkan nilai ibadah melalui sedekah dan berbagi, tetapi juga menjadi sarana menghidupkan masjid secara nyata. Antusiasme jamaah pun meningkat dari waktu ke waktu. Bu Soliha, salah satu anggota BKMM di Masjid Baitul Muqaddam, mengungkapkan bahwa keberadaan Jumat Berkah membawa perubahan besar. “Alhamdulillah, semenjak ada Jumat Berkah jamaah sholat Jumat melonjak banget. Terutama anak-anak jadi rajin, bahkan anak-anak yang biasanya keluyuran juga banyak yang mampir ikut sholat,” tuturnya. Selain berdampak pada peningkatan jumlah jamaah, Jumat Berkah juga menyentuh aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni kenyamanan dan keamanan jamaah. Sejak program ini berjalan, pengelolaan parkir di lingkungan masjid menjadi lebih aman, mengingat sebelumnya sering pernah terjadi pencurian. Para pegiat BKMM turut mengakomodasi kebutuhan tersebut, terutama saat jumlah jamaah meningkat tajam pada hari Jumat. Hal sederhana seperti pengamanan parkir ini memberi dampak besar. Jamaah merasa lebih tenang dan nyaman saat beribadah tanpa kekhawatiran terhadap kendaraannya. Inisiatif ini menunjukkan bahwa memakmurkan masjid tidak selalu harus melalui program besar dan formal, melainkan juga melalui kepedulian pada kebutuhan praktis jamaah. Melalui berbagai kegiatan yang digerakkan BKMM, Masjid Baitul Muqaddam kini tampil sebagai ruang publik religius yang inklusif. Selain diramaikan oleh doa, tetapi juga kepedulian, kebersamaan, dan rasa aman membersamai suasana lingkup masjid Baitul Muqaddam. Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasi mahasiswa KKM 85 MITSEVA untuk memahami bahwa memakmurkan masjid adalah bagian dari pengabdian sosial yang nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat.    

Thumbnail
8 months ago
Menggerakkan Potensi Lokal: KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh dengan Pendekatan ABCD

LEDINA MAULIYAH

Pembangunan desa selama ini masih sering dipahami dari sudut pandang kekurangan. Desa kerap digambarkan sebagai wilayah dengan fasilitas terbatas, sumber daya manusia yang belum optimal, serta keterbatasan akses terhadap program pemberdayaan dan peluang ekonomi. Cara pandang tersebut secara tidak langsung menempatkan desa sebagai objek pembangunan yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Akibatnya, potensi yang sebenarnya telah hidup dan berkembang di tengah masyarakat sering kali luput dari perhatian. Padahal, setiap desa memiliki kekuatan lokal yang lahir dari aktivitas warganya sehari-hari, hubungan sosial yang terjalin, lembaga-lembaga komunitas yang terus berjalan, serta berbagai bentuk usaha ekonomi yang tumbuh secara mandiri. Potensi tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fasilitas fisik yang besar, melainkan tersimpan dalam keterampilan warga, kebiasaan gotong royong, semangat belajar anak-anak, kepedulian keluarga terhadap kesehatan, serta kreativitas pelaku usaha lokal. Apabila potensi ini dikenali, dipetakan, dan dikembangkan secara bersama, desa memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk membangun kesejahteraan warganya secara berkelanjutan. Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, memperlihatkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal dapat diwujudkan melalui pendekatan yang tepat. Melalui kerangka Asset Based Community Development (ABCD) yang dikembangkan oleh LP2M, mahasiswa hadir bukan untuk membawa program siap pakai, melainkan memfasilitasi proses pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki desa. Pendekatan ABCD memandang masyarakat sebagai pemilik utama sumber daya dan pengetahuan lokal. Dalam praktiknya, mahasiswa KKM berperan sebagai mitra dan fasilitator yang membantu warga menggali potensi, menghubungkan antar kelompok masyarakat, serta mendorong terbangunnya kolaborasi lintas sektor desa. Proses ini diawali dengan pengenalan kondisi desa, interaksi langsung dengan warga, diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pengelola lembaga pendidikan, kader posyandu, pemuda Karang Taruna, serta pelaku UMKM. Melalui dialog dan keterlibatan langsung, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Desa Sengguruh memiliki banyak aset sosial, pendidikan, kesehatan, budaya, dan ekonomi yang dapat saling mendukung apabila dikelola secara terpadu. Pendidikan Anak dan TPQ sebagai Aset Sosial yang Hidup Salah satu aset penting yang dimiliki Desa Sengguruh adalah keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal yang aktif dan mendapatkan dukungan masyarakat. Kegiatan asistensi mengajar yang dilaksanakan di SDN Sengguruh menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri anak-anak. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mendampingi guru dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan praktik sederhana yang melibatkan siswa secara langsung. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap kegiatan, berani bertanya, serta aktif menyampaikan pendapat. Respons positif ini menunjukkan bahwa minat belajar dan rasa ingin tahu anak-anak di Desa Sengguruh merupakan aset sosial yang sangat berharga. Selain di sekolah, kegiatan pendampingan juga dilaksanakan di TPQ Nurul Huda. TPQ berperan sebagai ruang pendidikan keagamaan sekaligus pembentukan sikap disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab. Anak-anak mengikuti kegiatan mengaji dengan penuh semangat, sementara mahasiswa membantu dalam penguatan bacaan, hafalan, serta penyampaian nilai-nilai akhlak sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keberadaan SDN Sengguruh dan TPQ Nurul Huda memperlihatkan bahwa lembaga pendidikan di desa tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial anak-anak dan orang tua. Sekolah dan TPQ menjadi titik temu antara pendidik, keluarga, dan masyarakat. Dengan pendampingan yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak desa, lembaga pendidikan ini berpotensi menjadi pusat pengembangan generasi muda yang kreatif, berkarakter, religius, dan adaptif terhadap perubahan. Posyandu dan Edukasi Keluarga sebagai Aset Kesehatan yang Efektif Di bidang kesehatan, Desa Sengguruh memiliki jaringan posyandu yang aktif dan didukung oleh kader-kader yang berperan langsung dalam pelayanan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu selama empat hari menunjukkan tingginya partisipasi warga, khususnya ibu-ibu yang membawa balita untuk melakukan penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta konsultasi kesehatan. Selain pelayanan rutin, mahasiswa KKM turut berpartisipasi dalam kegiatan sosialisasi kesehatan dan edukasi parenting. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pola asuh yang mendukung perkembangan anak, pencegahan penyakit ringan di lingkungan keluarga, serta peran orang tua dalam menjaga kesehatan mental dan emosional anak. Penyampaian dilakukan secara komunikatif dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima. Posyandu di Desa Sengguruh tidak hanya berfungsi sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama bagi keluarga. Interaksi antara kader, mahasiswa, dan warga membentuk proses pertukaran pengetahuan yang sederhana namun bermakna. Melalui pendekatan ABCD, keberadaan kader posyandu, PKK, serta jaringan ibu-ibu desa dipandang sebagai aset sosial yang mampu menyebarluaskan informasi kesehatan secara berkelanjutan. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, edukasi kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dapat diteruskan melalui pertemuan rutin, kegiatan PKK, dan interaksi informal antarwarga. Dampaknya dirasakan langsung oleh unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sebagai fondasi utama pembangunan kualitas sumber daya manusia desa. UMKM Lokal dan Penguatan Ekonomi Desa Desa Sengguruh memiliki potensi ekonomi lokal yang cukup beragam. Beberapa UMKM telah berjalan secara mandiri, seperti usaha batik, produksi keripik tempe, dan pembuatan sepatu. Usaha-usaha ini menunjukkan kemampuan warga dalam mengelola keterampilan, bahan lokal, dan jaringan pemasaran sederhana. Namun, salah satu aset ekonomi sekaligus budaya yang paling menonjol adalah Rumah Topeng Desa Sengguruh. Rumah Topeng tidak hanya berperan sebagai tempat produksi topeng tradisional, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya desa yang merepresentasikan nilai seni, sejarah, dan kearifan lokal. Keberadaan Rumah Topeng menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar desa, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Mahasiswa KKM mendampingi pengelola UMKM, khususnya Rumah Topeng, melalui kegiatan penataan ruang produksi, perbaikan tampilan visual, serta diskusi mengenai strategi promosi sederhana. Pendampingan ini menekankan bahwa penguatan usaha tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi dapat dimulai dari perbaikan tata ruang, dokumentasi produk yang lebih menarik, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Melalui proses tersebut, pengelola UMKM memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya tampilan produk, cerita di balik produk lokal, serta potensi pasar yang dapat dijangkau secara lebih luas. Dengan dukungan berbasis aset dan kreativitas lokal, UMKM di Desa Sengguruh memiliki peluang untuk meningkatkan daya saing, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Kohesi Sosial dan Balai Desa sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat Selain aset pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, Desa Sengguruh juga memiliki kekuatan sosial yang tercermin melalui aktivitas pemuda dan keberfungsian balai desa. Kegiatan kerja bakti yang melibatkan pemuda Karang Taruna menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi ruang interaksi antarwarga lintas usia. Pemuda desa menunjukkan peran aktif dalam mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Keterlibatan mereka menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan program desa, sekaligus sebagai calon penggerak pembangunan desa di masa depan. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi berbagai kegiatan masyarakat. Berbagai program KKM, seperti sosialisasi kesehatan, pertemuan UMKM, diskusi bersama perangkat desa, hingga kegiatan komunitas pemuda, dilaksanakan di balai desa. Keberadaan balai desa sebagai ruang publik memungkinkan terbangunnya komunikasi yang terbuka, partisipasi warga, serta proses pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pemanfaatan balai desa dan jejaring sosial yang telah terbentuk membuat setiap kegiatan saling terhubung dan berjalan lebih efektif. Rasa memiliki terhadap program desa pun semakin kuat, sehingga ketergantungan terhadap bantuan eksternal dapat secara perlahan dikurangi. ABCD sebagai Kerangka Pemberdayaan Desa Pendekatan ABCD dari LP2M menjadi landasan utama bagi KKM Reguler Kelompok 82 dalam merancang seluruh kegiatan di Desa Sengguruh. Fokus utama pendekatan ini adalah mengidentifikasi dan mengoptimalkan aset yang sudah ada, baik berupa aset individu, kelompok, lembaga, maupun fasilitas desa. Mahasiswa berperan sebagai penghubung antar aset agar dapat saling mendukung. Edukasi parenting di posyandu dapat dikaitkan dengan kegiatan pembelajaran karakter di sekolah dan TPQ. Promosi UMKM dan Rumah Topeng dapat terintegrasi dengan pemanfaatan balai desa sebagai pusat informasi dan ruang pamer. Kegiatan kerja bakti dan peran pemuda Karang Taruna memperkuat kohesi sosial yang menjadi landasan keberlanjutan program-program tersebut. Melalui integrasi ini, masyarakat mulai melihat bahwa setiap kelompok dan lembaga di desa memiliki peran yang saling melengkapi. Desa Sengguruh tidak lagi diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai subjek pembangunan yang memiliki kapasitas untuk menentukan arah, prioritas, dan bentuk pengembangan desanya sendiri. Penutup Pengalaman KKM Reguler Kelompok 82 Purwarupa Bhumi menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berangkat dari kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengelola, dan merawat potensi yang telah dimiliki. Desa Sengguruh membuktikan bahwa aset manusia, sosial, ekonomi, budaya, dan kelembagaan dapat saling terhubung untuk menghasilkan perubahan yang nyata. Anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi, ibu-ibu yang semakin peduli terhadap kesehatan keluarga, UMKM kreatif terutama Rumah Topeng sebagai ikon budaya desa, pemuda yang aktif dalam kegiatan sosial, serta balai desa yang berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, menjadi fondasi penting bagi masa depan Desa Sengguruh yang mandiri dan berdaya. Pembangunan desa tidak lagi semata-mata dipahami sebagai upaya memperbaiki kekurangan, tetapi sebagai proses menggerakkan, menghubungkan, dan mengembangkan kekuatan lokal agar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Melalui kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan mahasiswa KKM, Desa Sengguruh memiliki modal sosial yang kuat untuk melanjutkan praktik pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Thumbnail
8 months ago
Tah Hanya Teori, KKM Sarimi Adhiyaksa bersama Muslimat Belajar Merawat Jenazah

MUHAMMAD ARIEFKY ADMAJA

Kegiatan penyuluhan perawatan jenazah diselenggarakan oleh Kelompok KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama ibu-ibu Muslimat Kelurahan Jodipan pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Roisiyah Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tata cara perawatan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Materi yang disampaikan meliputi tahapan memandikan, mengkafani, hingga menshalatkan jenazah. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Para peserta tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik perawatan jenazah yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar.

Thumbnail
8 months ago
Sepak Terjang BKMM di Masjid Baitul Muqaddam Telah Menginspirasi Mahasiswa KKM 85 MITSEVA akan Rasa Kepedulian

ALPIN NOVAL MUHABBAH

Masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial umat. Gambaran inilah yang kini terasa kuat di Baitul Muqaddam. Sejak BKMM diaktifkan pada tahun 2022, masjid ini perlahan mengalami perubahan signifikan yang tidak hanya dari segi aktivitas keagamaan, tetapi juga dalam peran sosialnya di tengah masyarakat. BKMM hadir sebagai pegiat masjid yang tidak sekadar mengisi agenda seremonial, melainkan membangun ekosistem masjid yang ramah, aktif, dan fungsional. Sejumlah kegiatan rutin diselenggarakan, mulai dari Jumat Berkah hingga peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Hari Santri. Kehadiran program-program tersebut menjadikan masjid semakin hidup dan terbuka bagi berbagai kalangan.   Salah satu program yang paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat adalah Jumat Berkah. Program ini tidak hanya menghadirkan nilai ibadah melalui sedekah dan berbagi, tetapi juga menjadi sarana menghidupkan masjid secara nyata. Antusiasme jamaah pun meningkat dari waktu ke waktu.   Bu Soliha, salah satu anggota BKMM di Masjid Baitul Muqaddam, mengungkapkan bahwa keberadaan Jumat Berkah membawa perubahan besar.   “Alhamdulillah, semenjak ada Jumat Berkah jamaah sholat Jumat melonjak banget. Terutama anak-anak jadi rajin, bahkan anak-anak yang biasanya keluyuran juga banyak yang mampir ikut sholat,” tuturnya. Selain berdampak pada peningkatan jumlah jamaah, Jumat Berkah juga menyentuh aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni kenyamanan dan keamanan jamaah. Sejak program ini berjalan, pengelolaan parkir di lingkungan masjid menjadi lebih aman, mengingat sebelumnya sering pernah terjadi pencurian. Para pegiat BKMM turut mengakomodasi kebutuhan tersebut, terutama saat jumlah jamaah meningkat tajam pada hari Jumat.   Hal sederhana seperti pengamanan parkir ini memberi dampak besar. Jamaah merasa lebih tenang dan nyaman saat beribadah tanpa kekhawatiran terhadap kendaraannya. Inisiatif ini menunjukkan bahwa memakmurkan masjid tidak selalu harus melalui program besar dan formal, melainkan juga melalui kepedulian pada kebutuhan praktis jamaah. Melalui berbagai kegiatan yang digerakkan BKMM, Masjid Baitul Muqaddam kini tampil sebagai ruang publik religius yang inklusif. Selain diramaikan oleh doa, tetapi juga kepedulian, kebersamaan, dan rasa aman membersamai suasana lingkup masjid Baitul Muqaddam. Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasi mahasiswa KKM 85 MITSEVA untuk memahami bahwa memakmurkan masjid adalah bagian dari pengabdian sosial yang nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat.