RAYHAN AGUNG PRADANA
Pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada: Menguatkan Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat Kegiatan pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 21 resmi dilaksanakan di Masjid Asy-Syuhada sebagai langkah awal dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Acara ini dihadiri oleh pengurus masjid, tokoh masyarakat, serta seluruh anggota KKM Kelompok 21 yang akan menjalankan program pengabdian selama periode KKM berlangsung. Pembukaan KKM ini menjadi momentum penting dalam membangun komunikasi awal antara mahasiswa dan masyarakat setempat. Bertempat di lingkungan masjid yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial warga, kegiatan berlangsung dengan suasana khidmat namun penuh kehangatan. Masjid Asy-Syuhada dipilih sebagai lokasi pembukaan karena perannya yang strategis sebagai ruang berkumpul dan pusat interaksi masyarakat. Dalam rangkaian acara, perwakilan mahasiswa KKM Kelompok 21 menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan KKM, sekaligus memperkenalkan seluruh anggota kelompok kepada masyarakat. Mahasiswa menegaskan komitmen mereka untuk berkontribusi secara aktif, tidak hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang siap belajar dan berkolaborasi. Penyerahan simbolis dari pihak kampus kepada pengurus masjid menjadi tanda diterimanya mahasiswa KKM Kelompok 21 secara resmi oleh masyarakat. Tokoh masyarakat dan pengurus Masjid Asy-Syuhada dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM. Mereka berharap program-program yang dirancang dapat memberikan manfaat nyata, terutama dalam penguatan kegiatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga menaruh harapan agar mahasiswa mampu menjaga etika, sopan santun, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman selama berada di lingkungan desa. Kegiatan pembukaan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang awal untuk membangun kesepahaman bersama. Diskusi singkat antara mahasiswa dan tokoh masyarakat membuka peluang sinergi dalam merancang program yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan program KKM yang berkelanjutan dan berdampak positif. Melalui pembukaan KKM Kelompok 21 di Masjid Asy-Syuhada, mahasiswa secara resmi memulai perjalanan pengabdian yang menuntut tanggung jawab, kedisiplinan, dan empati sosial. Kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan harmonis antara mahasiswa dan masyarakat. Harapannya, kehadiran mahasiswa KKM tidak hanya meninggalkan jejak program, tetapi juga nilai kebersamaan, gotong royong, dan kebermanfaatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas.
MUTIARA AZ-ZAHRA
Menjelang malam, selepas azan Maghrib berkumandang, Masjid Baitul Mubtadiin kembali hidup oleh lantunan ayat suci. Di teras masjid, anak-anak masyarakat setempat duduk rapi, membuka mushaf, dan bersiap mengikuti kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang didampingi oleh mahasiswa KKM 128 UIN Malang. Kegiatan TPQ ini dilaksanakan di Masjid Baitul Mubtadiin dan berlangsung setiap hari setelah Salat Maghrib, kecuali malam Jumat, terhitung sejak 5 hingga 30 Januari. Program ini melibatkan rekan-rekan mahasiswa KKM 128 sebagai pengajar, dengan anak-anak masyarakat sekitar yang rutin mengaji di masjid. Pendampingan TPQ ini bertujuan untuk membantu pengajar TPQ setempat, sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian masyarakat. Di tengah lingkungan yang heterogen, kegiatan ini juga berperan dalam menanamkan dan menguatkan nilai-nilai keislaman secara konsisten dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM berangkat ke masjid sejak azan Maghrib berkumandang untuk melaksanakan salat berjamaah bersama masyarakat. Setelah itu, kegiatan mengaji dilaksanakan di teras masjid dengan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Setiap harinya, dua mahasiswa KKM bertugas mengajar sesuai jadwal bergiliran yang telah ditentukan. Kegiatan TPQ diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembelajaran membaca Al-Qur’an sesuai kemampuan masing-masing anak, dan ditutup kembali dengan doa bersama. Pola kegiatan yang teratur ini menciptakan suasana belajar yang lebih terarah dan kondusif bagi para santri. Melalui kegiatan TPQ ini, mahasiswa KKM 128 UIN Malang berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar, memperkuat budaya mengaji, serta menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an sebagai bekal spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
NIDA ISTAUFA FATIHA ILMIA
Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi gula merah di Dusun Napel, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat potensi ekonomi lokal yang telah menjadi warisan budaya turun-temurun di desa tersebut. Kunjungan yang dilaksanakan pada awal Januari 2026 ini disambut hangat oleh para pengusaha gula merah setempat. Para mahasiswa berkesempatan melihat langsung proses produksi gula merah dari hulu hingga hilir, mulai dari penggilingan tebu, pemasakan nira, hingga pengemasan produk akhir. Warisan Budaya yang Terus Berkembang Produksi gula merah di Desa Sukolilo merupakan warisan budaya yang diturunkan secara turun-temurun, menjadikannya lebih dari sekadar mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Dusun Napel menjadi pusat produksi gula merah di Desa Sukolilo dengan kurang lebih 20 rumah produksi yang tersebar di seluruh dusun. Proses Produksi Modern dengan Sentuhan Tradisional Pemilik pabrik menjelaskan bahwa proses pembuatan gula merah meliputi beberapa tahap utama: penggilingan tebu untuk mengekstrak nira, penyaringan untuk membersihkan kotoran, pemasakan menggunakan mesin evaporator hingga mengental, pencetakan, dan pengemasan. Yang menarik, pada awal produksi, penggilingan tebu menggunakan alat dari kayu dan tenaga sapi. Sejak tahun 1982, tenaga sapi mulai digantikan oleh mesin diesel berbahan solar yang kemudian berganti dengan listrik. Transformasi teknologi ini menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan esensi produksi tradisional. Kapasitas Produksi dan Jangkauan Pasar Pemilik pabrik menjelaskan bahwa kapasitas produksi dalam satu hari dapat mencapai satu ton, dengan perbandingan 10 Ton tebu menghasilkan satu ton gula merah. Angka ini menunjukkan bahwa produksi gula merah membutuhkan bahan baku yang sangat besar, menjadikan ketersediaan tebu lokal sebagai faktor krusial. Ekosistem Ekonomi Tebu di Sukolilo
AULIA ZIHARA SHOFI
Bullying atau perundungan adalah salah satu permasalahan yang masih sering terjadi dan banyak ditemukan di lingkungan sekolah, terutama pada jenjang sekolah dasar. Hal ini dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap perkembangan mental, emosional, dan sosial anak, serta berkurangnya rasa percaya diri terhadap anak. Melihat pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, mahasiswa Kuliah Kerja mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan edukasi atau seminar terkait Stop Bullying di SDN 1 Nglebeng. siswa sekolah dasar berada pada tingkatan pembentukan karakter. Pada usia ini, mereka perlu dibekali pengertian terkait sikap saling menghargai, menghormati perbedaan, serta akibat buruk dari perilaku bullying. Kurangnya pemahaman tentang bullying dapat mengakibatkan anak melakukan perundungan tanpa disadari bahwa perilakunya menyakiti orang lain. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi Stop Bullying sangat penting untuk ditanamkan nilai empati dan menghargai sejak kecil. Adanya kegiatan sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Nglebeng bertujuan untuk: Memberikan pemahaman dan pengertian kepada siswa tentang bullying dan lain-lain yang mengakibatkan dampak buruk pada teman. Menciptakan perilaku saling menghargai dan rasa kepedulian pada teman-teman. Mengajak atau mendorong siswa untuk berani berkata tidak pada bullying dan melapor guru jika melihat atau mengalami pembullyian. Kegiatan dilaksanakan di SDN 1 Nglebeng yang tertuju untuk siswa kelas satu sampai kelas 6. Cara yang digunakan sebagai berikut: Penyampaian materi secara sederhana dan memahamkan pelan-pelan kepada siswa. Cerita edukasi tentang stop bullying dan dan dampak dari hal tersebut. Diskusi dan sesi tanya jawab dengan siswa. permainan ringan atau contoh yang mengajarkan kerja sama dan empati. Siswa terlihat antusias dan semangat mengikuti kegiatan dan aktif menjawab pertanyaan dan bertanya terkait materi yang telah disediakan yang diberikan oleh mahasiswa KKN. Dari kegiatan ini, siswa lekas memahami bahwa bullying bukan hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga ejekan, hinaan, dan cacian serta kucilan. Siswa diajak untuk saling support dan membantu menjadi teman yang baik. Guru menyambut dengan baik kegiatan ini karena dapat membantu dalam membentuk karakter siswa di sekolah, serta memberi motivasi kepada murid-murid, agar menjadi lebih baik dan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif. Adanya kegiatan sosialisasi Stop Bullying di SDN 1 Nglebeng, diharapkan siswa bisa menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi semua. hal ini menjadi salah satu bentuk bantuan nyata mahasiswa KKN dalam mendukung pendidikan karakter sejak kecil. Semoga sosialisasi Stop Bullying bisa terus diterapkan pada kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah atau di luar sekolah.
MAISYA ANZANI PRATIWI
Di balik aktivitas para santri yang tekun menghafal dan mempelajari Al-Qur’an, Pondok Pesantren Cinta Al-Qur’an menyimpan identitas, program, dan potensi yang terus berkembang. Untuk memperkenalkan hal tersebut secara lebih luas dan terstruktur, disusunlah Profil Pondok Pesantren Cinta Al-Qur’an sebagai media informasi dan publikasi resmi pondok. Penyusunan profil pondok ini dilaksanakan di Perpustakaan Pondok Pesantren Cinta Al-Qur’an. Proses penulisan dilakukan oleh Aprilia Firdani, dengan mengacu pada berbagai artikel dan pemberitaan, serta dilengkapi melalui wawancara langsung dengan Pembina Pondok Pesantren Cinta Al-Qur’an, KH. Deden Jaenal Abidin, S.HI., M.Pd.I. Profil ini ditujukan bagi santri, alumni, wali santri, serta masyarakat umum sebagai pembaca utama. Penyusunan naskah profil pondok berlangsung selama 11–13 Januari 2026, berdasarkan hasil koordinasi dan pengumpulan data yang diperoleh dari pihak pondok. Selanjutnya, hasil profil tersebut dicetak dalam bentuk banner pada tanggal 28 Januari 2026 sebagai media informasi visual yang mudah diakses oleh pengunjung dan warga pondok. Pembuatan profil pondok ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pendokumentasian dan penyebarluasan informasi mengenai identitas, kegiatan, serta program Pondok Pesantren Cinta Al-Qur’an. Selain itu, keberadaan media profil dinilai perlu sebagai sarana komunikasi yang efektif bagi wali santri dan masyarakat untuk mengetahui perkembangan pondok secara menyeluruh. Dalam prosesnya, penyusunan profil diawali dengan koordinasi bersama pendiri dan pembina pondok, guna memperoleh izin sekaligus menggali informasi mendalam terkait sejarah, visi, program unggulan, serta potensi pengembangan pondok ke depan. Data yang terkumpul kemudian dirangkai menjadi naskah profil yang informatif, ringkas, dan mudah dipahami. Melalui penyusunan dan publikasi profil pondok ini, diharapkan santri, alumni, wali santri, serta masyarakat umum dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai Pondok Pesantren Cinta Al-Qur’an. Kehadiran media profil juga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas komunikasi antara pihak pondok dengan berbagai pihak terkait, sekaligus membangun citra positif pondok sebagai lembaga pendidikan yang terbuka, informatif, dan terus bertumbuh. Ke depan, profil Pondok Pesantren Cinta Al-Qur’an ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media pendukung promosi, pengenalan lembaga, serta penguatan jejaring kerja sama demi mendukung perkembangan pondok secara berkelanjutan.