SALSA BIILAA ROSYIDAH AZZAH
Dalam upaya meningkatkan transparansi informasi sekaligus memperkenalkan potensi desa kepada masyarakat luas, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Malang Kelompok 102 Desa Sumberngepoh melaksanakan program kerja pembuatan website desa. Program ini diharapkan menjadi sarana digital yang informatif, mudah diakses, dan bermanfaat bagi masyarakat maupun pemerintah desa. Website tersebut dirancang untuk memuat berbagai informasi penting, mulai dari sejarah desa, struktur pemerintahan, produk unggulan, hingga berita dan agenda kegiatan desa. Kehadiran platform digital ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi secara cepat dan akurat. Selain sebagai media informasi, website ini juga dilengkapi dengan fitur laporan dan pengaduan. Melalui fitur tersebut, warga dapat menyampaikan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan infrastruktur, lingkungan, maupun pelayanan publik secara langsung kepada perangkat desa, sehingga diharapkan dapat mempercepat proses tindak lanjut dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Bagus Achmad Syahputra selaku penanggung jawab program menyampaikan bahwa pembuatan website profil desa ini diharapkan dapat menjadi solusi dalam meningkatkan keterbukaan informasi serta efisiensi pelayanan kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa melalui website tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengakses berbagai informasi sekaligus berpartisipasi dalam pembangunan desa melalui fitur laporan dan pengaduan. Perangkat desa menyambut baik inovasi tersebut dan mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam mendukung upaya digitalisasi desa. Kepala Desa menyampaikan bahwa keberadaan website ini sangat membantu pemerintah desa dalam menyebarluaskan informasi sekaligus menampung aspirasi masyarakat secara lebih cepat dan terstruktur. “Website ini sangat membantu dalam menyebarluaskan informasi desa dan menerima aspirasi warga dengan lebih cepat. Kami berkomitmen untuk terus mengelola dan memperbarui website agar tetap bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Kepala Desa. Dengan hadirnya website profil desa ini, diharapkan desa dapat semakin maju dalam pemanfaatan teknologi informasi, mempercepat penanganan laporan masyarakat, serta meningkatkan daya tarik dan potensi desa di tingkat yang lebih luas. Program ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong pengembangan desa berbasis digital, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam pembangunan yang berkelanjutan.
AULIA RAFA XENA
Di TPQ, mading bukan sekadar hiasan dinding. Ia menjadi ruang ekspresi bagi santri dan mahasiswa untuk menuangkan perasaan, cerita, serta pengalaman selama kegiatan KKM berlangsung. Anak-anak TPQ dengan polos menuliskan kesan mereka: rasa senang diajar mengaji, bermain sambil belajar, hingga kebahagiaan memiliki “kakak-kakak KKM” yang sabar dan ramah. Sementara itu, mahasiswa juga menyampaikan pesan penuh harapan dan doa untuk masa depan TPQ dan desa. Salah satu bagian paling mengharukan dari mading TPQ adalah kesan dari para santri. Banyak dari mereka menuliskan kalimat sederhana seperti: “Terima kasih kakak KKM sudah mengajar kami mengaji.” “Saya senang belajar bersama kakak-kakak, semoga bisa datang lagi.” Kata-kata yang singkat, namun penuh makna. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa KKM benar-benar dirasakan dan memberi warna baru dalam proses belajar di TPQ. Anak-anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga belajar berani mengekspresikan diri. Mading menjadi pengingat bahwa meskipun waktu KKM terbatas, nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian diharapkan tetap tumbuh dan berlanjut setelah mahasiswa kembali ke kampus. Keberadaan mading di TPQ menjadikan kesan dan pesan KKM tidak hilang begitu saja. Ia tetap menempel di dinding, dibaca setiap hari, dan menjadi kenangan yang terus hidup. Bagi anak anak, mading adalah cerita tentang kakak-kakak yang pernah hadir dalam hidup mereka. Bagi mahasiswa, mading adalah bukti bahwa pengabdian kecil dapat meninggalkan dampak yang besar. Mading TPQ tentang kesan dan pesan KKM membuktikan bahwa media sederhana bisa memiliki makna luar biasa. Ia menjadi jembatan antara mahasiswa dan masyarakat, antara proses belajar dan kenangan, serta antara perpisahan dan harapan. Semoga semangat kebersamaan yang tertulis di mading tersebut terus menginspirasi, baik bagi TPQ, desa, maupun generasi mahasiswa KKM berikutnya.
SYIFA KAMILAN
KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 124 “Adhikara Nawasena” Hidupkan Tradisi Maulid Diba di Masjid Tawakkal Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 124 yang mengusung nama “Adhikara Nawasena” melaksanakan kegiatan rutin pembacaan Maulid Diba setiap hari Senin selama masa pengabdian di lingkungan Masjid Tawakkal. Kegiatan ini menjadi salah satu program keagamaan yang bertujuan menghidupkan tradisi islami sekaligus meningkatkan partisipasi dan keterampilan generasi muda di lingkungan sekitar masjid. Pada minggu pertama, kegiatan pembacaan Maulid Diba masih diikuti oleh jumlah jamaah yang terbatas. Peserta yang hadir didominasi oleh anggota KKM 124, sementara keterlibatan warga sekitar masih tergolong minim. Meski demikian, kegiatan tetap berjalan dengan khidmat sebagai langkah awal pengenalan program kepada masyarakat. Memasuki minggu kedua, kelompok KKM 124 mulai melakukan pendekatan kepada anak-anak dan remaja sekitar masjid. Mereka diajak untuk terlibat dalam kegiatan Diba, khususnya sebagai pengiring menggunakan alat banjari atau terbangan. Namun, karena belum adanya latihan terpadu, para remaja tersebut pada tahap ini masih mengikuti pembacaan Diba sebagai jamaah, sembari mulai dikenalkan dengan ritme dan pola tabuhan. Perkembangan signifikan terlihat pada minggu ketiga. Setelah dilakukan latihan terbangan yang dibimbing langsung oleh anggota KKM 124, kegiatan pembacaan Maulid Diba berlangsung semakin meriah. Alunan terbangan mulai mengiringi lantunan shalawat, menciptakan suasana religius yang lebih hidup. Antusiasme warga pun meningkat, ditandai dengan bertambahnya jumlah jamaah yang hadir setiap pekan. Puncak kegiatan terjadi pada minggu terakhir masa KKM. Jumlah remaja yang terlibat semakin bertambah, disertai penambahan alat banjari untuk mendukung penampilan. Kegiatan Diba tidak hanya menjadi rutinitas keagamaan, tetapi juga wadah pengembangan minat dan bakat anak-anak remaja di bidang seni islami. Partisipasi aktif masyarakat menunjukkan bahwa program ini diterima dengan sangat baik oleh warga sekitar Masjid Tawakkal. Secara keseluruhan, kegiatan pembacaan Maulid Diba yang diinisiasi oleh KKM 124 “Adhikara Nawasena” memberikan dampak positif bagi masyarakat. Selain mempererat ukhuwah dan menghidupkan suasana masjid, kegiatan ini juga berhasil mengasah keterampilan, rasa percaya diri, dan kebersamaan anak-anak remaja, sehingga diharapkan dapat terus berlanjut meski masa KKM telah berakhir. https://www.kompasiana.com/zahra9194/698b44e6ed641531ac30d033/kkm-uin-malang-adhikara-nawasena-hidupkan-tradisi-maulid-diba-di-masjid-tawakkal
ZULFA MUBAROKATUL FAIQOH
Mahasiswa KKM Kelompok 30 Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar bertema stunting dan parenting di Balai Desa Karanganyar, Poncokusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026 yang dihadiri para kader posyandu dari seluruh pos posyandu di wilayah Desa Karanganyar. Mereka menjadi sasaran utama program karena memiliki peran strategis dalam edukasi kesehatan masyarakat. Mahasiswa KKM 30 berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman kader tentang pencegahan stunting dan pola asuh yang tepat. Selain itu, seminar ini dirancang untuk mendorong kolaborasi aktif antara akademisi dan masyarakat desa. Materi pertama seminar menghadirkan Ibu Inu Martina S.ST., M.Si, dosen keperawatan dari Universitas Kepanjen sebagai pemateri bidang kesehatan stunting. Beliau menyampaikan pentingnya memperhatikan asupan gizi sejak kehamilan hingga usia lima tahun. Para kader posyandu diajak memahami tanda-tanda risiko stunting agar dapat melakukan deteksi dini. Materi disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kehadiran narasumber ahli ini semakin memperkuat keyakinan kader pada pentingnya penanganan masalah stunting. Dalam pemaparannya, Ibu Inu Martina menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan belajar anak dan perkembangan kecerdasan di masa depan. Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan makan yang sehat dan terpantau. Posyandu diharapkan menjadi sarana utama memantau tumbuh kembang balita secara berkala. Penjelasan mendalam ini membuka wawasan baru bagi para kader yang hadir. Narasumber juga menyoroti peran ibu hamil sebagai sasaran penting edukasi posyandu. Menurutnya, status gizi calon ibu sangat menentukan kualitas pertumbuhan janin. Asupan nutrisi yang kurang dapat memicu risiko bayi lahir dengan kondisi rentan stunting. Karena itu, kader diharapkan aktif memberikan penyuluhan pada masyarakat, terutama melalui pemeriksaan rutin. Penguatan peran posyandu menjadi kunci dalam pencegahan dini stunting di desa. Selain materi stunting, seminar menghadirkan Dr. Hj. Rofiqoh, M.Pd., CHt, dosen Psikologi UIN Malang sebagai pemateri parenting. Beliau menjelaskan bahwa pola asuh yang tepat sangat berpengaruh pada perkembangan emosi dan mental anak. Parenting tidak hanya terkait kebutuhan fisik, tetapi juga melibatkan perhatian, komunikasi, dan kedekatan emosional. Dr. Rofiqoh memberikan contoh-contoh nyata tantangan pola asuh di lingkungan pedesaan. Materi disampaikan secara inspiratif dan interaktif agar mudah diikuti peserta. Dr. Rofiqoh mengajak kader memahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Anak yang mendapatkan pendampingan penuh sejak dini cenderung memiliki daya saing lebih tinggi ketika dewasa. Beliau juga menyoroti pentingnya mengurangi pola asuh keras dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih humanis. Parenting yang baik turut mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Peserta terlihat antusias menyimak materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam sesi diskusi, para kader posyandu aktif berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menanyakan berbagai kondisi berbeda yang kerap terjadi pada balita dan keluarga binaan. Narasumber menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan memberikan panduan yang aplikatif. Suasana seminar menjadi sangat hidup karena interaksi dua arah berlangsung intensif. Mahasiswa KKM 30 turut mendampingi proses diskusi dan mencatat poin penting yang muncul. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari aparat pemerintah desa yang hadir. Kepala desa menyampaikan bahwa edukasi kesehatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat Karanganyar. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan serentak oleh semua elemen desa. Kehadiran narasumber profesional dan mahasiswa dianggap mampu memperluas wawasan kader. Pemerintah desa berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan di masa mendatang. Para mahasiswa KKM 30 mengaku bangga bisa berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka memandang kegiatan ini sebagai bentuk penerapan ilmu di dunia nyata melalui pengabdian. Mahasiswa berharap kader posyandu dapat menjadi agen perubahan yang aktif di desa. Mereka juga berencana mendampingi kader secara berkelanjutan selama masa pengabdian. Program ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat. Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Mahasiswa memberikan modul rangkuman materi agar kader dapat mengulangi dan menyebarkan informasi kepada warga. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menciptakan Karanganyar bebas stunting. Sinergi mahasiswa, dosen ahli, kader posyandu, dan pemerintah desa menjadi kekuatan utama dalam perubahan ini. Dengan pengetahuan baru, kader semakin siap menjadi garda terdepan menjaga tumbuh kembang generasi muda desa.
AHSAN PRAWIRA MUKTI
Mahasiswa KKM 85 MITSEVA resmi meluncurkan aplikasi Sigap Pojok pada 3 Februari 2026 bertempat di Gedung Serbaguna Desa Pojok. Peresmian aplikasi tersebut turut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Kapolsek, Bapak Camat, Ibu PJ Kepala Desa Pojok, serta jajaran petinggi desa lainnya. Sigap Pojok merupakan aplikasi kentongan digital yang dirancang sebagai media keamanan sekaligus kepedulian warga Desa Pojok. Kehadiran aplikasi ini disambut hangat oleh para pemangku kebijakan desa. Dalam kesempatan tersebut, para petinggi desa menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKM, serta menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan aplikasi ke depannya. Suasana peresmian berlangsung hangat dan penuh semangat. Bahkan, di sela pidatonya, Bapak Camat melontarkan celetukan yang mengundang senyum hadirin.
MUHAMMAD SYAHRUL ABROR
Kegiatan penyuluhan perawatan jenazah diselenggarakan oleh Kelompok KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama ibu-ibu Muslimat Kelurahan Jodipan pada Minggu, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Roisiyah Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Penyuluhan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tata cara perawatan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Materi yang disampaikan meliputi tahapan memandikan, mengkafani, hingga menshalatkan jenazah. Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi dan sesi diskusi. Para peserta tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik perawatan jenazah yang kerap dijumpai di lingkungan sekitar. Antusiasme ibu-ibu Muslimat terlihat dari keaktifan mereka selama kegiatan berlangsung. Melalui penyuluhan ini, mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat serta menjadi bekal penting dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam menghadapi peristiwa kematian yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin.