Thumbnail
2 months ago
DarmaWidya Cetak Capaian Perdana, Sertifikat Halal Pertama Terbit untuk UMKM Pandanlandung

ULFATU FIKI AINURROHMAH

Langkah Konkret Percepatan Sertifikasi Halal UMKM Sebagai bagian dari komitmen percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK), mahasiswa Kelompok 4 KKM DarmaWidya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan penyerahan sertifikat halal kepada sejumlah pelaku usaha dampingan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian proses pendampingan yang telah dilakukan secara intensif selama masa pengabdian, mulai dari penelusuran bahan baku, verifikasi proses produksi, hingga pemenuhan dokumen administrasi sesuai standar Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). Terbitnya sertifikat halal ini menjadi bukti nyata bahwa program KKM Unggulan Halal Center tidak berhenti pada tahap sosialisasi, melainkan menghasilkan capaian legalitas yang berdampak langsung bagi pelaku usaha. Tiga Mahasiswi Jadi Perintis Penyerahan Tahap Awal Pada tahap pertama penyerahan sertifikat halal, tiga mahasiswi menjadi perwakilan karena proses sertifikasi usaha dampingan mereka telah selesai lebih dahulu, yakni Ulfatu Fiki Ainurrohmah, Dara Zahra Salsabila, dan Arifah Azwa Maqfiroh. Ketiganya secara langsung mendatangi rumah produksi masing-masing pelaku usaha pada 9, 10, dan 12 Januari 2026 untuk menyerahkan sertifikat halal secara simbolis sekaligus melakukan evaluasi akhir pendampingan. Pendampingan Produk Kerupuk Ikan Galunggung Mahasiswi pertama, Ulfatu Fiki Ainurrohmah, mendampingi pelaku usaha Ibu Erna Sopandiana, produsen Kerupuk Ikan Galunggung. Setelah melalui proses verifikasi bahan baku, pengecekan alur produksi, serta kelengkapan dokumen, sertifikat halal untuk produk tersebut resmi terbit pada 9 Januari 2026 dengan Nomor ID35410039112920126. Penyerahan dilakukan langsung di rumah produksi sebagai bentuk apresiasi atas kesungguhan pelaku usaha dalam memenuhi standar kehalalan. Legalitas Halal untuk Tahu Barokah Pendampingan berikutnya dilakukan oleh Dara Zahra Salsabila kepada pelaku usaha Dina Puji Lestari, produsen Tahu Barokah yang berlokasi di Jalan Gunung Jati No. 20, Wagir, Kabupaten Malang. Melalui proses administrasi dan teknis yang terstruktur, sertifikat halal produk ini resmi terbit pada 12 Januari 2026 dengan Nomor ID35410039386630126. Terbitnya sertifikat tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk olahan tahu lokal. Salad Buah Mas Fad Kitchen Lengkapi Tahap Pertama Sementara itu, Arifah Azwa Maqfiroh mendampingi pelaku usaha Ibu Ria Andriani, pemilik Salad Buah Mas Fad Kitchen. Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari identifikasi komposisi bahan, pemilihan supplier, hingga penyusunan dokumen pendukung. Sertifikat halal kemudian diserahkan sebagai bentuk pengakuan atas terpenuhinya standar produksi halal. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa produk makanan siap saji rumahan pun memiliki peluang besar untuk memperoleh legalitas halal secara resmi. Dorong Kepercayaan Konsumen dan Daya Saing Produk Penyerahan sertifikat halal tidak hanya menjadi bentuk apresiasi administratif, tetapi juga memiliki dampak strategis bagi pengembangan usaha. Dengan adanya sertifikasi halal, produk UMKM memperoleh: jaminan legalitas, peningkatan kepercayaan konsumen, peluang ekspansi pasar, serta daya saing yang lebih kuat di tengah persaingan industri pangan. Mahasiswa DarmaWidya berharap capaian tahap awal ini dapat memotivasi pelaku usaha lain di Desa Pandanlandung untuk segera mengurus sertifikasi halal produknya. Komitmen Berkelanjutan DarmaWidya Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Kelompok 4 KKM DarmaWidya dalam membangun ekosistem halal desa melalui pendekatan pendampingan langsung, edukasi, dan fasilitasi administrasi. Melalui langkah-langkah konkret tersebut, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra strategis masyarakat dalam mewujudkan UMKM yang legal, aman, dan berdaya saing. Tahap penyerahan berikutnya direncanakan akan terus berlanjut seiring dengan proses sertifikasi pelaku usaha lainnya yang masih berjalan.

Thumbnail
2 months ago
Mengenal Tradisi Nyongkolan Di Lombok

ANNISA NADA FAKHIRA

KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak   Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan.   Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini.   Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar.   Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan.   Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!

Thumbnail
2 months ago
UIN Maliki Malang Dorong Pola Asuh Anak Ramah di Era Digital lewat Sosialisasi di Ketawanggede

NAILAH ZAKIYYAH HASYIM

Malang | Serulingmedia.com — UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang terus memperkuat perannya dalam mendukung pengasuhan anak yang ramah dan berorientasi pada kebutuhan tumbuh kembang anak di era digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pola Asuh Anak bertema “Menemukan Gaya Pengasuhan Terbaik untuk Si Kecil” yang digelar di Aula Kertosari, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Rabu (28/1/2025). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kelurahan Ketawanggede dengan KKM PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sosialisasi bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya guru dan wali murid PAUD, terkait pentingnya penerapan pola asuh anak yang tepat, aman, dan bebas kekerasan di tengah tantangan pengasuhan modern. Sosialisasi diikuti oleh Tim Penggerak PKK Kelurahan Ketawanggede, para guru PAUD, wali murid PAUD, serta masyarakat setempat. Keterlibatan UIN Maliki Malang melalui PSGA memberikan penguatan berbasis akademik dan keilmuan dalam upaya meningkatkan kualitas pengasuhan keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lowokwaru, Ida Wahyuni, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai sosialisasi pola asuh anak sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Kegiatan ini sangat dibutuhkan, terutama bagi para orang tua, karena tantangan pengasuhan anak di era digital semakin kompleks. Edukasi seperti ini membantu orang tua agar tidak salah dalam menerapkan pola asuh,” ujarnya. Sosialisasi menghadirkan Ketua PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan masih banyak ditemukan kesalahan pola asuh di masyarakat, mulai dari minimnya interaksi emosional antara orang tua dan anak hingga kasus kekerasan yang berakar dari pengasuhan yang tidak tepat. “Saat ini masih banyak anak yang diasuh oleh gadget sejak usia dini, sehingga kedekatan emosional dengan orang tua berkurang. Selain itu, orang tua sering kali lebih mendengarkan pendapat orang lain dibanding memahami kebutuhan anaknya sendiri,” jelasnya. Hj. Aprilia Mega Rosdiana menekankan bahwa setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, pola asuh harus disesuaikan dengan kondisi anak agar dapat mendukung perkembangan karakter, kesehatan mental, serta kemampuan sosialnya secara optimal. Ia juga menegaskan bahwa pengasuhan yang baik bukan sekadar mengawasi, tetapi mendampingi anak dengan penuh kasih sayang dan kesadaran. Lingkungan keluarga yang aman dan suportif menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang sehat secara fisik dan psikologis. Kegiatan ini turut didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKM PSGA UIN Maliki Malang, Sheila Kusuma Wardani Amnesti, M.H. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dan dosen UIN Maliki Malang dalam kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Kegiatan sosialisasi ini menjadi wadah edukasi yang sangat penting bagi orang tua. Pola asuh yang baik tidak hanya mencegah kekerasan terhadap anak, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak,” ungkapnya. Melalui sinergi Puspaga Kelurahan Ketawanggede dan KKM PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola asuh positif, ramah anak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Upaya ini sekaligus menegaskan peran UIN Maliki Malang sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi dalam membangun keluarga berkualitas dan generasi penerus bangsa yang unggul. ( Eno)

Thumbnail
2 months ago
KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak

NINDA NABILA ISNANIAH

Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan. Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini. Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar. Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan. Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!

Thumbnail
2 months ago
MENGAJAR TPQ DI DESA DENGKOL

CHEALSHE OLIVIANA FEGA AL HADID

Desa Dengkol, 17 Januari 2026 - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 42 Narakarya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan dokumentasi berupa pengambilan foto di beberapa Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa. Kegiatan mengajar ini merupakan bagian dari program kerja yang fokus pada moderasi beragama sekaligus parenting (pendampingan belajar anak).   Program mengajar di TPQ ini telah berjalan sejak awal kedatangan mahasiswa KKM di Desa Dengkol, sekitar tanggal 31 Desember 2026. Sejak saat itu, siswa secara rutin terlibat dalam kegiatan pembelajaran mengaji bersama anak-anak sebagai bentuk kontribusi mereka dalam penguatan nilai-nilai keagamaan.   Dalam pelaksanaannya, siswa KKM 42 bagian menjadi beberapa kelompok untuk mengajar di empat TPQ yang tersebar di Desa Dengkol. Tiga TPQ melaksanakan kegiatan mengaji pada sore hari, sementara satu TPQ lainnya berlangsung pada malam hari. TPQ malam diperuntukkan bagi anak-anak dengan tingkatan yang lebih tinggi. Pada setiap TPQ, baik sore maupun malam hari, siswa tidak hanya mendampingi anak-anak membaca Al-Qur'an, tetapi juga mengajarkan berbagai materi mengaji serta menyimak bacaan santri satu per satu. Kegiatan menyimak ini dilakukan untuk membantu memperbaiki pelafalan huruf, kelancaran bacaan, serta penerapan tajwid agar mereka dapat membaca Al-Qur'an dengan lebih baik dan benar.   Menariknya, setiap TPQ memiliki metode pembelajaran yang berbeda-beda, mulai dari metode Iqro, Qiroati, hingga Yanbu'a. Perbedaan metode ini menjadi pengalaman berharga bagi siswa untuk beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang telah berjalan di masing-masing TPQ.     Melalui proker ini, peserta didik tidak hanya mengajarkan cara membaca Al-Qur'an, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kesabaran, kedisiplinan, dan kebersamaan. Pendekatan yang digunakan dibuat ramah anak agar proses belajar terasa nyaman dan menyenangkan.   Kegiatan pengambilan foto pada 17 Januari 2026 ini menjadi bagian dari dokumentasi atas keberlangsungan program mengajar TPQ selama masa KKM. Program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi anak-anak sekaligus memperkuat peran siswa dalam mendukung pendidikan keagamaan yang terbuka bagi semua dan terus berkembang di Desa Dengkol.

Thumbnail
2 months ago
Peer Counseling sebagai Ruang Aman Remaja: Inisiatif Mahasiswa KKM Arunika Karsa 110 UIN Malang bersama Remaja Masjid Muthohharun

RAHMANIALFI WARDAH

KKM Arunika Karsa 110 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Peer Counseling bersama Remaja Masjid Muthohharun sebagai upaya menghadirkan ruang aman (safe space) bagi remaja dalam menghadapi persoalan psikososial yang mereka alami. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kesadaran remaja akan pentingnya dukungan sebaya dalam menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Kegiatan Peer Counseling ini menghadirkan Muhammad Gusti Baskara Najih dan Nayla Nur Safa Septiasa Putri sebagai pemateri. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pemahaman konseptual mengenai konseling sebaya, peran peer counselor, serta keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh remaja agar mampu menjadi pendengar yang empatik dan suportif bagi sesamanya. Secara konseptual, konseling dipahami sebagai hubungan interpersonal antara konselor dan konseli yang bertujuan membantu individu memahami dirinya, kondisi yang dihadapi, serta kemungkinan solusi atas permasalahan yang dialami. Dalam konteks konseling sebaya, peran ini dijalankan oleh individu non-profesional yang memiliki kedekatan usia, pengalaman, dan karakteristik sosial yang serupa, sehingga proses bantuan menjadi lebih setara dan mudah diterima. Pemateri menjelaskan bahwa peer counseling bukanlah praktik terapi profesional, melainkan bentuk dukungan awal berbasis empati, keterampilan mendengar aktif, dan komunikasi interpersonal. Remaja dilatih untuk membangun rapport, menjaga kerahasiaan, menghindari sikap menghakimi, serta memberikan ruang bagi konseli untuk menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Selain itu, disampaikan pula manfaat peer counseling bagi remaja, antara lain membantu pencegahan perilaku berisiko, meningkatkan keterampilan sosial, serta menciptakan iklim sosial yang lebih sehat di lingkungan remaja masjid. Dukungan teman sebaya dinilai lebih efektif karena remaja cenderung lebih terbuka dan nyaman berbagi cerita dengan rekan seusia dibandingkan dengan figur otoritas seperti guru atau orang tua Melalui kegiatan ini, KKM Arunika Karsa 110 UIN Malang berharap Remaja Masjid Muthohharun tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan masjid yang ramah, inklusif, dan peduli terhadap kondisi emosional sesama remaja. Peer counseling diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya saling mendukung dan memperkuat ketahanan mental generasi muda berbasis nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.