ARMANSYAH MAULANA
Desa Ngadas berada di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 2.150 mdpl. Suhu yang sejuk merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari penduduk. Udara yang dingin sering terasa hampir sepanjang hari, terutama di pagi dan malam hari. Desa ini terkenal sebagai salah satu tempat yang masih melestarikan nilai-nilai tradisi dan spiritual.Penulis mengenal Desa Ngadas melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa. Sejak pertama kali tiba, suasana yang sakral dan tenang langsung terasa kuat. Keadaan alam dan budayanya saling mempengaruhi satu sama lain. Program KKM dilakukan antara bulan Desember sampai Februari. Pada waktu itu, suhu dingin sering kali menjadi sangat ekstrem. Kabut tebal sering turun tanpa pemberitahuan dan menutupi desa. Walaupun cuaca cukup berat bagi orang luar, penduduk tetap melakukan aktivitas mereka. Masyarakat telah beradaptasi dengan lingkungan selama bertahun-tahun. Kedinginan tidak dianggap sebagai rintangan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Proses adaptasi ini menghasilkan karakter warga yang tangguh dan sederhana. Sebagian besar orang di Desa Ngadas bekerja sebagai petani. Kentang menjadi salah satu hasil pertanian utama di daerah tersebut. Aktivitas bertani dimulai di pagi hari meskipun udara masih sangat dingin. Lahan pertanian di lereng gunung menjadi sumber mata pencaharian utama bagi penduduk. Hubungan antara masyarakat dan alam sangat dekat. Alam tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dijaga keseimbangannya. Kesadaran ini tumbuh dari nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu nilai penting yang dijunjung oleh masyarakat Ngadas adalah kesucian tanah. Tanah tidak hanya dilihat sebagai tempat berdiri atau bercocok tanam. Tanah diyakini memiliki nilai spiritual yang patut dihormati. Ada aturan adat yang melarang untuk menancapkan benda ke tanah sembarangan. Setiap tindakan tersebut harus diawali dengan ritual tertentu. Ritual tersebut dilakukan oleh romo dukun sebagai pemimpin adat. Aturan ini masih dihormati hingga kini oleh masyarakat. Kesucian tanah sangat terkait dengan cara pandang masyarakat terhadap alam. Alam dianggap sebagai bagian dari kehidupan yang mempunyai roh dan makna. Sikap menghormati tanah tercermin dalam perilaku sehari-hari warga. Tidak ada tindakan yang diambil tanpa memperhatikan adat. Nilai ini mengajarkan kewaspadaan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Masyarakat percaya bahwa pelanggaran adat dapat menyebabkan ketidakseimbangan. Kepercayaan ini menguatkan hubungan spiritual antara manusia dan alam. Di tengah kehidupan adat yang kuat, toleransi beragama juga terjaga dengan baik. Empat agama hidup berdampingan secara damai di Desa Ngadas. Terdapat tempat ibadah seperti Masjid, Vihara, dan Pura dalam satu area desa. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penyebab perselisihan. Masyarakat saling menghargai saat melaksanakan ibadah masing-masing. Interaksi sosial berjalan dengan penuh rasa persaudaraan. Nilai toleransi ini merupakan bagian penting dari kehidupan desa. Cuaca dingin di Desa Ngadas justru meningkatkan rasa kebersamaan warganya. Kehangatan berasal tidak hanya dari suhu, tetapi dari interaksi antarwarga. Keramahan masyarakat terlihat di setiap pertemuan sehari-hari. Senyum dan salam menjadi hal yang biasa dijumpai. Suasana sakral menyatu dengan kehidupan sosial yang hangat. Pengalaman tinggal di desa ini memberikan kesan yang mendalam. Desa Ngadas menjadi tempat untuk belajar tentang arti hidup sederhana. Desa Ngadas menunjukkan bagaimana alam dan budaya bisa hidup berdampingan. Suhu yang sejuk membentuk pola hidup yang adaptif dan sabar. Kesakralan bumi menumbuhkan rasa hormat terhadap lingkungan. Kedua unsur ini saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat. Tradisi tetap dilestarikan meskipun zaman terus berganti. Nilai-nilai adat tetap dijunjung tinggi sebagai identitas bersama. Desa Ngadas menjadi contoh harmoni antara alam, manusia, dan spiritualitas.
RAFI BASTIAN AKMAL
Desa Ngadas berada di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 2.150 mdpl. Suhu yang sejuk merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari penduduk. Udara yang dingin sering terasa hampir sepanjang hari, terutama di pagi dan malam hari. Desa ini terkenal sebagai salah satu tempat yang masih melestarikan nilai-nilai tradisi dan spiritual.Penulis mengenal Desa Ngadas melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa. Sejak pertama kali tiba, suasana yang sakral dan tenang langsung terasa kuat. Keadaan alam dan budayanya saling mempengaruhi satu sama lain. Program KKM dilakukan antara bulan Desember sampai Februari. Pada waktu itu, suhu dingin sering kali menjadi sangat ekstrem. Kabut tebal sering turun tanpa pemberitahuan dan menutupi desa. Walaupun cuaca cukup berat bagi orang luar, penduduk tetap melakukan aktivitas mereka. Masyarakat telah beradaptasi dengan lingkungan selama bertahun-tahun. Kedinginan tidak dianggap sebagai rintangan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Proses adaptasi ini menghasilkan karakter warga yang tangguh dan sederhana. Sebagian besar orang di Desa Ngadas bekerja sebagai petani. Kentang menjadi salah satu hasil pertanian utama di daerah tersebut. Aktivitas bertani dimulai di pagi hari meskipun udara masih sangat dingin. Lahan pertanian di lereng gunung menjadi sumber mata pencaharian utama bagi penduduk. Hubungan antara masyarakat dan alam sangat dekat. Alam tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga dijaga keseimbangannya. Kesadaran ini tumbuh dari nilai-nilai tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu nilai penting yang dijunjung oleh masyarakat Ngadas adalah kesucian tanah. Tanah tidak hanya dilihat sebagai tempat berdiri atau bercocok tanam. Tanah diyakini memiliki nilai spiritual yang patut dihormati. Ada aturan adat yang melarang untuk menancapkan benda ke tanah sembarangan. Setiap tindakan tersebut harus diawali dengan ritual tertentu. Ritual tersebut dilakukan oleh romo dukun sebagai pemimpin adat. Aturan ini masih dihormati hingga kini oleh masyarakat. Kesucian tanah sangat terkait dengan cara pandang masyarakat terhadap alam. Alam dianggap sebagai bagian dari kehidupan yang mempunyai roh dan makna. Sikap menghormati tanah tercermin dalam perilaku sehari-hari warga. Tidak ada tindakan yang diambil tanpa memperhatikan adat. Nilai ini mengajarkan kewaspadaan dalam berinteraksi dengan lingkungan. Masyarakat percaya bahwa pelanggaran adat dapat menyebabkan ketidakseimbangan. Kepercayaan ini menguatkan hubungan spiritual antara manusia dan alam. Di tengah kehidupan adat yang kuat, toleransi beragama juga terjaga dengan baik. Empat agama hidup berdampingan secara damai di Desa Ngadas. Terdapat tempat ibadah seperti Masjid, Vihara, dan Pura dalam satu area desa. Perbedaan keyakinan tidak menjadi penyebab perselisihan. Masyarakat saling menghargai saat melaksanakan ibadah masing-masing. Interaksi sosial berjalan dengan penuh rasa persaudaraan. Nilai toleransi ini merupakan bagian penting dari kehidupan desa. Cuaca dingin di Desa Ngadas justru meningkatkan rasa kebersamaan warganya. Kehangatan berasal tidak hanya dari suhu, tetapi dari interaksi antarwarga. Keramahan masyarakat terlihat di setiap pertemuan sehari-hari. Senyum dan salam menjadi hal yang biasa dijumpai. Suasana sakral menyatu dengan kehidupan sosial yang hangat. Pengalaman tinggal di desa ini memberikan kesan yang mendalam. Desa Ngadas menjadi tempat untuk belajar tentang arti hidup sederhana. Desa Ngadas menunjukkan bagaimana alam dan budaya bisa hidup berdampingan. Suhu yang sejuk membentuk pola hidup yang adaptif dan sabar. Kesakralan bumi menumbuhkan rasa hormat terhadap lingkungan. Kedua unsur ini saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat. Tradisi tetap dilestarikan meskipun zaman terus berganti. Nilai-nilai adat tetap dijunjung tinggi sebagai identitas bersama. Desa Ngadas menjadi contoh harmoni antara alam, manusia, dan spiritualitas.
WAFIA NAURA ADZKIA
Setiap kegiatan KKM kami selalu diawali dengan kebiasaan sederhana namun bermakna: berkumpul di satu titik yang sama. Dari titik itulah kami memulai langkah, berangkat bersama menuju rumah Calon Jamaah Haji (CJH). Kebiasaan ini bukan hanya memudahkan koordinasi, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan sejak awal perjalanan. Pada kunjungan ketiga, suasana terasa lebih hangat karena kami dan CJH mengawali kegiatan dengan jalan pagi bersama. Langkah-langkah kecil yang dilalui bersama di pagi hari diiringi obrolan ringan dan tawa, menciptakan kedekatan yang alami. Setelah itu, kami makan bubur ayam bersama, momen sederhana namun penuh keakraban yang membuat hubungan kami semakin dekat, tidak lagi terasa seperti mahasiswa dan peserta kegiatan, tetapi seperti keluarga kecil yang saling berbagi cerita. Setiap kunjungan selalu diwarnai dengan kebersamaan. Kami saling bertukar cerita, mendengarkan pengalaman CJH, dan belajar banyak hal dari kisah hidup mereka. Dari pertemuan ke pertemuan, tercipta ikatan dan kenangan yang tanpa disadari semakin kuat. Pada kunjungan keempat sekaligus kunjungan terakhir, kami ditemani oleh DPL. Momen ini menjadi penutup yang sangat berkesan. DPL berbagi cerita mengenai pengalaman beliau bertugas mendampingi jamaah haji di Tanah Suci, sebuah pengalaman yang penuh makna dan pelajaran. Cerita tersebut tidak hanya menambah wawasan kami, tetapi juga memberi inspirasi tentang keikhlasan, kesabaran, dan arti pengabdian dalam melayani jamaah. Rangkaian kunjungan KKM ini meninggalkan banyak kenangan indah. Bukan hanya tentang program yang dijalankan, tetapi tentang langkah yang ditempuh bersama, cerita yang dibagikan, dan kebersamaan yang akan selalu kami ingat.
FARADIBA MJ
UMKM Keripik Singkong Krecek merupakan salah satu usaha makanan olahan berbahan dasar singkong yang telah lama berkembang di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Usaha ini dikelola oleh Ibu Susiati dan Bapak Miftahul bersama keluarga, serta menjadi salah satu pemasok krecekan singkong dalam skala cukup besar hingga ke luar kota. Dengan pengalaman usaha yang telah berjalan selama kurang lebih 15 tahun, UMKM ini menunjukkan konsistensi dan ketahanan dalam menghadapi dinamika usaha pangan berbasis hasil pertanian lokal. Identitas UMKM Nama Usaha: Keripik Singkong Krecek Pemilik: Ibu Susiati & Bapak Miftahul Jenis Usaha: Produksi makanan olahan singkong (krecekan singkong) Lama Usaha: ± 15 tahun Alamat: Jl. Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, RT 5 RW 2 Koordinat Lokasi: Garis Lintang: -7.971557 Garis Bujur: 112.76624° Kontak: 0857-3581-1878 Media Sosial: WhatsApp, Facebook Profil Singkat Usaha UMKM Keripik Singkong Krecek dijalankan bersama anggota keluarga dan dibantu oleh beberapa karyawan. Usaha ini memproduksi krecekan singkong dalam jumlah besar sesuai permintaan pasar. Dalam kondisi permintaan tinggi, produksi dapat mencapai sekitar 8 kwintal per hari, dengan sistem pengangkutan menggunakan kendaraan pick up yang dapat bolak-balik hingga tiga kali dalam sehari. Produk krecekan singkong ini dipasarkan tidak hanya di wilayah sekitar desa, tetapi juga dikirim ke luar kota melalui sistem pengiriman dan pesanan langsung. Kapasitas Produksi dan Harga Produksi krecekan singkong dilakukan berdasarkan pesanan, dengan kapasitas yang cukup besar. Harga jual ditetapkan sebesar Rp1.500.000 per kwintal, menyesuaikan dengan kualitas bahan baku dan permintaan pasar. Pengiriman produk biasanya dilakukan setiap hari Jumat, sesuai dengan jadwal distribusi yang telah ditentukan oleh pemilik usaha. Sistem Pemasaran Pemasaran produk dilakukan melalui sistem pemesanan dan pengiriman langsung kepada pelanggan. Komunikasi dengan konsumen dilakukan melalui WhatsApp dan Facebook. Hingga saat ini, UMKM ini belum memanfaatkan pemasaran online secara luas karena adanya kekhawatiran dalam mengelola permintaan yang meningkat secara drastis. Kendala dan Tantangan Kendala utama yang dihadapi UMKM Keripik Singkong Krecek adalah faktor cuaca, yang sangat mempengaruhi proses produksi, terutama pada tahap pengeringan. Selain itu, keterbatasan dalam pemasaran digital juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan usaha ke skala yang lebih luas.
EKA SURYA DIA ANGGRAINI
Pada kunjungan terakhir yang didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), kami disambut dengan ramah dan penuh kehangatan oleh Calon Jamaah Haji (CJH). Kunjungan ini berbeda dari pertemuan sebelumnya, karena pada kesempatan ini kami tidak lagi melakukan pemeriksaan kesehatan. Fokus kegiatan diarahkan pada pemberian kaos kepada CJH sebagai bentuk kenang-kenangan, sekaligus penyampaian ucapan pamit dan terima kasih dari kami atas kesempatan dan kerja sama yang telah terjalin selama kegiatan berlangsung. Selain itu, dilakukan pula pengambilan video kesan dan pesan dari CJH. Suasana selama kegiatan berlangsung terasa akrab dan menyenangkan. Pada saat penyerahan kaos, terdapat sesi foto dokumentasi, di mana CJH beberapa kali bercanda dengan kami sehingga menciptakan suasana yang santai dan penuh canda tawa. Hal yang sama juga terjadi saat proses pembuatan video kesan dan pesan, di mana beliau banyak melontarkan candaan yang membuat suasana semakin cair. Meskipun kegiatan berlangsung dengan suasana yang ringan dan penuh keakraban, makna kebersamaan dan rasa saling menghargai tetap terasa kuat. Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Calon Jamaah Haji yang telah menerima kami dengan sangat baik serta bersedia mengikuti arahan dan edukasi yang kami berikan, khususnya terkait aspek kesehatan. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Dosen Pembimbing Lapangan yang telah setia mendampingi dan membimbing kami selama kegiatan berlangsung. Kedekatan yang terjalin juga semakin terasa karena CJH merupakan seorang guru olahraga, sehingga komunikasi dan interaksi selama kegiatan dapat terjalin dengan baik dan menyenangkan. Secara keseluruhan, kunjungan terakhir ini menjadi penutup yang mengesankan bagi kami. Selain memberikan pengalaman berharga, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara mahasiswa, DPL, dan Calon Jamaah Haji dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan.
ELIZA DWI NUR MILADIA
Kesehatan fisik adalah modal utama dalam menjalankan ibadah haji yang mabrur. Melalui kegiatan jalan pagi di sejuknya udara Coban Talun, Kleompok 20 kolaborasi dengan kelompok 33 KKM HIPE mendampingi calon jamaah haji untuk menjaga kebugaran fisik sekaligus mempererat tali silaturahmi. Berlatar indahnya alam Coban Talun, kegiatan ini bukan sekadar olahraga, melainkan bentuk ikhtiar untuk menjaga kesehatan jantung dan stamina agar ibadah haji nantinya dapat berjalan lancar tanpa kendala fisik yang berarti. Program ini hadir untuk memastikan para calon jamaah tetap fit, ceria, dan siap secara fisik untuk perjalanan spiritual yang dinanti-nantikan. Semangat melangkah, persiapan menuju Baitullah pun semakin mantap!