SEPTYA DWI RIZKI AMELIA
Posyandu balita tidak hanya menjadi tempat pemantauan tumbuh kembang anak, tetapi juga sarana edukasi bagi orang tua. Hal inilah yang melatarbelakangi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengadakan kegiatan Posyandu Balita pada Sabtu, 10 Januari 2010, di Desa Kalirejo. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya ibu balita, mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN bekerja sama dengan Puskesmas Desa Kalirejo dengan menghadirkan pemateri yang memberikan penyuluhan terkait stunting. Materi yang disampaikan meliputi pengertian stunting, faktor penyebab, serta langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan melalui pemenuhan gizi seimbang dan pola asuh yang tepat. Sebagai bentuk dukungan terhadap penyampaian materi, mahasiswa KKN juga membagikan leaflet tentang pencegahan stunting kepada para ibu balita. Leaflet ini berisi informasi singkat dan mudah dipahami mengenai pentingnya asupan gizi, kebersihan lingkungan, serta peran orang tua dalam mendukung pertumbuhan anak secara optimal. Selain penyuluhan, mahasiswa KKN turut mengadakan demo pembuatan menu sehat bertajuk “Sawi Roll Gemoy”. Menu ini dibuat dari bahan sederhana dan bergizi, seperti sawi, wortel, ayam, dan bahan pendukung lainnya. Demo masak ini bertujuan untuk memberikan contoh makanan sehat yang menarik, bergizi, dan mudah dipraktikkan oleh ibu balita di rumah. Kegiatan Posyandu Balita ini mendapat respons positif dari masyarakat. Ibu-ibu balita terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari penyuluhan, membaca leaflet, hingga menyaksikan demo pembuatan menu sehat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap orang tua semakin memahami pentingnya pencegahan stunting serta mampu menerapkan pola hidup sehat dan pemberian makanan bergizi bagi anak sejak usia dini.
ASHIFFA BERLIANA PUTRI
Kegiatan KKM Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu- ilmu Kesehatan, khususnya melalui program kerja kelompok 4 dalam mendampingi calon jamaah haji untuk mempersiapkan istitha’ah. Salah satu momen paling berkesan selama kegiatan KKM yang dilaksankan adalah saat saya berkesempatan berkunjung langsung ke rumah calon jama’ah haji dan berinteraksi dengan mereka secara dekat. Awalnya sempat merasa canggung, karena harus menyesuaikan cara komunikasi dengan masyarakat yang usianya jauh di atas saya. Tapi justru dari situlah saya mendapatkan pengalaman baru yang sangat berharga. Saya belajar untuk lebih sabar mendengar, berbicara dengan lebih pelan dan hangat, serta memahami cerita-cerita kehidupan mereka. Rasanya seperti sedang berbincang dengan orang tua sendiri. Pengalaman yang paling membekas adalah saat saya mendampingi dua calon jama’ah haji yang berusia sekitar 60-61 tahun untuk jalan pagi. Kami berjalan santai sambil bercerita sepanjang jalan. Sesekali mereka menyapa orang-orang desa yang lewat, dan suasananya terasa hangat sekali. Desa yang masih asri, hamparan sawah yang luas, udara pagi yang sejuk, serta pemandangan gunung di kejauhan membuat langkah terasa ringan. Tanpa terasa, kami berjalan cukup jauh sampai melewati area belakang wisata Batu Night Spectacular. Momen sederhana itu justru terasa sangat bermakna bagi saya. Sepanjang perjalanan, obrolan kami tidak hanya tentang kesehatan, tapi juga tentang pengalaman hidup, keluarga, dan harapan mereka untuk bisa berangkat haji dalam kondisi yang kuat. Dari situ saya sadar bahwa mendampingi mereka bukan hanya soal memberi edukasi, tapi juga memberi semangat. Jalan pagi bersama menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu mempersiapkan fisik calon jama’ah haji agar tetap aktif dan bugar. Kegiatan ini membuat saya semakin paham bahwa persiapan haji tidak hanya soal administrasi atau pemeriksaan kesehatan, tetapi juga tentang menjaga kebugaran tubuh sejak dini. Dengan berjalan kaki, beraktivitas ringan, dan menjaga kesehatan secara rutin, diharapkan para calon jama’ah haji bisa menjalankan ibadah dengan lebih kuat dan nyaman. Bagi saya pribadi, kunjungan ini bukan sekadar program kerja. Ada rasa senang, hangat, dan syukur karena bisa belajar langsung dari masyarakat. Dari langkah pagi yang sederhana itu, saya belajar tentang arti kebersamaan, kesabaran, dan pentingnya menjaga kesehatan untuk tujuan yang sangat mulia.
RIF`ATUL QOMARIYAH
Malang – Selasa, 06 Januari 2026 Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) PRANASEVA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 7 ikut berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu yang dilaksanakan di Balai RW lantai 1 dan 2. Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan mahasiswa KKM terhadap program kesehatan masyarakat yang rutin diadakan, khususnya bagi lansia dan balita. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM turut membantu kelancaran pelayanan kesehatan sekaligus belajar berinteraksi langsung dengan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan posyandu dilakukan pada pagi hari dengan pembagian tempat posyandu . Di lantai 1 Balai RW dilaksanakan Posyandu Lansia yang diikuti oleh para warga lanjut usia. Rangkaian kegiatan yang dilakukan meliputi penimbangan berat badan, pengukuran lingkar pinggang, serta pengecekan tekanan darah atau tensi. Mahasiswa KKM membantu mendampingi para lansia selama proses pemeriksaan berlangsung, membantu pencatatan hasil pemeriksaan, serta mengarahkan alur kegiatan agar tetap tertib dan nyaman. Sementara itu, di lantai 2 Balai RW dilaksanakan Posyandu Balita yang diikuti oleh anak-anak balita bersama orang tua masing-masing. Kegiatan yang dilakukan meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, serta pemberian imunisasi sesuai dengan arahan dari petugas kesehatan. Mahasiswa KKM turut berperan dalam membantu menyiapkan alat, mengatur antrean peserta, serta mendampingi orang tua dan balita selama proses pemeriksaan berlangsung sehingga kegiatan dapat berjalan dengan lancar. Seluruh rangkaian kegiatan posyandu berjalan dengan baik berkat kerja sama. Melalui kegiatan ini, diharapkan kondisi kesehatan lansia dapat terpantau secara rutin dan tumbuh kembang balita dapat diperhatikan sejak dini. Selain itu, keterlibatan mahasiswa KKM dalam kegiatan posyandu ini menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat serta upaya untuk mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga di lingkungan setempat .
DESTIA AYU WULANDARI
Selama pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), terdapat banyak pengalaman yang sangat berharga, salah satunya melalui kegiatan jalan sehat bersama Calon Jamaah Haji (CJH) yaitu Bapak Kartoyo dan Ibu Suyanti di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pendampingan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran fisik sekaligus mempersiapkan jamaah sebelum menjalankan ibadah haji Jalan sehat ini dilaksanakan dengan memanfaatkan keindahan alam sekitar, yaitu kawasan Coban Talun dan Puncak Kalindra. Rute yang dipilih tidak terlalu berat, sehingga tetap aman dan nyaman bagi Calon Jamaah Haji. Sepanjang perjalanan, kami berjalan santai sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan alam yang asri, menciptakan suasana yang menyenangkan dan menenangkan. Kegiatan jalan sehat ini tidak hanya fokus pada aktivitas fisik, tetapi juga menjadi media edukasi kesehatan. Kami mengajak Calon Jamaah Haji untuk memahami pentingnya olahraga ringan yang dilakukan secara rutin sebagai bagian dari persiapan fisik menjelang ibadah haji. Melalui pendekatan ini, edukasi kesehatan dapat diterima dengan lebih baik karena disampaikan secara langsung dan aplikatif. Salah satu hal yang paling berkesan adalah terjalinnya kebersamaan yang hangat antara mahasiswa dan Calon Jamaah Haji. Selama kegiatan berlangsung, kami saling berinteraksi, berbincang, dan memberi semangat satu sama lain. Momen-momen sederhana seperti berjalan bersama, berhenti sejenak, dan berbagi cerita justru memberikan kesan mendalam dan mempererat hubungan. Selain memberikan manfaat bagi Calon Jamaah Haji, kegiatan ini juga memberikan pembelajaran bagi saya sebagai pelajar. Saya belajar bahwa pendampingan kesehatan tidak hanya dilakukan melalui pemeriksaan dan edukasi di dalam ruangan, tetapi juga dapat dikemas dalam kegiatan yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Secara keseluruhan, jalan sehat bersama Calon Jamaah Haji ke Coban Talun dan Puncak Kalindra menjadi salah satu kegiatan paling bermakna selama KKM. Pengalaman ini tidak hanya menambah pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan rasa empati, kepedulian, serta kesadaran akan pentingnya peran mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat. Selain memberikan manfaat kesehatan, jalan sehat ke Coban Talun dan Puncak Kalindra juga mempererat hubungan antara pelajar dan masyarakat. Interaksi yang terjalin selama kegiatan ini membuat proses pendampingan kesehatan terasa lebih dekat dan bermakna. Pengalaman jalan sehat bersama Calon Jamaah Haji ini menjadi salah satu momen paling berharga selama KKM. Kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan tentang pentingnya kesehatan, tetapi juga mengajarkan arti kebersamaan, kepedulian, dan pengabdian kepada masyarakat.
ALFIA NUR AZIZAH
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, melaksanakan salah satu program kerja di bidang Edukasi Keluarga melalui kegiatan Sosialisasi Parenting dengan tema “Mencegah Kecanduan Gadget pada Anak Sejak Usia Dini”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 16 Januari 2026 ba’da Ashar yang bertempat di Aula Madrasah Ibtida’iyah (MI) Bani Ro’uf. Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan sebagai respon atas meningkatnya penggunaan gadget di kalangan anak-anak, bahkan sejak usia dini. Perkembangan teknologi yang semakin pesat menjadikan gadget mudah diakses oleh anak, sehingga diperlukan peran orang tua yang lebih aktif dalam mengawasi, membimbing, dan mengarahkan penggunaannya agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi tumbuh kembang anak. Program ini merupakan bagian dari bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekitar, khususnya dalam mendukung penguatan peran keluarga dalam pola pengasuhan anak di era digital. Mahasiswa KKM berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana edukasi bagi orang tua dalam memahami tantangan dan peluang penggunaan gadget secara bijak. Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh para wali murid dengan antusiasme yang tinggi. Acara berlangsung dengan tertib dan lancar, diawali dengan pembukaan, sambutan dari perwakilan mahasiswa KKM, serta penyampaian materi parenting yang disampaikan secara komunikatif dan interaktif oleh Chilya Alfiz Zahro, mahasiswa Program Studi Psikologi, selaku pemateri utama. Materi yang diberikan meliputi pengertian kecanduan gadget pada anak, dampak positif dan negatif penggunaan gadget, serta strategi pengasuhan yang dapat diterapkan orang tua untuk mengontrol dan mendampingi anak dalam penggunaan gadget sehari-hari. Dengan terlaksananya kegiatan Sosialisasi Parenting ini, mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Desa Pandansari Lor, khususnya dalam meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak sejak usia dini. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
MAYYADAH AL SYARIFAH
Rabu, 24 Desember 2025 menjadi awal perjalanan pengabdian Kelompok 41 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Terletak di kaki Gunung Bromo, Gubugklakah tidak hanya dikenal sebagai jalur wisata menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tetapi juga sebagai desa dengan kekayaan alam, budaya, keagamaan, dan kearifan lokal yang hidup berdampingan secara harmonis. Dengan semangat pengabdian, mahasiswa hadir tidak semata menjalankan program kerja, melainkan berupaya menyatu, belajar, dan tumbuh bersama masyarakat. Sejak hari-hari awal, pendekatan sosial menjadi fondasi utama pengabdian. Melalui kegiatan sowan kepada tokoh masyarakat, keterlibatan dalam diba’an, pengajian, serta berbagai aktivitas sosial, mahasiswa membangun hubungan yang erat dan penuh kepercayaan dengan warga. Interaksi ini menegaskan posisi mahasiswa bukan sebagai pihak luar, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Desa Gubugklakah. Pembukaan resmi KKM yang dilaksanakan pada 30 Desember 2025 menandai dimulainya rangkaian program pengabdian secara formal. Kegiatan ini melibatkan perangkat desa, lembaga adat, serta komunitas pemuda Lampahklakah. Mahasiswa mengenakan busana adat Tengger sebagai simbol penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus penegasan penerimaan sosial dan adat. Kolaborasi dengan Lampahklakah menjadi langkah strategis dalam memastikan keberlanjutan program, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian budaya desa. Eksplorasi potensi alam Desa Gubugklakah dilakukan melalui kegiatan tadabur alam ke Ledhok Amprong dan kunjungan ke Coban Pelangi. Mahasiswa menyusuri sungai, hutan, dan jalur tracking untuk mengenal langsung kekayaan alam desa, sekaligus mendokumentasikannya sebagai bagian dari promosi wisata berbasis edukasi dan keberlanjutan. Kegiatan ini menegaskan bahwa potensi wisata Gubugklakah tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga ekologis dan edukatif. Di bidang pendidikan, Kelompok 41 aktif mengajar di MI KH Hasyim Asy’ari dengan pendekatan Seni Budaya dan Prakarya (SBdP) sebagai media pembentukan karakter. Nilai percaya diri, empati, kepedulian lingkungan, dan sikap anti perundungan ditanamkan melalui metode pembelajaran kreatif dan ramah anak. Sebagai penguatan pendidikan karakter anti perundungan, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melanjutkan kegiatan sosialisasi anti bullying di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah melalui lomba mewarnai bertema anti bullying yang dilaksanakan pada 24 Januari 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai media visual yang mudah dipahami dan membekas bagi murid kelas 1 hingga kelas 6, dengan gambar dan pesan moral sederhana tentang etika pertemanan tanpa kekerasan. Melalui kegiatan ini, nilai saling menyayangi, menghargai, dan menolak perundungan ditanamkan secara menyenangkan, sekaligus melatih jiwa kompetitif yang sehat melalui pemberian apresiasi berupa piala dan sertifikat. Lomba mewarnai ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan sikap anti bullying dalam kehidupan sehari-hari murid. Dalam upaya menumbuhkan kembali minat baca anak, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan Pagelaran Literasi di MI KH. Hasyim Asy’ari Gubugklakah pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini dikemas melalui membaca bersama, story telling, dan pemberian apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan usaha murid. Sebanyak 84 murid terlibat aktif dengan pendampingan langsung dari mahasiswa, mulai dari membantu membaca, membacakan cerita, hingga mendorong anak menceritakan kembali isi bacaan. Pagelaran literasi ini menjadi ikhtiar sederhana untuk mengajak anak kembali dekat dengan buku di tengah dominasi gawai, sekaligus menanamkan nilai bahwa membaca adalah aktivitas menyenangkan, bermakna, dan penting sebagai bekal pembentukan karakter serta kecintaan terhadap ilmu sejak dini. Sebagai upaya menumbuhkan kembali ruang bermain yang sehat bagi anak, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Aksara Vardhana menyelenggarakan Gebyar Permainan Tradisional pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya interaksi sosial anak usia sekolah dasar akibat dominasi penggunaan gawai. Berbagai permainan tradisional seperti egrang, yoyo, kelereng, catur, lompat tali, engklek, dan gobak sodor dihadirkan dengan suasana gembira dan partisipatif, di mana mahasiswa turut bermain bersama anak-anak. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, serta kecintaan terhadap warisan budaya bangsa, sekaligus memperkenalkan permainan tradisional sebagai alternatif positif yang sesuai dengan dunia dan perkembangan anak. Selain pendidikan formal, mahasiswa juga membuka program bimbingan belajar bagi anak-anak sekolah dasar. Kegiatan ini dilaksanakan selama hampir dua pekan dengan materi Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan PPKN. Metode pembelajaran visual dan interaktif dipadukan dengan kuis berbasis cerdas cermat untuk menumbuhkan semangat belajar, kerja sama, dan sportivitas. Hasilnya, dua kelompok binaan berhasil melaju hingga babak semifinal Lomba Cerdas Cermat Antar Bimbel KKM se-Kecamatan Poncokusumo. Perhatian terhadap aspek kesehatan masyarakat diwujudkan melalui pendampingan kegiatan Posyandu Desa Gubugklakah. Mahasiswa membantu kader posyandu, mendampingi ibu dan balita, serta mendukung kelancaran pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Keterlibatan ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesehatan preventif sebagai tanggung jawab bersama. Di ranah keagamaan, Kelompok 41 KKM UIN Malang berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan religius masyarakat. Mahasiswa terlibat dalam peringatan Isra’ Mi’raj dengan menghadirkan kajian keislaman bertema Isra’ Mi’raj dalam Pandangan Perempuan yang menyajikan perspektif keislaman yang humanis dan kontekstual. Selain itu, lomba-lomba keagamaan bagi santri TPQ turut diselenggarakan sebagai sarana pembentukan karakter, keberanian, serta kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Di tingkat internal kelompok, mahasiswa juga membiasakan pelaksanaan sholat lima waktu secara berjamaah selama masa KKM. Kegiatan ini berangkat dari kesadaran bersama akan pentingnya menjaga nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sebagai mahasiswa perguruan tinggi Islam. Sholat berjamaah dilaksanakan berdasarkan kesepakatan tanpa paksaan dan secara konsisten menjadi sarana pembinaan kedisiplinan, kepedulian sosial, serta penguatan ikatan persaudaraan antaranggota. Selain bernilai ibadah dengan landasan kuat dalam ajaran Islam, kebiasaan ini turut menciptakan suasana religius yang terjaga dan menjadi bentuk keteladanan sederhana yang dijalankan secara istiqamah. Komitmen spiritual mahasiswa diperkuat melalui program One Day One Juz yang dilaksanakan secara konsisten dan ditutup dengan khotmil Al-Qur’an bersama masyarakat sebagai bentuk syukur dan penguatan kebersamaan. Mahasiswa juga terlibat aktif dalam pembelajaran di TPQ Baiturrohim dengan mendampingi santri dalam belajar Al-Qur’an, doa harian, bacaan sholat, serta pengenalan tajwid.Nilai toleransi dan moderasi beragama tercermin dalam keterlibatan Kelompok 41 pada Diskusi Lintas Agama di Karmel Ngadireso. Melalui dialog terbuka dan inklusif, mahasiswa turut merawat ruang kebersamaan dalam keberagaman, menegaskan bahwa perbedaan adalah anugerah yang memperkaya kehidupan sosial. Pada bidang ekonomi, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memfokuskan program pengabdian pada penguatan UMKM Desa Gubugklakah sebagai desa wisata. Program ini berangkat dari pengamatan lapangan terhadap aktivitas ekonomi warga yang sebenarnya telah berjalan cukup baik, khususnya pada sektor kedai dan homestay yang melayani wisatawan menuju kawasan Bromo. Namun demikian, masih ditemukan kendala pada aspek pendukung usaha, seperti kurangnya identitas visual kedai, penataan daftar menu yang belum optimal, serta homestay yang belum terdaftar di Google Maps sehingga menyulitkan wisatawan dalam menemukan lokasi. Menindaklanjuti kondisi tersebut, sejak 10 Januari 2026 mahasiswa menjalankan program peningkatan ekonomi masyarakat melalui pendampingan UMKM. Fokus kegiatan meliputi pembuatan banner dan daftar menu kedai, serta pendampingan pembuatan dan pengelolaan Google Maps bagi pemilik homestay. Program diawali dengan diskusi langsung bersama pelaku usaha untuk menggali kebutuhan, konsep usaha, serta harapan pengembangan ke depan. Proses perancangan dilakukan secara kolaboratif dengan menyesuaikan karakter produk, suasana desa wisata, dan preferensi pemilik usaha. Hasil dari program ini mulai dirasakan secara nyata. Banner dan daftar menu telah dicetak dan digunakan oleh pemilik kedai, sementara homestay yang didampingi kini telah terdaftar dan mudah diakses melalui Google Maps. Program ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik usaha, memperkuat identitas UMKM lokal, serta mendorong peningkatan kunjungan dan penjualan. Melalui pendampingan sederhana namun tepat sasaran, mahasiswa berupaya mendukung pengembangan ekonomi Desa Gubugklakah agar potensi wisata yang telah ada dapat tumbuh secara lebih optimal dan berkelanjutan. Pada aspek budaya, mahasiswa turut mendukung pelestarian adat Barikan, tradisi leluhur masyarakat Tengger yang dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan sekali di punden desa. Selain itu, kolaborasi strategis dilakukan bersama komunitas Lampahklakah dalam penyusunan Kamus Bahasa Tengger. Inisiatif ini menjadi langkah nyata pelestarian bahasa ibu sebagai identitas budaya sekaligus kontribusi literasi yang bernilai akademik dan sosial. Di bidang pelayanan publik dan teknologi, Kelompok 41 KKM UIN Malang mengembangkan sistem pembayaran air bersih desa berbasis web. Digitalisasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan air bersih, sekaligus menjadi langkah awal transformasi digital desa. Mahasiswa juga melaksanakan piket rutin di Balai Desa Gubugklakah untuk membantu administrasi dan pelayanan masyarakat, serta terlibat dalam penyambutan kunjungan Wakil Gubernur Kabupaten Malang dalam rangka pengembangan potensi pertanian desa. Seluruh dinamika kehidupan masyarakat Desa Gubugklakah kemudian dirangkum dalam film dokumenter berjudul “Di Bawah Langit Gubugklakah”. Film ini merekam potret desa dari aspek budaya, religius, pertanian, pariwisata, pendidikan, hingga sejarah sebagai upaya dokumentasi dan pelestarian kearifan lokal. Rangkaian pengabdian ditutup dengan Pentas Seni Penutupan dan Perpisahan Kelompok 41 KKM UIN Malang Aksara Vardhana. Acara ini menjadi ruang ekspresi budaya, apresiasi masyarakat, serta simbol penutup kebersamaan yang telah terjalin selama masa KKM. Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Kelompok 41 KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa pengabdian bukan sekadar pelaksanaan program, melainkan proses merawat hubungan, menumbuhkan kesadaran, dan meninggalkan jejak kebermanfaatan yang berkelanjutan. Desa Gubugklakah tidak hanya menjadi tempat mengabdi, tetapi juga ruang belajar yang mengajarkan makna kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial.