Thumbnail
3 months ago
Mencegah Perundungan Pada Anak dan Meningkatkan Kesadaran Anak Dalam Menjaga Kesehatan Melalui Sosialisasi Bullying dan Kebersihan di SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo

SRI NURIL HARDIYANTIKA

*Mencegah Perundungan Pada Anak dan Meningkatkan Kesadaran Anak Dalam Menjaga Kesehatan Melalui Sosialisasi Bullying dan Kebersihan di SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo*    Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 50 Astraya melaksanakan program kerja berupa kegiatan sosialisasi tentang bullying serta kebersihan dan kesehatan pada hari Senin dan Selasa. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lembaga pendidikan, yakni SDN 01 Sidomulyo pada Senin, 12 Januari 2026, dan MI Al Hidayah Sidomulyo pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan melibatkan siswa-siswi serta guru pendamping.   Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sejak dini mengenai bahaya perilaku bullying serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Materi yang disampaikan meliputi bahaya konsumsi minuman kemasan, risiko penyakit cacingan, pentingnya mencuci tangan dengan benar, serta pemahaman mengenai bullying dan dampaknya terhadap lingkungan sekolah.   Pemateri dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan mahasiswa KKM 50 Astraya. Materi mengenai bahaya minuman kemasan disampaikan oleh saudara Rafi, yang menjelaskan dampak negatif konsumsi minuman kemasan secara berlebihan terhadap kesehatan anak. Selanjutnya, materi tentang penyakit cacingan disampaikan oleh saudara Gunawan, yang memaparkan penyebab, dampak, serta cara pencegahan cacingan melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sementara itu, materi mengenai bullying disampaikan oleh saudara Ibrahim, yang menjelaskan bentuk-bentuk bullying, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menghargai dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.   Kegiatan diikuti dengan antusias oleh para siswa. Penyampaian materi dilakukan dengan metode yang interaktif dan mudah dipahami, seperti penjelasan sederhana, tanya jawab, serta praktik langsung cara mencuci tangan yang baik dan benar. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan menerapkan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.   Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh ketua kelompok KKM 50 Astraya dan dilanjutkan juga dengan pembukaan dari perwakilan salah satu guru di setiap Lembaga. Setelah itu, dilanjutkan dengan pemaparan materi sosialisasi, praktik cuci tangan, serta sesi diskusi bersama siswa. Para guru dan pihak sekolah turut mendampingi jalannya kegiatan dan memberikan dukungan penuh terhadap program yang dilaksanakan.   Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari pihak sekolah. Melalui program kerja ini, diharapkan siswa-siswi SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjauhi perilaku bullying dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.

Thumbnail
3 months ago
Semarakkan Isra' Mi'raj 1447 H, TPQ Al Muhajirin Gelar Festival Santri Selama Dua Hari

STEFANIA WAHYU SAFITRI

Peringatan peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H di Perumahan Dirgantara Permai berlangsung semarak. TPQ Al Muhajirin sukses menggelar kegiatan “Festival Anak Sholeh” selama dua hari, Rabu–Kamis (21–22/01/2026), bertempat di Masjid Al Muhajirin. Kegiatan ini menjadi sarana syiar Islam sekaligus wadah pengembangan bakat, kreativitas, dan karakter islami para santri sejak dini. Pada hari pertama, Rabu (21/01), suasana TPQ dipenuhi antusiasme santri melalui berbagai perlombaan keagamaan, seperti Lomba Mewarnai Kaligrafi, Hafalan Surat Pendek (Tahfidz), serta Adzan dan Iqomah. Setiap ruang kelas menjadi arena unjuk kemampuan santri. Pengurus TPQ menyampaikan bahwa lomba ini bertujuan melatih kepercayaan diri anak-anak serta mengasah hafalan yang telah dipelajari. Masih di hari yang sama, santri juga diajak menyusuri sejarah Isra’ Mi’raj melalui agenda Nonton Bareng animasi kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW. Metode visual ini dipilih agar materi sejarah lebih mudah dipahami. Kegiatan dilanjutkan dengan kuis interaktif berhadiah yang dipandu mahasiswa KKM, menambah keceriaan dan semangat belajar santri. Puncak acara berlangsung pada hari kedua, Kamis (22/01), dengan suasana yang lebih khidmat. Acara dibuka dengan penampilan Hadrah dan pembacaan Tilawah Al-Qur’an yang menambah kekhusyukan. Tausiyah hikmah Isra’ Mi’raj disampaikan oleh perwakilan Mahasiswa KKM ARKADIAKARSA, yang menekankan pentingnya salat lima waktu sebagai pesan utama dari peristiwa Mi’raj. Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama, menandai keberhasilan kolaborasi antara TPQ Al Muhajirin dan mahasiswa UIN Malang dalam menanamkan nilai-nilai Islam serta kecintaan terhadap agama kepada generasi muda. Semarakkan Isra' Mi'raj 1447 H, TPQ Al Muhajirin Gelar Festival Santri Selama Dua Hari

Thumbnail
3 months ago
Mencegah Perundungan Pada Anak dan Meningkatkan Kesadaran Anak Dalam Menjaga Kesehatan Melalui Sosialisasi Bullying dan Kebersihan di SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo

DAFFA ANDIKA OCTADANISWARA

Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 50 Astraya melaksanakan program kerja berupa kegiatan sosialisasi tentang bullying serta kebersihan dan kesehatan pada hari Senin dan Selasa. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lembaga pendidikan, yakni SDN 01 Sidomulyo pada Senin, 12 Januari 2026, dan MI Al Hidayah Sidomulyo pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan melibatkan siswa-siswi serta guru pendamping. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sejak dini mengenai bahaya perilaku bullying serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Materi yang disampaikan meliputi bahaya konsumsi minuman kemasan, risiko penyakit cacingan, pentingnya mencuci tangan dengan benar, serta pemahaman mengenai bullying dan dampaknya terhadap lingkungan sekolah. Pemateri dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan mahasiswa KKM 50 Astraya. Materi mengenai bahaya minuman kemasan disampaikan oleh saudara Rafi, yang menjelaskan dampak negatif konsumsi minuman kemasan secara berlebihan terhadap kesehatan anak. Selanjutnya, materi tentang penyakit cacingan disampaikan oleh saudara Gunawan, yang memaparkan penyebab, dampak, serta cara pencegahan cacingan melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sementara itu, materi mengenai bullying disampaikan oleh saudara Ibrahim, yang menjelaskan bentuk-bentuk bullying, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menghargai dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh para siswa. Penyampaian materi dilakukan dengan metode yang interaktif dan mudah dipahami, seperti penjelasan sederhana, tanya jawab, serta praktik langsung cara mencuci tangan yang baik dan benar. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan menerapkan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh ketua kelompok KKM 50 Astraya dan dilanjutkan juga dengan pembukaan dari perwakilan salah satu guru di setiap Lembaga. Setelah itu, dilanjutkan dengan pemaparan materi sosialisasi, praktik cuci tangan, serta sesi diskusi bersama siswa. Para guru dan pihak sekolah turut mendampingi jalannya kegiatan dan memberikan dukungan penuh terhadap program yang dilaksanakan. Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari pihak sekolah. Melalui program kerja ini, diharapkan siswa-siswi SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjauhi perilaku bullying dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.

Thumbnail
3 months ago
Dari Aset ke Aksi : Membangun Desa Berdaya Melalui Pendekatan Asset Based Community Development

MOH. RAFI AKBAR

Pembangunan desa selama ini kerap dimaknai sebagai upaya mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan ekonomi, kesehatan, hingga kualitas sumber daya manusia. Cara pandang yang terlalu berfokus pada masalah sering kali menempatkan desa sebagai pihak yang pasif dan bergantung pada bantuan dari luar. Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut, desa menyimpan kekuatan sosial, budaya, dan manusia yang jika dikenali dan dikelola dengan tepat, dapat menjadi modal utama pembangunan yang berkelanjutan. Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, merupakan salah satu contoh desa dengan potensi lokal yang kaya. Masyarakatnya memiliki tradisi gotong royong yang kuat, jaringan sosial yang aktif, serta berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan yang hidup dalam keseharian warga. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka pembangunan yang terarah. Di sisi lain, desa juga menghadapi tantangan nyata, seperti perlunya penguatan UMKM lokal, peningkatan literasi pemasaran digital, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap isu kesehatan, khususnya pencegahan stunting dan pola asuh anak. Dalam konteks tersebut, pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) menjadi relevan untuk digunakan sebagai kerangka berpikir dan bertindak. Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan berangkat dari pengenalan dan penguatan aset yang telah dimiliki masyarakat, bukan semata-mata dari intervensi eksternal. Masyarakat diposisikan sebagai subjek pembangunan yang aktif, sementara pihak luar berperan sebagai fasilitator dan pendamping. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman dan temuan lapangan dalam kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Desa Kebobang, dengan tujuan memetakan aset desa, merumuskan mimpi kolektif warga, serta menyajikan praktik perancangan program berbasis potensi lokal. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melihat bahwa pembangunan desa bukan sekadar soal apa yang kurang, tetapi tentang bagaimana menggerakkan apa yang sudah ada agar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Tahap Discovery: Mengungkap Aset yang Selama Ini Terabaika Berdasarkan diskusi, survei aset, dan refleksi bersama masyarakat Desa Kebobang, teridentifikasi bahwa warga memiliki mimpi kolektif yang relatif selaras dan realistis dengan kondisi lokal. Mimpi tersebut tidak lahir dari keinginan abstrak, melainkan dari pengalaman sehari-hari warga dalam menghadapi dinamika sosial, ekonomi, dan keluarga. Mimpi utama warga mencakup terbentuknya posko bank sampah yang terkelola secara berkelanjutan sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi mikro. Selain itu, warga mengharapkan pembangunan tugu desa sebagai simbol identitas dan kebanggaan kolektif yang merepresentasikan nilai kebersamaan masyarakat Desa Kebobang. Di sektor ekonomi, warga memiliki harapan agar UMKM lokal dapat berkembang lebih terarah dan memiliki daya saing, terutama melalui peningkatan pengetahuan pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital. Sementara itu, pada aspek keluarga dan kesehatan, muncul kebutuhan kuat akan edukasi parenting dan pencegahan stunting yang berkelanjutan, khususnya bagi orang tua dan wali murid tingkat SD/MI. Mimpi-mimpi ini menunjukkan bahwa warga desa tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menginginkan perubahan sosial yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Visi tersebut menjadi landasan penting dalam merancang program KKM yang relevan, kontekstual, dan berorientasi jangka panjang. Tahap Dream: Merumuskan Mimpi Kolektif Warga Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Design: Merancang Strategi Berbasis Aset Berdasarkan hasil pemetaan aset dan kebutuhan masyarakat, terdapat dua aset yang dinilai paling strategis untuk menggerakkan program pemberdayaan desa, yaitu balai desa dan kelompok sosial Dasa Wisma. Balai desa berfungsi sebagai pusat koordinasi kegiatan, ruang edukasi, serta titik temu berbagai kelompok masyarakat. Sementara itu, Dasa Wisma memiliki jaringan partisipasi yang luas dan menjangkau langsung unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, sehingga efektif digunakan sebagai saluran pendataan, sosialisasi, dan penguatan program berbasis keluarga. Dengan memanfaatkan aset prioritas tersebut, dirancang beberapa aksi strategis yang selaras dengan tujuan dan metode dalam proposal KKN. Pertama, pelatihan dan sosialisasi pemasaran digital UMKM, meliputi penguatan branding produk, pengemasan, serta pengenalan pemasaran daring sebagai upaya peningkatan daya saing ekonomi lokal. Kedua, sosialisasi parenting dan pencegahan stunting yang ditujukan kepada wali murid SD/MI. Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman orang tua mengenai pola asuh anak, pemenuhan gizi seimbang, serta peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Ketiga, penguatan moderasi beragama melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan TPQ, Madin, dan aktivitas keagamaan masyarakat. Program ini bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghormati, dan keharmonisan sosial sejak usia dini. Keempat, penguatan sosial kemasyarakatan melalui kegiatan senam bersama, pengajian rutin, dan kerja bakti sebagai sarana mempererat kohesi sosial warga. Tahap Destiny: Implementasi dan Penguatan Keberlanjutan Implementasi program dirancang secara bertahap dan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal. Kader PKK, guru PAUD, Karang Taruna, tokoh agama, serta perangkat desa berperan sebagai pelaksana utama, sementara mahasiswa KKM bertindak sebagai fasilitator dan pendamping program. Pemanfaatan aset yang telah tersedia, seperti balai desa, jaringan Dasa Wisma, lembaga pendidikan, dan kegiatan keagamaan, memungkinkan program dijalankan secara realistis dan efisien. Pendekatan ini juga meminimalkan ketergantungan pada bantuan eksternal serta mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola program. Selain itu, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mendorong tumbuhnya kepemimpinan lokal dan rasa memiliki terhadap program. Dengan demikian, keberlanjutan kegiatan tidak berhenti pada masa KKM, tetapi berpotensi dilanjutkan oleh masyarakat desa secara mandiri. Tahap Refleksi: Dampak Awal dan Pembelajaran Refleksi awal terhadap pelaksanaan program menunjukkan beberapa pembelajaran penting. Pertama, warga mulai menyadari bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada bantuan dari luar, tetapi juga pada aset sosial, manusia, dan budaya yang telah dimiliki. Kesadaran ini mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap pembangunan desa. Kedua, terjadi peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan, khususnya pada program yang menyentuh langsung kebutuhan keluarga dan ekonomi. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap proses dan hasil program. Ketiga, muncul komitmen kolektif dari warga dan pemangku kepentingan lokal untuk melanjutkan pendekatan berbasis aset sebagai strategi pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Penutup Pengalaman pemberdayaan masyarakat di Desa Kebobang menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari daftar kekurangan dan masalah. Melalui pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak untuk mengenali kembali kekuatan yang selama ini hadir dalam kehidupan mereka, namun sering kali luput disadari. Aset manusia, sosial, institusional, budaya, dan alam yang dimiliki desa terbukti menjadi fondasi penting dalam merancang program yang relevan dan berdaya guna. Pendekatan berbasis aset juga memperlihatkan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap program pembangunan. Ketika warga, kader, pemuda, dan tokoh lokal diberi ruang untuk berperan, proses pembangunan tidak lagi dipandang sebagai agenda eksternal, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan cita-cita bersama. Hal ini menjadi kunci bagi keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan, termasuk KKM, berakhir. Lebih dari sekadar metode, ABCD menawarkan perubahan cara pandang dalam pembangunan desa. Desa tidak diposisikan sebagai objek yang menunggu bantuan, tetapi sebagai komunitas yang memiliki kapasitas untuk bertumbuh dari dalam. Penguatan UMKM, edukasi parenting dan pencegahan stunting, moderasi beragama, serta penguatan kohesi sosial di Desa Kebobang menjadi contoh bagaimana aset lokal dapat dihubungkan untuk menjawab tantangan nyata masyarakat. Pada akhirnya, pembangunan desa yang berkelanjutan menuntut keberanian untuk berpindah dari pendekatan berbasis masalah menuju pendekatan berbasis kekuatan. Pengalaman di Desa Kebobang menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan sumber daya besar, melainkan kemauan untuk melihat, menggerakkan, dan merawat potensi yang sudah ada. Jika pendekatan ini terus dilanjutkan dan diperkuat, desa tidak hanya akan menjadi objek pembangunan, tetapi aktor utama dalam menentukan masa depannya sendiri

Thumbnail
3 months ago
Mencegah Perundungan Pada Anak dan Meningkatkan Kesadaran Anak Dalam Menjaga Kesehatan Melalui Sosialisasi Bullying dan Kebersihan di SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo

IZZATUL SYAHDA ELSA VARETA

Mencegah Perundungan Pada Anak dan Meningkatkan Kesadaran Anak Dalam Menjaga Kesehatan Melalui Sosialisasi Bullying dan Kebersihan di SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 50 Astraya melaksanakan program kerja berupa kegiatan sosialisasi tentang bullying serta kebersihan dan kesehatan pada hari Senin dan Selasa. Kegiatan ini dilaksanakan di dua lembaga pendidikan, yakni SDN 01 Sidomulyo pada Senin, 12 Januari 2026, dan MI Al Hidayah Sidomulyo pada Selasa, 13 Januari 2026, dengan melibatkan siswa-siswi serta guru pendamping. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sejak dini mengenai bahaya perilaku bullying serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Materi yang disampaikan meliputi bahaya konsumsi minuman kemasan, risiko penyakit cacingan, pentingnya mencuci tangan dengan benar, serta pemahaman mengenai bullying dan dampaknya terhadap lingkungan sekolah. Pemateri dalam kegiatan ini berasal dari perwakilan mahasiswa KKM 50 Astraya. Materi mengenai bahaya minuman kemasan disampaikan oleh saudara Rafi, yang menjelaskan dampak negatif konsumsi minuman kemasan secara berlebihan terhadap kesehatan anak. Selanjutnya, materi tentang penyakit cacingan disampaikan oleh saudara Gunawan, yang memaparkan penyebab, dampak, serta cara pencegahan cacingan melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sementara itu, materi mengenai bullying disampaikan oleh saudara Ibrahim, yang menjelaskan bentuk-bentuk bullying, dampaknya bagi korban, serta pentingnya saling menghargai dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh para siswa. Penyampaian materi dilakukan dengan metode yang interaktif dan mudah dipahami, seperti penjelasan sederhana, tanya jawab, serta praktik langsung cara mencuci tangan yang baik dan benar. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan menerapkan materi yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh ketua kelompok KKM 50 Astraya dan dilanjutkan juga dengan pembukaan dari perwakilan salah satu guru di setiap Lembaga. Setelah itu, dilanjutkan dengan pemaparan materi sosialisasi, praktik cuci tangan, serta sesi diskusi bersama siswa. Para guru dan pihak sekolah turut mendampingi jalannya kegiatan dan memberikan dukungan penuh terhadap program yang dilaksanakan. Kegiatan sosialisasi ini berlangsung dengan lancar dan mendapatkan respon positif dari pihak sekolah. Melalui program kerja ini, diharapkan siswa-siswi SDN 01 Sidomulyo dan MI Al Hidayah Sidomulyo dapat lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjauhi perilaku bullying dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.

Thumbnail
3 months ago
Langkah Kecil Kebersamaan Besar bersama Pak Mustain

TIARA ARISYANDA APRILLIA

Pada tanggal 18 Januari 2026 kami melakukan jalan pagi bersama Pak Mustain di sekitar rumah beliau yang masih sangat sejuk dan asri. Suasana pagi terasa tenang, udara segar menyambut sejak langkah pertama dimulai. Perjalanan membawa kami melewati hamparan sawah hijau, aliran sungai kecil, serta kebun-kebun warga yang masih basah oleh embun pagi. Sepanjang jalan, pemandangan alam membuat kami betah dan menikmati setiap langkah. Sesekali berhenti untuk mengatur napas, bercanda, dan mengabadikan momen kebersamaan. Suara alam dan udara bersih membuat jalan pagi ini terasa menyenangkan dan menenangkan pikiran. Hal yang paling mengundang tawa, Pak Mustain justru berjalan dengan langkah lebih cepat daripada kami. Kami berkali-kali tertinggal dan harus mempercepat langkah untuk menyusul beliau. Energi dan semangat beliau benar-benar luar biasa. Meskipun usia beliau sudah tidak muda lagi, kebiasaan rutin jalan pagi membuat fisik Pak Mustain tetap kuat dan bugar. Sebaliknya, kami yang masih muda malah mudah lelah dan kehabisan tenaga, pantasan saja dijuluki remaja jompo. Kegiatan jalan pagi ini tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga mempererat kebersamaan, menghadirkan tawa, dan meninggalkan kesan hangat yang sulit dilupakan.