Thumbnail
3 months ago
Between Duties and Discoveries: A Day in Batu

SHIRLY SANYYA AZAMY

Between Duties and Discoveries: A Day in Batu Hari itu dimulai lebih pagi dari biasanya. Kami berangkat bersama dengan semangat yang masih segar dan udara Batu yang sejuk menyambut perjalanan kami. Perjalanan pagi terasa ringan, penuh obrolan kecil dan antusiasme karena kunjungan kali ini sudah dinanti. Meski agenda utamanya tetap pemeriksaan kesehatan seperti biasa, kami merasa bahwa hari itu akan membawa pengalaman yang berbeda. Setibanya di lokasi, kegiatan dibuka dengan senam bersama. Gerakan sederhana yang dilakukan bersama-sama justru menjadi pemecah suasana. Tawa, canda, dan semangat warga membuat pagi terasa hangat. Senam bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan kami dengan masyarakat. Dari yang awalnya canggung, perlahan suasana menjadi akrab dan penuh energi positif. Setelah itu, kami melanjutkan dengan makan bersama. Momen ini ternyata menjadi bagian paling berkesan. Di meja makan sederhana dengan nuansa kayu yang hangat, obrolan mengalir tanpa terasa. Dari cerita keseharian, pengalaman hidup, hingga rekomendasi tempat-tempat menarik di sekitar Batu, kami mendapatkan begitu banyak insight yang tidak terduga. Kami belajar tentang kehidupan yang dijalani dengan lebih santai namun tetap bermakna, tentang tempat-tempat lokal yang indah, dan tentang cara menikmati waktu dengan lebih sederhana. Percakapan yang awalnya ringan berubah menjadi refleksi kecil tentang hidup, pilihan, dan perjalanan masing-masing. Usai makan dan berbincang, kami melanjutkan kegiatan dengan berkeliling Batu. Udara sejuk, pemandangan hijau, dan suasana kota yang tenang membuat perjalanan terasa menyenangkan. Beberapa tempat yang direkomendasikan warga kami sempat lihat secara langsung. Rasanya seperti mengenal Batu dari sudut pandang yang lebih personal, bukan hanya sebagai lokasi KKM, tetapi sebagai tempat yang menyimpan banyak cerita. Hari itu mengingatkan kami bahwa selama KKM, kami tidak hanya mengumpulkan data dan menjalankan tugas, tetapi juga mengumpulkan cerita, perspektif, dan kenangan yang akan terus kami ingat bahkan setelah program ini selesai.

Thumbnail
3 months ago
Isra Mi'raj

DAVINA JIHAN NUR AINI BAYO

Peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu kegiatan keagamaan dalam pelaksanaan KKM Reguler Tahun 2025–2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Januari bertempat di Masjid Baiturrahim yang berlokasi di Dusun Simpar. Pelaksanaan acara melibatkan mahasiswa KKM, pengurus masjid, serta masyarakat setempat sebagai bentuk sinergi dalam memperingati peristiwa besar dalam sejarah Islam. Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan bersama, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan acara, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, serta penyampaian tausiyah yang mengangkat hikmah Isra dan Mi’raj, khususnya mengenai pentingnya “Shalat sebagai hadiah Agung Isra Mi’raj”. Kegiatan ini diikuti oleh jamaah dengan penuh antusias dan khidmat. Melalui peringatan Isra dan Mi’raj ini, diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, sebagai penanda berakhirnya kegiatan yang berlangsung dengan tertib dan lancar.  

Thumbnail
3 months ago
Menanam Harapan untuk Masa Depan: Aksi Penanaman Bibit Buah oleh KKM Kelompok 86 Senandika Desa

FA`IDATUL KHASANAH

Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 86 Senandika Desa Wonorejo melaksanakan kegiatan penanaman bibit buah yang bertempat di Bukit Dusun Pusung, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini dilaksanakan pada 15 Januari 2026 dan menjadi salah satu program kerja unggulan kelompok dalam mendukung pelestarian lingkungan desa. Kegiatan penanaman dilakukan secara gotong royong oleh mahasiswa KKM dengan melibatkan masyarakat setempat. Lokasi perbukitan dipilih sebagai upaya penghijauan lahan serta pencegahan kerusakan lingkungan. Berbagai jenis bibit buah ditanam dalam kegiatan ini, di antaranya bibit mangga, sirsak, kopi, palem, serta beberapa jenis tanaman lain yang dinilai sesuai dengan kondisi tanah dan iklim wilayah tersebut. Selain bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat desa. Tanaman buah yang ditanam berpotensi menjadi sumber pangan, memperbaiki kualitas lingkungan perbukitan, serta membuka peluang ekonomi di masa depan apabila dikelola secara berkelanjutan. Perwakilan KKM Kelompok 86 Senandika Desa Wonorejo menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa. Penanaman bibit buah ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai upaya menanam kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan aktif dalam proses penanaman dan dukungan terhadap keberlanjutan program ini. Melalui kegiatan penanaman bibit buah di Bukit Dusun Pusung, mahasiswa KKM berharap dapat meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan serta menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan desa yang hijau, lestari, dan bermanfaat bagi generasi mendatang.    

Thumbnail
3 months ago
"Masjid Dan Generasi Milenial : Dari Ritual ke Ruang Ekspresi Sosial"

LANA IQOMATUL HAQIQI

Masjid selama ini dikenal sebagai ruang sakral yang identik dengan aktivitas ibadah seperti shalat berjamaah, pengajian, dan kajian keislaman. Namun, perkembangan zaman serta karakter generasi milenial yang hidup di tengah teknologi dan budaya digital menuntut adanya perluasan fungsi masjid. Masjid tidak cukup hanya menjadi tempat orang datang untuk beribadah lalu pulang, tetapi juga perlu hadir sebagai ruang yang hidup, dialogis, dan relevan dengan kebutuhan sosial generasi muda. Berangkat dari kesadaran tersebut, Mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan sebuah podcast bertema "Masjid dan Generasi Milenial: Dari Ritual ke Ruang Ekspresi Sosial." Podcast ini menjadi bagian dari program kerja pengembangan media masjid dan literasi dakwah digital selama masa pengabdian mahasiswa di lingkungan Masjid At-Taqwa. Kegiatan podcast dilaksanakan pada Sabtu, 10 Januari 2026, bertempat di Masjid At-Taqwa, Perumahan Bumi Tunggulwulung Indah, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Podcast ini menghadirkan Dr. Ir. H. Mochammad Rofieq, S.Si., M.T., IPU. sebagai narasumber utama. Dalam kesehariannya, beliau merupakan dosen di Universitas Merdeka Malang serta menjabat sebagai Ketua Bidang Dakwah dan Peribadatan Masjid At-Taqwa. Podcast ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang sosial, edukatif, dan kreatif bagi generasi milenial. Selain itu, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) anak muda terhadap masjid, mendorong partisipasi aktif mereka, serta membuka ruang agar ide, potensi, dan inovasi generasi muda dapat berkembang melalui aktivitas yang bernilai dakwah dan sosial. Harapannya, masjid mampu menjadi pusat peradaban kecil yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Dalam sesi dialog, mahasiswa KKM menggali pandangan narasumber tentang hubungan masjid dengan karakter generasi milenial yang dinamis, kritis, dan dekat dengan media digital. Dr. Rofieq menegaskan bahwa masjid harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial. "Masjid hari ini tidak cukup hanya menjadi tempat orang datang, shalat, lalu pulang. Masjid harus menjadi ruang yang membuat generasi muda merasa diterima, didengar, dan diberdayakan," ujar Dr. Rofieq. Beliau menjelaskan bahwa generasi milenial memiliki potensi besar di bidang komunikasi, media, desain, dan pengelolaan kegiatan sosial. Jika masjid mampu membuka ruang partisipasi, maka masjid akan menjadi rumah ide dan karya bagi anak muda. "Anak muda itu punya energi dan kreativitas. Kalau masjid tidak memberi ruang, mereka akan mencari ruang lain. Maka tugas masjid adalah menyediakan ekosistem yang sehat agar kreativitas itu tumbuh di lingkungan masjid," lanjutnya. Podcast ini juga membahas masjid sebagai ruang ekspresi sosial. Artinya, masjid tidak hanya mengurus aspek ibadah personal, tetapi juga hadir menjawab persoalan masyarakat, seperti pendidikan, literasi, kepemudaan, ekonomi umat, hingga dakwah berbasis media digital. Mahasiswa KKM mengangkat pengalaman mereka selama berinteraksi dengan jamaah, termasuk bagaimana keterlibatan generasi muda meningkat ketika mereka diberi kepercayaan mengelola media sosial, membuat konten, dan menyusun kegiatan kreatif. Dr. Rofieq menekankan pentingnya komunikasi yang setara antara pengurus masjid dan generasi milenial.  "Jangan posisikan anak muda hanya sebagai pelaksana. Jadikan mereka mitra berpikir. Ketika mereka dilibatkan sejak perencanaan, maka rasa memiliki terhadap masjid akan tumbuh dengan sendirinya," katanya. Media podcast dipilih karena dinilai relevan dengan gaya komunikasi generasi milenial. Melalui audio-visual, pesan dakwah masjid tidak hanya menjangkau jamaah yang hadir secara fisik, tetapi juga masyarakat luas di ruang digital. Hasil podcast ini akan dipublikasikan melalui akun Instagram resmi Masjid At-Taqwa, yaitu @masjid_attaqwa_btwi, sehingga dapat diakses oleh jamaah dan generasi muda secara lebih luas. Selain menjadi ruang diskusi, podcast ini juga menjadi sarana dokumentasi pemikiran tokoh masjid dan mahasiswa agar dapat menjadi referensi serta inspirasi bagi pengembangan kegiatan masjid ke depan. Dengan memanfaatkan media digital, dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar, tetapi hadir di ruang-ruang yang dekat dengan keseharian generasi milenial. Di akhir sesi, Dr. Rofieq menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak merasa asing dengan masjid.  "Masjid bukan milik orang tua saja. Masjid adalah milik semua generasi. Anak muda jangan ragu datang ke masjid bukan hanya untuk shalat, tapi juga untuk belajar, berdiskusi, dan berkarya," pesannya Beliau juga menambahkan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai penghubung antara nilai keislaman dan realitas sosial. "Kalian adalah jembatan antara tradisi dan inovasi. Jadikan masjid sebagai tempat yang hidup, bukan hanya ramai sesaat, tetapi konsisten memberi manfaat bagi masyarakat," tutupnya. Program kerja podcast yang digagas Mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena dapat dinilai sebagai langkah strategis dan kontekstual dalam menjawab tantangan dakwah masjid di era digital. Pemilihan media podcast menunjukkan bahwa mahasiswa memahami karakter komunikasi generasi milenial yang dekat dengan teknologi dan konten media sosial. Podcast ini tidak bersifat seremonial, tetapi memiliki nilai edukatif dan pemberdayaan. Mahasiswa tidak hanya menghadirkan narasumber, melainkan juga mengemas diskusi secara dialogis dan komunikatif. Ini penting karena masjid sering kali terjebak pada pola komunikasi satu arah. Melalui podcast, masjid justru menjadi ruang pertukaran gagasan. Dari sisi keberlanjutan, program ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kanal media masjid yang rutin. Dengan penayangan melalui Instagram @masjid_attaqwa_btwi, podcast menjadi jembatan antara masjid dan generasi muda di ruang digital. Artinya, mahasiswa KKM tidak hanya membuat kegiatan, tetapi juga meletakkan fondasi sistem komunikasi masjid berbasis media. Podcast ini juga memperkuat relasi antara masjid dan generasi milenial. Anak muda tidak diposisikan sebagai objek dakwah, melainkan sebagai subjek yang terlibat langsung dalam produksi konten, ide, dan gagasan. Dengan demikian, masjid menjadi ruang belajar sosial sekaligus laboratorium kreativitas bagi generasi muda. Secara keseluruhan, program kerja podcast Mahasiswa KKM Kelompok 121 Swastikara Nawasena layak dinilai sebagai praktik baik dalam pengembangan masjid yang inklusif, adaptif, dan relevan dengan zaman. Jika dikembangkan secara konsisten, podcast ini berpotensi membentuk identitas Masjid At-Taqwa sebagai masjid yang ramah generasi muda, aktif di ruang digital, dan mampu mengintegrasikan nilai religius dengan kreativitas sosial.    

Thumbnail
3 months ago
Pertemuan Terakhir yang Paling Membekas

HANA INDAH CHANTIKA PRATIWI

Dari sekian banyak momen selama KKM, pertemuan kunjungan terakhir jadi bagian yang paling aku suka dan paling berkesan. Di momen itu, rasanya campur aduk, senang, haru, dan sedikit sedih karena harus berpisah. Hubungan yang awalnya hanya sebatas pendampingan, perlahan berubah jadi rasa akrab dan kekeluargaan. Bu Wiwik dan Pak Ridwan, calon jamaah haji yang kami dampingi, bukan lagi sekadar peserta kegiatan, tapi sudah seperti orang tua sendiri. Obrolan ringan, tawa, dan doa yang saling diucapkan membuat pertemuan terakhir itu terasa begitu hangat dan penuh makna. KKM bukan cuma tentang program dan tugas, tapi juga tentang ikatan, pelajaran hidup, dan kenangan yang akan selalu aku ingat

Thumbnail
3 months ago
Melestarikan Budaya Lewat Kegiatan Membatik Bersama ibu-ibu dan Mahasiswa KKM di RT 3 RW 6

NADI FATUL KHOIRUN NISA

Dalam upaya melestarikan budaya sekaligus mengembangkan kreativitas, ibu-ibu bersama mahasiswa KKm di wilayah RT 3 RW 6 Griya Damai Sejahtera, Kelurahan Balearjosari, melaksanakan kegiatan membatik pada jumat, 16 Januari 2026. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 07.00 WIB dan berlasung dengan penuh semangat dan kebersamaan. Kegiatan membatik ini tidak hanya diikuti oleh ibu-ibu setempat, tetapi juga melibatkan mahasiswi KKM yang turut serta dalam setiap prosesnya. Kebersamaan antara ibu-ibu dan mahasiswi KKM menciptakan suasana yang hangat serta menjadi sarana saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam membatik. Sejak pagi hari, para peserta telah berkumpul untuk mengikuti rangkaian kegiatan membatik, mulai dari pengenalan alat dan bahan, pembuatan motif, hingga proses pewarnaan kain. Dengan penuh ketelatenan, para peserta menuangkan kreativitas masing-masing ke dalam motif batik yang beragam dan unik. Selain melatih kreativitas, kegiatan membatik ini juga menjadi media pembelajaran untuk mengenal dan mencintai batik sebagai warisan budaya bangsa. Antusiasme peserta terlihat jelas selama kegiatan berlangsung, menunjukkan semangat dalam melestarikan budaya lokal. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin hubungan yang semakin erat antara mahasiswi KKM dan masyarakat, khususnya ibu-ibu RT 3 RW 6 Griya Damai Sejahtera. Kegiatan membatik ini menjadi contoh kegiatan positif yang tidak hanya bermanfaat secara budaya, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan masyarakat.