Thumbnail
2 months ago
Membangun Clean Fire Project : Upaya KKM Arsana Muda Menghadirkan Teknik Pembakaran Sampah Minim Asap di Dusun Genderan Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Membangun Clean Fire Project : Upaya KKM Arsana Muda Menghadirkan Teknik Pe

LAILATUL FITRI FAJARIYAH

Permasalahan sampah masih menjadi tantangan nyata di berbagai wilayah pedesaan, termasuk di Dusun Genderan, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Salah satu cara pengelolaan sampah yang masih sering dilakukan oleh masyarakat adalah pembakaran terbuka. Praktik ini memang dianggap cepat dan praktis, namun di sisi lain menimbulkan asap pekat yang berdampak buruk bagi kesehatan serta mencemari lingkungan sekitar. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Arsana Muda menjadikan isu pengelolaan sampah sebagai fokus utama program kerja. Salah satu program unggulan yang dirancang dan direalisasikan adalah CLEAN FIRE PROJECT: Teknik Pembakaran Sampah Minim Asap untuk Desa Berdaya. Program ini menitikberatkan pada pembangunan alat pembakaran sampah berbasis teknologi sederhana berupa kompor roket atau insinerator sederhana, yang dirancang agar mudah digunakan dan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Tahap awal pelaksanaan program dimulai dengan pengamatan langsung terhadap kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pembakaran sampah secara terbuka tanpa kontrol udara menyebabkan asap tebal, pembakaran tidak sempurna, serta berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan warga. Dari permasalahan tersebut, mahasiswa KKM Arsana Muda merancang solusi berupa alat pembakaran minim asap yang efisien, murah, dan sesuai dengan kondisi lingkungan desa. Alat ini dirancang dengan prinsip pembakaran bertingkat dan aliran udara terkontrol, sehingga gas sisa pembakaran dapat dibakar ulang sebelum dilepaskan ke udara. Dengan metode ini, asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan pembakaran konvensional. Proses Pembuatan Alat Pembakaran Minim Asap Pembuatan alat baking minim asap dilakukan secara bertahap dan melibatkan diskusi internal tim KKM Arsana Muda. Bahan yang digunakan pun dipilih dari bahan yang mudah ditemukan, seperti bata ringan (hebel), semen, serta pipa sebagai cerobong. Struktur alat terdiri dari beberapa bagian utama. Ruang pembakaran primer berfungsi sebagai tempat memasukkan bahan bakar berupa sampah organik kering atau mengomel. Selain itu terdapat saluran udara masuk (air intake) yang berperan sebagai pengatur suplai oksigen agar api tetap stabil. Bagian terpenting dari alat ini adalah ruang pembakaran sekunder atau riser vertikal, yang memungkinkan sisa gas pembakaran terbakar kembali sehingga asap dapat diminimalkan. Untuk menjaga suhu tetap tinggi dan stabil, dinding alat dilapisi bata ringan sebagai isolator panas. Suhu tinggi inilah yang menjadi kunci pembakaran lebih sempurna. Terakhir, asap yang tersisa dialirkan melalui cerobong asap, sehingga tidak langsung menyebar ke sekitar pengguna. Selama proses pembangunan, siswa bekerja secara gotong royong, mulai dari penyusunan bata, pencampuran semen, hingga penyesuaian bentuk alat agar sesuai dengan prinsip draft effect. Proses ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi siswa tentang penerapan teknologi yang tepat guna yang sederhana namun berdampak besar. Clean Fire Project sebagai sarana pemberdayaan Pembangunan alat pembakaran minim asap ini tidak hanya bertujuan menghasilkan satu unit alat, tetapi juga sebagai langkah awal perubahan pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Melalui Clean Fire Project, mahasiswa KKM Arsana Muda ingin menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus mahal atau rumit. Alat yang dibangun dirancang agar mudah direplikasi dan dirawat oleh masyarakat. Dengan demikian, setelah program KKM berakhir, masyarakat Dusun Genderan diharapkan mampu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi ini secara mandiri sebagai alternatif pembakaran sampah yang lebih aman dan ramah lingkungan. Program ini juga menjadi bentuk nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Clean Fire Project membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang disertai praktik langsung mampu menjadi jalan menuju desa yang lebih berdaya dan peduli lingkungan.

Thumbnail
2 months ago
Eco Green dimulai dari rumah: Belajar dari lingkungan Dari desa campur darat

IZZI ANGELINA TIRTA

Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.

Thumbnail
2 months ago
Eco Green dimulai dari rumah: Belajar dari lingkungan Dari desa campur darat

NADIA DIN SALIMA AL-KAMILA

Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.

Thumbnail
2 months ago
Bijak Bermedia Sosial di Era Digital: Upaya Mahasiswa KKM UIN Malang Meningkatkan Kesadaran Diri di Tengah Quarter Life Crisis

HANUM AMANDA MAHFUD

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan talkshow bertema “Bijak Bermedia Sosial di Era Digital: Upaya Meningkatkan Kesadaran Diri di Tengah Quarter Life Crisis” pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh santri Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Ummu Zainab An-Najiyah 2 sebagai audiens utama. Talkshow ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa KKN yang berfokus pada penguatan literasi digital dan kesehatan mental santri di era modern. Kegiatan talkshow ini dilatarbelakangi oleh semakin masifnya penggunaan media sosial di kalangan remaja dan generasi muda, termasuk santri. Media sosial kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, sumber informasi, serta media pembentukan identitas diri. Namun, disisi lain, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kecanduan digital, perbandingan sosial berlebihan, penurunan kepercayaan diri, hingga tekanan psikologis yang berujung pada kecemasan dan kebingungan dalam menentukan arah masa depan atau yang dikenal dengan istilah Quarter Life Crisis. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM UIN Malang berinisiatif menyelenggarakan talkshow edukatif sebagai ruang dialog dan refleksi bagi santri. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri (self-awareness) santri, menanamkan sikap bijak dalam bermedia sosial, serta membekali santri dengan pemahaman dasar terkait kesehatan mental agar mampu menghadapi tantangan di era digital secara positif dan bertanggung jawab. Talkshow ini menghadirkan dua pemateri yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Pemateri pertama, Bapak Badrus Zaman, S.Kom., M.Sc., dosen Universitas Airlangga (UNAIR), menyampaikan materi mengenai bijak bermedia sosial. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya literasi digital sebagai kemampuan dasar yang harus dimiliki generasi muda. Santri diajak untuk memahami etika bermedia sosial, mengenali dampak positif dan negatif konten digital, serta mampu menyaring informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh hoax, ujaran kebencian, maupun konten yang bertentangan dengan nilai moral dan keislaman. Pemateri kedua, Bapak Abdul Hamid Cholili, M.Psi., Psikolog, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menyampaikan materi mengenai Quarter Life Crisis dari perspektif psikologi. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan bahwa perasaan cemas, bingung, dan khawatir terhadap masa depan merupakan fase yang wajar dialami oleh remaja dan generasi muda. Namun, kondisi tersebut perlu dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi masalah psikologis yang lebih serius. Santri diajak untuk mengenali potensi diri, memahami emosi, serta membangun kesadaran diri sebagai langkah awal dalam menjaga kesehatan mental. Pelaksanaan talkshow dikemas secara komunikatif dan interaktif melalui pemaparan materi, diskusi terbuka, serta sesi tanya jawab. Santri menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat dari keaktifan santri dalam mengajukan pertanyaan, maupun menyampaikan pendapat. Antusiasme tersebut mencerminkan bahwa topik yang diangkat sangat relevan dan dekat dengan realitas kehidupan santri saat ini. Mahasiswa KKM UIN Malang berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi santri Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Ummu Zainab An-Najiyah 2. Melalui talkshow ini, santri diharapkan mampu menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Selain itu, santri diharapkan memiliki kesadaran diri yang lebih baik dalam menghadapi tekanan psikologis, sehingga mampu menjalani proses perkembangan diri dengan lebih sehat dan seimbang. Kegiatan talkshow ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa KKM UIN Malang dalam mendukung pengembangan karakter, literasi digital, dan kesehatan mental santri di lingkungan pesantren. Melalui program kerja ini, mahasiswa KKM tidak hanya menjalankan kewajiban pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga berupaya menghadirkan kegiatan edukatif yang relevan dengan kebutuhan generasi muda di era digital. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai upaya menciptakan generasi santri yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, serta berakhlak mulia.  

Thumbnail
2 months ago
Sosialisai bersama KUA,BNN,dan Pusekesmas

ZAHRAN HAZIMULFIKRI SAPRUDIN

Kegiatan sosialisasi seminar yang diselenggarakan di Desa Merak Belantung menjadi salah satu upaya edukatif dalam meningkatkan wawasan generasi muda terkait isu-isu penting yang sedang dihadapi masyarakat. Seminar ini mengangkat beberapa tema utama, yaitu edukasi BRUN, stunting dan parenting, serta sosialisasi anti narkoba. Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa tingkat SMP yang ada di Desa Merak Belantung dengan antusiasme yang tinggi.   Melalui seminar ini, para peserta diberikan pemahaman yang komprehensif mengenai berbagai persoalan yang dapat berdampak pada masa depan mereka. Pada sesi edukasi BRUN, siswa dibekali pengetahuan mengenai pentingnya kesadaran diri, tanggung jawab sosial, serta peran generasi muda dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan positif. Materi disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan remaja.   Selain itu, pembahasan mengenai stunting dan parenting juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan ini. Para narasumber menjelaskan dampak stunting terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, serta pentingnya pola asuh yang tepat sejak dini. Meskipun peserta merupakan siswa SMP, materi ini diharapkan dapat menambah wawasan mereka sekaligus menjadi bekal pengetahuan untuk masa depan serta dapat disampaikan kembali kepada keluarga di rumah.   Sosialisasi anti narkoba turut menjadi agenda utama dalam seminar tersebut. Peserta diberikan pemahaman mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, dampak negatifnya terhadap kesehatan fisik dan mental, serta konsekuensi hukum yang dapat ditimbulkan. Dengan pendekatan persuasif dan edukatif, siswa diajak untuk lebih waspada dan berani menolak segala bentuk penyalahgunaan narkotika.       Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "sosialisasi seminar inspiratif sinergi KUA, BNN, Puskesmas dalam bentuk memberikan edukasi kepada remaja di desa merak belantung", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/alyazhalva2109/698c88f134777c6a580d6f53/sosialisasi-seminar-inspiratif-sinergi-kua-bnn-puskesmas-dalam-bentuk-memberikan-edukasi-kepada-remaja-di-desa-merak-belantung            

Thumbnail
2 months ago
KKM 112 UIN Malang Selenggarakan Sosialisasi Ketahanan Mental bersama Anak Yatim

AURA CITRA KHOLIQ

  Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang ditandai oleh berbagai perubahan, baik dari segi fisik, kemampuan berpikir, maupun aspek psikososial. Perubahan-perubahan tersebut menuntut kesiapan mental yang baik agar remaja mampu menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang terus berkembang. Tanpa kesiapan tersebut, proses adaptasi dapat menjadi tantangan tersendiri bagi remaja, terutama dalam menghadapi tekanan sosial dan perubahan peran. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang terarah untuk membekali remaja dengan kemampuan psikologis yang memadai. Merespon kebutuhan tersebut, Kuliah Kerja Mahasiswa kelompok 112  meyelenggarakan sebuah program sosialisasi strategis pada tanggal 24 januari 2026 dengan judul "Tumbuh Kuat Menjadi HERO di Tengah Perubahan". Tujuan dari kegiatan ini untuk memberikan penguatan mental dan psikologis, khususnya bagi anak-anak yatim usia remaja, agar mereka mampu tumbuh menjadi individu yang lebih kuat, mandiri, dan adaptif dalam menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan. Kegiatan ini berfokus pada pengenalan konsep HERO, yang merupakan akronim dari empat elemen kunci ketahanan mental: Hope (Harapan), Efficacy (Keyakinan Diri), Resilience (Ketangguhan), dan Optimism (Optimisme).   Muh. Anwar Fu'ady menjelaskan, "Perubahan yang dialami anak pada masa remaja, baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial, menuntut kesiapan mental yang kuat agar dapat dihadapi secara positif. Oleh karena itu, penanaman karakter HERO yang mencakup Hope, Efficacy, Resilience, dan Optimism yang akan menjadi bekal penting dalam menghadapi dinamika kehidupan." Dalam sesi pemaparan materi yang disampaikan oleh Muh. Anwar Fu'ady, S.Psi., M.A peserta tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, tetapi juga dilibatkan secara aktif melalui pembagian worksheet yang berisi sejumlah pertanyaan terkait evaluasi diri. Lembar kerja tersebut dirancang untuk membantu peserta merefleksikan kondisi diri, potensi, serta tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta mengisi worksheet tersebut dengan cermat dan penuh perhatian. Setelah sesi pengisian selesai, beberapa perwakilan peserta secara sukarela maju ke depan untuk menyampaikan hasil refleksi dan jawaban mereka, sehingga tercipta suasana diskusi yang interaktif dan partisipatif.  Penyerahan Sertifikat dari Ketua KKM 112 kepada Pemateri Selain pemberian materi psikoedukatif, kegiatan sosialisasi ini juga dilengkapi dengan dukungan pemenuhan kebutuhan dasar peserta. Para peserta menerima paket gizi gratis yang disalurkan oleh Lembaga Yatim Mandiri serta paket RendangMU yang diberikan oleh Lembaga Lazismu. Selain itu, peserta juga memperoleh santunan yang di oleh Masjid Al-Falah sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap anak-anak yatim. Pemberian bantuan tersebut menjadi wujud perhatian nyata terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak yatim, sekaligus memperkuat tujuan kegiatan dalam mendukung tumbuh kembang remaja secara holistik, baik dari aspek psikologis maupun fisik.