ARIEF RAHMAN HAKIM
(6 Januari 2026/ Jabung, Kabupaten Malang)- Banyak orang berpikir hidup di desa tidak dapat memiliki penghasilan yang lebih besar ketimbang mencari kehidupan di kota besar. Pekerjaan seperti petani dan pedagang yang hanya dianggap sebelah mata bagi sebagian orang, tetapi berbeda dengan Pak Miftakhul yang memilih untuk membangun industri pengolahan kedelai. Dalam sebuah kesempatan, kelompok KKM 47 UIN Malang mengunjungi UMKM mandiri tersebut berlokasi di desa Ngadirejo yang sudah berjalan selama 7 tahun dan melakukan wawancara dengan Pak Miftakhul selaku pemilik industri tersebut. Dalam kunjungan tersebut, Pak Mifthakul memaparkan bahwa dalam menjaga kualitas produk, kedelai yang digunakan berupa kedelai impor yang dinilai lebih baik dalam menjaga kualitas selama masa proses pembuatan. Pada proses produksi kedelai direbus dahulu yang kemudian proses fermentasi menambahkan tepung tapioka dan ragi dalam fermentasi tempe. Lama proses fermentasi berlangsung selama dua malam dengan tahap yang berbeda. Malam pertama fermentasi dilakukan di ruangan kedap udara dan pada malam kedua fermentasi dilakukan menggunakan suhu ruangan. Industri ini juga mendongkrak roda perekonomian desa. Pasalnya tenaga kerja yang diserap berasal dari masyarakat lingkungan sekitar dalam pengerjaan produksinya sehingga membuka lapangan pekerjaan baru disamping petani dan peternak sebagai profesi utama bagi mayoritas warga desa Ngadirejo. Dalam pengolahan limbah produksi yang dihasilkan nantinya akan dikelola sebagai pangan tambahan untuk ternak seperti sapi, kambing, dan juga unggas. Pria asli desa Ngadirejo tersebut juga menjelaskan jumlah produksi dapat mencapai dua kwintal lebih. Jumlah produksi tersebut nantinya akan didistibusikan ke toko oleh-oleh di sejumlah daerah di Indonesia seperti pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan bahkan sudah mendarat di Singapura. Produk utama yang dihasilkan bukan hanya sebatas keripik tempe, tetapi juga berbagai macam variasi keripik lainnya yang berbahan dasar singkong, jagung, pisang, dan ampas tahu untuk keripik menjes Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ciptakan Cuan dari Keripik Tempe! KKM 47 2026 Desa Ngadirejo Lakukan Kunjungan ke Tempat Produksi", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/ariefrahmanhakim2237/695ccbfaed6415546f7086b2/ciptakan-cuan-dari-keripik-tempe-kkm-47-2026-desa-ngadirejo-lakukan-kunjungan-ke-tempat-produksi#google_vignette Kreator: Sattvika Karya
NADILAH DWI CAHYANI
Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi Kerupuk Samiler di Dusun Pohkecik, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kerupuk Samiler yang menjadi ikon kuliner khas Desa Sukolilo ini tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga merupakan sumber mata pencaharian utama bagi puluhan keluarga di dusun tersebut. Kerupuk Samiler: Warisan Kuliner Sejak 1997 Kerupuk Samiler adalah salah satu jenis kerupuk yang dibuat dari bahan baku singkong dengan tambahan bumbu seperti bawang putih, daun bawang, garam, dan penyedap. Bentuknya yang bulat pipih dan cita rasanya yang gurih khas menjadikan kerupuk ini berbeda dari kerupuk singkong pada umumnya. Kerupuk yang menjadi salah satu ciri khas Desa Sukolilo ini mulai diproduksi antara tahun 1997-1998 yang terpusat di Dusun Pohkecik. Dari awal yang sederhana, usaha ini terus berkembang pesat. Rumah produksi yang awalnya hanya berjumlah 3 tempat berkembang menjadi 20 rumah produksi sehingga membuka banyak lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Proses Produksi yang Sederhana namun Menghasilkan Para mahasiswa berkesempatan melihat langsung seluruh tahapan produksi Kerupuk Samiler. Prosesnya dimulai dari pemilihan singkong berkualitas, pengupasan dan pencucian bersih, kemudian pemarutan menggunakan mesin hingga halus. Adonan singkong parut kemudian dibumbui dengan bawang putih yang diulek, garam, penyedap rasa, dan irisan daun bawang untuk menambah aroma khas. Setelah semua bahan tercampur rata, adonan dipipihkan di atas cetakan bulat, lalu dikukus hingga matang dan berubah warna menjadi kecoklatan. Tahap selanjutnya adalah penjemuran di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Kerupuk mentah yang sudah kering siap untuk digoreng atau dijual dalam bentuk mentah. Harga Terjangkau, Keuntungan Menjanjikan Salah satu daya tarik Kerupuk Samiler adalah harganya yang sangat terjangkau. Harga kerupuk Samiler yaitu Rp 5.000 per bungkus (isi 12/sudah matang), untuk yang dijual mentah harganya 1 kg Rp 17.000 (harga bisa berubah tergantung bahan tambahan seperti kurang manis atau asin), tergantung pesenan pembeli. Meskipun dijual dengan harga murah, keuntungan yang diperoleh produsen cukup menjanjikan karena volume penjualan yang tinggi. Salah satu produsen, Bu Winarti, menuturkan: "Mulai damel jam 9 paling sampai jam 3. Bikinnya 1 kwintal lebih, jadinya 30kg sampai 35 kg". Artinya, dalam satu hari produksi dari 100 kg singkong bisa menghasilkan 30-35 kg kerupuk mentah. Modal Kecil, Pasar Luas Yang menarik dari usaha Kerupuk Samiler adalah modalnya yang relatif terjangkau. Bu Roidah (Bu Ida) menjelaskan, ia memilih membuka usaha kerupuk Samiler karena biaya produksi yang lebih murah, selain itu ia menuturkan bahwa singkong sebagai bahan pokok pembuatan kerupuk Samiler juga dapat diutang dari pengepul singkong. Sistem utang bahan baku ini sangat membantu para pengusaha kecil yang modalnya terbatas. Pasar Kerupuk Samiler juga sudah sangat luas. Kerupuk Samiler mulai familiar sekitar tahun 2000-an. Permintaan pembeliannya pun sudah mulai banyak dari tahun ke tahun. Tidak hanya masyarakat sekitar desa, peminat kerupuk ini juga sudah merembet ke berbagai daerah di Jawa Timur dan sekitarnya. Kunci Sukses: Kualitas dan Rasa Khas Salah satu alasan kerupuk ini banyak digemari oleh masyarakat adalah karena harganya yang sangat terjangkau dan rasanya yang khas karena diolah dengan bumbu-bumbu spesial yang alami tanpa tambahan pengawet. Keaslian rasa dan pengolahan tradisional menjadi nilai jual utama yang membedakan Samiler Sukolilo dengan produk serupa dari daerah lain. Bu Winarti yang merupakan produsen generasi kedua menceritakan bahwa usaha kerupuk Samiler sudah menjadi warisan turun temurun. Ia melanjutkan usaha yang dirintis keluarganya dan kini memiliki pelanggan tetap. Loyalitas pelanggan ini menunjukkan kualitas produk yang konsisten dari waktu ke waktu. Pembelajaran dan Rencana Pengembangan Para mahasiswa Kelompok 88 tidak hanya mengamati, tetapi juga ikut membantu beberapa tahapan produksi seperti membentuk adonan, menjemur kerupuk, hingga membantu memperbaiki estetika tempat produksi. Mereka juga berdiskusi dengan para produsen tentang tantangan yang dihadapi, seperti persaingan pasar, fluktuasi harga bahan baku, dan pentingnya diversifikasi produk. "Kami sangat kagum dengan semangat ibu-ibu yang memproduksi Kerupuk Samiler. Dengan modal kecil dan teknologi sederhana, mereka mampu menciptakan produk yang berkualitas dan memiliki pasar luas. Kami berencana membantu dalam hal branding dan promosi digital agar Kerupuk Samiler Sukolilo semakin dikenal," ungkap salah satu anggota Kelompok 88. Beberapa ide program yang muncul antara lain pembuatan konten promosi di media sosial, pendampingan kemasan yang lebih menarik dan higienis, pembuatan label produk yang informatif, dan pengenalan varian rasa baru untuk menarik segmen pasar yang lebih luas. UMKM Berbasis Komunitas yang Berkelanjutan Kerupuk Samiler menjadi sumber penghasilan utama bagi pelaku UMKM yang berada di Dusun Pohkecik, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Meski terbilang usaha kecil, tapi produksi kerupuk Samiler mampu membuka lapangan kerja untuk masyarakat sekitar. Keberhasilan UMKM Kerupuk Samiler di Pohkecik menunjukkan bahwa usaha berbasis komunitas dengan produk lokal yang berkualitas dapat menjadi solusi ekonomi yang berkelanjutan. Dengan dukungan promosi yang lebih baik dan pengemasan yang menarik, potensi pengembangan Kerupuk Samiler masih sangat besar. Kegiatan kunjungan ini merupakan bagian dari program studi potensi ekonomi lokal Kelompok 88 KKM. Melalui pemahaman langsung tentang dinamika UMKM seperti Kerupuk Samiler, mahasiswa diharapkan dapat merumuskan program pendampingan yang tepat sasaran untuk meningkatkan daya saing produk lokal Desa Sukolilo. Program KKM Kelompok 88 di Desa Sukolilo akan berlangsung hingga 4 Februari 2026, dengan harapan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
MOCH. DARUL GUSTI ALIEF
MALANG - Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan kunjungan edukatif ke sentra produksi gula merah di Dusun Napel, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat potensi ekonomi lokal yang telah menjadi warisan budaya turun-temurun di desa tersebut. Kunjungan yang dilaksanakan pada awal Januari 2026 ini disambut hangat oleh para pengusaha gula merah setempat. Para mahasiswa berkesempatan melihat langsung proses produksi gula merah dari hulu hingga hilir, mulai dari penggilingan tebu, pemasakan nira, hingga pengemasan produk akhir. Warisan Budaya yang Terus Berkembang Produksi gula merah di Desa Sukolilo merupakan warisan budaya yang diturunkan secara turun-temurun, menjadikannya lebih dari sekadar mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Dusun Napel menjadi pusat produksi gula merah di Desa Sukolilo dengan kurang lebih 20 rumah produksi yang tersebar di seluruh dusun. Proses Produksi Modern dengan Sentuhan Tradisional Pemilik pabrik menjelaskan bahwa proses pembuatan gula merah meliputi beberapa tahap utama: penggilingan tebu untuk mengekstrak nira, penyaringan untuk membersihkan kotoran, pemasakan menggunakan mesin evaporator hingga mengental, pencetakan, dan pengemasan. Yang menarik, pada awal produksi, penggilingan tebu menggunakan alat dari kayu dan tenaga sapi. Sejak tahun 1982, tenaga sapi mulai digantikan oleh mesin diesel berbahan solar yang kemudian berganti dengan listrik. Transformasi teknologi ini menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan esensi produksi tradisional. Kapasitas Produksi dan Jangkauan Pasar Pemilik pabrik menjelaskan bahwa kapasitas produksi dalam satu hari dapat mencapai satu ton, dengan perbandingan 10 Ton tebu menghasilkan satu ton gula merah. Angka ini menunjukkan bahwa produksi gula merah membutuhkan bahan baku yang sangat besar, menjadikan ketersediaan tebu lokal sebagai faktor krusial. Ekosistem Ekonomi Tebu di Sukolilo Mata pencaharian warga Desa Sukolilo didominasi oleh perkebunan tebu yang sudah dilakukan secara turun-temurun, didukung oleh keberadaan Pabrik Gula Krebet (PG Krebet) di Bululawang. Kondisi ini menciptakan ekosistem ekonomi yang unik di mana petani tebu memiliki dua pilihan pasar: menjual ke PG Krebet untuk diolah menjadi gula pasir, atau menjual ke pengrajin lokal untuk diolah menjadi gula merah. Diversifikasi produk tebu ini memberikan ketahanan ekonomi bagi petani. Ketika harga gula pasir turun, mereka masih bisa mengandalkan pasar gula merah, dan sebaliknya. Sistem ekonomi saling mendukung ini telah berlangsung puluhan tahun dan terbukti berkelanjutan. Tantangan dan Peluang Industri Gula Merah Dalam diskusi dengan mahasiswa, pengusaha gula merah menyampaikan beberapa tantangan yang dihadapi, antara lain fluktuasi harga tebu sebagai bahan baku, persaingan dengan gula merah impor yang lebih murah, dan regenerasi pengrajin muda yang semakin berkurang karena pekerjaan ini dianggap berat dan kurang menjanjikan oleh generasi muda. Namun, peluang tetap terbuka lebar. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan produk alami dan organik membuat gula merah kembali diminati. Industri makanan dan minuman modern juga mulai banyak menggunakan gula merah sebagai pemanis alami. Potensi ekspor ke negara-negara yang menghargai produk organik juga menjadi peluang yang belum sepenuhnya digali. Inspirasi bagi Program Pemberdayaan Para mahasiswa Kelompok 88 melihat kunjungan ini sebagai kesempatan emas untuk memahami dinamika ekonomi desa. "Kami belajar bahwa industri tradisional seperti gula merah punya potensi besar jika dikelola dengan baik. Mungkin kami bisa membantu dalam hal branding, pemasaran digital, atau diversifikasi produk seperti gula semut atau sirup gula merah yang sedang tren," ungkap salah satu anggota tim. Beberapa ide program yang muncul dari kunjungan ini antara lain: pembuatan konten media sosial untuk promosi gula merah Sukolilo, pendampingan pengemasan produk agar lebih menarik, workshop pemasaran online untuk pengrajin muda, dan dokumentasi proses produksi sebagai aset promosi wisata edukasi. Kegiatan kunjungan industri ini merupakan bagian dari program kerja Kelompok 88 KKM dalam bidang studi potensi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami secara mendalam tantangan dan peluang industri lokal, mahasiswa diharapkan dapat merumuskan program-program yang tepat sasaran dan berdampak nyata. Program KKM Kelompok 88 di Desa Sukolilo masih akan berlangsung hingga 4 Februari 2026, dengan harapan dapat memberikan kontribusi berkelanjutan bagi pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa.
FARAH AZIMA ALFAROTIK
Mahasiswa Kelompok 88 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mendapatkan pengalaman berharga dalam budidaya rumput hias bersama warga Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari berturut-turut, pada 27 dan 28 Desember 2024. Pada hari pertama, Jumat (27/12), mahasiswa diajak langsung terjun ke lapangan untuk melakukan panen rumput bersama warga. Kegiatan yang dilakukan secara gotong royong ini memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa tentang teknik panen rumput yang benar. Para mahasiswa tampak antusias mengikuti arahan dari warga setempat yang telah berpengalaman dalam budidaya rumput. Kegiatan dilanjutkan keesokan harinya, Sabtu (28/12), dengan penanaman rumput di lahan yang telah disiapkan. Mahasiswa tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mendalam tentang berbagai jenis rumput dan karakteristiknya dari para petani rumput setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Kelompok 88 KKM dalam bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya memberikan kontribusi tenaga, tetapi juga mendapatkan pembelajaran berharga tentang potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan. Warga Desa Sukolilo menyambut baik keterlibatan aktif mahasiswa dalam kegiatan budidaya rumput. "Kami senang bisa berbagi ilmu dengan mahasiswa. Semoga pengetahuan tentang budidaya rumput ini bisa bermanfaat bagi mereka dan mungkin bisa dikembangkan di tempat lain," ujar salah satu petani rumput setempat...
RAZANAH HAJAR
Desa Putukrejo — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 59 UIN Malang Kelompok Samudrawisesa turut berkontribusi dalam kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang rutin dilaksanakan di Desa Putukrejo. Kegiatan ini dilakukan melalui kerja sama langsung dengan para kader Posyandu sebagai bagian dari upaya mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak di tingkat desa. Posyandu di Desa Putukrejo dilaksanakan secara rutin setiap pekan dengan lokasi yang bergilir di setiap dusun. Pola ini bertujuan agar seluruh masyarakat, khususnya ibu dan balita, dapat mengakses layanan kesehatan secara merata tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKM 59 Samudrawisesa membantu berbagai proses pelayanan, mulai dari pendataan balita, penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, hingga pendampingan orang tua selama proses pemeriksaan berlangsung. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat membantu meringankan tugas para kader sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan Posyandu. Salah satu fokus utama kegiatan Posyandu adalah pencegahan stunting. Melalui pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin, anak-anak yang berisiko atau terindikasi mengalami stunting dapat dideteksi lebih dini. Data tersebut kemudian dicatat sebagai dasar untuk tindak lanjut oleh tenaga kesehatan dan pihak terkait. Selain pencegahan stunting, Posyandu juga menyediakan berbagai layanan kesehatan dasar, seperti pemberian imunisasi, vitamin, serta edukasi gizi kepada orang tua. Layanan ini bertujuan untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan dan perlindungan kesehatan yang optimal sejak usia dini. Kolaborasi antara mahasiswa KKM 59 Samudrawisesa dan kader Posyandu menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat. Para mahasiswa tidak hanya belajar langsung mengenai sistem pelayanan kesehatan di desa, tetapi juga turut berperan aktif dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Kalipare. Melalui keterlibatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Posyandu sebagai sarana pemantauan tumbuh kembang anak semakin meningkat, sehingga upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.