WAHYU PUSPITA SARI
Pada hari Sabtu, 26 April 2025, kegiatan parenting yang diselenggarakan oleh mahasiswa Asistensi Mengajar di TK Muslimat NU 2 Singosari telah sukses terlaksana. Acara ini bertempat di ruang kelas gedung TK Muslimat NU 2 Singosari dan menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ibu Rikza Azharona, M.Pd., dosen PIAUD UIN Malang. Kegiatan dibuka dengan penuh khidmat oleh MC, Zulaicha Robiatus Sufiyah. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala TK Muslimat NU 2 Singosari, Ibu Siti Aisyah, S.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh wali murid yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara parenting ini. Berikutnya, sambutan disampaikan oleh ketua pelaksana, Wahyu Puspita Sari. Ia mengucapkan terima kasih kepada para guru yang telah memberikan dukungan penuh, sehingga acara ini dapat terselenggara dengan lancar. Ia juga menyampaikan rasa syukur dan penghargaan kepada narasumber, Ibu Rikza, yang telah berkenan hadir dan berbagi ilmu dalam kegiatan parenting ini. Memasuki acara inti, sesi pemaparan materi dimoderatori oleh salah satu mahasiswa Asistensi Mengajar, Afa Lilfadilah. Materi yang dibawakan bertema *"Dekat Tanpa Memikat: Mengasuh dengan Hati Bukan dengan Otoriter"*. Dalam pemaparannya, Ibu Rikza menekankan pentingnya perubahan pola asuh zaman sekarang dibandingkan dengan pola asuh tradisional. Beliau mengajak para orang tua untuk membuka pikiran dan memutus "rantai kotor" pola asuh lama, di mana anak-anak sering kali dilarang atau diperintah tanpa penjelasan, bahkan terkadang disertai kekerasan verbal maupun fisik. Sebagai contoh, beliau mengingatkan bagaimana dulu anak-anak diwajibkan tidur tepat pukul satu siang tanpa kompromi, dan jika melanggar, akan mendapat hukuman. Pola semacam itu, menurut beliau, sudah tidak relevan diterapkan pada anak-anak masa kini. Beliau menegaskan bahwa pengasuhan tidak cukup hanya dengan memberikan aturan, tetapi harus disertai dengan cinta, perhatian, dan kebijaksanaan dalam setiap interaksi dengan anak. Orang tua perlu memahami kebutuhan anak, membimbing dengan kesadaran penuh, serta menghadirkan kasih sayang dalam setiap langkah pengasuhan. Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Terdapat dua pertanyaan utama, yaitu dari salah satu wali murid yang mengeluhkan kurangnya kelekatan antara dirinya dengan anak, serta dari perwakilan guru TK Muslimat NU 2 Singosari. Kedua pertanyaan tersebut dijawab dengan lugas dan memuaskan oleh narasumber, sehingga para peserta merasa sangat terbantu dan puas dengan penjelasan yang diberikan. Sebagai penutup, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Adji Nur Andika. Sebelum benar-benar mengakhiri rangkaian kegiatan, dilakukan penyerahan sertifikat penghargaan dari pihak sekolah kepada Ibu Rikza Azharona, M.Pd. Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh wali murid dan panitia, diikuti dengan salam-salaman sebagai bentuk perpisahan yang hangat. Kegiatan parenting ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang pola pengasuhan modern, tetapi juga mempererat hubungan antara pihak sekolah, mahasiswa, wali murid, dan anak-anak, menuju pendidikan yang lebih baik dan penuh kasih. DPL : Shandy Tegariyani Putri, M.Pd Dosen Mata kuliah : Imro'atul Hayyu Erfantinni, M.Pd Anggota Kelompok : 1. Afa Lilfadilah 220105110006 2. Adji Nur Andika 220105110012 3. Syarifatul Khusniyah 220105110017 4. Ade Nur Azizah 220105110042 5. Zulaicha Robiatus Sufiyah 220105110055 6. Wahyu Puspita Sari 220105110067
ZAIDAN AZMI MUHAMMAD
Pada tanggal 19 Maret 2025 kelompok KKM UIN Malang mengadakan kegiatan di KB TK Islam Al-Ikhlas Kota Malang bersama guru pamong dan juga wali kelas disetiap kelas. Kami mengangkat tema ini karena pentingnya basic manner dan commonsense yang harus dimiliki oleh anak umur 4-6 tahun. Basic manner adalah etika dasar yang mencakup perilaku sopan santun dalam berinteraksi dengan orang lain seperti mengucap “tolong”, “terima kasih”, “permisi”, “maaf “ dan “salam”. Basic manner sangat penting ketika hidup dimasyarakat agar kita juga dihargai dimasyarakat. Selain basic manner harapan kita juga mengembangkan commonsense, commonsense menurut Thomas Reid adalah akumulasi pengalaman yang sederhana, menurut Plato commonsense adalah pengetahuan yang merupakan hasil dari presepsi kebanyakan orang. Bisa penulis simpulkan arti dari commonsense adalah sesuatu pengetahuan kehidupan yang seharusya sudah diketahui oleh manusia itu sendiri. Untuk anak commonsense dan basic manner harus dikenalkan sejak umur 4-6 tahun karena aspek perkembangan yang terpenting selain bahasa dan aksara, commonsense dan basic manner juga tidak kalah penting seperti mempunyai perasaan simpati dan empati Anak harus diberitahu sejak awal bagaimana cara mendapatkan attitude yang baik di masyarakat itu seperti apa, dengan ini kelompok kami membuat program kerja saat bulan Ramadhan dengan judul “KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di TK Al-Ikhlas Jalan Raya Langsep Kota Malang dengan tema menumbuhkan rasa empati dan simpati pada anak usia dini”. Peran kita sangat penting dalam pembentukan karakter karena karakter anak dibentuk saat usia golden age. Banyak aspek yang kita bold seperti bagaimana cara berbagi sesame manusia, bagaimana cara mengucapkan terima kasih, memahami perasaan orang yang berada dibawah kita dan bagaimana cara untuk berkomunikasi juga kita senggol dalam kegiatan ini. Pada saat acara berlangsung anak cukup atunsias dalam mengikuti apa kata guru seperti ketika di jalan raya anak anak harus berhati hati karena banyak kendaraan bermotor, ketika kita mengasih orang kita harus senyum dengan Ikhlas dan ketika kita berbagi kita harus menggunakan tangan kanan. Perasaan empati juga tidak lupa kita headline pada saat kegiatan ini dengan memberikan doktrin kata kata seperti memahami perasaan orang lain yang lebih membutuhka, menempatkan diri pada posisi orang lain dan berbagi perasaan mereka dan melibatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang situasi orang lain. Secara kata sederhana simpati seperti “aku kasihan padamu” dan empati seperti “aku juga merasakan apa yang kamu rasakan”.
SYARIFATUL KHUSNIYAH
Pada hari Sabtu, 26 April 2025, kegiatan parenting yang diselenggarakan oleh mahasiswa Asistensi Mengajar di TK Muslimat NU 2 Singosari telah sukses terlaksana. Acara ini bertempat di ruang kelas gedung TK Muslimat NU 2 Singosari dan menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ibu Rikza Azharona, M.Pd., dosen PIAUD UIN Malang. Kegiatan dibuka dengan penuh khidmat oleh MC, Zulaicha Robiatus Sufiyah. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala TK Muslimat NU 2 Singosari, Ibu Siti Aisyah, S.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh wali murid yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara parenting ini. Berikutnya, sambutan disampaikan oleh ketua pelaksana, Wahyu Puspita Sari. Ia mengucapkan terima kasih kepada para guru yang telah memberikan dukungan penuh, sehingga acara ini dapat terselenggara dengan lancar. Ia juga menyampaikan rasa syukur dan penghargaan kepada narasumber, Ibu Rikza, yang telah berkenan hadir dan berbagi ilmu dalam kegiatan parenting ini. Memasuki acara inti, sesi pemaparan materi dimoderatori oleh salah satu mahasiswa Asistensi Mengajar, Afa Lilfadilah. Materi yang dibawakan bertema "Dekat Tanpa Memikat: Mengasuh dengan Hati Bukan dengan Otoriter". Dalam pemaparannya, Ibu Rikza menekankan pentingnya perubahan pola asuh zaman sekarang dibandingkan dengan pola asuh tradisional. Beliau mengajak para orang tua untuk membuka pikiran dan memutus "rantai kotor" pola asuh lama, di mana anak-anak sering kali dilarang atau diperintah tanpa penjelasan, bahkan terkadang disertai kekerasan verbal maupun fisik. Sebagai contoh, beliau mengingatkan bagaimana dulu anak-anak diwajibkan tidur tepat pukul satu siang tanpa kompromi, dan jika melanggar, akan mendapat hukuman. Pola semacam itu, menurut beliau, sudah tidak relevan diterapkan pada anak-anak masa kini. Beliau menegaskan bahwa pengasuhan tidak cukup hanya dengan memberikan aturan, tetapi harus disertai dengan cinta, perhatian, dan kebijaksanaan dalam setiap interaksi dengan anak. Orang tua perlu memahami kebutuhan anak, membimbing dengan kesadaran penuh, serta menghadirkan kasih sayang dalam setiap langkah pengasuhan. Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Terdapat dua pertanyaan utama, yaitu dari salah satu wali murid yang mengeluhkan kurangnya kelekatan antara dirinya dengan anak, serta dari perwakilan guru TK Muslimat NU 2 Singosari. Kedua pertanyaan tersebut dijawab dengan lugas dan memuaskan oleh narasumber, sehingga para peserta merasa sangat terbantu dan puas dengan penjelasan yang diberikan. Sebagai penutup, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Adji Nur Andika. Sebelum benar-benar mengakhiri rangkaian kegiatan, dilakukan penyerahan sertifikat penghargaan dari pihak sekolah kepada Ibu Rikza Azharona, M.Pd. Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh wali murid dan panitia, diikuti dengan salam-salaman sebagai bentuk perpisahan yang hangat. Kegiatan parenting ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang pola pengasuhan modern, tetapi juga mempererat hubungan antara pihak sekolah, mahasiswa, wali murid, dan anak-anak, menuju pendidikan yang lebih baik dan penuh kasih. DPL : Shandy Tegariyani Putri, M.Pd Dosen Mata kuliah : Imro'atul Hayyu Erfantinni, M.Pd Anggota Kelompok : 1. Afa Lilfadilah 220105110006 2. Adji Nur Andika 220105110012 3. Syarifatul Khusniyah 220105110017 4. Ade Nur Azizah 220105110042 5. Zulaicha Robiatus Sufiyah 220105110055 6. Wahyu Puspita Sari 220105110067
AFA LILFADILA
*Kegiatan Parenting : "Dekat Tanpa Memikat, Mengasuh dengan Hati Bukan dengan Otoriter" di TK Muslimat NU 2 Singosari* Pada hari Sabtu, 26 April 2025, kegiatan parenting yang diselenggarakan oleh mahasiswa Asistensi Mengajar di TK Muslimat NU 2 Singosari telah sukses terlaksana. Acara ini bertempat di ruang kelas gedung TK Muslimat NU 2 Singosari dan menghadirkan narasumber istimewa, yaitu Ibu Rikza Azharona, M.Pd., dosen PIAUD UIN Malang. Kegiatan dibuka dengan penuh khidmat oleh MC, Zulaicha Robiatus Sufiyah. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala TK Muslimat NU 2 Singosari, Ibu Siti Aisyah, S.Pd.I. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh wali murid yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara parenting ini. Berikutnya, sambutan disampaikan oleh ketua pelaksana, Wahyu Puspita Sari. Ia mengucapkan terima kasih kepada para guru yang telah memberikan dukungan penuh, sehingga acara ini dapat terselenggara dengan lancar. Ia juga menyampaikan rasa syukur dan penghargaan kepada narasumber, Ibu Rikza, yang telah berkenan hadir dan berbagi ilmu dalam kegiatan parenting ini. Memasuki acara inti, sesi pemaparan materi dimoderatori oleh salah satu mahasiswa Asistensi Mengajar, Afa Lilfadilah. Materi yang dibawakan bertema *"Dekat Tanpa Memikat: Mengasuh dengan Hati Bukan dengan Otoriter"*. Dalam pemaparannya, Ibu Rikza menekankan pentingnya perubahan pola asuh zaman sekarang dibandingkan dengan pola asuh tradisional. Beliau mengajak para orang tua untuk membuka pikiran dan memutus "rantai kotor" pola asuh lama, di mana anak-anak sering kali dilarang atau diperintah tanpa penjelasan, bahkan terkadang disertai kekerasan verbal maupun fisik. Sebagai contoh, beliau mengingatkan bagaimana dulu anak-anak diwajibkan tidur tepat pukul satu siang tanpa kompromi, dan jika melanggar, akan mendapat hukuman. Pola semacam itu, menurut beliau, sudah tidak relevan diterapkan pada anak-anak masa kini. Beliau menegaskan bahwa pengasuhan tidak cukup hanya dengan memberikan aturan, tetapi harus disertai dengan cinta, perhatian, dan kebijaksanaan dalam setiap interaksi dengan anak. Orang tua perlu memahami kebutuhan anak, membimbing dengan kesadaran penuh, serta menghadirkan kasih sayang dalam setiap langkah pengasuhan. Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Terdapat dua pertanyaan utama, yaitu dari salah satu wali murid yang mengeluhkan kurangnya kelekatan antara dirinya dengan anak, serta dari perwakilan guru TK Muslimat NU 2 Singosari. Kedua pertanyaan tersebut dijawab dengan lugas dan memuaskan oleh narasumber, sehingga para peserta merasa sangat terbantu dan puas dengan penjelasan yang diberikan. Sebagai penutup, acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Adji Nur Andika. Sebelum benar-benar mengakhiri rangkaian kegiatan, dilakukan penyerahan sertifikat penghargaan dari pihak sekolah kepada Ibu Rikza Azharona, M.Pd. Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh wali murid dan panitia, diikuti dengan salam-salaman sebagai bentuk perpisahan yang hangat. Kegiatan parenting ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang pola pengasuhan modern, tetapi juga mempererat hubungan antara pihak sekolah, mahasiswa, wali murid, dan anak-anak, menuju pendidikan yang lebih baik dan penuh kasih. DPL : Shandy Tegariyani Putri, M.Pd Dosen Mata kuliah : Imro'atul Hayyu Erfantinni, M.Pd Anggota Kelompok : 1. Afa Lilfadilah 220105110006 2. Adji Nur Andika 220105110012 3. Syarifatul Khusniyah 220105110017 4. Ade Nur Azizah 220105110042 5. Zulaicha Robiatus Sufiyah 220105110055 6. Wahyu Puspita Sari 220105110067
AURA RAFINA MAHARANI
(Arjowinangun),(Kota Malang, 21 Maret 2025)- Kegiatan berbagi takjil bersama anak-anak TPQ Manba'ul Huda. Salah satu program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prodi PIAUD selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada anak-anak. Kami ingin mereka tidak hanya pandai membaca Al-Qur'an, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan peka terhadap lingkungan sekitar. Dalam semangat di bulan suci Ramadhan ini, para anak-anak TPQ Manba'ul Huda mengikuti kegiatan berbagi takjil kepada Masyarakat sekitar dengan antusias. Bertempat di pinggir jalan depan gang TPQ Manba'ul Huda, anak-anak berkumpul dengan penuh semangat dan wajah ceria. Di bawah pengawasan para ustadzah dan kami yang ikut secara langsung mendampingi anak-anak TPQ Manba'ul Huda, mereka dengan tertib membagikan takjil kepada pengguna jalan yang lewat. Ada yang membagikan air mineral, ada yang menyerahkan kolak, dan ada pula yang memberikan paket makanan ringan. Meskipun tangan kecil mereka tampak sibuk, senyum di wajah mereka tidak pernah hilang. Tak hanya anak-anak yang antusias, warga sekitar juga menyambut kegiatan ini dengan hangat. Beberapa pengendara yang menerima takjil terlihat tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ada pula yang sempat menyapa dan memberikan semangat kepada para santri kecil tersebut. Interaksi sederhana ini menjadi jembatan kedekatan antara TPQ dan masyarakat, memperkuat rasa kekeluargaan yang selama ini sudah terjalin. Persiapan takjil sendiri dilakukan secara gotong royong. Orang tua dari murid TPQ Manba'ul Huda juga turut menyumbangkan. Semuanya dilakukan dengan penuh keikhlasan, karena mereka yakin bahwa sekecil apapun amal kebaikan di bulan Ramadhan akan dibalas dengan berlipat ganda oleh Allah SWT. Melalui kegiatan ini, TPQ Manbahul Huda tidak hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur'an, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan akhlak mulia bagi generasi muda islam. Harapannya, anak-anak yang tumbuh dari lingkungan seperti ini akan menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara akademik dan spiritual, tetapi juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistik, kegiatan sederhana seperti berbagi takjil ini menjadi pengingat bahwa kebaikan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dan siapa sangka, dari tangan mungil anak-anak TPQ Manbahul Huda, semangat berbagi itu bisa tumbuh dan menyebar, menebar kehangatan di bulan suci yang penuh berkah ini.
WAHYUDI AKBAR KHOIRULLAH
Pada tanggal 19 Maret 2025 kelompok KKM UIN Malang mengadakan kegiatan di KB TK Islam Al-Ikhlas Kota Malang bersama guru pamong dan juga wali kelas disetiap kelas. Kami mengangkat tema ini karena pentingnya basic manner dan commonsense yang harus dimiliki oleh anak umur 4-6 tahun. Basic manner adalah etika dasar yang mencakup perilaku sopan santun dalam berinteraksi dengan orang lain seperti mengucap “tolong”, “terima kasih”, “permisi”, “maaf “ dan “salam”. Basic manner sangat penting ketika hidup dimasyarakat agar kita juga dihargai dimasyarakat. Selain basic manner harapan kita juga mengembangkan commonsense, commonsense menurut Thomas Reid adalah akumulasi pengalaman yang sederhana, menurut Plato commonsense adalah pengetahuan yang merupakan hasil dari presepsi kebanyakan orang. Bisa penulis simpulkan arti dari commonsense adalah sesuatu pengetahuan kehidupan yang seharusya sudah diketahui oleh manusia itu sendiri. Untuk anak commonsense dan basic manner harus dikenalkan sejak umur 4-6 tahun karena aspek perkembangan yang terpenting selain bahasa dan aksara, commonsense dan basic manner juga tidak kalah penting seperti mempunyai perasaan simpati dan empati Anak harus diberitahu sejak awal bagaimana cara mendapatkan attitude yang baik di masyarakat itu seperti apa, dengan ini kelompok kami membuat program kerja saat bulan Ramadhan dengan judul “KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di TK Al-Ikhlas Jalan Raya Langsep Kota Malang dengan tema menumbuhkan rasa empati dan simpati pada anak usia dini”. Peran kita sangat penting dalam pembentukan karakter karena karakter anak dibentuk saat usia golden age. Banyak aspek yang kita bold seperti bagaimana cara berbagi sesame manusia, bagaimana cara mengucapkan terima kasih, memahami perasaan orang yang berada dibawah kita dan bagaimana cara untuk berkomunikasi juga kita senggol dalam kegiatan ini. Pada saat acara berlangsung anak cukup atunsias dalam mengikuti apa kata guru seperti ketika di jalan raya anak anak harus berhati hati karena banyak kendaraan bermotor, ketika kita mengasih orang kita harus senyum dengan Ikhlas dan ketika kita berbagi kita harus menggunakan tangan kanan. Perasaan empati juga tidak lupa kita headline pada saat kegiatan ini dengan memberikan doktrin kata kata seperti memahami perasaan orang lain yang lebih membutuhka, menempatkan diri pada posisi orang lain dan berbagi perasaan mereka dan melibatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang situasi orang lain. Secara kata sederhana simpati seperti “aku kasihan padamu” dan empati seperti “aku juga merasakan apa yang kamu rasakan”.