JIHAN ALIYAH
Desa Kemiri, Jabung, 11 Januari 2026 — Malam pergantian tahun di Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 045 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merayakan malam tahun baru dengan mengadakan kegiatan bakar-bakar dan makan bersama warga desa pada malam Kamis (31/12/2025). Perayaan malam tahun baru ini dilaksanakan secara sederhana tanpa kemeriahan berlebihan, namun banyak akan makna kebersamaan. Setelah shalat Isya, mahasiswa KKM dan warga mulai berkumpul dan mempersiapkan kegiatan bersama. Mulai dari menata tempat hingga menyiapkan bahan makanan, seluruh proses dilakukan secara bersama, menciptakan suasana akrab dan kekeluargaan. Antusiasme warga terlihat dari partisipasi mereka dalam kegiatan ini. Mahasiswa dan warga saling berbaur saat membakar makanan, berbagi tugas, serta mengobrol santai. Menu sederhana seperti ayam bakar dan aneka Frozen food menjadi hidangan utama yang dinikmati bersama, menggambarkan kesederhanaan namun penuh kehangatan. Kebersamaan semakin terasa saat teman-teman dan warga duduk bersama untuk memakan hidangan yang telah disiapkan. Obrolan ringan mengenai kehidupan desa, pengalaman yang di jalani sebagai seorang mahasiswa/i, hingga harapan di tahun yang baru mengalir dengan hangat. Anak-anak, hingga orang tua turut hadir, menjadikan momen ini sebagai ruang obrolan antar generasi yang mempererat hubungan sosial. Kegiatan malam tahun baru ini juga menjadi sarana refleksi bagi mahasiswa KKM 045 dalam menjalankan pengabdian di Desa Kemiri. Kebersamaan yang terbangun melalui obrolan sederhana memberikan pemahaman bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya sebatas menjalankan program kerja, tetapi juga membangun hubungan sosial yang harmonis dan saling menghargai. Selain itu, kegiatan bakar-bakar bersama ini mampu menciptakan ruang komunikasi yang lebih terbuka antara mahasiswa dan warga. Dalam suasana santai, berbagai masukan, cerita, dan pengalaman warga dibagikan secara langsung. Hal tersebut menjadi bekal berharga bagi mahasiswa untuk lebih memahami karakter, kebutuhan, serta potensi masyarakat Desa Kemiri selama pelaksanaan KKM. Melalui perayaan yang sederhana namun penuh makna ini, mahasiswa KKM 045 berharap nilai kebersamaan dan gotong royong yang telah terjalin dapat terus terjaga. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan keikhlasan, serta menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang berkelanjutan antara mahasiswa dan warga Desa Kemiri.
MUHAMMAD KHAIRIL
Desa Pakiskembar, yang terletak di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, mungkin tampak seperti pedesaan pada umumnya di Jawa Timur. Namun dibalik desa yang asri tersebut terdapat industri kecil (home industry) di dusun Jambon desa pakiskembar yaitu pembuatan tusuk sate, yang telah memasok kebutuhan lokal hingga merambah ke luar kota. Industri ini bukan sekedar usaha sampingan, melainkan urat nadi ekonomi yang menghidupkan ratusan kepala keluarga di sana. Pak Yeto pengusaha tusuk sate di Pakiskembar yang memulai usahanya sejak tujuh tahun lalu. Awalnya, pembuatan tusuk sate dilakukan secara manual dengan alat seadanya, namun seiring berjalannya waktu pak Yeto mulai beralih ke mekanisasi dan mengimpor alat dari Thailand sehingga dapat membantu mempermudah pekerja dalam bekerja. Dengan banyaknya permintaan pasar terutama dari pedagang sate ayam, sate kambing, hingga jajanan kekinian seperti froozen food dan cilok. Pak Yeto berinisiatif untuk membuat mesin sendiri dengan mempertimbangkan pengeluaran anggaran dalam pembelian mesin poles impor dengan membuat mesin poles sendiri. Keberhasilan tusuk sate pak yeto terletak pada keuletannya dalam mempromosikan tusuk sate miliknya dan tidak luput dengan pemilihan bahan baku serta ketelitian prosesnya. Industri tusuk sate ini menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusf. Tidak hanya pemilik usaha yang diuntungkan, tetapi juga warga sekitar melalui sistem padat karya. Banyak ibu rumah tangga di dusun jambon yang mengisi waktu luan mereka dengan membantu proses penyortiran dan pengemasan. Pekerjaan ini memungkinkan mreka tetap berada di rumah sambil mendapatkan penghasila tambahan untuk membantu biaya sekolah anak atau kebutuhan dapur. Industri ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah desa mampu mandirisecara ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya alam dan kreativitas. Meskipun terlihat sederhana, tusuk sate adalah komponen penting dalam kuliner Indonesia yang tak lekang oleh waktu. (Redaksi Sadyacara kel.80 KKM UIN Malang)
NIKI NURUS SAFINA
Polowijen, 1 Januari 2026 — Suasana malam pergantian tahun di Kelurahan Polowijen terasa hangat dan penuh kebersamaan. Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 1 merayakan malam tahun baru bersama warga dan sebagian remaja masjid melalui kegiatan bakar-bakar dan makan bersama yang digelar pada Rabu malam (31/12). Acara ini menjadi momen silaturahmi yang mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat di tengah pelaksanaan program KKM. Kegiatan dimulai setelah jama'ah salat Isya di masjid dengan persiapan bersama, mulai dari menata lokasi hingga menyiapkan bahan makanan. Warga, pelajar, dan remaja masjid saling berbagi tugas, menciptakan suasana gotong royong yang akrab. Berbagai hidangan sederhana seperti ayam, ikan bakar, jagung panggang, dan minuman hangat diolah bersama hingga siap dinikmati. Kehadiran siswa dalam setiap proses persiapan membuat warga merasa lebih dekat, keterlibatan remaja masjid menambah semarak kegiatan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah kebersamaan dan interaksi sosial, tetapi juga memperkuat hubungan antara mahasiswa, warga, dan pemuda setempat. Obrolan santai mengenai kegiatan KKM, kondisi kampung, serta rencana aktivitas ke depan yang mengalir sepanjang malam, menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat juga berkaitan dengan membangun kedekatan yang tulus. Anak-anak membantu dalam proses pembakaran menu makanan di bawah pengawasan orang tua, sementara warga dewasa dan siswa duduk melingkar sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan bersama. Amerika Serikat seluruh sajian masjid matang, pelajar, warga, dan remaja berkumpul dalam satu lingkaran untuk menyantap masakan hasil kerja sama mereka. Aroma bakaran yang menggugah selera menambah hangatnya suasana, diiringi tawa dan obrolan ringan. Saling menawarkan makanan, berbagi piring, hingga menambah hidangan tanpa ragu, menjadi bukti bahwa kebersamaan tidak hanya tercipta dari proses mempersiapkan acara, tetapi juga dari menikmati hasilnya secara bersama-sama. Momen sederhana ini menampilkan kedekatan tanpa sekat, ketika pelajar dan masyarakat duduk sejajar sebagai satu keluarga besar. Malam tahun baru tersebut menegaskan bahwa keberadaan KKM UIN Malang Kelompok 1 bukan hanya sebagai pelaksana program kerja, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial masyarakat Polowijen. Melalui kegiatan sederhana seperti makan bersama, kebersamaan antara pelajar, remaja masjid, dan warga semakin terjalin erat. Harapannya, kedekatan ini terus terjaga hingga program KKM berakhir dan menjadi kenangan berharga bagi semua pihak yang terlibat.
FAJRYAN SYAHPUTRA
Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 84 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang berlangsung khidmat di Aula Kelurahan Dampit, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Rabu (24/12/2025) pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa UIN Malang kepada masyarakat selama kurang lebih 40 hari ke depan. Acara pembukaan tersebut diresmikan secara langsung oleh Camat Dampit, Abai Saleh. Turut hadir dalam kegiatan ini Kapolsek Dampit, Taufik, Kepala Kelurahan Dampit Bapak Adi Surasa beserta jajaran perangkat kelurahan, Ibu Hening Marhaeni selaku Bidan di Puskesmas Dampit, tokoh masyarakat, serta 15 mahasiswa yang tergabung dalam KKM Kelompok 84. Kehadiran unsur pemerintah kecamatan, kepolisian, dan kelurahan mencerminkan dukungan penuh terhadap pelaksanaan KKM sebagai bagian dari sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Dalam sambutannya, Camat Dampit, Abai Saleh, menekankan pentingnya KKM sebagai sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa. Ia mengajak mahasiswa untuk menjadikan masyarakat sebagai ruang belajar nyata yang kaya akan pengalaman dan pengetahuan praktis. "Belajar, belajar, dan terus belajar. Tambahi ilmu di lapangan," ujarnya. Menurutnya, KKM tidak hanya sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan juga menjadi proses pembentukan karakter, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral mahasiswa sebagai calon intelektual dan pemimpin masa depan. Ia berharap mahasiswa mampu mengaplikasikan teori dan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam bentuk program-program yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kelurahan Dampit. Sementara itu, Kapolsek Dampit, Taufik, dalam arahannya mengingatkan mahasiswa agar senantiasa memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban selama melaksanakan KKM. Ia secara khusus menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap keamanan kendaraan pribadi. "Bagi yang membawa sepeda motor, kunci gembok itu penting. Dipasang dan dicakram untuk menghindari tindak pidana pencurian kendaraan bermotor," tegasnya. Ia juga mengimbau mahasiswa untuk menjaga perilaku, menaati aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat, serta menjalin komunikasi yang baik dengan aparat keamanan setempat apabila menghadapi kendala selama kegiatan KKM berlangsung. Melalui pelaksanaan KKM ini, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan mampu berkontribusi aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, pendidikan, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, KKM diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat, sehingga kehadiran mahasiswa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga Kecamatan Dampit. Dengan semangat pengabdian dan kolaborasi, KKM Kelompok 84 UIN Malang diharapkan dapat menjalankan seluruh rangkaian program kerja secara optimal, beretika, dan berkelanjutan, serta meninggalkan kesan positif selama masa pengabdian di Kelurahan Dampit.
MIFTACHUL JANNAH
Observasi yang dilakukan mahasiswa KKM 85 MITSEVA terhadap TPQ Baiturrahman, Desa Pojok, Kecamatan Dampit, mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga. Observasi ini kami lakukan sebagai bagian dari persiapan program kerja KKM yang berkaitan dengan pengajaran TPQ. Harapannya sederhana, yakni untuk memahami kondisi lembaga agar program yang dirancang tidak sekadar masuk, tetapi juga benar-benar relevan. Namun, sejak awal kami justru dihadapkan pada satu sikap yang cukup mengejutkan, yang mana Pak Khosim selaku ketua TPQ tahun sebelumnya tidak serta-merta mengizinkan kami masuk ke pengajaran inti. Dalam perbincangan langsung dengan ketua TPQ, beliau menyampaikan alasannya dengan sangat terbuka “Kami punya metode sendiri dalam mengajar. Bukan karena tidak percaya, tapi kami tidak ingin anak-anak bingung dengan sistem pembelajaran yang berbeda,” begitu tuturnya. Kalimat itu menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa bagi TPQ Baiturrahman, konsistensi sistem jauh lebih penting daripada sekadar menambah tenaga pengajar. TPQ Baiturrahman secara khusus memfokuskan pembelajarannya pada anak usia di bawah lima tahun. Fokus utama mereka adalah bimbingan membaca Al Quran, sebuah fase awal yang sangat krusial dalam pembentukan kebiasaan dan karakter belajar anak. Menariknya, di sela pembelajaran Al Quran, terdapat PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang berfungsi sebagai pendidikan formal dasar. Di sini anak-anak mulai dikenalkan dengan keterampilan dasar, yakni pengenalan simbol-simbol awal seperti huruf abjad dan angka. Tidak hanya itu, pembelajaran juga diselingi dengan aktivitas kreatif seperti menggambar, menempel, dan kegiatan khas anak TK lainnya. Sederhananya, TPQ Baiturrahman menganut sistem TPQ yang diselipkan pendidikan formal, sehingga anak-anak memiliki bekal yang cukup matang ketika kelak memasuki jenjang Sekolah Dasar. Meskipun kami tidak diizinkan masuk ke pengajaran inti, tetapi Pak Khosim masih mempersilakan kami dengan terlibat langsung pada ruang PKBM yang berlangsung selama 30 menit. Alasannya jelas, kehadiran mahasiswa tidak akan mengganggu sistem utama TPQ, bahkan dapat memperkaya wawasan dan pengalaman belajar bagi anak-anak. Sekilas, sistem yang diterapkan TPQ Baiturrahman memang terkesan cukup ketat, bahkan bisa dianggap otoriter. Namun, dari hasil observasi kami, ketegasan itu lahir dari pemahaman mendalam terhadap dunia anak-anak. Ketua TPQ sangat memahami bahwa anak usia di bawah lima tahun berada pada fase eksplorasi aktif. Mereka tidak bisa dipaksa dengan perintah kaku seperti “sekarang baca ini” atau “lakukan itu”. Karena itu, TPQ ini memilih metode behavior, yakni pembiasaan melalui pendengaran dan peniruan. Dalam praktiknya, guru tidak banyak memberikan penjelasan teoritis. Materi atau lafaz yang dipelajari akan dibacakan oleh guru dengan suara lantang selama beberapa menit. Anak-anak kemudian diberi instruksi untuk mengikuti. Proses ini dilakukan secara konsisten. Setelah sesi membaca, guru akan mengajukan pertanyaan. Jika seorang anak belum bisa menjawab, pertanyaan dialihkan ke anak lain. Ketika anak kedua mampu menjawab, anak pertama kembali ditanya pertanyaan yang sama. “Namanya juga anak kecil,” ujar ketua TPQ. “Meniru itu lumrah. Yang penting, ke depannya mereka akan paham.” Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa belajar bagi anak-anak tidak harus selalu dimulai dari pemahaman instan, tetapi dari kebiasaan yang terus diulang. TPQ Baiturrahman sangat berpegang teguh pada kedisiplinan. Mereka memiliki target pembelajaran yang jelas. Ketika target tersebut tidak tercapai, evaluasi dilakukan secara serius. Dalam salah satu evaluasi, ditemukan bahwa kendala justru berasal dari guru yang sering terlambat masuk kelas. Dari hasil evaluasi itu, ketua TPQ langsung mengambil keputusan tegas: guru yang terlambat satu menit saja akan diminta pulang. Keputusan ini mungkin terdengar keras, tetapi bagi TPQ Baiturrahman, keterlambatan sekecil apa pun dapat merusak sistem yang sudah dibangun. Prinsip efektivitas ini juga terlihat dari kebijakan lain yang cukup unik: buku PKBM tidak diberikan kepada wali murid. Tujuannya untuk menghindari benturan metode pembelajaran antara lembaga dan orang tua di rumah. Menurut ketua TPQ, jika anak masih harus belajar ulang materi yang sama di rumah atau mengikuti les tambahan, maka lembaga tersebut belum berhasil mendidik secara efektif. “Kalau anak sudah disekolahkan tapi masih belajar hal yang sama di rumah, berarti lembaga itu gagal. Karena, yang namanya lembaga itukan hadir untuk membantu anak paham, bukannya malah membingungkan, apalagi ini anak-anak kecil yang rata-rata masih berumur tiga tahun, mereka itu masih pada fase bebas berekspresi,” tegasnya. Dari hasil observasi langsung, sistem yang diterapkan TPQ Baiturrahman menunjukkan hasil yang cukup mencengangkan. Kami menyaksikan sendiri anak-anak dengan usia yang sangat belia sudah mampu membaca ayat-ayat Al Quran dengan lancar. Memang, dari sisi tajwid serta panjang-pendek bacaan masih perlu penyempurnaan. Namun, untuk anak seusia itu, capaian tersebut sudah tergolong sangat baik jika dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka di tempat lain. Di titik ini, kami menyadari bahwa ketegasan yang diterapkan bukanlah bentuk kekangan, melainkan strategi mendidik yang sadar akan tujuan. Observasi di TPQ Baiturrahman mengajarkan kami bahwa dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini, niat baik harus berjalan beriringan dengan pemahaman sistem. Tidak semua ruang harus dimasuki, dan tidak semua metode perlu diganti. Terkadang, menjaga sistem yang sudah berjalan dengan baik justru menjadi bentuk kepedulian tertinggi terhadap tumbuh kembang anak. Dan dari TPQ Baiturrahman, kami belajar bahwa kedisiplinan jika diterapkan dengan pemahaman dan konsistensi akan dapat menjadi fondasi kuat bagi masa depan anak-anak.