LAILI FITRIYAH MASYITHAH
Kuala Lumpur, Malaysia — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang tengah menjalankan program internasional di Kuala Lumpur menunjukkan kiprah akademik kelas global. Mereka mengikuti kunjungan akademik dan diskusi strategis bersama Affin Islamic Bank Berhad guna memperdalam pemahaman tentang praktik dan perkembangan Islamic banking di Indonesia dan Malaysia. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (14/1/2026). Rombongan mahasiswa KKM UIN Malang disambut langsung oleh Ustadzah Liyana yang kemudian mengarahkan peserta menuju ruang pertemuan utama. Kegiatan ini menjadi ajang pertukaran gagasan lintas negara melalui presentasi dan dialog mendalam seputar sistem perbankan syariah. Sesi pemaparan utama disampaikan oleh Mohamad Fakhruddin Abdul Razak, Kepala Departemen Syariah Affin Islamic Bank Berhad. Dalam paparannya, ia menjelaskan secara komprehensif penerapan perbankan syariah di Malaysia, mulai dari kerangka regulasi, tata kelola syariah, hingga inovasi produk yang terus dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman. Menurut Mohamad Fakhruddin Abdul Razak, perkembangan Islamic banking di kawasan Asia Tenggara menunjukkan potensi besar untuk terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap sistem keuangan berbasis nilai dan keadilan. Ia menegaskan bahwa kolaborasi akademik lintas negara memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul di bidang ekonomi syariah. “Diskusi seperti ini sangat strategis karena mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami praktik nyata perbankan syariah yang diterapkan di berbagai negara. Indonesia dan Malaysia memiliki kekuatan masing-masing yang dapat saling melengkapi dalam pengembangan Islamic banking di masa depan,” ujarnya. Sementara itu, mahasiswa KKM UIN Malang mempresentasikan perkembangan Islamic banking di Indonesia. Materi yang disampaikan meliputi prinsip dasar perbankan syariah, ragam produk keuangan syariah, serta peran strategis bank syariah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Mahasiswa dan pihak Affin Islamic Bank Berhad saling bertukar pandangan mengenai persamaan dan perbedaan praktik perbankan syariah di kedua negara, tantangan global yang dihadapi industri keuangan syariah, hingga peluang kolaborasi dan pengembangan Islamic banking di masa depan. Keberagaman latar belakang pendidikan mahasiswa turut memperkaya jalannya diskusi dengan perspektif lintas disiplin. Kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga memberikan pengalaman nyata tentang peran Islamic banking sebagai bagian penting dari sistem sosial dan ekonomi global. Melalui kunjungan akademik ini, mahasiswa KKM UIN Malang diharapkan mampu membawa pulang pengetahuan dan perspektif internasional yang akan memperkuat kontribusi mereka dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
LINA ZULFA ALMAIDA
Kampung Zakat Terpadu yang berada di Dusun Paceh, Desa Jambearum, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, kembali menggelar agenda tahunan dalam rangka peringatan hari lahir ke-VIII Tahun 1447 H atau 2026 M. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, mulai Jumat, 31 Januari hingga Minggu, 1 Februari 2026. Rangkaian acara mencakup wisuda santri, khataman Al-Qur'an, berbagai perlombaan edukatif, hingga aksi sosial berbasis zakat, infak, dan sedekah. Kegiatan harlah menjadi momentum penting bagi Kampung Zakat Terpadu untuk merefleksikan peran zakat tidak hanya sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan pendidikan dan sosial masyarakat. Selama tiga hari, suasana Dusun Paceh tampak lebih hidup dengan kehadiran santri, wali santri, tokoh agama, tokoh masyarakat, relawan zakat, serta mahasiswa yang terlibat dalam pendampingan kegiatan. Hari pertama kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang menandai dimulainya seluruh rangkaian acara. Pembukaan ini menjadi titik temu antara panitia, masyarakat, dan para santri untuk menyamakan semangat dan tujuan kegiatan. Setelah pembukaan, panitia langsung menggelar berbagai lomba yang dirancang sesuai dengan kemampuan santri dan tingkatan jilid yang tersedia di TPQ Darul Qur'an Al-Ibrahimy. Lomba mewarnai diperuntukkan bagi santri TK A sebagai sarana melatih motorik dan kreativitas. Lomba bilal, hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati Al-Qur'an, serta baca kitab menjadi bagian utama yang menekankan aspek penguasaan dasar-dasar keagamaan diperuntukkan bagi santri jilid 1-6 dan madin. Pada hari pertama, kegiatan yang dilaksanakan berupa santunan dan pentasyarufan ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) kepada masyarakat yang berhak menerima (anak yatim, lansia, dan kaum dhuafa). Penyaluran zakat, infak, dan sedekah dilakukan secara langsung dan terbuka, dengan harapan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik serta memperkuat rasa kebersamaan antara pengelola zakat dan masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa zakat tidak berhenti pada pengumpulan dana, tetapi harus hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat. Hari kedua, kegiatan difokuskan pada penguatan hafalan, pemahaman, dan keterampilan santri. Lomba hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa harian, tartil dan tilawati, serta baca kitab dilanjutkan untuk memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh peserta. Selain itu, panitia menambah variasi lomba yang bersifat edukatif dan kolaboratif. Lomba merangkai kalimat dan huruf dirancang untuk melatih kemampuan dasar literasi santri. Lomba muadzin melatih keberanian dan ketepatan dalam melafalkan adzan. Hafalan nadlom Aqidatul Awam menjadi sarana penguatan akidah melalui tradisi keilmuan pesantren. Panitia juga menggelar lomba lagu belajar atau nasyid yang bertujuan menumbuhkan minat belajar melalui media seni. Hafalan surat-surat pendek dan ayat pilihan menjadi bagian dari upaya membiasakan santri dekat dengan Al-Qur'an sejak dini. Lomba cerdas cermat menutup rangkaian hari kedua dengan suasana kompetitif yang sehat, mendorong santri untuk berpikir cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan seputar pengetahuan agama dan umum. Hari ketiga menjadi puncak seluruh rangkaian kegiatan. Acara diawali dengan pengajian atau majlisul ilmi yang diikuti oleh santri dan masyarakat sekitar. Pengajian ini menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai keislaman, sekaligus pengingat bahwa proses belajar tidak berhenti pada perlombaan dan seremoni. Setelah pengajian, dilaksanakan muwadda'ah atau perpisahan dengan guru tugas dari Pondok Pesantren Sidogiri serta mahasiswa KKM 168 Eskalasi Abhipraya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tahun 2025--2026 yang telah mendampingi kegiatan pendidikan dan sosial di Kampung Zakat Terpadu. Prosesi kirab santri menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Santri berjalan menyusuri kampung zakat dengan membawa obor secara bersama-sama dengan diiringi marching band sebagai simbol perjalanan belajar yang telah mereka tempuh. Kirab ini dilanjutkan dengan prosesi wisuda santri dan khataman Al-Qur'an. Wisuda tidak dimaknai sebagai akhir proses belajar, tetapi sebagai penanda capaian dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba menjadi bentuk apresiasi atas usaha dan kerja keras santri selama mengikuti kegiatan. Rangkaian kegiatan harlah ditutup secara resmi oleh panitia. Penutupan ini menjadi penanda berakhirnya kegiatan, sekaligus awal dari komitmen baru untuk terus mengembangkan Kampung Zakat Terpadu sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan berjalan dengan tertib dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Harlah ke-VIII Kampung Zakat Terpadu menunjukkan bahwa pengelolaan zakat dapat berjalan seiring dengan penguatan pendidikan keagamaan. Kampung Zakat Terpadu tidak hanya berfungsi sebagai tempat distribusi dana zakat, tetapi juga sebagai ruang pembinaan santri dan penguatan nilai sosial. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana zakat, pendidikan, dan partisipasi masyarakat dapat saling terhubung dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara pengelola zakat, pesantren, perguruan tinggi, dan masyarakat desa Kampung Zakat Terpadu di Dusun Paceh berupaya membangun model pemberdayaan yang berakar pada kebutuhan lokal. Kegiatan harlah menjadi bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia dapat dimulai dari desa dengan pendekatan yang sederhana, terencana, dan berbasis nilai keislaman.
ZAKIYYAH FAIZAHTUL FAZAHRO`
Mahasiswa KKM Kelompok 30 Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan seminar bertema stunting dan parenting di Balai Desa Karanganyar, Poncokusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026 yang dihadiri para kader posyandu dari seluruh pos posyandu di wilayah Desa Karanganyar. Mereka menjadi sasaran utama program karena memiliki peran strategis dalam edukasi kesehatan masyarakat. Mahasiswa KKM 30 berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman kader tentang pencegahan stunting dan pola asuh yang tepat. Selain itu, seminar ini dirancang untuk mendorong kolaborasi aktif antara akademisi dan masyarakat desa. Materi pertama seminar menghadirkan Ibu Inu Martina S.ST., M.Si, dosen keperawatan dari Universitas Kepanjen sebagai pemateri bidang kesehatan stunting. Beliau menyampaikan pentingnya memperhatikan asupan gizi sejak kehamilan hingga usia lima tahun. Para kader posyandu diajak memahami tanda-tanda risiko stunting agar dapat melakukan deteksi dini. Materi disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kehadiran narasumber ahli ini semakin memperkuat keyakinan kader pada pentingnya penanganan masalah stunting. Dalam pemaparannya, Ibu Inu Martina menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Kondisi ini dapat berdampak pada kemampuan belajar anak dan perkembangan kecerdasan di masa depan. Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan makan yang sehat dan terpantau. Posyandu diharapkan menjadi sarana utama memantau tumbuh kembang balita secara berkala. Penjelasan mendalam ini membuka wawasan baru bagi para kader yang hadir. Narasumber juga menyoroti peran ibu hamil sebagai sasaran penting edukasi posyandu. Menurutnya, status gizi calon ibu sangat menentukan kualitas pertumbuhan janin. Asupan nutrisi yang kurang dapat memicu risiko bayi lahir dengan kondisi rentan stunting. Karena itu, kader diharapkan aktif memberikan penyuluhan pada masyarakat, terutama melalui pemeriksaan rutin. Penguatan peran posyandu menjadi kunci dalam pencegahan dini stunting di desa. Selain materi stunting, seminar menghadirkan Dr. Hj. Rofiqoh, M.Pd., CHt, dosen Psikologi UIN Malang sebagai pemateri parenting. Beliau menjelaskan bahwa pola asuh yang tepat sangat berpengaruh pada perkembangan emosi dan mental anak. Parenting tidak hanya terkait kebutuhan fisik, tetapi juga melibatkan perhatian, komunikasi, dan kedekatan emosional. Dr. Rofiqoh memberikan contoh-contoh nyata tantangan pola asuh di lingkungan pedesaan. Materi disampaikan secara inspiratif dan interaktif agar mudah diikuti peserta. Dr. Rofiqoh mengajak kader memahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Anak yang mendapatkan pendampingan penuh sejak dini cenderung memiliki daya saing lebih tinggi ketika dewasa. Beliau juga menyoroti pentingnya mengurangi pola asuh keras dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih humanis. Parenting yang baik turut mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Peserta terlihat antusias menyimak materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam sesi diskusi, para kader posyandu aktif berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Mereka menanyakan berbagai kondisi berbeda yang kerap terjadi pada balita dan keluarga binaan. Narasumber menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan memberikan panduan yang aplikatif. Suasana seminar menjadi sangat hidup karena interaksi dua arah berlangsung intensif. Mahasiswa KKM 30 turut mendampingi proses diskusi dan mencatat poin penting yang muncul. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari aparat pemerintah desa yang hadir. Kepala desa menyampaikan bahwa edukasi kesehatan seperti ini sangat dibutuhkan masyarakat Karanganyar. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan serentak oleh semua elemen desa. Kehadiran narasumber profesional dan mahasiswa dianggap mampu memperluas wawasan kader. Pemerintah desa berharap kegiatan serupa dapat dilanjutkan di masa mendatang. Para mahasiswa KKM 30 mengaku bangga bisa berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Mereka memandang kegiatan ini sebagai bentuk penerapan ilmu di dunia nyata melalui pengabdian. Mahasiswa berharap kader posyandu dapat menjadi agen perubahan yang aktif di desa. Mereka juga berencana mendampingi kader secara berkelanjutan selama masa pengabdian. Program ini menjadi bagian dari komitmen mahasiswa mendukung perbaikan kualitas hidup masyarakat. Seminar ditutup dengan penyerahan sertifikat dan foto bersama seluruh peserta dan narasumber. Mahasiswa memberikan modul rangkuman materi agar kader dapat mengulangi dan menyebarkan informasi kepada warga. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menciptakan Karanganyar bebas stunting. Sinergi mahasiswa, dosen ahli, kader posyandu, dan pemerintah desa menjadi kekuatan utama dalam perubahan ini. Dengan pengetahuan baru, kader semakin siap menjadi garda terdepan menjaga tumbuh kembang generasi muda desa.
MUHAMMAD ROYHAN MUSTOFA
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang telah melaksanakan program konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang. Program kerja ini menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan psikologi secara langsung di lingkungan pesantren. Mahasiswa KKM berupaya menghadirkan layanan konseling sebaya yang menjadi ruang aman dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita. Program konseling sebaya sendiri merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh siswa sebagai konselor sebaya. Layanan ini memberikan kesempatan kepada para santri untuk berbagai cerita, keluh kesah, dan permasalahan pribadi lainnya secara terbuka. Mahasiswa KKM sebagai konselor berusaha memberikan ruang aman bagi para santri (klien) tanpa menghakimi selama proses konseling berlangsung. Hal ini sebagai upaya agar santri merasa aman, nyaman, dan merasa bahwa mereka paham. Pelaksanaan konseling sebaya mendapat respon positif dari para santri. Hal ini terlihat dari antusiasme minat tinggi santri untuk mengakses layanan konseling sebaik-baiknya. Banyak santri yang secara sukarela mengikuti sesi konseling dan berusaha terbuka saat berbagi cerita dan permasalahan. Hal ini menunjukkan bahwa program konseling sebaya mampu menjawab kebutuhan santri akan ruang untuk mereka berbagi cerita. Latar belakang dilakukan konseling sebaya Program konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri untuk memperoleh dukungan emosional dalam berbagi cerita atau permasalahan. Santri seringkali menghadapi berbagai tekanan, baik tekanan akademik, sosial, maupun pribadi, namun mereka tidak selalu memiliki tempat yang mampu untuk mengekspresikan perasaan dan kesusahan yang dialami. Selain itu, latar belakang pelaksanaan konseling sebaya juga diperkuat oleh hasil program kerja sebelumnya, yaitu Sharing Session. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri yang mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan selanjutnya, perkuliahan, pilihan karir, serta permasalahan pertemanan. Temuan ini menunjukkan adanya urgensi untuk menghadirkan layanan pendampingan yang pada hal ini telah merealisasikan mahasiswa KKM dalam bentuk konseling sebaya. Teknis pelaksanaan konseling sebaya Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yakni mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Program ini dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi tersebut dilakukan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling. Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Jadwal konseling untuk santri putra diadakan pada pukul 21.00 - 23.00, sedangkan untuk santri putri diadakan pada pukul 20.00 - 22.00. Setiap jadwal konseling dilayani oleh tiga konselor, baik untuk santri putra maupun santri putri.
STELLA EGA PANGGALIH
Permasalahan sampah masih menjadi isu utama di berbagai wilayah pedesaan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Tim KKM Unggulan Fakultatif 249 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ke beberapa dusun di Desa Ngenep, sebagian besar masyarakat menyampaikan keluhan terkait penumpukan sampah rumah tangga, khususnya sampah organik. Sampah yang tidak terkelola dengan baik menimbulkan bau tidak sedap serta mengundang lalat, sehingga mengganggu kenyamanan lingkungan. Dalam proses pengkajian permasalahan tersebut, Tim KKM didampingi oleh Kelompok Tani Integrated Farming untuk mencari solusi yang tepat dan aplikatif. Dari hasil kajian tersebut, ditemukan sebuah inovasi pengelolaan sampah organik rumah tangga berupa KOPER SAKTI. Melalui pengelolaan ini, volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dapat berkurang hingga sekitar 30%. KOPER SAKTI merupakan singkatan dari Kotak Komposter Sampah Aktif Kelola Terintegrasi, yaitu sebuah kotak sederhana yang digunakan untuk mengolah sampah dapur menjadi pupuk kompos. Inovasi ini dipilih karena bahan pembuatannya mudah diperoleh dari lingkungan sekitar, tidak menimbulkan bau apabila digunakan dengan benar, serta hasil akhirnya sangat bermanfaat karena dapat langsung dimanfaatkan sebagai kompos dan media tanam. Tujuan utama dari kegiatan penyuluhan KOPER SAKTI adalah untuk mengedukasi masyarakat Desa Ngenep agar dapat mengurangi ketergantungan pada truk pengangkut sampah. Selama ini, pengangkutan sampah hanya dilakukan satu hingga dua kali seminggu, sehingga apabila sampah dibiarkan terlalu lama akan menimbulkan bau dan penumpukan. Dengan KOPER SAKTI, sampah organik dapat dikelola langsung dari rumah. Bahan pembuatan KOPER SAKTI terdiri dari bahan rangka dan bahan isian. Rangka KOPER SAKTI dibuat dari gedeg (anyaman bambu) yang diperkuat dengan kayu penjepit, kawat, dan paku, serta menggunakan alat bantu seperti tang dan sekop. Sementara bahan isian meliputi ranting, sekam, kohe (kotoran hewan), starter (air rebusan kentang, humus bambu, dan molase), sampah organik seperti sisa sayur dan kulit buah, tanah, daun kering, serta plastik atau karung bekas pakan kucing sebagai penutup. Proses pembuatannya diawali dengan membuat gedeg berukuran panjang 1 meter dan lebar 50 cm, kemudian dicat menggunakan cat minyak agar lebih awet. Bagian rangka diperkuat menggunakan kawat atau paku agar kokoh. KOPER SAKTI kemudian diletakkan langsung di atas tanah tanpa alas seperti paving atau lantai. Setelah itu, bahan komposter disusun secara berlapis, dimulai dari ranting dan sekam, kohe, starter, sampah organik, tanah, daun kering, dan terakhir ditutup menggunakan plastik. Dalam penggunaannya, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses pengomposan berjalan optimal, seperti suhu, kelembapan, keseimbangan antara bahan organik dan bahan kering, sirkulasi udara, serta sistem pelapisan bahan. Selain itu, lokasi KOPER SAKTI sebaiknya berada di tempat yang teduh, terlindung dari hujan, dan dijauhkan dari area sensitif seperti dapur atau rumah tetangga. Hasil dari KOPER SAKTI dapat dimanfaatkan sebagai kompos organik sekaligus media tanam. Kegiatan penyuluhan ini mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat, khususnya Ibu-ibu PKK, yang terlihat antusias dan tertarik untuk mencoba penerapannya secara mandiri di rumah. Diharapkan melalui penerapan KOPER SAKTI, jumlah sampah organik di Desa Ngenep dapat berkurang secara signifikan dan inovasi ini dapat ditiru oleh lebih banyak masyarakat. Program ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara berkelanjutan karena bersifat praktis, sederhana, dan dapat diaplikasikan baik di rumah maupun di Green House desa. Melalui kegiatan ini, Tim KKM Unggulan Fakultatif 249 berharap KOPER SAKTI dapat memberikan manfaat nyata, berdampak positif bagi lingkungan, serta menjadi langkah kecil menuju pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
ELLYA RAHMAWATI RAHAYU
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Kelompok 92 Wirasaharsa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyusun sebuah karya desain bertajuk Taman Wisata Edukasi D’Embung Park di Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Karya ini disusun sebagai bentuk kontribusi akademik mahasiswa dalam mendukung pengembangan potensi desa, khususnya pada pemanfaatan ruang terbuka hijau berbasis edukasi dan rekreasi masyarakat. Desain ini memuat perencanaan tata kawasan D’Embung Park secara menyeluruh, mulai dari layout kawasan, desain kolam renang edukasi, area duduk, hingga pembagian zona aktivitas. Perancangan dilakukan dengan menjadikan embung sebagai elemen pusat kawasan, sehingga sirkulasi pengunjung menjadi lebih terarah dan mudah dipahami. Pendekatan ini bertujuan menciptakan ruang yang fungsional, nyaman, dan memiliki nilai edukatif bagi seluruh lapisan masyarakat. Dalam karya ini, mahasiswa KKM juga melakukan redesain area duduk dengan memperhatikan aspek visual dan kenyamanan. Pemilihan vegetasi diarahkan pada tanaman yang rapi, mudah dirawat, serta memiliki variasi warna, sehingga kawasan terlihat lebih bersih, tertata, dan mendukung aktivitas pengunjung. Selain itu, pembagian zona seperti kolam ikan, pembibitan, edukasi kambing, greenhouse, taman literasi, kantin UMKM, musholla, hingga balai pertemuan dirancang agar saling terintegrasi dan saling mendukung fungsi edukasi maupun rekreasi. Melalui penyusunan karya desain D’Embung Park ini, mahasiswa KKM 92 Wirasaharsa berharap dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Pandanmulyo. Karya ini diharapkan menjadi referensi awal bagi pemerintah desa dan masyarakat dalam mengembangkan taman wisata edukasi yang berkelanjutan, sekaligus menjadi bukti bahwa KKM bukan hanya kegiatan pengabdian, tetapi juga ruang aktualisasi ilmu dan kepedulian mahasiswa terhadap pembangunan desa.