FIFIT FARIHAH
Sabtu, 25 April 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan seminar parenting bertema “Di Balik Perilaku Anak, Ada Emosi yang Perlu Dipahami”. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan persepsi antara pendidik dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek sosial-emosional. Seminar parenting yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal bersama wali murid ini menjadi momen penuh makna bagi keluarga besar RA Perwanida III Kota Malang. Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memahami dunia anak secara lebih mendalam. Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut dihadiri oleh sekitar 80 peserta, yang terdiri dari orang tua dan pendidik. Kegiatan ini menjadi kesempatan belajar yang berharga dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya emosi dalam perkembangan anak usia dini. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah RA Perwanida III, Ibu Hj. Hidayatul Chikmah, S.Ag., mengajak orang tua dan pendidik untuk bekerja sama dalam memahami emosi anak agar pengasuhan di rumah dan di sekolah dapat berjalan searah dan selaras. Kegiatan inti seminar menghadirkan narasumber, Hj. Rika Fuaturosida, M.A., dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Laboratorium Psikologi. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan hal-hal negatif seperti marah atau menangis, tetapi juga mencakup perasaan bahagia, tertawa, dan tersenyum. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap perilaku anak merupakan bentuk ekspresi emosi yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai. Beliau juga mengajak orang tua untuk merenungkan kembali perannya, tidak hanya sebagai pengasuh yang menetapkan aturan, tetapi juga sebagai figur yang mampu membantu anak mengelola emosinya menjadi hal yang positif di masa depan. “Kunci dalam mengasuh anak adalah ikhlas,” ungkapnya, menekankan bahwa pengasuhan yang dilandasi keikhlasan akan memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan anak. Perilaku sebagai Bahasa Emosi Dalam sesi parenting, dijelaskan bahwa setiap perilaku anak, baik yang dianggap positif maupun negatif, merupakan bentuk komunikasi dari emosi yang mereka rasakan. Anak yang marah, menangis, atau sulit diatur bukan berarti nakal, melainkan sedang berusaha menyampaikan perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini sejalan dengan pentingnya perkembangan emosi sebagai aspek fundamental dalam pembentukan kepribadian, kemampuan sosial, serta kesiapan belajar anak. Oleh karena itu, pemahaman terhadap emosi menjadi kompetensi penting bagi orang tua dan pendidik. Dengan memahami hal tersebut, orang tua diharapkan tidak hanya merespons perilaku, tetapi juga mampu menggali penyebab emosional yang mendasarinya. Selain itu, pada usia prasekolah yang dikenal sebagai golden age, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Anak juga cenderung memiliki sifat egosentris, sehingga orang tua perlu memenuhi kebutuhan kasih sayang atau “tangki cinta” anak secara optimal. Kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional ini dapat berdampak pada perkembangan emosi anak di masa depan. Orang tua juga dianjurkan untuk mulai melibatkan anak dalam proses negosiasi sebagai upaya membangun kemampuan emosional yang positif, serta menyesuaikan pola asuh dengan situasi yang dihadapi. Mengasuh dengan Empati Dalam praktiknya, narasumber menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak melalui beberapa pendekatan, seperti mendengarkan perasaan anak dengan penuh perhatian, memberikan respons yang hangat dan empatik, membantu anak mengenali dan menamai emosinya, serta menjadi teladan dalam mengelola emosi. Pendekatan ini terbukti mampu membantu anak membangun fondasi emosional yang kuat, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan sosial yang baik. Selain itu, anak juga belajar mengelola emosi dari bagaimana orang tua mengekspresikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, konsistensi dalam sikap dan ekspresi emosi orang tua sangat diperlukan. Sinergi Orang Tua dan Pendidik Salah satu poin penting dalam kegiatan ini adalah pentingnya keselarasan pola asuh antara rumah dan sekolah. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten agar dapat merasa aman dan berkembang secara optimal. Pola asuh dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak. Kedua faktor ini merupakan aspek yang dapat dikendalikan oleh orang tua dan pendidik dalam membentuk kecerdasan emosional anak sejak dini. Ketika orang tua dan guru memiliki pemahaman yang sama, anak akan mendapatkan pengalaman yang utuh dalam belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya. Pada akhir acara, sesi tanya jawab berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Orang tua dan pendidik mengajukan berbagai pertanyaan terkait perilaku anak, termasuk cara menghadapi anak dengan karakter yang beragam dalam satu kelas serta cara memahami emosi anak dalam kehidupan sehari-hari. Narasumber memberikan jawaban yang jelas dan mudah dipahami, disertai contoh pendekatan yang dapat diterapkan baik di rumah maupun di sekolah. Melalui sesi ini, peserta memperoleh wawasan baru tentang pentingnya kesabaran, empati, dan kerja sama dalam menciptakan pengasuhan yang konsisten. Halal Bihalal: Menguatkan Kebersamaan Setelah sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan halal bihalal yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Momen ini menjadi sarana untuk saling memaafkan, mempererat hubungan antara guru dan wali murid, serta memperkuat komunitas pendidikan yang harmonis. Kebersamaan ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi anak. Kegiatan parenting dan halal bihalal ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan langkah nyata dalam membangun sinergi antara rumah dan sekolah. Dengan memahami bahwa di balik setiap perilaku anak terdapat emosi yang perlu dipahami, diharapkan orang tua dan pendidik dapat berjalan seiring dalam mendampingi anak. Pengasuhan yang selaras tidak hanya membantu anak berkembang secara optimal, tetapi juga membentuk generasi yang sehat secara emosional, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
ILMAYA ASADINA
Sabtu, 25 April 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan seminar parenting bertema “Di Balik Perilaku Anak, Ada Emosi yang Perlu Dipahami”. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan persepsi antara pendidik dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek sosial-emosional. Seminar parenting yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal bersama wali murid ini menjadi momen penuh makna bagi keluarga besar RA Perwanida III Kota Malang. Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memahami dunia anak secara lebih mendalam. Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut dihadiri oleh sekitar 80 peserta, yang terdiri dari orang tua dan pendidik. Kegiatan ini menjadi kesempatan belajar yang berharga dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya emosi dalam perkembangan anak usia dini. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah RA Perwanida III, Ibu Hj. Hidayatul Chikmah, S.Ag., mengajak orang tua dan pendidik untuk bekerja sama dalam memahami emosi anak agar pengasuhan di rumah dan di sekolah dapat berjalan searah dan selaras. Kegiatan inti seminar menghadirkan narasumber, Hj. Rika Fuaturosida, M.A., dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Laboratorium Psikologi. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan hal-hal negatif seperti marah atau menangis, tetapi juga mencakup perasaan bahagia, tertawa, dan tersenyum. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap perilaku anak merupakan bentuk ekspresi emosi yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai. Beliau juga mengajak orang tua untuk merenungkan kembali perannya, tidak hanya sebagai pengasuh yang menetapkan aturan, tetapi juga sebagai figur yang mampu membantu anak mengelola emosinya menjadi hal yang positif di masa depan. “Kunci dalam mengasuh anak adalah ikhlas,” ungkapnya, menekankan bahwa pengasuhan yang dilandasi keikhlasan akan memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan anak. Perilaku sebagai Bahasa Emosi Dalam sesi parenting, dijelaskan bahwa setiap perilaku anak, baik yang dianggap positif maupun negatif, merupakan bentuk komunikasi dari emosi yang mereka rasakan. Anak yang marah, menangis, atau sulit diatur bukan berarti nakal, melainkan sedang berusaha menyampaikan perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini sejalan dengan pentingnya perkembangan emosi sebagai aspek fundamental dalam pembentukan kepribadian, kemampuan sosial, serta kesiapan belajar anak. Oleh karena itu, pemahaman terhadap emosi menjadi kompetensi penting bagi orang tua dan pendidik. Dengan memahami hal tersebut, orang tua diharapkan tidak hanya merespons perilaku, tetapi juga mampu menggali penyebab emosional yang mendasarinya. Selain itu, pada usia prasekolah yang dikenal sebagai golden age, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Anak juga cenderung memiliki sifat egosentris, sehingga orang tua perlu memenuhi kebutuhan kasih sayang atau “tangki cinta” anak secara optimal. Kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional ini dapat berdampak pada perkembangan emosi anak di masa depan. Orang tua juga dianjurkan untuk mulai melibatkan anak dalam proses negosiasi sebagai upaya membangun kemampuan emosional yang positif, serta menyesuaikan pola asuh dengan situasi yang dihadapi. Mengasuh dengan Empati Dalam praktiknya, narasumber menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak melalui beberapa pendekatan, seperti mendengarkan perasaan anak dengan penuh perhatian, memberikan respons yang hangat dan empatik, membantu anak mengenali dan menamai emosinya, serta menjadi teladan dalam mengelola emosi. Pendekatan ini terbukti mampu membantu anak membangun fondasi emosional yang kuat, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan sosial yang baik. Selain itu, anak juga belajar mengelola emosi dari bagaimana orang tua mengekspresikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, konsistensi dalam sikap dan ekspresi emosi orang tua sangat diperlukan. Sinergi Orang Tua dan Pendidik Salah satu poin penting dalam kegiatan ini adalah pentingnya keselarasan pola asuh antara rumah dan sekolah. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten agar dapat merasa aman dan berkembang secara optimal. Pola asuh dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak. Kedua faktor ini merupakan aspek yang dapat dikendalikan oleh orang tua dan pendidik dalam membentuk kecerdasan emosional anak sejak dini. Ketika orang tua dan guru memiliki pemahaman yang sama, anak akan mendapatkan pengalaman yang utuh dalam belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya. Pada akhir acara, sesi tanya jawab berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Orang tua dan pendidik mengajukan berbagai pertanyaan terkait perilaku anak, termasuk cara menghadapi anak dengan karakter yang beragam dalam satu kelas serta cara memahami emosi anak dalam kehidupan sehari-hari. Narasumber memberikan jawaban yang jelas dan mudah dipahami, disertai contoh pendekatan yang dapat diterapkan baik di rumah maupun di sekolah. Melalui sesi ini, peserta memperoleh wawasan baru tentang pentingnya kesabaran, empati, dan kerja sama dalam menciptakan pengasuhan yang konsisten. Halal Bihalal: Menguatkan Kebersamaan Setelah sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan halal bihalal yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Momen ini menjadi sarana untuk saling memaafkan, mempererat hubungan antara guru dan wali murid, serta memperkuat komunitas pendidikan yang harmonis. Kebersamaan ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi anak. Kegiatan parenting dan halal bihalal ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan langkah nyata dalam membangun sinergi antara rumah dan sekolah. Dengan memahami bahwa di balik setiap perilaku anak terdapat emosi yang perlu dipahami, diharapkan orang tua dan pendidik dapat berjalan seiring dalam mendampingi anak. Pengasuhan yang selaras tidak hanya membantu anak berkembang secara optimal, tetapi juga membentuk generasi yang sehat secara emosional, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
ALYA NUR HALISAH
Sabtu, 25 April 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan seminar parenting bertema “Di Balik Perilaku Anak, Ada Emosi yang Perlu Dipahami”. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan persepsi antara pendidik dan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya pada aspek sosial-emosional. Seminar parenting yang dirangkaikan dengan kegiatan halal bihalal bersama wali murid ini menjadi momen penuh makna bagi keluarga besar RA Perwanida III Kota Malang. Tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memahami dunia anak secara lebih mendalam. Acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB tersebut dihadiri oleh sekitar 80 peserta, yang terdiri dari orang tua dan pendidik. Kegiatan ini menjadi kesempatan belajar yang berharga dalam meningkatkan pemahaman tentang pentingnya emosi dalam perkembangan anak usia dini. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah RA Perwanida III, Ibu Hj. Hidayatul Chikmah, S.Ag., mengajak orang tua dan pendidik untuk bekerja sama dalam memahami emosi anak agar pengasuhan di rumah dan di sekolah dapat berjalan searah dan selaras. Kegiatan inti seminar menghadirkan narasumber, Hj. Rika Fuaturosida, M.A., dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Ketua Laboratorium Psikologi. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa emosi tidak hanya berkaitan dengan hal-hal negatif seperti marah atau menangis, tetapi juga mencakup perasaan bahagia, tertawa, dan tersenyum. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap perilaku anak merupakan bentuk ekspresi emosi yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai. Beliau juga mengajak orang tua untuk merenungkan kembali perannya, tidak hanya sebagai pengasuh yang menetapkan aturan, tetapi juga sebagai figur yang mampu membantu anak mengelola emosinya menjadi hal yang positif di masa depan. “Kunci dalam mengasuh anak adalah ikhlas,” ungkapnya, menekankan bahwa pengasuhan yang dilandasi keikhlasan akan memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan anak. Perilaku sebagai Bahasa Emosi Dalam sesi parenting, dijelaskan bahwa setiap perilaku anak, baik yang dianggap positif maupun negatif, merupakan bentuk komunikasi dari emosi yang mereka rasakan. Anak yang marah, menangis, atau sulit diatur bukan berarti nakal, melainkan sedang berusaha menyampaikan perasaan yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Hal ini sejalan dengan pentingnya perkembangan emosi sebagai aspek fundamental dalam pembentukan kepribadian, kemampuan sosial, serta kesiapan belajar anak. Oleh karena itu, pemahaman terhadap emosi menjadi kompetensi penting bagi orang tua dan pendidik. Dengan memahami hal tersebut, orang tua diharapkan tidak hanya merespons perilaku, tetapi juga mampu menggali penyebab emosional yang mendasarinya. Selain itu, pada usia prasekolah yang dikenal sebagai golden age, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Anak juga cenderung memiliki sifat egosentris, sehingga orang tua perlu memenuhi kebutuhan kasih sayang atau “tangki cinta” anak secara optimal. Kurangnya pemenuhan kebutuhan emosional ini dapat berdampak pada perkembangan emosi anak di masa depan. Orang tua juga dianjurkan untuk mulai melibatkan anak dalam proses negosiasi sebagai upaya membangun kemampuan emosional yang positif, serta menyesuaikan pola asuh dengan situasi yang dihadapi. Mengasuh dengan Empati Dalam praktiknya, narasumber menekankan pentingnya membangun hubungan emosional yang kuat antara orang tua dan anak melalui beberapa pendekatan, seperti mendengarkan perasaan anak dengan penuh perhatian, memberikan respons yang hangat dan empatik, membantu anak mengenali dan menamai emosinya, serta menjadi teladan dalam mengelola emosi. Pendekatan ini terbukti mampu membantu anak membangun fondasi emosional yang kuat, meningkatkan rasa percaya diri, serta mengembangkan kemampuan sosial yang baik. Selain itu, anak juga belajar mengelola emosi dari bagaimana orang tua mengekspresikan emosinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, konsistensi dalam sikap dan ekspresi emosi orang tua sangat diperlukan. Sinergi Orang Tua dan Pendidik Salah satu poin penting dalam kegiatan ini adalah pentingnya keselarasan pola asuh antara rumah dan sekolah. Anak membutuhkan lingkungan yang konsisten agar dapat merasa aman dan berkembang secara optimal. Pola asuh dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak. Kedua faktor ini merupakan aspek yang dapat dikendalikan oleh orang tua dan pendidik dalam membentuk kecerdasan emosional anak sejak dini. Ketika orang tua dan guru memiliki pemahaman yang sama, anak akan mendapatkan pengalaman yang utuh dalam belajar mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya. Pada akhir acara, sesi tanya jawab berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Orang tua dan pendidik mengajukan berbagai pertanyaan terkait perilaku anak, termasuk cara menghadapi anak dengan karakter yang beragam dalam satu kelas serta cara memahami emosi anak dalam kehidupan sehari-hari. Narasumber memberikan jawaban yang jelas dan mudah dipahami, disertai contoh pendekatan yang dapat diterapkan baik di rumah maupun di sekolah. Melalui sesi ini, peserta memperoleh wawasan baru tentang pentingnya kesabaran, empati, dan kerja sama dalam menciptakan pengasuhan yang konsisten. Halal Bihalal: Menguatkan Kebersamaan Setelah sesi seminar, kegiatan dilanjutkan dengan halal bihalal yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Momen ini menjadi sarana untuk saling memaafkan, mempererat hubungan antara guru dan wali murid, serta memperkuat komunitas pendidikan yang harmonis. Kebersamaan ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif bagi anak. Kegiatan parenting dan halal bihalal ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi merupakan langkah nyata dalam membangun sinergi antara rumah dan sekolah. Dengan memahami bahwa di balik setiap perilaku anak terdapat emosi yang perlu dipahami, diharapkan orang tua dan pendidik dapat berjalan seiring dalam mendampingi anak. Pengasuhan yang selaras tidak hanya membantu anak berkembang secara optimal, tetapi juga membentuk generasi yang sehat secara emosional, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
ALIFIYA MARDILLA
Menjaga Cahaya Pendidikan: Guru Juga Butuh Jeda untuk Mengolah Lelah Menjadi Lillah Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri. Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan. Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.
NEVIRA AYU RIHANI
Kediri -- Dalam rangka mempersiapkan kegiatan sosialisasi moderasi beragama agar berjalan terarah dan tidak menimbulkan kesalahpahaman, mahasiswa program Asistensi Mengajar dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan sharing awal bersama siswa di MAN 3 Kediri. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar mengenai konsep moderasi beragama sebelum memasuki sesi utama. Mahasiswa menilai bahwa penting untuk meluruskan persepsi sejak awal agar diskusi yang berlangsung nantinya tidak keluar dari konteks serta tetap berlandaskan nilai toleransi, saling menghormati, dan cinta tanah air. Dalam sesi sharing tersebut, mahasiswa memulai dengan diskusi ringan seputar keberagaman di Indonesia, pentingnya sikap saling menghargai perbedaan, serta contoh konkret penerapan moderasi beragama di lingkungan sekolah. Siswa diajak menyampaikan pendapat dan pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan teman yang berbeda latar belakang. Salah satu mahasiswa menyampaikan bahwa moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, melainkan bersikap adil, seimbang, dan tidak berlebihan dalam menyikapi perbedaan. Penjelasan ini diberikan agar siswa memiliki pemahaman yang tepat sebelum mengikuti materi lanjutan. Suasana diskusi berlangsung interaktif dan penuh antusias. Siswa terlihat aktif bertanya dan memberikan tanggapan. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi fondasi yang kuat sebelum pelaksanaan sharing utama tentang moderasi beragama. Pihak madrasah mengapresiasi inisiatif mahasiswa UIN Malang yang mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa MAN 3 Kediri dapat memahami nilai moderasi beragama secara utuh serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antara mahasiswa dan madrasah ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan sikap kebangsaan yang harmonis.
HABIB UMAR MUTHOHAR
Di tengah suasana yang hangat dan penuh antusias, kegiatan parenting dengan tema edukasi seksualitas anak diselenggarakan di BA Restu 2 oleh mahasiswa Asistensi Mengajar (AM/PPL) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertepatan pada tanggal 24 April 2026 . Kegiatan ini diikuti oleh para wali murid sebagai upaya memberikan pemahaman mengenai pentingnya edukasi seksualitas anak sejak usia dini secara tepat dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan ini menghadirkan narasumber, Rikza Azharona S., M.Pd., yang menyampaikan materi terkait edukasi seksualitas anak yang selama ini masih sering dianggap sebagai hal tabu di masyarakat. Padahal, anggapan tersebut justru dapat menghambat anak dalam memahami tubuhnya sendiri serta meningkatkan risiko terjadinya perilaku yang tidak diinginkan akibat kurangnya informasi yang benar. Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Kepala Sekolah BA Restu 2, Ibu Maslichah Hartatik, S.S. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa edukasi seksualitas anak bukanlah hal yang tabu, melainkan bagian penting dari pendidikan karakter dan perlindungan diri anak. Beliau menekankan bahwa anak perlu dikenalkan sejak dini mengenai batasan tubuh, konsep privasi, serta cara menjaga diri dengan pendekatan yang sederhana dan tidak menakutkan. Ia juga berharap melalui kegiatan ini, orang tua dapat memiliki pemahaman yang tepat dalam berkomunikasi dengan anak terkait hal-hal sensitif tanpa menimbulkan rasa malu atau takut. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh perwakilan Forum Komunikasi Az-Zahra yang menekankan pentingnya kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah dalam mendidik anak. Dalam sambutannya disampaikan bahwa pendidikan anak tidak dapat berjalan secara optimal tanpa adanya sinergi antara lingkungan keluarga dan sekolah. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat melanjutkan pembiasaan serta nilai-nilai yang telah diberikan di sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Dalam penyampaian materi, narasumber menjelaskan bahwa edukasi seksualitas anak bukan berarti mengajarkan hal-hal yang bersifat dewasa, melainkan proses mengenalkan aspek kognitif, emosional, sosial, dan fisik anak sesuai usia. Anak perlu dikenalkan nama bagian tubuh secara benar, memahami bagian tubuh pribadi, serta mengetahui batasan sentuhan yang aman dan tidak aman. Selain itu, disampaikan pula konsep “Tubuhku Milikku” yang menekankan bahwa setiap anak memiliki hak atas tubuhnya sendiri. Anak diajarkan untuk berani berkata “tidak” terhadap sentuhan yang tidak diinginkan serta berani melaporkan kepada orang tua jika mengalami situasi yang tidak nyaman. Edukasi ini bertujuan untuk membangun kepercayaan diri anak serta kemampuan dalam melindungi diri sejak dini. Kegiatan parenting berlangsung secara interaktif melalui sesi tanya jawab antara orang tua dan narasumber. Salah satu topik yang dibahas adalah mengenai edukasi menstruasi pada anak. Narasumber menjelaskan bahwa pengenalan terkait menstruasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kesiapan anak dengan bahasa yang sederhana, sehingga tidak menimbulkan kecemasan. Selain itu, dibahas pula faktor-faktor yang dapat memengaruhi menstruasi dini, seperti pola makan, gaya hidup, serta pengaruh lingkungan. Topik lain yang turut dibahas adalah mengenai kemandirian anak dalam menjaga kebersihan diri, seperti kebiasaan anak menggunakan semprotan air saat cebok yang dirasa lebih nyaman dibandingkan bantuan orang tua. Dalam hal ini, orang tua tetap diharapkan memberikan pendampingan sekaligus mengajarkan batasan privasi tubuh anak agar anak dapat mandiri dengan tetap memahami nilai-nilai yang benar. Selain itu, narasumber juga menekankan pentingnya menjaga privasi anak dalam komunikasi sehari-hari. Orang tua dihimbau untuk tidak menyampaikan hal-hal sensitif terkait kondisi tubuh anak kepada orang lain, terutama kepada lawan jenis, karena hal tersebut dapat berdampak pada rasa malu dan perkembangan psikologis anak. Edukasi mengenai tubuh perlu disampaikan secara terbuka, namun tetap menjaga batasan yang sesuai. Melalui kegiatan parenting ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya edukasi seksualitas anak sejak dini dengan pendekatan yang tepat dan tidak tabu. Dengan adanya kerja sama yang baik antara mahasiswa, sekolah, dan orang tua, anak diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu menjaga diri, memahami batasan, serta memiliki kepercayaan diri dalam menghadapi lingkungan sekitarnya.