AHMAD RAMADHANI KURNIA PUTRA
Malang - Seminar berbasis pembelajaran (learning-based seminar) bertajuk “Pengaruh Distraksi Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Remaja” digelar di perpustakaan MAN 2 Kota Malang, Selasa (28/4/2026) pukul 12.40 WIB. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari kelompok Asistensi Mengajar dan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Niskala Madya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Seminar ini diikuti oleh siswa kelas X-O MAN 2 Kota Malang sebagai partisipan utama. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, mengingat topik yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan remaja saat ini. Kegiatan ini menghadirkan pemateri Tiko Setiawan, founder Sanggar Kedanton Katikoan, yang juga merupakan mahasiswa aktif UIN Maulana Malik Ibrahim Malang program studi Pendidikan IPS serta mengampu mata pelajaran Geografi. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bagaimana penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, stres, hingga penurunan kepercayaan diri. Seminar ini dirancang tidak hanya sebagai penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang interaktif bagi peserta untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Metode learning-based yang digunakan memungkinkan siswa lebih aktif dalam memahami dampak distraksi digital serta cara mengelolanya secara bijak. Salah satu perwakilan panitia menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah derasnya arus informasi digital. “Kami berharap peserta tidak hanya memahami dampaknya, tetapi juga mampu menerapkan kebiasaan yang lebih sehat dalam menggunakan media sosial,” ujarnya. Seminar ini merupakan bagian dari program pengabdian mahasiswa melalui kegiatan Asistensi Mengajar dan KKM Niskala Madya yang berfokus pada penguatan literasi dan kesejahteraan psikologis siswa di lingkungan sekolah. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan siswa MAN 2 Kota Malang, khususnya kelas X-O, dapat lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial serta memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental di era digital.
TIKA IMRO`ATUL MUNIROH
MALANG - Dalam upaya memperkuat resiliensi dan kepercayaan diri generasi muda di tengah distraksi algoritma digital, telah sukses diselenggarakan seminar motivasi eksklusif bertajuk "Muda Membara". Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jum'at, 24 April 2026 di Gondanglegi, Malang, dengan menghadirkan M. Abdurrozzaq Naufal sebagai pemateri utama di hadapan 20 pemuda terpilih dari kalangan Gen Z. Berbeda dengan kegiatan formal institusi pada umumnya, seminar ini dirancang sebagai ruang diskusi intensif untuk menjawab keresahan spesifik yang dihadapi generasi yang lahir di era transisi teknologi, mulai dari beban mental akibat ekspektasi instan hingga kelumpuhan keputusan (decision paralysis). Sinergi Formula S-O-C-I-A-L dalam Membangun Narasi Dalam sesi pertama, M. Abdurrozzaq Naufal membedah strategi komunikasi publik menggunakan formula S-O-C-I-A-L. Teknik ini diawali dengan elemen Story (cerita pribadi) untuk membangun jembatan emosional, disusul dengan Observation mengenai fenomena pembelian barang karena rasa takut ketinggalan tren atau FOMO (Fear of Missing Out). `Abdurrozzaq menjelaskan melalui elemen Insight bahwa perilaku manusia seringkali dipengaruhi oleh narasi yang diciptakan oleh brand digital. Pendekatan ini bertujuan agar para pemuda tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi mampu menjadi komunikator yang kritis dan memiliki nilai tawar unik di depan publik. The 2026 Flex: Membedah Mantra "Man Jadda Wajada" Memasuki agenda inti, seminar membahas paradigma "The 2026 Flex", sebuah gagasan yang menantang pandangan konvensional bahwa pemuda hanya bisa memilih satu antara prestasi akademik atau non-akademik. Naufal menekankan bahwa sukses di masa depan adalah tentang kemampuan untuk menyeimbangkan keduanya dengan gaya yang otentik. Dengan mengusung mantra "Man Jadda Wajada" (Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil), para peserta diajak untuk membangun growth mindset. "Jangan biarkan dirimu merasa gagal hanya karena tidak mampu mengikuti garis waktu artifisial yang diciptakan oleh algoritma layar," pesan Abdurrozzaq dalam sesinya. Faktor keberhasilan seperti Grit (kegigihan) dan spiritualitas menjadi poin krusial yang ditekankan untuk membakar semangat para peserta. Optimalisasi Karya dan Harapan Kedepan Selain penguatan mental, seminar ini juga memberikan pembekalan teknis mengenai strategi kesuksesan meraih cita-cita yang dipadukan dengan semangat juang dari Gen Z, mulai dari bagaimana mengfilter pergaualan yang positif hingga bagaimana menanamkan mantra "Man Jadda Wajada" sebagai semangat juang. Hal ini penting agar keresahan yang dimiliki para pemuda dapat bertransformasi menjadi semangat meraih cita-cita yang membara. Melalui kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini, diharapkan ke-20 pemuda tersebut dapat kembali ke lingkungannya dengan kepercayaan diri yang baru. Dengan semangat "Muda Membara", diharapkan muncul pionir-pionir muda yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter dan ketangguhan mental yang kokoh dalam meraih cita-cita. Dan sebagai pesan akhir yang disampaikan oleh `Abdurrozzaq adalah "MIMPIMU TIDAK PUNYA BATAS, JADI JANGAN BUAT BATASANMU SENDIRI".
IVA LAILATUL JANNAH
Memasuki agenda inti, seminar membahas paradigma "The 2026 Flex", sebuah gagasan yang menantang pandangan konvensional bahwa pemuda hanya bisa memilih satu antara prestasi akademik atau non-akademik. Naufal menekankan bahwa sukses di masa depan adalah tentang kemampuan untuk menyeimbangkan keduanya dengan gaya yang otentik. Dengan mengusung mantra "Man Jadda Wajada" (Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil), para peserta diajak untuk membangun growth mindset. "Jangan biarkan dirimu merasa gagal hanya karena tidak mampu mengikuti garis waktu artifisial yang diciptakan oleh algoritma layar," pesan Abdurrozzaq dalam sesinya. Faktor keberhasilan seperti Grit (kegigihan) dan spiritualitas menjadi poin krusial yang ditekankan untuk membakar semangat para peserta. Optimalisasi Karya dan Harapan Kedepan Selain penguatan mental, seminar ini juga memberikan pembekalan teknis mengenai strategi kesuksesan meraih cita-cita yang dipadukan dengan semangat juang dari Gen Z, mulai dari bagaimana mengfilter pergaualan yang positif hingga bagaimana menanamkan mantra "Man Jadda Wajada" sebagai semangat juang. Hal ini penting agar keresahan yang dimiliki para pemuda dapat bertransformasi menjadi semangat meraih cita-cita yang membara. Melalui kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini, diharapkan ke-20 pemuda tersebut dapat kembali ke lingkungannya dengan kepercayaan diri yang baru. Dengan semangat "Muda Membara", diharapkan muncul pionir-pionir muda yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter dan ketangguhan mental yang kokoh dalam meraih cita-cita. Dan sebagai pesan akhir yang disampaikan oleh `Abdurrozzaq adalah "MIMPIMU TIDAK PUNYA BATAS, JADI JANGAN BUAT BATASANMU SENDIRI".
FAWWAZ IRHAB
MALANG - Dalam upaya memperkuat resiliensi dan kepercayaan diri generasi muda di tengah distraksi algoritma digital, telah sukses diselenggarakan seminar motivasi eksklusif bertajuk "Muda Membara". Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jum'at, 24 April 2026 di Gondanglegi, Malang, dengan menghadirkan M. Abdurrozzaq Naufal sebagai pemateri utama di hadapan 20 pemuda terpilih dari kalangan Gen Z. Berbeda dengan kegiatan formal institusi pada umumnya, seminar ini dirancang sebagai ruang diskusi intensif untuk menjawab keresahan spesifik yang dihadapi generasi yang lahir di era transisi teknologi, mulai dari beban mental akibat ekspektasi instan hingga kelumpuhan keputusan (decision paralysis). Sinergi Formula S-O-C-I-A-L dalam Membangun Narasi Dalam sesi pertama, M. Abdurrozzaq Naufal membedah strategi komunikasi publik menggunakan formula S-O-C-I-A-L. Teknik ini diawali dengan elemen Story (cerita pribadi) untuk membangun jembatan emosional, disusul dengan Observation mengenai fenomena pembelian barang karena rasa takut ketinggalan tren atau FOMO (Fear of Missing Out). `Abdurrozzaq menjelaskan melalui elemen Insight bahwa perilaku manusia seringkali dipengaruhi oleh narasi yang diciptakan oleh brand digital. Pendekatan ini bertujuan agar para pemuda tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi mampu menjadi komunikator yang kritis dan memiliki nilai tawar unik di depan publik. The 2026 Flex: Membedah Mantra "Man Jadda Wajada" Memasuki agenda inti, seminar membahas paradigma "The 2026 Flex", sebuah gagasan yang menantang pandangan konvensional bahwa pemuda hanya bisa memilih satu antara prestasi akademik atau non-akademik. Naufal menekankan bahwa sukses di masa depan adalah tentang kemampuan untuk menyeimbangkan keduanya dengan gaya yang otentik. Dengan mengusung mantra "Man Jadda Wajada" (Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil), para peserta diajak untuk membangun growth mindset. "Jangan biarkan dirimu merasa gagal hanya karena tidak mampu mengikuti garis waktu artifisial yang diciptakan oleh algoritma layar," pesan Abdurrozzaq dalam sesinya. Faktor keberhasilan seperti Grit (kegigihan) dan spiritualitas menjadi poin krusial yang ditekankan untuk membakar semangat para peserta. Optimalisasi Karya dan Harapan Kedepan Selain penguatan mental, seminar ini juga memberikan pembekalan teknis mengenai strategi kesuksesan meraih cita-cita yang dipadukan dengan semangat juang dari Gen Z, mulai dari bagaimana mengfilter pergaualan yang positif hingga bagaimana menanamkan mantra "Man Jadda Wajada" sebagai semangat juang. Hal ini penting agar keresahan yang dimiliki para pemuda dapat bertransformasi menjadi semangat meraih cita-cita yang membara. Melalui kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini, diharapkan ke-20 pemuda tersebut dapat kembali ke lingkungannya dengan kepercayaan diri yang baru. Dengan semangat "Muda Membara", diharapkan muncul pionir-pionir muda yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter dan ketangguhan mental yang kokoh dalam meraih cita-cita. Dan sebagai pesan akhir yang disampaikan oleh `Abdurrozzaq adalah "MIMPIMU TIDAK PUNYA BATAS, JADI JANGAN BUAT BATASANMU SENDIRI".
ELFIRA FAWWAZA
Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang dihadapi Pondok Pesantren Raudlatul Qur'an (PPRQ) Ringin Rejo, di mana aktivitas sehari-hari puluhan santri menghasilkan limbah plastik yang cukup signifikan, mulai dari botol minuman bekas, bungkus makanan ringan, kantong kresek, hingga sedotan plastik. Selain sebagai upaya pengelolaan sampah, program ecobrick ini juga dilatarbelakangi oleh kondisi pondok yang masih tergolong baru sehingga belum memiliki identitas visual atau ikon khas yang dapat menjadi penanda dan kebanggaan bersama bagi warga pondok. Oleh karena itu, tim mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) kelompok 56 merancang program Ecobrick, yakni metode pengelolaan sampah plastik dengan cara memasukkan dan memadatkan plastik lunak ke dalam botol plastik bekas hingga menjadi "bata" yang cukup kuat untuk dijadikan bahan konstruksi. Program ini dilaksanakan melalui enam tahapan terstruktur, meliputi sosialisasi dan edukasi kepada seluruh santri, pengumpulan sampah plastik dari berbagai area pondok, produksi ecobrick secara rutin setiap hari selesai mengaji selama 15–30 menit, perancangan desain instalasi, penyusunan dan finishing, hingga pemasangan serta evaluasi akhir. Pemilihan waktu pasca-mengaji dinilai sangat strategis karena menyisipkan nilai kepedulian lingkungan ke dalam ritme keseharian santri tanpa mengganggu kegiatan belajar dan ibadah, sekaligus menciptakan ruang kebersamaan yang hangat di antara santri, pengurus pondok, dan mahasiswa KKM. Hasil dari program ini adalah terkumpulnya ratusan botol ecobrick yang kemudian dirakit menjadi instalasi tulisan "PPRQ RINGIN REJO" sebagai ikon kebanggaan pondok sekaligus simbol nyata bahwa sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai. Dampak program ini dirasakan secara multidimensi: secara fisik, lingkungan pondok menjadi lebih bersih dan sehat karena sampah plastik tidak lagi berserakan; secara pedagogis, para santri memperoleh pengalaman belajar langsung mengenai bahaya sampah plastik dan pentingnya bertindak nyata untuk lingkungan, sekaligus memperkuat rasa percaya diri dan kreativitas mereka secara kelembagaan, pondok mendapatkan identitas visual yang unik dan dikenal sebagai lembaga yang berkontribusi aktif dalam pelestarian lingkungan. Lebih jauh, program ini memiliki relevansi mendalam dengan nilai-nilai Islam, di mana pembuatan ecobrick yang dilakukan setelah mengaji secara simbolis menyatukan dua dimensi ibadah, yakni dimensi vertikal melalui mengaji dan berdoa, serta dimensi horizontal melalui pengabdian terhadap lingkungan, selaras dengan ajaran Islam bahwa menjaga kebersihan bumi adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di muka bumi.
CAMELIA MALIKAL BULQIS
MALANG - Dalam upaya memperkuat resiliensi dan kepercayaan diri generasi muda di tengah distraksi algoritma digital, telah sukses diselenggarakan seminar motivasi eksklusif bertajuk "Muda Membara". Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jum'at, 24 April 2026 di Gondanglegi, Malang, dengan menghadirkan M. Abdurrozzaq Naufal sebagai pemateri utama di hadapan 20 pemuda terpilih dari kalangan Gen Z. Berbeda dengan kegiatan formal institusi pada umumnya, seminar ini dirancang sebagai ruang diskusi intensif untuk menjawab keresahan spesifik yang dihadapi generasi yang lahir di era transisi teknologi, mulai dari beban mental akibat ekspektasi instan hingga kelumpuhan keputusan (decision paralysis). Sinergi Formula S-O-C-I-A-L dalam Membangun Narasi Dalam sesi pertama, M. Abdurrozzaq Naufal membedah strategi komunikasi publik menggunakan formula S-O-C-I-A-L. Teknik ini diawali dengan elemen Story (cerita pribadi) untuk membangun jembatan emosional, disusul dengan Observation mengenai fenomena pembelian barang karena rasa takut ketinggalan tren atau FOMO (Fear of Missing Out). `Abdurrozzaq menjelaskan melalui elemen Insight bahwa perilaku manusia seringkali dipengaruhi oleh narasi yang diciptakan oleh brand digital. Pendekatan ini bertujuan agar para pemuda tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi mampu menjadi komunikator yang kritis dan memiliki nilai tawar unik di depan publik. The 2026 Flex: Membedah Mantra "Man Jadda Wajada" Memasuki agenda inti, seminar membahas paradigma "The 2026 Flex", sebuah gagasan yang menantang pandangan konvensional bahwa pemuda hanya bisa memilih satu antara prestasi akademik atau non-akademik. Naufal menekankan bahwa sukses di masa depan adalah tentang kemampuan untuk menyeimbangkan keduanya dengan gaya yang otentik. Dengan mengusung mantra "Man Jadda Wajada" (Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil), para peserta diajak untuk membangun growth mindset. "Jangan biarkan dirimu merasa gagal hanya karena tidak mampu mengikuti garis waktu artifisial yang diciptakan oleh algoritma layar," pesan Abdurrozzaq dalam sesinya. Faktor keberhasilan seperti Grit (kegigihan) dan spiritualitas menjadi poin krusial yang ditekankan untuk membakar semangat para peserta. Optimalisasi Karya dan Harapan Kedepan Selain penguatan mental, seminar ini juga memberikan pembekalan teknis mengenai strategi kesuksesan meraih cita-cita yang dipadukan dengan semangat juang dari Gen Z, mulai dari bagaimana mengfilter pergaualan yang positif hingga bagaimana menanamkan mantra "Man Jadda Wajada" sebagai semangat juang. Hal ini penting agar keresahan yang dimiliki para pemuda dapat bertransformasi menjadi semangat meraih cita-cita yang membara.