M. SIHABUDDIN
Pada hari Sabtu tanggal 17 Januari 2026 Kegiatan sosialisasi digitalisasi gerabah UMKM di Desa Alas Kandang dilaksanakan oleh mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, khususnya kelompok 150 Artaghata, dengan tujuan memberdayakan masyarakat pengrajin gerabah melalui pemanfaatan teknologi digital. Kegiatan ini dihadiri oleh kepala desa, masyarakat pengrajin gerabah, serta beberapa tokoh setempat, sehingga tercipta suasana diskusi yang interaktif dan konstruktif. Sosialisasi ini membahas berbagai strategi digitalisasi, mulai dari pemanfaatan media sosial, pemasaran online, hingga cara meningkatkan daya saing produk gerabah melalui platform digital, sehingga produk lokal dapat dikenal lebih luas dan meningkatkan potensi ekonomi desa. Mahasiswa KKM kelompok 150 Artaghata berperan aktif dalam memberikan materi, pendampingan, dan simulasi penggunaan media digital untuk pemasaran produk gerabah. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk bertanya langsung dan berbagi pengalaman seputar produksi dan pemasaran gerabah. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat pengrajin dapat lebih siap memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usaha mereka, sehingga UMKM gerabah Desa Alas Kandang dapat lebih berkembang dan dikenal secara luas. Kegiatan sosialisasi berjalan dengan lancar, antusiasme peserta tinggi, dan memberikan dampak positif baik secara ekonomi maupun sosial bagi masyarakat desa.
CHELSIE AURELIA ALMIRA
Selasa, 06 Januari 2026- Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 63 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan salah satu program kerja unggulan berupa Sosialisasi Branding Desa di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Program ini bertujuan memberikan edukasi dan pendampingan mengenai strategi branding desa melalui media sosial sebagai langkah adaptif menghadapi perkembangan era digital. Di era transformasi digital saat ini, media sosial bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan juga menjadi media promosi yang efektif dan efisien. Desa Tumpakrejo memiliki berbagai potensi, mulai dari sumber daya alam, kegiatan masyarakat, budaya lokal, hingga potensi UMKM yang perlu dipublikasikan secara lebih luas. Namun, potensi tersebut memerlukan wadah resmi dan pengelolaan yang terarah agar mampu membangun citra positif desa. Melalui kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKM memberikan pemaparan mengenai pentingnya branding desa, teknik dasar pembuatan konten digital, pengelolaan akun media sosial desa, hingga strategi menjaga konsistensi unggahan agar mampu menjangkau masyarakat secara luas. Selain penyampaian materi, kegiatan juga disertai dengan praktik langsung pembuatan akun sosial media desa. Media sosial tersebut diharapkan menjadi: Sarana publikasi informasi kegiatan desa Media promosi potensi dan produk UMKM Wadah dokumentasi program pembangunan desa Alat komunikasi yang transparan antara pemerintah desa dan masyarakat Dengan adanya media sosial resmi desa, informasi dapat tersampaikan secara lebih cepat, akurat, dan terjangkau lebih luas. Selain itu, keberadaan platform digital ini juga diharapkan mampu meningkatkan citra positif desa serta membuka peluang kerja sama dengan pihak eksternal. Program Sosialisasi Branding Desa ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bahwa branding desa merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan kolaborasi, konsistensi, dan komitmen bersama. Melalui sinergi antara mahasiswa KKM dan masyarakat, Desa Tumpakrejo diharapkan mampu berkembang sebagai desa yang adaptif, informatif, dan berdaya saing di era digital.
MOH YASYFA ANJANA
JOMBANG — Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan observasi di lingkungan Pondok Pesantren Putra Tebuireng, Kabupaten Jombang, pada tanggal 20 Januari 2026, dengan meninjau secara langsung pelaksanaan program pendidikan reguler. Kegiatan ini didampingi oleh Ustadz Lukman, Bagas, dan Hasyim selaku pembina santri putra. Observasi dilakukan untuk memahami secara mendalam pola pembinaan santri dalam program reguler, khususnya terkait sistem pembelajaran, kedisiplinan harian, serta pembentukan karakter santri. Tim KKM mengikuti sejumlah aktivitas santri, mulai dari kegiatan pagi, proses pembelajaran di kelas, hingga kegiatan keagamaan yang menjadi rutinitas pondok. Pendamping kegiatan Ustadz Lukman juga menjelaskan bahwa program reguler dirancang untuk membentuk santri yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik keagamaan, akan tetapi juga memiliki akhlak dan kedisiplinan yang kuat. Sementara itu, Usatdz Bagas dan ustadz Hasyim turut memberikan gambaran teknis mengenai pelaksanaan kegiatan harian santri serta metode pembinaan yang diterapkan di pondok putra. Melalui observasi ini, KKM memperoleh data awal terkait kondisi riil pondok, yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program pengabdian. Pendekatan observatif ini diharapkan mampu menghasilkan program KKM yang relevan dan tidak bertentangan dengan sistem pendidikan pesantren yang telah berjalan. Dengan begitu, dari adanya kegiatan ini maka dapat menilai bahwa keterbukaan pihak pondok dalam mendampingi kegiatan observasi menjadi modal penting bagi terjalinnya kerja sama yang konstruktif selama masa pengabdian berlangsung.
INTAN PERMATA SARI
Senja di Dusun Lemahbang, Desa Kemiri, tidak pernah datang dengan tergesa ia selalu datang dengan cerita. Ia hadir perlahan, melukis langit dengan guratan warna kekuningan yang menakjubkan tepat setelah waktu Asar berlalu. Di jam-jam ini, sekitar pukul empat sore. Udara dingin khas dataran tinggi Jabung mulai turun, menyusup ke balik jaket dan menyentuh kulit. Namun, di sebuah mushola kecil, dingin itu seolah tak punya kuasa. Ada kehangatan lain yang menjalar, bukan dari api perapian, melainkan dari lingkar kebersamaan para ibu yang tengah merawat tradisi. Di sinilah kami, mahasiswa KKM yang masih asing, mencoba larut dalam rutinitas Diba’an warga yang sarat akan makna. Jika diukur dengan angka, kegiatan ini mungkin dianggap sepi. Tidak ada ribuan jemaah, tidak ada pengeras suara yang menggelegar ke seluruh penjuru desa. Yang hadir hanyalah segelintir—kurang lebih 5 hingga 12 orang ibu-ibu yang dengan setia meluangkan waktu di sela kesibukan mereka setiap hari Senin. Akan tetapi, justru di situlah letak kekuatannya. "Kecil, namun tak hilang." Frasa ini mungkin paling tepat menggambarkan suasana majelis ini. Jumlah yang sedikit itu justru menciptakan ikatan emosional yang jauh lebih kuat. Kegiatan ini bukan sekadar ritual menggugurkan kewajiban, melainkan sebuah bentuk eksistensi dan penghargaan warga Dusun Lemahbang terhadap nilai religius yang mereka junjung. Konsistensi (istiqomah) mereka adalah bukti bahwa syiar tidak melulu soal keramaian, tapi soal kedalaman hati. Satu hal yang membuat kami tertegun adalah bagaimana para ibu ini melantunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak ada patokan nada kaku seperti rekaman kaset; mereka memiliki "cengkok" dan kombinasi nada tersendiri. Kreatifitas yang tak memabatasi jenis suara maupun kesukaan apapun. Itu adalah bentuk kreativitas murni, sebuah proses alami yang lahir dari kebiasaan bertahun-tahun. Suara mereka sahut-menyahut, kadang tinggi melengking, kadang rendah syahdu, menciptakan harmoni yang unik. Tak ada satupun yang menghakimi jenis suara apapun dan bagaimanapun. Suasana yang tadinya damai tiba-tiba terasa mencekam ketika salah satu ibu, dengan senyum ramah yang "mematikan", menyodorkan mikrofon ke arah kami. "Monggo, Mbak KKN," (Silakan, Mbak KKN, gantian), ucapnya lembut. Detik itu, waktu serasa berhenti. Jantung kami berdegup lebih kencang dari senandung di mic. Ketegangan bukan karena kami tidak hafal bacaannya, melainkan karena ketidaksiapan kami menghadapi ragam nada kreatif yang mereka bawakan. Ada kepanikan yang tertahan di wajah teman-teman saya; mata yang saling melirik tajam, memberikan sinyal SOS tanpa suara. Nada apa yang harus kami pakai? Apakah kami akan merusak harmoni indah ini dengan suara sumbang kami? Rasanya hampir ingin menangis saking gugupnya. Namun, melihat tatapan tulus dan menyemangati dari para ibu, kami memberanikan diri. Meski dengan suara bergetar dan nada yang mungkin terdengar kaku di telinga mereka, kami mencoba ikut serta. Dan di sanalah letak indahnya: mereka tidak menghakimi, justru tersenyum lebar mengapresiasi usaha kami. Kegiatan rutin ini berakhir satu setengah jam sebelum Maghrib, saat matahari benar-benar pamit ke peraduannya. Kami pulang dengan perasaan campur aduk: lega karena telah melewati "ujian mic", namun juga penuh haru. Diba'an di Dusun Lemahbang mengajarkan kami bahwa hal-hal yang terlihat kecil dan sepele di mata dunia, bisa jadi adalah hal yang paling berharga bagi sebuah komunitas. Di tengah dinginnya udara Jabung, kami menemukan kehangatan yang tak akan kami lupakan.
THALITA NUR SHOBIROH
JOMBANG — Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) melaksanakan kegiatan observasi di Pondok Pesantren Putri Tebuireng, Kabupaten Jombang, pada tanggal 21 Januari 2026 sebagai bagian dari rangkaian awal pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat khususnya program Psikososial Pesantren. Observasi ini difokuskan pada santri putri Pondok Pesantren Tebuireng program tahfidz Al-Qur’an yang menjadi salah satu unggulan pembinaan santri putri di lingkungan pesantren. Kegiatan observasi dilaksanakan dengan tujuan untuk memahami sistem pembelajaran tahfidz, metode hafalan yang digunakan, serta pola pendampingan santri dalam menjaga kualitas dan konsistensi hafalan Al-Qur’an. Tim Anggota KKM Aksara 255 melakukan pengenalan dan juga pengamatan langsung terhadap aktivitas setoran hafalan, muroja’ah, serta interaksi antara santri dan pembimbing tahfidz. Selain itu, observasi juga dilakukan melalui dialog singkat dengan pengasuh dan pembina tahfidz guna menggali informasi mengenai tantangan yang dihadapi santri seperti manajemen waktu antara kegiatan akademik dan tahfidz, motivasi menghafal, serta kebutuhan pendukung pembelajaran Al-Qur’an. Koordinator KKM menyampaikan bahwa hasil observasi ini akan menjadi dasar dalam merancang program kerja yang relevan dan tepat sasaran, khususnya yang mendukung penguatan kualitas hafalan, motivasi santri, serta optimalisasi metode tahfidz yang telah berjalan. Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya kegiatan observasi ini tidak hanya bersifat seremonial, akan tetapi benar-benar memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pengembangan program tahfidz di Pondok Pesantren Putri Tebuireng.