Thumbnail
2 months ago
KKM 153 ARCAPADA: Langkah Awal dengan Masyarakat Padi, Talangsuko

FIRMALA KHISBILLA TAMALIA

Awal Pengabdian dan Proses Adaptasi Kegiatan KKM UIN Malang diawali dengan pelepasan resmi dari kampus sebagai simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan desa melalui silaturahmi bersama warga sekitar serta perangkat RT dan RW. Interaksi awal ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan keberadaan mahasiswa sekaligus memahami dinamika sosial dan kebiasaan masyarakat setempat.   Pemetaan Kebutuhan dan Kolaborasi Lokal Dalam upaya merancang program kerja yang relevan, mahasiswa KKM 153 melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di desa. Salah satunya melalui kunjungan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk mendiskusikan kebutuhan sarana, jenis kegiatan literasi, serta peluang keberlanjutan program. Selain itu, mahasiswa juga menjalin komunikasi dengan Kepala Desa dan pengelola TPQ guna menyelaraskan program KKM dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan masyarakat.   Partisipasi dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan Mahasiswa juga turut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti ngawulo (27/12/2025), pengajian rutin, serta interaksi bersama ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk membangun kedekatan emosional. Melalui partisipasi langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai lokal, pola interaksi sosial, serta aktivitas rutin warga. Secara keseluruhan, pekan pertama KKM 153 diarahkan pada penguatan relasi dan pemahaman konteks sosial masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis masyarakat, di mana keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa untuk menyatu dan belajar dari lingkungan sekitar. Fondasi yang dibangun sejak awal diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program kerja yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.  

Thumbnail
2 months ago
KKM 153 ARCAPADA: Langkah Awal dengan Masyarakat Padi, Talangsuko

MOHAMMAD JUNDUB ALFIAR

Awal Pengabdian dan Proses Adaptasi Kegiatan KKM UIN Malang diawali dengan pelepasan resmi dari kampus sebagai simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan desa melalui silaturahmi bersama warga sekitar serta perangkat RT dan RW. Interaksi awal ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan keberadaan mahasiswa sekaligus memahami dinamika sosial dan kebiasaan masyarakat setempat.   Pemetaan Kebutuhan dan Kolaborasi Lokal   Dalam upaya merancang program kerja yang relevan, mahasiswa KKM 153 melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di desa. Salah satunya melalui kunjungan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk mendiskusikan kebutuhan sarana, jenis kegiatan literasi, serta peluang keberlanjutan program. Selain itu, mahasiswa juga menjalin komunikasi dengan Kepala Desa dan pengelola TPQ guna menyelaraskan program KKM dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan masyarakat.     Partisipasi dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan   Mahasiswa juga turut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti ngawulo (27/12/2025), pengajian rutin, serta interaksi bersama ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk membangun kedekatan emosional. Melalui partisipasi langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai lokal, pola interaksi sosial, serta aktivitas rutin warga.   Secara keseluruhan, pekan pertama KKM 153 diarahkan pada penguatan relasi dan pemahaman konteks sosial masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis masyarakat, di mana keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa untuk menyatu dan belajar dari lingkungan sekitar. Fondasi yang dibangun sejak awal diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program kerja yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.      

Thumbnail
2 months ago
Pengenalan Bullying Di Sekolah

RENA AL`RIZKI PERDANA

Pada era digital seperti sekarang, penggunaan teknologi dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak usia sekolah dasar. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 67 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan edukatif di SDN 4 Kaliasri, Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare dengan mengangkat tema cyber bullying. Tema ini dipilih karena masih banyak anak yang belum memahami bahaya perundungan di dunia digital. Cyber bullying merupakan tindakan perundungan yang dilakukan melalui media digital seperti media sosial, aplikasi pesan, maupun permainan online. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari mengejek teman lewat pesan singkat, memberikan komentar kasar di media sosial, menyebarkan foto tanpa izin, hingga mengucilkan seseorang dari grup online. Meskipun dilakukan secara tidak langsung, dampak dari cyber bullying bisa sangat besar bagi korban. Bagi anak-anak, cyber bullying dapat memengaruhi kondisi psikologis dan sosial mereka. Korban biasanya akan merasa malu, takut, cemas, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Hal ini tentu berdampak pada semangat belajar dan interaksi sosial mereka di sekolah maupun lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pemahaman mengenai cyber bullying perlu diberikan sejak dini agar anak-anak lebih waspada dan bijak dalam menggunakan teknologi. Melalui kegiatan KKM ini, mahasiswa KKM 67 memberikan edukasi kepada siswa SDN 4 Kaliasri mengenai pentingnya bersikap sopan dan saling menghargai di dunia digital. Anak-anak diajak untuk menggunakan media sosial secara bijak, tidak mudah membagikan informasi pribadi, serta berani melapor kepada guru atau orang tua apabila mengalami atau melihat tindakan cyber bullying. Selain cyber bullying, bullying di sekolah juga menjadi permasalahan serius yang sering terjadi dan perlu mendapat perhatian bersama. Bullying di sekolah dapat dibedakan menjadi tiga bentuk utama, yaitu bullying fisik, bullying verbal, dan bullying sosial. Ketiga bentuk ini kerap dialami oleh siswa dan sering kali terjadi tanpa disadari oleh lingkungan sekitar. Bullying fisik merupakan tindakan perundungan yang melibatkan kontak langsung dengan tubuh korban. Contohnya antara lain memukul, mendorong, menendang, mencubit, atau merusak barang milik teman. Meskipun terlihat jelas, bullying fisik sering dianggap sebagai kenakalan biasa, padahal dapat menyebabkan rasa sakit, trauma, dan ketakutan bagi korban. Bullying verbal adalah bentuk perundungan yang dilakukan melalui ucapan. Bentuknya bisa berupa mengejek, menghina, memanggil dengan julukan yang tidak pantas, mengancam, atau merendahkan teman di depan orang lain. Bullying verbal sering kali tidak terlihat secara fisik, namun dampaknya sangat besar karena dapat melukai perasaan, menurunkan rasa percaya diri, dan membuat korban merasa tidak dihargai. Sementara itu, bullying sosial merupakan tindakan perundungan yang bertujuan merusak hubungan sosial korban. Contohnya adalah mengucilkan teman dari pergaulan, menyebarkan gosip, memengaruhi teman lain agar tidak bergaul dengan korban, atau sengaja mengabaikan keberadaan seseorang. Bullying sosial dapat membuat korban merasa kesepian dan tidak diterima di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan KKM 67 UIN Malang di SDN 4 Kaliasri, mahasiswa memberikan pemahaman kepada siswa bahwa bullying fisik, verbal, maupun sosial merupakan perilaku yang tidak dibenarkan. Siswa diajak untuk saling menghormati, menghargai perbedaan, serta berani bersikap baik kepada sesama teman. Selain itu, siswa juga diimbau untuk segera melapor kepada guru apabila mengalami atau melihat tindakan bullying agar dapat ditangani dengan tepat. Dengan adanya edukasi ini, diharapkan lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh siswa, sehingga mereka dapat belajar dan berkembang tanpa rasa takut.

Thumbnail
2 months ago
KKM 153 ARCAPADA: Langkah Awal dengan Masyarakat Padi, Talangsuko Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "KKM 153 ARCAPADA: Langkah Awal dengan Masyarakat Padi, Talangsuko", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/kkmarcapada0803/69

YUSUF AGENG ARIWIBOWO

Awal Pengabdian dan Proses Adaptasi Kegiatan KKM UIN Malang diawali dengan pelepasan resmi dari kampus sebagai simbol dimulainya pengabdian mahasiswa di tengah masyarakat. Setelah itu, mahasiswa mulai beradaptasi dengan lingkungan desa melalui silaturahmi bersama warga sekitar serta perangkat RT dan RW. Interaksi awal ini menjadi langkah penting untuk memperkenalkan keberadaan mahasiswa sekaligus memahami dinamika sosial dan kebiasaan masyarakat setempat. Pemetaan Kebutuhan dan Kolaborasi Lokal Dalam upaya merancang program kerja yang relevan, mahasiswa KKM 153 melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di desa. Salah satunya melalui kunjungan ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk mendiskusikan kebutuhan sarana, jenis kegiatan literasi, serta peluang keberlanjutan program. Selain itu, mahasiswa juga menjalin komunikasi dengan Kepala Desa dan pengelola TPQ guna menyelaraskan program KKM dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan keagamaan masyarakat. Partisipasi dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan Mahasiswa juga turut terlibat dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Keikutsertaan dalam kegiatan seperti ngawulo (27/12/2025), pengajian rutin, serta interaksi bersama ibu-ibu menjadi sarana efektif untuk membangun kedekatan emosional. Melalui partisipasi langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai lokal, pola interaksi sosial, serta aktivitas rutin warga. Secara keseluruhan, pekan pertama KKM 153 diarahkan pada penguatan relasi dan pemahaman konteks sosial masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengabdian berbasis masyarakat, di mana keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh perencanaan, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa untuk menyatu dan belajar dari lingkungan sekitar. Fondasi yang dibangun sejak awal diharapkan mampu mendukung pelaksanaan program kerja yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi masyarakat desa.  

Thumbnail
2 months ago
Sosialisasi Bullying

SITI SOFIATUN NINGSIH

Sosialisasi Bullying di SDN 1 Poncokusum : Membangun Lingkungan Sekolah yang Aman dan Ramah Anak.  Bullying atau perundungan masih menjadi permasalahan yang sering terjadi di lingkungan sekolah, termasuk pada jenjang sekolah dasar. Bentuknya bisa berupa ejekan, penghinaan, pengucilan, ancaman, hingga kekerasan fisik. Tindakan ini sering dianggap sebagai hal biasa atau sekadar bercanda, padahal dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan anak dalam jangka panjang. Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan pendidikan yang sehat dan aman, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Bullying di SDN 1 Poncokusumo. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang apa itu bullying, jenis-jenisnya, dampaknya, serta bagaimana cara mencegah dan menghadapinya. Pentingnya Edukasi Sejak Dini Anak-anak sekolah dasar berada pada tahap perkembangan karakter dan emosi. Oleh karena itu, edukasi mengenai bullying perlu diberikan sejak dini agar mereka memahami batasan antara bercanda dan menyakiti orang lain. Dalam sosialisasi ini, dijelaskan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk:     1.    Bullying verbal, seperti mengejek, memanggil dengan sebutan yang tidak baik, atau menghina.     2.    Bullying fisik, seperti memukul, mendorong, atau merusak barang milik teman.     3.    Bullying sosial, seperti mengucilkan atau tidak mengajak bermain.

Thumbnail
2 months ago

AHMAD SAYYIDAN ARIL AQSHO

https://docs.google.com/document/d/1SE1NLuc1HCMAdEcAAD8m-wsJQKApnMJa00uXpW-u85c/edit?usp=drivesdk