FANI RAHMASARI
Kegiatan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dengan persiapan panitia. Seluruh anggota KKM 98 hadir lebih awal untuk menata tempat, menyiapkan perlengkapan seminar, serta memastikan kelancaran acara. Sebelum peserta hadir, panitia juga mengadakan briefing singkat guna menyamakan persepsi dan pembagian tugas agar acara berjalan sesuai dengan susunan yang telah direncanakan. Tepat pukul 09.00 WIB, acara seminar stunting resmi dibuka. Pembukaan berlangsung dengan khidmat dan disambut antusias oleh para peserta yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu Desa Mulyoarjo. Kehadiran mereka mencerminkan tingginya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan anak dan masa depan keluarga. Acara dilanjutkan dengan Beragam dari Kepala Desa Mulyoarjo. Dalam perayaannya, beliau menyampaikan penghargaan kepada mahasiswa KKM 98 atas inisiatif dan kontribusi nyata dalam membantu program kesehatan desa. Kepala desa juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah stunting melalui pola asuh dan menyediakan nutrisi yang baik. Setelah itu, Seremonial disampaikan oleh Ketua KKM 98 Muhammad Shohibul Fajar . Ketua KKM menyampaikan tujuan dilaksanakannya seminar stunting ini sebagai bagian dari program kerja KKM yang fokus pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga Desa Mulyoarjo. Memasuki acara inti, sesi pemaparan materi dibuka oleh pemateri utama, Ibu Eka Lestari. Dalam paparannya, beliau menjelaskan secara rinci mengenai pengertian stunting, faktor penyebab, dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, serta cara pencegahannya melalui asupan gizi seimbang dan perawatan kesehatan yang tepat. Materi yang disampaikan oleh Ibu Eka Lestari disambut dengan penuh perhatian oleh para peserta. Bahasa yang mudah dipahami serta contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat peserta semakin memahami pentingnya pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga usia balita. Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para ibu tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar pola makan anak, gizi ibu hamil, serta langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan di rumah. Sesi ini menjadi ruang interaktif yang sangat bermanfaat bagi peserta. Sebagai penutup materi, dilakukan sesi kesimpulan yang merangkum poin-poin penting dari seminar. Peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari, sehingga upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Acara kemudian ditutup dengan dokumentasi bersama antara panitia, pemateri, dan peserta seminar. Sebagai penghargaan, seluruh panitia KKM 98 juga membagikan souvenir kepada ibu-ibu yang telah menghadiri acara. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal yang bermakna dalam meningkatkan kesadaran masyarakat Desa Mulyoarjo terhadap pentingnya kesehatan anak dan pencegahan stunting.
HIMMATUL ALIYAH
Kesehatan mental anak usia sekolah dasar menadi perhatian penting dalam dunia pendidikan modern. Menyadari hal ini, kelompok 106 Dharmayatra menghadirkan inovasi sederhana namun bermakna melalui program pembuatan papan emosi di dua sekolag dasar di Srigading. Kelompok 106 Dharmayatra melaksanakan program kerja di Sekolah Dasar Negeri 01 Srigading dan Sekolah Dasar Negeri 03 Srigading dengan fokus pada pengembangan kecerdasan emosional siswa. Program yang dilaksanakan adalah pembuatan dan penerapan papan emosi di lingkungan sekolah. Papan emosi dirancang dengan dua tujuan utama yang saling berkaitan: Memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan emosi mereka secara sehat dan terbuka. Banyak anak usia sekolah dasar yang belum memiliki keterampilan verbal yang cukup untuk mengungkapkan perasaan mereka. Papan emosi menjadi media alternatif yang visual dan mudah dipahami. Menumbuhkan kepedulian terhadap kondisi emosional teman-teman sekelas. Dengan melihat papan emosi, siswa dapat lebih peka terhadap perasaan teman-teman mereka dan belajar berempati sejak dini. Papan emosi dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan oleh anak-anak sekolah dasar. Papan ini menampilkan empat emosi dasar yang mudah dikenali, yaitu senang, sedih, marah, dan takut. Setiap emosi digambarkan dengan karakter yang menarik dan ekspresif, sehingga anak-anak dapat dengan mudah mengidentifikasi perasaan mereka. Untuk memudahkan penggunaan, setiap siswa diberikan stick yang telah dihiasi dengan nama mereka masing-masing. Stick ini berfungsi sebagai penanda pribadi yang akan mereka tempatkan pada bagian emosi yang sesuai dengan perasaan mereka saat itu. Papan emosi dipasang di dalam kelas pada lokasi yang mudah dijangkau oleh seluruh siswa. Rutinitas penggunaan papan dimulai setiap pagi ketika anak-anak memasuki kelas. Mereka diajak untuk meluangkan waktu sejenak merenungkan perasaan mereka dan menempatkan stick nama mereka pada emosi yang sesuai. Yang menarik dari sistem ini adalah fleksibilitasnya. Anak-anak tidak hanya mengisi papan di pagi hari, tetapi juga dapat memindahkan stick mereka kapan saja sepanjang hari ketika mereka merasakan perubahan emosi. Hal ini mengajarkan kepada mereka bahwa emosi adalah sesuatu yang dinamis dan wajar untuk berubah. Kehadiran papan emosi di kelas memberikan berbagai manfaat bagi ekosistem pembelajaran: Bagi siswa, papan emosi menjadi sarana untuk belajar mengenali dan menamai emosi mereka sendiri, keterampilan yang sangat penting untuk perkembangan emosional. Mereka juga belajar bahwa semua emosi adalah valid dan boleh dirasakan. Lebih dari itu, dengan melihat papan emosi, mereka dapat mengembangkan kepekaan sosial dan empati terhadap teman-teman mereka yang mungkin sedang mengalami emosi yang berbeda. Bagi guru, papan emosi menjadi alat bantu yang efektif untuk memahami kondisi emosional siswa di kelas. Dengan sekilas melihat papan, guru dapat mengidentifikasi siswa yang mungkin memerlukan perhatian khusus atau dukungan tambahan. Informasi ini sangat berharga untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih responsif terhadap kebutuhan emosional siswa. Program pembuatan papan emosi oleh Kelompok 106 Dharmayatra di SDN 1 Srigading dan SDN 3 Srigading merupakan langkah konkret dalam membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sejak usia dini. Melalui alat sederhana namun efektif ini, diharapkan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan kepedulian sosial yang tinggi. Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan kesehatan mental dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.
SINTIA KRISNAWATI
Permasalahan pengelolaan sampah masih menjadi isu utama di wilayah pedesaan, khususnya pada desa yang belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Kelompok 70 “Nirmalasara” melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai salah satu solusi alternatif dalam pengelolaan sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa insinerator yang dibangun dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga dan mendapat respons positif dari masyarakat desa. Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang hingga saat ini belum sepenuhnya tertangani, terutama di wilayah pedesaan. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, seperti tidak tersedianya Tempat Pembuangan Akhir (TPA), menyebabkan masyarakat cenderung membuang sampah secara sembarangan atau melakukan pembakaran terbuka. Praktik tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat. Guna menghadapi permasalahan di atas, Desa Plandi, tepatnya Dusun Pandan Ploso, merupakan lokasi pelaksanaan KKM Kelompok 70 “Nirmalasara”. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan perangkat desa serta masyarakat setempat, pengelolaan sampah menjadi salah satu permasalahan utama yang membutuhkan penanganan. Oleh karena itu, Kelompok 70 “Nirmalasara” merancang dan melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai upaya pengelolaan sampah yang sederhana, efektif, dan sesuai dengan kondisi desa. Kegiatan pembuatan insinerator ini bertujuan untuk: 1. Menyediakan sarana pengelolaan sampah bagi masyarakat desa. 2. Mengurangi volume sampah yang tidak terkelola akibat ketiadaan TPA. 3. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan kelestarian lingkungan. 4. Mendukung terciptanya lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan pembuatan insinerator dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut. Observasi dan Identifikasi Masalah Kelompok melakukan observasi langsung terhadap kondisi lingkungan desa serta melakukan wawancara singkat dengan perangkat desa dan masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. Perencanaan Program Berdasarkan hasil observasi, kelompok menyusun perencanaan program kerja yang meliputi desain insinerator, pemilihan bahan, serta penentuan lokasi pembangunan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kemudahan penggunaan. Pelaksanaan Pembuatan Insinerator Pembuatan insinerator dilaksanakan secara gotong royong oleh anggota Kelompok 70 “Nirmalasara” dengan melibatkan masyarakat setempat. Proses ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun. Sosialisasi kepada Masyarakat Setelah insinerator selesai dibuat, dilakukan peresmian sekaligus sosialisasi kepada masyarakat mengenai fungsi, cara penggunaan, serta perawatan insinerator agar dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan. Hasil dari kegiatan ini adalah terbangunnya satu unit insinerator yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga di desa. Insinerator tersebut mampu mengurangi volume sampah dan membantu mengatasi permasalahan penumpukan sampah yang sebelumnya terjadi akibat ketiadaan TPA. Partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan menunjukkan antusiasme dan respons yang positif. Masyarakat mulai memahami pentingnya pengelolaan sampah yang baik serta dampaknya terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya menghasilkan sarana fisik, tetapi juga memberikan dampak edukatif bagi masyarakat desa. Program kerja pembuatan insinerator yang dilaksanakan oleh Kelompok 70 KKM “Nirmalasara” merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Keberadaan insinerator dapat menjadi solusi alternatif dalam pengelolaan sampah di desa yang belum memiliki TPA. Selain itu, kegiatan ini turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Diharapkan pemerintah desa dan masyarakat setempat dapat menjaga, merawat, serta memanfaatkan insinerator yang telah dibangun secara optimal. Selain itu, diperlukan program lanjutan berupa edukasi pemilahan sampah agar pengelolaan sampah di desa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
AHMAD NIZAR HARIRI
Lomba Pidato Cilik Tutup Rangkaian Lomba Isra Miraj di Desa Kelompanggubug Pada Kamis, 15 Januari 2026, mahasiswa KKM UIN Malang bersama panitia PHBI Desa Kelompanggubug melaksanakan lomba terakhir dalam rangkaian kegiatan Isra Miraj, yaitu lomba pidato cilik. Kegiatan ini digelar setelah salat Isya, tepat pukul 19.00 WIB, dan menjadi penutup dari seluruh rangkaian perlombaan yang telah dilaksanakan sejak awal Januari. Lomba pidato cilik diikuti oleh 10 peserta anak-anak Desa Kelompanggubug. Meski jumlah peserta tidak terlalu banyak, kualitas penampilan yang ditampilkan justru di luar ekspektasi panitia. Anak-anak tampil dengan persiapan yang matang, hafalan yang lancar, serta keberanian yang patut diapresiasi Tema pidato yang dibawakan berkaitan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Setiap peserta menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna. Yang paling mencuri perhatian adalah tingkat kepercayaan diri para peserta. Mereka mampu berdiri di hadapan audiens tanpa ragu, menyampaikan pidato dengan suara lantang dan ekspresi yang meyakinkan. Bagi mahasiswa KKM, lomba ini menjadi bukti bahwa potensi anak-anak Desa Kelompanggubug sangat luar biasa. Dengan pembinaan dan ruang berekspresi yang tepat, anak-anak desa mampu menunjukkan kemampuan public speaking yang tidak kalah dengan anak-anak di wilayah perkotaan. Lomba pidato cilik ini sekaligus menjadi penutup rangkaian lomba Isra Miraj yang sarat nilai edukatif. Kegiatan tersebut tidak hanya melatih keberanian dan kemampuan berbicara anak-anak, tetapi juga memperkuat kecintaan mereka terhadap nilai-nilai keislaman. Rangkaian lomba pun ditutup dengan rasa bangga, haru, dan optimisme akan masa depan generasi muda Desa Kelompanggubug
KHILQOTUL GHONIYAH
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Unggulan Fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan keilmuan psikologi secara langsung di tengah masyarakat. Salah satu program unggulan yang dilaksanakan adalah konseling sebaya di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2, Tambakberas, Jombang. Program ini hadir sebagai upaya mahasiswa KKM untuk menyediakan ruang aman, nyaman, dan mudah diakses bagi para santri yang ingin berbagi cerita, keluh kesah, maupun permasalahan pribadi yang mereka alami selama menjalani kehidupan di pesantren. Konseling Sebaya sebagai Bentuk Pendampingan Psikologis Konseling sebaya merupakan layanan pendampingan psikologis yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai konselor sebaya. Dalam prosesnya, mahasiswa berperan sebagai pendengar yang empatik, tidak menghakimi, serta berupaya membantu santri memahami permasalahan yang sedang dihadapi. Melalui pendekatan ini, santri diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya secara terbuka tanpa rasa takut atau cemas. Mahasiswa KKM berupaya menciptakan suasana konseling yang aman dan suportif, sehingga santri merasa dihargai dan dipahami. Hal ini menjadi poin penting dalam proses konseling, mengingat tidak semua santri memiliki ruang yang cukup untuk menyalurkan emosi dan kebingungan yang mereka rasakan. Latar Belakang Pelaksanaan Program Pelaksanaan konseling sebaya dilatarbelakangi oleh kebutuhan santri akan dukungan emosional. Dalam keseharian, santri dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik, dinamika pertemanan, hingga persoalan personal dan keluarga. Namun, tidak semua santri memiliki tempat yang memadai untuk mengekspresikan perasaan dan permasalahan tersebut. Selain itu, latar belakang program ini juga diperkuat oleh hasil kegiatan Sharing Session yang sebelumnya telah dilaksanakan oleh mahasiswa KKM. Dari kegiatan tersebut, ditemukan bahwa banyak santri mengalami kebingungan terkait masa depan, seperti perencanaan pendidikan lanjutan, pilihan jurusan, dunia perkuliahan, hingga arah karier. Temuan ini menunjukkan urgensi menghadirkan layanan pendampingan yang lebih personal dan berkelanjutan, yang kemudian diwujudkan melalui program konseling sebaya. Teknis Pelaksanaan Konseling Sebaya Program konseling sebaya dilaksanakan selama tiga pekan, yaitu mulai tanggal 8 hingga 26 Januari 2026. Pelaksanaan dilakukan di dua lokasi, yakni Pondok Pesantren An-Najiyah 2 untuk santri putra dan Pondok Pesantren Putri Ummu Zainab An-Najiyah 2 untuk santri putri. Pembagian lokasi ini bertujuan agar seluruh santri memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan konseling. Menyesuaikan dengan padatnya jadwal kegiatan pesantren, layanan konseling dilaksanakan secara terjadwal sebanyak dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin malam dan Kamis malam. Untuk santri putra, konseling dilaksanakan pada pukul 21.00–23.00, sedangkan santri putri dijadwalkan pada pukul 20.00–22.00. Setiap sesi konseling dilayani oleh tiga konselor sebaya. Durasi setiap sesi konseling maksimal berlangsung selama 60 menit untuk setiap klien. Apabila sesi selesai sebelum batas waktu tersebut, konselor dapat melanjutkan sesi dengan klien berikutnya. Pengaturan durasi yang fleksibel ini memungkinkan layanan konseling menjangkau lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas pendampingan. Respons dan Permasalahan yang Ditemukan Pelaksanaan konseling sebaya mendapatkan respons yang sangat positif dari para santri. Antusiasme terlihat dari tingginya minat santri dalam mengakses layanan konseling. Selama periode pelaksanaan, tercatat kurang lebih 70 santri yang secara aktif memanfaatkan layanan konseling sebaya. Berdasarkan hasil pendampingan, permasalahan yang paling banyak muncul berkaitan dengan aspek akademik dan perencanaan karier masa depan. Dalam banyak kasus, persoalan tersebut juga berkaitan erat dengan dinamika keluarga. Beberapa santri mengungkapkan kebingungan dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan serta menghadapi tuntutan dan harapan keluarga yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi. Selain itu, konflik pertemanan dan proses pencarian jati diri juga menjadi permasalahan yang cukup sering dibahas dalam sesi konseling. Hal ini menunjukkan bahwa santri berada pada fase perkembangan yang penuh dengan tantangan dan membutuhkan dukungan psikologis yang memadai. Melalui konseling sebaya, santri mendapatkan ruang untuk memahami permasalahan yang dialami, mengekspresikan perasaan, serta mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih tepat dalam menyikapi berbagai persoalan tersebut. Harapan Keberlanjutan Program Melalui pelaksanaan program konseling sebaya ini, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Psikologi UIN Malang berharap layanan serupa dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan di lingkungan pesantren. Konseling sebaya diharapkan menjadi ruang berkelanjutan bagi santri untuk berbagi cerita dan mengelola permasalahan, khususnya yang berkaitan dengan aspek akademik, perencanaan masa depan, serta dinamika sosial dan keluarga. Selain itu, mahasiswa KKM juga berharap kerja sama antara pihak pesantren dan perguruan tinggi dapat terus terjalin, terutama dalam menghadirkan program-program yang berfokus pada kesehatan mental santri. Dengan dukungan berbagai pihak, konseling sebaya diharapkan tidak hanya berhenti pada masa KKM, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pesantren yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis santri.
DINDA NOVRIKA FITRIA YUSUP
Dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi dengan masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) turut berpartisipasi dalam kegiatan pengajian rutin yang dilaksanakan di Desa Poncokusumo. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh masyarakat setempat dari berbagai kalangan. Pengajian rutin tersebut merupakan agenda keagamaan yang secara konsisten dilaksanakan oleh warga desa sebagai sarana memperdalam ilmu agama serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam kesempatan ini, mahasiswa KKM tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga turut membantu jalannya kegiatan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan acara. Partisipasi mahasiswa KKM dalam pengajian rutin ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat memberikan energi baru serta memperkuat sinergi antara generasi muda dan masyarakat dalam menjaga kegiatan keagamaan di desa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berharap dapat terus berkontribusi secara aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, sekaligus belajar langsung dari masyarakat tentang nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kehidupan bermasyarakat.