Thumbnail
2 months ago
Sosialisasi Mahasiswa KKM ESHORA 177 UIN Malang. Tips Kunci Anak Hebat dari Pola Asuh Tepat

MAHFUDZ ALI MURTADLA

SUKOMULYO, Pujon – Dalam upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak di tingkat keluarga, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar serangkaian sosialisasi parenting di Dusun Gumul, Desa Sukomulyo. Kegiatan yang mengusung tema “Parenting: Peran Pola Asuh” ini diselenggarakan dalam dua sesi terpisah, yakni pada 9 dan 14 Januari 2026.   Kelompok KKM Eshora, yang bertugas di daerah tersebut, memilih lokasi strategis yang banyak dikunjungi orang tua. Sosialisasi pertama dilaksanakan di TPQ Lailatul Qadr pada 9 Januari, menyasar wali murid taman pendidikan Al-Qur’an. Kelanjutan program digelar di Posyandu setempat yang berlokasi di kediaman Ibu Nikita selaku Kepala Dusun Gumul, pada 14 Januari.   “Tujuan utama kegiatan ini adalah mengedukasi para orang tua, baik yang anaknya aktif di TPQ maupun yang rutin ke Posyandu, tentang pentingnya pola asuh yang tepat dan berkesinambungan. Kami percaya fondasi keluarga yang kuat dimulai dari pemahaman pengasuhan yang baik,” jelas perwakilan kelompok KKM Eshora.   Materi sosialisasi disampaikan secara interaktif oleh Kholid Mawardi, salah satu anggota kelompok yang merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi UIN Malang. Dengan memanfaatkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, Kholid membagikan wawasan praktis seputar teknik komunikasi dengan anak, pendampingan sesuai usia, serta pentingnya dukungan emosional dalam proses tumbuh kembang. “Harapannya, melalui pemahaman ini, anak-anak di Dusun Gumul dapat menerima pola asuh yang cukup dan tepat dari orang tuanya. Dukungan yang baik dari keluarga adalah modal utama membentuk generasi yang sehat secara fisik, emosional, dan spiritual,” papar Kholid dalam penyampaian materinya.   Antusiasme warga terlihat tinggi selama sosialisasi berlangsung. Banyak orang tua yang aktif bertanya dan berbagi pengalaman, menandakan kesadaran akan pentingnya topik ini. Ibu Nikita, selaku tuan rumah, mengapresiasi inisiatif mahasiswa.   Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pengabdian masyarakat yang dijalankan kelompok KKM Eshora selama penempatannya di Desa Sukomulyo. Diharapkan, edukasi semacam ini dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, dimulai dari lingkungan keluarga.

Thumbnail
2 months ago
KKM FAKULTATIF FAKULTAS PSIKOLOGI UIN MALANG

M. ADLA MUDAFI

MALANG– Kelompok KKM AKSARA 255 unggulan fakultatif Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang resmi diberangkatkan menuju Kabupaten Jombang pada Kamis, 01 Januari 2025, Pukul 10.00 WIB. Pemberangkatan ini menandai dimulainya pelaksanaan pengabdian mahasiswa di lingkungan pesantren dengan fokus program unggulan psikososial pesantren.   KKM AKSARA 255 merupakan kelompok unggulan yang dirancang untuk mengintegrasikan keilmuan psikologi dengan praktik pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan khususnya pesantren Tebuireng Jombang. Selama pelaksanaan KKM, mahasiswa akan menjalankan berbagai program pendampingan yang berorientasi pada penguatan kesehatan mental, emosional, dan sosial santri.   Adapun koordinator KKM AKSARA 255 Unggulan Fakultas Psikologi, Bapak Muhammad Arif Furqon, M.Psi., Psikolog menyampaikan sebelumnya bahwa keberangkatan mahasiswa ke Jombang merupakan wujud komitmen Fakultas Psikologi UIN Malang dalam menghadirkan pengabdian yang kontekstual dan berbasis kebutuhan masyarakat. “Lingkungan pesantren memiliki dinamika yang khas. Melalui pendekatan psikososial, mahasiswa diharapkan mampu menjadi mitra pesantren dalam mendukung pembinaan santri secara holistik,” ujarnya.   Sebelum pemberangkatan mahasiswa KKM AKSARA 255 telah melalui berbagai tahapan persiapan, mulai dari koordinasi internal, pemetaan kebutuhan selama KKM, persiapan transportasi menuju pesantren, hingga pematangan program kerja unggulan. Program yang akan dilaksanakan meliputi penguatan karakter santri, pengelolaan emosi, peningkatan kepercayaan diri, serta pengembangan keterampilan sosial melalui pendekatan edukatif dan partisipatif yang selaras dengan kultur pesantren.   Salah satu anggota KKM AKSARA 255 yang sekaligus menjadi Ketua kelompok mengungkapkan bahwa kegiatan KKM ini tidak hanya menjadi kewajiban akademik, akan tetapi juga sarana pembelajaran langsung di masyarakat. “Kami berharap program yang dijalankan dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi santri dan lingkungan pesantren,” ujarnya.   Ditambah lagi, setibanya di Jombang Kehadiran mahasiswa disambut baik dengan warga sekitar Tebuireng, dengan diharapkan dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam menciptakan lingkungan pembinaan santri yang sehat secara mental, sosial, dan spiritual kalau bisa juga di Desa nya.    Oleh karena itu, dengan resmi diberangkatkannya KKM AKSARA 255 ke Jombang, Fakultas Psikologi UIN Malang optimistis mahasiswa mampu menjalankan peran sebagai agen perubahan melalui pengabdian yang humanis, aplikatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. #Jombang #KKM #UIN MALANG #LP2M

Thumbnail
2 months ago
Day Two KKM : DMI Luncurkan "Family Corner", Transformasi Masjid Jadi Pusat Pembinaan Keluarga

MAHFUD ALI

Malang - Dewan Masjid Indonesia (DMI) mendorong masjid-masjid di Tanah Air untuk naik kelas, dalam era di mana tantangan keluarga semakin kompleks, keberadaan masjid sebagai pusat spiritual kini mulai mengalami transformasi yang signifikan. Salah satu inovasi yang tengah naik daun adalah konsep Family Corner, sebuah wadah yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat edukasi, pendampingan, dan penguatan keluarga berbasis nilai-nilai agama, psikologi, dan sosial.   "Family Corner adalah upaya menjadikan masjid bukan cuma tempat shalat, tapi community hub yang memanusiakan dan membina keluarga", ujar pengurus DMI, menggambarkan visi program tersebut. Program ini dirancang dengan empat fungsi utama. Memperkuat Fungsi Edukatif Family Corner berperan sebagai ruang literasi keluarga modern. Melalui berbagai kegiatan seperti kelas parenting Islami, edukasi pernikahan, komunikasi suami-istri, serta pengasuhan anak dan kesehatan mental keluarga, program ini menawarkan pendekatan yang interaktif dan aplikatif. Tidak lagi ceramah satu arah, melainkan diskusi terbuka, pelatihan praktis, serta sharing pengalaman langsung dari para ahli dan praktisi. Target utamanya adalah agar keluarga memahami perannya secara konkret dan mampu menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari bukan sekadar niat baik tanpa arahan jelas. Fungsi Preventif dan Kuratif Psikososial Selain aspek edukatif, Family Corner juga memiliki fungsi preventif dan kuratif psikososial yang penting namun sering terlupakan. Tempat ini menjadi ruang aman (safe space) bagi keluarga yang menghadapi masalah seperti konflik rumah tangga, pola asuh bermasalah, stres ekonomi, hingga isu remaja seperti kenakalan dan kecanduan gawai. Dengan kehadiran konselor terlatih maupun relawan komunitas, masalah tidak menunggu menjadi viral atau parah dulu untuk ditangani. Pendekatan early detection dan early action menjadi kunci dalam menjaga stabilitas psikologis keluarga secara komunitas. Menanamkan Nilai Spiritual Secara Kontekstual Penguatan nilai keislaman menjadi fondasi utama dalam Family Corner. Namun bukan sekadar mengajarkan dalil normatif saja, melainkan mengintegrasikan nilai tersebut dalam praktik kehidupan sehari-hari dapur, ruang tamu, bahkan grup WhatsApp keluarga. Misalnya melalui adab komunikasi pasangan yang santun atau peran ayah dalam pengasuhan anak. Spirit utamanya adalah bahwa agama harus hidup dan dirasakan langsung oleh setiap anggota keluarga sebagai bagian dari pengalaman nyata mereka. Menguatkan Jaringan Sosial dan Komunitas Dalam kerangka membangun ekosistem sosial yang saling mendukung, Family Corner menghubungkan keluarga dengan keluarga lain melalui komunitas ayah, ibu, remaja masjid hingga kolaborasi dengan instansi pemerintah maupun lembaga sosial seperti UPZ dan BKKBN. Hal ini membuat keluarga tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi saling menguatkan satu sama lain sebuah bentuk pembangunan jejaring sosial yang kokoh. “Ini adalah intervensi sosial berbasis masjid. Negara punya program, tapi masjid punya kedekatan emosional. Family Corner hadir menjawab problem nyata: angka perceraian, kompleksitas pengasuhan, dan tekanan kesehatan mental keluarga,” jelasnya. Secara lebih mendalam, keberadaan Family Corner merupakan bentuk intervensi sosial berbasis masjid yang menjawab berbagai problem nyata bangsa Indonesia saat ini: meningkatnya angka perceraian, kompleksitas pola asuh anak-anak muda zaman now, tekanan kesehatan mental keluarga serta melemahnya fungsi kekeluargaan. Meski negara memiliki program-program nasional terkait pembangunan keluarga berencana atau kesehatan mental, kedekatan emosional masjid tetap menjadi kekuatan unik di masyarakat. Di sinilah peran game changer dari Family Corner muncul menjadi jembatan antara ajaran agama dan realitas sosial umat. Implementasinya dapat bersifat fleksibel. Kegiatan Family Corner dapat disusun dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan komunitas: ruang fisik di masjid yang nyaman; program rutin mingguan maupun bulanan; layanan konsultasi terjadwal; pojok baca keluarga lengkap dengan bahan edukasi; bahkan versi digital seperti grup WhatsApp maupun webinar serta hotline khusus. Yang terpenting adalah substansi program tetap dijalankan secara konsisten agar memberi dampak nyata. Ringkasnya, Family Corner adalah strategi DMI untuk memanusiakan masjid dengan menjadikan keluarga sebagai pusat peradaban umat. Melalui pendekatan holistik ini edukasi berbasis agama dan psikologi serta penguatan jejaring sosial masjid tidak lagi sekadar tempat beribadah ritual semata tetapi telah berubah menjadi pusat pembinaan manusia seutuhnya. Dengan transformasi ini, diharapkan masyarakat Indonesia mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus memperkuat fondasi keluarga sakinah mawaddah warahmah sebagai pilar utama bangsa.  

Thumbnail
2 months ago
Pelaksanaan Senam Kelompok KKM 81 Abhinaya Bhakti bersama Warga Desa Ngadilangkung sebagai Upaya Meraih Kesehatan Jasmani

ALVA SOLLA NABIA

Mahasiswa KKM Abhinaya Bhakti melaksanakan kegiatan senam bersama warga Desa Ngadilangkung di Balai Desa Ngadilangkung pada Selasa, 30 Desember 2025. Hal ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh mahasiswa KKM guna mencapai kesehatan jasmani dan juga pendekatan kepada warga setempat. Program senam ini nantinya akan dilaksanakan secara berkala setiap hari Ahad bersama warga desa hingga tanggal 1 Februari mendatang.    Senam ini dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB. Program ini mendapatkan respons yang sangat baik dari mahasiswa KKM karena senam di pagi hari dinilai dapat meningkatkan produktivitas di hari tersebut. Selain mahasiswa KKM, warga desa pun turut antusias dalam menghadiri senam ini terutama kalangan ibu-ibu yang ingin tetap bugar di tengah kesehariannya yang sibuk mengurus rumah tangga ataupun aktivitas lainnya.   Pelaksanaan program senam ini diharapkan dapat membentuk karakter warga desa serta mahasiswa KKM yang disiplin, enerjik, dan peduli terhadap kesehatan jasmani.

Thumbnail
2 months ago

NURUL ISNAINIA

Kegiatan diawali dengan Pembukaan KKM yang khidmat, yang menjadi tonggak komitmen mahasiswa untuk turut serta dalam pembangunan desa. Sebagai langkah awal membangun kedekatan dan pemahaman, mahasiswa langsung melaksanakan sensus penduduk secara door to door. Metode ini dipilih bukan hanya untuk memperoleh data yang akurat, tetapi lebih penting untuk menjalin kontak personal dengan setiap keluarga. Dari obrolan di teras rumah dan pintu ke pintu, mahasiswa mendengarkan cerita, kebutuhan, dan aspirasi warga secara langsung, sehingga program kerja yang dirancang dapat benar-benar menyentuh akar persoalan dan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Dua program utama yang menjadi fokus dengan pendekatan berkelanjutan adalah sosialisasi Family Corner dan UPZ (Unit Pengumpul Zakat). Family Corner diperkenalkan untuk mendorong terciptanya budaya literasi di dalam rumah, menjadikan sudut baca sebagai pusat pembelajaran keluarga yang dapat memperkuat ikatan dan pengetahuan bersama. Sementara sosialisasi UPZ bertujuan meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan zakat yang modern dan akuntabel, sehingga potensi ekonomi umat dapat terkumpul dan didistribusikan secara lebih efektif untuk kesejahteraan bersama, sekaligus memberdayakan masyarakat dalam jangka panjang. Di ranah pendidikan, semangat belajar anak-anak semakin menyala dengan kehadiran mahasiswa KKM yang mengajar di TK dan SD setempat. Dengan metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, mereka membantu mengisi kekosongan tenaga pendidik dan menyuntikkan energi baru dalam suasana kelas, menciptakan pengalaman belajar yang lebih hidup dan interaktif bagi para siswa. Tidak berhenti pada program struktural, mahasiswa KKM juga larut dalam irama kegiatan rutin masyarakat yang kaya akan nilai spiritual dan kebersamaan. Mereka aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang menjadi penyeimbang jiwa dan raga warga. Setiap pagi usai shalat Subuh, diramaikan dengan pembacaan Surat Al-Waqi’ah bersama. Kegiatan keagamaan lain seperti Ratibul Haddad, pengajian kitab, serta sholawatan rutin turut dihidupkan untuk memperdalam ketakwaan dan menjaga tradisi keilmuan agama. Untuk menjaga kesehatan jasmani, senam bersama digelar secara berkala, menjadi ajang silaturahmi dan kebugaran bagi segala usia. Selain itu, ada juga ruang khusus bagi pemberdayaan perempuan melalui Muslimatan yang diikuti ibu-ibu, serta kegiatan sosial seperti “Jumat Berkah” yang penuh dengan semangat berbagi dan kepedulian sosial. Kegiatan mengaji bersama juga menjadi salah satu rutinitas yang memperkaya batin dan memperkuat fondasi agama generasi muda. Melalui integrasi yang erat dan pendekatan yang humanis ini, mahasiswa KKM tidak sekadar menjalankan tugas pengabdian, tetapi telah menjadi bagian dari komunitas yang belajar, berbagi, dan tumbuh bersama. Mereka hadir sebagai sahabat, pendengar, dan mitra bagi warga Desa Bioro. Diharapkan, setiap kegiatan yang telah dirancang dan dijalankan bersama ini dapat meninggalkan jejak yang dalam membangun fondasi yang kuat untuk kemandirian dan kemajuan desa dan masjid, serta menanamkan nilai-nilai yang terus bersemi bahkan setelah masa KKM berakhir

Thumbnail
2 months ago
Tak Sekadar Tamu, Mahasiswa KKM 157 UIN Malang Jadi Keluarga Baru di Masjid Baiturrahman

VIOLA AGATHA SALSABILLA

Di sudut Kecamatan Pujon, tepatnya di Masjid Baiturrahman, para mahasiswa/i KKM 157 Decapropub UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sedang mencoba merajut kembali hubungan yang lebih erat dengan warga sekitar. Kita tahu bahwa di zaman sekarang, gadget seringkali membuat anak muda lebih asyik dengan dunianya sendiri. Dampaknya, masjid pun seringkali hanya dipandang secara sempit sebagai tempat menjalankan salat lima waktu saja, kehilangan fungsi sosialnya sebagai ruang kumpul warga. Fenomena ini menarik untuk dilihat melalui kacamata sosiologi. Apa yang sedang diupayakan oleh mahasiswa/i ini sebenarnya adalah menghidupkan kembali masjid sebagai "The Third Place". Menurut teori sosiolog Ray Oldenburg, “manusia butuh ruang ketiga di luar rumah dan tempat kerja/kampus untuk berinteraksi secara netral dan santai.” Melalui kegiatan ini para mahasiswa/i berharap, masjid dapat bertransformasi menjadi wadah pengembangan modal sosial, di mana interaksi saat mengaji bersama menciptakan rasa saling percaya dan memperkuat jaringan persaudaraan antar-generasi di masyarakat, serta suasana masjid masih tetap terasa hidup walau tidak di saat waktu-waktu ibadah sholat berjamaah. Sebagai langkah nyata, tim KKM 157 menginisiasi kegiatan khataman Al-Quran dengan target pembacaan 2 juz setiap harinya. Gerakan ini dimulai sejak Selasa, 6 Januari 2026. Namun, sebelum program ini berjalan, para mahasiswa tetap mengedepankan etika bertetangga dengan melakukan tradisi sowan (berkunjung) ke kediaman pengurus masjid. Langkah ini dilakukan untuk memohon restu sekaligus menjelaskan konsep kegiatan secara terbuka, agar kolaborasi antara mahasiswa dan pengurus masjid dapat berjalan selaras dan penuh keakraban. Berbaur dalam Hangatnya Kebersamaan Warga. Kehadiran mahasiswa KKM 157 di Masjid Baiturrahman disambut dengan tangan terbuka. Para pengurus masjid tidak sekadar membiarkan mahasiswa menjalankan programnya sendiri, tetapi justru mengajak mereka untuk menyelam lebih dalam ke pusat kehidupan sosial warga. Mahasiswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan rutin, seperti pengajian (ta’lim), khataman setiap Kamis Kliwon, hingga doa bersama atau tahlil kubro. Tak hanya urusan ibadah, para mahasiswa juga ikut bahu-membahu membantu proses pembangunan dan pelebaran masjid. Keterlibatan aktif ini menunjukkan adanya Solidaritas Organik, sebuah teori dari sosiolog Émile Durkheim. Dalam teori ini, masyarakat tetap bersatu karena adanya kerja sama yang nyata dalam berbagai peran yang berbeda. Dengan membantu pembangunan fisik dan mengikuti tradisi lokal, mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai "tamu jauh", melainkan bagian dari organ masyarakat yang saling melengkapi. Inilah cara paling efektif untuk membangun Modal Sosial, di mana rasa saling percaya antara pemuda dan orang tua lahir secara alami melalui aksi nyata di lapangan. Menghidupkan Suasana dari Maghrib hingga Isya’ Salah satu momen paling berkesan adalah ketika waktu beranjak dari Maghrib menuju Isya’. Jika biasanya jeda waktu tersebut hanya diisi dengan keheningan, kini suasana Masjid Baiturrahman terasa jauh lebih semarak. Para mahasiswa mengisi waktu luang tersebut dengan melantunkan ayat suci Al-Quran sembari menunggu waktu salat berikutnya. Bahkan, beberapa mahasiswa dipercaya untuk mengumandangkan azan (menjadi muazin), yang menambah kekhidmatan suasana masjid. Perubahan suasana ini mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari warga maupun pengurus masjid. Mereka mengungkapkan rasa syukur karena kehadiran mahasiswa membuat masjid tidak lagi terasa sepi. Kegiatan khataman dan lantunan Quran yang konsisten setiap hari memberikan energi positif dan "ruh" baru bagi lingkungan sekitar. Dalam sosiologi, hal ini disebut sebagai Interaksi Simbolik. Melalui simbol-simbol keagamaan (seperti suara azan dan mengaji), terjadi interaksi yang memberikan makna baru bagi masyarakat: bahwa masjid adalah pusat kehangatan dan kebersamaan. Respons positif warga menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa berhasil meruntuhkan dinding pembatas antara kaum akademisi dengan masyarakat umum, menciptakan harmoni yang indah melalui kegiatan keagamaan. Kerja Bakti Renovasi Masjid: Ibadah dalam Wujud Tindakan Sosial Selain kegiatan yang bersifat ritual dan spiritual, mahasiswa KKM 157 juga terlibat langsung dalam kerja bakti renovasi Masjid Baiturrahman. Kegiatan ini mencakup pembersihan area masjid, pengangkutan material bangunan, hingga membantu proses pelebaran dan perbaikan area wudhu jamaah putri. Meski tampak sederhana, keterlibatan mahasiswa dalam kerja fisik ini memiliki makna sosial yang mendalam. Dalam perspektif sosiologi agama, kerja bakti renovasi masjid dapat dipahami sebagai bentuk ibadah sosial, yakni pengamalan nilai-nilai keagamaan yang diwujudkan melalui aksi nyata untuk kemaslahatan bersama. Masjid tidak hanya dirawat sebagai bangunan suci, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong warga. Kehadiran mahasiswa yang turut memanggul pasir dan membersihkan area masjid mempertegas bahwa pengabdian tidak selalu harus disampaikan lewat mimbar, tetapi juga melalui tangan yang bekerja. Melalui kerja bakti ini, batas antara “mahasiswa” dan “warga” semakin memudar. Percakapan ringan di sela-sela kegiatan, tawa yang tercipta di tengah kelelahan, serta makan bersama setelah kerja bakti menjadi ruang interaksi yang mempererat ikatan emosional. Inilah praktik nyata dari nilai ukhuwah islamiyah yang hidup, bukan sekadar konsep normatif. Menanam Jejak, Bukan Sekadar Program Rangkaian kegiatan khotmil Al-Quran, tahlilan, dan kerja bakti renovasi masjid yang diinisiasi mahasiswa KKM 157 menunjukkan bahwa program keagamaan dapat menjadi medium strategis untuk membangun relasi sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Kegiatan ini tidak berhenti pada keberhasilan acara semata, tetapi meninggalkan jejak berupa kebiasaan, suasana, dan kesadaran kolektif akan pentingnya masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat. Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi ruang belajar sosial yang tidak ternilai—belajar tentang adab bermasyarakat, kearifan lokal, serta cara membangun kepercayaan melalui kehadiran yang konsisten. Sementara bagi warga, kehadiran mahasiswa menghadirkan energi baru yang menyegarkan, sekaligus membuka ruang dialog lintas generasi. Dengan demikian, KKM tidak lagi dimaknai sebagai program sementara yang datang dan pergi, melainkan sebagai proses saling belajar dan bertumbuh bersama. Masjid Baiturrahman menjadi saksi bahwa ketika nilai keagamaan dipadukan dengan kepedulian sosial, maka yang terbangun bukan hanya aktivitas ibadah, tetapi juga rasa memiliki dan kebersamaan yang mendalam.