FIKHA AZZAH DINAH ULFAH
Penutupan kegiatan mengajar oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) berlangsung di lapangan SDN 1 Ngadas pada Senin, (20/1). Acara ini dihadiri oleh para guru, siswa, serta anggota kelompok 8 KKM UIN Malang, yang sekaligus menandai berakhirnya program pengabdian selama dua minggu. Momen ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi yang berkelanjutan antara UIN Malang dan SDN 1 Ngadas. Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan serta pemberian kenang-kenangan simbolis dari mahasiswa KKM kepada pihak sekolah. Sambutan pertama disampaikan oleh Akhmad Sulton Khakim, ketua kelompok 8 KKM UIN Malang. Dalam sambutannya, Khakim mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah atas sambutan hangat yang diterima selama proses pembelajaran. Ia juga menceritakan pengalaman berharga yang dirasakan mahasiswa selama kegiatan mengajar. "Kami sangat berterima kasih atas bimbingan para guru selama kami berada di sini. Pengalaman ini menjadi ajang untuk mengaplikasikan ilmu dari bangku kuliah sekaligus menghadapi tantangan dan belajar lebih banyak," ungkap Khakim. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Haris, Kepala Sekolah SDN 1 Ngadas. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi mahasiswa KKM dalam mendukung kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Ia juga berharap kolaborasi ini dapat terus terjalin dan memberi dampak positif bagi perkembangan pendidikan di Desa Ngadas. "Kami sangat menghargai semangat dan dedikasi para mahasiswa KKM. Semoga siswa-siswi kami terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perkuliahan, mengikuti jejak kakak-kakak mahasiswa," ujar beliau. Acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan secara simbolis dari perwakilan mahasiswa kepada kepala sekolah sebagai bentuk apresiasi. Sebelum penutupan, mahasiswa dan guru berfoto bersama serta mengadakan sesi ramah tamah dengan siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Momen ini menjadi penutup yang penuh kehangatan, sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dan komunitas SDN 1 Ngadas. Sebelum meninggalkan sekolah, para mahasiswa berpamitan dengan para guru di kantor sebagai tanda penghormatan. Penutupan ini menandai berakhirnya kegiatan pengabdian yang diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi SDN 1 Ngadas.
KHURIN IN NAILIL ROHMAH
Stunting masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Kurangnya asupan gizi, pola asuh yang kurang tepat, serta minimnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan menjadi faktor utama tingginya angka stunting. Dalam upaya menekan angka stunting, Posyandu berperan penting sebagai pusat layanan kesehatan yang langsung menyentuh masyarakat. Dalam rangka mendukung program pencegahan stunting, mahasiswa Kelompok Kerja Mahasiswa (KKM) 59 UIN Malang mengadakan kegiatan penyuluhan di Dusun Sidodadi, Kedungwaru 2, dan Mentaraman, Desa Arjosari. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Posyandu Balita dan Lansia sebagai mitra strategis dalam memberikan edukasi dan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, balita, serta lansia. Peran Posyandu dalam Pencegahan Stunting Posyandu memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesehatan bagi ibu hamil, balita, serta lansia. Sebagai pusat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat, Posyandu menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting dengan beberapa langkah berikut: Pemantauan Pertumbuhan Anak Setiap bulan, kader Posyandu melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan balita. Data ini digunakan untuk mendeteksi risiko stunting sejak dini. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu menyediakan makanan tambahan bergizi kesehatan bagi ibu hamil, balita, serta lansia. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi yang berisiko mengalami stunting. Pemeriksaan Kesehatan Lansia Setiap bulan, kader Posyandu melakukan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan gula darah, tinggi badan, dan berat badan. pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada posyandu lansia untuk mendeteksi dini masalah Kesehatan. Pembagian buku MPASI Kontribusi KKM 59 UIN Malang Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKM 59 UIN Malang turut serta dalam kegiatan Posyandu di Dusun Sidodadi, Kedungwaru 2, dan Mentaraman. Kegiatan yang dilakukan meliputi: Penyuluhan Gizi dan Pencegahan Stunting Mahasiswa memberikan buku resep MPASI bayi dengan disertai usia bayinya untuk mengenai pentingnya asupan gizi yang cukup selama masa kehamilan dan balita. Pendampingan Kader Posyandu Mahasiswa membantu kader dalam pelaksanaan kegiatan Posyandu, mulai dari pengukuran berat badan, tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, dan pemeriksaan gula darah hingga pencatatan data kesehatan ibu hamil, balita, serta lansia. Program "Dapur Sehat" Mahasiswa bersama kader posyandu mengadakan sesi pemberian makanan tambahan (PMT) makanan sehat berbasis lokal sebagai contoh penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Pengukuran Tinggi Badan Lansia Dengan adanya kolaborasi antara Posyandu dan KKM 59 UIN Malang, masyarakat Desa Arjosari, khususnya Dusun Sidodadi, Kedungwaru 2, dan Mentaraman, mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai pencegahan stunting. Kesadaran ibu-ibu tentang pentingnya gizi untuk anak dan pola asuh yang baik meningkat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat penting bagi lansia untuk menjaga kualitas hidup mereka. Sehingga meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup secara keseluruhan. Posyandu memiliki peran sentral dalam penyuluhan dan pencegahan stunting. Dengan dukungan dari mahasiswa KKM 59 UIN Malang, program Posyandu di Desa Arjosari semakin efektif dalam memberikan edukasi dan layanan kesehatan kepada masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang dalam menekan angka stunting di desa Arjosari.
KHARISMA DIAH AYU ANGGRAINI PUTRI
Pada Kamis, 23 Januari 2025, pukul 15.00 WIB, bertempat di Kopi Taji, Desa Taji, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang kelompok 29 menggelar pelatihan affiliate marketing. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi pemuda desa, khususnya yang berada di RT 3, RT 4, dan RT 5. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan kepada para pemuda Desa Taji dalam memanfaatkan peluang ekonomi digital melalui affiliate marketing. Dalam era digital saat ini, affiliate marketing menjadi salah satu strategi bisnis yang efektif untuk meningkatkan pendapatan tanpa memerlukan modal besar. Mahasiswa KKM kelompok 29 berinisiatif menyelenggarakan program ini untuk mendorong kemandirian ekonomi di kalangan pemuda desa. cara ini diawali dengan pembukaan oleh Janggi Dusat H.A.W, yang bertindak sebagai MC sekaligus moderator. Dengan penuh semangat, Janggi menyampaikan apresiasinya terhadap kehadiran pemuda Desa Taji yang begitu antusias dalam mengikuti pelatihan ini. "Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi langkah awal bagi pemuda Desa Taji untuk lebih mandiri secara ekonomi melalui teknologi digital," ujarnya. Pemateri utama dalam pelatihan ini adalah Moh. Nasukhin Asrori, salah satu mahasiswa UIN Malang yang juga tergabung dalam kelompok 29. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, Nasukhin memaparkan materi secara runtut dan mudah dipahami. Ia menjelaskan konsep dasar affiliate marketing, bagaimana cara kerja sistem ini, serta potensi penghasilan yang bisa diraih jika dilakukan dengan konsisten. Setelah penyampaian materi, peserta diajak langsung untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Mereka diajarkan cara membuat akun di platform affiliate, memahami langkah-langkah awal promosi, serta tips dan trik untuk mengimplementasikan strategi pemasaran digital yang efektif. Suasana pelatihan semakin hidup ketika peserta mulai mencoba membuat akun mereka sendiri dengan bimbingan langsung dari pemateri. Antusiasme pemuda Desa Taji terlihat jelas sepanjang acara. Banyak dari mereka yang aktif bertanya dan berdiskusi tentang cara mengoptimalkan pemasaran melalui media sosial. Salah satu peserta dari RT 4 mengungkapkan, "Saya sangat tertarik dengan peluang ini karena bisa dikerjakan di mana saja. Terima kasih kepada kakak-kakak mahasiswa UIN Malang yang telah berbagi ilmu." Kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan pemuda Desa Taji tentang potensi besar dalam dunia digital marketing, khususnya melalui sistem afiliasi. Dengan pelatihan ini, mahasiswa KKM UIN Malang kelompok 29 berharap pemuda Desa Taji dapat lebih mandiri secara ekonomi dan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kenang-kenangan atas kolaborasi yang telah terjalin. Mahasiswa KKM UIN Malang kelompok 29 berharap pelatihan ini menjadi awal dari langkah besar para pemuda Desa Taji dalam memanfaatkan teknologi digital secara produktif.
RIZKIA TANTRI AMALIA
Dusun Krajan, Desa Pujon Kidul, memiliki sebuah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang telah menjadi tulang punggung ekonomi lokal. BUMDes ini memproduksi berbagai olahan khas berbasis hasil peternakan dan pertanian, seperti yogurt dari susu sapi, carang emas dari ubi, permen susu jahe, serta jajanan stik yang memadukan susu sapi sebagai bahan campurannya. Produk-produk ini tidak hanya mencerminkan kreativitas masyarakat lokal tetapi juga menjadi bukti nyata pemberdayaan ekonomi berbasis potensi desa. Proses Produksi yang Didukung oleh KKM UIN Malang Sejak dimulainya program KKN dari mahasiswa UIN Malang, BUMDes Krajan mendapatkan dukungan luar biasa dalam proses produksi. Setiap hari Senin dan Kamis, pukul 08.00 WIB hingga selesai, mahasiswa KKM UIN Malang turut membantu pengolahan susu sapi menjadi produk-produk unggulan desa. Dalam kegiatan ini, mereka dipandu oleh Makpah, seorang tokoh masyarakat yang telah berpengalaman dalam mengolah hasil peternakan menjadi produk bernilai tambah. Dari Susu Sapi Menjadi Yogurt dan Jajanan Berkualitas Yogurt produksi BUMDes Krajan memiliki cita rasa khas yang kaya dan tekstur lembut, menjadikannya favorit di kalangan konsumen. Proses pembuatannya melibatkan fermentasi susu sapi segar yang diproses secara higienis dengan teknologi sederhana tetapi efektif. Selain yogurt, carang emas dari ubi menjadi daya tarik lain karena rasa gurih manisnya yang khas. Tidak ketinggalan, jajanan stik dan permen berbahan campuran susu sapi juga diminati, terutama oleh wisatawan yang berkunjung ke Desa Pujon Kidul. Peran Mahasiswa dalam Peningkatan Produksi Mahasiswa KKM UIN Malang yang berada di Dusun Krajan tidak hanya membantu dalam proses produksi, tetapi juga berkontribusi dalam aspek pemasaran. Mereka membantu mendistribusikan produk ke pusat oleh-oleh di sekitar Pujon Kidul dan wilayah sekitarnya. Selain itu, mahasiswa juga memberikan pelatihan singkat kepada masyarakat setempat mengenai pengemasan produk yang menarik dan pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Kolaborasi dengan Masyarakat untuk Keberlanjutan Kehadiran mahasiswa KKM di Dusun Krajan telah menciptakan sinergi positif dengan masyarakat. Di bawah bimbingan Makpah, para mahasiswa belajar banyak tentang cara mengolah susu sapi menjadi produk berkualitas, sementara masyarakat mendapatkan tambahan tenaga kerja yang membantu mempercepat proses produksi. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat dimaksimalkan melalui kerja sama antara generasi muda dan warga desa. Harapan untuk Masa Depan Dengan potensi yang besar, BUMDes Krajan berharap dapat terus berkembang dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi desa. Kehadiran mahasiswa KKM UIN Malang memberikan energi baru bagi pengelolaan usaha, sekaligus memperkenalkan inovasi dalam pengolahan dan pemasaran. Makpah sendiri berharap agar generasi muda setempat terinspirasi untuk terus mengembangkan produk-produk lokal dan menjadikan BUMDes sebagai contoh keberhasilan pemberdayaan desa. Produk yogurt, carang emas, permen, dan jajanan stik dari BUMDes Krajan bukan sekadar produk biasa, melainkan hasil dari kerja keras, kolaborasi, dan semangat pemberdayaan. Dengan dukungan masyarakat dan mahasiswa, BUMDes Krajan menjadi bukti nyata bahwa desa memiliki potensi besar untuk berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
BIMA NIDA`IL QOWIM
Pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024, Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menjadi saksi dari pelaksanaan acara kesenian tradisional Bantengan yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Acara ini dimulai pada pukul 21.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 03.00 WIB, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pertunjukan ini. Kesenian Bantengan merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang. Dalam pertunjukan ini, seniman lokal menampilkan atraksi tradisional yang menggambarkan keberanian, spiritualitas, dan harmoni antara manusia dan alam. Setiap atraksi diiringi oleh musik tradisional gamelan yang semakin memperkuat suasana sakral dan estetika pertunjukan.Kesenian Bantengan memiliki akar sejarah yang dalam, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari. Pada masa itu, kesenian ini berfungsi religius dan digunakan dalam upacara-upacara tertentu serta ritual adat. Selama masa kolonial Belanda, kesenian ini mulai berkembang dengan adanya tokoh seperti Mbah Siran yang menciptakan topeng bantengan dari tanduk banteng. Kini, Bantengan telah menyebar luas ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Malang, Batu, Lumajang, Kediri, dan Pasuruan. Pertunjukan Bantengan melibatkan dua orang pemain yang mengenakan kostum banteng besar lengkap dengan hiasan kepala tanduk. Mereka diiringi oleh kelompok musik tradisional yang memainkan alat-alat seperti kendang, gong, dan saron. Setiap pertunjukan biasanya diawali dengan ritual atau doa untuk memohon perlindungan dari roh jahat dan agar para pemain diberkati. Pementasan Bantengan terdiri dari tiga tahap utama: ritual nyuguh atau sandingan, pementasan (karak'an) hingga kesurupan (ndadi), dan nyuwuk yang merupakan proses memulangkan arwah leluhur ke tempat asalnya. Melalui tahapan-tahapan ini, penonton tidak hanya disuguhkan hiburan tetapi juga diajak untuk merenungkan makna yang terkandung dalam setiap gerakan dan lagu yang dinyanyikan. Kesenian Bantengan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya. Dalam setiap pertunjukannya, Bantengan menyampaikan pesan moral tentang persatuan, keberanian, serta pengorbanan untuk kepentingan bersama.Acara ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Selain sebagai hiburan malam hari, kesenian Bantengan juga menjadi wadah bagi warga untuk berkumpul dan menjalin silaturahmi. Masyarakat merasa bangga dapat menyaksikan pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur budaya mereka sendiri. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal dan menghargai budaya lokal mereka serta memahami pentingnya menjaga warisan tersebut agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.Dengan demikian, acara kesenian Bantengan di Desa Ngadirejo bukan hanya sekadar pertunjukan seni tetapi juga merupakan upaya kolektif masyarakat untuk menjaga identitas budaya mereka dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Dokumentasi resmi dari kegiatan ini akan menjadi dasar dalam pelaporan kegiatan serta upaya pelestarian budaya di masa mendatang. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin agar kesenian tradisional seperti Bantengan tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.
DINDA TIANA AZZAHRA
Pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024, Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menjadi saksi dari pelaksanaan acara kesenian tradisional Bantengan yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Acara ini dimulai pada pukul 21.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 03.00 WIB, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pertunjukan ini. Kesenian Bantengan merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang. Dalam pertunjukan ini, seniman lokal menampilkan atraksi tradisional yang menggambarkan keberanian, spiritualitas, dan harmoni antara manusia dan alam. Setiap atraksi diiringi oleh musik tradisional gamelan yang semakin memperkuat suasana sakral dan estetika pertunjukan.Kesenian Bantengan memiliki akar sejarah yang dalam, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari. Pada masa itu, kesenian ini berfungsi religius dan digunakan dalam upacara-upacara tertentu serta ritual adat. Selama masa kolonial Belanda, kesenian ini mulai berkembang dengan adanya tokoh seperti Mbah Siran yang menciptakan topeng bantengan dari tanduk banteng. Kini, Bantengan telah menyebar luas ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Malang, Batu, Lumajang, Kediri, dan Pasuruan. Pertunjukan Bantengan melibatkan dua orang pemain yang mengenakan kostum banteng besar lengkap dengan hiasan kepala tanduk. Mereka diiringi oleh kelompok musik tradisional yang memainkan alat-alat seperti kendang, gong, dan saron. Setiap pertunjukan biasanya diawali dengan ritual atau doa untuk memohon perlindungan dari roh jahat dan agar para pemain diberkati. Pementasan Bantengan terdiri dari tiga tahap utama: ritual nyuguh atau sandingan, pementasan (karak'an) hingga kesurupan (ndadi), dan nyuwuk yang merupakan proses memulangkan arwah leluhur ke tempat asalnya. Melalui tahapan-tahapan ini, penonton tidak hanya disuguhkan hiburan tetapi juga diajak untuk merenungkan makna yang terkandung dalam setiap gerakan dan lagu yang dinyanyikan. Kesenian Bantengan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya. Dalam setiap pertunjukannya, Bantengan menyampaikan pesan moral tentang persatuan, keberanian, serta pengorbanan untuk kepentingan bersama.Acara ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Selain sebagai hiburan malam hari, kesenian Bantengan juga menjadi wadah bagi warga untuk berkumpul dan menjalin silaturahmi. Masyarakat merasa bangga dapat menyaksikan pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur budaya mereka sendiri. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal dan menghargai budaya lokal mereka serta memahami pentingnya menjaga warisan tersebut agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.Dengan demikian, acara kesenian Bantengan di Desa Ngadirejo bukan hanya sekadar pertunjukan seni tetapi juga merupakan upaya kolektif masyarakat untuk menjaga identitas budaya mereka dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Dokumentasi resmi dari kegiatan ini akan menjadi dasar dalam pelaporan kegiatan serta upaya pelestarian budaya di masa mendatang. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin agar kesenian tradisional seperti Bantengan tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.