Thumbnail
1 year ago
Inovasi Ramah Lingkungan dengan Memanfaatkan Minyak Jelatah Menjadi Lilin

SALMA NEHAYA SALSABILA

Pada tanggal 19 Januari 2025, KKM Sidomulyo 165 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertajuk "Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah." Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah yang sering kali dibuang sembarangan. Kegiatan tersebut menyoroti cara mengubah minyak bekas menjadi produk bernilai ekonomi, seperti lilin ramah lingkungan, yang juga membantu mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang sering kali dianggap remeh. Dalam penyuluhan ini, narasumber menjelaskan bahwa minyak jelantah memiliki banyak risiko jika tidak dikelola dengan baik. Minyak yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan air, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Selain itu, jika digunakan berulang kali melebihi batas wajar, minyak ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti risiko penyakit jantung, obesitas, gangguan pencernaan, hingga kanker. Faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng juga dijelaskan, termasuk jenis minyak, suhu pemanasan, dan kondisi penyimpanan. Masyarakat diberi pemahaman bahwa minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal tiga kali pemanasan, dengan sisa makanan yang disaring untuk memperpanjang penggunaannya. Namun, setelah batas penggunaan tersebut tercapai, minyak bekas tidak boleh dibuang begitu saja. Di sinilah konsep daur ulang memainkan peran penting. Salah satu poin utama dari kegiatan ini adalah memperkenalkan potensi ekonomi dari minyak jelantah. Minyak bekas dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, sabun, dan lilin. Di antara semua produk tersebut, lilin dari minyak jelantah menjadi topik utama dalam penyuluhan. Narasumber menjelaskan bahwa bahan baku minyak jelantah sangat melimpah, terutama dari rumah tangga, restoran, dan usaha kuliner kecil. Dengan modal kecil, siapa pun bisa memulai usaha pembuatan lilin dari minyak bekas ini. Selain mengurangi limbah, usaha ini juga memiliki pasar yang cukup luas. Lilin dari minyak jelantah banyak diminati karena ramah lingkungan dan memiliki harga jual yang kompetitif. Dengan harga minyak jelantah sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per liter, produk lilin bisa dijual dengan harga mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 per unit, tergantung pada desain dan kualitasnya. Hal ini menjadi peluang menarik bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan sambil berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk langsung mencoba membuat lilin dari minyak jelantah. Prosesnya cukup sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Berikut adalah langkah-langkahnya: 1. Penyaringan Minyak Jelantah: Minyak bekas disaring untuk menghilangkan sisa-sisa makanan atau kotoran. 2. Pencampuran dengan Lilin Parafin atau Bahan Pengikat: Minyak jelantah dicampur dengan lilin parafin atau bahan lain yang dapat mengikat minyak agar menghasilkan tekstur yang solid. 3. Penambahan Pewarna dan Pewangi: Pewarna dan aroma tambahan diberikan untuk membuat lilin lebih menarik. 4. Penuangan ke Cetakan: Campuran minyak dituangkan ke dalam cetakan sesuai bentuk yang diinginkan. 5. Pendinginan dan Pemadatan: Lilin dibiarkan dingin hingga mengeras, lalu dilepaskan dari cetakan. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap langkahnya. Banyak dari mereka yang merasa proses ini cukup mudah dan dapat diterapkan di rumah dengan peralatan sederhana. Selain ramah lingkungan, lilin dari minyak jelantah memiliki banyak manfaat. Lilin ini dapat digunakan untuk penerangan alternatif, dekorasi, atau bahkan sebagai aromaterapi jika ditambahkan pewangi. Dengan demikian, produk ini tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Dalam skala usaha, lilin dari minyak jelantah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang limbah Kegiatan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin ini menjadi salah satu langkah kecil yang membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Edukasi yang diberikan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya minyak jelantah jika tidak dikelola, tetapi juga membuka peluang baru untuk menciptakan produk bernilai ekonomi. Dengan modal kecil dan proses yang sederhana, siapa pun dapat memulai usaha ini sambil berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, KKM Sidomulyo 165 mengajak seluruh masyarakat untuk memandang limbah sebagai peluang, bukan masalah. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin adalah salah satu contoh konkret bagaimana kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan langkah ini, diharapkan semakin banyak orang yang terinspirasi untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. https://www.kompasiana.com/arthasamasta0418/67984057ed64152941272ae7/inovasi-ramah-li ngkungan-dengan-memanfaatkan-minyak-jelatah-menjadi-lilin

Thumbnail
1 year ago
Kolaborasi Kelompok KKM 131 & 61UIN Malang: Sosialisasi Parenting dan Stunting Bertema "Keluarga Cerdas, Anak Lebih Cerdas"

YAYA NURAIDA

Dua kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, yaitu Kelompok 131 dan Kelompok 61, berkolaborasi menyelenggarakan program kerja yang bertajuk “Keluarga Cerdas, Anak Lebih Cerdas”. Program ini mengangkat dua isu penting, yaitu parenting dan stunting, dengan menghadirkan dua pemateri kompeten di bidangnya. Pemateri pertama, Dzawil, merupakan mahasiswa semester 6 dari Program Studi Pendidikan Dokter UIN Malang yang membahas stunting. Sementara itu, Norma Hasanatul Maghfiroh, mahasiswa berprestasi dari Fakultas Psikologi, menyampaikan materi terkait parenting. Acara ini dihadiri oleh perangkat desa, perawat desa, dan masyarakat Desa Arjowilangun. Sambutan pertama disampaikan oleh perwakilan kelompok KKM Desa Arjowilangun yakni saudari Nadila yang menyampaikan harapannya untuk kegiatan ini diharapakan dapat memberikan edukasi serta berdampak positif bagi Masyarakat Desa Arjowilangun. Selanjutnya sambutan kedua disampaikan oleh perwakilan bidan desa, yang memberikan data bahwa terdapat 10 anak stunting di desa ini pada tahun 2024. Pemerintah desa, lanjutnya, telah mengambil langkah melalui pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) senilai Rp150.000 per bulan berupa bahan pokok. Ia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat tentang stunting dan parenting, serta meminta pemateri memaparkan materi dengan baik agar mudah dimengerti. Kepala Desa Arjowilangun, Bapak Kuswianto, juga memberikan sambutan sekaligus membuka acara. Beliau menyampaikan komitmen pemerintah desa untuk menyelesaikan permasalahan stunting dan menekankan pentingnya parenting, khususnya bagi keluarga yang orang tuanya bekerja di luar negeri. Harapannya, ke depan tidak ada lagi kasus stunting di desa, dan setiap anak dapat tumbuh dalam pola asuh yang baik. Pemaparan Materi: Stunting dan Parenting Materi Stunting oleh Dzawil Dzawil memaparkan bahwa tidak semua anak bertubuh pendek bisa dikategorikan stunting. Ia menjelaskan perlunya menggunakan tabel penghitungan untuk mengidentifikasi stunting secara akurat. Pencegahan stunting, menurutnya, harus dimulai jauh sebelum bayi lahir, bahkan sebelum seorang wanita menikah. Orang tua perlu memahami kondisi tubuh dan upaya pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Materi Parenting oleh Norma Hasanatul Maghfiroh Norma menekankan bahwa parenting dan stunting saling berkesinambungan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Pola asuh yang sehat dalam pemberian gizi serta pendidikan akan berkontribusi pada kemampuan kognitif dan fisik anak. Ia juga mengingatkan pentingnya mempelajari parenting sejak sebelum memiliki anak, bahkan saat memilih pasangan hidup. Pasangan dengan pola asuh yang kurang baik akan berdampak negatif pada anak di masa depan. Harapan untuk Masa Depan Melalui program ini, masyarakat Desa Arjowilangun diharapkan lebih memahami pentingnya pencegahan stunting dan peran parenting dalam membentuk generasi yang sehat dan cerdas. Kepala desa mengapresiasi kolaborasi kedua kelompok KKN dan berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat desa.

Thumbnail
1 year ago
Eksplorasi Potensi Unggulan Desa Gunungjati: Susu dan Yogurt Asli Jabung

KI AGENG NASROKH MANGKUNEGARA PUTRA

Gunungjati, Jabung – Kelompok 20 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang tengah melaksanakan program KKM di Desa Gunungjati, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Dalam rangka menggali potensi lokal, kelompok ini melakukan kunjungan ke peternakan sapi perah milik warga setempat yang menjadi sumber utama produksi susu segar dan yogurt asli Jabung, produk unggulan yang telah dipasarkan. Kunjungan ini memberikan banyak wawasan mengenai pengelolaan sapi perah. Para mahasiswa mendapatkan informasi langsung dari pemilik sapi mengenai proses pemeliharaan hingga produksi susu. Setiap sapi perah diperah sebanyak dua kali sehari, dengan hasil produksi yang cukup mengesankansatu ekor sapi mampu menghasilkan hingga 15 liter susu per hari. Namun, terdapat fakta menarik yang ditemukan selama kunjungan tersebut. Saat sapi memasuki masa kehamilan, terutama mendekati waktu melahirkan, produksi susu menurun drastis. Hal ini disebabkan oleh perubahan fisiologis pada sapi yang membuat hasil perahan tidak optimal. Selain itu, beberapa sapi di peternakan tersebut memiliki usia cukup panjang, yaitu mencapai 6 hingga 7 tahun. Susu segar hasil perahan ini tidak hanya dikonsumsi langsung oleh masyarakat, tetapi juga dikirim ke Koperasi Unit Desa (KUD) untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk olahan, termasuk yogurt yang kini menjadi salah satu ikon produk unggulan Desa Jabung. Produk-produk ini telah merambah pasar yang lebih luas dan bisa ditemukan di swalayan seperti "Jab Mart". Melalui kegiatan ini, kelompok 20 KKM UIN Malang tidak hanya belajar tentang potensi ekonomi lokal tetapi juga menyadari pentingnya peran peternakan sapi perah dalam mendukung perekonomian desa. Harapannya, kunjungan ini tidak hanya memberikan edukasi bagi mahasiswa, tetapi juga mendorong masyarakat desa untuk terus mengembangkan inovasi dalam pengelolaan peternakan sapi perah. Dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam pengelolaan susu, produk unggulan dari Desa Gunungjati berpotensi menjadi salah satu produk susu berkualitas yang dikenal luas di Kabupaten Malang.

Thumbnail
1 year ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Ikut Bantu UMKM Kolam Pemancingan Hidden Gem di Desa Sukopuro, Malang

DAFFA ZUHDI SYAHADA

Mahasiswa KKM Sinergi dari UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang membantu salah satu UMKM yang baru saja dirintis. Adanya kolam pemancingan di desa Sukopuro merupakan hal yang cukup langka di desa ini, khususnya di Dusun Kepuh. Melihat sepajang jalanan desa ini banyak penjual bakso atau pentol dan warung-warung kecil yang banyak konsumennya. Sehingga mahasiwa-mahasiswi KKM Sinergi berupaya untuk memajukan usaha yang baru dikembangkan, yaitu kolam pancing KP SK 54. Jarang ditemukan di desa ini kolam pemancingan. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari program KKM yang bertujuan membantu masyarakat desa meningkatkan perekonomian lokal melalui pengelolaan dan promosi usaha. Para mahasiswa memberikan pendampingan, strategi pemasaran digital, hingga pengembangan ide baru lokasi pemancingan (4 Januari 2025). "Melalui program ini, kami berharap bisa membantu pemilik usaha memaksimalkan potensi kolam pemancingan dari segi  daya tarik pengunjung. Kami juga mengenalkan konsep pemasaran melalui media sosial agar usaha ini lebih dikenal luas," ujar Alvian Fuad, salah satu mahasiswa KKM UIN Malang. Para mahasiswa juga turut membantu mendaftarkan lokasi tersebut di Google Maps. Langkah ini bertujuan agar kolam pemancingan lebih mudah ditemukan oleh calon pengunjung, baik dari sekitar Jabung maupun dari luar daerah. "Kami menyadari bahwa saat ini banyak orang mencari tempat rekreasi memancing melalui aplikasi peta digital seperti Google Maps. Dengan mendaftarkan lokasi ini, kami berharap pengunjung dapat menemukan arah menuju kolam pemancingan dengan mudah," ujar Daffa Zuhdi, salah satu mahasiswa KKM. Selain mendaftarkan lokasi di Google Maps, mahasiswa juga membuat banner promosi yang ditempatkan di lokasi strategis seperti jalan utama desa dan titik keramaian lainnya. Banner ini berisi informasi tentang fasilitas kolam pemancingan, jam operasional, serta kontak yang dapat dihubungi. Desain banner dibuat menarik dengan perpaduan warna cerah dan gambar pendukung untuk menarik perhatian. Menurut Ibu Ummu Kulsum, pemilik kolam pemancingan, bantuan mahasiswa ini sangat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan usahanya. "Saya berterima kasih atas inisiatif mahasiswa yang membantu usaha kami dikenal lebih luas. Setelah kolam ini terdaftar di Google Maps, sudah ada beberapa pengunjung yang datang karena melihat lokasinya di aplikasi tersebut," ujarnya. Dengan adanya kolaborasi antara mahasiswa KKM UIN Malang dan UMKM Desa Sukopuro, diharapkan kolam pemancingan ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi ikon kebanggaan desa sekaligus sumber penggerak ekonomi lokal. Kolam pemancingan ikan lele Desa Sukopuro kini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat dapat mendorong kemajuan ekonomi berbasis potensi lokal.

Thumbnail
1 year ago
Parenting Qur’ani: Mencetak Generasi Cerdas Berlandaskan Al-Qur’an

MOHAMMAD KHARIS

 Dalam upaya menciptakan generasi Qur’ani yang cerdas dan berakhlak mulia, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 67 menggelar kegiatan Kajian dan Sosialisasi Parenting Qur’ani. Acara ini dilaksanakan di Musholla Yayasan Nurul Muttaqin, Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, pada Sabtu (11/01). Kegiatan yang bertema “Parenting Qur’ani sebagai Pedoman Mencerdaskan Generasi Qur’ani” ini dihadiri oleh 30 wali santri serta 25 santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Nurul Muttaqin. Acara berlangsung selama 40 menit untuk penyampaian materi dan 20 menit untuk diskusi interaktif.   Dipandu oleh Mohammad Kharis, mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Syariah, kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan kepada wali santri tentang pola asuh berbasis nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam pemaparannya, Mohammad Kharis menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak. Ia menyebutkan bahwa pola asuh yang diterapkan orang tua sangat menentukan masa depan anak. “Bagaimana pola asuh yang diterapkan orang tua akan sangat menentukan masa depan anak. Al-Qur’an menegaskan bahwa anak adalah amanah sekaligus ujian yang perlu diarahkan dengan baik agar tumbuh menjadi pribadi yang baik,” ujarnya. Kharis juga mengutip Tafsir Al-Ibriz sebagai referensi dalam membahas parenting Qur’ani.   Dalam sosialisasi ini, beberapa metode pengasuhan Qur’ani turut diperkenalkan, di antaranya Qashas (Kisah) yang memberikan pelajaran melalui cerita-cerita inspiratif, Amtsal (Perumpamaan) yang menggunakan analogi untuk menanamkan nilai-nilai positif, Uswah (Keteladanan) yang memberikan contoh nyata untuk ditiru, Targhib wa At-Tarhib (Motivasi) yang memberikan dorongan dan peringatan secara seimbang, ’Addah (Pembiasaan) yang membiasakan anak melakukan kebaikan, serta Mauidzoh (Nasihat) yang memberikan arahan bijak berdasarkan agama. Selain itu, materi utama dalam parenting Qur’ani meliputi Aqidah, Ibadah, Akhlak, Aqliyah, dan Jasmani. Kelima aspek ini menjadi landasan penting dalam membentuk anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki jiwa Qur’ani yang kuat.   Kegiatan ini disambut antusias oleh para wali santri yang aktif bertanya dalam sesi diskusi, menunjukkan minat besar untuk menerapkan pola asuh sesuai nilai-nilai Islam. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Mohammad Kharis, sebagai simbol harapan terbentuknya generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi bangsa. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan baru bagi para orang tua, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membentuk generasi Qur’ani yang unggul di masa depan,” tutup Kharis.   Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 67 menunjukkan peran aktif mereka dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Mereka tidak hanya mengedukasi, tetapi juga menjadi penghubung antara nilai-nilai keislaman dan kehidupan sehari-hari. Dengan adanya program ini, diharapkan pola asuh Qur’ani dapat menjadi pedoman yang diterapkan secara berkesinambungan, sehingga generasi mendatang mampu menjadi penerus bangsa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Thumbnail
1 year ago
Dari Bambu Jadi Rezeki: Kisah Sukses Produksi Tusuk Sate Bu Puji

HILDIANA

Pada hari kamis, 9 januari 2025, Mahasiswa KKM Kelompok 7 Desa Karangnongko melakukan kunjungan ke salah satu UMKM yang ada di dusun Paras yaitu produksi tusuk sate. Rumah produksi tersebut merupakan milik sepasang suami istri, bernama Bu Puji. Rumah produksi ini telah berdiri sejak tahun 2014. Menurut penuturan Bu Puji, sebelum mulai meproduksi tusuk sate, awalnya mereka merupakan seorang pengrajin anyaman keranjang bambu. Akan tetapi karena minimnya peminat keranjang bambu, sekaligus mulai berkurangnya pengepul dan penjual keranjang bambu, akhirnya mereka beralih bisnis ke produksi tusuk sate. Rumah produksi tusuk sate milik Bu Puji dan suaminya ini merupakan rumah produksi yang menghasilkan bahan baku untuk tusuk sate bukan produk tusuk sate jadi yang dijual komersial. Hasil produksi tusuk sate mereka kirimkan ke pabrik-pabrik tusuk sate yang kemudian akan di finishing sekaligus di kemas oleh pabrik tersebut. Tusuk sate yang telah dikemas tersebut, kemudian akan di kirim ke berbagai daerah hingga luar jawa. Bu Puji menjelaskan bahwa proses dari pembuatan tusuk sate dimulai dengan membeli bambu yang telah di tebang dari tukang tebang bambu. Untuk bambu yang dipakai bisa dari berbagai jenis bambu, namun yang sering digunakan oleh beliau ialah jenis bambu petung. Sedangkan untuk usia bambu yang bagus ialah yang berusia 2 tahun ke atas karena serat bambunya kuat dan mudah untuk diolah. Ada sedikit tips dari beliau dalam memilih bambu yang bagus. Ciri ciri bambu yang bagus ialah seratnya berwarna merah tua, selain itu hindari menggunakan bambu yang ditanam dari daerah pemukiman, meskipun lebih lebat, tetapi kualitasnya buruk. Selain itu bambu yang tumbuh di dataran rendah atau dekat sungai juga meiliki kualitas yang buruk karena mengandung terlalu banyak air. Bambu yang bagus ialah bambu yang tumbuh di daerah yang jarang dijamah manusia serta berada di dataran tinggi. Ada alasan mengapa beliau lebih memilih untuk membeli bambu yang telah di tebang daripada menebang sendiri, pertimbangannya ialah jika membeli bambu yang telah ditebang stok bambu bisa stabil karena bambu dapat dipesan dan datang sesuai kebutuhan rumah produksi meskipun harganya lebih mahal. Sedangkan jika menebang pohon bambu sendiri memerlukan proses dan memakan waktu lebih lama lagi. Setelah bambu datang, bambu akan dipotong sesuai dari ruas bambu tersebut. Bambu kemudian akan dibelah menjadi 2 dan kemudian lanjut di irat, atau dibelah dengan ukuran lebih kecil. Selanjutnya potongan bambu akan di serut menggunakan mesin khusus, sehingga bambu terpotong tipis dengan ukuran yang sama dan sesuai dengan kebutuhan produksi tusuk sate. Untuk ukuran dari tusuk sate itu sendiri terdapat dua jenis, yaitu ukuran untuk tusuk sate ayam dan ukuran untuk tusuk sate kambing. Untuk ukuran tusuk sate ayam yaitu memiliki diameter sekitar 2-2,5m mili, dan panjangnya sekitar 30-40 cm. Sedangkan untuk ukuran tusuk sate kambing memilki diameter sekitar 3 mili dan panjang sekitar 40 cm keatas. Itulah bahan baku dari produksi tusuk sate. Selesai di serut, potongan bambu yang telah menjadi bahan baku tusuk sate tersebut kemudian akan dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven tergantung cuaca. Jika cuaca bagus maka cukup dijemur seharian, akan tetapi jika hujan proses pengeringan akan menggunakan oven khusus yang terbuat dari besi. Bambu yang telah kering akan disortir untuk memlih potongan bambu yang bagus. Usai di sortir, potongan bambu tipis yang telah menjadi bahan baku tusuk sate tersebut akan diikat dengan berat per ikatnya sekitar 5kg. Bambu kemudian siap untuk dikirim ke pabrik sebagai bahan baku tusuk sate. Di pabrik, bahan mentah tersebut akan di finishing dan di oven ulang serta diruncingkan. Selain itu juga akan di lapisi dengan lapisan khusus sehingga jadilah tusuk sate yang siap dikemas dan didistribusikan. Sekali kirim ke pabrik, rumah produksi tusuk sate milik Bu Puji ini bisa mengirimkan sekitar 1 kwintal tusuk sate. Biasanya pengiriman dilakukan 2-3 kali perminggu tergantung cuaca yang mempengaruhi jumlah hasil produksi. Ada hal menarik di rumah produksi tusuk sate milik Bu Puji ini, yaitu setiap bagian bambu yang digunakan untuk bahan dasarnya ini tidak ada yang terbuang sia-sia. Limbah sisa produksi biasanya diguanakan untuk bahan bakar proses pengovenan. Selain itu, limbah dari bambu tersebut juga di ambil oleh rumah produksi tahu sebagai bahan bakar pembuatan tahu. Hal ini tentu saja menjadikan hubungan timbal balik yang  baik, dimana rumah produksi tusuk sate jadi bersih dari limbah bambu, dan rumah produksi tahu mendapat bahan bakar untuk proses pembuatan tahu. Bu Puji juga menyampaikan tantangan dari produksi bahan tusuk sate ini diantaranya, yaitu yang paling utama ialah cuaca. Apabila musim hujan, produksi tidak bisa sebanyak saat musim kemarau, karena proses pengeringan menjadi lebih lama, juga bambu menjadi lebih rawan berjamur. Selain itu juga terkadang bambu tebangan yang dikirimkan tidak sesuai, seperti terlalu tua atau sudah bertunas. Akan tetapi dengan segala tantangan tersebut, bisa dikatakan produksi dan pendapatan mereka cukup stabil. Alasan kenapa tidak membuat tusuk sate jadi ialah modal yang diperlukan sangatlah besar. Alat alat yang dibutuhkan untuk membuat tusuk sate memiliki harga yang mahal, selain itu juga tenaga kerja yang dibutuhkan juga banyak. Sehingga bu Puji sudah cukup puas dan bersyukur dengan rumah produksi bahan baku tusuk sate yang beliau miliki ini. Bagi beliau, selama mau bekerja keras dan tak lupa bersyukur, setiap rintangan yang ada pasti dapat dilalui dengan baik. Harapan beliau tentu saja agar terus diberikan kelancaran rezeki oleh Allah SWT. sehingga bisa terus melajutkan bisnis produksi tusuk sate ini, sebagai salah satu UMKM di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo.