Thumbnail
1 year ago
Bakti Sosial Santunan Anak Yatim dan Piatu di Dusun Robyong oleh Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 15 dan 155

HANA JAZILATUN NAFISAH

Bakti Sosial Santunan Anak Yatim dan Piatu di Dusun Robyong oleh Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 15 dan 155 Malang, 27 Januari 2025 -- Suasana haru dan kebahagiaan menyelimuti acara bakti sosial santunan anak yatim dan piatu yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Kelompok 15 dan 155. Kegiatan ini berlangsung pada Senin sore di Aula Masjid Bitussalam setempat dengan dihadiri oleh warga, tokoh masyarakat, serta puluhan anak yatim dan piatu. Acara yang mengusung tema "Bersama Kita Berbagi, Bersama Kita Peduli" ini bertujuan untuk memberikan santunan berupa snack dan uang tunai kepada 24 anak yatim dan piatu yang berasal dari Dusun Robyong. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wujud kepedulian sosial mahasiswa KKM UIN Malang terhadap masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan dukungan. Acara dimulai dengan pembacaan istighosah yang dipimpin oleh warga setempat kemudian dilanjut sambutan dari Ketua Lembaga Yatim Piatu Dusun Robyong, Bapak Didik Hariyanto, yang menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi. "Kami sangat bersyukur atas terselenggaranya acara ini. Semoga bantuan yang diberikan dapat meringankan beban adik-adik kita yang membutuhkan dan menjadi ladang pahala bagi semua pihak yang terlibat. Lembaga ini berdiri sekitar 12 tahun. Awal berdirinya Lembaga ini secara tidak sengaja saya dirikan bersama teman-teman saya saat semester akhir. Saya mengira acara ini hanya acara bulanan saja, tapi alhamdulillah acara ini menjadi acara rutinan yang selalu di adakan di dusun Robyong ini" Kata Bapak Didik Dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Mahasiswa KKM Kelompok 15 dan 155, Mukti Ferdiansyah Faqih, yang mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. "Kami berharap kegiatan ini bisa membawa kebahagiaan untuk anak-anak yatim dan piatu. Selain itu, ini juga menjadi pengalaman berharga bagi kami dalam belajar memberikan manfaat kepada sesama," kata Mukti Sebelum acara berakhir, santunan diserahkan kepada anak yatim dan piatu diiringi dengan lantunan mahalul qiyam. Doa bersama menjadi penutup kegiatan, diiringi harapan agar acara serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momen berbagi kebahagiaan, tetapi juga mempererat hubungan antara lembaga masyarakat, mahasiswa, dan warga Dusun Robyong. Semoga semangat gotong-royong ini dapat menginspirasi banyak pihak untuk terus peduli dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Thumbnail
1 year ago
Kelompok 184 KKM UIN Malang Gelar Sosialisasi Parenting bersama Wali Murid KB At-Taqwa dengan Tema "Optimalisasi Peran Orang Tua di Masa Golden Age"

SALMA SALIMATUL AQIDAH

Malang, 26 Januari 2025 - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 184 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi parenting bersama wali murid KB At-Taqwa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang peran mereka dalam mendukung perkembangan anak di masa emas, yakni usia 0-12 tahun. Acara yang berlangsung di Balai Desa Langlang ini menghadirkan pemateri dari dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Malang, Ibu Ratna Nulinnaja, M.Pd.I. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa masa keemasan merupakan masa emas dalam perkembangan anak yang sangat mempengaruhi kecerdasan, emosi, dan kepribadian mereka di masa depan. Menurut Ibu Ratna, perkembangan otak anak pada usia 0-6 tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Oleh karena itu, orang tua harus berperan aktif dalam menstimulasi anak melalui interaksi yang berkualitas. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kasih sayang, mendukung eksplorasi anak, serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembangnya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa masa keemasan terbagi dalam beberapa tahap perkembangan: • Masa Bayi (0-3 tahun): Anak mulai mengenali lingkungan sekitarnya, membutuhkan perhatian penuh dari orang tua, serta diberikan stimulasi sensorik dan motorik. • Masa Prasekolah (4-6 tahun): Anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir, daya ingat, dan interaksi sosial. • Masa Sekolah Dasar (7-12 tahun): Fokus utama pada pengembangan intelektual, kontrol emosi, dan kemandirian. Dalam sosialisasi ini, Ibu Ratna juga membagikan berbagai strategi bagi orang tua agar dapat mendukung perkembangan anak secara optimal. Beberapa di antaranya adalah: 1. Komunikasi yang Efektif - Orang tua perlu mendengarkan dan memahami kebutuhan anak serta membangun hubungan positif melalui komunikasi terbuka. 2. Edukasi dan Stimulasi - Menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan seperti membaca buku, bermain edukatif, serta mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sejak dini. 3. Dukungan Emosional - Memberikan pujian yang tulus, mengajarkan anak mengelola emosi, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang. 4. Pembatasan Teknologi - Membatasi penggunaan gawai dan lebih banyak melibatkan anak dalam aktivitas fisik maupun interaksi sosial langsung. 5. Menjadi Teladan - Orang tua harus menjadi contoh dalam menunjukkan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, empati, dan kerja keras. Sosialisasi ini mendapat respon positif dari para wali murid yang hadir. Mereka mengapresiasi materi yang disampaikan serta berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pendidikan dan perkembangan anak sejak usia dini. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya peran mereka dalam membentuk karakter dan potensi anak sejak dini, sehingga dapat mencetak generasi yang cerdas, berakhlak, dan mandiri.

Thumbnail
1 year ago
Pelepasan KKM UIN Malang Tahun 2024/2025 KKM 75 : "Dari Penyematan Hingga Balon Terbang, Siap Mengabdi Di Desa" Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pelepasan KKM UIN Malang Tahun 2024/2025 KKM 75 : "Dari Penyematan Hingga Balon Ter

M. DWI RIZKI ADITYA

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali melaksanakan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) untuk tahun akademik 2024/2025, yang dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M). Seperti tahun sebelumnya, tema KKM kali ini mencakup “Moderasi Beragama, Pencegahan Stunting, Kemiskinan Ekstrim, dan Parenting.” Dalam program ini, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat desa serta mengoptimalkan potensi lokal.    Kelompok KKM 75 Ditempatkan di Desa Jambesari, khususnya di Dusun Pabrikan, yang terdiri dari 13 anggota. Mereka mengikuti upacara pelepasan KKM Reguler, Mandiri Integritas, dan Internasional di lapangan utama UIN Malang pada 19 Desember 2024.    Acara peluncuran tersebut melibatkan lebih dari 4.000 mahasiswa dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL), dimulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Rangkaian acara meliputi nyanyian Kebangsaan Indonesia Raya dan Padamu Negeri, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, serta berbagai pimpinan kampus. Penyematan atribut oleh perwakilan dari masing-masing kecamatan menandakan kesiapan siswa untuk melaksanakan pengabdian. Acara ditutup dengan doa dan pelepasan balon ke udara sebagai simbol resmi dimulainya kegiatan KKM UIN Malang dalam pengabdian kepada masyarakat.

Thumbnail
1 year ago
Kesenian Bantengan Dalam Upaya Menghidupkan Tradisi Leluhur

REIKI PRISTI KHAIRANI

Pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024, Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menjadi saksi dari pelaksanaan acara kesenian tradisional Bantengan yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Acara ini dimulai pada pukul 21.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 03.00 WIB, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pertunjukan ini. Kesenian Bantengan merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang. Dalam pertunjukan ini, seniman lokal menampilkan atraksi tradisional yang menggambarkan keberanian, spiritualitas, dan harmoni antara manusia dan alam. Setiap atraksi diiringi oleh musik tradisional gamelan yang semakin memperkuat suasana sakral dan estetika pertunjukan.Kesenian Bantengan memiliki akar sejarah yang dalam, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari. Pada masa itu, kesenian ini berfungsi religius dan digunakan dalam upacara-upacara tertentu serta ritual adat. Selama masa kolonial Belanda, kesenian ini mulai berkembang dengan adanya tokoh seperti Mbah Siran yang menciptakan topeng bantengan dari tanduk banteng. Kini, Bantengan telah menyebar luas ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Malang, Batu, Lumajang, Kediri, dan Pasuruan. Pertunjukan Bantengan melibatkan dua orang pemain yang mengenakan kostum banteng besar lengkap dengan hiasan kepala tanduk. Mereka diiringi oleh kelompok musik tradisional yang memainkan alat-alat seperti kendang, gong, dan saron. Setiap pertunjukan biasanya diawali dengan ritual atau doa untuk memohon perlindungan dari roh jahat dan agar para pemain diberkati.   Pementasan Bantengan terdiri dari tiga tahap utama: ritual nyuguh atau sandingan, pementasan (karak'an) hingga kesurupan (ndadi), dan nyuwuk yang merupakan proses memulangkan arwah leluhur ke tempat asalnya. Melalui tahapan-tahapan ini, penonton tidak hanya disuguhkan hiburan tetapi juga diajak untuk merenungkan makna yang terkandung dalam setiap gerakan dan lagu yang dinyanyikan. Kesenian Bantengan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya. Dalam setiap pertunjukannya, Bantengan menyampaikan pesan moral tentang persatuan, keberanian, serta pengorbanan untuk kepentingan bersama.Acara ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Selain sebagai hiburan malam hari, kesenian Bantengan juga menjadi wadah bagi warga untuk berkumpul dan menjalin silaturahmi. Masyarakat merasa bangga dapat menyaksikan pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur budaya mereka sendiri.    Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal dan menghargai budaya lokal mereka serta memahami pentingnya menjaga warisan tersebut agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.Dengan demikian, acara kesenian Bantengan di Desa Ngadirejo bukan hanya sekadar pertunjukan seni tetapi juga merupakan upaya kolektif masyarakat untuk menjaga identitas budaya mereka dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Dokumentasi resmi dari kegiatan ini akan menjadi dasar dalam pelaporan kegiatan serta upaya pelestarian budaya di masa mendatang. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin agar kesenian tradisional seperti Bantengan tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.        

Thumbnail
1 year ago
Kegiatan KKM Posko 106 Mengabdi Mengajar TPQ

AZMY SYAHIDAH

Malang (23/12/2024) - Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) adalah sarana untuk memberikan pendidikan agama Islam kepada anak-anak usia 4-12 tahun, termasuk yang berada di tingkat TK dan SD. Di TPQ, para santri diajarkan membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat dalam rangka moderasi beragama, mahasiswa KKM Posko 106 turut berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan di Dusun Pohbener, khususnya di kalangan anak-anak. Mereka mendampingi dan belajar bersama di TPQ Al-Ikhlas 1, Al-Ikhlas 2, serta TPQ Mambaul Ulum. Sebelum sesi mengaji dimulai, salah satu ustadz atau ustadzah memberikan kesempatan kepada mahasiswa KKM untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak. Sebanyak tiga belas mahasiswa dari berbagai fakultas ikut serta dalam program KKM di salah satu TPQ setempat. Mereka bekerja sama dengan para ustadz dan ustadzah untuk menciptakan pengajaran yang menarik dan efektif bagi para santri. Materi yang disampaikan meliputi pembelajaran membaca dan memahami Al-Qur'an, doa sehari-hari, serta pendidikan akhlak. Selain itu, para mahasiswa bersama ustadz dan ustadzah juga mengenalkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan guna meningkatkan semangat belajar anak-anak. Mahasiswa KKM posko 106 berharap melalui program mengajar di TPQ, mereka dapat menghadirkan suasana dan semangat baru bagi TPQ tersebut, sekaligus membantu para anak didik memahami dasar-dasar pembelajaran Al-Qur'an dengan lebih mudah. Antusiasme anak-anak di TPQ sangat tinggi, menciptakan suasana belajar yang hidup. Kegiatan belajar-mengajar dirancang secara kreatif, dengan perpaduan permainan dan nyanyian, sehingga anak-anak tetap termotivasi dan tidak merasa bosan saat belajar.

Thumbnail
1 year ago
Membangun Generasi Emas: Upaya KKM UIN Malang dalam Pencegahan Kenakalan Remaja di SMPN 4 Singosari Satu Atap

FARID AZHAR SYAFAAT

Usia pencarian jati diri tiap orang terjadi di masa remaja. Tahap ingin mengenal diri sendiri dan keinginan untuk mencoba berbagai hal. Remaja yang dimaksud berusia 10-19 tahun. Di usia ini terdapat berbagai macam gejolak emosi dan permasalahan yang timbul. Jika tidak disikapi dengan bijak maka hal tersebut akan merugikan baik diri sendiri bahkan orang lain. Oleh karenanya, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berkesempatan untuk menyelenggarakan program kerja sosialisasi pencegahan kenakalan remaja sebagai bentuk perhatian serta imbauan untuk para adik-adik sehingga mengenal dan perbuatan kenakalan tersebut bisa dihindari. Sosialisasi Pencegahan Kenakalan Remaja dilaksanakan pada hari Kamis, 23 Januari 2025. Acara tersebut merupakan bentuk progam kerja gabungan dari 3 kelompok KKM yang ada di Desa Wonorejo. Sosialisasi dihadiri oleh siswa-siswi kelas 8 SMPN 4 Singosari Satu Atap dengan total 29 siswa yang hadir, dengan mengusung tema "Mewujudkan Generasi Emas Anti Kenakalan Remaja, Siap Berkontribusi Untuk Negeri". Pemateri yang didatangkan untuk mengisi acara tersebut yakni Dicky Wicaksono yang merupakan Duta Genre Kabupaten Malang 2021. Acara sosialisasi dimulai pukul 10.00 WIB diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Sesi selanjutnya yakni sambutan-sambutan oleh ketua panitia, Dosen Pembimbing Lapangan, serta perwakilan guru kelas 8 SMPN 4 Singosari Satu Atap. Memasuki acara inti yakni penyampaian materi berupa pengenalan kenakalan remaja, faktor penyebab, hingga cara mengatasi kenakalan tersebut. Kenakalan remaja merupakan tindakan dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dan dilakukan oleh remaja. Contoh dari kenakalan remaja tesebut berupa tawuran, pergi tanpa pamit, berkelahi, bolos sekolah, mencuri, menonton video porno, mabuk-mabukan, bahkan lebih parahya jika sudah ditahap mengonsumsi obat-obatan terlarang. Perbuatan tersebut terjadi dikarenakan beberapa alasan yang mendasari, diantaranya berasal dari pribadi karena tidak bisa mengendalikan diri untuk menghindari perilaku nakal, kemudian terdapat pengaruh pola asuh orang tua, hingga lingkungan sekitar atau pergaulan. Cara mengatasi kenakalan remaja yang juga menjawab pertanyaan dari siswa-siswi sehingga dapat disimpulkan beberapa cara yang dapat dilakukan yakni berupa ajakan diskusi mengenai aturan dan konsekuensi, mengetahui alasan penyebab mereka melakukan hal tersebut bukan sebaliknya menghakimi, serta luangkan waktu untuk mendengarkan cerita karena terkadang di masa usia remaja membutuhkan tempat cerita, bukan solusi ataupun penilaian sepihak dari permasalahan yang dialami. Terakhir, tidak kalah pentingnya yakni menghindari pertemanan ataupun lingkungan yang memberikan pengaruh tidak baik. Diharapkan dari acara sosialisasi tersebut dapat memberikan pembelajaran penting berupa wawasan baru yang mampu memahamkan mereka terkait kenakalan remaja sehingga tidak hanya dari siswa-siswi SMPN 4 Singosari Satu Atap namun juga memberikan pengaruh positif untuk teman sebaya lainnya.