FITRIYANI
Malang, 28 Desember 2024 -- Mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 47 Nirakarsa melakukan program Holiday Camp demi membantu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris anak dengan jenjang Pendidikan TK dan Sekolah Dasar di Dusun Banyol, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Program Holiday Camp tersebut merupakan program yang dilatarbelakangi oleh permasalahan kurangnya pemahaman Bahasa Inggris dasar yang masih terjadi di kalangan anak-anak Dusun Banyol tersebut. Agar anak-anak dapat dengan mudah memahami pelajaran Bahasa Inggris yang disampaikan, dilakukanlah program Holiday Camp ini yang menjunjung konsep belajar sambil bermain yang ditujukan kepada siswa-siswi TK dan SD yang tinggal di Dusun Banyol, Desa Wonorejo. Diadakannya program ini juga karena pelatihan Basic English sendiri memang salah satu kemampuan penting yang harus dikuasai oleh anak-anak usia Sekolah Dasar di era saat ini. Dengan melakukan kegiatan belajar sambil bermain, anak dapat lebih mudah menangkap materi yang disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan menghindari bosan. Program Holiday Camp ini dilaksanakan kepada anak-anak di Dusun Banyol pada Kamis, 26 Desember 2024 dan berlangsung selama tiga hari hingga Sabtu, 28 Desember 2024. Dalam kegiatan ini, Kelompok 47 Nirakarsa memperkenalkan konsep Self Introduction kepada peserta di hari pertama. Peserta akan diminta untuk melakukan praktik memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris seperti yang sudah diajarkan oleh panitia. Pada hari kedua, Program ini dilanjut dengan memperkenalkan konsep Daily Vocabulary. Panitia membagi peserta menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jenjang sekolah dan mengajak peserta untuk berkeliling Dusun Banyol dan mencatat benda-benda sekitar yang ditemukan selama perjalanan dalam Bahasa Inggris. Di hari terakhir penghujung kegiatan, program ini ditutup dengan memperkenalkan nama-nama hewan dalam Bahasa Inggris dimana peserta akan melakukan permainan peraga hewan. Setelah memperkenalkan nama-nama hewan dalam Bahasa Inggris, salah satu peserta akan melihat flashcard berupa gambar hewan dan diminta untuk memperagakan hewan tersebut, sedangkan peserta lain akan menebak nama hewan yang diperagakan dalam Bahasa Inggris. Program Holiday Camp ini berjalan lancar dan menyenangkan, peserta sangat antusias dalam menyimak penyampaian materi serta bersemangat berpartisipasi dalam setiap games yang diadakan. Program ini telah terbukti cukup efektif dilihat dari meningkatnya kemampuan Bahasa Inggris anak-anak Dusun Banyol yang terlihat di hari terakhir kegiatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa program Holiday Camp ini meraih keberhasilan dalam peningkatan kemampuan Bahasa Inggris anak. Dengan adanya program Holiday Camp ini diharapkan anak-anak Dusun Banyol dapat terus mempraktikkan materi-materi yang telah disampaikan di kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah dengan dukungan dari para guru dan orang tua. Hal ini penting untuk menjaga kemampuan Bahasa Inggris anak demi menciptakan generasi muda yang lebih baik. Dengan demikian, Dusun Banyol, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang akan semakin maju dan menciptakan generasi muda yang cemerlang.
AMANDA KIRANA SUKMA ASNAWI
Malang, 26 Januari 2025 - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 184 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar sosialisasi parenting bersama wali murid KB At-Taqwa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang peran mereka dalam mendukung perkembangan anak di masa emas, yakni usia 0-12 tahun. Acara yang berlangsung di Balai Desa Langlang ini menghadirkan pemateri dari dosen Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Malang, Ibu Ratna Nulinnaja, M.Pd.I. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa masa keemasan merupakan masa emas dalam perkembangan anak yang sangat mempengaruhi kecerdasan, emosi, dan kepribadian mereka di masa depan. Menurut Ibu Ratna, perkembangan otak anak pada usia 0-6 tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Oleh karena itu, orang tua harus berperan aktif dalam menstimulasi anak melalui interaksi yang berkualitas. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kasih sayang, mendukung eksplorasi anak, serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembangnya. Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa masa keemasan terbagi dalam beberapa tahap perkembangan: • Masa Bayi (0-3 tahun): Anak mulai mengenali lingkungan sekitarnya, membutuhkan perhatian penuh dari orang tua, serta diberikan stimulasi sensorik dan motorik. • Masa Prasekolah (4-6 tahun): Anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir, daya ingat, dan interaksi sosial. • Masa Sekolah Dasar (7-12 tahun): Fokus utama pada pengembangan intelektual, kontrol emosi, dan kemandirian. Dalam sosialisasi ini, Ibu Ratna juga membagikan berbagai strategi bagi orang tua agar dapat mendukung perkembangan anak secara optimal. Beberapa di antaranya adalah: 1. Komunikasi yang Efektif - Orang tua perlu mendengarkan dan memahami kebutuhan anak serta membangun hubungan positif melalui komunikasi terbuka. 2. Edukasi dan Stimulasi - Menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan seperti membaca buku, bermain edukatif, serta mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sejak dini. 3. Dukungan Emosional - Memberikan pujian yang tulus, mengajarkan anak mengelola emosi, serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang. 4. Pembatasan Teknologi - Membatasi penggunaan gawai dan lebih banyak melibatkan anak dalam aktivitas fisik maupun interaksi sosial langsung. 5. Menjadi Teladan - Orang tua harus menjadi contoh dalam menunjukkan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, empati, dan kerja keras. Sosialisasi ini mendapat respon positif dari para wali murid yang hadir. Mereka mengapresiasi materi yang disampaikan serta berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk mendukung pendidikan dan perkembangan anak sejak usia dini. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan para orang tua dapat lebih memahami pentingnya peran mereka dalam membentuk karakter dan potensi anak sejak dini, sehingga dapat mencetak generasi yang cerdas, berakhlak, dan mandiri.
ACHMAD YUSNI MUZAKKY
Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Café Lawang Sari, tempat berlangsungnya diskusi bertema "Moderasi Beragama" yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam Acara ini membahas tentang pentingnya sikap moderat dalam beragama, menghargai perbedaan, serta membangun kehidupan sosial yang harmonis tanpa menghilangkan identitas keislaman. Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, yang selama ini hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang sosial dan pemahaman keagamaan. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, Gus Agus Zainul Arif dan Fachrul Alamsyah (Gus Irul), yang dikenal sebagai tokoh masyarakat dengan pemahaman Islam yang moderat dan inklusif. Dalam pemaparannya, Gus Agus menekankan bahwa moderasi beragama memiliki peran penting dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang beragam. Ia menjelaskan bahwa menjadi Muslim yang moderat berarti mampu mengamalkan ajaran agama dengan penuh kebijaksanaan, menghindari sikap ekstrem maupun terlalu bebas dalam beragama. Islam, menurutnya, menuntun umatnya untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan sambil tetap terbuka terhadap perbedaan yang ada di sekitarnya. Sementara itu, Gus Irul menyoroti bagaimana sikap moderat dalam beragama harus selalu beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Agama seharusnya menjadi pedoman yang membuat seseorang lebih manusiawi, penuh kasih sayang, dan menghargai sesama. Ketika praktik keagamaan justru memunculkan kebencian dan permusuhan, hal tersebut menunjukkan adanya pemahaman yang keliru terhadap ajaran Islam. Oleh karena itu, ia mengajak untuk senantiasa menjadikan agama sebagai sumber perdamaian, bukan perpecahan. Moderasi beragama bukan sekadar konsep, tetapi sebuah sikap yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami ajaran Islam secara seimbang, seseorang dapat menjalankan keyakinannya tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan menghormati perbedaan. Harapannya, melalui kegiatan seperti ini, masyarakat Desa Gubugklakah semakin mempererat kebersamaan dan menjadikan moderasi beragama sebagai fondasi dalam membangun lingkungan yang damai dan harmonis.
MUHAMMAD AFANDI NUR RAHMAN
Malam pergantian tahun kali ini terasa begitu istimewa karena kami lakukan di Dusun Wates, Desa Wonomulyo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 85 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi momen yang membawa keceriaan sekaligus mempererat hubungan antara warga dan para teman teman mahasiswa. Bertempat di sebuah waduk irigasi sekaligus tempat pemancingan yang dikelilingi persawahan dan rumah rumah warga yang asri, perayaan dimulai dengan persiapan sederhana namun sangatlah penuh makna. Tenda-tenda kecil didirikan, dan warga berkumpul bersama mahasiswa, berbagi cerita sambil menikmati suasana malam. Beberapa ibu menyiapkan jamuan makanan tradisional dan temen temen mahasiswa menyiapkan sajian jagung bakar juga bermacam macam aneka makanan dalam bentuk grill. Salah satu highlight malam itu adalah sesi karaoke yang diikuti oleh warga dari berbagai usia. Dengan iringan musik yang sederhana, warga bergantian menyumbangkan suara mereka. Tawa dan tepuk tangan meriah terdengar setiap kali seseorang selesai bernyanyi. Tidak hanya hiburan, momen ini juga menjadi sarana untuk menjalin keakraban antarwarga dan mahasiswa kelompok 85. Sebagai penutup acara, warga dan teman teman mahasiswa mengadakan doa bersama. Dipimpin oleh sesepuh desa, doa tersebut menjadi simbol harapan akan tahun yang lebih baik, penuh berkah, dan kebahagiaan untuk semua. Kemudian di akhir i dengan menyalakan kembang api besar secara bersamaan tepat di waktu malam pergantian tahun 2024 menuju tahun 2025.
IKA SHINTA RAHMAWATI
Dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) menempatkan 2 kelompok KKM di Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare. Pembukaan KKM UIN dilaksanakan pada hari jumat 20 Desember 2024 di Balai Desa Arjowilangun. Kegiatan pembukaan dihadiri langsung oleh Kepala Desa dan Perangkat Desa, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), dan 24 mahasiswa KKM yang terdiri dari kelompok 131 dan Kelompok 61. Abdul Aziz, M.HI selaku DPL KKM Kelompok 131 Dalam Berbagainya menyampaikan mohon bimbingan kepada bapak kades dan jajaran untuk kelompok KKM UIN, mereka terlihat sempurna secara fisik namun masih butuh belajar bermasyarakat melalui program KKM. Ini adalah KKM yang sebenarnya karena jauh dari kampus. Silakan laksanakan KKM sebaik mungkin sapa warga dan buktikan teori di kampus karena masyarakat adalah lab yang sebenarnya, ungkap Dr. Fakhruddin, M.HI dari DPL KKM Kelompok 131. Kuswianto Kepala Desa Arjowilangun dalam Berbagai macam menyampaikan Terimakasih karena melakukan KKM di Desa Arjowilangun, KKM disini dari berbagai macam jurusan, dengan berbagai macam jurusan maka adaptasinya akan macam-macam. Dengan perbedaan itu akan menemukan titik keindahan. Karena KKM selama 40 hari semoga doa-doanya bisa seperti wali. Mudah-mudahan krasan dan tidak ada yang sakit selama KKM di Desa Arjowilangun, tetap jaga norma kesopanan selama KKN di Desa Arjowilangun. KKM UIN akan berlangsung mulai dari tanggal 20 Desember 2024 sampai dengan 31 Januari 2025 di tempatkan di 2 dusun yaitu di Dusun Pangganglele dan Dusun Lodalem. KKM UIN reguler ini mengusung tema stunting, parenting, kemiskinan ekstrem dan moderasi beragama. Pembukaan KKM UIN diresmikan dengan penyematan jas almamater kepada perwakilan kelompok KKM.
ALIF VIVIANA
Kelompok KKM 126 dan 56 UIN Malang sukses menggelar sosialisasi dengan tema Parenting dan Stunting di Balai Dusun Banduarjo, Desa Sumberpetung, Kecamatan Kalipare. Sosialisasi tersebut berlangsung tepat setelah agenda rutinan PKK berupa pelayanan posyandu. Tidak hanya dihadiri oleh para ibu di desa Sumberpetung, namun kegiatan sosialisasi tersebut juga turut dihadiri langsung oleh kepala desa Sumberpetung, Bapak Hamim Achmad, beserta perangkat desa lainnya. Kegaitan sosialisasi dibuka dengan hangat oleh sambutan dari Kepala Desa selaku tamu undangan. Dalam sambutannya, Hamim memaparkan terkait urgensi dari diadakannya sosialisasi tersebut di Desa Sumberpetung, khususnya. Walaupun fenomena stunting tidak banyak terjadi di desa tersebut, namun pencegahan dini tetap diperlukan. Sosialisasi tersebut juga mengundang dua pemateri yang menguasai bidang pola asuh dan pola makan anak. Materi terkait pola asuh anak atau parenting disampaikan oleh Yully Astutik sebagai pemateri pertama. Penyampaiannya yang interaktif berhasil membangunkan antusias audiens. Melalui sosialisasi tersebut, Yully menegaskan pentingnya pola asuh seorang ibu sebagai sekolah pertama bagi anak. Tak berhenti disitu, materi cegah stunting selanjutnya disampaikan oleh ahli gizi Ayu C. Hermawati sebagai pemateri kedua. Materi ini cukup unik dikarenakan pemateri tidak hanya berbagi ilmu terkait stunting saja, namun juga berbagi menu-menu makanan untuk anak yang bervariasi tapi tetap sehat. Lebih dari itu, Ayu langsung mempraktikan proses dan cara memasak beberapa menu dengan bahan yang sama. Ayu juga tak sungkan untuk mempersilakan siapapun diantara para ibu yang ingin mencoba memasaknya secara langsung di hadapan para audiens lainnya. Hal tersebut pun tentu memantik semangat mereka yang tertarik untuk mencobanya. Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan lancar sampai waktu menjelang tengah hari. Pembawa acara berinisiatif untuk mengakhiri acara dengan sesi tanya jawab berhadiah. Untuk kesekian kalinya, para audiens tergugah untuk menyimak sisa kegiatan tersebut. Tak disangka, banyak diantara audiens yang berhasil menjawab pertanyaan dari pembawa acara dengan cepat dan tepat. Hal ini menunjukkan bahwa para ibu yang hadir di dalam sosialisasi telah menyimak materi yang disampaikan dengan baik. Melalui kegiatan sosialisasi Parenting dan Stunting yang diadakan oleh kelompok KKM 126 dan 56 di Desa Sumberpetung, diharapkan adanya penurunan angka stunting dan krisis parenting pada anak-anak bangsa ini. Karena bangsa yang hebat dimulai dari generasi yang sehat dan kuat.