REIKI PRISTI KHAIRANI
Pada hari Senin, tanggal 23 Desember 2024, Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, menjadi saksi dari pelaksanaan acara kesenian tradisional Bantengan yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal dan mempererat hubungan sosial antarwarga. Acara ini dimulai pada pukul 21.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 03.00 WIB, dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pertunjukan ini. Kesenian Bantengan merupakan warisan budaya yang kaya akan sejarah dan makna mendalam bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang. Dalam pertunjukan ini, seniman lokal menampilkan atraksi tradisional yang menggambarkan keberanian, spiritualitas, dan harmoni antara manusia dan alam. Setiap atraksi diiringi oleh musik tradisional gamelan yang semakin memperkuat suasana sakral dan estetika pertunjukan.Kesenian Bantengan memiliki akar sejarah yang dalam, diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Singhasari. Pada masa itu, kesenian ini berfungsi religius dan digunakan dalam upacara-upacara tertentu serta ritual adat. Selama masa kolonial Belanda, kesenian ini mulai berkembang dengan adanya tokoh seperti Mbah Siran yang menciptakan topeng bantengan dari tanduk banteng. Kini, Bantengan telah menyebar luas ke berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Malang, Batu, Lumajang, Kediri, dan Pasuruan. Pertunjukan Bantengan melibatkan dua orang pemain yang mengenakan kostum banteng besar lengkap dengan hiasan kepala tanduk. Mereka diiringi oleh kelompok musik tradisional yang memainkan alat-alat seperti kendang, gong, dan saron. Setiap pertunjukan biasanya diawali dengan ritual atau doa untuk memohon perlindungan dari roh jahat dan agar para pemain diberkati. Pementasan Bantengan terdiri dari tiga tahap utama: ritual nyuguh atau sandingan, pementasan (karak'an) hingga kesurupan (ndadi), dan nyuwuk yang merupakan proses memulangkan arwah leluhur ke tempat asalnya. Melalui tahapan-tahapan ini, penonton tidak hanya disuguhkan hiburan tetapi juga diajak untuk merenungkan makna yang terkandung dalam setiap gerakan dan lagu yang dinyanyikan. Kesenian Bantengan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya. Dalam setiap pertunjukannya, Bantengan menyampaikan pesan moral tentang persatuan, keberanian, serta pengorbanan untuk kepentingan bersama.Acara ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Selain sebagai hiburan malam hari, kesenian Bantengan juga menjadi wadah bagi warga untuk berkumpul dan menjalin silaturahmi. Masyarakat merasa bangga dapat menyaksikan pertunjukan yang melibatkan unsur-unsur budaya mereka sendiri. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak untuk lebih mengenal dan menghargai budaya lokal mereka serta memahami pentingnya menjaga warisan tersebut agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.Dengan demikian, acara kesenian Bantengan di Desa Ngadirejo bukan hanya sekadar pertunjukan seni tetapi juga merupakan upaya kolektif masyarakat untuk menjaga identitas budaya mereka dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang. Dokumentasi resmi dari kegiatan ini akan menjadi dasar dalam pelaporan kegiatan serta upaya pelestarian budaya di masa mendatang. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan secara rutin agar kesenian tradisional seperti Bantengan tetap hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.
AZMY SYAHIDAH
Malang (23/12/2024) - Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) adalah sarana untuk memberikan pendidikan agama Islam kepada anak-anak usia 4-12 tahun, termasuk yang berada di tingkat TK dan SD. Di TPQ, para santri diajarkan membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat dalam rangka moderasi beragama, mahasiswa KKM Posko 106 turut berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan di Dusun Pohbener, khususnya di kalangan anak-anak. Mereka mendampingi dan belajar bersama di TPQ Al-Ikhlas 1, Al-Ikhlas 2, serta TPQ Mambaul Ulum. Sebelum sesi mengaji dimulai, salah satu ustadz atau ustadzah memberikan kesempatan kepada mahasiswa KKM untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak. Sebanyak tiga belas mahasiswa dari berbagai fakultas ikut serta dalam program KKM di salah satu TPQ setempat. Mereka bekerja sama dengan para ustadz dan ustadzah untuk menciptakan pengajaran yang menarik dan efektif bagi para santri. Materi yang disampaikan meliputi pembelajaran membaca dan memahami Al-Qur'an, doa sehari-hari, serta pendidikan akhlak. Selain itu, para mahasiswa bersama ustadz dan ustadzah juga mengenalkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan guna meningkatkan semangat belajar anak-anak. Mahasiswa KKM posko 106 berharap melalui program mengajar di TPQ, mereka dapat menghadirkan suasana dan semangat baru bagi TPQ tersebut, sekaligus membantu para anak didik memahami dasar-dasar pembelajaran Al-Qur'an dengan lebih mudah. Antusiasme anak-anak di TPQ sangat tinggi, menciptakan suasana belajar yang hidup. Kegiatan belajar-mengajar dirancang secara kreatif, dengan perpaduan permainan dan nyanyian, sehingga anak-anak tetap termotivasi dan tidak merasa bosan saat belajar.
FARID AZHAR SYAFAAT
Usia pencarian jati diri tiap orang terjadi di masa remaja. Tahap ingin mengenal diri sendiri dan keinginan untuk mencoba berbagai hal. Remaja yang dimaksud berusia 10-19 tahun. Di usia ini terdapat berbagai macam gejolak emosi dan permasalahan yang timbul. Jika tidak disikapi dengan bijak maka hal tersebut akan merugikan baik diri sendiri bahkan orang lain. Oleh karenanya, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Reguler UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berkesempatan untuk menyelenggarakan program kerja sosialisasi pencegahan kenakalan remaja sebagai bentuk perhatian serta imbauan untuk para adik-adik sehingga mengenal dan perbuatan kenakalan tersebut bisa dihindari. Sosialisasi Pencegahan Kenakalan Remaja dilaksanakan pada hari Kamis, 23 Januari 2025. Acara tersebut merupakan bentuk progam kerja gabungan dari 3 kelompok KKM yang ada di Desa Wonorejo. Sosialisasi dihadiri oleh siswa-siswi kelas 8 SMPN 4 Singosari Satu Atap dengan total 29 siswa yang hadir, dengan mengusung tema "Mewujudkan Generasi Emas Anti Kenakalan Remaja, Siap Berkontribusi Untuk Negeri". Pemateri yang didatangkan untuk mengisi acara tersebut yakni Dicky Wicaksono yang merupakan Duta Genre Kabupaten Malang 2021. Acara sosialisasi dimulai pukul 10.00 WIB diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Sesi selanjutnya yakni sambutan-sambutan oleh ketua panitia, Dosen Pembimbing Lapangan, serta perwakilan guru kelas 8 SMPN 4 Singosari Satu Atap. Memasuki acara inti yakni penyampaian materi berupa pengenalan kenakalan remaja, faktor penyebab, hingga cara mengatasi kenakalan tersebut. Kenakalan remaja merupakan tindakan dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dan dilakukan oleh remaja. Contoh dari kenakalan remaja tesebut berupa tawuran, pergi tanpa pamit, berkelahi, bolos sekolah, mencuri, menonton video porno, mabuk-mabukan, bahkan lebih parahya jika sudah ditahap mengonsumsi obat-obatan terlarang. Perbuatan tersebut terjadi dikarenakan beberapa alasan yang mendasari, diantaranya berasal dari pribadi karena tidak bisa mengendalikan diri untuk menghindari perilaku nakal, kemudian terdapat pengaruh pola asuh orang tua, hingga lingkungan sekitar atau pergaulan. Cara mengatasi kenakalan remaja yang juga menjawab pertanyaan dari siswa-siswi sehingga dapat disimpulkan beberapa cara yang dapat dilakukan yakni berupa ajakan diskusi mengenai aturan dan konsekuensi, mengetahui alasan penyebab mereka melakukan hal tersebut bukan sebaliknya menghakimi, serta luangkan waktu untuk mendengarkan cerita karena terkadang di masa usia remaja membutuhkan tempat cerita, bukan solusi ataupun penilaian sepihak dari permasalahan yang dialami. Terakhir, tidak kalah pentingnya yakni menghindari pertemanan ataupun lingkungan yang memberikan pengaruh tidak baik. Diharapkan dari acara sosialisasi tersebut dapat memberikan pembelajaran penting berupa wawasan baru yang mampu memahamkan mereka terkait kenakalan remaja sehingga tidak hanya dari siswa-siswi SMPN 4 Singosari Satu Atap namun juga memberikan pengaruh positif untuk teman sebaya lainnya.
AMMAR DZAKY ROSICH ALDIN
Malang, 23 Januari 2025 -- Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 44 Sukma Bhinneka Universitas Islam Negeri (UIN) Malang kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat desa Langlang dengan menggelar demo memasak makanan sehat berbahan dasar daun kelor. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (23/1/2025) ini dilaksanakan di Taman Posyandu setempat, dengan tujuan memperkenalkan daun kelor sebagai bahan pangan bergizi tinggi yang mudah ditemukan dan diolah. Daun kelor, yang dikenal sebagai "superfood", kaya akan nutrisi seperti vitamin C, kalsium, zat besi, dan antioksidan. Sayangnya, potensi daun kelor masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Melalui demo memasak ini, KKM 44 ingin mengedukasi ibu-ibu tentang cara mengolah daun kelor menjadi makanan lezat dan bergizi. Tim KKM 44 mendemonstrasikan dua menu kreatif berbahan dasar daun kelor yang tidak hanya lezat, tetapi juga kaya akan nutrisi. Menu pertama yang diperkenalkan adalah Kukis Daun Kelor. Kukis ini terlihat seperti kukis biasa dengan tekstur renyah dan rasa manis yang pas, namun memiliki nilai gizi lebih tinggi berkat tambahan sari daun kelor. Sari daun kelor diperoleh dengan cara memblender daun kelor segar, lalu memerasnya hingga menghasilkan ekstrak hijau pekat yang kaya akan vitamin dan mineral. Ekstrak ini kemudian dicampurkan ke dalam adonan kukis, menciptakan camilan sehat yang cocok untuk segala usia. Menu kedua yang didemonstrasikan adalah Es Pudding Jelly Daun Kelor. Menu ini menggabungkan kesegaran jelly dengan nutrisi daun kelor, menjadikannya dessert yang sehat dan menyegarkan. Sari daun kelor ditambahkan ke dalam adonan jelly, memberikan warna hijau alami dan nutrisi tambahan. Pudding jelly ini disajikan dengan santan dan gula merah yang telah di cairkan sehingga dapat menetralisir rasa dari daun kelor yang agak pahit, dan menjadikannya es Pudding Jelly Daun Kelor yang segar dan sehat. Setelah demo memasak, tim KKM membagikan hasil olahan tersebut kepada ibu-ibu taman posyandu yang hadir. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan biji daun kelor untuk ditanam, sebagai upaya mendorong kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Program ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Daun kelor, yang mudah tumbuh di berbagai kondisi, dapat menjadi solusi praktis untuk mengatasi masalah gizi, terutama di daerah pedesaan. KKM 44 Sukma Bhinneka UIN Malang terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui program-program inovatif dan berkelanjutan. Kegiatan demo memasak ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal, sekaligus mendukung terciptanya generasi yang sehat dan berkualitas.
MOCH. JULIAN RIZQY AUDI
Sabtu, 18 Januari 2025, sebuah seminar penting bertema "Komunikasi Efektif dengan Anak Usia Pra Remaja" sukses diselenggarakan di SDN 1 Dengkol. Acara ini menghadirkan narasumber utama, Dr. Fathul Lubabin Nuqul, M.Si., dosen psikologi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Seminar yang dimulai pukul 09.00 ini dihadiri oleh para wali murid kelas 4 hingga 6. Tujuannya adalah memberikan wawasan kepada orang tua tentang pentingnya membangun komunikasi yang efektif dalam mendidik anak usia pra-remaja. Acara diawali dengan sambutan dari Moh. Daffa Ul Haq, mahasiswa KKN yang bertindak sebagai ketua pelaksana. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada para peserta atas antusiasme mereka dalam mendukung program ini. Sambutan berikutnya diberikan oleh Umi Wahyuni, S.Pd., Kepala Sekolah SDN 1 Dengkol. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam membentuk karakter anak yang kuat serta mendukung tumbuh kembang mereka secara maksimal. Seminar dimoderatori oleh salah satu mahasiswa KKN, yang memandu jalannya acara dengan lancar. Sesi awal dimulai dengan sharing session yang mengundang partisipasi aktif dari para wali murid. Dalam sesi ini, Dr. Fathul Lubabin menjelaskan bahwa usia pra-remaja merupakan fase krusial dalam perkembangan anak, di mana mereka mulai mencari identitas diri dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Beliau juga menyampaikan bahwa komunikasi yang buruk di masa ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan hubungan emosional anak dengan orang tua. Beliau juga mengatakan bahwa, "Momen paling menyenangkan bagi saya adalah ketika menjemput dan mengantar anak pulang. Ketika anak pulang dalam kondisi lelah, orang tua yang menyambut mereka dapat meredakan emosinya dan menciptakan suasana yang hangat dan penuh kasih sayang," ujarnya. Para peserta tampak sangat antusias, mengajukan berbagai pertanyaan tentang cara menghadapi anak yang mulai melawan, bersikap keras kepala, atau enggan berbagi cerita dengan orang tua. Dr. Fathul memberikan panduan praktis, seperti pentingnya mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan apresiasi pada usaha anak, serta menciptakan suasana dialog yang santai dan terbuka. Beliau juga menekankan pentingnya konsistensi dalam memberikan aturan dan batasan yang jelas, agar anak memahami nilai-nilai yang diterapkan dalam keluarga. Seminar ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga membekali para peserta dengan teknik sederhana untuk meningkatkan keterampilan komunikasi mereka. Contohnya, peserta diajarkan cara menggunakan pertanyaan terbuka untuk memancing diskusi, serta bagaimana memilih waktu yang tepat untuk berbicara dengan anak. Dr. Fathul juga mendorong orang tua untuk terus belajar dan berbagi pengalaman dengan sesama wali murid agar dapat saling mendukung. Para peserta menyambut baik materi yang disampaikan dan merasa lebih percaya diri dalam menghadapi anak-anak mereka. Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah dan masyarakat berharap dapat menjadikan seminar ini sebagai awal dari program-program lain yang mendukung pendidikan dan pengasuhan anak secara holistik. Acara ini menjadi langkah positif untuk memperkuat hubungan keluarga, menciptakan suasana rumah yang harmonis, dan mempersiapkan anak-anak menjadi pribadi yang percaya diri dan berkarakter.
RATU YASMIN KAMILA
Malang (23/12/2024) - Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) adalah sarana untuk memberikan pendidikan agama Islam kepada anak-anak usia 4-12 tahun, termasuk yang berada di tingkat TK dan SD. Di TPQ, para santri diajarkan membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat dalam rangka moderasi beragama, mahasiswa KKM Posko 106 turut berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan di Dusun Pohbener, khususnya di kalangan anak-anak. Mereka mendampingi dan belajar bersama di TPQ Al-Ikhlas 1, Al-Ikhlas 2, serta TPQ Mambaul Ulum. Sebelum sesi mengaji dimulai, salah satu ustadz atau ustadzah memberikan kesempatan kepada mahasiswa KKM untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak. Sebanyak tiga belas mahasiswa dari berbagai fakultas ikut serta dalam program KKM di salah satu TPQ setempat. Mereka bekerja sama dengan para ustadz dan ustadzah untuk menciptakan pengajaran yang menarik dan efektif bagi para santri. Materi yang disampaikan meliputi pembelajaran membaca dan memahami Al-Qur'an, doa sehari-hari, serta pendidikan akhlak. Selain itu, para mahasiswa bersama ustadz dan ustadzah juga mengenalkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan guna meningkatkan semangat belajar anak-anak. Mahasiswa KKM posko 106 berharap melalui program mengajar di TPQ, mereka dapat menghadirkan suasana dan semangat baru bagi TPQ tersebut, sekaligus membantu para anak didik memahami dasar-dasar pembelajaran Al-Qur'an dengan lebih mudah. Antusiasme anak-anak di TPQ sangat tinggi, menciptakan suasana belajar yang hidup. Kegiatan belajar-mengajar dirancang secara kreatif, dengan perpaduan permainan dan nyanyian, sehingga anak-anak tetap termotivasi dan tidak merasa bosan saat belajar.