Thumbnail
2 years ago
Dorong Kemandirian Ekonomi, Pemuda Desa Taji Dibekali Pelatihan Affiliate Marketing Oleh Mahasiswa KKM Uin Malang Kelompok 29

DWI ELVIRA TASYA NUR MELINDA C

Pada Kamis, 23 Januari 2025, pukul 15.00 WIB, bertempat di Kopi Taji, Desa Taji, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang kelompok 29 menggelar pelatihan affiliate marketing. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi pemuda desa, khususnya yang berada di RT 3, RT 4, dan RT 5.  Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan keterampilan kepada para pemuda Desa Taji dalam memanfaatkan peluang ekonomi digital melalui affiliate marketing. Dalam era digital saat ini, affiliate marketing menjadi salah satu strategi bisnis yang efektif untuk meningkatkan pendapatan tanpa memerlukan modal besar. Mahasiswa KKM kelompok 29 berinisiatif menyelenggarakan program ini untuk mendorong kemandirian ekonomi di kalangan pemuda desa. cara ini diawali dengan pembukaan oleh Janggi Dusat H.A.W, yang bertindak sebagai MC sekaligus moderator. Dengan penuh semangat, Janggi menyampaikan apresiasinya terhadap kehadiran pemuda Desa Taji yang begitu antusias dalam mengikuti pelatihan ini. "Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi langkah awal bagi pemuda Desa Taji untuk lebih mandiri secara ekonomi melalui teknologi digital," ujarnya. Pemateri utama dalam pelatihan ini adalah Moh. Nasukhin Asrori, salah satu mahasiswa UIN Malang yang juga tergabung dalam kelompok 29. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, Nasukhin memaparkan materi secara runtut dan mudah dipahami. Ia menjelaskan konsep dasar affiliate marketing, bagaimana cara kerja sistem ini, serta potensi penghasilan yang bisa diraih jika dilakukan dengan konsisten. Setelah penyampaian materi, peserta diajak langsung untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Mereka diajarkan cara membuat akun di platform affiliate, memahami langkah-langkah awal promosi, serta tips dan trik untuk mengimplementasikan strategi pemasaran digital yang efektif. Suasana pelatihan semakin hidup ketika peserta mulai mencoba membuat akun mereka sendiri dengan bimbingan langsung dari pemateri. Antusiasme pemuda Desa Taji terlihat jelas sepanjang acara. Banyak dari mereka yang aktif bertanya dan berdiskusi tentang cara mengoptimalkan pemasaran melalui media sosial. Salah satu peserta dari RT 4 mengungkapkan, "Saya sangat tertarik dengan peluang ini karena bisa dikerjakan di mana saja. Terima kasih kepada kakak-kakak mahasiswa UIN Malang yang telah berbagi ilmu." Kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan pemuda Desa Taji tentang potensi besar dalam dunia digital marketing, khususnya melalui sistem afiliasi. Dengan pelatihan ini, mahasiswa KKM UIN Malang kelompok 29 berharap pemuda Desa Taji dapat lebih mandiri secara ekonomi dan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan kenang-kenangan atas kolaborasi yang telah terjalin. Mahasiswa KKM UIN Malang kelompok 29 berharap pelatihan ini menjadi awal dari langkah besar para pemuda Desa Taji dalam memanfaatkan teknologi digital secara produktif.  

Thumbnail
2 years ago
KKM Mandiri Integrasi UIN Maliki Malang Mengadakan Sosialisasi Parenting di Desa Janjangwulung

HAFIDZ INSANU IZZA AL-MARIS

Pada hari Kamis, tanggal 23 Januari 2025, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Parenting yang bertempat di Balai Desa Janjangwulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Janjangwulung, seluruh perangkat desa, 2 orang perwakilan dari pendidik formal maupun nonformal, 25 kader PKK, serta 5 kepala dusun se-Desa Janjangwulung. Narasumber Sosialisasi Parenting yang bertemakan “Pentingnya Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Membentuk Karakter Anak serta Peningkatan Kesadaran atas Pentingnya Pendidikan Formal” ini yaitu Bapak Ali Syahidin Mubarok, M.Si., seorang dosen Psikologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan praktisi pendidikan yang berpengalaman di bidang pengasuhan anak. Dalam kegiatan ini, narasumber memberikan pemaparan mengenai pentingnya pola asuh yang tepat, teknik dan strategi untuk mendidik anak dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, serta komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, Bapak Ali juga menyinergikan pola asuh islam yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan kondisi psikologis anak di zaman sekarang. Ketua KKM Desa Janjangwulung, Saudara Izza Al-Maris dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. "Pendidikan dimulai dari rumah, dan orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat membantu para orang tua untuk lebih memahami cara-cara yang tepat dalam mendidik anak," ujarnya. Kegiatan berlangsung dengan interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada narasumber mengenai permasalahan parenting yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu Narasumber juga memberi hadiah bagi audiens yang bisa menjawab soal yang diberikan. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan dan jawaban yang berlangsung selama sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan datang dari Ibu Ida, selaku salah satu guru pengajar di MI Al-Hidayah Desa Janjangwulung. Beliau bertanya “Pernah lewat di beranda sosial media saya bahwa cara mendidik anak perempuan dan anak laki laki itu berbeda, dimana kalau anak perempuan tidak perlu diberikan wewenang untuk memilih, sedangkan anak laki-laki harus dibiasakan sejak dini untuk diberikan pilihan dan menentukan suatu keputusan. Mohon dikonfirmasi bapak, apakah itu merupakan cara mendidik anak yang benar atau tidak?”. Dari pertanyaan tersebut, bapak Ali selaku pemateri mengonfirmasi bahwa berita itu tidak benar, dan sebagai orang tua maupun pendidik kita harus lebih selektif dalam menyaring dan memilah informasi terkait cara mendidik anak yang tersebar di sosial media. Dari pertanyaan tersebut, pemateri kita juga menyinggung terkait budaya patriarki, dan memberikan pengetahuan berdasarkan ilmu psikologi dan peneitian terkait cara mendidik anak perempuan dan laki-laki yang lebih tepat. Selain itu ada pula pertanyaan dari ibu Hamidah, selaku perwakilan dari kader sekaligus merangkap sebagai Kepala Lembaga RA Miftahul Ulum Desa Janjangwulung. Beliau bertanya terkait bagaimana cara menghadapi dan mendidik anak yang hiperaktif, hingga sangat sulit sekali untuk konsentrasi dan belajar. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri bahwa cara menyikapi anak anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) membutuhkan perhatian khusus baik secara fisik maupun psikis, dimana diperlukannya sinergi dan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Dimana berdasarkan penelitian, Bapak Ali menyebutkan bahwa untuk mengurangi energi berlebih yang dimiliki anak, kita harus memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi oleh anak. Anak yang terindikasi ADHD atau yang biasa dikenal dengan istilah hiperaktif tidak boleh mengonsumsi susu, coklat, makanan yang mengandung pati/ tepung, makanan yang mengandung alergen dan makanan yang terlalu manis, karena makanan tersebut akan menyebabkan anak menjadi semakin aktif karena mengandung banyak gula. Selain itu secara psikologis juga, bisa menjadi indikasi bahwa anak kekurangan perhatian dari orang tua, sehingga sebagai orang tua juga harus terus belajar. Adanya diskusi interaktif ini membuat acara menjadi lebih hidup dan memberikan ruang bagi orang tua untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing. Dengan adanya sosialisasi parenting ini, diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam mendidik dan mengasuh anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlak baik. Serta menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap perkembangan anak di Desa Janjangwulung, sekaligus memperkuat peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak di wilayah tersebut.

Thumbnail
2 years ago
Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Gelar Sosialisasi "Stop Bullying" di SDN 04 Bangelan

MUHAMMAD ROBETH MURSYIDAN BALDAN

Rabu, 22 Januari 2025 -- Mahasiswa KKM 133 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan sosialisasi dengan tema "Stop Bullying" di SDN 04 Bangelan, Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Sosialisasi ini merupakan salah satu program kerja mereka yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa-siswi tentang bahaya bullying serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan damai. Kegiatan ini secara khusus ditujukan untuk siswa-siswi kelas 6 sebagai bekal sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya, seperti SMP atau MTs. Dengan menghadapi masa transisi tersebut, penting bagi siswa memiliki pemahaman yang baik tentang dampak buruk bullying agar mereka dapat menciptakan hubungan yang positif dengan teman-temannya. Bullying, sebagaimana dipaparkan dalam sosialisasi, mencakup segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan secara sengaja. Hal ini meliputi tindakan mengejek, menjambak, memukul, memberikan julukan yang tidak pantas, hingga menampilkan ekspresi atau tatapan merendahkan yang dapat melukai perasaan korban. Perilaku ini tidak hanya berdampak pada korban secara psikologis, tetapi juga dapat merusak suasana belajar yang kondusif di sekolah. Dalam kegiatan sosialisasi ini, mahasiswa KKM 133 menyampaikan materi secara interaktif dan menarik. Materi yang dibahas meliputi: Jenis-jenis bullying, baik verbal, fisik, maupun sosial. Dampak hukum yang bisa dihadapi oleh pelaku bullying. Bahaya bullying terhadap korban, termasuk dampak psikologis dan emosional Pengaruh bullying terhadap lingkungan sosial secara umum. Cara mencegah bullying dan membangun pertemanan yang sehat di sekolah. Para mahasiswa memanfaatkan berbagai media untuk menyampaikan materi agar lebih mudah dipahami oleh siswa. Media yang digunakan antara lain poster, presentasi PowerPoint, serta video pendek yang menarik dan edukatif. Dengan pendekatan ini, siswa terlihat antusias dan aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Sosialisasi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini berjalan dengan lancar dan tertib. Siswa-siswi kelas 6 mengikuti kegiatan dengan penuh semangat. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka dalam sesi tanya jawab yang diadakan setelah penyampaian materi. Para peserta menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi yang disampaikan, dengan banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan. Sebagai bagian dari sosialisasi, diadakan pula sesi kuis untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipaparkan. Siswa yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah menarik sebagai bentuk apresiasi. Selain itu, panitia juga membagikan snack untuk seluruh peserta guna menambah semangat mereka selama kegiatan berlangsung. Pak Huda, wali kelas 6 SDN 04 Bangelan, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada mahasiswa KKM UIN Malang atas inisiatif ini. "Saya sangat berterima kasih dengan adanya kegiatan ini. Semoga ke depannya tidak ada lagi bullying atau tindakan buruk lainnya di sekolah ini. Dengan adanya sosialisasi seperti ini, siswa-siswi kami mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya menjaga sikap terhadap teman-temannya," ungkapnya. Sebagai penutup, kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara mahasiswa KKM, guru, dan seluruh siswa kelas 6. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan baru bagi siswa, tetapi juga meninggalkan kesan positif yang mendalam bagi mereka. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan siswa-siswi SDN 04 Bangelan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari perilaku bullying. Melalui program kerja ini, mahasiswa KKM 133 UIN Malang membuktikan perannya sebagai agen perubahan yang tidak hanya berkontribusi pada pendidikan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter generasi muda. Semoga kegiatan serupa dapat terus diadakan di sekolah-sekolah lain, sehingga semakin banyak siswa yang teredukasi mengenai pentingnya menghentikan bullying.    

Thumbnail
2 years ago
Kolaborasi Masyarakat Kampung Kalisat dan Kelompok KKM 69 Wujudkan Program Pengadaan Sistem Penerangan Jalan Umum

SAIFUDDIN RABBANI

Sumbertempur, 25 Januari 2025 Kelompok 69 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Malang mengikuti kegiatan pemasangan tiang lampu, setelah sebelumnya terlibat dalam perencanaan dari program pengadaan sistem penerangan tersebut. Bersamaan dengan diadakannya kerja bakti di Kampung Kalisat, masyarakat setempat terlibat dalam pemasangan sistem penerangan jalan tersebut. Program pemasangan ini dilaksanakan karena kurangnya sistem penerangan jalan umum di kawasan Kampung Kalisat, Dusun Sumbertempur. Masyarakat dibagi menjadi dua kelompok besar yang bertugas untuk membersihkan lingkungan dan memasang tiang lampu serta pengecatan. Diketahui bahwa sistem penerangan jalan umum atau PJU merupakan aspek penting bagi keselamatan pengguna jalan, terutama dalam kondisi tertentu yang menghambat penglihatan (widodo & restu, 2023). Maka dari itu keberadaan sistem penerangan di jalan umum merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh masyarakat setempat. Menyikapi kurangnya sistem penerangan jalan di Kampung Kalisat, Dusun Sumbertempur Lor Kabupaten Malang, masyarakat menginisiasi program pengadaan sistem penerangan tersebut. Bertepatan dengan adanya program KKM, masyarakat mengajak Kelompok KKM 69 untuk berkolaborasi dalam kegiatan kerja bakti sekaligus program pengadaan sistem penerangan jalan.  Kegiatan kerja bakti dan pengadaan penerangan jalan dimulai pukul 07.00 WIB. Masyarakat berfokus pada pembersihan lingkungan, meskipun beberapa warga mulai mengatur pemasangan tiang lampu. Sehari sebelumnya beberapa tiang lampu telah dipasang, sehingga menyisakan beberapa tiang lampu yang belum dipasang. Sekitar pukul 08.30 WIB tiang lampu telah terpasang semua. Setelah pemasangan selesai, kelompok KKM 69 berpartisipasi dalam pengecatan tiang tersebut. Kegiatan kerja bakti dan pemasangan tiang lampu selesai pada pukul 10.20 WIB. Kegiatan kerja bakti dan pengadaan sistem penerangan jalan ini merupakan bentuk kerja sama antara warga Kampung Kalisat dan Kelompok KKM 69. Melalui kolaborasi ini, masyarakat setempat menjawab permasalahan kurangnya penerangan jalan umum di kampung tersebut. Sehingga, diharapkan bahwa keselamatan pengguna jalan lebih terjamin dan sinergitas antar masyarakat setempat dengan Kelompok KKM 69 dapat terbentuk. Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kolaborasi Masyarakat Kampung Kalisat dan Kelompok KKM 69 Wujudkan Program Pengadaan Sistem Penerangan Jalan Umum", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/ishomal0871/67984820ed64157afe0fe225/kolaborasi-masyarakat-kampung-kalisat-dan-kelompok-kkm-69-wujudkan-program-pengadaan-sistem-penerangan-jalan-umum Kreator: Ishomudin Al Aziz Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Thumbnail
2 years ago
Inovasi Ramah Lingkungan dengan Memanfaatkan Minyak Jelatah Menjadi Lilin

AZIZATUL MUNAWAROH

Pada tanggal 19 Januari 2025, KKM Sidomulyo 165 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertajuk "Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah." Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah yang sering kali dibuang sembarangan. Kegiatan tersebut menyoroti cara mengubah minyak bekas menjadi produk bernilai ekonomi, seperti lilin ramah lingkungan, yang juga membantu mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang sering kali dianggap remeh. Dalam penyuluhan ini, narasumber menjelaskan bahwa minyak jelantah memiliki banyak risiko jika tidak dikelola dengan baik. Minyak yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan air, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Selain itu, jika digunakan berulang kali melebihi batas wajar, minyak ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti risiko penyakit jantung, obesitas, gangguan pencernaan, hingga kanker. Faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng juga dijelaskan, termasuk jenis minyak, suhu pemanasan, dan kondisi penyimpanan. Masyarakat diberi pemahaman bahwa minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal tiga kali pemanasan, dengan sisa makanan yang disaring untuk memperpanjang penggunaannya. Namun, setelah batas penggunaan tersebut tercapai, minyak bekas tidak boleh dibuang begitu saja. Di sinilah konsep daur ulang memainkan peran penting. Salah satu poin utama dari kegiatan ini adalah memperkenalkan potensi ekonomi dari minyak jelantah. Minyak bekas dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, sabun, dan lilin. Di antara semua produk tersebut, lilin dari minyak jelantah menjadi topik utama dalam penyuluhan. Narasumber menjelaskan bahwa bahan baku minyak jelantah sangat melimpah, terutama dari rumah tangga, restoran, dan usaha kuliner kecil. Dengan modal kecil, siapa pun bisa memulai usaha pembuatan lilin dari minyak bekas ini. Selain mengurangi limbah, usaha ini juga memiliki pasar yang cukup luas. Lilin dari minyak jelantah banyak diminati karena ramah lingkungan dan memiliki harga jual yang kompetitif. Dengan harga minyak jelantah sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per liter, produk lilin bisa dijual dengan harga mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 per unit, tergantung pada desain dan kualitasnya. Hal ini menjadi peluang menarik bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan sambil berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk langsung mencoba membuat lilin dari minyak jelantah. Prosesnya cukup sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Berikut adalah langkah-langkahnya: 1. Penyaringan Minyak Jelantah: Minyak bekas disaring untuk menghilangkan sisa-sisa makanan atau kotoran. 2. Pencampuran dengan Lilin Parafin atau Bahan Pengikat: Minyak jelantah dicampur dengan lilin parafin atau bahan lain yang dapat mengikat minyak agar menghasilkan tekstur yang solid. 3. Penambahan Pewarna dan Pewangi: Pewarna dan aroma tambahan diberikan untuk membuat lilin lebih menarik. 4. Penuangan ke Cetakan: Campuran minyak dituangkan ke dalam cetakan sesuai bentuk yang diinginkan. 5. Pendinginan dan Pemadatan: Lilin dibiarkan dingin hingga mengeras, lalu dilepaskan dari cetakan. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap langkahnya. Banyak dari mereka yang merasa proses ini cukup mudah dan dapat diterapkan di rumah dengan peralatan sederhana. Selain ramah lingkungan, lilin dari minyak jelantah memiliki banyak manfaat. Lilin ini dapat digunakan untuk penerangan alternatif, dekorasi, atau bahkan sebagai aromaterapi jika ditambahkan pewangi. Dengan demikian, produk ini tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Dalam skala usaha, lilin dari minyak jelantah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang limbah Kegiatan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin ini menjadi salah satu langkah kecil yang membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Edukasi yang diberikan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya minyak jelantah jika tidak dikelola, tetapi juga membuka peluang baru untuk menciptakan produk bernilai ekonomi. Dengan modal kecil dan proses yang sederhana, siapa pun dapat memulai usaha ini sambil berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, KKM Sidomulyo 165 mengajak seluruh masyarakat untuk memandang limbah sebagai peluang, bukan masalah. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin adalah salah satu contoh konkret bagaimana kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan langkah ini, diharapkan semakin banyak orang yang terinspirasi untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. https://www.kompasiana.com/arthasamasta0418/67984057ed64152941272ae7/inovasi-ramah-li ngkungan-dengan-memanfaatkan-minyak-jelatah-menjadi-lilin

Thumbnail
2 years ago
Kegiatan KKM Posko 106 Mengabdi Mengajar TPQ

AIDAH ALYA MUFIDAH

Malang (23/12/2024) - Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) merupakan sarana untuk memberikan pendidikan agama Islam kepada anak-anak usia 4-12 tahun, termasuk yang berada di tingkat TK dan SD. Di TPQ, para santri mengajarkan membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat dalam rangka moderasi beragama, mahasiswa KKM Posko 106 turut berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan di Dusun Pohbener, khususnya di kalangan anak-anak. Mereka mendampingi dan belajar bersama di TPQ Al-Ikhlas 1, Al-Ikhlas 2, serta TPQ Mambaul Ulum. Sebelum sesi mengaji dimulai, salah satu ustadz atau ustadzah memberikan kesempatan kepada mahasiswa KKM untuk memperkenalkan diri kepada anak-anak. Sebanyak tiga belas mahasiswa dari berbagai fakultas ikut serta dalam program KKM di salah satu TPQ setempat. Mereka bekerja sama dengan para ustadz dan ustadzah untuk menciptakan pengajaran yang menarik dan efektif bagi para santri. Materi yang disampaikan meliputi pembelajaran membaca dan memahami Al-Qur'an, doa sehari-hari, serta pendidikan akhlak. Selain itu, para pelajar bersama ustadz dan ustadzah juga memperkenalkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan guna meningkatkan semangat belajar anak-anak. Mahasiswa KKM posko 106 berharap melalui program mengajar di TPQ, mereka dapat menghadirkan suasana dan semangat baru bagi TPQ tersebut, sekaligus membantu para anak didik memahami dasar-dasar pembelajaran Al-Qur'an dengan lebih mudah. Antusiasme anak-anak di TPQ sangat tinggi, menciptakan suasana belajar yang hidup. Kegiatan belajar mengajar dirancang secara kreatif, dengan perpaduan permainan dan nyanyian, sehingga anak-anak tetap termotivasi dan tidak merasa bosan saat belajar.