SUFIANA SALSABILLA
Suasana hangat dan penuh berkah menyelimuti Dusun Kembang pada Peringatan Isra Mi'raj dan Penutupan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara yang digelar oleh Mahasiswa KKM berkolaborasi dengan Ta'mir Masjid Roudlotus Sholihin ini dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk perangkat desa, jajaran Ta'mir Masjid, mahasiswa KKM serta dosen pendamping lapangan turut hadir. Berlokasi di Masjid Roudlotus Sholihin Dusun Kembang, Desa Purwoasri, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, acara dimulai dengan lantunan maulid diba' oleh Majlis Diba' Kembang. Dilanjut dengan sambutan oleh ketua kelompok KKM Anantaka 115 yang menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Dusun Kembang atas penerimaan hangat serta dukungan selama pelaksanaan program KKM. Kepala desa yang diwakili oleh ketua RW setempat dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas dedikasi dan kontribusi Mahasiswa KKM UIN Malang selama kurang lebih 40 hari di dusun Kembang. "Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa KKM UIN Malang atas dedikasi dan kontribusinya selama berada di Dusun Kembang. Kehadiran kalian tidak hanya membawa semangat baru dalam pendampingan belajar bagi anak-anak kami, tetapi juga memberikan banyak manfaat melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Partisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat telah meninggalkan kesan mendalam bagi kami. Semoga ilmu dan pengalaman yang didapat menjadi bekal berharga untuk masa depan, dan silaturahmi ini tetap terjalin meski program KKM telah usai," ujarnya. Momentum utama dalam acara yang digelar Sabtu (25/1) adalah ceramah keagamaan oleh Ustadz M. Abdullah Charis, M.Pd., dosen pendamping lapangan KKM Anantaka 115 UIN Malang. Mengupas hikmah dibalik perjalanan Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW, yang tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi tentang hubungan manusia dengan manusia. "Peristiwa Isra' Mi'raj mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Ketika Rasulullah SAW menerima perintah sholat lima waktu, beliau melaksanakannya secara berjamaah bersama para nabi terdahulu, yang berasal dari berbagai kaum dan zaman yang berbeda. Ini menjadi simbol bahwa Islam mengajarkan persatuan di atas keberagaman," katanya. Selain itu, beliau juga menyampaikan apresiasi kepada warga Dusun Kembang yang telah menerima mahasiswa KKM dengan baik. Tak lupa, beliau memohon maaf jika selama pelaksanaan KKM masih terdapat kekurangan, mengingat mahasiswa masih dalam tahap belajar. Sebagai bentuk kenang-kenangan dan penghargaan atas kerja sama yang telah terjalin, sesi pemberian cinderamata pun menjadi penutup acara. Mahasiswa KKN menyerahkan cinderamata kepada pihak dusun sebagai tanda terima kasih, begitu pula pihak dusun memberikan kenang-kenangan kepada mahasiswa KKM sebagai wujud apresiasi dan ikatan kebersamaan yang telah terbentuk.
SITI JAMHARIRAH
Penutupan kegiatan mengajar oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) berlangsung di lapangan SDN 1 Ngadas pada Senin, (20/1). Acara ini dihadiri oleh para guru, siswa, serta anggota kelompok 8 KKM UIN Malang, yang sekaligus menandai berakhirnya program pengabdian selama dua minggu. Momen ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi yang berkelanjutan antara UIN Malang dan SDN 1 Ngadas. Acara dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan serta pemberian kenang-kenangan simbolis dari mahasiswa KKM kepada pihak sekolah. Sambutan pertama disampaikan oleh Akhmad Sulton Khakim, ketua kelompok 8 KKM UIN Malang. Dalam sambutannya, Khakim mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah atas sambutan hangat yang diterima selama proses pembelajaran. Ia juga menceritakan pengalaman berharga yang dirasakan mahasiswa selama kegiatan mengajar. "Kami sangat berterima kasih atas bimbingan para guru selama kami berada di sini. Pengalaman ini menjadi ajang untuk mengaplikasikan ilmu dari bangku kuliah sekaligus menghadapi tantangan dan belajar lebih banyak," ungkap Khakim. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Bapak Haris, Kepala Sekolah SDN 1 Ngadas. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi mahasiswa KKM dalam mendukung kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Ia juga berharap kolaborasi ini dapat terus terjalin dan memberi dampak positif bagi perkembangan pendidikan di Desa Ngadas. "Kami sangat menghargai semangat dan dedikasi para mahasiswa KKM. Semoga siswa-siswi kami terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perkuliahan, mengikuti jejak kakak-kakak mahasiswa," ujar beliau. Acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan secara simbolis dari perwakilan mahasiswa kepada kepala sekolah sebagai bentuk apresiasi. Sebelum penutupan, mahasiswa dan guru berfoto bersama serta mengadakan sesi ramah tamah dengan siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Momen ini menjadi penutup yang penuh kehangatan, sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKM dan komunitas SDN 1 Ngadas. Sebelum meninggalkan sekolah, para mahasiswa berpamitan dengan para guru di kantor sebagai tanda penghormatan. Penutupan ini menandai berakhirnya kegiatan pengabdian yang diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi SDN 1 Ngadas.
NUR ASIYAH FEBRIANA
Pada hari Kamis, tanggal 23 Januari 2025, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Parenting yang bertempat di Balai Desa Janjangwulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Janjangwulung, seluruh perangkat desa, 2 orang perwakilan dari pendidik formal maupun nonformal, 25 kader PKK, serta 5 kepala dusun se-Desa Janjangwulung. Narasumber Sosialisasi Parenting yang bertemakan “Pentingnya Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Membentuk Karakter Anak serta Peningkatan Kesadaran atas Pentingnya Pendidikan Formal” ini yaitu Bapak Ali Syahidin Mubarok, M.Si., seorang dosen Psikologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan praktisi pendidikan yang berpengalaman di bidang pengasuhan anak. Dalam kegiatan ini, narasumber memberikan pemaparan mengenai pentingnya pola asuh yang tepat, teknik dan strategi untuk mendidik anak dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, serta komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, Bapak Ali juga menyinergikan pola asuh islam yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan kondisi psikologis anak di zaman sekarang. Ketua KKM Desa Janjangwulung, Saudara Izza Al-Maris dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. "Pendidikan dimulai dari rumah, dan orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat membantu para orang tua untuk lebih memahami cara-cara yang tepat dalam mendidik anak," ujarnya. Kegiatan berlangsung dengan interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada narasumber mengenai permasalahan parenting yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu Narasumber juga memberi hadiah bagi audiens yang bisa menjawab soal yang diberikan. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan dan jawaban yang berlangsung selama sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan datang dari Ibu Ida, selaku salah satu guru pengajar di MI Al-Hidayah Desa Janjangwulung. Beliau bertanya “Pernah lewat di beranda sosial media saya bahwa cara mendidik anak perempuan dan anak laki laki itu berbeda, dimana kalau anak perempuan tidak perlu diberikan wewenang untuk memilih, sedangkan anak laki-laki harus dibiasakan sejak dini untuk diberikan pilihan dan menentukan suatu keputusan. Mohon dikonfirmasi bapak, apakah itu merupakan cara mendidik anak yang benar atau tidak?”. Dari pertanyaan tersebut, bapak Ali selaku pemateri mengonfirmasi bahwa berita itu tidak benar, dan sebagai orang tua maupun pendidik kita harus lebih selektif dalam menyaring dan memilah informasi terkait cara mendidik anak yang tersebar di sosial media. Dari pertanyaan tersebut, pemateri kita juga menyinggung terkait budaya patriarki, dan memberikan pengetahuan berdasarkan ilmu psikologi dan peneitian terkait cara mendidik anak perempuan dan laki-laki yang lebih tepat. Selain itu ada pula pertanyaan dari ibu Hamidah, selaku perwakilan dari kader sekaligus merangkap sebagai Kepala Lembaga RA Miftahul Ulum Desa Janjangwulung. Beliau bertanya terkait bagaimana cara menghadapi dan mendidik anak yang hiperaktif, hingga sangat sulit sekali untuk konsentrasi dan belajar. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri bahwa cara menyikapi anak anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) membutuhkan perhatian khusus baik secara fisik maupun psikis, dimana diperlukannya sinergi dan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Dimana berdasarkan penelitian, Bapak Ali menyebutkan bahwa untuk mengurangi energi berlebih yang dimiliki anak, kita harus memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi oleh anak. Anak yang terindikasi ADHD atau yang biasa dikenal dengan istilah hiperaktif tidak boleh mengonsumsi susu, coklat, makanan yang mengandung pati/ tepung, makanan yang mengandung alergen dan makanan yang terlalu manis, karena makanan tersebut akan menyebabkan anak menjadi semakin aktif karena mengandung banyak gula. Selain itu secara psikologis juga, bisa menjadi indikasi bahwa anak kekurangan perhatian dari orang tua, sehingga sebagai orang tua juga harus terus belajar. Adanya diskusi interaktif ini membuat acara menjadi lebih hidup dan memberikan ruang bagi orang tua untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing. Dengan adanya sosialisasi parenting ini, diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam mendidik dan mengasuh anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlak baik. Serta menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap perkembangan anak di Desa Janjangwulung, sekaligus memperkuat peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak di wilayah tersebut.
YUDHA BIMANTARA JAYA LUBIS
Pada hari Senin, 13 Januari 2025, suasana yang penuh semangat dan antusiasme menyelimuti Balai Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Di tempat ini, telah berlangsung kegiatan Sosialisasi Parenting dan Pencegahan Stunting, yang merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) yang diinisiasi oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat, terutama para orang tua dan ibu hamil, yang menjadi sasaran utama dari sosialisasi ini. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB, dan dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Pelaksana yang menyampaikan tujuan utama acara ini: memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada warga Desa Pandansari Lor mengenai pentingnya pola asuh anak yang baik serta pencegahan stunting sebagai masalah kesehatan yang kian meresahkan. Sebelum memulai sesi materi, Kepala Desa Pandansari Lor juga memberikan sambutan yang penuh harapan agar kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan anak-anak di desa tersebut. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ibu Dr. Hj. Rafiqah, M. Pd., C. Ht., Dosen Fakultas Psikologi UIN Malang, yang menjelaskan secara rinci mengenai pentingnya pola asuh yang positif untuk mendukung tumbuh kembang anak. Beliau juga menekankan betapa vitalnya peran orang tua dalam memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang seimbang sejak dini, guna mencegah terjadinya stunting yang dapat menghambat perkembangan fisik dan kognitif anak. Sesi ini semakin hidup dengan adanya tanya jawab dan diskusi interaktif, di mana para peserta, terutama ibu-ibu yang hadir, dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait pola asuh dan cara-cara efektif dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Beberapa ibu berbagi pengalaman mengenai kendala yang mereka hadapi dalam memberikan gizi yang optimal kepada anak-anak mereka, yang membuka ruang untuk saling berbagi solusi dan ide. Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama pada pukul 12.00 WIB, yang dipimpin oleh salah seorang tokoh agama setempat. Doa ini menjadi momen harapan agar warga Desa Pandansari Lor dapat mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas dari masalah stunting. Dengan berakhirnya acara ini, harapan besar pun disampaikan kepada seluruh masyarakat desa, khususnya para orang tua, agar mereka dapat mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapatkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bukan hanya sekadar informasi semata, tetapi juga sebuah langkah konkret untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak, mencegah stunting, dan mewujudkan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
RICO EDI SAPUTRO
Pada hari Kamis, tanggal 23 Januari 2025, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Parenting yang bertempat di Balai Desa Janjangwulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Janjangwulung, seluruh perangkat desa, 2 orang perwakilan dari pendidik formal maupun nonformal, 25 kader PKK, serta 5 kepala dusun se-Desa Janjangwulung. Narasumber Sosialisasi Parenting yang bertemakan “Pentingnya Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Membentuk Karakter Anak serta Peningkatan Kesadaran atas Pentingnya Pendidikan Formal” ini yaitu Bapak Ali Syahidin Mubarok, M.Si., seorang dosen Psikologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan praktisi pendidikan yang berpengalaman di bidang pengasuhan anak. Dalam kegiatan ini, narasumber memberikan pemaparan mengenai pentingnya pola asuh yang tepat, teknik dan strategi untuk mendidik anak dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, serta komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, Bapak Ali juga menyinergikan pola asuh islam yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan kondisi psikologis anak di zaman sekarang. Ketua KKM Desa Janjangwulung, Saudara Izza Al-Maris dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. "Pendidikan dimulai dari rumah, dan orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat membantu para orang tua untuk lebih memahami cara-cara yang tepat dalam mendidik anak," ujarnya. Kegiatan berlangsung dengan interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada narasumber mengenai permasalahan parenting yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu Narasumber juga memberi hadiah bagi audiens yang bisa menjawab soal yang diberikan. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan dan jawaban yang berlangsung selama sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan datang dari Ibu Ida, selaku salah satu guru pengajar di MI Al-Hidayah Desa Janjangwulung. Beliau bertanya “Pernah lewat di beranda sosial media saya bahwa cara mendidik anak perempuan dan anak laki laki itu berbeda, dimana kalau anak perempuan tidak perlu diberikan wewenang untuk memilih, sedangkan anak laki-laki harus dibiasakan sejak dini untuk diberikan pilihan dan menentukan suatu keputusan. Mohon dikonfirmasi bapak, apakah itu merupakan cara mendidik anak yang benar atau tidak?”. Dari pertanyaan tersebut, bapak Ali selaku pemateri mengonfirmasi bahwa berita itu tidak benar, dan sebagai orang tua maupun pendidik kita harus lebih selektif dalam menyaring dan memilah informasi terkait cara mendidik anak yang tersebar di sosial media. Dari pertanyaan tersebut, pemateri kita juga menyinggung terkait budaya patriarki, dan memberikan pengetahuan berdasarkan ilmu psikologi dan peneitian terkait cara mendidik anak perempuan dan laki-laki yang lebih tepat. Selain itu ada pula pertanyaan dari ibu Hamidah, selaku perwakilan dari kader sekaligus merangkap sebagai Kepala Lembaga RA Miftahul Ulum Desa Janjangwulung. Beliau bertanya terkait bagaimana cara menghadapi dan mendidik anak yang hiperaktif, hingga sangat sulit sekali untuk konsentrasi dan belajar. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri bahwa cara menyikapi anak anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) membutuhkan perhatian khusus baik secara fisik maupun psikis, dimana diperlukannya sinergi dan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Dimana berdasarkan penelitian, Bapak Ali menyebutkan bahwa untuk mengurangi energi berlebih yang dimiliki anak, kita harus memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi oleh anak. Anak yang terindikasi ADHD atau yang biasa dikenal dengan istilah hiperaktif tidak boleh mengonsumsi susu, coklat, makanan yang mengandung pati/ tepung, makanan yang mengandung alergen dan makanan yang terlalu manis, karena makanan tersebut akan menyebabkan anak menjadi semakin aktif karena mengandung banyak gula. Selain itu secara psikologis juga, bisa menjadi indikasi bahwa anak kekurangan perhatian dari orang tua, sehingga sebagai orang tua juga harus terus belajar. Adanya diskusi interaktif ini membuat acara menjadi lebih hidup dan memberikan ruang bagi orang tua untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing. Dengan adanya sosialisasi parenting ini, diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam mendidik dan mengasuh anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlak baik. Serta menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap perkembangan anak di Desa Janjangwulung, sekaligus memperkuat peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak di wilayah tersebut.
NAFISAH RAMADHANI BINTI SUHARTANTO
Pada hari Kamis, tanggal 23 Januari 2025, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Parenting yang bertempat di Balai Desa Janjangwulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Janjangwulung, seluruh perangkat desa, 2 orang perwakilan dari pendidik formal maupun nonformal, 25 kader PKK, serta 5 kepala dusun se-Desa Janjangwulung. Narasumber Sosialisasi Parenting yang bertemakan “Pentingnya Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Membentuk Karakter Anak serta Peningkatan Kesadaran atas Pentingnya Pendidikan Formal” ini yaitu Bapak Ali Syahidin Mubarok, M.Si., seorang dosen Psikologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan praktisi pendidikan yang berpengalaman di bidang pengasuhan anak. Dalam kegiatan ini, narasumber memberikan pemaparan mengenai pentingnya pola asuh yang tepat, teknik dan strategi untuk mendidik anak dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, serta komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, Bapak Ali juga menyinergikan pola asuh islam yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan kondisi psikologis anak di zaman sekarang. Ketua KKM Desa Janjangwulung, Saudara Izza Al-Maris dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. "Pendidikan dimulai dari rumah, dan orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat membantu para orang tua untuk lebih memahami cara-cara yang tepat dalam mendidik anak," ujarnya. Kegiatan berlangsung dengan interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada narasumber mengenai permasalahan parenting yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu Narasumber juga memberi hadiah bagi audiens yang bisa menjawab soal yang diberikan. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan dan jawaban yang berlangsung selama sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan datang dari Ibu Ida, selaku salah satu guru pengajar di MI Al-Hidayah Desa Janjangwulung. Beliau bertanya “Pernah lewat di beranda sosial media saya bahwa cara mendidik anak perempuan dan anak laki laki itu berbeda, dimana kalau anak perempuan tidak perlu diberikan wewenang untuk memilih, sedangkan anak laki-laki harus dibiasakan sejak dini untuk diberikan pilihan dan menentukan suatu keputusan. Mohon dikonfirmasi bapak, apakah itu merupakan cara mendidik anak yang benar atau tidak?”. Dari pertanyaan tersebut, bapak Ali selaku pemateri mengonfirmasi bahwa berita itu tidak benar, dan sebagai orang tua maupun pendidik kita harus lebih selektif dalam menyaring dan memilah informasi terkait cara mendidik anak yang tersebar di sosial media. Dari pertanyaan tersebut, pemateri kita juga menyinggung terkait budaya patriarki, dan memberikan pengetahuan berdasarkan ilmu psikologi dan peneitian terkait cara mendidik anak perempuan dan laki-laki yang lebih tepat. Selain itu ada pula pertanyaan dari ibu Hamidah, selaku perwakilan dari kader sekaligus merangkap sebagai Kepala Lembaga RA Miftahul Ulum Desa Janjangwulung. Beliau bertanya terkait bagaimana cara menghadapi dan mendidik anak yang hiperaktif, hingga sangat sulit sekali untuk konsentrasi dan belajar. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri bahwa cara menyikapi anak anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) membutuhkan perhatian khusus baik secara fisik maupun psikis, dimana diperlukannya sinergi dan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Dimana berdasarkan penelitian, Bapak Ali menyebutkan bahwa untuk mengurangi energi berlebih yang dimiliki anak, kita harus memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi oleh anak. Anak yang terindikasi ADHD atau yang biasa dikenal dengan istilah hiperaktif tidak boleh mengonsumsi susu, coklat, makanan yang mengandung pati/ tepung, makanan yang mengandung alergen dan makanan yang terlalu manis, karena makanan tersebut akan menyebabkan anak menjadi semakin aktif karena mengandung banyak gula. Selain itu secara psikologis juga, bisa menjadi indikasi bahwa anak kekurangan perhatian dari orang tua, sehingga sebagai orang tua juga harus terus belajar. Adanya diskusi interaktif ini membuat acara menjadi lebih hidup dan memberikan ruang bagi orang tua untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing. Dengan adanya sosialisasi parenting ini, diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam mendidik dan mengasuh anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlak baik. Serta menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap perkembangan anak di Desa Janjangwulung, sekaligus memperkuat peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak di wilayah tersebut.