MALIHATULLAILA
Dalam rangka pengabdian masyarakat, kelompok 31, Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Gandewa Puspa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan kegiatan belajar mengajar yang tidak hanya terbatas pada kegiatan mengaji tetapi juga melibatkan bimbingan dan pendidikan moral serta spiritual bagi anak-anak di dusun Maron, desa Pujon Kidul, kabupaten Malang. Namun, hal ini bukanlah hal yang mudah, terutama tantangan dalam menjaga fokus anak-anak. Di masa liburan semester seperti ini, anak-anak tetap lebih tertarik untuk bermain dari pada belajar mengaji." Usia segitu kan inginnya main terus. Jadi, tantangan terbesarnya dalam hal kesabaran, karena melatih fokusnya anak-anak itu juga sulit." Ujar Himalaya selaku mahasiswa KKM yang ikut mengajar ngaji. Untuk itu, kelompok KKM 31 membuat strategi dengan melakukan beberapa icebreaking sebelum belajar. Selain itu, juga menyisipkan lagu-lagu yang berkaitan dengan materi, sehingga anak-anak dapat lebih mudah mengingat dan memahami materi yang dipelajari. Anak-anak yang terlebih dahulu selesai mengaji juga dapat bermain dengan kakak-kakak yang mengajar, sehingga memotivasi anak-anak untuk lebih semangat dalam menyelesaikan sesi mengajinya. Selain mengisi masa liburan semester dan menjadi ajang belajar untuk anak-anak, kegiatan ini juga menjadi sarana belajar bagi siswa KKM. Seperti hal-nya siswa dapat belajar untuk lebih memahami materi yang akan disampaikan dan mengetahui bagaimana cara berinteraksi yang baik serta mengajar anak-anak dengan cara yang lebih menarik. Sehingga dengan beberapa upaya tersebut siswa dapat menciptakan suasana belajar yang seru dan menambah rasa semangat bagi anak-anak. Kegiatan ini juga bukan lain sebagai upaya membangun kedekatan dengan masyarakat di sekitar dusun Maron.
AYU FITRIANA DEWI
HUMAS UIN MALANG – Jumat, (17/1) Desa Ngadas, yang terletak di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi sorotan sebagai contoh nyata moderasi beragama dengan harmoni keberagaman agama dan tradisi budaya yang tetap terjaga. Desa yang dihuni oleh 1.756 jiwa pada tahun 2023 ini menawarkan pelajaran berharga tentang toleransi dan pelestarian budaya lokal, di samping keindahan alamnya yang memikat. Desa Ngadas memiliki masyarakat dengan keberagaman keyakinan, meliputi tiga agama utama: Buddha, Islam, dan Hindu. Penduduk mayoritas menganut agama Buddha, diikuti oleh penganut Islam dan Hindu. Meski berbeda keyakinan, masyarakat Desa Ngadas hidup rukun dan saling menghormati. Tingginya sikap toleransi tampak dari cara mereka menjaga keharmonisan, baik dalam menjalankan ibadah masing-masing maupun menghormati tradisi keagamaan warga lainnya. Keunikan Desa Ngadas semakin mendapat perhatian setelah mahasiswa KKM 08 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengadakan studi terkait moderasi beragama di desa ini. Penelitian tersebut mengungkapkan bagaimana masyarakat Desa Ngadas berhasil menyelaraskan keberagaman agama dengan tradisi budaya yang diwariskan dari leluhur. Salah satu tradisi yang menjadi perekat masyarakat adalah budaya Karo. Budaya Karo merupakan ritual mendoakan arwah leluhur di pemakaman desa, yang dilakukan bersama oleh seluruh warga tanpa memandang perbedaan agama. Dalam tradisi ini, setiap individu melaksanakan doa sesuai keyakinannya masing-masing. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan toleransi, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur sekaligus pelestarian nilai-nilai adat. Perayaan budaya Karo berlangsung dengan penuh semarak dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tradisi ini menjadi momen persatuan yang mampu menyatukan komunitas, sekaligus mengajarkan pentingnya kerja sama dan rasa hormat terhadap perbedaan. Sebagai salah satu tradisi adat utama, budaya Karo memiliki nilai sosial yang tinggi dibandingkan perayaan adat lainnya. Keharmonisan yang tercipta dalam perayaan ini menunjukkan bahwa keberagaman, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan yang mempererat hubungan sosial masyarakat. Desa Ngadas adalah bukti bahwa modernisasi tidak harus mengikis nilai-nilai tradisional dan keberagaman. Sebaliknya, desa ini berhasil menunjukkan bahwa harmoni dapat tercapai melalui penghormatan terhadap perbedaan dan pelestarian budaya lokal. Selain menjadi destinasi wisata yang menarik, Desa Ngadas juga menjadi sumber inspirasi bagi siapa saja yang ingin belajar tentang toleransi dan harmoni dalam keberagaman. Kontributor: Akbar Kurniawan dan Nofal Aldi Husaini Editor: Azman Fawwazi
ADELA TRIA QODRINI
Sabtu, 25 Januari 2025,SDN 03 Gunung Jati-Mahasiswa KKM Atma Abhinaya mengadakan kegiatan mewarnai bersama siswa kelas 4 SDN 03 Gunung Jati. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menggantikan jam pelajaran prakarya dengan tujuan untuk menggantikan jam bimbel yang seharusnya dilaksanakan pada jam 11.00 setelah pulang sekolah, sebagai salah satu program kerja dari divisi pendidikan di kelompok tersebut. Dalam kegiatan tersebut, beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain kain putih, cat warna, sikat gigi, kuas, daun-daunan dan kelopak bunga. Jenis-jenis dedaunan yang dibawa pada saat itu antara lain daun singkong, daun pepaya, dan daun bunga liar lainnya yang memiliki bentuk yang unik. Adapun warna yang dibawa yaitu warna kuning, merah, hijau, hitam, ungu, dan hitam. Disisi lain, penggunaan kain putih bertujuan agar warna yang digunakan dapat terlihat dan membentuk pola yang jelas. Semua alat dan bahan telah disiapkan dan dibawa oleh anggota KKM Athma Abhinaya. Adapun siswa kelas 4 hanya diminta untuk membawa dedaunan dengan bentuk yang unik dan berbeda. Proses pelaksanaan kegiatan mewarnai ini dimulai dari meletakan kain putih diatas lantai agar semua siswa kelas 4 maupun anggota KKM dapat menjangkau dan ikut serta dalam kegiatan. Setelah itu, dedaunan yang telah dibawa dari rumah masing-masing diletakkan diatas kain putih tersebut sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Setelah semua daun diletakan, setiap siswa dan anggota KKN menorehkan warna keatas kain tersebut dengan cara meneruskan warna menggunakan kuas atau sikat gigi. Warna yang akan ditimbulkan akan membentuk titik titik kecil (bercak) di atas kain tersebut. Selain sikat gig dan kuas, para siswa juga menggunakan tangan dan denaunan yang tersisa untuk mmercikan warna ke atas kain. Hal itu dilakukan karena alat yang tersedia terbatas, sehingga siswa menggunaka cara lain untuk menorehkan warna yang sekiranya dapat menciptakan titik-titik kecil. Setelah semua area kain sudah di penuhi oleh titik-ttik warna, tahap selanjutnya yaitu mengangkat dedaunan dan kelopak bunga di atas kain tersebut. Setelah itu, kain tersebut dikeringkan dibawah sinar matahari agar warnanya tidak mudah luntur. Kain putih yang telah diwarnai ini akan digunakaan untuk menutupi lemari buku yang terletak di pojok belakang kelas. Tujuan utama dari kegiatan mewarnai ini yaitu untuk mendorong siswa agar lebih kreatif dengan menggunakan bahan dan alat sederhana yang dapat mereka temui di lingkungan sekitar mereka. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara siswa-siswa SDN 03 Gunung Jati, khusunya kelas 4, dengan anggota KKM Atma Abhinaya. Hasil dari kegiatan tersebut menunjukkan bahwa semua pihak, baik dari siswa kelas 4 maupun anggota KKM merasa senang dengan adanya kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut juga berjalan lancar dan menyenangkan.
SIVANA FIRDAUSY KHURRIYA
Program "Sahabat Bumi" yang diadakan di ​​​​MI Mambaul Hidayah, Dusun Dumpul, Desa Sidorejo, Jabung, merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan dengan memberikan sosialisasi kepada adik-adik MI khusunya kelas 4 dan 5 mengenai daur ulang sampah dan cara membedakan sampah organik dan anorganik. Kegiatan ini juga mengadakan lomba menghias media tanam dari pot sekreatif mungkin. Adik-adik dari MI Mambaul Hidayah sangat menyukai kegiatan ini karena mereka bisa mengecat sesuka mereka dan menanam bibit tanaman yang mereka suka di pot dari botol bekas tersebut. Kegiatan ini diadakan selama dua hari dan berjalan dengan lancar serta kondusif berkat bantuan para guru dan kerja sama dari adik-adik MI Mambaul Hidayah.
MOCHAMMAD ABDIKA FERIZA AL RIDHO
Pada hari Senin, 27 Januari 2025 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Desa Baturetno telah berkolaborasi dengan takmir Masjid Al Ikhlas Dusun Nampes, Desa Baturetno dalam rangka memperingati Isra Mi'raj. Dalam kolaborasi tersebut pihak takmir menyerahkan tanggung jawab penuh kepada mahasiswa KKM pada acara lomba isra mi'raj sedangkan pada acara siang dan malam hari yaitu pawai dan sholawatan, pihak takmir yang mengambil alih sebagai penanggung jawab. Acara pagi hari yaiu lomba isra mi'raj untuk anak-anak yang dimana terbagi menjadi 6 lomba antara lain adzan kelas bawah, adzan kelas atas, tartil kelas bawah, tartil kelas atas, pildacil, dan mewarnai. Acara lomba dibuka dengan sambutan dari perwakilan takmir masjid. Kemudian acara dilanjut dengan sambutan dari Hafidh Fachruddin sebagai ketua pelaksana dalam acara ini. Acara lomba diikuti banyak sekali perwakilan dari TPQ se Desa Baturetno. Lomba terbagi menjadi 3 tempat, lomba adzan yang berada didalam masjid, lomba tartil dan dai yang bertempat di atas panggung, dan lomba mewarnai yang berada di parkiran masjid. Lomba berjalan dengan sportif dan antusias, sempat terjadi kendala pada bagian lomba dai dan tartil disebabkan oleh sound yang mati namun bisa teratasi dengan cepat. Acara pada siang hari yaitu adalah kirap atau pawai, pada saat itu acara ini hampir ditiadakan dikarenakan terjadi hujan yang sangat lebat namun antusiasme dari anak-anak dan juga dorongan semangat dari takmir masjid dan panitia KKM yang membuat pawai ini tetap berjalan. Rute dari pawai ini adalah sebagian dari Dusun Nampes yang memiliki titik awal dan akhir yaitu Masjid Al-Ikhlas. Acara ini berjalan lancar dengan peserta membawa payung dan memakai jas hujan untuk berlindung dari hujan yang deras. Acara pawai ini diadakan bertujuan untuk mensyiarkan agama islam dan simbol dari peringatan hari isra mi'raj. Tidak sampai situ saja acara pada siang ini ditutup dengan pengumuman dan penyerahan hadiah pada pemenang dari lomba isra' mi'raj untuk anak-anak. Pada malam itu juga acara sholawat dan ceramah yang dihadiri oleh banyak sekali tokoh-tokoh masyarakat. sholawat yang dipimpin oleh tamkir berjalan dengan lancar dan meriah sekali. Setelah sholawat, acara dilanjut dengan sambutan hangan dari Ust Zakaria sebagai ketua takmir Masjid Al-Ikhlas. Acara diakhiri dengan ceramah oleh ustadz Zainal Dosen UIN Malang sekaligus pengurus pondok.
IMAM JAGAT AKBAR SABILAL
Pada hari Kamis, tanggal 23 Januari 2025, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Parenting yang bertempat di Balai Desa Janjangwulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Janjangwulung, seluruh perangkat desa, 2 orang perwakilan dari pendidik formal maupun nonformal, 25 kader PKK, serta 5 kepala dusun se-Desa Janjangwulung. Narasumber Sosialisasi Parenting yang bertemakan “Pentingnya Peran Orang Tua dan Pendidik dalam Membentuk Karakter Anak serta Peningkatan Kesadaran atas Pentingnya Pendidikan Formal” ini yaitu Bapak Ali Syahidin Mubarok, M.Si., seorang dosen Psikologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan praktisi pendidikan yang berpengalaman di bidang pengasuhan anak. Dalam kegiatan ini, narasumber memberikan pemaparan mengenai pentingnya pola asuh yang tepat, teknik dan strategi untuk mendidik anak dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, peran orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak, serta komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak, Bapak Ali juga menyinergikan pola asuh islam yang dicontohkan oleh Rasulullah dengan kondisi psikologis anak di zaman sekarang. Ketua KKM Desa Janjangwulung, Saudara Izza Al-Maris dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya peran orang tua dalam tumbuh kembang anak. "Pendidikan dimulai dari rumah, dan orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak. Melalui sosialisasi ini, kami berharap dapat membantu para orang tua untuk lebih memahami cara-cara yang tepat dalam mendidik anak," ujarnya. Kegiatan berlangsung dengan interaktif, di mana peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya langsung kepada narasumber mengenai permasalahan parenting yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu Narasumber juga memberi hadiah bagi audiens yang bisa menjawab soal yang diberikan. Antusiasme audiens terlihat dari banyaknya pertanyaan dan jawaban yang berlangsung selama sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan datang dari Ibu Ida, selaku salah satu guru pengajar di MI Al-Hidayah Desa Janjangwulung. Beliau bertanya “Pernah lewat di beranda sosial media saya bahwa cara mendidik anak perempuan dan anak laki laki itu berbeda, dimana kalau anak perempuan tidak perlu diberikan wewenang untuk memilih, sedangkan anak laki-laki harus dibiasakan sejak dini untuk diberikan pilihan dan menentukan suatu keputusan. Mohon dikonfirmasi bapak, apakah itu merupakan cara mendidik anak yang benar atau tidak?”. Dari pertanyaan tersebut, bapak Ali selaku pemateri mengonfirmasi bahwa berita itu tidak benar, dan sebagai orang tua maupun pendidik kita harus lebih selektif dalam menyaring dan memilah informasi terkait cara mendidik anak yang tersebar di sosial media. Dari pertanyaan tersebut, pemateri kita juga menyinggung terkait budaya patriarki, dan memberikan pengetahuan berdasarkan ilmu psikologi dan peneitian terkait cara mendidik anak perempuan dan laki-laki yang lebih tepat. Selain itu ada pula pertanyaan dari ibu Hamidah, selaku perwakilan dari kader sekaligus merangkap sebagai Kepala Lembaga RA Miftahul Ulum Desa Janjangwulung. Beliau bertanya terkait bagaimana cara menghadapi dan mendidik anak yang hiperaktif, hingga sangat sulit sekali untuk konsentrasi dan belajar. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh pemateri bahwa cara menyikapi anak anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) membutuhkan perhatian khusus baik secara fisik maupun psikis, dimana diperlukannya sinergi dan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Dimana berdasarkan penelitian, Bapak Ali menyebutkan bahwa untuk mengurangi energi berlebih yang dimiliki anak, kita harus memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi oleh anak. Anak yang terindikasi ADHD atau yang biasa dikenal dengan istilah hiperaktif tidak boleh mengonsumsi susu, coklat, makanan yang mengandung pati/ tepung, makanan yang mengandung alergen dan makanan yang terlalu manis, karena makanan tersebut akan menyebabkan anak menjadi semakin aktif karena mengandung banyak gula. Selain itu secara psikologis juga, bisa menjadi indikasi bahwa anak kekurangan perhatian dari orang tua, sehingga sebagai orang tua juga harus terus belajar. Adanya diskusi interaktif ini membuat acara menjadi lebih hidup dan memberikan ruang bagi orang tua untuk saling belajar dari pengalaman masing-masing. Dengan adanya sosialisasi parenting ini, diharapkan dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam mendidik dan mengasuh anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter dan berakhlak baik. Serta menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap perkembangan anak di Desa Janjangwulung, sekaligus memperkuat peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak di wilayah tersebut.