Thumbnail
2 years ago
Islam Bertahun-tahun Tapi Sudahkah Moderat?: Mahasiswa KKM UIN Malang Mengadakan Sosialisasi Moderasi Beragama di TPQ Nurul Muttaqin Plaosan

ANITA IMMARANI PUTRI

 Mahasiswa KKM UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok 67 menggelar Sosialisasi Moderasi Beragama bagi santri dan wali santri Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Nurul Muttaqin Desa Plaosan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Sabtu (18/01/2025). Kegiatan ini bertemakan "Islam Bertahun-Tahun Apakah Sudah Moderat?" yang bertempat di Musholla Yayasan Nurul Muttaqin Desa Plaosan. Acara ini dibawakan oleh salah satu mahasiswa KKM UIN Malang Kelompok 67, Yusuf Ardani yang berasal dari Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora. Dihadiri 13 orang wali santri dan santri Pondok Pesantren Nurul Muttaqin 25 orang yang berlangsung selama 60 menit menyampaikan materi dan 15 menit sesi diskusi dan tanya jawab. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi dan informasi kepada wali santri TPQ Nurul Muttaqin tentang moderasi umat beragama yang dikenal dengan Islam wasathiyyah, yang mengedepankan keseimbangan antara keyakinan dan toleransi terhadap perbedaan. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam yang menekankan pentingnya menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.  

Thumbnail
2 years ago
"Seduh Ilmu di Tengah Alam : Mahasiswa KKM 121 UIN Malang Belajar Tentang Pengelolaan Kebun Kopi"

FADHILLATUL MAIMUNAH

Lawang, Malang -- Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 121 Universitas Islam Negeri (UIN) Malang mendapatkan pengalaman berharga. Salah satu kegiatan unggulan mereka adalah kunjungan dan pembelajaran langsung di kebun kopi di Dusun Mendek, Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Pada Kamis (2/25) para mahasiswa peserta KKM 121 menggali pengetahuan secara langsung tentang pengelolaan kebun kopi, sebuah sektor yang menjadi andalan perekonomian lokal. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang sektor pertanian, khususnya kopi, yang menjadi salah satu komoditas unggulan Malang. Dalam kunjungan ini, mahasiswa diajak mengenal lebih dekat siklus hidup tanaman kopi, mulai dari proses pembibitan, penanaman, perawatan, hingga panen. Mereka juga mendapat penjelasan tentang teknik pengolahan pascapanen, seperti fermentasi, pengeringan, hingga roasting, yang menentukan cita rasa kopi. "Kami ingin KKM ini tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat langsung bagaimana masyarakat desa bekerja keras tak tercekuali dalam hal menghasilkan kopi yang berkualitas," ujar Rustazim Saputra selaku koordinator KKM 121. Salah satu momen yang paling berkesan bagi mahasiswa adalah diskusi langsung dengan pemilik kebun petani kopi yaitu bapak Bapak Suwono yang juga sebagai Kepala Dusun Mendek. Beliau berbagi cerita tentang tantangan dan peluang dalam mengelola kebun kopi. Beliau menjelaskan dampak perubahan iklim terhadap hasil panen, upaya mempertahankan keaslian kopi lokal, hingga strategi pemasaran di tengah persaingan global. "saya sangat terbuka dengan kunjungan ini. Mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga memberikan ide-ide segar untuk meningkatkan kualitas produk kami," kata Pak Suwono, pemilik kebun kopi. Kegiatan di kebun kopi ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar tentang kopi, tetapi juga memahami pentingnya kerja sama antara dunia akademik dan masyarakat untuk menciptakan perubahan positif. "Pengalaman ini membuka mata kami bahwa banyak potensi desa yang bisa dikembangkan. Kami berharap dapat terus berkontribusi meskipun program KKM ini selesai," kata Rustazim Saputra, koordinator KKM 121. Dengan semangat belajar dan berbagi, mahasiswa KKM 121 UIN Malang membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas di ruang kelas, tetapi juga bisa dilakukan di tengah alam, di antara pohon-pohon kopi yang menjadi saksi kerja keras dan mimpi para petani lokal.

Thumbnail
2 years ago
Budidaya Ikan Lele : Solusi Upaya Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kualitas Ekonomi NULIS Masyarakat Plaosan.

REZZA RIVANA

Kegiatan Pelatihan Budidaya Ikan Lele diikuti oleh warga dan masyarakat yang diwakili oleh masing-masing RW di Desa Plaosan. Selain bertujuan mengembangkan upaya ketahanan pangan masyarakat desa, kedepannya budidaya ikan lele ini akan dibagikan ke masing-masing RW dan masyarakat disabilitas guna menunjang ekonomi dan kebutuhan pangan masyarakat.

Thumbnail
2 years ago
Inovasi Ramah Lingkungan dengan Memanfaatkan Minyak Jelatah Menjadi Lilin

ANDRI SANG PUTRA

Pada tanggal 19 Januari 2025, KKM Sidomulyo 165 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan bertajuk "Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah." Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah yang sering kali dibuang sembarangan. Kegiatan tersebut menyoroti cara mengubah minyak bekas menjadi produk bernilai ekonomi, seperti lilin ramah lingkungan, yang juga membantu mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Minyak jelantah merupakan limbah rumah tangga yang sering kali dianggap remeh. Dalam penyuluhan ini, narasumber menjelaskan bahwa minyak jelantah memiliki banyak risiko jika tidak dikelola dengan baik. Minyak yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan air, menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan. Selain itu, jika digunakan berulang kali melebihi batas wajar, minyak ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti risiko penyakit jantung, obesitas, gangguan pencernaan, hingga kanker. Faktor yang mempengaruhi kualitas minyak goreng juga dijelaskan, termasuk jenis minyak, suhu pemanasan, dan kondisi penyimpanan. Masyarakat diberi pemahaman bahwa minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal tiga kali pemanasan, dengan sisa makanan yang disaring untuk memperpanjang penggunaannya. Namun, setelah batas penggunaan tersebut tercapai, minyak bekas tidak boleh dibuang begitu saja. Di sinilah konsep daur ulang memainkan peran penting. Salah satu poin utama dari kegiatan ini adalah memperkenalkan potensi ekonomi dari minyak jelantah. Minyak bekas dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti biodiesel, sabun, dan lilin. Di antara semua produk tersebut, lilin dari minyak jelantah menjadi topik utama dalam penyuluhan. Narasumber menjelaskan bahwa bahan baku minyak jelantah sangat melimpah, terutama dari rumah tangga, restoran, dan usaha kuliner kecil. Dengan modal kecil, siapa pun bisa memulai usaha pembuatan lilin dari minyak bekas ini. Selain mengurangi limbah, usaha ini juga memiliki pasar yang cukup luas. Lilin dari minyak jelantah banyak diminati karena ramah lingkungan dan memiliki harga jual yang kompetitif. Dengan harga minyak jelantah sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per liter, produk lilin bisa dijual dengan harga mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 per unit, tergantung pada desain dan kualitasnya. Hal ini menjadi peluang menarik bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan sambil berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk langsung mencoba membuat lilin dari minyak jelantah. Prosesnya cukup sederhana, dengan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Berikut adalah langkah-langkahnya: 1. Penyaringan Minyak Jelantah: Minyak bekas disaring untuk menghilangkan sisa-sisa makanan atau kotoran. 2. Pencampuran dengan Lilin Parafin atau Bahan Pengikat: Minyak jelantah dicampur dengan lilin parafin atau bahan lain yang dapat mengikat minyak agar menghasilkan tekstur yang solid. 3. Penambahan Pewarna dan Pewangi: Pewarna dan aroma tambahan diberikan untuk membuat lilin lebih menarik. 4. Penuangan ke Cetakan: Campuran minyak dituangkan ke dalam cetakan sesuai bentuk yang diinginkan. 5. Pendinginan dan Pemadatan: Lilin dibiarkan dingin hingga mengeras, lalu dilepaskan dari cetakan. Peserta terlihat antusias mengikuti setiap langkahnya. Banyak dari mereka yang merasa proses ini cukup mudah dan dapat diterapkan di rumah dengan peralatan sederhana. Selain ramah lingkungan, lilin dari minyak jelantah memiliki banyak manfaat. Lilin ini dapat digunakan untuk penerangan alternatif, dekorasi, atau bahkan sebagai aromaterapi jika ditambahkan pewangi. Dengan demikian, produk ini tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Dalam skala usaha, lilin dari minyak jelantah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya daur ulang limbah Kegiatan pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin ini menjadi salah satu langkah kecil yang membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat. Edukasi yang diberikan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya minyak jelantah jika tidak dikelola, tetapi juga membuka peluang baru untuk menciptakan produk bernilai ekonomi. Dengan modal kecil dan proses yang sederhana, siapa pun dapat memulai usaha ini sambil berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, KKM Sidomulyo 165 mengajak seluruh masyarakat untuk memandang limbah sebagai peluang, bukan masalah. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin adalah salah satu contoh konkret bagaimana kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan langkah ini, diharapkan semakin banyak orang yang terinspirasi untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. https://www.kompasiana.com/arthasamasta0418/67984057ed64152941272ae7/inovasi-ramah-li ngkungan-dengan-memanfaatkan-minyak-jelatah-menjadi-lilin

Thumbnail
2 years ago
Semangat Posyandu: Antusiasme Warga Desa Kemiri Demi Generasi Sehat

AUFINI AFIFATUL UDMA

Desa Kemiri di Kecamatan Jabung tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekompakan dan semangat gotong royong warganya dalam berbagai kegiatan sosial. Salah satu kegiatan yang selalu dinantikan oleh warga adalah Posyandu, yang rutin diadakan setiap bulan. Posyandu menjadi momen penting bagi para ibu dan balita untuk mendapatkan layanan kesehatan, serta berkumpul dan berbagi informasi seputar kesehatan dan tumbuh kembang anak.Sejak pagi hari, ibu-ibu datang membawa balita mereka memenuhi halaman Ponsyandu. Dengan senyum ceria dan penuh semangat, mereka menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dari para kader Posyandu yang terlatih. Tidak hanya ibu-ibu, para ayah pun tak mau ketinggalan ikut serta membantu dan mendampingi. Kegiatan Posyandu di Desa Kemiri menyediakan berbagai layanan kesehatan yang sangat bermanfaat, antara lain; Penimbangan dan Pengukuran, setiap balita ditimbang dan diukur tinggi badannya untuk memantau pertumbuhan mereka. Data ini dicatat dengan teliti untuk memastikan setiap anak tumbuh dengan baik. Dilanjutkan dengan pemberian Vitamin dan Imunisasi, para balita mendapatkan vitamin dan imunisasi yang diperlukan untuk mencegah berbagai penyakit. Ibu-ibu pun diberikan informasi tentang pentingnya imunisasi dan asupan vitamin untuk kesehatan anak. Selanjutnya yaitu Penyuluhan Gizi, Para kader Posyandu memberikan penyuluhan tentang pentingnya gizi seimbang bagi ibu hamil, menyusui, dan balita. Mereka juga mengajarkan cara memasak makanan sehat yang mudah dan terjangkau. Keberhasilan Posyandu di Desa Kemiri tidak lepas dari keterlibatan berbagai pihak. Para kader Posyandu yang berdedikasi telah menjalani pelatihan khusus untuk memberikan layanan terbaik. Selain itu, dukungan dari Puskesmas dan pemerintah desa juga sangat membantu dalam penyediaan alat dan bahan yang diperlukan. Tidak hanya tenaga kesehatan, warga desa sendiri juga turut aktif berpartisipasi. Gotong royong membersihkan area Posyandu sebelum kegiatan dimulai, hingga menyediakan makanan ringan bagi para peserta, adalah bentuk kontribusi nyata dari warga. Hal ini menunjukkan betapa tingginya rasa kebersamaan dan tanggung jawab sosial di Desa Kemiri. Melalui kegiatan Posyandu yang rutin di laksanakan setiap bulan, diharapkan dapat menjaga serta meningkatkan kesehatan ibu, anak dan lansia di Desa Kemiri. Para ibu semakin sadar akan pentingnya pola asuh dan gizi yang baik untuk pertumbuhan anak-anak mereka. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi dan memperkuat ikatan sosial antarwarga. Antusiasme warga Desa Kemiri dalam kegiatan Posyandu adalah contoh nyata betapa pentingnya kebersamaan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Dengan semangat gotong royong dan dukungan semua pihak, Desa Kemiri terus berupaya memberikan layanan kesehatan terbaik demi masa depan generasi yang lebih baik.  

Thumbnail
2 years ago
Sosialisasi Parenting dan Cegah Stunting Di Desa Sumberpetung: Program Kolaborasi Kelompok KKM 126 dan 56 UIN Malang

NAFISATUL `IZZAH

Kelompok KKM 126 dan 56 UIN Malang sukses menggelar sosialisasi dengan tema Parenting dan Stunting di Balai Dusun Banduarjo, Desa Sumberpetung, Kecamatan Kalipare. Sosialisasi tersebut berlangsung tepat setelah agenda rutinan PKK berupa pelayanan posyandu. Tidak hanya dihadiri oleh para ibu di desa Sumberpetung, namun kegiatan sosialisasi tersebut juga turut dihadiri langsung oleh kepala desa Sumberpetung, Bapak Hamim Achmad, beserta perangkat desa lainnya. Kegaitan sosialisasi dibuka dengan hangat oleh sambutan dari Kepala Desa selaku tamu undangan. Dalam sambutannya, Hamim memaparkan terkait urgensi dari diadakannya sosialisasi tersebut di Desa Sumberpetung, khususnya. Walaupun fenomena stunting tidak banyak terjadi di desa tersebut, namun pencegahan dini tetap diperlukan. Sosialisasi tersebut juga mengundang dua pemateri yang menguasai bidang pola asuh dan pola makan anak. Materi terkait pola asuh anak atau parenting disampaikan oleh Yully Astutik sebagai pemateri pertama. Penyampaiannya yang interaktif berhasil membangunkan antusias audiens. Melalui sosialisasi tersebut, Yully menegaskan pentingnya pola asuh seorang ibu sebagai sekolah pertama bagi anak. Tak berhenti disitu, materi cegah stunting selanjutnya disampaikan oleh ahli gizi Ayu C. Hermawati sebagai pemateri kedua. Materi ini cukup unik dikarenakan pemateri tidak hanya berbagi ilmu terkait stunting saja, namun juga berbagi menu-menu makanan untuk anak yang bervariasi tapi tetap sehat. Lebih dari itu, Ayu langsung mempraktikan proses dan cara memasak beberapa menu dengan bahan yang sama. Ayu juga tak sungkan untuk mempersilakan siapapun diantara para ibu yang ingin mencoba memasaknya secara langsung di hadapan para audiens lainnya. Hal tersebut pun tentu memantik semangat mereka yang tertarik untuk mencobanya. Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan lancar sampai waktu menjelang tengah hari. Pembawa acara berinisiatif untuk mengakhiri acara dengan sesi tanya jawab berhadiah. Untuk kesekian kalinya, para audiens tergugah untuk menyimak sisa kegiatan tersebut. Tak disangka, banyak diantara audiens yang berhasil menjawab pertanyaan dari pembawa acara dengan cepat dan tepat. Hal ini menunjukkan bahwa para ibu yang hadir di dalam sosialisasi telah menyimak materi yang disampaikan dengan baik. Melalui kegiatan sosialisasi Parenting dan Stunting yang diadakan oleh kelompok KKM 126 dan 56 di Desa Sumberpetung, diharapkan adanya penurunan angka stunting dan krisis parenting pada anak-anak bangsa ini. Karena bangsa yang hebat dimulai dari generasi yang sehat dan kuat.