Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM UIN Malang Grlar Seminar Moderasi Beragama dan Anti Bullying di SMA Plus Darussalam

IZZATUN NISA

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang bertugas di Desa Turirejo menggelar kegiatan seminar di SMA Plus Darussalam pada Jumat, 9 Januari 2026. Seminar ini mengangkat tema "Membangun Sikap Moderat dan Etika Sosial dalam Kehidupan Remaja." Kegiatan seminar tersebut bertujuan untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya moderasi beragama serta menumbuhkan kesadaran akan bahaya perilaku bullying di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM berupaya memberikan edukasi kepada para siswa agar mampu bersikap saling menghargai, toleran, dan beretika dalam kehidupan sosial sehari-hari. Dalam pemaparannya, mahasiswa KKM menekankan bahwa moderasi beragama merupakan sikap tengah yang mengedepankan keseimbangan, saling menghormati, dan menolak segala bentuk kekerasan maupun diskriminasi. Selain itu, isu bullying juga menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya yang dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perkembangan sosial remaja. Para siswa SMA Plus Darussalam tampak antusias mengikuti seminar tersebut. Mereka diajak untuk berdiskusi, memahami contoh-contoh perilaku moderat, serta mengenali bentuk-bentuk bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari. Kegiatan seminar ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKM UIN Malang dalam mendukung pendidikan karakter di sekolah. Diharapkan, melalui seminar ini para siswa mampu menerapkan sikap moderat, menjunjung etika sosial, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying.

Thumbnail
4 months ago
Implementasi Pengabdian Masyarakat Berbasis Edukasi dan Digitalisasi oleh KKM Wening Praja 166 di Desa Tamansari

ACHMAD ROCHMATULLOH

Implementasi Pengabdian Masyarakat Berbasis Edukasi dan Digitalisasi oleh KKM Wening Praja 166 di Desa Tamansari   Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kelompok Wening Praja 166 mengimplementasikan pendekatan partisipatif di Desa Tamansari melalui serangkaian program tematik yang menyasar pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan. Pertama, kegiatan jalan sehat dilaksanakan sebagai upaya promotif kesehatan fisik siswa sekolah dasar. Aktivitas ini mendorong kebiasaan hidup aktif serta memperkuat relasi sosial antara mahasiswa dan warga sekolah. Kedua, sosialisasi bullying dan kenakalan remaja difokuskan pada pembentukan karakter dan pencegahan perilaku menyimpang sejak dini. Metode pembelajaran interaktif digunakan agar materi mudah dipahami. Ketiga, digitalisasi UMKM melalui QRIS menjadi inovasi ekonomi berbasis teknologi finansial. Pendampingan ini memberikan literasi keuangan digital bagi pedagang kecil serta memperluas akses transaksi. Keempat, pengajaran TPQ berkontribusi pada peningkatan kemampuan baca tulis Al-Qur’an dan pembinaan moral generasi muda. Secara keseluruhan, program KKM Wening Praja 166 menunjukkan sinergi antara pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat. Pendekatan aplikatif ini diharapkan menjadi model pengabdian berkelanjutan bagi desa binaan di masa mendatang.

Thumbnail
4 months ago
Laporan Kegiatan KKM Unggulan PSGA Kelompok 264

IRLY RAYA QURANI

Kegiatan KKM Gentara 264 dilaksanakan di SRMP 14 Kota Batu dengan tujuan mendukung proses pembelajaran, penguatan karakter, serta peningkatan kepedulian sosial dan lingkungan bagi siswa. Selama pelaksanaan KKM, mahasiswa melaksanakan berbagai program kerja yang mencakup bidang kepemimpinan, perlindungan anak, literasi, kreativitas, keagamaan, serta pengabdian masyarakat. Program kerja yang dilaksanakan meliputi sosialisasi kepemimpinan dan budaya organisasi, sosialisasi anti bullying, kegiatan ecoprinting sebagai pembelajaran berbasis lingkungan, bedah film Inside Out 2 untuk pengenalan dan pengelolaan emosi, serta peringatan Isra Mi’raj melalui berbagai lomba Islami. Selain itu, mahasiswa juga melaksanakan kegiatan literasi melalui SERASI (Sela-Sela Literasi) dan JUMANJI (Jumat Literasi), serta kegiatan SAGASATU (Sapa Warga, Sapa Batu) sebagai bentuk interaksi dan penguatan hubungan dengan masyarakat sekitar. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan siswa dan pihak sekolah, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan setempat. Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan terbangun nilai tanggung jawab, empati, kreativitas, kepedulian lingkungan, serta kebersamaan antara mahasiswa KKM, siswa, dan masyarakat.   Link Blog: https://www.kompasiana.com/kkmunggulangentara264

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” UIN Malang Dorong Kesejahteraan Masyarakat melalui Workshop Buket Pita Satin di Desa Gunung Jati

M. LAYYINUL QOLBIL MUKARROM

Mahasiswa KKM Reguler Kelompok 44 “Bhavishya” UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan workshop pembuatan buket dari kain pita satin sebagai bentuk kontribusi dalam mendorong kesejahteraan masyarakat desa, khususnya melalui penguatan sektor UMKM. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 29 Desember 2025 pukul 09.00 WIB di Balai Desa Gunung Jati. Workshop ini diikuti oleh 27 peserta yang merupakan anggota PKK Desa Gunung Jati. Tujuan pelaksanaan kegiatan adalah memberikan keterampilan kreatif yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha mandiri, sehingga dapat mendukung peningkatan perekonomian keluarga sekaligus masyarakat secara berkelanjutan. Pemilihan kain pita satin sebagai bahan utama didasarkan pada berbagai pertimbangan. Jannah, salah satu mahasiswa KKM 44 “Bhavishya”, menjelaskan bahwa bahan tersebut mudah ditemukan di lingkungan sekitar, memiliki harga yang terjangkau, serta dapat dibentuk tanpa membutuhkan alat khusus. Selain itu, pita satin dinilai memiliki nilai estetika yang baik dan fleksibel untuk dikreasikan menjadi berbagai bentuk buket yang menarik dan bernilai jual. Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh pelatihan secara langsung mulai dari pengenalan bahan, teknik dasar perakitan, hingga penataan buket agar terlihat rapi dan menarik. Seluruh materi disampaikan oleh mahasiswa KKM sebagai narasumber dengan metode praktik langsung, sehingga mudah dipahami oleh peserta. Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Ibu-ibu PKK aktif mengikuti setiap tahapan, berdiskusi, serta mempraktikkan teknik yang diajarkan. Pada akhir kegiatan, seluruh peserta berhasil menghasilkan buket dari kain pita satin yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk UMKM kreatif di Desa Gunung Jati. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKM 44 “Bhavishya” berharap keterampilan yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi berbasis kreativitas serta kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan desa secara berkelanjutan.

Thumbnail
4 months ago
KKM Unggulan PSGA UIN Malang Gelar Sosialisasi Anti-Bullying, 79 Siswa SMKN 1 Kraksaan Ikrarkan Komitmen

DEFITRIA RIKA WULANDARI

Kraksaan, Probolinggo --- Maliki Islamic University - KKM Unggulan PSGA 265 UIN Malang menggelar sosialisasi bertajuk "Kenali, Cegah, Hentikan Bullying - Sekolah Ramah Bebas Bullying" di aula SMKN 1 Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 9 Januari 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 2,5 jam ini melibatkan 79 siswa kelas X dengan fokus pada pengenalan bullying, regulasi emosi, hingga role play interaktif yang membuat siswa memahami dampak perundungan dan bersama-sama berkomitmen untuk mencegahnya. Pengenalan Bullying dan Dampak Psikologis Ahmad Hafizi, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga Kabupaten Probolinggo, menjadi pemateri pertama yang menjelaskan mengenai pengertian bullying, jenis-jenisnya (verbal, fisik, sosial, dan cyber), serta dampak serius perundungan terhadap kesehatan mental siswa. Para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. "Ejekan kecil ternyata bisa menghancurkan mental seseorang," ungkap salah satu siswa. Games "Jeruk Juruk" Cairkan Suasana! Setelah sesi materi yang serius, kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking interaktif. Instruktur memimpin permainan "Jeruk Juruk Salak Selak" di mana siswa harus melompat sesuai instruksi: "Jeruk" lompat ke depan, "Juruk" ke belakang, "Salak" ke kanan, dan "Selak" ke kiri. Suasana aula menjadi penuh tawa dan semangat. Siswa laki-laki dan perempuan kompak mengikuti permainan dengan antusias, menghilangkan rasa canggung di antara mereka. "Paling seru! Capek dikit tidak masalah!" seru salah satu siswa sambil tertawa Abror & Nina: “Masa Depan Cerah Tanpa Bullying” Abror dan Nina, mahasiswa UIN Malang yang tergabung dalam kelompok KKM, membawakan materi kedua mengenai pentingnya menggapai masa depan dan ajakan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Abror menekankan bahwa SMK bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. "Kalian dapat melanjutkan kuliah dan memiliki karir cemerlang. Namun, jika berada dalam lingkungan yang tidak sehat seperti adanya bullying, hal tersebut dapat merusak fokus dan kesehatan mental," jelasnya. Nina menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan positif sejak dini untuk menghindari trauma jangka panjang. Para siswa tampak antusias dan mengajukan berbagai pertanyaan seputar jurusan kuliah serta peluang beasiswa. Eksperimen Kacamata Perspektif: Cerah vs Gelap Ranti Sagita, S.Psi. M.Psi, Konselor Puspaga, memimpin sesi paling unik dalam kegiatan ini, yaitu role play perspektif menggunakan kacamata. Dua siswa ditunjuk untuk memakai kacamata dengan lensa berbeda: satu dengan lensa cerah (terang) dan satu lagi dengan lensa gelap (hitam). Bu Ranti menampilkan skenario bullying di mana seorang teman diejek karena alasan tertentu. Kepada siswa berkacamata cerah, Bu Ranti bertanya, "Apa yang kamu lihat?" Siswa tersebut menjawab, "Saya melihat teman-teman dengan jelas. Semua terlihat terang. Jika ada teman yang diejek, saya akan menghiburnya." Giliran siswa berkacamata gelap, ia menjawab, "Yang saya lihat hanya kegelapan. Tidak terlihat apa-apa. Jadi jika ada teman yang diejek, saya tidak bisa membantu karena takut terjadi sesuatu." Aula menjadi hening. "Ini adalah perbedaan perspektif," tegas Bu Ranti. "Perspektif gelap membuat kita takut dan pasif. Perspektif cerah membuat kita berani dan menjadi bagian dari solusi." Siswa bertepuk tangan dan banyak yang mengangguk paham. Sesi tanya jawab berlanjut dengan partisipasi aktif dari siswa perempuan, sementara siswa laki-laki yang awalnya malu mulai berani berbicara. "Saya ingin menjadi yang berkacamata cerah," ujar salah satu siswa. Komitmen Tertulis di Sticky Notes Anti-Bullying Acara ditutup dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri. Yang paling berkesan adalah sesi Papan Sticky Notes Anti-Bullying, di mana seluruh 79 siswa menuliskan janji "Saya berjanji tidak akan melakukan bullying" pada sticky note dan menempelkannya di papan besar. Papan tersebut akan dipajang di sekolah sebagai pengingat harian bagi seluruh siswa. Mengapa Sosialisasi Ini Mendesak? Observasi oleh KKM Unggulan PSGA 265 menemukan kasus bullying antarsiswa yang dipicu oleh faktor sosial-psikologis seperti isolasi sosial, perilaku mencari perhatian (caper), dan rasa tidak percaya diri (insecurity). Data menunjukkan bahwa kasus bullying di Probolinggo cukup tinggi. SMKN 4 Kota Probolinggo pernah mencatat 15 siswa menjadi korban bullying pada tahun 2022. Sekolah Berkomitmen Lanjutan Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Kraksaan menyatakan akan membentuk Klub OSIS Anti-Bullying untuk melakukan monitoring berkelanjutan. Wali Kelas X menambahkan bahwa pendekatan games sangat efektif, terutama untuk siswa laki-laki yang cenderung pemalu. "Saya akan melanjutkan dengan aktivitas kompetitif serupa," ujarnya. Tim KKM menyarankan agar sosialisasi serupa dilakukan secara rutin setiap semester. Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo juga direkomendasikan untuk memperluas program ke SMK lain di wilayah tersebut. "Untuk periode berikutnya, dapat ditambahkan pretest dan posttest agar terdapat data kuantitatif yang lebih terukur," tutup Pak Ahmad.        

Thumbnail
4 months ago
Pembuatan Insinerator sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Desa Kelompok 70 KKM "Nirmalasara"

M. ABDULLAH SYAHRONI

Permasalahan pengelolaan sampah masih menjadi isu utama di wilayah pedesaan, khususnya pada desa yang belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sampah dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), Kelompok 70 “Nirmalasara” melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai salah satu solusi alternatif dalam pengelolaan sampah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa insinerator yang dibangun dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga dan mendapat respons positif dari masyarakat desa. Sampah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang hingga saat ini belum sepenuhnya tertangani, terutama di wilayah pedesaan. Keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, seperti tidak tersedianya Tempat Pembuangan Akhir (TPA), menyebabkan masyarakat cenderung membuang sampah secara sembarangan atau melakukan pembakaran terbuka. Praktik tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, serta menurunnya kualitas hidup masyarakat. Guna menghadapi permasalahan di atas, Desa Plandi, tepatnya Dusun Pandan Ploso, merupakan lokasi pelaksanaan KKM Kelompok 70 “Nirmalasara”. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan perangkat desa serta masyarakat setempat, pengelolaan sampah menjadi salah satu permasalahan utama yang membutuhkan penanganan. Oleh karena itu, Kelompok 70 “Nirmalasara” merancang dan melaksanakan program kerja pembuatan insinerator sebagai upaya pengelolaan sampah yang sederhana, efektif, dan sesuai dengan kondisi desa. Kegiatan pembuatan insinerator ini bertujuan untuk: Menyediakan sarana pengelolaan sampah bagi masyarakat desa. Mengurangi volume sampah yang tidak terkelola akibat ketiadaan TPA. Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan dan kelestarian lingkungan. Mendukung terciptanya lingkungan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan pembuatan insinerator dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut. Observasi dan Identifikasi Masalah Kelompok melakukan observasi langsung terhadap kondisi lingkungan desa serta melakukan wawancara singkat dengan perangkat desa dan masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. Perencanaan Program Berdasarkan hasil observasi, kelompok menyusun perencanaan program kerja yang meliputi desain insinerator, pemilihan bahan, serta penentuan lokasi pembangunan dengan mempertimbangkan aspek keamanan dan kemudahan penggunaan. Pelaksanaan Pembuatan Insinerator Pembuatan insinerator dilaksanakan secara gotong royong oleh anggota Kelompok 70 “Nirmalasara” dengan melibatkan masyarakat setempat. Proses ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap fasilitas yang dibangun. Sosialisasi kepada Masyarakat Setelah insinerator selesai dibuat, dilakukan peresmian sekaligus sosialisasi kepada masyarakat mengenai fungsi, cara penggunaan, serta perawatan insinerator agar dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan. Hasil dari kegiatan ini adalah terbangunnya satu unit insinerator yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengolahan sampah rumah tangga di desa. Insinerator tersebut mampu mengurangi volume sampah dan membantu mengatasi permasalahan penumpukan sampah yang sebelumnya terjadi akibat ketiadaan TPA. Partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan menunjukkan antusiasme dan respons yang positif. Masyarakat mulai memahami pentingnya pengelolaan sampah yang baik serta dampaknya terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan. Dengan demikian, program kerja ini tidak hanya menghasilkan sarana fisik, tetapi juga memberikan dampak edukatif bagi masyarakat desa. Program kerja pembuatan insinerator yang dilaksanakan oleh Kelompok 70 KKM “Nirmalasara” merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Keberadaan insinerator dapat menjadi solusi alternatif dalam pengelolaan sampah di desa yang belum memiliki TPA. Selain itu, kegiatan ini turut meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Diharapkan pemerintah desa dan masyarakat setempat dapat menjaga, merawat, serta memanfaatkan insinerator yang telah dibangun secara optimal. Selain itu, diperlukan program lanjutan berupa edukasi pemilahan sampah agar pengelolaan sampah di desa dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.