AROFANI BATRISYIA NURJANNATI
Malang – Dalam rangka menjalankan program kerja di bidang pendidikan dan sosial, Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 261 PSGA melaksanakan kegiatan micro edukasi dengan tema “Stop Bullying” di Sekolah Rakyat 47 Malang. Kegiatan ini ditujukan kepada para siswa sebagai upaya pencegahan perilaku bullying sejak dini serta untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak. Kegiatan micro edukasi ini diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian bullying. Mahasiswa KKN 261 PSGA menjelaskan bahwa bullying merupakan perilaku tidak menyenangkan yang dilakukan secara sengaja dan berulang, baik secara fisik, verbal, maupun nonverbal, yang dapat menyakiti orang lain. Selain itu, siswa juga diperkenalkan dengan berbagai jenis bullying, seperti bullying fisik, bullying verbal, bullying sosial, dan bullying melalui media digital. Dalam pemaparan materi, mahasiswa KKN menyampaikan contoh-contoh bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, seperti mengejek teman, memanggil dengan sebutan yang tidak pantas, mengucilkan teman, hingga tindakan kekerasan fisik. Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan interaktif agar mudah dipahami oleh siswa Sekolah Rakyat 47 Malang. Untuk memperkuat pemahaman siswa, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pemutaran video edukasi tentang bullying. Video tersebut menampilkan ilustrasi kejadian bullying di sekolah serta dampak negatif yang ditimbulkan bagi korban, baik dari segi mental, emosional, maupun kepercayaan diri. Melalui video ini, siswa diajak untuk lebih memahami perasaan korban bullying dan pentingnya sikap empati serta saling menghargai antar sesama. Selama kegiatan berlangsung, para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal ini terlihat dari keaktifan mereka dalam menjawab pertanyaan, berdiskusi, serta menceritakan pengalaman yang pernah mereka lihat atau alami terkait perilaku bullying. Mahasiswa KKN 261 PSGA juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat, sehingga tercipta komunikasi dua arah yang positif. Melalui kegiatan micro edukasi ini, diharapkan siswa Sekolah Rakyat 47 Malang dapat memahami bahaya bullying serta mampu mengenali dan menghindari perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan dengan menumbuhkan sikap saling menghormati, tolong-menolong, dan berani melaporkan jika terjadi tindakan bullying di lingkungan sekolah. Kegiatan micro edukasi bullying ini merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata Kelompok KKN 261 PSGA dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang ramah anak dan bebas dari bullying. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai toleransi, empati, dan kepedulian sosial dapat tertanam sejak dini pada diri siswa.
HANA MELIANA RIFA`AH
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Pratikara Sahaya melaksanakan program kerja bertajuk “Jariku Ceritaku” di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang pada tanggal 27–28 Januari 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam empat sesi kelas dengan dua kelas pada hari pertama dan dua kelas pada hari berikutnya. Program “Jariku Ceritaku” bertujuan untuk menjadi media refleksi dan ekspresi pengalaman bagi peserta didik. Dalam pelaksanaannya, peserta diminta mengisi cetakan lima jari pada selembar kertas, dengan masing-masing jari berisi satu pertanyaan. Pertanyaan tersebut bertujuan menggali pengalaman traumatis, rasa bangga terhadap diri sendiri, cita-cita, harapan di masa depan, serta perasaan tidak percaya diri yang dialami peserta didik. (Gambar) Penyampaian teknis kegiatan Jariku Ceritaku oleh kelompok KKM Pratikara Sahaya (27/01/2026) Kegiatan diawali dengan pembukaan dan penjelasan mengenai makna serta teknis pengisian pertanyaan pada setiap jari. Peserta kemudian diminta merefleksikan diri dan menuliskan jawaban atas pertanyaan yang tersedia. ”Jariku Ceritaku” secara simbolik melambangkan, jari jempol dan jari kelingking sebagai kekurangan atau kelemahan. Sedangkan jari telunjuk dan jari manis dimaknai sebagai harapan dan pengalaman positif, sementara jari tengah menggambarkan cita-cita peserta didik. Hasil jawaban atas pertanyaan mengenai cita-cita menampilkan bahwa peserta didik menuliskan aspirasi mereka secara sukarela dan terbuka. Tampak beberapa peserta didik memiliki tujuan yang jelas, di antaranya ingin menjadi psikolog profesional serta bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Akademi Militer untuk berkarier sebagai prajurit TNI Angkatan Darat dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat juga peserta didik yang menuliskan cita-cita unik, seperti ingin menjadi marshaller pesawat dan aktor. Guru Bimbingan Konseling SRMP 16 Kota Malang, Fafika Inayatul Maula, S.Pd., Gr, menyambut positif terselenggaranya kegiatan tersebut. “Kegiatan ini bagus karena membantu mengetahui latar belakang anak-anak, kondisi sosial mereka, dan bagaimana mereka menuliskan pengalaman traumatis.” Ia menambahkan, data yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat diulas dan disimpan lebih lanjut untuk mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan pendampingan khusus serta perencanaan pengembangan cita-cita karir mereka. Sejumlah peserta didik juga memberikan tanggapan terhadap kegiatan tersebut. Seorang siswa kelas VII menyatakan senang karena dapat menceritakan pengalamannya, sementara siswa lainnya mengaku merasa lega karena dapat mengungkapkan hal-hal yang sebelumnya dipendam.
TAQIYYAH DAANIYS SHABRINA RUSYDIYYAH
Kota Batu -- Mahasiswa KKM Unggulan PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Kelompok Gentara 264 melaksanakan kegiatan Ecoprinting dengan tema "Peduli Bumi Peduli Masa Depan" di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu pada Sabtu, 24 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh siswa sebagai bagian dari pembelajaran kreatif berbasis lingkungan. Kegiatan ecoprinting dilatarbelakangi oleh pentingnya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini serta mengenalkan alternatif pewarna alami yang ramah lingkungan. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa alam sekitar dapat dimanfaatkan secara sehat dan bertanggung jawab sebagai media belajar dan berkarya. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKM bersama siswa menggunakan kain yang telah direndam dengan tawas sebagai bahan dasar. Berbagai jenis daun dan bunga kemudian dihamparkan di atas kain tersebut dan dipukul menggunakan batu hingga menghasilkan pigmen warna alami yang membentuk pola unik. Proses ini memperlihatkan secara langsung bagaimana warna dapat diperoleh tanpa bahan kimia sintetis. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang tidak hanya melatih kreativitas siswa, tetapi juga meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta pemahaman tentang pemanfaatan sumber daya alam secara bijak. Suasana kegiatan berlangsung interaktif, di mana siswa aktif berpartisipasi dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi selama proses ecoprinting berlangsung. Bagi siswa SRMP 14 Kota Batu, kegiatan ecoprinting berfungsi sebagai pengalaman belajar kontekstual yang menggabungkan seni, sains, dan kepedulian lingkungan. Bagi PSGA, kegiatan ini menjadi bentuk implementasi pendidikan ramah anak yang aman, inklusif, dan partisipatif, sekaligus upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini sebagai bekal masa depan. Sementara itu, bagi mahasiswa KKM Unggulan Gentara 264, kegiatan ini menjadi wujud pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan edukatif dan kreatif. Sebagai harapan ke depan, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan variasi bahan alam dan teknik yang lebih beragam, sehingga pembelajaran berbasis lingkungan dapat menjadi bagian dari budaya belajar di sekolah. Dengan demikian, nilai kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya dipahami, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai langkah menjaga masa depan bersama.
SITI NAJAHATUL IMTIHAN
Membangun "Benteng" Empati di Sekolah: KKM PSGA UIN Malang Sosialisasikan Anti-Bullying di SRMP 14 Kota Batu Kota Batu - Mahasiswa KKN Unggulan PSGA UIN Malang melaksanakan program kerja kedua, yaitu Sosialisasi Anti-Bullying dengan tema "Sekolah Aman, Aku Nyaman" di Sekolah Rakyat (SRMP) 14 Kota Batu pada Sabtu, 10 Januari 2025. Kegiatan yang berlangsung di Aula SRMP 14 Kota Batu ini dihadiri dengan antusias oleh seluruh siswa kelas VIL Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemahaman siswa mengenai definisi bullying, beserta contoh, dampak, dan langkah pencegahannya. Harapannya, siswa menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai, menyayangi, berempati, serta membudayakan perilaku untuk tidak mengejek, merendahkan, atau mengucilkan tem merupakan persoalan serius dengan dampak negatif yang mendalam, baik secara psikologis, terhadap proses belajar, maupun terhadap kehidupan sosial di sekolah, sehingga dianggap sepele. disampaikan bahwa siswa tidak perlu ragu untuk melaporkan setiap perilaku tidak menyenangkan, baik yang dialami maupun disaksikan, kepada wali kelas, guru Bimb seling (BK), wali asuh, atau orang dewasa terpercaya lainnya. Dengan menekankan bahwa melapor adalah tindakan berani dan bertanggung jawab, diharapkan peserta didik menyadari enciptakan kenyamanan dan keamanan di sekolah adalah tanggung jawab bersama. Untuk membuat sosialisasi lebih interaktif dan menyenangkan, mahas memperkenalkan Tepuk Aman dan Lagu Nyaman. Kedua kreasi ini berisi ajakan untuk tidak saling menyakiti, menghakimi, mencaci maki, serta menumbuhkan sikap saling menyayangi edaan. siswa tampak jelas sejak sesi hateri hingga rd interaktif, di mana mereka aktif berpartisipasi. Bagi siswa SRMP, kegiatan ini berfungsi sebagai penguatan karakter positif dan keberanian untuk melapor ketika menyaksikan tindakan tidak baik. Bagi PSGA UIN Malang, program ini menjadi bentuk kontribusi nyata melalui pengabdian sekaligus wahana pengalaman bagi mahasiswa dalam menyusun dan menjalankan program edukatif. Sementara bagi Sekolah Rakyat 14 Kota Batu, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya iklim sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh warganya. Bagi mahasiswa KKN Unggulan Gentara 264, momen ini menjadi kesempatan penting untuk berbagi ilm anti-bullying. Melal mereka berharap nilai-nilai positif tidak hanya dipahami, tetapi jus oraktikkan dalam kebiasaan sehari-hari, sehingga siswa dapat tumbuh sebagai gener empati, bertanggung jawab, dan penyayang. Sebagai saran ke depan, program serupa dapat lebih dua langkah praktis membuat dan menyebarkar entang tata cara melapor dan saluran bantuan anti-bullying yang ditempatkan strategis di sekolah. Kedua, mengadakan sesi rutin (misalnya setiap a ceramah singkat, diskusi kelompok, atau pemutaran video inspiratif untuk terus mengingatkan memperkuat pesan anti-bullying di kalangan siswa. Dengan cara ini, pemahaman yang telah dibangun dapat terus terjaga dan menjadi bagian dari budava sekolah sehari-hari.
MUHAMMAD NAUFAL GAZALBA
Kegiatan sosialisasi seminar yang diselenggarakan di Desa Merak Belantung menjadi salah satu upaya edukatif dalam meningkatkan wawasan generasi muda terkait isu-isu penting yang sedang dihadapi masyarakat. Seminar ini mengangkat beberapa tema utama, yaitu edukasi BRUN, stunting dan parenting, serta sosialisasi anti narkoba. Kegiatan tersebut diikuti oleh para siswa tingkat SMP yang ada di Desa Merak Belantung dengan antusiasme yang tinggi.
RANIA
https://www.kompasiana.com/kkmunggulangentara264/695f04f1c925c448e45639e2/kkm-unggulan-264-psga-uin-malang-dorong-budaya-organisasi-lewat-sosial-di-sekolah