Thumbnail
4 months ago
MERAJUT MIMPI BARENG ADHIKARA : Momen Berbagi Inspirasi di Bulan Penuh Berkah

FAILLA AYLANA AIN

Dua inisiatif pengabdian masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) telah berhasil diimplementasikan guna memberdayakan generasi muda melalui pendekatan yang inovatif dan partisipatif. Program pertama yang bertajuk "Sajadah Adhikara: Satu Langkah Sejuta Berkah" dilaksanakan selama kurun waktu 12 hari pada tahun 2026 di TPQ Griya Asumta. Inisiatif ini dirancang sebagai respons konkret terhadap berbagai kendala sistemik dalam pendidikan agama nonformal, di mana metode pembelajaran seringkali cenderung monoton dan berpusat pada hafalan. Keterbatasan media edukasi yang inovatif serta rendahnya sistem apresiasi yang terstruktur menyebabkan motivasi santri untuk hadir dan aktif menjadi berkurang secara konsisten. Untuk mengatasi tantangan tersebut, program "Sajadah Adhikara" mengintegrasikan tujuh kegiatan terstruktur yang menyasar penguatan literasi ibadah, kreativitas, dan karakter Islami. Pelaksanaannya memadukan berbagai strategi, mulai dari pendekatan multi-modalitas melalui pemutaran sinema religi dan bimbingan praktik wudhu serta shalat, hingga pengembangan kreativitas melalui pembuatan Kartu Ucapan Lebaran (KUL) dan pembatas Al-Qur'an dari stik es krim. Selain itu, program ini juga mengadopsi sistem gamifikasi edukatif berupa "Pohon Keaktifan" sebagai sistem penghargaan visual yang menciptakan iklim kompetisi positif. Secara keseluruhan, intervensi edukatif ini terbukti berdampak signifikan dalam meningkatkan kemandirian ibadah santri, menumbuhkan kebanggaan atas karya sendiri, sekaligus mendorong konsistensi partisipasi belajar mereka secara sehat dan menyenangkan. Sementara itu, inisiatif kedua yang bertajuk "Lentera Ramadhan: Langkah Terang Meraih Harapan" diselenggarakan bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadhan di Panti Asuhan Minhajul Abidin yang berlokasi di Janti, Jogoroto, Kabupaten Jombang. Program ini secara khusus difokuskan pada upaya mengatasi tantangan psikologis yang kerap membayangi anak-anak panti asuhan, seperti rendahnya kepercayaan diri akibat stigma sosial dan minimnya pendampingan yang berorientasi pada potensi. Ketiadaan ruang aman untuk berekspresi sering kali membuat anak-anak tersebut kesulitan dalam membangun narasi positif tentang masa depan mereka. Sebagai solusi, program ini menghadirkan sesi berbagi interaktif yang bertema "Step by Step: Merajut Mimpi Bareng Adhikara". Melalui fasilitas diskusi terbuka, intervensi ini diperkuat dengan mekanisme refleksi diri tertulis melalui pembuatan "Surat untuk Diri Sendiri". Dalam surat tersebut, peserta didorong untuk menuliskan kelebihan, kekurangan, cara mengatasi kekurangan, cita-cita masa depan, hingga janji personal, yang kemudian disimpan sendiri dalam amplop sebagai bentuk komitmen psikologis jangka panjang. Pendekatan partisipatif berbasis refleksi diri ini sukses mentransformasi peserta yang awalnya pasif menjadi jauh lebih berani tampil berekspresi, sekaligus membantu mereka merumuskan tujuan hidup yang konkret secara mandiri.      

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM 65 Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan Roudlotul Aitam Blitar, Perkuat Dukungan Emosional Anak

FAZA NAILAL WIDAD

Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 65 sukses menggelar kegiatan bakti sosial di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Roudlotul Aitam, Blitar, pada Minggu (26/4/2026). Mengusung tema "Kebahagiaan yang Menguatkan, Kepedulian yang Menggerakkan," kegiatan ini melibatkan 20 anak asuh, 10 mahasiswa, serta 23 pengasuh LKSA dalam serangkaian aktivitas sosial yang interaktif dan penuh semangat. Rangkaian kegiatan mencakup senam pagi bersama, sarapan bersama, aneka permainan kelompok, pembagian hadiah, hingga pemberian santunan kepada pihak LKSA. Kegiatan berlangsung hangat dan meriah, dengan seluruh peserta menunjukkan antusiasme tinggi sejak pagi hari. Anak-anak sangat bersemangat. Melalui permainan bersama, terlihat bagaimana mereka mulai membuka diri dan berinteraksi lebih akrab. Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan, anak-anak asuh menunjukkan keterlibatan aktif dalam setiap sesi. Pada awal kegiatan, sejumlah anak perempuan masih cenderung pemalu dan menutup diri. Namun, seiring berjalannya aktivitas bersama yang dilakukan secara bertahap, mereka perlahan terbuka—ditandai dengan interaksi yang lebih akrab dan rasa nyaman yang tumbuh bersama mahasiswa KKM. Anak-anak asuh di panti asuhan tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dukungan sosial dan emosional untuk menunjang perkembangan psikososial mereka. Kegiatan yang bersifat interaktif dan partisipatif terbukti mampu menstimulasi komunikasi, kerja sama, serta membangun suasana kebersamaan yang positif. Hal ini sejalan dengan penelitian Khasanah & Diana (2025) yang menyatakan bahwa aktivitas kolaboratif dapat membantu anak membangun interaksi sosial yang sehat dan mengontrol emosi dengan lebih baik. Sekilas Kegiatan Waktu: Minggu, 26 April 2026 Lokasi: LKSA Roudlotul Aitam, Blitar Peserta: 20 anak asuh (usia 5–17 tahun), 10 mahasiswa KKM, 23 pengasuh Kegiatan: Senam pagi, sarapan bersama, permainan kelompok interaktif, pembagian hadiah, santunan Penyelenggara: Mahasiswa KKM Kelompok 65 Tak hanya berdampak bagi anak asuh, kegiatan ini juga memberikan pengalaman berharga bagi para mahasiswa dalam memahami pentingnya kepedulian sosial dan pendampingan emosional di lingkungan LKSA. Interaksi langsung selama kegiatan dinilai memperkuat empati dan kesadaran sosial mahasiswa sebagai calon agen perubahan di masyarakat. Ke depan, mahasiswa KKM Kelompok 65 merekomendasikan agar kolaborasi serupa terus dijalankan secara berkelanjutan. Program sosial-partisipatif yang rutin—mencakup permainan edukatif, pelatihan kreativitas, dan kegiatan kelompok—dinilai penting untuk menjaga kenyamanan emosional serta kualitas interaksi sosial anak-anak asuh. Selain itu, pihak LKSA juga didorong untuk mempererat kerja sama dengan perguruan tinggi dan masyarakat sekitar guna menghadirkan program sosial-edukatif secara berkala demi mendukung kesejahteraan sosial anak secara menyeluruh. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan oleh mahasiswa KKM Kelompok 65 sebagai wujud kontribusi nyata dunia akademik terhadap kesejahteraan sosial anak di lingkungan panti asuhan. 

Thumbnail
4 months ago
Mahasiswa KKM Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Gelar Sosialisasi Wudhu dan Kegiatan Keagamaan di Tambak Rejo

FAISHAL FAHMI

Bulan Ramadhan merupakan momen yang penuh berkah dan sering dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan berbagai kegiatan ibadah. Suasana kebersamaan, semangat belajar agama, serta kegiatan keagamaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat selama bulan suci ini. Melalui berbagai kegiatan positif, nilai-nilai keagamaan dapat semakin ditanamkan, terutama kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Semangat tersebut juga diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tambak Rejo, Jombang. Selama menjalankan program KKM di bulan Ramadhan, mahasiswa mengadakan beberapa kegiatan keagamaan bersama masyarakat setempat. Kegiatan yang dilakukan antara lain tadarus Al-Qur'an bersama warga serta mengajar anak-anak di TPQ. Kegiatan tadarus bertujuan untuk menghidupkan suasana Ramadhan dan meningkatkan semangat masyarakat dalam membaca Al-Qur'an. Sementara itu, kegiatan mengajar TPQ dilakukan untuk membantu anak-anak dalam belajar membaca Al-Qur'an serta memahami dasar-dasar ajaran Islam dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Sebagai puncak kegiatan, mahasiswa KKM juga mengadakan sosialisasi mengenai tata cara wudhu yang benar sesuai ajaran Islam. Sosialisasi ini dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026, di Desa Tambak Rejo, Jombang. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan langkah-langkah berwudhu secara sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak maupun masyarakat yang hadir.

Thumbnail
4 months ago
Menjaga Cahaya Pendidikan: Guru Juga Butuh Jeda untuk Mengolah Lelah Menjadi Lillah

MAGHFIRA AULIA SABRINA

Jumat, 24 April 2026 - menjadi hari penuh makna bagi para pendidik dan calon pendidik yang hadir dalam seminar bertajuk "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga." Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental guru di tengah tuntutan pendidikan yang semakin meningkat. Seminar ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan emosional bagi para peserta agar mampu menjaga semangat mengajar tanpa kehilangan kesehatan mental dan ketenangan batin. Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh para guru, mahasiswa asistensi mengajar, serta berbagai elemen pendidikan yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan sekolah. Mengangkat tema besar mengenai kesehatan mental guru dan upaya mencegah burnout saat mengajar, seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, Prof.Dr. Esa Nur Wahyuni, M.Pd, dosen psikologi UIN Malang, yang dikenal aktif dalam kajian psikologi pendidikan dan kesehatan mental. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri dalam seminar yang berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh hati para peserta. Dalam penyampaiannya, Prof. Esa menegaskan bahwa guru bukan hanya sosok pengajar di ruang kelas, tetapi juga manusia yang memiliki batas fisik dan emosional. Tuntutan administrasi, tanggung jawab mendidik karakter murid, hingga tekanan profesional yang terus berkembang sering kali membuat guru lupa untuk memberi ruang istirahat bagi dirinya sendiri. Beliau menyampaikan bahwa menjaga kesehatan mental bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab agar seorang guru tetap mampu menjadi cahaya bagi murid-muridnya. "Guru yang sehat secara mental akan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang hangat, sabar, dan penuh makna," tutur beliau dalam sesi seminar. Suasana seminar terasa semakin mendalam ketika para peserta diajak merefleksikan pengalaman pribadi selama menjalani dunia pendidikan. Banyak guru yang merasa tersentuh karena materi yang disampaikan sangat dekat dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari. Prof. Esa juga memberikan berbagai langkah sederhana untuk mencegah burnout, seperti membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi diri, memberikan waktu jeda untuk diri sendiri, serta menguatkan niat mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian. Nilai spiritualitas yang diangkat dalam seminar ini menjadi pengingat bahwa lelah dalam mendidik dapat bernilai lillah ketika dijalani dengan hati yang ikhlas dan tetap menjaga keseimbangan diri. Tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, seminar ini juga menjadi ruang berbagi dan saling menguatkan antarpendidik. Para peserta terlihat aktif dalam sesi diskusi, menyampaikan keresahan, pengalaman, serta tantangan yang mereka hadapi selama mengajar. Kehangatan interaksi yang terjalin menunjukkan bahwa setiap guru membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diapresiasi. Salah satu guru peserta seminar menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat beliau merasa lebih dihargai dan diperhatikan sebagai seorang pendidik. "Kadang guru terlalu sibuk memikirkan murid sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Seminar ini mengingatkan kami bahwa guru juga manusia yang perlu dijaga hatinya," ungkap salah satu peserta dengan penuh haru. Selain itu juga terdapat pertanyaan yang menarik mengenai pencegahan burnout, cara mengenali emosi murid dan pertanyaaan menarik lainya. Melalui seminar ini, Tim AM dan KKM Abimatungga UIN Malang berharap dapat menghadirkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental guru merupakan fondasi penting dalam terciptanya pendidikan yang berkualitas. Pemateri juga menyampaikan bahwa sering kali guru dianggap menjadi malaikat tanpa sayap yang siap selalu menyibakan sayapnya untuk memenuhi segala macam tuntutan Pendidikan, namun nyatanya guru juga manusia yang sangat wajar mengalami kelelahan mental, dan hal tersebut pasti akan mempengaruhi pembelajaran yang dilakukan.Guru yang bahagia dan sehat secara emosional akan mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang positif, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar kecil untuk terus mendukung para pendidik agar tetap kuat menjalani perannya di tengah perubahan dan tuntutan zaman yang semakin kompleks. Seminar "Guru Juga Butuh Jeda, Mengolah Lelah Menjadi Lillah Dengan Kesehatan Mental Yang Terjaga" bukan sekadar kegiatan akademik atau program KKM saja, melainkan perjalanan refleksi yang mengingatkan bahwa di balik peran besar seorang guru, terdapat hati yang juga perlu dipeluk dan dikuatkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kesehatan mental, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi awal lahirnya ruang-ruang pendidikan yang lebih manusiawi, suportif, dan penuh empati bagi seluruh pendidik di Indonesia.

Thumbnail
4 months ago
KKM UIN Malang Transformasi Metode Ngaji di Tarokan Inovasi "Ngaji Bareng" Padukan Nilai Akhlak dan Permainan Edukatif, Berhasil Tingkatkan Minat Santri.

DINY ALFIANIDA

TAROKAN, KEDIRI – Suasana senja di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kecamatan Tarokan kini tak lagi sama. Sejak kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 3 Februari lalu, lantunan ayat suci Al-Qur’an kini bersahutan dengan tawa ceria dan antusiasme tinggi dari para santri. Melalui program bertajuk "Ngaji Bareng", para mahasiswa membawa warna baru dalam pengabdian masyarakat. Program ini tidak hanya fokus pada kelancaran membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral anak-anak sejak dini. Sentuhan Kreatif Jika biasa nya pembelajaran TPQ cenderung monoton , tim KKM UIN Malang mengubahnya menjadi interaktif. Mereka menyisipkan metode belajar melalui permainan edukatif, mendongeng kisah para Nabi, hingga menyanyi lagu-lagu religi. "Kami ingin anak-anak merasa bahwa mengaji itu menyenangkan, bukan beban. Dengan begitu, nilai-nilai agama akan lebih mudah meresap ke hati mereka," ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKM. Salah seorang santri mengaku sangat menikmati kehadiran para mahasiswa. "Senang sekali ada kakak-kakak KKM, ngajinya jadi lebih seru dan tidak membosankan," ungkapnya dengan wajah sumringah. Kedekatan Emosional Peran mahasiswa di sini melampaui sekadar pengajar. Mereka membangun kedekatan emosional sebagai teman cerita dan motivator bagi para santri. Hal ini mendapat apresiasi besar dari para ustadz setempat dan masyarakat sekitar yang merasakan dampak positif pada kedisiplinan anak-anak mereka dalam beribadah. Penutupan KKM Sebagai puncak pengabdian, pada 13-14 April lalu, mahasiswa menggelar rangkaian perlombaan sebagai ajang apresiasi bagi para santri. Berbagai lomba seperti hafalan doa harian dan lomba mewarnai digelar dengan penuh kemeriahan. Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga Tarokan. Meski masa penugasan telah berakhir, harapan besar telah dititipkan pada pundak generasi kecil ini untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berdaya di masa depan. (Red/ADV)  

Thumbnail
4 months ago
KKM UIN Malang Transformasi Metode Ngaji di Tarokan Inovasi "Ngaji Bareng" Padukan Nilai Akhlak dan Permainan Edukatif, Berhasil Tingkatkan Minat Santri.

NOMAN ALFARISI

TAROKAN, KEDIRI – Suasana senja di salah satu Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di Kecamatan Tarokan kini tak lagi sama. Sejak kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 3 Februari lalu, lantunan ayat suci Al-Qur’an kini bersahutan dengan tawa ceria dan antusiasme tinggi dari para santri. Melalui program bertajuk "Ngaji Bareng", para mahasiswa membawa warna baru dalam pengabdian masyarakat. Program ini tidak hanya fokus pada kelancaran membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral anak-anak sejak dini. Sentuhan Kreatif Jika biasa nya pembelajaran TPQ cenderung monoton , tim KKM UIN Malang mengubahnya menjadi interaktif. Mereka menyisipkan metode belajar melalui permainan edukatif, mendongeng kisah para Nabi, hingga menyanyi lagu-lagu religi. "Kami ingin anak-anak merasa bahwa mengaji itu menyenangkan, bukan beban. Dengan begitu, nilai-nilai agama akan lebih mudah meresap ke hati mereka," ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKM. Salah seorang santri mengaku sangat menikmati kehadiran para mahasiswa. "Senang sekali ada kakak-kakak KKM, ngajinya jadi lebih seru dan tidak membosankan," ungkapnya dengan wajah sumringah. Kedekatan Emosional Peran mahasiswa di sini melampaui sekadar pengajar. Mereka membangun kedekatan emosional sebagai teman cerita dan motivator bagi para santri. Hal ini mendapat apresiasi besar dari para ustadz setempat dan masyarakat sekitar yang merasakan dampak positif pada kedisiplinan anak-anak mereka dalam beribadah. Penutupan KKM Sebagai puncak pengabdian, pada 13-14 April lalu, mahasiswa menggelar rangkaian perlombaan sebagai ajang apresiasi bagi para santri. Berbagai lomba seperti hafalan doa harian dan lomba mewarnai digelar dengan penuh kemeriahan. Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga Tarokan. Meski masa penugasan telah berakhir, harapan besar telah dititipkan pada pundak generasi kecil ini untuk tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan berdaya di masa depan. (Red/ADV)