Thumbnail
4 months ago
sosialisasi anti-bullying dan penggunaan gadget bijak di sdn 3 gadingkembar

SHEILA APRILIANI PUTRI

Mahasiswa KKN 43 Pradipta UIN Malang menggelar kegiatan sosialisasi di SDN 3 Gading Kembar yang menyasar siswa kelas 4, 5, dan 6. Kegiatan ini berfokus pada dua isu yang semakin relevan di lingkungan sekolah dasar, yaitu bullying dan penggunaan gawai secara bijak Sosialisasi ini bertujuan menumbuhkan kesadaran sejak dini tentang dampak perilaku perundungan, baik secara verbal maupun nonverbal, serta membangun pemahaman dasar mengenai batasan penggunaan gadget di usia sekolah. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana dan pendekatan interaktif agar mudah dipahami oleh siswa. Kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Antusiasme siswa terlihat dari keaktifan mereka dalam bertanya, berdiskusi, dan berbagi pengalaman sehari-hari. Respons positif ini menunjukkan bahwa isu bullying dan penggunaan gadget memang dekat dengan realita anak-anak, meskipun sering kali dianggap sepele. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang membuka ruang dialog bagi siswa. Sosialisasi semacam ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, sehat, dan sadar teknologi. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan tertib tanpa hambatan berarti. Lebih dari sekadar program KKN, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa edukasi karakter dan literasi digital perlu dilakukan secara konsisten, dimulai dari lingkungan sekolah dasar.

Thumbnail
4 months ago
KKM 49 Prasena Adikara UIN Malang Sukses Gelar Sosialisasi Anti Bullying di SMA Sunan Kalijogo Jabung

ESYA DEWI CLARISSA ARISANTI

Jabung - Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 49 Prasena Adikara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sukses menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Anti Bullying di SMA Sunan Kalijogo Jabung pada Sabtu, 17 Januari 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Perilaku Maladaptif dalam Pergaulan Remaja: Dampak Psikologis dan Konsekuensi Hukum” dan dilaksanakan pada pukul 08.00 WIB di aula sekolah.   Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh kurang lebih 400 siswa dari tiga angkatan, yakni kelas X, XI, dan XII. Sejak awal kegiatan, para siswa terlihat antusias dan mengikuti rangkaian acara dengan tertib. Isu bullying dinilai sebagai topik yang relevan dengan dinamika pergaulan remaja saat ini, sehingga materi yang disampaikan mudah diterima oleh peserta.   Pemateri dalam kegiatan ini adalah Bapak Anwar Fuady, Dosen Psikologi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan secara sistematis mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, faktor penyebab munculnya perilaku maladaptif, dampak psikologis terhadap korban, serta konsekuensi hukum yang dapat dikenakan kepada pelaku.   Sebagai penguatan materi, pemateri juga mengajak peserta untuk melakukan refleksi diri melalui ilustrasi sederhana namun bermakna. Perumpamaan uang yang dilipat, diremas, dan diinjak, namun tetap bernilai, menjadi gambaran bahwa setiap individu memiliki harga diri dan martabat yang tidak dapat hilang hanya karena perlakuan buruk dari orang lain.   Antusiasme siswa semakin terlihat pada sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan oleh peserta, yang sebagian besar menggambarkan kasus bullying yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun pergaulan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi mampu membuka ruang diskusi yang reflektif dan kontekstual.   Selain mendapatkan respons positif dari para siswa, kegiatan ini juga memperoleh apresiasi dari para guru SMA Sunan Kalijogo Jabung. Para guru menyampaikan rasa terima kasih atas terselenggaranya sosialisasi anti bullying ini. Menurut mereka, kegiatan tersebut dinilai mampu meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak negatif bullying, baik secara psikologis maupun sosial. Sosialisasi ini juga dianggap sebagai bentuk edukasi yang efektif dalam menanamkan nilai empati, saling menghargai, serta memperkuat upaya pencegahan perilaku menyimpang di lingkungan sekolah.   Melalui kegiatan ini, KKM 49 Prasena Adikara UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berharap sinergi antara mahasiswa, pihak sekolah, dan peserta didik dapat terus terjalin dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari bullying. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pembentukan karakter remaja yang sehat secara psikologis dan bertanggung jawab secara sosial.

Thumbnail
4 months ago
DarmaWidya Cetak Capaian Perdana, Sertifikat Halal Pertama Terbit untuk UMKM Pandanlandung

ULFATU FIKI AINURROHMAH

Langkah Konkret Percepatan Sertifikasi Halal UMKM Sebagai bagian dari komitmen percepatan sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK), mahasiswa Kelompok 4 KKM DarmaWidya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan kegiatan penyerahan sertifikat halal kepada sejumlah pelaku usaha dampingan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian proses pendampingan yang telah dilakukan secara intensif selama masa pengabdian, mulai dari penelusuran bahan baku, verifikasi proses produksi, hingga pemenuhan dokumen administrasi sesuai standar Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH). Terbitnya sertifikat halal ini menjadi bukti nyata bahwa program KKM Unggulan Halal Center tidak berhenti pada tahap sosialisasi, melainkan menghasilkan capaian legalitas yang berdampak langsung bagi pelaku usaha. Tiga Mahasiswi Jadi Perintis Penyerahan Tahap Awal Pada tahap pertama penyerahan sertifikat halal, tiga mahasiswi menjadi perwakilan karena proses sertifikasi usaha dampingan mereka telah selesai lebih dahulu, yakni Ulfatu Fiki Ainurrohmah, Dara Zahra Salsabila, dan Arifah Azwa Maqfiroh. Ketiganya secara langsung mendatangi rumah produksi masing-masing pelaku usaha pada 9, 10, dan 12 Januari 2026 untuk menyerahkan sertifikat halal secara simbolis sekaligus melakukan evaluasi akhir pendampingan. Pendampingan Produk Kerupuk Ikan Galunggung Mahasiswi pertama, Ulfatu Fiki Ainurrohmah, mendampingi pelaku usaha Ibu Erna Sopandiana, produsen Kerupuk Ikan Galunggung. Setelah melalui proses verifikasi bahan baku, pengecekan alur produksi, serta kelengkapan dokumen, sertifikat halal untuk produk tersebut resmi terbit pada 9 Januari 2026 dengan Nomor ID35410039112920126. Penyerahan dilakukan langsung di rumah produksi sebagai bentuk apresiasi atas kesungguhan pelaku usaha dalam memenuhi standar kehalalan. Legalitas Halal untuk Tahu Barokah Pendampingan berikutnya dilakukan oleh Dara Zahra Salsabila kepada pelaku usaha Dina Puji Lestari, produsen Tahu Barokah yang berlokasi di Jalan Gunung Jati No. 20, Wagir, Kabupaten Malang. Melalui proses administrasi dan teknis yang terstruktur, sertifikat halal produk ini resmi terbit pada 12 Januari 2026 dengan Nomor ID35410039386630126. Terbitnya sertifikat tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk olahan tahu lokal. Salad Buah Mas Fad Kitchen Lengkapi Tahap Pertama Sementara itu, Arifah Azwa Maqfiroh mendampingi pelaku usaha Ibu Ria Andriani, pemilik Salad Buah Mas Fad Kitchen. Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari identifikasi komposisi bahan, pemilihan supplier, hingga penyusunan dokumen pendukung. Sertifikat halal kemudian diserahkan sebagai bentuk pengakuan atas terpenuhinya standar produksi halal. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa produk makanan siap saji rumahan pun memiliki peluang besar untuk memperoleh legalitas halal secara resmi. Dorong Kepercayaan Konsumen dan Daya Saing Produk Penyerahan sertifikat halal tidak hanya menjadi bentuk apresiasi administratif, tetapi juga memiliki dampak strategis bagi pengembangan usaha. Dengan adanya sertifikasi halal, produk UMKM memperoleh: jaminan legalitas, peningkatan kepercayaan konsumen, peluang ekspansi pasar, serta daya saing yang lebih kuat di tengah persaingan industri pangan. Mahasiswa DarmaWidya berharap capaian tahap awal ini dapat memotivasi pelaku usaha lain di Desa Pandanlandung untuk segera mengurus sertifikasi halal produknya. Komitmen Berkelanjutan DarmaWidya Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Kelompok 4 KKM DarmaWidya dalam membangun ekosistem halal desa melalui pendekatan pendampingan langsung, edukasi, dan fasilitasi administrasi. Melalui langkah-langkah konkret tersebut, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra strategis masyarakat dalam mewujudkan UMKM yang legal, aman, dan berdaya saing. Tahap penyerahan berikutnya direncanakan akan terus berlanjut seiring dengan proses sertifikasi pelaku usaha lainnya yang masih berjalan.

Thumbnail
4 months ago
Mengenal Tradisi Nyongkolan Di Lombok

ANNISA NADA FAKHIRA

KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak   Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan.   Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini.   Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar.   Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan.   Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!

Thumbnail
4 months ago
UIN Maliki Malang Dorong Pola Asuh Anak Ramah di Era Digital lewat Sosialisasi di Ketawanggede

NAILAH ZAKIYYAH HASYIM

Malang | Serulingmedia.com — UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang terus memperkuat perannya dalam mendukung pengasuhan anak yang ramah dan berorientasi pada kebutuhan tumbuh kembang anak di era digital. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pola Asuh Anak bertema “Menemukan Gaya Pengasuhan Terbaik untuk Si Kecil” yang digelar di Aula Kertosari, Kelurahan Ketawanggede, Kecamatan Lowokwaru, Rabu (28/1/2025). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga) Kelurahan Ketawanggede dengan KKM PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sosialisasi bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya guru dan wali murid PAUD, terkait pentingnya penerapan pola asuh anak yang tepat, aman, dan bebas kekerasan di tengah tantangan pengasuhan modern. Sosialisasi diikuti oleh Tim Penggerak PKK Kelurahan Ketawanggede, para guru PAUD, wali murid PAUD, serta masyarakat setempat. Keterlibatan UIN Maliki Malang melalui PSGA memberikan penguatan berbasis akademik dan keilmuan dalam upaya meningkatkan kualitas pengasuhan keluarga. Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lowokwaru, Ida Wahyuni, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai sosialisasi pola asuh anak sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Kegiatan ini sangat dibutuhkan, terutama bagi para orang tua, karena tantangan pengasuhan anak di era digital semakin kompleks. Edukasi seperti ini membantu orang tua agar tidak salah dalam menerapkan pola asuh,” ujarnya. Sosialisasi menghadirkan Ketua PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Hj. Aprilia Mega Rosdiana, M.Si., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan masih banyak ditemukan kesalahan pola asuh di masyarakat, mulai dari minimnya interaksi emosional antara orang tua dan anak hingga kasus kekerasan yang berakar dari pengasuhan yang tidak tepat. “Saat ini masih banyak anak yang diasuh oleh gadget sejak usia dini, sehingga kedekatan emosional dengan orang tua berkurang. Selain itu, orang tua sering kali lebih mendengarkan pendapat orang lain dibanding memahami kebutuhan anaknya sendiri,” jelasnya. Hj. Aprilia Mega Rosdiana menekankan bahwa setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, pola asuh harus disesuaikan dengan kondisi anak agar dapat mendukung perkembangan karakter, kesehatan mental, serta kemampuan sosialnya secara optimal. Ia juga menegaskan bahwa pengasuhan yang baik bukan sekadar mengawasi, tetapi mendampingi anak dengan penuh kasih sayang dan kesadaran. Lingkungan keluarga yang aman dan suportif menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang sehat secara fisik dan psikologis. Kegiatan ini turut didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan KKM PSGA UIN Maliki Malang, Sheila Kusuma Wardani Amnesti, M.H. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dan dosen UIN Maliki Malang dalam kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Kegiatan sosialisasi ini menjadi wadah edukasi yang sangat penting bagi orang tua. Pola asuh yang baik tidak hanya mencegah kekerasan terhadap anak, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter dan masa depan anak,” ungkapnya. Melalui sinergi Puspaga Kelurahan Ketawanggede dan KKM PSGA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola asuh positif, ramah anak, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Upaya ini sekaligus menegaskan peran UIN Maliki Malang sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif berkontribusi dalam membangun keluarga berkualitas dan generasi penerus bangsa yang unggul. ( Eno)

Thumbnail
4 months ago
KKM 164 Mengenal Tradisi Nyongkolan di Lombok: Prosesi Pernikahan Adat Suku Sasak

NINDA NABILA ISNANIAH

Lombok bukan hanya terkenal dengan pantai-pantainya yang indah atau keanggunan Gunung Rinjani. Ketika kamu mengunjungi Pulau Seribu Masjid dan menemukan kemacetan karena iring-iringan pengantin yang disertai musik tradisional yang meriah, selamat! Kamu sedang melihat Nyongkolan. Nyongkolan merupakan puncak dari serangkaian upacara pernikahan adat suku Sasak yang penuh warna, suara ,dan filosofi mendalam. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang tradisi yang menarik ini. Secara harfiah, istilah Nyongkolan berasal dari kata "songkol" yang berarti mengantar atau mendatangi. Ini adalah acara di mana pengantin pria (Silaq) mendampingi pengantin wanita (Dende) kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa hari proses "penculikan" yang disebut Merariq. Tujuan dari prosesi ini sangat mulia: untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat bahwa kedua mempelai telah sah sebagai suami istri, serta menjadi kesempatan bersilaturahmi antar keluarga besar. Tahapan dan Elemen Unik dalam Nyongkolan 1. Iring-iringan Budaya Kedua mempelai berjalan layaknya raja dan ratu (Datu dan Putri). Mereka mengenakan pakaian tradisional Sasak yang disebut Lambung untuk wanita dan Sapuk (ikat kepala) untuk pria. 2. Gendang Beleq Ini adalah inti dari kemeriahan Nyongkolan. Gendang Beleq adalah ansambel musik perkusi tradisional yang dimainkan oleh sekelompok pemuda. Suaranya yang penuh energi menambah semarak dan kesan megah pada acara tersebut. 3. Iringan Keluarga dan Tokoh Adat Di belakang mempelai, terdapat barisan keluarga besar dan tokoh masyarakat setempat. Para wanita sering menjunjung beberie (seserahan atau makanan) di atas kepala mereka dengan keseimbangan yang mengagumkan. Nyongkolan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Tradisi ini bukan sekadar upacara, tetapi juga penghubung antara dua keluarga melalui musik, tarian, dan langkah yang serasi. Jika kamu berkunjung ke Lombok, jangan lupa untuk menyaksikan prosesi ini secara langsung!