ACHMAD SYAIFULLAH AMIN
Kembali ke lingkungan pesantren setelah libur panjang bukan hal yang mudah bagi sebagian santri. Di balik rutinitas ibadah dan jadwal kegiatan yang kembali padat, tersimpan berbagai perasaan yang sering kali tidak terungkap. Rasa rindu rumah, konflik dengan teman sekamar, hingga kebingungan memikirkan masa depan menjadi pengalaman yang nyata bagi santri dalam proses adaptasi kembali ke pondok. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM Unggulan Fakultatif Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan salah satu program kerja berupa sharing session di Pondok Pesantren An-Najiyah 2 Bahrul Ulum, Jombang, pada tanggal 5 Januari 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman bagi santri untuk berbagi cerita, mengekspresikan emosi, serta menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi selama menjalani kehidupan mondok. Ruang Aman untuk Berbagi Cerita Sejak awal kegiatan, mahasiswa KKM menegaskan bahwa sharing session ini bukan sekadar agenda formal. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penjelasan tujuan program, sekaligus pengenalan peran mahasiswa KKM selama berada di pesantren, termasuk layanan konseling yang dapat dimanfaatkan oleh santri. Suasana dibuat santai dan terbuka agar santri merasa nyaman dan tidak sungkan untuk berbicara. Memasuki sesi inti, sharing session dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil. Pendekatan ini dipilih agar santri lebih leluasa menyampaikan pengalaman dan perasaan pribadi. Dalam sesi tersebut, berbagai cerita mulai mengalir, baik yang bernada positif maupun yang sarat dengan emosi. Dinamika Perasaan Santri di Pondok Sebagian santri mengungkapkan perasaan senang karena dapat kembali bertemu teman-teman dan merasakan kebersamaan di asrama. Aktivitas pesantren yang telah menjadi bagian dari keseharian mereka juga memberikan semangat baru setelah masa liburan. Namun, tidak sedikit santri yang masih merasakan kesedihan dan kerinduan terhadap keluarga. Rasa rindu rumah kerap muncul lebih kuat pada malam hari, ketika suasana pondok mulai tenang dan aktivitas telah usai. Menariknya, beberapa santri menyadari bahwa perasaan senang dan sedih dapat hadir secara bersamaan dalam proses adaptasi kembali ke pesantren. Selain aspek emosional, santri juga menyampaikan berbagai permasalahan praktis yang mereka hadapi. Jam tidur yang tidak teratur, kesulitan tidur karena banyak pikiran, sisa makanan saat jam makan, hingga persoalan kebersihan kamar menjadi isu yang cukup sering muncul. Konflik dengan teman sekamar akibat perbedaan karakter dan kebiasaan juga menjadi keluhan yang banyak dipendam. Bahkan, sebagian santri menyinggung hubungan dengan pengurus pesantren yang dirasa cukup keras dalam menerapkan kedisiplinan. Kebingungan Masa Depan dan Relasi Sosial Pada santri putri jenjang Madrasah Aliyah (MA), persoalan yang paling dominan berkaitan dengan perencanaan masa depan. Banyak dari mereka mengaku bingung menentukan jurusan kuliah, memilih perguruan tinggi, hingga menghadapi perbedaan pandangan dengan orang tua terkait pendidikan lanjutan. Kebingungan ini menimbulkan tekanan psikologis karena santri merasa belum sepenuhnya mengenal potensi diri yang dimiliki. Sementara itu, santri kelas X lebih banyak bergulat dengan persoalan relasi pertemanan. Proses adaptasi dengan lingkungan baru, perbedaan karakter teman sekamar, serta pola komunikasi yang belum terbangun dengan baik sering memicu konflik kecil yang cenderung tidak diungkapkan secara langsung. Pesan Edukatif dan Harapan Keberlanjutan Menutup kegiatan, mahasiswa KKM juga menyampaikan pesan edukatif mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pesantren. Lingkungan yang bersih tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kenyamanan, suasana hati, dan kesehatan psikologis santri dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Melalui sharing session ini, mahasiswa KKM berharap santri merasa lebih didengar dan dipahami. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk merancang program lanjutan yang lebih responsif terhadap kebutuhan santri. Di balik dinding pesantren yang tampak kokoh, terdapat cerita-cerita personal yang layak untuk didengarkan dan dihargai.
RESA AJENG SETIANINGRUM
Seiring dengan perkembangan teknologi digital, pengelolaan keuangan masjid dituntut untuk semakin transparan dan akuntabel. Masjid Jami’ Al-Khoirot yang berlokasi di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, mulai menerapkan sistem digitalisasi keuangan masjid sebagai langkah inovatif dalam meningkatkan kualitas tata kelola keuangan. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, pengelolaan keuangan masjid dituntut untuk semakin transparan dan akuntabel. Masjid Jami’ Al-Khoirot yang berlokasi di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, mulai menerapkan sistem digitalisasi keuangan masjid sebagai langkah inovatif dalam meningkatkan kualitas tata kelola keuangan. Melalui penerapan sistem ini, informasi keuangan masjid dapat ditampilkan secara terbuka melalui media digital, sehingga jamaah dapat mengetahui kondisi keuangan masjid secara real-time. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi, meminimalisir kesalahan pencatatan, serta memperkuat kepercayaan jamaah terhadap pengelolaan dana masjid. Digitalisasi keuangan Masjid Jami’ Al-Khoirot ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa KKM Kelompok 16 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam mendukung pemanfaatan teknologi digital di lingkungan masyarakat. Diharapkan, sistem ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh pengurus masjid sebagai sarana pengelolaan keuangan yang lebih modern, tertib, dan amanah.
ELGA IMTIYAZ ZAKIYATUN NISA
Malang – Kegiatan Pembukaan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang resmi dilaksanakan pada Senin, 29 Desember 2026. Acara ini berlangsung di Dusun Cukal, Desa Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Pembukaan kegiatan KKM ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Bendosari, Sri Hari Kartini, S.E., beserta perangkat desa dan masyarakat setempat. Kehadiran mahasiswa KKM disambut hangat sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam pembangunan desa, khususnya pada bidang pendidikan. Adapun anggota Kelompok KKM Ganesha 178 yang terdiri dari 11 orang. Anggota kelompok tersebut yaitu Achmad Nurif Al Akmal, Ahmad Zainal Arifin, Afiyah Mubarokah, Azzah Maulidiah, Dendy Tegar Syahputra, Elga Imtiyaz Zakiyatun Nisa, Ilham Daniellah Kamal, M. Devid Isa Indana, M. Fahrizal Maulana, dan M. Farhan Pradana. Dalam sambutannya, Kepala Desa Bendosari Sri Hari Kartini, S.E. menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKM UIN Malang. Ia berharap program yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Dusun Cukal, terutama dalam mendukung kemajuan pendidikan anak-anak dan generasi muda. Sementara itu, Kelompok KKM Ganesha 178 menyampaikan bahwa fokus utama program kerja yang akan dilaksanakan adalah bidang pendidikan. Program-program tersebut dirancang untuk membantu masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, melalui kegiatan belajar, bimbingan pendidikan, serta berbagai aktivitas yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di lingkungan desa. Dengan terlaksananya pembukaan KKM ini, diharapkan kegiatan mahasiswa selama berada di Dusun Cukal dapat berjalan lancar serta mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan masyarakat Desa Bendosari.
INDINA SAADAH
Acara Peluncuran Website SIMANTAP dan Jumeneng Batik yang digagas oleh Kelompok KKM Aruna menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendorong digitalisasi dan pemberdayaan desa. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana KKM Aruna yang menyampaikan latar belakang serta tujuan utama dari peluncuran dua proyek tersebut, yaitu untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Kepala Desa Wonorejo yang mengapresiasi inisiatif Kelompok KKM Aruna dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi dan budaya lokal. Dukungan juga datang dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta perwakilan LP2M yang menegaskan bahwa program ini sejalan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat dan implementasi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Acara dilanjutkan dengan penampilan seni bela diri silat Pagar Nusa yang dibawakan oleh anak-anak MI setempat. Penampilan ini menjadi pembuka suasana yang penuh semangat sekaligus menunjukkan kekayaan budaya dan potensi generasi muda Desa Wonorejo dalam melestarikan seni tradisional. Anggota KKM Aruna (Pasa dan Fitriyatil) bersama Kepala desa memegang batik Arum Tirto Wojo (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Memasuki sesi inti, pada sesi demo proyek batik, Pasa dan Fitriyatil memperkenalkan karya batik bertajuk Arum Tirto Wojo, sebuah motif yang sarat makna dan filosofi lokal. Nama Arum memiliki arti harum atau indah, yang melambangkan keindahan alam Desa Wonorejo serta citra baik yang terpancar dari budaya dan kehidupan masyarakatnya. Makna ini menjadi representasi harmoni antara manusia dan lingkungan yang masih terjaga hingga kini. Sementara itu, kata Tirto yang berarti air atau sungai menggambarkan peran penting aliran sungai dalam menopang kehidupan dan melancarkan sumber ekonomi masyarakat Wonorejo. Sungai tidak hanya menjadi sumber daya alam, tetapi juga bagian dari denyut kehidupan warga desa. Adapun Wojo merupakan singkatan dari nama desa, yaitu Wono dan rejo, di mana wono berarti alas atau hutan, sedangkan rejo bermakna ramai atau sejahtera. Keseluruhan makna tersebut menyatu dalam motif batik Arum Tirto Wojo sebagai simbol Wonorejo yang indah, hidup, dan penuh harapan akan kesejahteraan. Penjelasan dari anggota KKM Aruna (Iyan dan Maysa) mengenai website SIMANTAP (Sumber dokumentasi asli dari KKM Aruna) Pada sesi berikutnya, Kelompok KKM Aruna mendemonstrasikan website SIMANTAP, sebuah platform digital yang dirancang khusus untuk warga Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo. Website ini dikembangkan sebagai pusat informasi dan dokumentasi kegiatan desa yang mudah diakses oleh masyarakat. SIMANTAP memiliki berbagai menu utama, di antaranya Beranda sebagai tampilan awal informasi, Acara yang memuat agenda dan kegiatan desa, serta Sejarah yang mengulas perjalanan dan identitas Desa Wonorejo. Selain itu, website SIMANTAP juga menyediakan menu Batik sebagai ruang promosi dan pengenalan Jumeneng Batik, Lowongan Kerja untuk membantu warga memperoleh informasi peluang kerja, serta Galeri Video yang menampilkan dokumentasi visual kegiatan desa. Tidak hanya itu, tersedia pula menu Berita yang menyajikan informasi terkini seputar desa, serta Promosi UMKM dan berbagai kegiatan lainnya sebagai upaya mendukung potensi ekonomi dan kreativitas masyarakat Wonorejo. Melalui fitur-fitur tersebut, website SIMANTAP diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi, informasi, dan promosi yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam perkembangan desa berbasis digital. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan Ketua Republik Gubuk, Ketua LP2M, serta Sekretaris Desa dan pemantiknya sendiri dari Ketua KKM Aruna. Diskusi ini menjadi ruang dialog untuk memberikan masukan, tanggapan, serta harapan terhadap keberlanjutan website SIMANTAP dan pengembangan Jumeneng Batik ke depannya. Kemudian suasana acara dibuat lebih hangat melalui penampilan nyanyi akustik yang dibawakan oleh dua perwakilan dari Kelompok KKM Belung. Iringan musik akustik yang sederhana namun penuh makna menjadi hiburan penutup yang menyegarkan setelah rangkaian diskusi dan pemaparan program. Penampilan tersebut tidak hanya menjadi selingan hiburan, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi antarkelompok KKM dalam mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran Kelompok KKM Belung melalui penampilan musik akustik ini semakin mempererat suasana kekeluargaan sebelum acara resmi ditutup. Sebagai penutup, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan harapan agar kedua proyek yang telah diluncurkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Melalui peluncuran SIMANTAP dan Jumeneng Batik, Kelompok KKM Aruna menunjukkan bahwa dari KKM untuk desa, langkah kecil yang dilakukan dengan kolaborasi dapat membawa dampak yang bermakna
NESA HAMIVA EL-GAZWA
Upaya meningkatkan minat baca dan budaya literasi mulai diwujudkan di Desa Turirejo melalui pembentukan Perpustakaan Desa Turirejo yang berlokasi di Balai Desa Turirejo. Perpustakaan ini merupakan hasil kolaborasi antara perangkat desa dan mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang menjalankan pengabdian di desa tersebut.
NEISYA ELOK AMALIA
Kabupaten Malang - Mahasiswa KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) Universitas Islam Negeri Malang melakukan pengadaan poster edukasi dan motivasi serta pojok baca di lingkungan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang. Program ini bertujuan sebagai media pendukung penyampaian informasi dan penguatan psikologis bagi penerima layanan. Lingkungan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang menjadi ruang yang diakses oleh berbagai pihak dengan kondisi psikologis yang beragam. Dalam situasi tersebut, diperlukan media yang dapat memberikan informasi awal dan penguatan visual yang mudah dipahami tanpa melakukan komunikasi verbal secara langsung. Pengadaan poster edukasi dan motivasi serta pojok baca merupakan program kerja mahasiswa KKM Unggulan PSGAD UIN Malang. Poster yang dipasang memuat informasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan pada perempuan dan anak, pengelolaan emosi, dan layanan UPTD PPA yang disajikan dengan ringkas dan menarik. Pemasangan poster dilakukan dengan mempertimbangkan fungsi ruang dan kenyamanan pembaca, yakni di area pengunjung dan salah satu Rumah Perlindungan Sementara UPTD PPA. Konten yang disajikan juga telah disesuaikan untuk klien ataupun keluarga yang mendampingi. Adapun pojok baca berisi buku-buku bacaan tentang perempuan dan anak. Pojok baca ini diletakkan di ruang tunggu pengunjung. Kepala UPTD PPA Kabupaten Malang, Ulfi Atka Ariarti, menyampaikan bahwa media visual seperti poster berperan sebagai sarana psikoedukasi yang dapat diakses tanpa komunikasi verbal secara langsung. “Selain untuk keindahan, poster ini juga menjadi sarana psikoedukasi”, ujarnya. Ia menambahkan, “Tanpa harus berbicara langsung, pengunjung dapat informasi dan pesan positif dengan membaca poster”. Selain itu, pojok baca juga dianggap dapat berguna untuk mengisi waktu selama menunggu. Keberadaan poster edukasi dan motivasi ini diharapkan dapat membantu korban dalam memahami hak-haknya dan layanan yang tersedia. Dalam jangka panjang, poster ini diharapkan mampu mendukung proses pemulihan bagi klien maupun penguatan bagi pengunjung, terutama bagi mereka yang “baru” dalam lingkungan perlindungan. Selain itu, pesan positif di dalamnya memungkinkan adanya penguatan bagi petugas sebagai upaya peningkatan semangat dan efektifitas layanan UPTD PPA untuk masyarakat Kabupaten Malang. Sedangkan pojok baca diharapkan dapat mencegah munculnya pikiran negatif ketika pengunjung sedang menunggu. Kehadiran poster dan pojok di lingkungan layanan UPTD PPA Kabupaten Malang menjadi pengingat bahwa proses perlindungan dan pemulihan korban tidak hanya berlangsung melalui pendampingan langsung, tetapi juga melalui penyediaan informasi yang mudah dipahami, menenangkan, dan memberdayakan. Dengan ini, poster edukasi dan motivasi serta pojok baca menjadi bagian dari ruang aman dalam upaya peningkatan perlindungan perempuan dan anak di masyarakat, khususnya Kabupaten Malang. Ditutup dengan salah satu kutipan kalimat kepala UPTD PPA Kabupaten Malang, “Hal-hal yang positif akan memberikan hal yang positif juga kepada siapapun yang melihatnya”.