Thumbnail
4 months ago
Rapat Bersama DPL, DarmaWidya Tegaskan Fokus Unggulan pada Sertifikasi Halal UMK

MUH FAYYAHD

Kelompok DarmaWidya menggelar Rapat Koordinasi Program Kerja bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) pada Selasa, 16 Desember 2025, pukul 15.30–17.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Google Meet sebagai langkah strategis dalam mematangkan persiapan pelaksanaan KKM Unggulan di lokasi pengabdian.   Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta 11 dari 13 anggota kelompok. Agenda utama rapat meliputi pemaparan progres kesiapan masing-masing divisi, evaluasi awal program kerja, serta penyelarasan arah kegiatan agar selaras dengan tujuan utama KKM Unggulan, khususnya dalam mendukung percepatan sertifikasi halal bagi produk Usaha Mikro dan Kecil (UMK).     Dalam rapat ini, DPL menekankan pentingnya pemberian pemahaman yang komprehensif kepada pihak desa terkait fokus pelaksanaan KKM Unggulan. DPL menegaskan bahwa percepatan sertifikasi halal produk UMK harus menjadi orientasi utama seluruh rangkaian program, sehingga diperlukan komunikasi yang intensif dan terarah dengan pemerintah desa serta pemangku kepentingan setempat sejak awal pelaksanaan KKM.   Paparkan Progres Tiap Bidang, Siap untuk Terjun Pada sesi laporan progres, Bidang Media dan Informasi (Medinfo) menyampaikan bahwa proses pembuatan rompi KKM ditargetkan rampung pada 23 Desember 2025, sementara desain feed struktur anggota kelompok telah selesai. Rencana rilis logo kelompok diputuskan untuk tidak dilanjutkan. Adapun frame live report dan konsep dokumentasi telah disiapkan dan siap digunakan. Selain itu, ID card anggota telah selesai dicetak dan direncanakan akan dibagikan setelah kegiatan pelepasan KKM.     Sementara itu, Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) melaporkan progres persuratan yang telah dilakukan, meliputi surat pernyataan dari Halal Center, surat permohonan penempatan KKM, serta koordinasi dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol). Divisi Humas juga menyampaikan adanya dukungan sponsor dari Bank Indonesia, dengan persyaratan administratif yang tidak memberatkan.     Pada aspek operasional, Bidang Perekonomian menjelaskan bahwa survei harga kebutuhan pokok telah dilakukan sebagai dasar perencanaan logistik. Sistem piket memasak disepakati dengan pembagian dua orang per hari, sementara pada hari Minggu akan melibatkan tiga orang melalui sistem undian. Belanja kebutuhan harian direncanakan dilakukan setiap pagi di pasar terdekat, dengan pengantaran barang pokok ke lokasi posko. Seluruh anggota diwajibkan membawa alat makan pribadi, seperti piring dan sendok, serta akan disusun daftar barang wajib yang harus dipersiapkan sebelum keberangkatan.     Adapun Bidang Kerohanian memaparkan bahwa fokus utama program kerja akan diarahkan pada sertifikasi halal bagi pelaku UMK, sehingga program lain tidak menjadi prioritas utama. Dalam rapat tersebut juga dibahas rencana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Halal sebagai bentuk keberlanjutan program pasca-KKM. Satgas ini direncanakan melibatkan unsur masyarakat setempat, seperti PKK, Muslimat, Remaja Masjid, IPPNU, dan elemen masyarakat lainnya, yang nantinya akan mengikuti pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (PPH) secara daring melalui Halal Center UIN.   Perencanaan Timeline Strategis, Percepatan Sertifikasi Halal Diharapkan Mencapai Target Selain itu, strategi penjaringan data UMK akan diawali dengan sosialisasi di masjid pada awal pelaksanaan KKM. Tim KKM akan mengumpulkan kontak pelaku usaha, melakukan pendataan UMK, membantu proses pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), serta melakukan dokumentasi produk. Jika memungkinkan, pendekatan door to door juga akan dilakukan dengan dukungan aparat desa, termasuk melalui koordinasi dengan ketua RW dan pihak desa setempat.   Melalui rapat koordinasi ini, DPL kembali menegaskan pentingnya perincian teknis program kerja, termasuk penetapan penanggung jawab (PJ) pada setiap kegiatan serta penyusunan jadwal yang terukur. Diharapkan, seluruh program KKM DarmaWidya dapat terlaksana secara sistematis, berorientasi pada dampak, dan memberikan kontribusi nyata bagi percepatan sertifikasi halal produk UMK di desa sasaran

Thumbnail
4 months ago
Pembukaan KKM 91 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Purwoasri: Awal Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat

LIA ROHALI

*Pembukaan KKM 91 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Desa Purwoasri: Awal Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat* Kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) merupakan salah satu wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam rangka menjalankan amanah tersebut, Kelompok KKM 91 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang secara resmi melaksanakan acara pembukaan KKM di Desa Purwoasri, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Acara pembukaan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan KKM yang akan berlangsung selama 40 hari, terhitung sejak 23 Desember 2025. Bertempat di lingkungan Desa Purwoasri, kegiatan pembukaan berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebersamaan antara mahasiswa, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Kelompok KKM 91 yang mengusung nama Parvata Sevana terdiri atas 14 mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Dalam pelaksanaan KKM ini, mahasiswa mendapatkan bimbingan langsung dari Dosen Pembimbing Lapangan, Bapak Taufiq Satria Mukti, M.Pd., yang senantiasa memberikan arahan agar kegiatan pengabdian dapat berjalan secara terarah dan bermanfaat. Dalam sambutannya, perwakilan mahasiswa menyampaikan bahwa kehadiran KKM 91 di Desa Purwoasri tidak hanya bertujuan untuk melaksanakan program kerja semata, tetapi juga untuk belajar langsung dari masyarakat serta membangun kolaborasi yang harmonis. Mahasiswa diharapkan mampu menjadi mitra desa dalam mendukung kegiatan pendidikan, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan. Adapun kegiatan KKM 91 dirancang berdasarkan hasil survei dan kebutuhan masyarakat Desa Purwoasri. Program kerja yang akan dilaksanakan mencakup pendampingan pendidikan di Pondok Pesantren Irsyadul Mubtadin, pelaksanaan seminar edukatif, kegiatan peringatan Isra' Mi'raj bersama masyarakat, serta program pendukung berupa perencanaan pembuatan papan kayu dan denah di kawasan wisata Bike Eco Park. Selain itu, mahasiswa juga melaksanakan kegiatan rutin seperti mengajar mengaji, membantu kegiatan belajar di TPA/TPQ dan sekolah, serta berpartisipasi dalam aktivitas kemasyarakatan. Melalui pelaksanaan KKM ini, diharapkan terjalin hubungan yang saling menguatkan antara mahasiswa dan masyarakat Desa Purwoasri. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan dapat memberikan manfaat nyata sekaligus menjadi sarana pembelajaran sosial bagi mahasiswa dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara langsung. Acara pembukaan KKM 91 ditutup dengan harapan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar serta mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Mahasiswa KKM 91 juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Desa Purwoasri dan seluruh masyarakat atas sambutan hangat serta kesempatan yang diberikan untuk melaksanakan pengabdian di desa tersebut. Dengan terlaksananya acara pembukaan ini, KKM 91 Parvata Sevana secara resmi memulai langkah pengabdian di Desa Purwoasri, membawa semangat kolaborasi, edukasi, dan pengabdian demi terciptanya manfaat bersama. *Menanamkan Kesadaran Anti Bullying Sejak Dini di MI Roudlotul Nasyi'in* Bullying masih menjadi isu yang sering dianggap sepele, terutama di lingkungan anak-anak. Padahal, dampaknya bisa sangat besar terhadap perkembangan mental dan sosial mereka. Berangkat dari kepedulian tersebut, kami, Kelompok 91 KKM Reguler Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, mengadakan Seminar Anti Bullying di MI Roudlotul Nasyi'in pada 31 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 1 hingga kelas 6. Tujuan utama dari seminar ini adalah memberikan pemahaman sejak dini mengenai apa itu bullying, bentuk-bentuk bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah, serta dampak negatif yang dapat dirasakan oleh korban maupun pelaku. Dalam sesi pemaparan materi, kami menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Contoh-contoh yang digunakan pun diambil dari situasi yang dekat dengan keseharian mereka. Agar suasana tetap interaktif, kegiatan dikemas dengan tanya jawab dan diskusi ringan sehingga anak-anak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga berani menyampaikan pendapat. Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi konseling bagi anak-anak. Pada sesi ini, siswa diberikan ruang untuk bercerita dan mengungkapkan perasaan mereka terkait pengalaman di sekolah maupun pertemanan. Beberapa anak terlihat antusias dan mulai terbuka, menunjukkan bahwa ruang aman untuk berbicara sangat dibutuhkan oleh mereka. Melalui kegiatan ini, kami menyadari bahwa edukasi anti bullying tidak cukup hanya dengan penyampaian materi, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang empatik dan berkelanjutan. Anak-anak perlu didampingi agar mampu memahami nilai saling menghargai dan peduli terhadap sesama. Kami berharap Seminar Anti Bullying ini dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih ramah, aman, dan bebas dari perundungan. Bagi kami sebagai mahasiswa KKM, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang mengajarkan arti pengabdian serta pentingnya kehadiran langsung di tengah masyarakat.

Thumbnail
4 months ago
Di Antara Doa dan Perayaan: KKM Sarimi Adhiyaksa Merangkai HUT SDN Jodipan dalam Bingkai Isra Mi’raj

NAELA AMEILIA ANNABILA

Puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) SDN Jodipan tahun ini terasa istimewa. Momen bahagia tersebut dipadukan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, menghadirkan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna spiritual. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 15 Januari 2026, di lingkungan SDN Jodipan, Kota Malang, ini melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Rangkaian acara diawali dengan istighosah bersama sebagai bentuk refleksi dan ungkapan rasa syukur. Dalam suasana yang khidmat, seluruh peserta larut dalam doa, memohon keberkahan bagi sekolah serta meneladani nilai-nilai spiritual dari peristiwa Isra Mi’raj. Momen ini menjadi pengingat bahwa perayaan bukan sekadar seremoni, melainkan juga ruang untuk memperkuat keimanan dan kebersamaan. Mahasiswa KKM turut mendampingi dan membantu memastikan jalannya kegiatan berlangsung tertib dan lancar. Usai doa bersama, suasana berubah menjadi penuh semangat ketika acara dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba yang telah dilaksanakan pada hari-hari sebelumnya. Beragam perlombaan yang digelar dalam rangka HUT sekolah disambut antusias oleh para siswa. Sorak sorai dan tepuk tangan mengiringi setiap nama yang diumumkan, mencerminkan kegembiraan sekaligus rasa bangga atas usaha dan kreativitas yang telah ditunjukkan. Mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa juga berperan aktif dalam mendukung teknis pelaksanaan kegiatan tersebut. Perpaduan antara nuansa religius dan kemeriahan perayaan menjadikan kegiatan ini berlangsung hangat dan penuh makna. Tidak hanya sebagai ajang hiburan, peringatan ini juga menjadi media pembelajaran karakter bagi siswa—menanamkan nilai spiritualitas, kebersamaan, sportivitas, dan rasa syukur. Melalui kolaborasi antara pihak sekolah dan mahasiswa KKM Sarimi Adhiyaksa, peringatan HUT SDN Jodipan dalam bingkai Isra Mi’raj ini diharapkan mampu meninggalkan kesan mendalam. Sebab di antara doa dan perayaan, terselip harapan agar sekolah terus tumbuh menjadi ruang belajar yang tidak hanya mencetak prestasi, tetapi juga membentuk generasi yang berakhlak dan berkarakter.

Thumbnail
4 months ago
Membangun Clean Fire Project : Upaya KKM Arsana Muda Menghadirkan Teknik Pembakaran Sampah Minim Asap di Dusun Genderan Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Membangun Clean Fire Project : Upaya KKM Arsana Muda Menghadirkan Teknik Pe

LAILATUL FITRI FAJARIYAH

Permasalahan sampah masih menjadi tantangan nyata di berbagai wilayah pedesaan, termasuk di Dusun Genderan, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Salah satu cara pengelolaan sampah yang masih sering dilakukan oleh masyarakat adalah pembakaran terbuka. Praktik ini memang dianggap cepat dan praktis, namun di sisi lain menimbulkan asap pekat yang berdampak buruk bagi kesehatan serta mencemari lingkungan sekitar. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Arsana Muda menjadikan isu pengelolaan sampah sebagai fokus utama program kerja. Salah satu program unggulan yang dirancang dan direalisasikan adalah CLEAN FIRE PROJECT: Teknik Pembakaran Sampah Minim Asap untuk Desa Berdaya. Program ini menitikberatkan pada pembangunan alat pembakaran sampah berbasis teknologi sederhana berupa kompor roket atau insinerator sederhana, yang dirancang agar mudah digunakan dan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Tahap awal pelaksanaan program dimulai dengan pengamatan langsung terhadap kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pembakaran sampah secara terbuka tanpa kontrol udara menyebabkan asap tebal, pembakaran tidak sempurna, serta berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan warga. Dari permasalahan tersebut, mahasiswa KKM Arsana Muda merancang solusi berupa alat pembakaran minim asap yang efisien, murah, dan sesuai dengan kondisi lingkungan desa. Alat ini dirancang dengan prinsip pembakaran bertingkat dan aliran udara terkontrol, sehingga gas sisa pembakaran dapat dibakar ulang sebelum dilepaskan ke udara. Dengan metode ini, asap yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan pembakaran konvensional. Proses Pembuatan Alat Pembakaran Minim Asap Pembuatan alat baking minim asap dilakukan secara bertahap dan melibatkan diskusi internal tim KKM Arsana Muda. Bahan yang digunakan pun dipilih dari bahan yang mudah ditemukan, seperti bata ringan (hebel), semen, serta pipa sebagai cerobong. Struktur alat terdiri dari beberapa bagian utama. Ruang pembakaran primer berfungsi sebagai tempat memasukkan bahan bakar berupa sampah organik kering atau mengomel. Selain itu terdapat saluran udara masuk (air intake) yang berperan sebagai pengatur suplai oksigen agar api tetap stabil. Bagian terpenting dari alat ini adalah ruang pembakaran sekunder atau riser vertikal, yang memungkinkan sisa gas pembakaran terbakar kembali sehingga asap dapat diminimalkan. Untuk menjaga suhu tetap tinggi dan stabil, dinding alat dilapisi bata ringan sebagai isolator panas. Suhu tinggi inilah yang menjadi kunci pembakaran lebih sempurna. Terakhir, asap yang tersisa dialirkan melalui cerobong asap, sehingga tidak langsung menyebar ke sekitar pengguna. Selama proses pembangunan, siswa bekerja secara gotong royong, mulai dari penyusunan bata, pencampuran semen, hingga penyesuaian bentuk alat agar sesuai dengan prinsip draft effect. Proses ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi siswa tentang penerapan teknologi yang tepat guna yang sederhana namun berdampak besar. Clean Fire Project sebagai sarana pemberdayaan Pembangunan alat pembakaran minim asap ini tidak hanya bertujuan menghasilkan satu unit alat, tetapi juga sebagai langkah awal perubahan pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Melalui Clean Fire Project, mahasiswa KKM Arsana Muda ingin menunjukkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus mahal atau rumit. Alat yang dibangun dirancang agar mudah direplikasi dan dirawat oleh masyarakat. Dengan demikian, setelah program KKM berakhir, masyarakat Dusun Genderan diharapkan mampu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi ini secara mandiri sebagai alternatif pembakaran sampah yang lebih aman dan ramah lingkungan. Program ini juga menjadi bentuk nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Clean Fire Project membuktikan bahwa pendekatan edukatif yang disertai praktik langsung mampu menjadi jalan menuju desa yang lebih berdaya dan peduli lingkungan.

Thumbnail
4 months ago
Eco Green dimulai dari rumah: Belajar dari lingkungan Dari desa campur darat

IZZI ANGELINA TIRTA

Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.

Thumbnail
4 months ago
Eco Green dimulai dari rumah: Belajar dari lingkungan Dari desa campur darat

NADIA DIN SALIMA AL-KAMILA

Permasalahan lingkungan sering kali dianggap sebagai isu besar yang hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah atau pihak tertentu. Padahal, ketika terjun langsung ke masyarakat, saya justru menyadari bahwa perubahan lingkungan bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yaitu dari rumah sendiri. Pengalaman ini saya rasakan selama mengikuti kegiatan KKM Karsa Digisyar, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, di Desa Campurdarat, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, khususnya saat melaksanakan sosialisasi Eco Green. Di desa, persoalan lingkungan masih sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah rumah tangga menumpuk, plastik digunakan hampir setiap hari, selokan sering tersumbat, dan sebagian warga masih membakar sampah tanpa menyadari dampaknya bagi kesehatan. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan terlihat kotor dan bau, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan demam berdarah. Dari situ saya menyadari bahwa persoalan lingkungan bukan sekadar teori, melainkan masalah nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui sosialisasi Eco Green, masyarakat diperkenalkan pada konsep hidup ramah lingkungan yang sebenarnya sangat sederhana. Eco Green bukan tentang teknologi canggih atau aturan yang rumit, melainkan tentang kebiasaan hidup yang lebih bijak, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, dan memanfaatkan sampah organik dengan baik. Menurut saya, kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatan utama dari konsep Eco Green, karena mudah dipahami dan diterapkan oleh siapa saja. Hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan bahwa gerakan Eco Green sebaiknya dimulai dari rumah. Sampah paling banyak berasal dari dapur, dan ibu rumah tangga memiliki peran besar dalam mengatur pola konsumsi serta kebersihan keluarga. Ketika ibu terbiasa memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau menggunakan botol minum isi ulang, kebiasaan tersebut secara tidak langsung akan ditiru oleh anak-anak. Dari sinilah perubahan kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berdampak besar. Dalam sosialisasi tersebut, masyarakat juga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik. Sisa makanan, sayuran, dan daun dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman dan mengurangi bau tidak sedap. Sementara itu, penggunaan plastik sekali pakai dianjurkan untuk dikurangi karena membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Menurut saya, solusi-solusi ini sangat realistis karena tidak memerlukan biaya besar, hanya membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk berubah. Sebagai mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang terlibat langsung dalam kegiatan KKM, saya melihat bahwa edukasi lingkungan seperti ini sangat penting untuk terus dilakukan. Sosialisasi Eco Green tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ramah lingkungan ini dilakukan secara konsisten, desa akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman bagi semua warganya. Pada akhirnya, pengalaman di Desa Campurdarat mengajarkan saya bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Cukup dengan perubahan kecil yang dilakukan setiap hari di rumah, kita sudah ikut berkontribusi melindungi lingkungan. Seperti pesan yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut, "Ibu Peduli, Lingkungan Terlindungi", karena dari keluarga yang peduli, akan lahir lingkungan desa yang lebih baik.